RSS
 

“..Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…” (Roma 8:28)

10 Feb

Saya baru teringat kembali ayat ini hari ini setelah mengalami  beberapa hal unik beberapa waktu terakhir ini, yaitu saat saya bertemu & berteman dgn bbrp orang baru yg saya temui saat saya ikut kursus di Bandung. Ada dua peristiwa spesial yg baru terjadi bbrp waktu terakhir ini.

Yg pertama adalah saat saya ikut kursus bahasa Inggris di daerah Banda, Bandung.

Saya senang ketemu teman2 sekelas yg seru (walopun umur mereka byk yg lebih muda & sifat kekanak2annya kdg2 msh sering muncul). Namun, dari sekian banyak teman sekelas tsb, ada satu orang yg menarik perhatian saya. Awalnya kita ketemu waktu saya & dia “terpaksa” hanya masuk kelas berdua saja krn tmn2 sekelas kita yg lain semua berhalangan hadir di hari itu. Alhasil, saya jd agak nervous krn seperti masuk di kelas konseling pranikah. Bayangkan saja, yg ada di ruangan kelas itu hanya ada saya, pria itu (namanya AF) , &  1 guru bhs inggris yg sedang bertugas mengajar kami saat itu. Entah krn sedikit nervous ato emang saya nya yg agak lebih bego/lemot dibandingkan si AF. Otaknya encer bgt boooo.. Daya ingatnya hebat & kosakata/vocab bhs Inggrisnya lbh jago banget dibandingkan saya. Makanya, pas si Pak Guru ngasih kuis2/ permainan2 yg hrs kita kerjakan berdua, jawaban si AF lbh banyak benernya dibanding saya. Duuh, malu bgt booo keliatan begonya..hahaha.

Lalu di pertemuan2 berikutnya di kelas bhs inggris tsb, saya, AF, & anak2 sekelas yg lain sudah mulai semakin akrab & nyaman satu sama lain. Sampai suatu hari, selesai kursus, si AF nawarin kami, para wanita2 muda yg bawel & rusuh ini boleh nebeng di mobilnya sampai di tempat pemberangkatan travel ke Jatinangor (tmn2 sekelas saya tsb byk yg kuliah di Unpad Jatinangor, krn itu sepulang kursus mereka lgs pulang kembali ke Jatinangor). Selesai dari tempat travel itu, tersisa saya yg msh nempel di kursi mobil si AF krn awalnya saya minta diturunin di Dago utk kemudian saya bs lanjut ambil angkot ke kosan (daerah Jalaprang). Selama nebeng, kita ngobrol2 santai layaknya teman, sampai akhirnya si AF nawarin anterin saya pulang sampe di depan kosan. Awalnya tentu saja saya merasa sungkan krn jd terlalu merepotkan dia, tp dia “agak” memaksa menawarkan bantuan. Yasudlah, akhirnya saya terima tawaran dia nebengin pulang sampe depan kosan, toh dia kan udah tulus nawarin hal yg positif tsb. Selama di perjalanan pun kami ngobrol bareng lagi, & saya baru tau bhw trnyata dia selama kuliah di Jakarta tinggal di BSD (deket bgt boooo sama daerah rumah saya yg di Tangerang), & ternyata dia pun satu almamater (UI) dgn saya walopun beda angkatan & beda fakultas. Alhasil, saya mulai merasa ada kedekatan emosional sebagai keluarga satu almamater (UI) dgn si AF. Yg bikin saya merasa ini peristiwa unik adalah saya bisa ketemu anak FKUI di tempat les di bandung di saat dia lg mengisi liburan sebelum mulai tugas di daerah. Ini adalah hal yg amat sangat langka bisa terjadi, hehe.

Sampai akhirnya, si AF hrs berangkat ke Lombok utk masa tugas kedokteran di sana setelah dia lulus Sarjana Kedokteran di tahun tersebut, & dia pun terpaksa harus meninggalkan kelas kursus bahasa Inggris tsb & tidak bisa melanjutkan seluruh materi & pertemuan kelas berikutnya, bahkan tidak bisa ikut ujian di akhir periode kursus tersebut. Perasaan saya lumayan sedih krn hanya bisa ketemu si AF hanya sebentar saja & akan sulit utk ketemu dia lagi nantinya. Karena itu, supaya pertemuan yg singkat itu bisa berkesan, saya berusaha mencari cara supaya ada pertemuan terakhir (farewell party) antara anak2 di kelas kursus tsb dgn si AF yg akan pindah ke Lombok. Kita ngasi kado “special” ke si AF, yg sengaja dirancang unik supaya bisa sedikit bermanfaat selama dia di Lombok & supaya dia ga melupakan kami (teman2nya di tempat kursus tsb) begitu saja. Sesudah itu, kami berfoto bersama & saling invite FB & twitter & Linkedin supaya tetap dpt keep in touch dmn pun & kpn pun. Saya pun baru tau bahwa ternyata si AF anggota Mensa Indonesia 2012 (Member in Good Standing). Wow, saya makin kagum sama ni orang. Setau saya, orang2 yg masuk di Mensa apalagi yang bergelar “Good Standing” adalah orang2 ber IQ paling tinggi seIndonesia. Pantesan aja, selama di kelas, keliatan banget pinternya & ternyata dia pun dulu sempat ikut kelas akselerasi (aksel) waktu SMA. Tapi, walaupun pinter, si AF tetap terlihat tenang, ramah, menyenangkan, & ga sombong. Kepribadiannya bagus menurut saya. Selama saya kenal dgn si AF ini, saya diperkenankan kembali sama Tuhan untuk bisa melihat sosok anak muda yg pintar, namun tetap low profile, sopan, ramah, & tidak sombong.  Ini berarti Tuhan ingin saya bisa mencontoh sikap si AF, yaitu walaupun hampir telah memiliki segalanya (otak yg pinter, latar pendidikan yg membanggakan, kondisi keluarga yg lumayan mapan, karir yg berkembang baik, dll), dia tetap bersikap ramah & low profile, & mau berbagi & membantu teman2 yg terlihat sedang butuh bantuan. Selain itu, lewat AF saya pun diperbolehkan Tuhan supaya saya jadi ada tebengan pulang sampai depan kosan sehingga saya tidak perlu keseringan pulang malam naik angkot selesai kursus jam 9 malam (karena kadangkala ada hal2 berbahaya yg bisa terjadi di malam hari bagi para wanita yg pulang sendirian di jalan raya). Itu berarti Tuhan bisa memakai siapapun untuk menjaga keamanan saya sepulang kursus bahasa Inggris tsb.

Pengalaman kedua adalah saat saya ikut pelatihan Public Speaking di Jl.Asia Afrika, Bandung.

Dalam pelatihan itu, saya sekelas dengan 3 orang anggota Wanadri (Iwan Irawan,  Ardeshir Yaftebbi, dan Galih Donikara) yg ternyata merupakan tim yang telah berhasil menaklukan Gunung Everest (gunung tertinggi di dunia) dalam sebuah ekspedisi “7 Summits ” (menundukan tujuh gunung tertinggi di dunia yang terletak di 7 benua) pada tahun 2012 lalu. Selain Gunung Everest, 6 gunung lain yg telah mereka taklukan sebelumnya adalah Cartenz Pyramid di Papua pada 18 April 2010, Kilimanjaro di Afrika pada 1 Agustus 2010, Elbrus di Rusia pada 19 Agustus 2010, Aconcagua di Argentina pada 7 Desember 2010, Denali/McKinley pada 15 Mei 2011, dan terakhir Vinson Massif pada 6 Januari 2012. Dalam ekspedisi tersebut, mereka berhasil membawa misi kenegaraan, yaitu menancapkan bendera merah putih di ketujuh puncak gunung tertinggi dunia tersebut.

Selama perbincangan dengan mereka & mendengar semua cerita pengalaman mereka menjalani ekspedisi tersebut, saya kagum banget & merasa termotivasi untuk mau berjuang & berusaha melakukan yg terbaik untuk mencapai impian terbesar saya dalam hidup, seperti halnya mereka yg telah berhasil mencapai impian terbesar mereka yaitu menaklukan gunung tertinggi di dunia (Gunung Everest). Bagi banyak orang mungkin awalnya mimpi mereka tersebut dianggap sebagai sebuah mimpi yang sangat nekat, tidak masuk akal, berlebihan, & tidak mungkin bisa terwujud karena banyaknya keterbatasan yg mereka miliki sementara tantangan yg harus mereka hadapi sangat luar biasa besar & banyak. Dengan berbagai macam penolakan & rasa pesimis / under estimate dari lingkungan sekitar tidak membuat mereka mundur.  Dengan latihan2 yg disiplin & konsisten & penuh kesungguhan hati & rasa patriotism yang besar, mereka tetap berjuang mempersiapkan segala sesuatu yg dibutuhkan (khususnya mental & fisik) supaya tidak terjadi hambatan selama menjalankan misi ekspedisi mereka tersebut. Bahkan yang paling mengagumkan saya adalah ketika mereka menceritakan fakta sebenarnya yaitu bahwa selama mereka menjalani misi tersebut mereka tidak menerima gaji sama sekali. Yg ada di otak mereka bukan uang, melainkan suatu komitmen patriotisme yg tinggi untuk mempersembahkan sebuah prestasi membanggakan yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Pertemuan saya dgn mereka hanya dua hari karena waktu pelatihan yg kami jalani hanya dalam 2 hari tersebut, namun pertemuan yang singkat itu menyadarkan saya tentang satu hal yang sangat bermakna, yaitu betapa Tuhan sangat mengasihi saya, sehingga Dia sengaja mempertemukan saya dengan ketiga orang hebat tersebut supaya saya melihat sebuah kondisi nyata yang sangat mengagumkan, yaitu ketiga orang yang awalnya terlihat biasa-biasa saja (tidak memiliki latar belakang pendidikan yg tinggi, kemampuan Public Speaking yg sangat terbatas, memiliki kondisi finansial yang pas-pasan, kondisi kesehatan fisik yang tidak sempurna-ada yg punya asma, ada yg punya kolestrol tinggi,dll), namun karena memiliki tekad yang kuat, mereka memutuskan untuk maju melangkah untuk mencapai impian mereka yang sangat luar biasa (menaklukan 7 gunung tertinggi di dunia), meskipun dianggap mustahil bagi kebanyakan orang. Langkah-langkah komitmen yang mereka ambil bukan hanya dalam bentuk teori, namun sudah dipraktekan dalam bentuk berbagai latihan-latihan fisik berbulan-bulan, penuh kedisiplinan & kesungguhan hati (tanpa mengharapkan bayaran sepeser pun, karena saat itu tidak ada sponsor yang mau memberi bantuan finansial berupa gaji untuk mereka).  Sebuah integritas yang sangat patut dicontoh. Karena pengalaman bertemu ketiga orang hebat ini, saya jadi memiliki mindset baru, yaitu bahwa tidak ada segala sesuatu yang mustahil di dunia ini karena ketika kita percaya & kita mau komitmen utk berusaha & berjuang keras & disiplin berlatih, kita pasti bisa mencapai  “Everest” (impian terbesar) kita masing-masing.

Saya pun kembali teringat dengan teman-teman yang saya kenal semasa kuliah S1 di UI yang sekarang sudah banyak yang memegang posisi-posisi bergengsi di perusahaan-perusahaan ternama di dalam dan luar negeri. Saya diperbolehkan Tuhan untuk pernah kuliah di lingkungan pembelajaran yang berkualitas seperti Universitas Indonesia dan bertemu dengan teman-teman kuliah yang mengagumkan tersebut di kampus itu. Perkenalan saya dengan mereka membuat saya diingatkan kembali oleh Tuhan bahwa kesuksesan tiap orang memiliki prosesnya masing-masing, namun kesamaan yang dimiliki oleh mereka yang sudah sukses tersebut adalah ketulusan & kerendahan hati & kesungguhan hati untuk terus belajar dan terus focus untuk mengembangkan potensi diri sendiri & berani terus mencoba sampai berhasil, tidak takut gagal, & terus bersyukur & melibatkan Tuhan dalam setiap usaha yang kita lakukan dalam mencapai kesuksesan itu.

Akhirnya, saya mulai menyimpulkan bahwa :

Tidak ada sesuatu yg terjadi kebetulan.

Semua yang terjadi dalam hidup kita pasti ada campur tangan Tuhan yang turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kehidupan kita di masa kini dan masa mendatang.

Pertemuan2 kita dgn siapapun dimanapun & kpnpun mrp salah satu hal yg Tuhan ijinkan tjd utk membentuk kita mjd pribadi yg semakin bertumbuh dlm kedewasaan iman & kepribadian/cara pikir kita.

So, bersyukurlah utk semua teman, keluarga, kerabat, klien, pasangan, guru/dosen/pengajar, bahkan mantan2 pacar/kekasih & org2 yg pernah menyakiti hati kita krn kehadiran mereka sgt berarti & berharga & berperan bagi hidup kita.

 

Leave a Reply

 
*