RSS
 

Archive for July, 2011

Dunia Manusia Dilihat Sebagai Kumpulan Masyarakat atau Komunitas Praktisi

29 Jul

Etienne Wenger seorang ahli komunitas  praktisi (Communities of Practice) dalam kuliah umumnya di Universitas Lancaster mengatakan:

Dunia manusia dapat dilihat sebagai kumpulan besar masyarakat atau komunitas  praktisi (Communities of Practice) -beberapa diantaranya sangat menonjol dan diakui, yang lain nyaris tidak terlihat. Belajar, kemudian dapat dipahami sebagai lintasan melalui lanskap praktek:memasuki beberapa komunitas, ada yang diundang atau ditolak, tetap terasing, melintasi batas-batas pengetahuan, terjebak atau terus bergerak. 

Dalam lanskap ini, baik inti komunitas praktisi dan sekeliling mereka menawarkan kesempatan untuk belajar. Belajar tidak hanya sekedar menguasai tubuh pengetahuan (Body of Knowledge), tetapi merupakan perjalanan diri sendiri. Mencapai tingkat “knowledgeability” (Kemampuan Pengetahuan) yang tinggi adalah masalah negosiasi identitas produktif serta hubungannya dengan berbagai praktik yang membentuk lanskap ini. 

Presentasi tentang “Etienne Wenger: Learning in and across landscapes of practice” dapat diunduh disini

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=MRY_DbOn8Sg&w=640&h=390]

Share
 

Peran Baru Universitas: Perubahan Menuju Yang Lebih Baik

29 Jul

Baru-baru ini Thiel Foundation, yang didirikan oleh Peter Thiel (pendiri PayPal), memberi beasiswa kepada 20 mahasiswa untuk drop out dari perguruan tinggi dan mengejar ide-ide kewirausahaan mereka. Hal ini mengejutkan sehingga memacu banyak perdebatan apakah pendidikan universitas benar-benar menyediakan banyak manfaat atau universitas sedang dalam perjalanan “yang tidak diinginkan”. Perdebatan Luar biasa  dimulai dengan pendapat bahwa mereka hanya menggunakan 5% dari apa yang dipelajari di perguruan tinggi, sedangkan wirausaha mempelajari segala sesuatu dengan hanya melakukannya. Ditambah ada begitu banyak sumber daya online saat ini sehingga mereka bisa mengajar diri sendiri  yang  benar-benar perlu diketahui.

Mitos 1: Anda Bisa Mengajar Diri Sendiri Untuk Segala Hal

Saya harus mengakui argumen ini “menghibur” tapi salah arah. Mari kita mulai dengan argumen bahwa internet membebaskan orang untuk mendidik diri sendiri, sehingga membuat universitas dan profesor tidak relevan lagi dan menggantinya dengan lembaga-lembaga seperti Kahn Academy atau blogger. Kritik dan klaim bahwa orang bisa mengajar diri sendiri apa pun yang mereka inginkan hanya dengan pergi online. Sayangnya, argumen ini tidak tepat dan menderita bias “kebaruan” yang menuntun orang untuk mengatakan bahwa kehidupan saat ini lebih keras, lebih cepat, atau apa pun julukan lain yang sekarang tampaknya benar. Yang benar adalah bahwa “self-education” selalu mungkin dalam masyarakat  modern, selama beberapa dekade sebelum internet, hanya dengan pergi ke perpustakaan setempat. Jika anda melihat kembali sepuluh tahun yang lalu atau lebih, Anda akan menemukan sekelompok  orang yang memilih otodidak, atau saat ini yang disebut “pahlawan internet”, mengajarkan diri mereka sendiri segala sesuatu yang ingin mereka tahu dengan menghabiskan waktu di perpustakaan. Jadi dalam pandangan saya argumen ini mengacaukan orang dengan situasi dimana selalu ada sekelompok kecil individu yang memilih mendidik diri sendiri dan “self-education” yang sebenarnya selalu tersedia di masyarakat modern. Tentu saja dalam perpustakaan di masa lalu, mungkin memiliki beberapa keterbatasan, namun keterbatasan ini tidak semuanya buruk.

Sementara internet memungkinkan lebih banyak konten tersedia, itu juga dapat berarti bahwa banyak konten yang relevan, sebagian akurat, atau secara halus menyesatkan. Ini juga berarti bahwa ketika seseorang memerlukan pendidikan, cara tersebut akan mengambil banyak waktu untuk memilah-milah banyak bahan dalam menemukan gagasan inti. Alasan yang benar adalah bahwa kebanyakan orang tidak cukup termotivasi atau mungkin tidak memiliki wawasan intuitif, bagaimana  mengarahkan pencarian  untuk benar-benar mendidik diri mereka sendiri.

Disinilah peran sebuah universitas menyediakan kerangka kerja belajar dan menyediakan panduan pembelajaran. Ini peran penting untuk pendidik membimbing  dan merupakan salah satu alasan mengapa universitas akan tetap ada dan bertahan.

Mitos 2: Anda Bisa Mengajari Diri Segalanya Secara Online

Untuk argumen ini beberapa kritik mungkin menanggapi bahwa suatu program tidak dapat ditawarkan secara online mengganti struktur universitas dan kelas. Tentu saja program dapat ditawarkan secara online dan itu  bermanfaat. Saya tidak ingin berdebat terhadap nilai pendidikan online. Namun, penting untuk mengakui bahwa elemen penting pendidikan adalah elemen sosial. Belajar dari sesama siswa serta membuat koneksi tersebut adalah berharga karena mereka adalah bagian penting dari bagaimana Anda belajar dan apa yang Anda pelajari. Ini terjadi pada dua tingkat: pertama, bagaimana rekan-rekan siswa membantu Anda mempelajari dan kedua, Anda mengetahui dalamnya proses pembelajaran. Sebagai ilustrasi, bahkan dalam cerita inspirasi Sugata Mitra  tentang pendidikan di India, elemen sosial pendidikan adalah penting – siswa saling mendidik satu sama lain. Sebagai ilustrasi sederhana pentingnya mengenal proses ini, kita perlu mempertimbangkan nilai-nilai pendidikan dari Harvard Business School kepada siswa. Setiap siswa dapat mengakses konten HBS di hampir semua sekolah bisnis di tempat lain (sekolah bisnis banyak menggunakan konten yang sama, kasus yang sama, dan dosen yang sama-sama cerdas), tapi Harvard menawarkan sekolah bisnis mereka kepada siswa yang tidak dapat direplikasi dimana hubungan sosial antara siswa - yang sama bermanfaat atau lebih dari konten pembelajaran.

Mitos # 3: Saya Tidak  Mempergunakan Apapun Dipelajari di Universitas

Mungkin mitos  paling merusak yang saya dengar  datang dari orang yang mengklaim mereka hanya menggunakan 5% dari apa yang mereka pelajari di perguruan tinggi. Masalahnya adalah mereka hanya melihat 5% dari apa yang mereka pelajari di perguruan tinggi. Mereka tidak mengakui bahwa mereka belajar beberapa keterampilan yang paling menantang di dunia yaitu untuk belajar dan telah memberikan kontribusi untuk keberhasilan mereka: misalnya, bagaimana berpikir kritis, menulis kritis, dan paparan domain pengetahuan yang membantu mereka melihat  masalah dan bagaimana mengatasinya. 

Mungkin yang terburuk dari semua itu, mereka mengabaikan nilai yang luas untuk timbulnya banyak ide. Beberapa inovasi yang paling penting dalam hidup kita berasal dari paparan hal-hal yang tadinya tidak mungkin kita berpikir dan dianggap  tidak berguna. Sebagai contoh, Steve Jobs menyatakan bahwa salah satu kelas yang paling penting dia ikuti di kampus adalah kaligrafi. Kaligrafi?  Jobs memberikan apresiasi untuk estetika dan keindahan yang belum diterapkan ke teknologi Apple  saat itu dan yang secara fundamental mengubah pendekatan awal dan kemudian mengintegrasi desain dan teknologinya. 

Demikian pula, dalam sebuah ceramah di Stanford, Steve Ballmer berpendapat bahwa kelas yang paling penting ia ambil di perguruan tinggi adalah “Mengelola Organisasi Seni”. Apa? Kedengarannya seperti omongan limbah untuk CEO dari salah satu perusahaan terbesar di dunia teknologi. Salah! Ballmer mengklaim bahwa tentu saja hal itu menolong dia melihat bagaimana orang-orang memiliki motivasi berbeda dalam pekerjaan yang mereka lakukan dari hanya keputusan berbasis keuntungan, yang ternyata sangat penting untuk mengelola perusahaan teknologi yang perlu lebih sering peduli  tentang memiliki manfaat daripada sekedar mencari uang.

Mitos # 4: Beasiswa Thiel Sebenarnya Katakanlah Sesuatu Tentang Pendidikan 

Daripada melihat tindakan Beasiswa Thiel, karena beberapa “tembakan yang akurat” terhadap pendidikan seperti di atas, biarkan saya menyarankan penjelasan yang lebih sederhana: itu hanya sebuah strategi investasi. Salah satu keprihatinan utama dalam investasi tahap awal adalah akses ke “aliran kesepakatan eksklusif”-kesepakatan yang hanya Anda yang miliki bahwa Anda memiliki akses lebih awal dari orang lain. Gelembung investasi telah berkembang di Silicon Valley beberapa waktu sekarang dan saya pikir Thiel hanya lebih ekstrim untuk strategi investasinya – menberikan akses penawaran yang hebat dan menarik dengan melakukannya lebih awal daripada orang lain.

Nilai Kebenaran: Universitas Masih Butuh Perubahan

Sebagai penutup, nila-nilai inti dari pendidikan universitas masih sangat relevan. Yang perlu ditekankan adalah universitas masih perlu berubah. Ketersediaan pendidikan universitas tampaknya masih terbatas  danhanya sebagian kecil dari penduduk dunia memiliki akses (dan ide-ide Sugata Mitra menginspirasi saya tentang kemungkinan). Hal yang lain, mengingat argumen-argumen yang  di atas, pendidikan universitas bisa menjadi jauh lebih bersifat sosial dan jauh lebih berdampak. Akhirnya, apa yang kita ajarkan dan cara kita mendidik memiliki kesempatan untuk berubah, khususnya di bidang inovasi dan kewirausahaan. Saya pikir kita dapat membuat lompatan kuantum dalam mengajar wirausaha sehingga mereka pergi dengan mengatakan “Universitas yang mengubah hidup saya” daripada “Universitas yang menyia-nyiakan hidupku.” Alasan mengapa kita perlu mengubah paradigma ini yang memiliki banyak hubungan dengan sejarah untuk membentuk landasan sebagai masa depan kita

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=P6qm7vVB5so&w=600&h=400]

Tulisan Nathan Furr yang dimuat di majalah Forbes (http://blogs.forbes.com/nathanfurr/2011/06/24/universities-are-dead-long-live-universities/)

Share
 

Pendidikan Digital: Utopia Atau Harapan? (Sebuah Obrolan di Dunia Maya)

29 Jul

 

Pada bukunya “Digital Education” (http://www.byd.com.ar/dewww.htm) Antonio M. Battro dan Percival J. Denham mengatakan: “Tidak ada yang tahu persis kapan atau di mana dunia baru pendidikan digital akan memanifestasikan dirinya, tetapi ada indikasi pasti kematian pendidikan tradisional. Ini hanya masalah bagaimana mengantisipasi saat itu dan mempersiapkan untuk mencari solusinya, agar tidak terjadi seperti jatuhnya Tembok Berlin. Kami berdua yakin akan kemenangan kebebasan dan jatuhnya hambatan yang membatasi pendidikan.”

Buku tersebut menjadi perbincangan menarik dikalangan pendidik Indonesia. Argumen menarik pertama melalui Facebook datang dari  Sukanto Tedjokusuma (Dosen Universitas PETRA Surabaya) yang berpendapat dengan “istilah gaul” : “Menurut saya Battro & Denham ‘lebay’  Pak ! Apakah percobaan efek obat pada tikus mau dilakukan secara digital? Apakah efek dari gempa pada  suatu struktur hanya akan dianalisa secara digital? Kalau Battro & Denham mau memaksakan “teori”nya, mungkin mereka akan memaksakan agar riset dikeluarkan dari dunia Education….”. Semakin seru, ada pendapat juga disampaikan oleh Bayu Adhitya Nugraha (ComLabs USDI ITB): “Perubahan ke arah Digital dalam pendidikan itu sebuah kepastian. Masalahnya, apakah perubahan itu akan mengarah ke reformasi pendidikan atau hanya memindahkan kesimpangsiuran dalam ekosistem baru?”

Argumen saya perihal ini adalah : “Peserta didik sekarang adalah ‘Digital Native’ (Penduduk Asli Digital), sedangkan kita adalah ‘Digital Immigrant’ (Muhajirin Digital)… Metoda pembelajaran saat ini semestinya disesuaikan dengan preferensi mereka… Bahkan di kampung-kampung, banyak dari mereka lebih mengenal “avatar/anime” dibanding “Tokoh Nasional” yg dulu sering kita baca di koran.” Sedangkan Tajuddin N. Pabeta(Dosen Universitas Indonesia) mengatakan: “Nah ini menarik dan saya setuju… Tapi dalam banyak hal terkadang seseorang mengajak orang lain makanan makanan enak, padahal orang yang diajaknya pemilik restoran.. Bukan pemilik warteg..”

Saya mengutip Neil Postman: “Bahwa perubahan terus menerus ada, dan semakin cepat serta ada dimana-mana, Hal itu merupakan karakteristik yang paling mencolok pada dunia di mana kita berada. Sayangnya sistem pendidikan kurang bahkan belum mengakui kenyataan ini. Seharusnya kita mendesain lingkungan-lingkungan sekolah yang bisa membantu kaum muda untuk mampu menguasai konsep-konsep yang penting untuk bisa tetap hidup dalam dunia yang terus berubah cepat.” IMHO (In My Humble Opinion) Pengertian dari itu adalah mengintegrasikan dunia digital/maya (yg sebetulnya dunia nyata) peserta didik kita dengan sistem sistem pembelajaran yang sudah ada :-)

Dilain pihak Hidayat Ely (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar) berpendapat: “Saya coba berpendapat tanpa mengurangi sama sekali rasa hormat. Kita sedang berada di dalam jutaan ketidakpastian dunia (world uncertainty), akibat pergerakan perubahan di berbagai lini kehidupan. Namun sehebat-hebat itu semua, pendidikan lewat tatap-muka langsung (pendidikan tradisional) masih lebih efektif. Analoginya, sehebat-hebat ajang simulasi digital pertempuran para pilot tempur F-16 USAF, tetap diharuskan praktek lapang (bertatap-muka dengan situasi yg sebenarnya). Karena hal itu lebih cepat memberi penghayatan psikologis-real atas materi-ajar pertempuran, dibanding pertempuran pada simulator. Jadi, sehebat-hebat “digital-education” masih lebih hebat pendidikan tatap muka langsung (tradisional), & hal ini telah berlangsung sejak Nabi Adam AS hingga kini, sebagai sebuah atau sesuatu keniscayaan “endowment”.  Untuk hal itu saya tanggapi dengan:“Kata kuncinya adalah “Integrasi” bukan “Mutilasi” salah satu metode pembelajaran. Salah satunya yg bisa dilakukan adalah “Blended Learning” dengan semua media digital yang ada.”

Sebagai kritik tentang hal ini Hendragunawan S. Thayf (Dosen UNHAS) mengatakan: “Neil Postman pernah mengeritik kemasan edutainment dalam bentuk tv show… Waktu itu belum ada internet dan multimedia dlm edukasi, tapi esensi kritikannya pada adanya kecenderungan ‘pendangkalan/peringkasan berlebih’ dan semangat ‘make it all fun’ yang kelewatan sementara esensi pendidikan sesungguhnya juga ‘membiasakan jiwa dengan yang tidak disukainya untuk mendewasakannya’.” Kritik tersebut saya tanggapi dengan,  “Filosofis Sekolah Digital adalah ‘make it all fun’ sesuai dengan filosofis Yunani dari Sekolah adalah ‘Tempat yang menyenangkan,. Menyenangkan utk semua pemangku kepentingan pendidikan mulai dari pendidik, peserta didik dan stakeholder lainnya.”

Mungkin jawaban Battro dan Denham tepat untuk menjawab hal-hal di atas :”Keinginan terbesar kami adalah memberikan kontribusi untuk menafsirkan peringatan awal dari perubahan (Pendidikan Digital) ini &dan menguraikan beberapa jalan bagi masa depan pendidikan.”

Sebenarnya, ini adalah bagian dari kode-kode masa depan dalam dunia pendidikan kita (meminjam istilah Rhenald Kasali dalam bukunya Craking Zone). Seperti apa kita menafsirkan masa depan? Apakah akan menjadi pemain, penonton atau pesakitan? Perspektif, langkah, dan action kitalah yang akan menentukan disebuah zaman; disebuah masa dimana kita akan melihat semua orang di Indonesia berwujud Avatar.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=mRuw8_nGH08&w=640&h=510]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Studi Perilaku dan Pengaruh Perkembangan Teknologi pada Pembelajaran Mahasiswa

28 Jul

Sebagai teknologi yang baru muncul – perangkat mobile, e-reader dan semua jenis media digital  - menjadikan kebiasaan belajar dari mahasiswa berubah dan berkembang menurut sebuah studi baru-baru ini yang dirilis oleh CourseSmart dan Penelitian Wakefield .

“Survei ini membuktikan bahwa perangkat mobile dan teknologi telah mengubah perguruan tinggi tradisional  dimana teknologi memainkan peran dalam kemampuan dan keberhasilan akademik mahasiswa,” kata Jessica Nelson dari CourseSmart. ”Saat ini siswa benar-benar membawa ‘ransel digital’.”

Studi ini menemukan bahwa 98 persen mahasiswa sekarang memiliki perangkat digital, dan 27 persen dari siswa menganggap laptop sebagai item paling penting dalam tas mereka. Sebelas persen dari siswa mengatakan ponsel mereka adalah benda paling penting dalam tas mereka. Siswa juga mengatakan teknologi membuat belajar lebih efisien, 85 persen dari responden survei mengatakan teknologi menghemat waktu mereka saat belajar – rata-rata dua jam per hari.

Perangkat digital dan media digunakan dalam hampir setiap aspek kehidupan akademik, termasuk menulis makalah (82 persen), melakukan penelitian (81 persen), mencatat di kelas (70 persen) dan membuat presentasi kelas (65 persen).

Dan tidak hanya siswa yang memanfaatkan teknologi digital di dalam dan di luar dari kelas. Profesor juga semakin sering menggunakan media digital untuk meningkatkan program yang mereka ajarkan.

“Survei menemukan bahwa baik mahasiswa dan dosen telah memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi lebih efektif,” kata Nelson dari CourseSmart. ”Sembilan puluh tujuh persen siswa melaporkan menerima materi digital dari dosen dan mahasiswa memakai rata-rata tiga perangkat digital yang berbeda setiap hari, yang membuktikan bahwa kedua kelompok di atas sadar teknologi.”

“Semester lalu, saya mengambil Prodi Bahasa dan untuk setiap kelas profesor  kami,  presentasi PowerPoint dia kirimkan melalui Blackboard , yang merupakan cara profesor tersebut berkomunikasi dengan kami,” kata Nicole Fitting dari Brooklyn, New York. Fitting sedang mengejar gelar master dalam “Patologi Bahasa” dari Brooklyn College. ”Yang benar-benar menarik adalah kami berada di laboratorium komputer untuk belajar di kelas, jadi kami bisa mengunjungi beberapa situs Web untuk mendengarkan suara yang berbeda dari banyak orang dalam bahasa yang berbeda.”

Fitting sering menggunakan Smartphone-nya untuk membaca slide yang disediakan oleh profesornya sehingga dia dapat mempelajari setiap kali punya waktu luang.

e-Learning

Fitting juga mengejar beberapa prasyarat gelar melalui e-learning di University of Iowa. Dia saat ini mengambil Kursus Anatomi dan Fisiologi Bahasa. Menggambarkan dirinya sebagai seorang pembelajar visual dan auditori, Fitting mengatakan ada keuntungan untuk mengambil kuliah online.

“Hal yang saya sukai tentang kuliah online adalah aku bisa belajar berulang-ulang,” jelasnya. ”Jika saya tidak cukup menangkap atau mengerti sesuatu, saya bisa kembali mendengarkannya.”

Dia menambahkan bahwa Profesornya menarik presentasi PowerPoint-nya , dengan berbagai sumber internet dan bahkan film Flash serta mengintegrasikannya dengan mulus yang membantunya benar-benar mempelajari materi.

eBook

Dari perspektif mahasiswa, Fitting menggunakan ebooks untuk beberapa kelasnya.

“Semester ini saya telah dapat men-download  buku-buku anatomi bahasa, yang memungkinkan saya untuk membaca buku teks dimanapun saya berada tanpa harus membawa banya buku,” katanya. ”Saya menemukan bahwa hal itu membantu karena  tidak harus membawa beberapa buku serta Saya dapat dengan cepat dan mudah mengakses informasi yang saya tidak mengerti dengan melihat eBook itu. “

Dia  masih suka buku cetak untuk kualitas taktil dan kemampuannya untuk menulis catatan di margin, tetapi ia  juga mengatakan bahwa ebooks menutup kesenjangan, setidaknya dengan kemampuannya untuk menyorot bagian-bagian penting.

Jam Kantor

Siswa juga semakin beralih ke media digital untuk berkomunikasi dengan profesor di luar kelas. Survei CourseSmart  menemukan bahwa 91 persen mahasiswa mencari bantuan ekstra dari dosen mereka melalui e-mail, 13 persen menggunakan telepon seluler dan delapan persen menggunakan situs jejaring sosial .

Fitting mengatakan elearning memberikan akses sesi chatting dengan dosennya selama jam kantor dan mengatakan ia merasa mendapat perhatian lebih individual. Namun, karena dia mampu memutar ulang kuliah dosennya, dia hanya perlu sedikit pertanyaan yang membutuhkan perhatiannya.

<iframe width=”640″ height=”480″ src=”http://www.youtube.com/embed/dGCJ46vyR9o” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Diterjemahkan secara bebas dari http://www.schools.com/articles/college-students-study-habits-evolving-with-technology.html

Untuk berita terkait, lihat:

Share
 

Pembelajaran digital: Bagian Akhir dari buku teks?

28 Jul

Tidaklah mengherankan bahwa banyak siswa yang terobsesi dengan perangkat mobile mereka. Apa yang mungkin tadinya dianggap mengejutkan, pada kenyataannya suatu hari nanti perangkat digital dapat menggantikan semua buku teks  dan mungkin lebih cepat dari yang kita pikirkan! Korea Selatan mengumumkan bahwa pada tahun 2015, semua buku teks kertas akan diganti dengan buku-buku digital yang tersedia pada perangkat mobile seperti tablet dan pembaca elektronik.

Karena siswa dan mahasiswa menjadi lebih tergantung pada perangkat digital, akankah buku punah? Pelajari lebih lanjut tentang tren tersebut di bawah ini.

Infographic: Digital devices to replace textbooks

Dikutip dari http://www.schools.com/visuals/digital-learning-final-chapter-for-textbooks.html

 

Share
 

Cellular Platform & Mobile Systems

27 Jul

Fixed-Mobile Wireless Networks Convergence

Wireless networks in comparison to fixed networks:

  • Higher loss-rates due to interference 
  • Restrictive regulations of frequencies 
  • Low transmission rates 
  • Higher delays, higher jitter 
  • Lower security, simpler active attacking 
  • Always shared medium

Convergence:

  • Heterogeneous access technologies:
  • Multi-mode access devices 
  • Dual mode phones (WiFi, 2.5/3G), UMA 
  • Heterogeneous Services 
  • Cellular Internet access and Internet based voice/video access 
  • Challenges:
    • Time variant heterogeneous network characteristics 
    • Heterogeneous applications with different utilities 
    • System design and networking challenges

[slideshare id=2980753&doc=lecture-ict-intro-ipwireless-part01-mm-biztel-22oct09-100124070647-phpapp02]

Share
 

Policy Analysis: Evaluating Policy Performance

26 Jul

Table of Contents :

  1. Ethics and Values in Policy Analysis 
    • Thinking about Values 
    • Ethics and Metaethics 
    • Standards of Conduct 
  2. Descriptive Ethics, Normative Ethics and Metaethics 
    • Descriptive Value Typologies 
    • Developmental Value Typologies 
    • Normative Theories 
    • Metaethical Theories
  3. Evaluation in Policy Analysis 
    • The Nature of Evaluation 
    • Functions of Evaluation 
    • Criteria for Policy Evaluation 
  4. Approaches to Evaluation 
    • Pseudo-evaluation 
    • Formal Evaluation 
    • Varieties of Formal Evaluation 
    • Decision-Theoretic Evaluation 
  5. Methods For Evaluation

A strong public policy analysis focus on:

  1. To distinguish policy outcomes, impacts, processes, and inputs 
  2. Compare and contrast social systems accounting, social experimentation, social auditing, and research and practice syntheses 
  3. To describe and illustrate criteria for evaluating policy performance 
  4. To contrast decision-theoretic evaluation and metaevaluation 
  5. To distinguish values, ethics and metaethics 

[slideshare id=2753635&doc=dunn-policy-analysis-chapter07-djadjaachmadsardjana0907904-v1-1-091220075550-phpapp02]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Bapinger Solution: Wireless Security

26 Jul

DEFINITION

  1. The protection of networks and their services from unauthorized modification, destruction, or disclosure. Network security provides for assurance that a network performs its critical functions correctly and there are no harmful side effects. (US Army Information Assurance Security Officer (IASO) / http://ia.gordon.army.mil/iaso/default.htm).
  2. Computer security is the effort to create a secure computing platform, designed so that agents (users or programs) can only perform actions that have been allowed. This involves specifying and implementing a security policy. The actions in question can be reduced to operations of access, modification and deletion. Computer security can be seen as a subfield of security engineering, which looks at broader security issues in addition to computer security. (Wikipedia / en.wikipedia.org/wiki/Network_security) 

 

TELECOMMUNICATION NETWORK SECURITY  

Quote from Houlin Zhao, Director of the Telecom Standardization Bureau, ITU : “All businesses face pressure to increase revenue and reduce costs. And in the face of this pressure, security is often sidelined as non-essential. But investment in security is money in the bank. And investment in the making of security standards means that manufacturers and service providers can be sure that their needs and views are taken into account. “ (http://www.itu.int/ITU-T/lighthouse/articles/ecta- 2004.html)

 

[slideshare id=2670038&doc=bapingernetworksecurity-07dec09-091207184130-phpapp02]

Share
 

Manusia dan Lingkungannya: Hubungan Benci Tapi Rindu Sepasang Kekasih

26 Jul
Graph summarizing some of the Global Warming expected impacts

Graph summarizing some of the Global Warming expected impacts

Apa yang terpikir oleh kita pada Lingkungan Sedunia tanggal 05 Juni ? 
Mungkin perlu difahami hal-hal sbb:
a. Udara itu gratis namun terbatas (Friendly Reminder: Orang dewasa sekurangnya harus bernafas 16 respirasi per-menit – atau sekitar 50 m3/jam, bayangkan untuk 1 juta orang dikota anda….atau bahkan seluruh penduduk dunia yang sekitar 5 Milyar orang)
c. Warga Negara Indonesia mempunyai hak dan kewajiban terhadap lingkungan yang di jamin oleh Undang-Undang Dasar. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut dan menyatakan, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ”
Menurut WALHIpada tanggal 5 Juni 2007, negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatnya sebagai Hari Lingkungan Hidup. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). 
Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.


Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi. 

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.

Lantas dengan situasi sedemikian rupa apa yang dibutuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? Yang dibutuhkan adalah REVOLUSI GAYA HIDUP, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan. 

Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim. Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi Protokol Kyoto yang menekankan kewajiban pada negara-negara Utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara Selatan. 


Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja. 

Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan? 

Ini semua adalah cerminan bagi mereka yang berusaha dan sadar sepenuh hati demi keberlanjutan kehidupan sosial (sustainable society) yang berkeadilan secara sosial, budaya, ekologis dan ekonomi. Inilah tindakan nyata untuk meraih kedaulatan energi dan melepaskan ketergantungan terhadap energi fosil yang sekarang telah dikuasai oleh korporasi modal. Sekarang siapapun bisa memilih, mau jadi kontributor pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan suhu yang makin panas? Atau mau menjadi bagian dari pelaku ”penyejukan global” dengan mengubah pola konsumsi dan gaya hidup dari sekarang juga? Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.


Gambar dipinjam dari :
1. Weblogcartoons 
2. Neatorama
3. John-Daly
4. Calgary University
5. MSN 

Share
 

Perguruan Tinggi Jelajahi Peran Media Baru dalam Pendidikan

25 Jul
Gardner Campbell

Gardner Campbell

Karena teknologi terus berubah dengan cepat, perguruan tinggi dan universitas di Amerika sedang mencoba untuk mencari tahu apa peran perubahan ini agar lebih berarti bagi pendidikan.

“Pendidik perlu cara berpikir dan berpartisipasi dalam lingkungan ‘New Media‘ untuk pembelajaran. Sebuah cara produktif dan memuaskan yang penuh dengan inspirasi,” kata Gardner Campbell, direktur pengembangan profesional dan inisiatif inovatif di Virginia Tech.

Siswa semakin berharap untuk menggunakan perangkat mobile, situs jejaring sosial dan alat-alat lain untuk menemukan informasi dalam kelas. Dan fakultas harus mencari berbagai cara untuk memasukkan alat-alat komputasi yang kuat ini ke dalam metodologi pendidikan.

“Jika kita bersikeras menggunakan teknik tua dan kuno untuk mengajar mereka, kita akan kehilangan mereka,” kata Doug Rowlett, koordinator desain instruksional  di Houston Community College Southwest. Jika ingin efektif, Anda harus beradaptasi, daripada mencoba untuk memaksa siswa ke dalam suasana dan keadaan yang mereka anggap tidak cocok, katanya.

Dalam seminar media baru yang dilakukan Gardner Campbell di banyak Negara bagian; pendidik, fakultas, staf dan mahasiswa pascasarjana memulai percakapan dan diskusi tentang apa yang akan mereka lakukan di kelas dan bagaimana teknologi mengubah pendidikan di perguruan tinggi mereka.

Landasan peluncuran

Ketika masih di Baylor University di Texas, Campbell memulai seminar dengan sekelompok kecil dosen dan staf di musim semi 2010 serta menyusun silabus yang ditulis pada buku “The New Media Reader”.

Satu jam setengah jam setiap Rabu, mahasiswa pascasarjana, staf pengajar dari berbagai disiplin ilmu dan staf, termasuk pustakawan, bertemu untuk membicarakan apa yang mereka baca. Seminar-seminar ini memberikan ruang di mana fakultas, staf dan lulusan siswa dapat berbagi pemikiran dan membantu memfasilitasi diskusi.

“Di jantung setiap anggota fakultas ada yang penasaran dan benar-benar terpesona oleh dunia di sekitar mereka,” kata Campbell. Setelah berbicara tentang seminar di konferensi yang berbeda, ia menggelitik minat perguruan tinggi dan universitas lain. Alan Levine dari Konsorsium New Media membantunya dengan ide agar sejumlah sekolah berpartisipasi dalam seminar. Mereka akan memiliki silabus umum, bekerja melalui fase pembelajaran itu pada saat yang sama, dan menulis blog tentang apa yang mereka pelajari.

Tom Haymes dari Houston Northwest Community College juga membantunya memikirkan bagaimana jaringan yang akan terlibat. Selama tahun akademik 2010-2011, sekitar 12 orang telah  menciptakan kelompok-kelompok lokal yang berkecimpung.
Melalui seminar ini, orang menyadari bahwa mereka bergulat dengan orang lain yang punya perjuangan isu-isu inti yang sama, Campbell mengatakan. Mereka bisa mengambil peluang kepemimpinan dengan menjadi fasilitator seminar. Dan kontribusi individual mereka dapat diperluas skalanya sampai ke jaringan nasional.

Perjalanan
Houston Northwest Community College
Di Houston Community College Northwest, diskusi kelompok dirancang untuk mendapatkan pemikiran dari para pendidik dan fakultas, kata Tom Haymes, direktur teknologi dan komputasi instruksional serta seorang profesor pemerintah federal.

“Seminar ini bukan tentang jawaban, ini tentang pertanyaan, dan ini tentang bagaimana seseorang membuat untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.”

Mereka berpikir tentang hal-hal seperti hak cipta, sifat dan perilaku mahasiswa saat ini dan teknologi yang tepat untuk digunakan.

Tapi beberapa tantangan menyulitkan pendidik dan fakultas untuk membuka pikiran mereka tentang teknologi. Perguruan tinggi memiliki tradisi panjang yang menganggap teknologi itu sulit, dan banyak pendidik dan fakultas telah dipaksa untuk menggunakan platform teknologi yang buruk, katanya.

Pendidik dan fakultas sangat menolak teknologi baru ke bidang pendidikan karena tidak masuk akal bagi mereka dan biasanya dirancang dengan buruk. Jika Anda memaksakan keduanya bersamaan, orang akan lari, kata Haymes.

Seminar ini membantu orang belajar bagaimana untuk mengadvokasi teknologi yang baik dan mengembangkan tingkat kenyamanan dengan metodologi itu. Karena itu dirancang untuk menjadi pengalaman belajar yang mendalam, sebagian besar manfaat dan efek seminar terjadi beberapa bulan setelah itu berakhir.

Musim gugur ini, anggota fakultas akan berpartisipasi dalam Tantangan “Apple’s Challenge Based Learning Pilot”, sesuatu yang mungkin tidak akan bisa dilakukan tanpa seminar pendahuluan sebelumnya. Itulah salah satu kisah suksesnya.

Houston Community College Southwest 
Sebagian besar anggota pendidik dan fakultas hanya punya waktu untuk menyapa ketika mereka melihat satu sama lain di lorong atau dalam pertemuan Univesitas. Jadi, ketika profesor sosiologi Ruth Dunn memiliki kesempatan untuk berbicara tentang ide-ide besar dan menghubungkannya ke kelasnya, dia menyitir masalah itu:

“Hal terbesar yang saya dapatkan adalah  duduk di sebuah ruangan dengan rekan-rekan saya dan benar-benar mendiskusikan ide-ide yang mendalam.”

Di Houston Community College Southwest, antara 10-12 pendidik/fakultas dan staf perguruan tinggi datang ke seminar setiap minggu di musim semi 2011. Para peserta datang dari berbagai disiplin ilmu dan generasi, dan membawa berbagai perspektif untuk berdiskusi.

Banyak dari pendidik dan fakultas di kampus takut teknologi dan melihatnya hanya sebagai selingan. Dalam satu sesi seminar, seseorang mengatakan dia meminta siswa mematikan perangkat mobile mereka supaya mereka tidak bermain game.

Tapi seorang profesor bahasa Inggris berbicara dan memberi contoh bagaimana alat-alat tersebut dapat digunakan dalam cara yang tidak terduga. Murid-muridnya telah membaca sebuah risalah panjang pada pembelaan hak-hak perempuan yang ditulis oleh Mary Wollstonecraft melalui perangkat tersebut.

Salah satu siswa mengatakan dia pikir penulisnya gila tentang bagaimana perempuan diperlakukan serta  kurang percaya diri dalam penampilan dirinya. Tapi mahasiswa lain mengeluarkan “Smartphone” dan menemukan potret penulis. Dia cantik, dan fakta ini mengubah arah diskusi.

“Itu sebuah contoh bagaimana teknologi dapat digunakan dalam cara luar biasa,  bermanfaat dan berbeda, cara-cara yang kita tadinya bahkan tidak berpikir,” kata Dunn.

Pada kesempatan lain:

“Sebelum fokus pada pedagogi dan strategi, kita perlu memahami apa yang secara fundamental teknologi lakukan untuk kita sebagai masyarakat dan bagaimana hal itu mengubah kita,” kata Rowlett.

Dan kita juga perlu menyadari bahwa proses belajar tidak pernah selesai. Setelah Anda mempelajari sesuatu, Anda harus mempelajari kembali beberapa kali, dan itu sulit bagi pendidik dan fakultas untuk menerimanya.

Enam perguruan tinggi daerah dalam sistem Houston Community College telah mendorong teknologi di Perguruan Tinggi, serta mendesak mereka untuk memodernisasi, dan mempekerjakan orang-orang yang punya keterampilan komputer. Para pendidik dan Fakultas tidak mengerti mengapa itu diperlukan, dan mereka sudah lama ingin seseorang untuk duduk dan membuka dialog tentang hal itu.

Tulane University 
Di Tulane University, sekelompok kecil anggota fakultas dan staf bertemu setiap Jumat untuk makan siang pada musim gugur 2010. Mereka duduk-duduk, mengunyah makanan dan berbicara tentang aplikasi beberapa teori, kata Mike Griffith, spesialis teknologi instruksional dan dosen bahasa Inggris.

Mereka menggunakan silabus standar yang dibuat Campbell di musim gugur, dan pada sesi terakhir, anggota fakultas Griffith mengatakan bahwa mereka ingin melanjutkan sesi “Historical Reading” tersebut di musim semi.

Berminggu- minggu, mereka merancang silabus sendiri yang menyelidiki isu-isu kontemporer yang sering muncul di media. Mereka berbicara tentang WikiLeaks, pergolakan di Timur Tengah dan peristiwa lainnya saat mereka terjadi.

Selama semester kedua, mereka berbicara tentang narasi dari game dan bagaimana game telah berubah selama lima tahun terakhir. Mereka membawa PlayStation 3 dan Wii serta beberapa PC bagi setiap orang untuk bermain bersama.

Sifat interdisipliner dari seminar ini adalah kekuatannya. Pendidik dan Fakultas membawa perspektif yang berbeda sebagai profesor Bahasa Inggris, komunikasi, filsafat dan mata pelajaran lain. Dan staf, termasuk pustakawan ilmu pengetahuan, desainer grafis dan teknologi instruksional, membawa perspektif mereka juga yang membahas peran game dalam pendidikan.

Griffith mengajarkan teori media baru dan mengatakan itu fantastis melihat bagaimana masing-masing disiplin ilmu mendekati media yang muncul dan memiliki ruang untuk berbicara tentang “Historical Reading”.

Rencana Ke Depan

Pada musim gugur, kelompok dari Tulane akan melanjutkannya untuk semester ketiga, dan Griffith akan mulai kelompok lain dengan silabus Campbell. Sejauh ini, 13 perguruan tinggi dan universitas sudah memulai seminar lokal, termasuk Penn State, University of Central Florida dan Universitas Rice. Dan selanutnya Georgetown, UC Berkeley dan Virginia Tech akan berpartisipasi bersama dengan beberapa orang lain.

“Tapi mereka tidak akan menemukan jawaban karena memang tidak ada”, kata Rowlett.

Dan itu hal yang baik tentang seminar media baru ini, serta salah satu wahana agar orang-orang tidak takut dalam melaksanakannya.

“Kami semua meraba-raba akan hal ini, bukan dalam kegelapan, tapi di senja hari serta mencoba untuk mencari tahu arah yang tepat dan menemukan beberapa cara untuk mengatasi tantangan ini.”

Dikutip dari Converge Magazine: http://www.convergemag.com/training/Colleges-Explore-Emerging-Media.html?elq=b3f011832fbf4cf3a8cd1834a4109665


Share
 
 

Switch to our mobile site