Etika dan Moral

Etika

Merriam-Webster mendefinisikan etika sebagai ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk dengan tugas dan tanggung jawab moral; teori atau sistem dari nilai moral; prinsip-prinsip yang mengatur perilaku individu atau kelompok; kesadaran akan kepentingan moral.[1]

Dunia bisnis menjelaskan etika sebagai konsep dan prinsip dasar dari perilaku manusia yang tepat. Etika mencakup studi mengenai nilai-nilai universal seperti kesetaraan pria dan wanita, manusia atau hak asasi manusia, ketaatan terhadap hukum, memperhatikan kesehatan dan keselamatan, dan yang meningkat akhir-akhir ini adalah lingkungan hidup.[2]

Artikel lain menyatakan bahwa etika merupakan cabang dari studi yang mempelajari tentang tindakan apa yang tepat yang harus dilakukan oleh manusia. Etika menjawab pertanyaan, “Apa yang saya lakukan?” Etika juga mempelajari tentang apa yang benar dan salah dalam tindakan manusia. Pada level yang lebih mendasar, etika adalah metode dimana kita mengkategorikan nilai-nilai kita dan mengejarnya, seperti apakah kita mengejar kesenangan kita, atau kita mengorbankannya untuk mengejar hal lain yang lebih besar? Apakah dasar dari etika berdasarkan kitab suci atau secara alami ada dalam manusia atau tidak keduanya?, dan lain sebagainya. Etika diperlukan dalam kehidupan manusia. Ini adalah cara kita untuk menentukan suatu tindakan. Tanpa etika, tindakan kita bisa menjadi tidak jelas dan tanpa tujuan. [3]

Etika berasal dari bahasa Yunani ethike, banyak penulis yang menyatakan bahwa etika seperti metode ilmiah dari moral. Etika tidak hanya mengarahkan manusia bagaimana bertindak jika ia ingin memiliki moral yang baik, tapi juga mengatur mengenai kewajiban yang mutlak dalam berbuat baik dan menghindari kejahatan.[4]

Etika adalah ilmu atau tindakan filosofis dari moral. Ruang lingkup etika termasuk apapun yang mengacu pada tindakan bebas manusia, baik itu prinsip atau penyebab dari suatu tindakan (misal: hukum, hati nurani, kebajikan, dll.), atau sebagai akibat dari atau keadaan dari tindakan (hadiah, hukuman, dll.).

Sumber dari etika sebagian berasal dari pengalaman pribadi manusia dan sebagian lagi prinsip dan kebenaran yang diajukan oleh ilmu filosofis lainnya seperti logika dan metafisik. Etika berasal dari fakta empiris bahwa prinsip-prinsip tertentu yang umum dan konsep tatanan moral adalah sama pada seluruh manusia di segala masa. Seluruh bangsa dapat membedakan apa yang baik dan jahat, antara orang yang baik dan orang yang jahat, antara kebaikan dan kejahatan; mereka semua setuju dengan hal ini: kebaikan layak diperjuangan dan kejahatan harus dihilangkan, yang satu berhak dipuji, yang lainnya harus disalahkan. Walaupun dalam kasus tertentu mungkin saja tidak terjadi kesepakatan dalam menentukan hal yang baik atau jahat, namun mereka tetap setuju akan adanya prinsip yang umum bahwa kebaikan harus dilakukan dan kejahatan harus dihindari. Adalah prinsip yang universal pula bahwa kita tidak boleh memperlakukan orang lain apa yang tidak ingin dilakukan kepada kita.

 

 

Moral

Menurut kamus Merriam-Webster, moral adalah sesuatu yang berhubungan dengan prinsip yang benar dan salah dalam perilaku; mengekspresikan atau mengajarkan konsep tentang perilaku yang baik; membentuk standar perilaku yang baik; dapat dibuktikan walaupun tidak terbukti; bersifat persepsi atau lebih ke psikologis daripada berwujud atau praktis.[5]

Dalam dunia bisnis, moral diterjemahkan sebagai kesesuaian kode yang telah dikenal, doktrin, atau aturan dari suatu sistem tentang apa yang benar atau salah dan untuk berperilaku sesuai dengan hal tersebut. Tidak ada sistem moralitas yang diterima secara universal, dan jawaban terhadap pertanyaan “Apakah moralitas itu?” dapat sangat berbeda antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya, kelompok yang satu dengan kelompok lainnya,dari dari waktu ke waktu. Bagi beberapa orang moralitas berarti usaha sadar dan terencana dalam menuntun perilaku seseorang dengan dasar keadilan dan keyakinan pada agama. Bagi yang lainnya, seperti yang diungkapkan matematikawan dan filsuf Alfred North Whitehead (1861-1974), “… apa yang menjadi mayoritas maka itulah yang akan terjadi, dan amoralitas adalah apa yang tidak disukai oleh mayoritas.”[6]

Berbeda dengan dua pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa moral sebagai prinsip atau kesesuaian prinsip tentang baik dan buruk, maka ada pendapat lain yang menyatakan bahwa moral adalah panduan untuk hidup. Pendapat tersebut menyatakan bahwa memilih untuk hidup adalah pilihan pre-moral yang kemudian akan berkembang menjadi pertanyaan “Bagaimana?” atau “Apa yang saya lakukan?” Seseorang dapat menjalaninya (cara hidup) secara asal saja atau dengan metode yang didesain untuk mencapai sukses. Metode itulah yang disebut moralitas.[7]

Moralitas yang dianut akan memampukan seseorang untuk memilih secara rasional diantara nilai-nilai yang ada. Dalam sejarah, konsep moralitas sering kali digunakan secara negatif seperti pada daftar “Anda tidak boleh” untuk menentang suatu tindakan. Tindakan yang diambil menjadi tidak peduli apa yang Anda lakukan, asalkan Anda tidak melanggar aturan moral. Daftar larangan, tidaklah cukup dijadikan panduan untuk sukses. Moralitas harus positif daripada negatif. Bukan “Apa yang tidak boleh saya lakukan?”, tetapi “Apa yang harus saya lakukan?” Masalah pada mendefinisikan moralitas negatif adalah bahwa pada kebanyakan kasus, mengakibatkan seseorang untuk menghindari beberapa area permasalahan tertentu. Hal tersebut tidak berguna karena mengakibatkan tidak adanya metode untuk memilih tindakan mana yang terbaik, sementara moralitas positif menciptakan kebiasaan yang menuntun kepada pencapaian nilai dan metode untuk memilih nilai apa yang digunakan dalam cara untuk hidup dan berkembang.

Ensiklopedi Katolik mengungkapkan bahwa moralitas merupakan anteseden dari etika: hal tersebut menandakan bahwa etika adalah ilmu. Walaupun terdapat berbagai perbedaan mengenai teori etika, terdapat persetujuan yang mendasar diantara manusia terkait dengan tindakan yang umum yang diinginkan. Jelas keseragaman ini lebih mengacu kepada prinsip daripada aplikasi. Aturan untuk melakukan hal tersebut dapat sangat bervariasi. [8]

Sebagai contoh, sementara menghormati orang tua secara universal diketahui sebagai kewajiban, beberapa suku tertentu percaya bahwa berbakti kepada orang tua mengharuskan mereka untuk mengirimi orang tua mereka ketika ada kelemahan pada usia tua. Contoh lainnya adalah menyayangi dan memenuhi kebutuhan anak, jujur dan adil, memiliki belas kasih, menahan rasa sakit dan kemalangan dengan ketabahan, dan lainnya.

Contoh Kasus

1. Sebuah harian elektronik di Indonesia pada pertengahan bulan lalu mengangkat topik mengenai etika pertelevisian, terutama tayangan-tayangan yang disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi selama bulan Ramadhan. Harian tersebut mengungkapkan tradisi para stasiun TV swasta yang berlomba-lomba menyiarkan tayangan spesial selama bulan Ramadhan. Pertanyaan yang kemudian diungkapkan oleh harian tersebut adalah apakah tayangan spesial tersebut (terutama dalam bentuk acara komedi) benar “spesial” Ramadhan atau bukan, dan apakah tayangan tersebut menyajikan tayangan mendidik dan bermoral kepada penontonnya, atau malah merusak moral masyarakat di bulan suci tersebut?

Tayangan yang katanya spesial untuk mengisi bulan Ramadhan namun sama sekali tidak mencerminkan sisi-sisi positif dari bulan suci tersebut. Selain tingkah para pemain yang “tidak tepat”, ucapan para komedian pun kerap kali tidak dijaga. Komedi saling menghina fisik satu sama lain seolah sudah menjadi tren dunia komedi saat ini dan sudah menular hampir ke semua acara komedi. Padahal beberapa komedian sudah sering tersandung kasus dengan Komite Penyiaran Indonesia (KPI). Uniknya komedian yang tersandung tersebut tetap saja tidak jera melecehkan orang lain.[9]

AA Gym ikut berkomentar soal tayangan tersebut. Menurutnya acara komedi sahur melecehkan bulan suci Ramadhan dan tidak membawa pesan moral yang baik. Seharusnya acara sahur diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. “Stasiun TV harus punya peraturan khusus yang mengatur etika bergurau,” katanya.

2. Sebuah harian elektronik Daily Trojan memuat sebuah artikel yang berjudul Popular TV Shows Rely on Moral Ambiguity (Acara TV yang Populer Mengandalkan Ambiguitas Moral). Artikel tersebut  menyatakan bahwa jika ada aturan tidak tertulis dalam usia emas pertelevisian saat ini, maka itu adalah acara-acara hebat yang mengandung ambiguitas moral.

Salah satu film yang dibahas adalah sebuah film seri yang cukup populer yaitu The Sopranos, yang berkisah tentang kehidupan penuh simpatik seorang mafia. Dunia tempat berbagai tokoh dalam film ini hidup dan sistem dimana mereka beroperasi memaksa mereka untuk mengkompromikan posisi etis.

Film seri lainnya adalah Breaking Bad yang berkisah tentang seorang guru kimia yang menderita kanker dan tidak ada jalan lain untuk menghidup keluarganya selain melakukan kejahatan. Film ini mengarahkan pelaku dengan memberikan seluruh alasan di dunia untuk mengubah hidupnya menjadi seorang pelaku kriminal.

Masih banyak film televisi lainnya yang menyuguhkan hal serupa, keambiguitasan moral. Itulah tulang punggung acara: ambil pria normal dan buat ia menjadi penjahat, bukan karena lingkungannya, tetapi karena tindakannya. Terserah kepada masing-masing penonton untuk memutuskan kapankan ia akan mencapai titik dimana ia tidak dapat kembali.[10]

3. Dunia bisnis merupakan dunia yang terkesan penuh dengan kecurangan dimana berbagai cara dihalalkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tetapi siapa sangka bahwa dalam dunia bisnis pun terdapat etika yang menjunjung tinggi moral kejujuran. Berikut ini adalah beberapa hal yang menunjukkan secara jelas bahwa tanpa etika kejujuran, bisnis tersebut justru tidak akan berhasil atau bahkan bertahan lama.

Pertama, kejujuran dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Dalam mengikat perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak pelaku bisnis harus saling percaya, tulus serta jujur dalam membuat perjanjian atau kontrak tertentu dan dalam melaksanakan janjinya. Seandainya salah satu pihak berlaku curang dalam memenuhi syarat-syarat perjanjian tersebut, maka pihak yang dicurangi itu tidak akan mau lagi menjalin relasi bisnis dengan pihak yang curang itu.

Kedua, kejujuran dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Artinya sekali perusahaan menipu konsumen, entah melalui iklan atau melalui pelayanan yang tidak seperti yang dijanjikan, maka konsumen akan dengan mudah lari ke produk lain. Kenyataan bahwa banyak konsumen Indonesia lebih suka mengkonsumsi produk luar negeri daripada produk dalam negeri dikarenakan pengusaha luar negeri lebih bisa dipercaya kerena dengan jujur menawarkan produknya dengan kualitas yang baik dan tidak menipu konsumen.

Ketiga, kejujuran juga relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Omong kosong bahwa suatu perusahaan bisa bertahan kalau hubungan kerja dalam perusahaan itu tidak dilandasi oleh kejujuran. Apabila karyawan terus-menerus ditipu oleh atasan dan sebaliknya, maka perusahaan itu lambat laun akan hancur jika suasana kerjanya penuh dengan akal-akalan dan tipu-menipu.

Dalam ketiga wujud diatas, kejujuran terkait dengan kepercayaan. Kepercayaan yang dibangun diatas dasar prinsip kejujuran merupakan modal dasar bagi kelangsungan dan keberhasilan dalam berbisnis.[11]

 


 

Kesimpulan

Berbagai definisi dan penjelasan  diatas mengenai moral dan etika secara umum mengungkapkan bahwa moral merupakan sumber dari etika, moral bersifat umum sedangkan etika bersifat spesifik. Setiap orang, setiap kelompok, setiap negara dapat memiliki etika yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya mereka memiliki moral yang sama secara universal; moral untuk membedakan antara baik dan buruk, kebaikan dan kejahatan, dll.

Contoh kasus pertama dan kedua mengungkapkan tentang etika dan moral pada dunia pertelevisian terutama pada berbagai tayangan televisi akhir-akhir ini. Walaupun kedua artikel tersebut berasal dari negara yang berbeda, namun terdapat kesamaan moral yaitu stasiun televisi harus lebih selektif dalam menyajikan tayangan-tayangan yang mendidik, tidak membingungkan moral, tepat sasaran, memperhatikan kesopanan dan lain sebagainya. Pada contoh kasus pertama, point yang ditekankan adalah mengenai etika bergurau dan etika tayangan pada saat bulan Ramadhan, etika tersebut merupakan penurunan dari moral menghargai orang lain, baik pada saat bergurau (tidak menghina secara fisik), maupun pada orang yang menjalankan ibadah puasa (menampilkan tayangan yang bernilai religi). Pada contoh kasus yang kedua, point yang ditekankan adalah mengenai tayangan yang tidak mendidik yang mengakibatkan ambiguitas moral.

Pada contoh kasus yang ketiga, moral dan etika yang diangkat adalah pada dunia bisnis. Secara teori, moral yang diangkat adalah moral mengenai kejujuran, moral yang tidak hanya diinginkan pada kelompok bisnis saja, tapi juga oleh kelompok manapun. Etika yang diturunkan dari moral ini adalah etika mengenai kejujuran dalam perjanjian, penawaran barang dan jasa serta hubungan antara produsen dan konsumen.

Sebagai kesimpulan dari tulisan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa moral adalah bentuk teori dari etika sedangkan etika adalah bentuk praktik dari moral. Etika dapat berbeda-beda, namun moralnya bisa sama. Setiap orang, bahkan yang paling tidak berbudaya sekalipun memiliki moralitas atau sejumlah aturan yang mengatur perilaku moralnya.

Share
Avatar of AgnesWi

About AgnesWi