RSS
 

Archive for October, 2011

ACFTA Trickle Down Effect: ICT Education Roles on Human Resources Readiness for Indonesia

29 Oct

  • World Economic Growth : The cheese already moved to the east (mostly China).
  • CHINA IS A SUPER POWER already:
    • China GDP will grow by seven percent or more next year.
    • China will mandate buy China for domestic usage
    • China will buy IMF bonds
    • China owns about 800 billion of US Treasury
    • China has two trillion dollars of foreign reserve. This will grow to three trillion in next five years.
    • China wants to have significant say at IMF
    • China does not want to called as part of BRIC, It should be renamed as BRIM (Brazil, Russia, India, and Mexico)
  • Countries Economic Characteristics: 
    • ASEAN Needs to Define A Better Strategy 
    • China is an economic giants to ASEAN 
    • GDP and Foreign Reserve of China are far above those of ASEAN members 
    • Trade structure between China and ASEAN members show that Chinese products are highly competitive 
    • Almost all ASEAN members face trade deficit against China 
    • Chinese attractiveness for foreign investment is above that of ASEAN members in average.
  • ACFTA,Gates to Liberalization:
    • ACFTA was agreed in November 2002 and effectively due date on January 01, 2010. Both sides have targeted the realization of ACFTA in 2010 for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand and China, and 2015 for Cambodia, Lao PDR, Myanmar and Viet Nam. 
    • Under the ACFTA, tariffs on certain products as known as the Early Harvest Program (EHP), were reduced before the onset of the FTA (came into effect on 1 January 2004). 
    • Others agreements by sectors have also been agreed under ACFTA.
  • ICT Education Roleson Human Resources Readiness for Indonesia:
    • Learn from Singapore:
      • Aim: Basic blueprint, Infocomm21, lays out plans to develop Singapore into a dynamic and vibrant infocomm capital with a thriving and prosperous Internet economy by 2010.
      • Vision: To develop Singapore into a dynamic and vibrant global infocomm capital with a thriving and prosperous e-economy and an infocomm-savvy e- society.DR TONY TAN KENG YAM, SINGAPORE ACTING PRIME MINISTER
    • Knowledge-driven Economy - Heavily supported by prominent ICT Education Institution:
      • The knowledge-driven economy continues to be characterized by a rapidly changing and pervasive information infrastructure.
      • The Internet and its accompanying applications # e- Business platforms, interactive experiences with new forms of content, sophisticated consumer devices, leading-edge information technology # are all elements of the digital economy. 
    • Ecosystem of the Infocomms and Media - Education Institution as part of “Innovator & Early-Adopter:
      • Communications 
      • e-Business 
      • Information Technology (IT) 
      • Media & Digital Entertainment (MDE) 
    • e-Powering the Public Sector Strategies:

Education Institution can propose to Telkomsel as “Change Agent” for Educate their external stakeholder (customer , partner, community, supplier etc.) 

  •  
    • Encourage the delivery of online public services
    • Innovate with technology to build new capabilities
    • Develop thought leadership on e-government
    • Promote the use of e-government services
    • Leverage the private sector

Education Institution can propose to Telkomsel as “Change Agent” for Universal Sevice Obligation (USO) stakeholder (customer , partner, community, supplier etc.)

  •  
    • Improve the accessibility of infocomm technology
    • Bridge the digital divide
    • Encourage the adoption of an e-lifestyle 
  • Trend for ICT for the next 5 years -  Education Institution can propose to Telkomsel to Educate & Train their internal stakeholder (employee, manager, shareholder etc.):
    • Network Security
    • Mobile Wireless & Broadband Access
    • Service Delivery Platform (SDP) for Convergence
[slideshare id=9915784&doc=acftatrickledowneffect-djadjawidyatama-draft-v1-0-111027211708-phpapp02]

Share
 

Media Sosial (Social Media) vs Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

28 Oct

Di permukaan, media sosial dan manajemen pengetahuan (KM) tampaknya sangat mirip. Keduanya melibatkan orang-orang yang menggunakan teknologi untuk mengakses informasi. Keduanya membutuhkan individu untuk menciptakan informasi yang dimaksudkan untuk berbagi. Keduanya mengaku mendukung kolaborasi.

Tapi ada perbedaan yang mendasar.

  • Manajemen Pengetahuan adalah apa yang manajemen perusahaan katakan perlu diketahui, berdasarkan apa yang mereka anggap penting.
  • Sosial media adalah bagaimana rekan-rekan saya menunjukkan apa yang mereka anggap penting, berdasarkan pengalaman mereka dan dengan cara yang saya nilai sendiri.

Definisi ini mungkin terdengar lugas, dan bias untuk media sosial, dan sampai batas tertentu ini adalah kenyataan. Pengetahuan harus seperti air – bebas mengalir dan meresap ke bawah dan seluruh organisasi, mengisi celah-celah, mengambangkan ide yang baik ke atas dan mengangkat semua perahu pengetahuan.

Tapi, sebenarnya, apakah kenyataan dari “Knowledge Management (KM)”?

KM, dalam praktek, mencerminkan sebuah pandangan hirarkis pengetahuan agar sesuai dengan tampilan hirarki organisasi. Ya, pengetahuan bisa berasal di mana saja dalam organisasi, tetapi disalurkan dan dikumpulkan ke dalam sistem basis pengetahuan  di mana hal itu didistribusikan melalui serangkaian standar saluran, proses dan protokol.

Sosial media “terlihat” benar-benar kacau bila dibandingkan. Tidak ada indeks yang telah ditetapkan, tidak ada pencipta pengetahuan berkualifikasi, tidak ada manajer pengetahuan dan seolah-olah tidak ada sedikitpun struktur. Bilamana sebuah organisasi memiliki atap, talang dan tadah untuk menangkap pengetahuan, sebuah organisasi media sosial, memungkinkan “hujan” jatuh langsung ke rumah, sehingga genangan air terjadi di manapun mereka terbentuk. Itu sangat berantakan. Dan organisasi membenci kekacauan.

 Tidak mengherankan, ketika para eksekutif, manajer pengetahuan dan perusahaan perangkat lunak berusaha untuk menawarkan alat, proses dan pendekatan untuk menjinakkan media sosial. Dan akhirnya kita percaya, “Kita tidak bisa memiliki karyawan, pelanggan, pemasok dan orang lain membuat informasi mereka sendiri, membentuk pendapat mereka sendiri dan mengekspresikan tanpa memikirkan dampak pada merek, pegawai, dan pelanggan kami. Kita perlu mengelola manajemen pengetahuan.. “

Ini adalah sikap yang salah untuk satu alasan sederhana: orang tidak berhenti berbicara tentang Anda. Tenaga kerja , pelanggan, pemasok, pesaing dll, akan berbicara tentang Anda kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun mereka inginkan. Bahkan seblum jaman “World Wide Web“, percakapan ini sudah terjadi.


Kita sudah jauh melewati waktu untuk mengontrol pengetahuan; sekarang saatnya untuk melibatkan banyak orang.

Para pemimpin bisnis mengakui bahwa keterlibatan adalah cara terbaik untuk mengumpulkan nilai dari pengetahuan yang dipertukarkan di media sosial – dan tidak dengan mencari cara untuk mengontrol media sosial dengan teknik KM tradisional. Hal ini hanya mengarah kepada pendekatan “menyediakan dan berdoa (provide & pray)”, dan kita telah melihat “media sosial sebagai generasi berikutnya KM” menjadi upaya gagal untuk menghasilkan pengetahuan.


Jadi bagaimana organisasi mendapatkan nilai dan manfaat dari media sosial, terutama dalam situasi di mana mereka tidak berhasil dengan KM? Jawabannya terletak pada pandangan baru kolaborasi: Kolaborasi Massal.

Kolaborasi massal terdiri dari tiga hal:  Teknologi sosial media, tujuan yang menarik dan fokus pada pembentukan komunitas.

  1. Teknologi Sosial Media  menyediakan saluran dan sarana bagi orang untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman dengan persyaratan mereka. Ini juga menyediakan cara bagi individu untuk melihat dan mengevaluasi bahwa pengetahuan didasarkan pada penilaian orang lain.
  2. Tujuan Yang Menarik adalah alasan orang berpartisipasi dan menyumbangkan ide, pengalaman dan pengetahuan. Mereka secara pribadi terlibat di dalam media sosial karena mereka menghargai dan mengidentifikasi tujuan. Mereka melakukannya karena mereka ingin, bukan sebagai bagian dari pekerjaan mereka.
  3. Pembentukan Komunitas terjadi di media sosial. Komunitas KM menyiratkan pandangan hirarkis pengetahuan dan sering ditentukan oleh klasifikasi pekerjaan atau didorong berdasarkan tugas pekerjaan. Partisipasi menjadi “diresepkan”, menciptakan jenis “kewajiban menyenangkan”. Sosial media memungkinkan komunitas untuk muncul sebagai properti dari tujuan dan partisipasi dalam menggunakan alat berbagi pengetahuan. Lentur dan kurangnya struktur menciptakan ruang bagi komunitas aktif dan inovatif.

Penciptaan kolaborasi massal melibatkan lebih dari sekedar membangun teknologi dan memberitahu orang-orang untuk berpartisipasi. Ini memerlukan visi, strategi dan tindakan manajemen. Intinya adalah bahwa walaupun mungkin tampak sama, media sosial dan KM tidak sama. Mengenali perbedaan adalah langkah penting mendapatkan nilai dari keduanya dan menghindari hambatandalam impementasi.

Sumber dari: http://blogs.hbr.org/cs/2011/10/social_media_versus_knowledge.html

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=kJ15irk6hbE&w=640&h=450]

Artikel terkait:

Share
 

Refleksi Sumpah Pemuda: Peran Tak Tergantikan Dalam Kehidupan Berbangsa

28 Oct

Tidak dapat dipungkiri, Peran Pemuda Tak Tergantikan Dalam Kehidupan Berbangsa. Hampir semua bangsa punya tokoh muda yang tampil untuk memeprjuangkan dan menjaga kedaulatan bangsanya. Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Pada detik-detik kemerdekaan Indonesia, para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana –yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka –yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan dan menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta.

Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

<iframe width=”640″ height=”480″ src=”http://www.youtube.com/embed/aitpOv8WQqo” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Share
 

Liputan Bisnis Jabar: Ayo, bermain dan mendidik lewat pojokpendidikan.com

26 Oct

Oleh Eka Merdekawati K.S on 23 October , 2011 (http://bisnis-jabar.com/index.php/2011/10/ayo-bermain-mendidik-lewat-pojokpendidikan-com/)

Bermain bukan hanya menghabiskan waktu dan bersenang-senang semata. Hal inilah yang dibuktikan oleh pojokpendidikan.com, sebuah komunitas untuk guru yang melakukan inovasi dalam hal pengajaran untuk siswa. 

Pojokpendidikan.com sendiri melakukan pengajaran melalui aneka permainan yang diciptakan oleh para guru. Aneka permainan digital dan board game pun tersedia untuk para siswa dari tingkat SD hingga SMA.

“Permainan-permainan ini merupakan ide dari para guru untuk aneka pelajaran. Sampai saat ini ada 20 permainan digital dan 2 board game. Kebanyakan ide dari guru dan nanti ada orang yang khusus untuk menciptakan permainannya dari kami,” jelas Asep Sufyan, Trainer IT pojok pendidikan, hari ini.

Diakui Asep, hingga kini pojok pendidikan yang berdiri sejak 2008, mulai menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat seperti Karawang dan Bekasi. Asep menuturkan hingga kini permainan hasil dari pojok pendidikan masih digunakan terbatas untuk guru yang tergabung di komunitas tersebut.

“Yang pakai permainan ini guru yang tergabung di kita untuk pengajaran ke siswanya. Sampai saat ini masih dalam rencana untuk menjual. Semoga akhir tahun ini dapat terealisasikan,” terang Asep.

Salah satu permainan yang diciptakan adalah permainan fisika untuk kelas 2 SMP. Papan permainan yang berisi alur perjalanan dari rumah sampai sekolah ini mengajarkan murid untuk dapat menghafalkan rumus kecepatan.

Caranya, murid cukup mengeluarkan kartu “waktu” dan “kecepatan” untuk mendapatkan jumlah kotak jalan yang perlu ditempuh menuju sekolah. Dengan cara seperti ini, ujar Asep, murid dapat lebih mudah menghafalkan rumus kecepatan yang diajarkan oleh guru.

Permainan lain adalah board game yang mengajarkan murid untuk belajar Bahasa Sunda. Permainan yang bisa digunakan untuk siswa SD hingga SMA ini mengajarkan aneka istilah bahasa sunda yang selama ini belum diajarkan dalam kurikulum.

Jadi, siapa bilang bermain itu tidak mendidik?

<iframe width=”640″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/aO2j5CG7I4E” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Liputan Lain:

 

Share
 

Sinta Ridwan: “Berteman Dengan Kematian”, “Bersahabat Dengan Makna Kehidupan”

14 Oct

JIKA ada ungkapan, bahwa musibah adalah berkah, rupanya itu bukanlah mengada-ada atau ucapan pelipur lara. Mungkin banyak orang yang pernah ditimpa misibah, kemudian ia mengambil hikmahnya dan akhirnya ia sadar bahwa itu berkah.

Orang miskin belum tentu sengsara, orang sakit belum tentu menderita. Banyak orang miskin dan orang sakit justru bisa hidup bahagia. Mengapa? Jawabanya dapat disimak ketika Dewi Kunti berdialog dengan Krishna dalam epos Mahabharata. Suatu hari Krishna berkata, “Bibi, tampaknya bibi hidup menderita, hidup dalam serba kekurangan. Kalau bibi mau, aku akan beri bibi hidup dengan segala kemewahan.”

Apa jawab Kunti? “Nak, bibimu ini tidak menginginkan kemewahan duniawi. Bibi justru merasa bahagia dalam penderitaan. Karena dengan hidup seperti ini, bibimu selalu berdoa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang sehingga merasa selalu dekat dengan Tuhan. Adakah yang lebih bahagia selain dekat dengan Tuhan?”

Dialog Krishna dan Kunti itu rupanya memiliki makna yang sama, jika kita menyimak pengakuan Sinta dalam bkunya: “Berteman Dengan Kematian”. Di atas planet bumi ini, mungkin tidak banyak orang seperti Sinta. Seorang gadis pengidap lupus, suatu penyakit yang setara dengan HIV/AIDS yang belum ada obatnya. Penyakit itu membuat tubuhnya melemah dari hari kehari.

Penampilannya  selalu  percaya   diri  dan  penuh   senyum.  Jika  Anda pertama kali melihatnya, mungkin  tak  akan menyangka,  jika   gadis berusia 26 tahun  ini  adalah  penyandang lupus, penyakit  yang   hingga kini belum ada  obatnya. 

Namun ironisnya, penyakit itu justru membuat Sinta tampak tegar. Penyakit itu membuat ia sadar, bahwa Dewa Kematian selalu tersenyum, melambaikan tangan di depannya. Karena itu pula, Sinta ingin memberi makna hidup ini agar lebih berarti. Mumpung masih hidup, Sinta ingin berbuat sesuatu yang berguna dan penuh makna.

Itu bisa ia buktikan, terbukti ia berhasil merogoh mutiara hidup dalam penderitaannya. Sinta yang lahir dari keluarga broken home dapat membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Bahkan ia menanggung kuliah adiknya, dan justru memberikan semangat hidup buat orang-orang di sekelilingnya. Jangankan orang sakit, orang sehatpun jarang seperti itu.

Sinta yang baru menamatkan kuliah S2 di jurusan  Filiologi Universitas Padjajaran ini   menganggap obat yang paling mujarap dari segala penyakit adalah rasa  bahagia.“ Jadi kalau kita sakit, jangan dirasakan kalau kita sakit, tetapi kita  harus berpikir sesuatu yang menyenangkan dan terus tersenyum walaupun kita  sedang sakit,” ucap Sinta.

Pengalaman Sinta dengan penyakit lupus yang telah dideritanya sejak  tahun 2005 lalu dia catatkan dalam sebuah buku otobiografi berbentuk  novel berjudul “Berteman  Dengan Kematian”.  Dalam buku itu Sinta menceritakan tentang perjuangan dirinya untuk berjuang  melawan lupus yang  bersemayam di dalam  tubuhnya.

Untuk mengisi hari-harinya wanita yang hobi membuat puisi ini berusaha  untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Salah satu upaya Sinta untuk  memberikan arti hidupnya bagi orang lain dan bangsa ini adalah dengan cara  mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang Fiolog.

Dengan ilmu itu Sinta membuka kelas aksara kuno di Gedung  Indonesia Menggugat, di  Jalan Perintis  kemerdekaan Bandung. Kelas aksara kuno atau yang disingkat kelas Aksakun ini  pertama kali dibentuk pada tahun 2009 atas dasar gagasan dari seniman-seniman  beraliran  metal yang beralamat di Ujung Berung, Bandung.

Dari dorongan para seniman yang biasa memainkan musik cadas itulah kelas aksakun  berdiri dengan jumlah murid sebanyak 35 orang. Pengikut aksakun mengalami  pasang surut. Tercatat  dari awal beridiri hingga sekarang orang-orang yang pernah naskah kuno oleh  Sinta sekitar 200 orang.

Murid yang mengikuti kelas aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat  umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas  aksakun ini adalah untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang  merupakan warisan masa lalu.

“Tidak ada masa kini tanpa adanya masa lalu, dan itu semua  tertuang di dalam naskah kuno,” ungkapnya. Sinta membebaskan teman-temanya yang  mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat sesuai dengan keinginannya masing-masing.

Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno  untuk dijadikan design dalam sebuah  kaos, dan poster-poster. Selain itu ada juga murid yang membuat lirik lagu yang mengadaptasi dari  naskah-naskah kuno.

Menurut Sinta di dalam naskah kuno itu terdapat  berbagai macam kandungan diantaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat  menghargai alam, dan sastra orang-orang masa laliu.

Kecintaan Sinta terhadap naskah kuno mengalahkan rasa  sakit akibat lupus. Sinta mengaku jika sedang tidak enak badan tidak  menyurutkan dia untuk absen tidak mengajar kelas aksara kuno, “karena dengan  mengajar saya menjadi bahagia dan itu bisa mengalihkan rasa sakit saya,”  akunya.

Selain itu Sinta di tengah keterbatasan fisiknya  akibat lupus itu bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan  diberi nama ensiklopedia naskah kuno. Tujuan dari pembuatan museum digital itu  adalah untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan  mudah.

Sinta  beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun membaca  naskah-naskah kuno itu karena sulitnya mengakses catatan-catatan orang-orang  dari masa lalu yang tersebebar di seluruh penjuru nusantara. Dengan hadirnya  museum digital itu akan memudahkan orang-orang untuk mempelajari sejarahnya  langsung dari sumber sejarah tanpa harus berusasah payah pergi ke museum.

Sumber:

  1. www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=44373
  2. www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Penjualan Kewirausahaan Informatika Widyatama Roti Unyu

14 Oct

Dalam Proses Pembelajaran untuk menjadi seorang wirausaha, seorang mahasiswa di tuntut lebih untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi seorang konsumen dan tantangan dalam dunia bisnis juga.
Dalam laporan ini kami dalam satu kelompok yang terdiri dari Daniel Silaban, Mochamad Yagi, Deny David, Vika Sylviana dan Rizky, kami mencoba melakukan suatu perubahan dalam kegiatan kami sehari — hari, yaitu mencoba untuk membuka sebuah usaha kecil yang kami jual secara berkeliling dalam 2 hari di 2 tempat berbeda, yaitu pertama di Dago (daerah Car Free Day) dan di Universitas Widyatama.

Usaha yang kami lakukan dalam 2 minggu ini sangatlah singkat, tapi dari sini kami mengetahui bagaimana menjadi “Berbeda itu Nyata” dan kami belajar bagaimana susah dan senangnya pada saat berbisnis.

Usaha yang kami lakukan yaitu menjual sebuah kue Cup Cake , terdapat 2 jenis Cup Cake yang kami tawarkan kepada semua orang, yaitu yang memiliki Cream dan tidak memiliki Cream.

Tujuan dari usaha ini yaitu kami ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda dan mengetahui bagaimana susah senangnya menjadi seorang wirausaha.

<iframe width=”640″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/Li7Hxjidx1s” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Artikel Terkait:

Share
 

Partisipasi Mahasiswa Menulis untuk Meningkatkan Diskusi Akademis

12 Oct

Menghubungkan diskusi kelas dengan menulis dapat membantu Anda fokus pada tujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Tips berikut tentang penggunaan menulis untuk meningkatkan diskusi dari Pusat Studi dan Pengajaran “The Ohio State University.”

Bagaimana cara memfasilitasi partisipasi yang produktif dan aktif di kelas? Bagaimana kita bisa menghubungkan keterlibatan kelas dengan tulisan yang siswa lakukan di luar kelas?

 Beberapa dosen tertarik untuk melakukan diskusi dan keterlibatan mahasiswa, mereka melihat partisipasi dalam kelas sebagai cara untuk memperluas bagaimana mahasiswa berpikir tentang masalah tertentu atau menginterpretasikan suatu buku tertentu. Beberapa dosen mungkin mendekati topik keterlibatan kelas dengan sedikit gamang, mereka khawatir yang mungkin terjadi jika siswa tidak berpartisipasi dan percakapan berhenti, atau jika siswa terjebak dalam perdebatan yang panas tentang topik kontroversial. Menghubungkan diskusi kelas dengan partisipasi mahasiwa untuk menulis dapat membantu Anda memfokuskan tujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Menghubungkan keterlibatan kelas dan partisipasi menulis akan menjadi lebih penting bila kita harus menyesuaikan diri dengan mengajar kelas (semester) pendek!

Minggu Pertama: Awali dan akhiri kelas Anda dengan beberapa menit menulis bebas.

 Hal ini  untuk membantu mahasiswa punya pendirian dan menyimpulkan pikiran mereka sendiri di kelas. Coba angkat masalah atau isu yang relevan ke kelas. Awali kelas Anda dengan memberikan mahasiswa waktu lima menit untuk menulis tentang referensi mereka. Ini akan memberi mereka waktu untuk “ganti persneling” dan fokus pada topik di kelas, dan juga akan memberi mereka sesuatu yang konkret untuk membangun partisipasi kelas. Setelah siswa menulis di akhir kelas, dapat membantu mereka untuk menarik pemikiran mereka selama periode itu, mulai mempertimbangkan isu-isu sesi berikutnya, dan menghubungkan diskusi untuk tugas-tugas mereka. Selain itu, jika Anda memiliki kesempatan untuk mengumpulkan tulisan mereka, Anda dapat memiliki gambaran yang benar-benar kaya dari apa yang siswa pikirkan dan bagaimana mereka belajar. Anda bahkan tidak perlu menilai refleksi-refleksi ini.

Tunjukkan bahwa menulis adalah cara yang baik untuk membangun pikiran seseorang, dan bahwa diskusi dan kuliah akan membantu membangun ide dari latihan menulis bebas. Menulis bebas dapat sangat efektif bila Anda mengarahkan siswa langsung terhadap pertanyaan tertentu atau masalah, dan ketika Anda secara eksplisit menghubungkan penulisan yang siswa lakukan untuk pembahasan atau kegiatan berikutnya .

Minggu Berikutnya: Mengembangkan kerja kelompok dan kegiatan diskusi.

yang meminta mahasiswa untuk praktek menulis dan mengembangkan keterampilan berpikir  yang mereka perlukan untuk tugas-tugas menulis mereka. Bagilah kelas menjadi kelompok-kelompok dan membuat kegiatan yang mendorong siswa untuk melatih keterampilan yang mereka akan gunakan dalam tulisan mereka dengan cara yang interaktif. Minta kelompok-kelompok itu untuk menulis tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dan posting mereka ke papan diskusi atau membaca dengan suara keras di kelas.

Sebagai contoh, seorang dosen dalam ilmu sosial dapat meminta siswa untuk membentuk sebuah tesis operasional untuk mengatasi masalah atau pertanyaan yang luas. Kemudian, kelompok ini bisa berdiskusi variabel potensial yang beririsan untuk tesis kelompok lain, dan anggota kelompok ini bisa merevisi tesis mereka yang lebih baik untuk variabel tersebut.

Seorang dosen eksakta mungkin meminta siswa membangun suatu pernyataan analitis berdasarkan teks yang kelas telah membaca dan menganalisisnya. Kelompok mahasiswa kemudian bisa membaca bukti tekstual yang mendukung dan meragukan atau bertentangan dengan tesis yang ada, serta mereka bisa merevisinya karena menemukan dan mengintegrasikan bukti baru dari teks.

Dosen bisa menampilkan data dari studi yang ada dan meminta kelompok untuk mendiskusikan dan menulis kesimpulan yang mungkin menarik dari data-data tersebut. Kelompok itu kemudian membaca hasil riset asli, membandingkan dan mengevaluasi kesimpulan mereka dengan laporan penelitian yang sudah ada.

Dosen dapat menekankan bahwa siswa harus mendengarkan setiap posisi anggota kelompok  dan melalui dialog kolaboratif, menyepakati tesis dan bukti pendukung. Setelah siswa mempraktekannya secara singkat, menulis kolaboratif informal dapat membantu mereka melihat menulis sebagai sebuah proses  langsung dari keterlibatan kolaboratif. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk membahas bagaimana kolaborasi tidak terpisahkan untuk proses penelitian dan pengetahuan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=5HePQWodWiQ&w=640&h=400]

Artikel terkait: 

Share
 

Steve Jobs: Riwayat Hidup Dalam Grafis

11 Oct

Share
 

LOTEK PARANTI YANG FENOMENAL: Wawancara Kewirausahaan Informatika Widyatama

10 Oct

Lotek adalah salah satu makanan tradisional yang telah ada sejak dahulu kala. Lotek itu berupa sayuran yang di bumbui oleh bumbu kacang yang dapat disajikan dengan lontong atau nasi hangat, disertai dengan kerupuk dan bawang goreng. Biasanya tidak ada yang spesial dari makanan tradisional ini, karena hampir semua orang mungkin dapat membuatnya, selain itu juga banyak penjual yang menjual lotek dimana-mana, dan biasanya memiliki rasa yang hampir sama satu sama lain, tetapi ternyata ada salah satu lotek yang fenomenal, yang memiliki keunikan dan membuat banyak orang membelinya dengan harga yang relatif mahal. Lotek tersebut bernama Lotek Paranti.

Lotek Paranti berdiri sejak tahun 1953, didirikan oleh Ibu Uwat. Ibu Uwat adalah mertua dari Ibu Hani yang sekarang mengurus usaha Lotek Paranti ini sejak tahun 1996. Dari dulu hingga saat ini Lotek Paranti masih berlokasi di Jalan Cilentah no.4. Namun sewaktu awal berdiri, lotek ini hanya berjualan diatas satu meja, lalu usaha lotek ini terus maju hingga memiliki tempat yang nyaman seperti saat ini.

Dilihat dari penampilan, Lotek Paranti hampir sama dengan lotek-lotek lain yang dijual seperti biasanya, tetapi setelah dicicipi lotek ini mempunyai rasa yang ‘beda’ juga bumbu kacangnya lebih terasa gurih tetapi tetap pas disajikan dengan semua sayuran. Rasa yang membedakannya lagi adalah adanya kerupuk yang dibubukkan dan dicampur kedalam bagian lotek, dan cara penyajiannya pun menggunakan bawang goreng dan kerupuk emping. Hal unik lainnya ialah lotek ini tidak berair meskipun sudah dibiarkan beberapa jam.

Di Lotek Paranti ini menjual 2 macam makanan yang terdiri dari lotek dan rujak. Loteknya pun ada dua jenis yaitu, lotek ‘mateng’ dan juga lotek ‘mentah’. Namun kebanyakan orang yang datang ketempat ini membeli lotek ‘mateng’. Hal menarik lainnya adalah hampir semua usia menyukai lotek ini, padahal biasanya kebanyakan dari anak-anak tidak menyukai makanan tradisional, tetapi lotek ini merubah anggapan bahwa anak-anak tidak menyukai makanan tradisional.
Lotek Paranti menjual loteknya seharga Rp15.000,00 dan Rp13.000,00 untuk harga rujak. Dengan harga yang terbilang mahal untuk ukuran harga sebuah makanan traditional seperti lotek, angka penjualan lotek ini per hari nya bisa mencapai 100-150 bungkus dihari biasa, namun dihari libur merah dan Hari Libur Nasional penjualannya bisa mencapai 300 bungkus.

Hal ini sungguh sangat fenomenal untuk sebuah usaha lotek, tetapi itulah kenyataan yang terjadi di pasaran. Karena pesatnya usaha lotek ini, pengurus lotek membuka franchise untuk lebih meningkatkan usahanya. Rencananya pada tahun ini akan dibuka dua cabang baru yaitu di Kota Bali dan Medan.

Dari hasil usaha yang diurusnya, Ibu Hani bisa menyekolahkan anak-anaknya dan bisa merenovasi rumah, membeli mobil dan masih banyak keuntungan yang lainnya.

<iframe width=”640″ height=”480″ src=”http://www.youtube.com/embed/VJANeJUsfbY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Artikel Terkait:

Share
 

Steve Jobs: Kemana….Kemana? Muncul dan Hilangnya Inovasi

08 Oct

Bila kita bayangkan seseorang dari tahun 1970 melakukan perjalanan waktu ke masa depan yaitu hari ini. Anda bisa menunjukkan salah satunya adalah Steve Jobs yang menciptakan iPhone. Orang kembali kemudian membayangkan komunikasi nirkabel (pada film Dick Tracy atau Star Trek), tetapi mereka tidak pernah membayangkan kita bisa menyimpan informasi seluruh dunia  melalui perangkat berukuran saku. Perjalanan waktu kita akan bergetar dengan kegembiraan. Kita ingin tahu apa keajaiban teknologi lainnya yang telah ditemukan dalam 41 tahun terakhir. Kita tahu tentang ruang koloni di Mars, mobil terbang, pesawat bertenaga nuklir supercepat  dan organ buatan. Orang yang lahir pada tahun 1900 dimulai dengan adanya kereta kuda dan meninggal dengan peristiwa laki-laki berjalan di Bulan, tetapi beberapa dekade terakhir ini kita tidak melihat kemajuan teknologi seperti itu. 

Baru-baru ini, sejumlah penulis telah berpikir adanya perlambatan inovasi. Michael Mandel menulis artikel di Business Week pada tahun 2009. Tyler Cowen menulis sebuah buku berpengaruh The Great Stagnation: How America Ate All The Low-Hanging Fruit of Modern History,Got Sick, and Will Eventually Feel Better pada tahun 2010. Penulis Fiksi Ilmiah Neal Stephenson baru saja menerbitkan sebuah makalah yang disebut  “Innovation Starvation” di World Policy Journal  dan Peter Thiel, yang membantu menciptakan PayPal dan keuangan pada Facebook, memiliki sebuah esai berjudul “Akhir dari Masa Depan” (The End of the Future) dalam National ReviewPenulis-penulis ini mengakui bahwa telah terjadi inovasi yang luar biasa dalam teknologi informasi. Bidang Robotika tampaknya juga tumbuh dengan baik. Namun kecepatan inovasi melambat di banyak sektor lainnya. 

Sebagai titik awal, Thiel mengatakan, kita melakukan perjalanan dengan kecepatan yang sama seperti yang kita lakukan setengah abad yang lalu, apakah di darat atau di udara. Kita bergantung pada sumber energi dasar yang sama. Warren Buffett melakukan investasi $ 44 miliar pada 2009, ia berinvestasi pada rel kereta api yang membawa batubara. Revolusi Hijau meningkatkan hasil gabah dengan 126 persen pada kurun 1950-1980, namun hasil itu meningkat hanya sebesar 47 persen pada dekade selanjutnya. Perusahaan-perusahaan farmasi besar sangat sedikit mengeluarkan obat-obatan fenomenal karena memangkas dana departemen riset mereka. 

Jika kita percaya tesis stagnasi inovasi, ada tiga penjelasan yang paling menarik tampaknya. Pertama, sifat bukit ganda dari kurva belajarKetika peneliti mendaki bukit pertama dari masalah, mereka pikir mereka dapat melihat puncak.Tapi begitu mereka sampai di sana, mereka menyadari hal-hal yang lebih rumit daripada yang mereka pikir. Mereka harus kembali ke dasar dan mendaki sebuah bukit pengetahuan yang bahkan lebih curam depan. KIta telah melalui fase  dalam segala macam masalah – genetika, energi, penelitian kanker dan Alzheimer. Inovasi tentu akan datang, hanya saja tidak secepat yang kita pikir. 

Kedua, telah terjadi kehilangan idealisme dan utopianismeJika kita kembali dan berpikir tentang Pameran Dunia besar Amerika, atau jika Anda membaca tentang Bell Labs (Laboratorium perusahaan tempat saya bekerja dulu) pada masa kejayaannya atau Silicon Valley di tahun 1980 atau 1990, kita melihat orang-orang dalam cengkeraman visi idealisme mereka. Mereka membayangkan dunia yang sempurna. Mereka merasa seolah-olah memiliki kekuatan untuk memulai dunia baru. Ini adalah delusi (pikiran yang tidak berdasar), tetapi ini adalah delusi yang menjadi inspirasi.  

Utopianisme ini hampir tak bisa ditemukan saat ini. Stephenson dan Thiel menunjukkan bahwa buku fiksi ilmiah sekarang sekarat; pekerjaan saat ini merupakan distopia (kondisi hidup yang buruk), bukan inspirasi. Thiel berpendapat bahwa etos lingkungan telah merusak kepercayaan adanya sihir teknologi. Lembaga-lembaga hukum dan budaya TV kita mengurangi antusiasme dengan menghukum kegagalan tanpa ampun. Padahal, kegagalan awal NASA dipandang sebagai langkah sepanjang jalan menuju masa depan yang gemilang.  

Ketiga, tidak adanya benturan budaya yang ekstrim. Lihatlah sejarah hidup Steve Jobs. Selama hidupnya, ia mengkombinasikan tiga ruang hidup yang asinkron – Budaya anti kemapanan tahun 1960-an, budaya awal “penggila (Geeks)” komputer  dan budaya perusahaan Amerika. Ada “Hippies”, “The Whole Earth Catalogue” dan eksplorasi spiritual di IndiaAda juga jam yang dikhususkan untuk mencoba membangun sebuah kotak untuk membuat panggilan telepon gratis :-)  

Penggabungan tiga “kehidupan” ini memicu inovasi yang berkelanjutan, menghasilkan tidak hanya produk baru dan gaya manajemen, tetapi juga kepribadian yang baru – seragam perusahaan berupa celana jins dan T-Shirt lengan panjang hitam. Ini didahului orang-orang marjinal yang datang bersama-sama, bersaing keras dan mencoba untuk menyelesaikan hubungan mereka sendiri yang tidak nyaman dengan masyarakat. 

Akar inovasi yang besar tidak pernah hanya di teknologi itu sendiri. Kita selalu dalam konteks sejarah yang lebih luas  danmembutuhkan cara baru untuk melihat. Seperti Einstein mengatakan, “Masalah penting yang kita hadapi tidak bisa dipecahkan pada tingkat pemikiran yang sama pada saat kita menciptakan hal tersebut.” 

Jika Anda ingin menjadi Steve Jobs dan selanjutnya mengakhiri stagnasi inovasi, mungkin Anda harus mulai mencoba hal-hal yang sama sekali baru.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=NugRZGDbPFU&w=640&h=360]

Share
 
 

Switch to our mobile site