RSS
 

Archive for the ‘Sunda’ Category

Angklung, Engkau Selalu Ada di Di Relung Bandung

18 Nov

 

Setelah putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikuler di sekolahnya baik SMP dan SMA, saat ini putra kedua kami ikut jejak kakaknya. Tadi pagi ia ikut “mentas” dalam acara “Angklung Day” di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (18/11/2012).

 

Tambahan lagi setelah putri kami mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris dan Firman menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putra putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.

 

Dikutip dari detik.com, Ribuan pelajar dari sejumlah sekolah di Jawa Barat berkumpul di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (18/11/2012). Mereka memeriahkan peringatan Hari Angklung sambil menenteng alat musik tradisional angklung.

 

Ketua Panitia Pelaksana Anglung Day, Agung Setiana, mengatakan pelajar yang mengikuti acara ini berasal dari tingkat TK hingga SMA. Selain itu, turut meramaikan kalangan mahasiswa, masyarakat umum, serta komunitas angklung.

 

“Ini merupakan peringatan dua tahun diumumkannya angklung oleh UNESCO. Angklung diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia,” ucap Agung ditemui di lokasi acara.

 

Alat musik tradisional khas Jawa Barat yang terbuat dari bambu ini dikukuhkan UNESCO sebagai The Intangible Heritage pada 18 November 2010 di Nairobi, Kenya. Angklung ditetapkan sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.

 

“Panitia mengundang sekitar 60 sekolah, dan ribuan pelajar turut hadir dalam Angklung Day ini,” kata Agung.

 

Pelajar itu berbaris di halaman Gedung Sate untuk memainkan anglung secara serentak diiringi perkusi dan paduan suara. Tiap pelajar memegang angklung berbeda nada antara barisan satu dengan lainnya. Kegiatan tersebut berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga jelang siang.

 

 

Baraya, Basa Sunda Heunteu Menta Loba

09 Oct

 

Lamun urang ngaregepkeun salawasna

Basa Sunda Heunteu Menta Loba 

Ngan saukur dipiara jeun diseja kuurang sarerea

Teu hayang jadi basa keur sakumna umat manusa

 

Saheunteuna dipake keur saukur jirimna

Oge tong teuing jiga teu dipalire samanea

Bisi urang hanjakal engke kadituna

Baraya, Basa Sunda Heunteu Menta Loba 

 

 

 

Reuni @sman5bdg: Antara Donor Darah, Himne Guru dan Kontribusi Alumni Bagi Sekolahnya

29 Sep
 
Dari pagi sampai siang saya mengikuti reuni di SMA Negeri 5 Bandung. Tak terasa umur yang sudah ABG (Angkatan Babe Gue) ini menjadi “muda” kembali. Terutama melihat “Cinta Pada Pandangan Pertama” yang sampai sekarang masih tidak berani saya ungkapkan…..waduh kok jadi begini…… Ada memang yang sudah sangat berubah rupa dan penampilan, namun semua itu hanya “Iceberg” saja :-)
 
Susunan Acara reuni kali ini adalah:
  1. 08.00 – 11.00 Pelaksanaan Donor Darah di Kampus Belitung. 
  2. 11.00-12.00 Sessi Photo Bersama seluruh Angkatan di depan kampus Belitung 8 dan kelas masing2.
  3. 12.00-13.00 Ishoma.
  4. 13.00-16.00 Tepang Sono dengan jajaran Civitas Sekolah dan eks Guru SMA 5 Bandung
 

Acara langsung “digebrak” dengan Donor Darah dan saya kebagian urutan nomor 5 (The Lucky Number)……. Saat itu datang juga sahabat Heru Pramono yang saya “paksa” agar darahnya mau “disedot” PMI. Kemudian dengan “enggan” dia mau masuk ke bilik Donor Darah…… Taraaa! Kurang lebih setengah jam kemudian dia keluar dengan wajah berseri tanpa “penyesalan” :-)

 

Sungguh terasa bahwa “Setetes Darah Kita, Menyelamatkan Nyawa Orang Lain”, panitia Reuni kali tidak ingin kehilangan momentum. Meeka sadar bahwa reuni bukan hanya masalah “having fun” (baca: hura2) namun lebih kepada semangat sesuai spanduk reuni yang berbunyi “Berjumpa……Berkumpul……Bermakna”.

 

Acara kedua adalah Foto Bersama…..Inilah waktunya bernarsis-ria…..Teu emut mun ayeuna geus kapala opat manjing kalima…..Ikut berteriak dan bergaya bebas bak John Travolta atau Mick Jagger……Berkali-kali difoto sampai lupa apakah saya pernah di kelas 3B1 atau 3B2……Pokonamah kafoto we lah :D

 

Para alumni berfoto di depan kampus Belitung 8 pada saat cuaca panas……Ya itu tadi, kalau soal berpose mah tidak kalah sama anak cucunya….Meriah dan kekanak-kanakan…..Wajar saja sudah lebih dari seperempat abad tidak bertemu :D

 

Kemudian alumni “digiring” ke aula di tingkat 3 sebelah belakang kiri SMA 5 Bandung…..Pangling memang atas perubahan yang ada…Semakin padat dan lengkap, namun hampir semua “renghap ranjug” sampai aula di tingkat tiga bakating ku cape :)

 

Sampai di Aula kelupaan belum sempat Sholat Duhur…….Dan pemirsa…..Turun lagi ke lantai dasar untuk sholat di Musholla yang cukup asri. Saat itu “tampuk pimpinan” (imam) sholat diserahkan kepada saya, mungkin saja karena saat itu “Saltum” (Salah Kostum) pakai batik ke acara alumni sehingga terlihat “berwibawa”.

 

Setelah makan siang dari katering milik sesama alumni, acara dilanjutkan dengan “Tepang Sono dengan jajaran Civitas Sekolah dan eks Guru SMA 5 Bandung”. Saat itu hadir guru-guru seperti Ibu Sukapti (Guru Matematika yang kebetulan juga tetangga rumah), Ibu Ani (Biologi) Ibu Winarsih (Sejarah), Ibu Mami Tumbelaka (Bhasa Inggris), Pak Arief (Fisika), Pak Rusli+Bambang (Olahraga), Pak Margana (Matematika) serta Kepala Sekolah saat ini Bapak Jumdiat Marzuki beserta dua Wakasek. 

 

Acara dibuka dengan semua alumni menyanyikan himne Guru sebagai berikut:

 
Saya sebagai pendidik merasakan “bulu kuduk berdiri” pada saat menyanyikannya…..Tak terasa air mata berkumpul di pelupuk mata………..Betapa peran pendidik itu memang sangat besar dan tidak pernah berakhir….
 
Ada yang menarik dari acara ini…Yaitu Tausiyah dari Ustad yang menyinggung bahwa “Reuni ini jangan dijadikan sebagai sarana ‘CLBK’ (Cinta Lama Bersemi Kembali)” namun harus jadi ajang amal bagi Alumni……..Pasti Pak Ustad, saya datang ke reuni ini untuk bersilaturahmi dan berkontribusi pada SMA Negeri 5 Bandung tercinta……….
 
Acara selanjutnya adalah penyampaian “Salam Kadeudeuh” dari alumni untuk guru-guru kami…..Jangan dilihat besarnya, namun makna kecintaan dan rasa terima kasih kami pada beliau semua. Plus foto bersama dengan alumni yang dibagi dlam beberap “kloter” karena masih banyak yang narsis bersama ibu bapak guru tercinta…..
 
Akhirnya acara ditutup dengan janji alumni untuk memberikan satu ruangan kepada SMA Negeri 5 Bandung……Harapannya akan menjadi ladang amal dan “Tanda Mata” dari semua alumni yang hadir………..
 
 

Basa Sunda Poe Ieu Keur Meumeujeuhna #SubtitleSunda

13 Jun

Poe ieu di sakulawet nagri Sunda diwajibkeun make Basa Sunda. Kacida sugemana ningali kulawadet anu lain Urang Sunda. Asa leungit kahariwang saperti tulisan simkuring tanggal 31 Januari 2008 nu judulna “Apakah kita perlu menguasai bahasa daerah?“. Komo mun ningali Kalawarta (Time Line) di Twitter saperti di handap beuki reureus jeng hayang seuri wae:

Tren Indonesia 

· Ubah

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/iKHVHLtQgPA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Tweet 

Stalk of jackfruit. Father’s wedding. Tuesday did not tell me (Tongtolang nangka. Kawinan bapa. Poe salasa teu beja-beja) 

 

“Squidward, maneh ngebul, siga sayur anu di sepan, tapi leuwih pinter” -spongebob 

Knock Knock Kolenknock. The hedgehog dead sleepy (Trang trang kolentrang. Si londok paeh nundutan)  

Mr Delon, Mr Delon. Please open the wind gate (Pa Deong, Pa Deong. Pangmukakeun Lawang Angin)  

 

hirup leuwih pondok lamun maneh teu nyobian cinta urang, wkwkwkwk 

Doesn’t want father+mother.Want to kid w/ tapering eyelash>Alim karamana alim ka ibuna,hoyong kaputrana nu centik bulu socana

Forrest Gump: “Saur ‘ema, hirup teh jiga sawadaheun coklat. Maneh moal terang maneh deuk meunang naon.” 

Eminem: Hampura ema, abdi teu maksad nganyeyeri ema. abdi teu maksad ema janten ceurik. Wengi ayeuna abdi bebersih kloset.

Yoda: “Heug. Budakna teh goreng adat. Jiga abahna weh kumaha.” 

Upami anjeun palay nyitak gul,anjeun kedah ngahontal target. ~Fabio Capelo~  

Kuring, bade sataranjang panon poe tibeulat ka anjeun RT : Aku, akan setelanjang matahari mencintaimu.

AbdullahHasan:Maneh urg Amerika teu ngaroko deui.Hirup maraneh paranjang+ngabosenkeun  

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/roq0guyG8Bs” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Perjuangan Wanita Indonesia: Antara Pemikiran Kartini dan Tindakan Dewi Sartika

20 Apr
  
Hari ini kita peringati sebagai Hari Kartini, sebuah batu loncatan yang diakui sebagai “Pejuang Wanita Indonesia”. Semua itu didasarkan pada apa yang dilakukan Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
 
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
 
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
 
Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.  
  
 
Di lain fihak, ada satu lagi tokoh wanita yang kalibernya sama yaitu Dewi Sartika (Bandung, 4 Desember 1884 – Tasikmalaya, 11 September 1947), tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. 
Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.
Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.
Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.
Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu
Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.
Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/XhyLZCpeaaM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Ma Deong……Ma Deong…..Pangmukakeun Lawang Angin

01 Dec

Jaman keur leutik….nepi ka SMP….Kuring sok ngahariring…Ma Deong……Ma Deong…..Pangmukakeun Lawang Angin….mun langlayangan teu daek ngapung kumarga euweuh angin…

Teuing timana asalna hariring ieu….Ngan mun langlayangan bisa ngapung jeung anginna jadi gede….sok hayang nyaho urang mana Ma Deong teh….

<iframe width=”640″ height=”480″ src=”http://www.youtube.com/embed/WSSt6hUzsHk?rel=0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Apa yang terjadi di internet setiap 60 detik?

24 Nov
Apa yang terjadi di internet setiap 60 detik? Inilah faktanya:
  • Mesin pencari Google  melayani lebih 694.445 query
  • 6.600 gambar + di-upload di Flickr
  • 600 video di-upload di video YouTube
  • 695.000 Update status, 79.364 posting dan 510.040 komentar dipublikasikan di Facebook 
  • 70 domain baru terdaftar
  • 168.000.000 email dikirim
  • 320 account baru dan 98.000 tweets dihasilkan di Twitter 
  • Aplikasi iPhone diunduh lebih dari 13, 000 kali
  • 20.000 posting baru diterbitkan pada Tumblr
  • Populer web browser FireFox-download lebih dari 1700 kali
  • Platform blogging populer WordPress diunduh lebih dari 50 kali
  • WordPress Plugin  diunduh lebih dari 125 kali
  • 100 account  dibuat pada jaringan situs profesional  LinkedIn 
  • 40 Pertanyaan baru pada YahooAnswers.com
  • 100 pertanyaan pada Answers.com
  • 1 artikel baru dipublikasikan di Associated Content, sumber terbesar konten komunitas di dunia
  • 1 definisi baru ditambahkan pada UrbanDictionary.com
  • 1.200 iklan baru dibuat di Craigslist
  • 370.000 menit panggilan suara dilakukan oleh pengguna Skype
  • 13.000 jam streaming musik dilakukan dengan radio internet Pandora
  • 1.600 orang membaca artikel yang dibuat pada Scribd
 

Kenangan Kepada Pagerageung, Almarhum Kakek & Abah Anom

07 Sep

Pagerageung…..Engkau Selalu Kukenang

Kampung halamanku ada di Pagerageung – Tasikmalaya, desa yang melahirkan kedua orang tua dan tempat “Bali Geusan Ngajadi” bagi seluruh keluarga besar alm. H. Abdul Aziz dan Oewon Natamihardja. Disinilah dilahirkan tokoh-tokoh seperti Raden Moehamad Asnawi, Pagerageung, Tjiawi, berputerakan Raden Moehamad Markoem, Penghulu Pagerageung, berputerakanRaden Moehamad Noerjakin, Penghulu Pagerageung, Raden Moehamad Tabri, di Pagerageung, Tjiawi. berputerakan Raden Abdoelah, pegawai Kaoem Bandoeng.

Luas wilayah Kecamatan Pagerageung adalah 6.368,450 Ha terdiri dari Tanah Sawah: 2.339,263 Ha, Tanah Darat: 3.918,152 Ha, Tanah Hutan: 109,234 Ha dan Jalan, sungai dll: 1,801 Ha. Desa Pagerageung adalah ibukota dari Kecamatan Pagerageung. Terdiri dari 5 wilayah Kampung yaitu Pagerageung Kulon (Bojot, Tanjaknangsi, Cijeruk, Calingcing, Munjul), Pagerageung Kidul (Citugu, Patombo, Bolkam), Pagerageung Tengah (Tengkot, Sisi Makam, Baros), Pagerageung Kaler (Ciseupan, Pasantren, Cidomba), dan terakhir Pagerageung Wetan (Pasar, Darul Ulum, Cibeunying, Tanjakan Genteng, Kebon Suuk). Merupakan desa yang masih mempertahankan ciri tradisional masyarakat Sunda dan sangat kental dengan nuansa islami. Ini ditandai dengan berdirinya berbagai pondok pesantren di setiap kampungnya. Masyarakatnya 100% menganut agama Islam dan sebagian besar bermata penceharian sebagai petani. Kesenian khas dari desa ini yaitu seni tembang Pagerageungan, yang setiap tahun dilombakan terutama di tingkat sekolah dasar. Seni lainnya yaitu seni kosidahan yang biasanya diselenggarakan secara meriah di balai desa saat hari-hari besar Islam, seperti pada perayaan Isra Mi’raj dan Maulid Nabi.

Kakekku almarhum H. Abdul Aziz dan Oewon Natamihardja

Kedua kakekku berasal dari Pagerageung. Beliau berdua mewakili latar belakang demografis yang berbeda. Almarhum kakek dari fihak Ibu (alm. H. Abdul Aziz) adalah seorang petani yang kemudia bermetamorfosis menjadi tokoh sentral lokal yang disegani. Masih segar di ingatan saya, pada saat beliau naik haji tahun 1970-an ribuan orang mengantar kepergian beliau dengan seperti oarang yang tidak akan kembali. Teringat juga cerita orang tua bahwa beliau menyumbangkan tanahnya seluas 100 Ha kepada negara dalam rangka perjuangan melawan penjajah.

Kenangan pribadi yang menonjol dengan beliau adalah pada saat naik haji, saya mengantar sampai dengan Pelabuhan Tanjung Priuk – Jakarta dengan naik Kereta Gandeng (Anhang) dari Pagerageung – Tasikmalaya. Suatu perjalana yang mengasyikkan, rasanya seperti Karl May atau Huckleberry Finn yang melakukan perjalan penuh bahaya menuju “The Last Frontier” terutama karena saya dan sepupu duduk di atas peti-peti kayu (Sahara) untuk bekal kakek dan nenek di Tanah Suci. Kenangan lainnya adalah bila pulang mudik, saya selalu ikut “Kursus Kilat Mengaji” dimana kakek bertindak sebagai Tutor. Bila sepupu lain kena sentil “Sapu Nyere” bila salah melafalkan ayat suci Al-Qur’an, maka saya belum pernah mengalaminya :-)

Almarhum kakek dari fihak ayah (alm. Oewon Natamihardja) berasal juga dari Pagerageung. Hanya saja beliau sudah lama tinggal di Bandung dan bekerja di GBO (yang kemudian berubah nama menjadi PLN) sejak jaman “Noormal”. Kakek bekerja di instansi ini sejak tahun 1930 sampai dengan pensiun 1970, suatu masa kerja yang cukup panjang dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi beliau. Beliau adalah salah seorang pendiri Masjid Nugraha – Bandung dan tokoh masyarakat Muararajeun yang hidup dengan segala kesederhanaanya.

Kenangan pribadi dengan beliau adalah kesederhanaan, keramahan dan kesejukan seorang kakek. Beliau tidak mau tinggal di rumah dinas, sampai-sampai menolak tinggal di peruamahan PLN di Jalan Ciateul – Bandung, karena tidak ingin anak cucunya “terusir” dari rumah tersebut. Seperti kita tahu banyak dari rumah dinas tersebut bisa dimiliki oleh pegawai, namun tidak ada penyesalan dari beliau yang sampai akhir hayatnya tinggal di “Rumah Buruh” (Woneng) …… Suatu sikap integritas yang selalu saya ikuti sampai sekarang. Selain itu setiap selesai sholat Jum’at beliau datang ke rumah kami (jaraknya hanya ~100 meter) untuk bersilaturahmi dan mengecek keadaan anak cucu beliau.

Dengan Abah Anom, saya tidak tahu hubungan kedua kakek dengan Kyai dari Suryalaya ini. Yang pasti mereka berdua sering menyebut-nyebut nama Kyai Godebag dalam pembicaraan menyangkut guru-guru spiritual mereka. Mungkin mereka berdua pernah/sering berhubungan dengan Abah Anom baik sebagai murid atau jamaah dari Pagerageung. Wallahu Alam Bissawab.

Riwayat Singkat KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom)

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya (Kecamatan Pagerageung) tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.

Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.

Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.

Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.

Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah.

Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.

Abah Anom meninggal dan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Puncak Suryalaya atau sekitar komplek pesantren, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (6/9) pagi. Almarhum dimakamkan di sebuah bangunan dekat dengan makam ayahnya Syekh H Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh pendiri pondok pesantren Suryalaya dan makam keluarga besar Suryalaya lainnya.

Related articles, courtesy of Zemanta:

 

Hapunten Samudaya Kalepatan Diri

27 Aug

Related articles, courtesy of Zemanta:

 

Cianjuran yang selalu kukenang (Visit to my house)

20 Jul

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=339NitRXq-g&w=600&h=400]

Cianjuran yang selalu kukenang (Visit to my house)