RSS
 

Archive for August, 2011

e-Learning: Bagai Gajah Yang Diraba Orang Buta

28 Aug

Menurut  Vega Bhutani dari Associate Online Marketing, ada sebuah perumpamaan kuno yang terkenal tentang enam orang buta yang tidak tahu seperti apa gajah itu. Mereka mencoba untuk memahami dengan menyentuhnya karena mereka tidak bisa melihatnya. Namun, setiap dari mereka hanya bisa memahami  sebagian kecil dari realitas gajah tersebut. Orang buta yang menyentuh belalai gajah merasa bahwa itu seperti pipa, yang lain merasa dan  berpikir bahwa gajah itu adalah seperti dinding dan sebagainya. Hal yang sama berlaku untuk e-Learning.

The eLearning Elephant!
e-Learning digunakan sangat luas saat ini dalam organisasi akademis, bisnis dan pemerintahan untuk pelatihan dan pembelajaran.  Tapi orang memiliki pemahaman berbeda tentang e-Learning. Bagi sebagian orang, hal itu adalah teknologi pembelajaran atau pelatihan, atau semua hal tentang animasi dan interaksi,  atau juga  ada yang menganggap sebuah situs web. Jadi, menurut Anda, apa definisi sesungguhnya dari e-learning?

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=JMCq4PDnjUU&w=640&h=390]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Hapunten Samudaya Kalepatan Diri

27 Aug

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Status Terbaru Pendidikan Digital (The State of Digital Education Infographic)

26 Aug

Internet telah banyak mengubah tatanan industri. Hal ini juga yang harus dipersiapkan untuk transformasi pendidikan kita. Berikut adalah analisis dari Knewton tentang Status Terbaru Pendidikan Digital (The State of Digital Education Infographic).

Sebagai perbandingan, beberapa pendapat pakar & dosen di Indonesia dapat dibaca di sini:  http://pendidikpembebas.wordpress.com/2011/07/29/pendidikan-digital-utopia-atau-harapan-sebuah-obrolan-di-dunia-maya/

The State of Digital Education

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=tahTKdEUAPk&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Liputan Inilah.com: Pesantren IT Arahkan Pengajar Jadi Pendidik

25 Aug

Pesantren IT Arahkan Pengajar Jadi Pendidik

Kegiatan Pesantren IT yang digagas Comlabs ITB mengajarkan supaya seorang guru tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun sebagai pendidik. – inilah.com/Ageng Rustandi
Oleh: Ageng Rustandi
Jabar – Rabu, 24 Agustus 2011 | 22:20 WIB

INILAH.COM, Bandung – Kegiatan Pesantren IT yang digagas Comlabs ITB bersama dengan Pojok Pendidikan mengajarkan supaya seorang guru tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun mengarahkan seorang guru sebagai pendidik.

“Dengan hanya berpikir sebagai seorang pengajar, guru hanya memberikan materi ajar di depan kelas tanpa mampu mentrasfer nilai-nilai pokok dari sebuah pendidikan. Dan kami di sini mencoba untuk membuka wawasan guru tentang hal tersebut, tidak hanya mengajar tapi juga berperan sebagai pendidik,” ungkap Senior Advisor ComLabs ITB & Pojok Pendidikan Djadja Sardjana kepada INILAH.COM di sela-sela pelaksanaan Pesantren IT di Gedung ComLabs ITB, Jalan Ganeca Kota Bandung, Rabu (24/8/2011).

Peran seorang guru, lanjutnya, tidak hanya bertindak sebagai seseorang yang melakukan transfer ilmu kepada muridnya. Guru harus berperan sebagai benteng dari serangan-serangan pengaruh buruk bagi muridnyam baik pengaruh dari dalam maupun luar lingkungannya.

“Untuk itu, salah satu materi yang diberikan adalah filosofi dan psikologis pembelajaran. Dengan ini diharapkan seorang guru atau dosen mampu mencintai profesinya tersebut dengan utuh. Karena guru merupakan profesi yang harus menjadi tuntutan dan contoh bagi muridnya,” tambahnya.

Selain itu, untuk membekali guru dalam pembelajaran, diberikan juga materi tentang aplikasi information technology(IT) dalam materi pembelajaran. Dengan tuntutan zaman yang semakin mengarah pada IT, guru dituntut mampu mengembangkan media pembelajaran sesuai dengan tuntutan zaman.

“Terkait IT ini memang sudah cukup banyak sekolah maupun guru yang memiliki fasilitas. Namun pengoptimalan fasilitas tersebut untuk sarana pembelajaran masih kurang,” tutur Kepala Deputi ComLabs ITB Arief Bahtiar.

Melalui Pesantren IT, guru diajarkan bagaimana menyiapkan materi pembelajaran dengan menggunakan IT. Tidak hanya materi pembelajaran untuk satu pertemuan, satu semester, namun materi pembelajaran untuk satu tahun pelajaran.

“Minimal mereka bisa menggunakan Microsoft Office Power Point sebagai media materi pembelajarannya. Dan itu akan lebih efisien dalam pemberian materi ajar tersebut,” tegasnya.[den]

http://www.inilahjabar.com/read/detail/1768561/pesantren-it-arahkan-pengajar-jadi-pendidik

 [youtube http://www.youtube.com/watch?v=0ZzCTGieOH0&w=640&h=410]

 

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

What Can We Learn from Higher Education?

23 Aug

By Mike Dickinson on http://www.learningsolutionsmag.com/articles/731/what-can-we-learn-from-higher-education 

“Start with a desired and deliberate pedagogy or strategy, and then figure out which technological and interpersonal tools will help that strategy succeed. Apply the key factors from higher education that I have outlined here; these are already known to contribute to student success.”

(Yes, this is a trick question.) 

My focus the past 20 years has been internal corporate instructional design with an emphasis on eLearning. Recently I had occasion to come up for air and I saw some fascinating developments in higher education with respect to eLearning. After scouring some of the literature, I believe our colleagues in higher education have identified some instructional strategies and critical success factors that may be helpful for those in the corporate world.

Definitions

For the sake of this article, I’d like to establish the way I’ll be using some key terms.

I’ll use “online learning” to mean a course that is delivered and mediated at least 80% by computer.

I’ll use “eLearning” to describe a broader set of elements delivered or facilitated by computer, some of which may even be human-mediated such as online discussions. Other elements that I’ll include under the eLearning label could include delivery and tracking of assignments, course schedules, and online stand-alone quizzes and tests. I’ll treat eLearning and distance learning as synonyms.

Course” has two meanings:

  • If the context is a corporate setting, then a “course” generally means a one-time, often contiguous activity that may last from 15 minutes to several days.
  • If the context is higher education, then “course” generally means a semester-long series of classes. A course may have been converted from a “traditional” course (classroom lecture) to an “eLearning” (or “distance learning”) course with components like those described above.

Academia uses the word pedagogy much more commonly than corporate circles do. It is the study of teaching and of being a teacher, especially the strategies involved. (Wikipedia, 2011) A major thrust of this article is the relationship between technologies and pedagogies, or instructional strategies.

What is the corporate eLearning baseline?

Before I discuss some higher education trends, I’d like to look at the current landscape of corporate eLearning, especially concerning stand-alone online courses. Here are some of the challenges that folks in the corporate world wrestle with:

  • The learner’s interaction is almost exclusively with a computer and not with fellow learners or the instructor.
  • It can be difficult to capture and hold the learner’s attention.
  • The training may be perceived as simplistic even when branching or simulations are used.

In my opinion, two defining elements of corporate online learning are the nature of the objectives (pragmatic; how do I perform a task?) and the nature of the value proposition, namely cost saving. Rarely is our objective to raise the learner’s cognitive skills to the top of Bloom’s taxonomy, and savings in travel cost and time are often the key factor in choosing online delivery. This is not meant as an indictment; it’s merely the nature of corporate job training.

What’s happening in higher education?

So what is it about higher education that caught my attention? First and foremost are the striking things that you can do in a semester-long course vis-à-vis a short, one-time course. Whereas corporate training falls mostly in the category of online learning (a one-time, short course), higher education seems to embrace the full concept of eLearning across an entire semester with a variety of activities to promote richer engagement and deeper understanding.

This longer-term opportunity offers a fascinating chance to focus on effective pedagogies and then apply technology to match the desired teaching strategy. When the converse is done, that is, if we start by folding in technologies without understanding their purpose, learning effectiveness generally suffers.

Course structures vary from university to university and course to course, but there seem to be two nearly universal components: online discussion among students, and much more individual and group interaction between students and the professor. In a very real sense, eLearning enables the course to extend beyond the times and walls of scheduled classroom sessions, immersing the student in the learning. This does not come without a price. Another universal trait is that eLearning tends to be harder and more time consuming than traditional classroom teaching for instructor and students alike. As a result, some students drop out.

What is the trend?

Given the increased opportunity, along with greater difficulty, just what is the eLearning trend in higher education these days? Here are some recent statistics.

Usage:

  • Over 5.6 million students were taking at least one online course during the fall 2009 term. This is an increase of nearly one million students over fall 2008.
  • The 21% growth rate for online enrollments far exceeds the less than 2% growth of the overall higher education student population.
  • Opinions differ whether this is likely to continue at the same pace.

Quality:

  • Over three-fourths of academic leaders at public institutions report that online is as good as or better than face-to-face instruction.

Effect of the economy:

  • Three-quarters of institutions report that the economic downturn has increased demand for online courses and programs. (Allen and Seaman, 2010)

What do students themselves say?

  • In a study, at an American university, of undergraduate students enrolled in both traditional and online courses, students preferred online courses to the traditional classroom. Students said that they learned more in these classes, spent more time on these classes, and found these classes to be more difficult yet of higher quality than traditional classes (Hannay & Newvine, 2006).

Another study examined students’ attitudes to online teaching and learning. It involved 400 responses from students enrolled in 72 online courses offered by 15 different institutions. Students cited the importance of flexibility, good communication, and interaction. They tended to differ in their attitudes toward asynchronous communications. Some students were highly appreciative of the time that online learning offers for thoughtful communication and the ability for all to voice opinions, whereas others missed the face-to-face communication. (More on this when I address learning styles.)

The technology can be used to help or hinder transformative learning, but it all comes down to a teacher/instructional designer combination who understands how to use the technology to create an effective learning experience, and students who can thrive in that environment. Other success factors were the teacher’s ability to be present, to project a personality through cyberspace, and to convey a sense of humor. (Goldsmith, 2001)

What are the implications of eLearning for administrators and faculty? Students value timely feedback, active participation in the online discussions, and quick responses to e-mail. These factors all require faculty to structure their “teaching” time differently from the traditional elements of preparation, class time, and office hours.

Learning styles

One thing that can be done with a semester-long course is to increase both the number and variety of interactions in hopes that this variety will reach students having diverse learning styles. Sometimes you hear this when designing online courses, and people make the argument to provide both text and audio in order to accommodate aural and visual learners.

One interesting study compared specific learning styles in parallel classroom and online versions of the same course. After considering different learning style instruments, the authors chose the Grasha-Reichmann Student Learning Style Scales (GRSLSS) because they designed it for their target audience, namely high school seniors and college students, and it focuses on how students interact with the instructor, other students, and with learning in general. (Diaz and Cartnal, 1999)

The authors measured the six GRSLSS social learning styles among students who chose either the eLearning or classroom version of the course. Whereas all students exhibit some of each learning style, students usually have one or two predominant styles. A look at the styles and their brief descriptions instantly suggests why some students may prefer classroom learning and others the online version of a course. Here is a brief description of each social learning style:

  • Independent learners prefer independent, self-paced instruction, and they generally prefer to work alone.
  • Dependent learners view the teacher and fellow students as sources of structure and direction.
  • Competitive learners strive to outperform their peers and want recognition for their academic achievements.
  • Collaborative learners prefer to share and cooperate with teachers and peers. They like lectures and small group discussions.
  • Avoidant learners do not care to attend class, and they are often uninterested and overwhelmed by class activities – unless the instructor can find a way to pique these learners’ interest.
  • Participant learners enjoy a class activities and discussion and do as much class work as possible. They are keenly attuned to the teacher’s expectations. (Diaz and Cartnal, 1999)

In college courses where there are both classroom and eLearning versions, it seems likely that students may intuitively self-select the version that best matches their individual preferred learning styles. But such a choice is generally not feasible in the corporate environment, and may be too expensive to offer in higher education, too, so the challenge is how to design one eLearning course that will accommodate all of these learning styles.

The study authors found a strong difference between the groups in the independent and dependent categories. Students with independent learning styles favored the eLearning version, whereas students with dependent learning style tended to favor classroom.

An important conclusion from this study is that faculty should avoid the temptation to merely mimic their traditional course when converting it to the eLearning format. Not only are the physical and cognitive characteristics different, but if allowed to self-select for classroom or eLearning, the composite learning styles of the respective target audiences may be quite different. And, if you’re only offering the eLearning version, then you should design it to accommodate all learning styles. This is a topic for further research.

From several studies, some important considerations for the online discussion component have emerged. Online discussion can occur in one of two ways, either synchronous (with everyone online at the same time) or asynchronous (e.g., e-mail, blogs, and other online discussion forums that involve time delays between input and response).

Synchronous discussions tend to be spontaneous with lively, real-time interaction among participants, even if they are text-based. Asynchronous discussions tend to lead to more thoughtful and literate contributions. One researcher noted that in constructivist eLearning courses, asynchronous discussions were preferred because they led to higher-order thinking, resulting in what the researcher described as “writing oneself into understanding.” (Lapadat, 2002)

Some principles of good practice

It comes back to pedagogy. How exactly can a seasoned classroom instructor modify the course originally designed for eLearning delivery? The following seven principles of good practice are a solid starting point.

Principle 1: Encourage student-faculty contact

 Provide clear guidelines for how students can use discussion forums, e-mail, and phone to connect with their instructor.

Principle 2: Encourage cooperation among the students

 Give students written guidelines for Internet and discussion group etiquette.

Principle 3: Encourage active learning

Give students several opportunities to present and discuss their findings with the rest of the class. Provide case studies and problem-based scenarios. [Note: be sure these are meaningful so learners will not perceive them as mere busywork.]

Principle 4: Give prompt feedback

 Instructors should strive to respond to individual students in a timely manner and be “present” in the course. Caution: instructors should facilitate but not dominate discussions, else student participation is sure to shut down.

Principle 5: Emphasize time-on-task

At the beginning of the course, give students a complete calendar of all activities, assignments, and due dates.

Principle 6: Communicate high expectations

Principle 7: Respect diverse talents and ways of learning

Be mindful of the learning styles described previously, and encourage students to submit ideas or topics that have practical meaning for them. Consider using a learning style assessment to better enable you to adapt the course to the learners.

Can some of these findings be adapted for corporate use?

After reviewing some contemporary literature on the state of effective eLearning in higher education, two elements stand out. I think these would be beneficial, albeit challenging, for online learning in the corporate setting. Those elements are 1) fostering a relationship between the student and a human instructor, and 2) meaningful and supportive interaction between students. Research shows that both of these elements increase the effectiveness of eLearning courses. Surely there is more opportunity to design both of these elements into semester-long courses, but I wonder if designers could strengthen them even around shorter, stand-alone online courses that typify corporate online learning.

Here are some possibilities:

In a medium size company, most employees and managers often know the training staff. Therefore, rather than building a strong student/instructor relationship around an individual course, I have seen instructors assigned to particular business areas within the company where they build a supportive, long-term business relationship. Strengthen this relationship by communicating with learners at key junctures in their professional development journey, for example, by sending a welcome note when an employee registers for a particular online or classroom course. Besides hoping to set expectations in advance, such a personal touch can strengthen the instructor/student bond.

Start with a desired and deliberate pedagogy or strategy, and then figure out which technological and interpersonal tools will help that strategy succeed. Apply the key factors from higher education that I have outlined here; these are already known to contribute to student success.

One final area of interest is online testing. Given the instructor’s (and even the institution’s) lack of control over the testing environment for online and eLearning courses, test security and academic honesty present one more challenge to design and administer. This is a topic for a future article.

References:

Allen, I.E. & Seaman, J. (2010). Class differences: Online education in the United States, 2010. The Sloan Consortium.

Chickering, A. W., & Gamson, Z. (1987). Seven principles for good practice in undergraduate education. AAHE Bulletin, 40(7), 3-7.

Diaz, D.P. & Cartnal, R.B. (1999). Students’ learning styles in two classes: online distance learning and equivalent on-campus. College Teaching 47(4), 130-135.

Goldsmith, D. (2001) Communication, Humor and Personality: Student’s attitudes to learning online, Academic Quarterly Exchange, Summer 2001.

Hannay, M. & Newvine, T. (2006, March). Perceptions of distance learning: A comparison of online and traditional learning. Journal of Online Learning and Teaching, 2 (1).

Lapadat, J.C., Written Interaction: A Key Component in Online Learning. Journal of Computer-Mediated Communication, 7 (4), July 2002. http://jcmc.indiana.edu/vol7/issue4/lapadat.html

“Pedagogy,” downloaded Aug. 16, 2011 from http://en.wikipedia.org/wiki/Pedagogy

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dGCJ46vyR9o&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Pernyataan Pribadi Filosofi Pendidikan Untuk Dosen

22 Aug

Ketika diminta untuk menulis sebuah pernyataan pada filosofi pendidikan mereka, dosen banyak kemiripan dengan profesional, atlet, atau seniman jika diminta untuk mengartikulasikan bagaimana  mencapai tujuan mereka. Karena berorientasi pada tindakan individu, permintaan untuk menuliskan filosofi pribadi tidak hanya sedikit menjengkelkan, tetapi menyebabkan kecemasan untuk memulainya. Sehingga timbul pertanyaan yang dimaksud dengan Filosofis Pendidikan Untuk Dosen itu apa sih?, Mengapa saya harus menghabiskan waktu untuk menulis ini? Kenapa saya tidak bisa melakukannya? 

Dalam iklim akademis saat ini ada kemungkinan bahwa dosen  akan diminta suatu pernyataan pendidikan pribadi selama karir mereka. Penekanan pada portofolio untuk keputusan personalia atau kenaikan pangkat, komitmen baru lembaga pendidikan, dan pasar kerja akademik yang ketat telah merangsang permintaan agar dosen perguruan tinggi dapat mengartikulasikan filosofi pendidika mereka. Pada banyak perguruan tinggi dan universitas,  Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen menjadi bagian reguler dari syarat/berkas untuk promosi dosen. Pernyataan seperti itu sering diminta untuk pelamar beas siswa atau untuk usulan dana proyek-proyek pendidikan yang inovatif.

Selain memenuhi persyaratan, Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen dapat digunakan untuk merangsang refleksi pada pembelajaran. Tindakan perenungan untuk mempertimbangkan tujuan, tindakan, dan visi seorang dosen memberikan kesempatan bagi pengembangan diri yang dapat memperkaya kemampuan pribadi dan profesional. Meninjau dan merevisi Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen dapat membantu merefleksikan pertumbuhan mereka dan memperbaharui dedikasi mereka untuk tujuan-tujuan dan nilai-nilai pendidikan yang mereka pegang.

Format Surat Pernyataan

Salah satu ciri dari sebuah Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen adalah personal dan individualitas. Namun, beberapa pedoman format umum yang dapat disarankan:

Surat pernyataan harus singkat, satu atau dua halaman paling banyak. Untuk beberapa tujuan, deskripsi yang diperpanjang adalah dimungkinkan, tetapi panjangnya harus sesuai konteks.

Pernyataan harus menghindari istilah teknis, bahasa pendukung dan konsep secara luas dapat digunakan. Jika pernyataan adalah untuk spesialis, pendekatan  lebih teknis dapat digunakan. Aturan umum adalah bahwa pernyataan harus ditulis dengan “penonton dalam pikiran”.

Narasi, pendekatan orang pertama umumnya sesuai. Dalam beberapa bidang, pendekatan yang lebih kreatif, seperti puisi mungkin cocok dan dihargai, tetapi sebagian besar, sebuah pernyataan langsung dan terorganisir dengan baik lebih disukai.

Pernyataan tersebut harus reflektif dan pribadi. Apa yang membawa Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen adalah untuk kehidupan serta sejauh mana menciptakan potret hidup dari seseorang tentang pembelajaran dan komitmen untuk karir.

Komponen Pernyataan

Komponen utama dari Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen adalah deskripsi tentang bagaimana dosen berpikir pembelajaran terjadi, bagaimana mereka berpikir mereka dapat campur tangan dalam proses ini, apa tujuan utama mereka miliki untuk mahasiswa, dan apa tindakan yang mereka ambil untuk melaksanakan niat mereka.

Konseptualisasi pembelajaran. Menariknya, dosen perguruan tinggi sebagian besar setuju bahwa salah satu fungsi utama mereka adalah untuk memfasilitasi pembelajaran siswa, namun yang paling menarik ketika ditanya bagaimana pembelajaran itu terjadi. Hal ini mungkin disebabkan fakta bahwa ide-ide mereka tentang hal ini lebih bersifat intuitif dan berdasarkan pengalaman, bukan kesadaran pada teori yang diartikulasikan. Kebanyakan belum mempelajari literatur tentang pembelajaran mahasiswa dan pengembangan atau belajar kosa kata untuk menjelaskan pemikiran mereka. Tugas mengartikulasikan konseptualisasi pembelajaran itu memang sulit.

Banyak dosen telah mendekati cara menjelaskan bagaimana cara berpikir siswa saat pembelajaran terjadi melalui penggunaan metafora. Menggambarkan perbandingan dengan contoh diketahui dapat merangsang pemikiran bila metafora benar-benar digunakan dalam pernyataan itu. Sebagai contoh, ketika diminta untuk memberikan metafora, seorang dosen yang menjelaskan pembelajaran siswa tentang amuba. Dia secara rinci menerangkan bagaimana organisme berhubungan dengan lingkungan membran permeabel, gerakannya, dan lingkungannya, serta menerjemahkan ini ke dalam konteks belajar-mengajar dengan gambar atau perbandingan agar mahasiswa menjangkau dan memperoleh pengetahuan ini. Grasha (1996) telah melakukan eksplorasi yang luas dari metafora untuk menjelaskan pengajaran dan pembelajaran. Sebuah contoh klasik yang juga berisi eksplorasi metafora pengajaran dan pembelajaran oleh Israel Scheffler: “The Language of Education” (1960). Reinsmith (1994) menerapkan ide arketipe untuk mengajar. 

Sebuah pendekatan langsung bagi dosen untuk menjelaskan apa yang mereka pikirkan terjadi selama episode pembelajaran, berdasarkan pengamatan dan pengalaman mereka atau berdasarkan literatur yang ada saat ini pada pengajaran dan pembelajaran. Beberapa sumber yang berguna yang meringkas gagasan saat belajar dalam cara yang sangat mudah terkandung pada buku Svinicki (1991), Weinstein & Meyer (1991), dan Bruning (1994). Dosen juga dapat meringkas apa yang telah mereka amati dalam praktek mereka sendiri tentang gaya belajar yang berbeda yang menampilkan tempo yang berbeda, cara mereka bereaksi terhadap kegagalan, dan sejenisnya. Deskripsi tersebut dapat menampilkan kekayaan pengalaman dan kepekaan dosen terhadap pembelajaran mahasiswa.

Konseptualisasi mengajar. Ide tentang bagaimana dosen dapat memfasilitasi proses belajar mengikuti dari model belajar mahasiswa telah dijelaskan. Jika metafora telah digunakan, peran dosen dapat menjadi perpanjangan dari metafora. Misalnya, jika pembelajaran siswa telah digambarkan sebagai pengolahan informasi yang dilakukan oleh komputer, apakah dosen bertindak sebagai teknisi komputer, perangkat lunak, database? Jika deskripsi untuk mengarahkan pembelajaran mahasiswa telah diartikulasikan, apa peran dosen terhadap motivasi mereka? Bagaimana dosen dapat merespon gaya belajar yang berbeda, membantu mahasiswa yang frustasi, mengakomodasi kemampuan yang berbeda?

Tujuan untuk mahasiswa. Menggambarkan peran dan perincian bagaimana dosen dapat membantu mahasiswa belajar, tidak hanya untuk konten tertentu, tetapi juga keterampilan prosesnya, seperti berpikir kritis, menulis, dan memecahkan masalah. Hal ini juga termasuk pada pembelajaran seumur hidup – bagaimana dosen dapat membantu mahasiswa menghargai dan memelihara keingintahuan intelektual mereka, hidup etis, dan memiliki karir yang produktif. Bagi kebanyakan dosen, lebih mudah untuk mulai dengan tujuan konten pembelajaran, misalnya keinginan mahasiswa untuk memahami prinsip-prinsip desain aerodinamis atau pengobatan hipertensi. Tujuan proses terkait, seperti pemecahan masalah atau keterampilan rekayasa dan diagnostik medis, mungkin dijelaskan selanjutnya. Diakhiri, karir dan tujuan seumur hidup: seperti kerja tim, etika, dan komitmen sosial.

 

Pelaksanaan filosofi. Bagian yang sangat penting dari Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen adalah deskripsi tentang bagaimana konsep tentang pengajaran dan pembelajaran dan tujuan bagi siswa  diterjemahkan ke dalam tindakan. Untuk sebagian besar kita, bagian dari pernyataan itu adalah paling mengungkapkan dan paling berkesan. Hal ini juga umumnya lebih menyenangkan dan kurang menantang untuk ditulis. Di sini, dosen menjelaskan bagaimana mereka melakukan manajemen kelas, mengajar siswa, mengembangkan sumber daya instruksional, atau mengukur kinerja kelas. Dosen menyediakan rincian tentang apa strategi instruksional  yang mereka gunakan sehari-hari. Ini adalah bagian dimana dosen dapat menampilkan kreativitas, antusiasme, dan kebijaksanaan mereka. Mereka dapat menggambarkan bagaimana mereka “Uji Sistem  Tanpa Kesalahan” atau teknik rekaman video untuk mempromosikan keterampilan kepemimpinan serta menerapkan gagasan-gagasan tentang bagaimana dosen dapat memfasilitasi pembelajaran. Dosen dapat menggambarkan apa yang mereka inginkan untuk pengalaman di kelas mahasiswa yang mereka ajarkan, laboratorium dan proyek independen yang mereka awasi. Dosen dapat menggambarkan tingkat energi mereka sendiri, kualitas mereka untuk menunjukkan sebagai model dan pelatih, iklim untuk membangun pengaturan di mana mereka mengajar.

Rencana Pertumbuhan Pribadi. Untuk beberapa tujuan, termasuk pada pertumbuhan pribadi seseorang sebagai seorang dosen juga penting dalam sebuah Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen. Komponen reflektif dapat menggambarkan bagaimana seseorang tumbuh dalam pembelajaran selama bertahun-tahun, apa tantangan pada saat ini, dan apa tujuan jangka panjang diproyeksikan. Dalam menulis bagian ini, hal ini membantu untuk berpikir tentang bagaimana konsep-konsep seseorang serta tindakannya berubah dari waktu ke waktu. Mungkin menarik untuk melihat silabus lama atau sumber daya instruksional yang telah diciptakan sehingg bisa bertanya tentang asumsi implisit di balik produk tersebut. Dialog dengan rekan-rekan, perbandingan praktek pembelajaran dengan visi/misi, dan survey terhadap mahasiswa atau umpan balik pada pengajaran dapat membantu  pertanyaan, teka-teki, dan tantangan ini. Dari hal ini, visi dosen akan muncul serta  dapat menjadi cara yang sangat efektif untuk menyimpulkan Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen.

Contoh Pernyataan

Sejauh ini, Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen dapat ditiru dari para sejawat yang mengajar dalam pengaturan atau disiplin yang sama. Karena pernyataan cenderung disesuaikan dengan konteks spesifik, contoh model “peer to peer” sangat tepat. Dialog dengan rekan-rekan  dapat membantu untuk merangsang ide-ide untuk Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen milik sendiri.

Contoh lain  terkandung dalam buku-buku  portofolio mengajar, seperti Seldin (1993) dan O’Neil & Wright (1993). Buku reflektif pada pengajaran kampus yang efektif seringkali berisi deskripsi luas tentang filosofi pengajaran, seperti bab tentang “Developing a Personal Vision of Teaching” di buku Brookfield “The Skillful Teacher” (1990) dan bab “Three Teaching Principles” pada buku  Louis Schmier’s “Random Thoughts” (1995).

Dikutip dari Tulisan “Nancy Van Note Chism, Ohio State University”


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=SYW7hPOmtzw&w=640&h=410]

 

Referensi

Brookfield, S. (1990). The skillful teacher. San Francisco: Jossey-Bass.

Bruning, R. (1994). The college classroom from the perspective of cognitive psychology. (pp. 3-22) In K. Pritchard & R. Sawyer (Eds.), Handbook of college teaching. Westport, CT: Greenwood Press.

Grasha, A. (1996). Teaching with style. Pittsburgh: Alliance Publishers.

O’Neil, C., & Wright, A. (1993). Recording teaching accomplishment. (4th ed). Halifax, Nova Scotia, CA: Dalhousie University.

Reinsmith, W. (1994). Archetypal forms in teaching. College Teaching, 42, 131-136.

Scheffler, I. (1960). The language of education. Springfield, IL: Charles Thomas.

Seldin, P. (1991). The teaching portfolio. Bolton, MA: Anker.

Seldin, P., & Associates (1993). Successful use of teaching portfolios. Bolton, MA: Anker.

Schmier, L. (1995). Random thoughts: The humanity of teaching. Madison, WI: Magna Publications.

Svinicki, M. (1991). Practical implications of cognitive theories. In R. Menges & M. Svinicki, (Eds.) College teaching: From theory to practice.  New Directions for Teaching and Learning, 45, pp. 27-37. San Francisco: Jossey-Bass.

Weinstein, C., & Meyer, D. (1991). Cognitive learning strategies and college teaching. In R. Menges & M. Svinicki, (Eds.) College teaching: From theory to practice.   New Directions for Teaching and Learning, 45, pp. 15-26. San Francisco: Jossey-Bass. 

 

Share
 

Proses Membuat Kebijakan (e-Learning Untuk Diklat PNS Bag.3)

20 Aug

Menurut Hoogerwerf (1988, 66) pada hakekatnya pengertian kebijakan adalah semacam jawaban terhadap suatu masalah, merupakan upaya untuk memecahkan, mengurangi, mencegah suatu masalah dengan cara tertentu, yaitu dengan tindakan yang terarah. James E. Anderson (1978, 33), memberikan rumusan kebijakan sebagai perilaku dari sejumlah aktor (pejabat, kelompok, instansi) atau serangkaian aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu.

Pada hakekatnya studi tentang policy (kebijakan) mencakup pertanyaan : what, why, who, where dan how. Semua pertanyaan itu menyangkut tentang masalah yang dihadapi lembaga-lembaga yang mengambil keputusan yang menyangkut; isi, cara atau prosedur yang ditentukan, strategi, waktu keputusan itu diambil dan dilaksanakan. Disamping kesimpulan tentang pengertian kebijakan dimaksud, pada dewasa ini istilah kebijakan lebih sering dan secara luas dipergunakan dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan pemerintah atau organisasi serta perilaku negara atau  institusi pada umumnya (Charles O. Jones,1991, 166)

Dari definisi ini, maka kebijakan publik meliputi segala sesuatu yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah.
Disamping itu kebijakan publik adalah juga kebijakan-kebijakan yang dikembangkan/dibuat oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah (James E. Anderson, 1979:3).

Implementasi Kebijakan

Dalam studi kebijakan, perlu dilakukan implementasi kebijakan yang bersangkut paut dengan mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin melalui saluran-saluran birokrasi, masalah konflik, keputusan, dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.
Oleh karena itu, tidaklah terlalu salah jika dikatakan bahwa implementasi kebijakan merupakan aspek yang sangat penting dalam keseluruhan proses kebijakan.

Charles O. Jones (1991) merumuskan kata implementasi diartikan sebagai “getting the job done” dan “doing it”. Dengan rumusan ini, bukan berarti implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang dapat dilakukan  dengan  mudah.Dalam pelaksanaannya,  menurut  Jones,  menuntut adanya syarat yang antara lain: adanya orang atau pelaksana, uang dan kemampuan organisasi atau yang sering disebut dengan resources. Lebih lanjut Jones merumuskan batasan implementasi sebagai proses penerimaan sumber daya tambahan, sehingga dapat mempertimbangkan apa yang harus dilakukan.

Analisis Kebijakan

William N. Dunn (2008) mengemukakan bahwa analisis kebijakan adalah suatu disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai macam metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan, sehingga dapat dimanfaatkan di tingkat politik dalam rangka memecahkan masalah-masalah kebijakan.

Weimer and Vining, (1998:1): “The product of policy analysis is advice. Specifically, it is advice that inform some public policy decision”.
Jadi analisis kebijakan publik lebih merupakan nasehat atau bahan pertimbangan pembuat kebijakan publik yang berisi tentang masalah yang dihadapi, tugas yang mesti dilakukan oleh organisasi publik berkaitan dengan masalah tersebut, dan juga berbagai alternatif kebijakan yang mungkin bisa diambil dengan berbagai penilaiannya berdasarkan tujuan kebijakan.

Untuk itulah dibutuhkan Analisis sehingga perlu dilakukan suatu kajian untuk mereview terhadap kebijakan tersebut. Mengetahui seberapa baik kebijakan yang dipilih dapat membantu tercapainya tujuan dan untuk mengetahui apakah terdapat dampak-dampak lainnya yang mungkin ditimbulkan oleh kebijakan tersebut.
Dan juga untuk mengetahui masalah apa yang ingin diselesaikan oleh pemerintah, seberapa jauh tingkat keberhasilan kebijakan tersebut dalam memecahkan masalah (mencapai sasaran), serta apakah kebijakan tersebut mengakibatkan dampak lain yang tidak diinginkan, tidak diperhitungkan sebelumnya, atau yang merupakan ancaman risiko bagi pemerintah.

Proses Desain Kebijakan

Problem Analisys
1. Tahap pengkajian persoalan.
2. Penetapan tujuan dan sasaran kebijakan.
3. Penyusunan model.
Solution Analisys
4. Perumusan alternatif kebijakan.
5. Penentuan kriteria pemilihan alternatif kebijakan.
6. Penilaian alternatif kebijakan.
7. Perumusan rekomendasi kebijakan.

(Telaah e-Learning Untuk Diklat PNS selesai) 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=VZMHaf6GWhM&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Sistem E-Learning Diklat PNS (e-Learning Untuk Diklat PNS Bag.2)

19 Aug

sumber gambar http://www.examiner.com/

Persaingan di era globalisasi membutuhkan tingkat produktivitas yang tinggi, pengetahuan yang luas serta  profesional. Praktek pelatihan konvensional tidak mampu menyediakan pelatihan yang dibutuhkan secara efektif karena keterbatasan waktu, tempat, jumlah instruktur,  fasilitas, dan lain-lain. Proses pendidikan dalam Diklat PNS membutuhkan teknologi yang dapat menyediakan pendidikan dan pelatihan yang cepat dengan metode pendidikan yang lebih efektif serta persiapan yang lebih singkat.

Di negara maju, sistem E-learning telah diaplikasikan oleh berbagai instansi, termasuk institusi pemerintah. Di Indonesia, sistem E-learning telah  banyak diaplikasikan di berbagai  institusi akademis, instansi pemerintah, lembaga dan perusahaan, meskipun masih terbatas jumlahnya. Dengan sistem E-learning proses belajar-mengajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun (anywhere, anytime & anyplace) selama memiliki akses ke website (internet).

Keuntungan E-learning

Dalam implementasinya, E-learning memiliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Mampu mengurangi biaya Diklat (efisiensi).
  2. Fleksibilitas waktu sangat tinggi, tidak mengganggu aktivitas utama/pekerjaan.
  3. Fleksibilitas tempat sangat tinggi, dapat mengakses pelatihan  di kantor, di jalan, bahkan di meja kerja.
  4. Fleksibilitas kecepatan pembelajaran sangat tinggi, sesuai kecepatan belajar masing-masing peserta Diklat.
  5. Standarisasi pengajaran E-learning mempunyai kualitas yang sama setiap kali diakses dan tidak tergantung suasana hati pengajar/tutor.
  6. Efektivitas pengajaran sangat tinggi karena E-learning membantu proses pembelajaran serta mempertahankan minat belajar pesertanya.
  7. Kecepatan distribusi. Sistem  E-learning dapat dengan cepat menjangkau peserta yang berada diluar wilayah pusat pendidikan.
  8. Ketersediaan (on-demand). Sistem E-learning dapat sewaktu-waktu diakses (anytime, anywhere, anyplace).
  9. Otomatisasi proses administrasi. Sistem E-learning menggunakan Learning Management System (LMS).

Keterbatasan E-learning

Keterbatasan implementasi E-Learning diantaranya sebagai berikut:

  1. Budaya
    Metode E-learning relatif baru  diaplikasikan, sehingga masih dirasakan adanya culture handicap sementara motivasi belajar masyarakat indonesia masih banyak yang tergantung pada pengajar.
  2. Investasi Besar
    Pada awal dimulainya implementasi E-learning dibutuhkan biaya yang cukup besar.
  3. Materi
    Ada beberapa materi yang tidak dapat diajarkan  melalui E-learning  pada kegiatan  fisik (phisical), seperti: praktek olahraga, instrumen musik, dll.
  4. Infrastruktur
    Infrastruktur pendukung ICT  (bandwidth) masih belum merata diseluruh wilayah/daerah di indonesia.

Implementasi E-learning

E-learning merupakan sebuah sistem menyeluruh. Untuk penerapan yang efektif dan maksimal, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat kebijakan terkait penggunaan E-learning. Kebijakan memiliki peran krusial karena menyangkut seluruh komponen pendukung E-learning.

Artikel ini dapat diakses pula di  http://idelearning.com/2011/08/18/e-learning-untuk-diklat-pns-telaah-diklat-pns-bag-2/#more

(bersambung ke bagian 3 “Proses Membuat Kebijakan”)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=pVd3U51Uj7I&w=640&h=410]

Share
 

Kebijakan Diklat PNS (e-Learning Untuk Diklat PNS Bag.1)

18 Aug

sumber gambar http://kompasiana.com

Pendidikan dan Pelatihan atau lebih dikenal dengan istilah Diklat untuk Pegawai Negri Sipil (PNS) diatur dalam UU 43/1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Selain itu, kebijakan mengenai Diklat PNS juga diatur dalam Keputusan Presiden RI No. 87 Th. 1999 tentang rumpun Jabatan Fungsional PNS, PP 101/2000 tentang Diklat Jabatan PNS dan Pedoman Umum Diklat Jabatan PNS 193/2001.

Diklat menurut jenisnya terdiri dari Diklat Prajabatan dan Diklat Dalam Jabatan. Diklat merupakan bagian integral dari sistem pembinaan PNS dan mempunyai keterkaitan dengan pengembangan karir PNS. Diklat diarahkan untuk mempersiapkan PNS agar memenuhi persyaratan jabatan yang ditentukan dan kebutuhan organisasi termasuk pengadaan kader pimpinan dan staf. Sistem Diklat meliputi proses identifikasi kebutuhan, perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi Diklat.

Tujuan Diklat

Diklat untuk PNS memiliki tujuan meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansi. Dengan diklat diharapkan tercipta aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Diklat juga bertujuan untuk memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang beorientasi pada pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.Pada akhirnya, peningkatan kualiatas aparatur melalui Diklat PNS bertujuan untuk dapat menciptakan pemerintahan yang baik (good governance).

Fenomena Diklat yang Terjadi

Sistem Diklat yang banyak dilakukan saat ini memiliki beberapa kelemahan. Diklat yang ada baru berfokus pada Diklat Penjenjangan (Kepemimpinan). Diklat Teknis dan Fungsional belum ditangani dengan baik. Selain itu, Training Needs belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan pola Diklat yang sistemik dan berbasis kompetensi. Tuntutan saat ini adalah Diklat harus dapat mengisi kompetensi dalam jabatan. Sehingga Diklat yang dikembangkan haruslah berbasis kompetensi.

E-Learning sebagai pendukung proses pembelajaran dapat diterapkan dalam Diklat PNS. E-Learning memiliki keunggulan-keunggulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas Diklat PNS.

Dimuat juga di http://idelearning.com/2011/08/16/kebijakan-diklat-pns-telaah-diklat-pns-bag-1  

(bersambung ke bagian 2 “E-Learning untuk Diklat PNS”)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zgri3qKNzec&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Bung Hatta Dalam Kesederhanaan, Kemuliaan dan Kekuasaan

15 Aug

Kesederhanaan Bung Hatta

 

Menjelang Proklamasi ini saya ingin menulis sedikit salah satu idola diri yang kehidupannya “Lurus” dan bahkan “tanpa rona” dibandingkan Tokoh Kemerdekaan lain. Ia selalu hidup sederhana sesuai aturan agama, bangsa dan negara dan sampai akhir hidupnya. 

Disebut juga Bung Hatta, Lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 dan meninggal dunia di Jakarta tanggal 14 Maret 1980 adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.


Latar belakang dan pendidikan

Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatra Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan kemudian pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya beliau telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang, baru kemudian pada tahun 1919 beliau pergi ke Batavia untuk studi di HBS. Beliau menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Erasmus Universiteit). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun.

Saat masih di sekolah menengah di Padang, Bung Hatta telah aktif di organisasi, antara lain sebagai bendahara pada organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang.

Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul “Lampau dan Datang”.

Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas berangkat ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat, juga sebagai Bendahara.

Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksternirana

Perjuangan

Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris. Rentetan peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial tulisan Hatta itu menyedot perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di tanah air yang mengutip tulisan-tulisan Hatta.
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002

Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda.

Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.

Hatta mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi, sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.

Pada tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.

Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia.

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata AdiSasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesiadapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

Pemimpin Bangsa yang Bijak

Bulan Agustus ini adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia yang memasuki usia 63 tahun. Salah satu proklamator kita, Bung Hatta, jika beliau masih hidup, tanggal 12 Agustus tadi sudah memasuki usia 106 tahun. Tidak salah kalau rubrik kita kali ini menyoroti keteladanan sang pemimpin bangsa yang senantiasa berjuang bagi kepentingan negara kesatuan Indonesia.


Berprinsip Teguh
Bung Hatta yang dikenal jujur, sabar, cerdas, dan penuh ide ini memegang teguh prinsip yang diyakininya. Sebagai contoh adalah prinsip demokrasi yang diyakini beliau dapat membantu perbaikan kehidupan bangsa. Untuk itu beliau ikut memperjuangkan status Indonesia sebagai negara kesatuan yang dapat mengakomodasi aspirasi semua golongan tanpa kecuali. Beliau ikut mendukung dicabutnya pengusulan pembentukan negara yang memihak pada golongan tertentu saja.

Keteguhan Pak Hatta dalam memegang prinsip bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan bangsa. Ketika beliau berseberangan prinsip dengan pemerintah yang sedang berkuasa saat itu, beliau rela mengundurkan diri guna mempertahankan kesatuan bangsa.

Berjuang Tanpa Kekerasan
Bung Hatta yang lembut hati, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. Senjata ampuh yang digunakan tokoh proklamator kita ini adalah otak dan pena. Dari pada melawan dengan kekerasan beliau lebih memilih untuk menyusun strategi, melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai artikel dan buku untuk memperjuangkan nasib bangsa. Prinsip tanpa kekerasan ini muncul karena rasa hormat Bung Hatta pada sesama manusia, baik kawan atau pun lawan. Walaupun Bung Hatta tidak setuju dengan pendapat atau pun seseorang, beliau tidak lalu membenci orang tersebut, tetapi tindakan dan pendapatnyalah yang tidak beliau setujui.

Misalnya saja, Bung Hatta yang sangat kuat keteguhan beragamanya tidak menyukai hal-hal yang berbau duniawi yang pada saat itu umumnya berasal dari negeri seberang. Tapi bukan berarti dia lalu membenci orang-orang asing. Beliau memiliki banyak teman bangsa asing dan banyak pemikiran bangsa asing yang positif (disiplin, etos kerja positif) yang beliau adaptasi untuk kemajuan bangsa. Sikap ini menyebabkan Bung Hatta dihormati oleh semua orang: kawan atau pun lawan.

Berusaha Sebaik Mungkin
Bung Hatta selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, misalnya dengan bersikap hati-hati dan melakukan perencanaan yang matang. Semua tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dilakukan dengan sepenuh hati, dan direncanakannya dengan sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang maksimal.

Semua pidato dan kata-kata beliau untuk publik pun disiapkan secara profesional. Keputusan-keputusan diambil setelah sebelumnya dipikirkan dengan saksama dan didukung dengan data dan informasi yang cukup. Beliau tidak menginginkan terjadinya kegagalan yang disebabkan kecerobohan atau pun karena kurang persiapan.

Berkarya Nyata
Bung Hatta merupakan tokoh yang selalu berkarya nyata. Salah satu karya monumental beliau adalah bentuk koperasi. Pemikiran ini dituangkan pada pembentukkan koperasi pengusaha batik, yang akhirnya sukses sampai saat ini. Koperasi tersebut berhasil mendorong kemajuan bagi pengusaha batik dan memberi mereka kesempatan untuk memperluas usaha dengan ekspor. Karya-karya lainnya adalah berbentuk tulisan.

Pada saat bangsa Indonesia masih berkutat untuk menumbuhkan minat baca, beliau sudah jauh lebih maju, yaitu dengan memberikan teladan bagi bangsa Indonesia untuk menumbuhkan budaya menulis. Kegiatan tulis-menulis ini telah beliau lakukan sejak masih belajar di negeri Belanda sampai akhir hayatnya. Tak terhitung lagi jumlah artikel dan buku yang telah beliau tulis. Sebuah monumen intelektual berupa perpustakaan di Bukittinggi pun telah didirikan untuk mengenang Pak Hatta.

Walaupun Bung Hatta sudah tiada, beliau tetap hidup melalui pemikiran, prinsip, dan kualitas pribadi beliau yang positif. Menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, bersamaan dengan 100 tahun kelahiran tokoh proklamator kita ini, sudah selayaknyalah kita teladani sisi positif kualitas kepemimpinan beliau yang berpegang teguh pada prinsip, berjuang tanpa kekerasan, berusaha melakukan yang terbaik, dan senantiasa berkarya untuk kepentingan bangsa. Merdeka!

Sebagian Dikutip dari: http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Bung%20Hatta%20Dalam%20Kesederhanaan,%20Kemuliaan%20dan%20Kekuasaan&&nomorurut_artikel=156

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=yGzxb0gFFv4&w=640&h=410]

Share
 
 

Switch to our mobile site