RSS
 

Posts Tagged ‘Leadership’

Bersatunya Semangat Berkorban Iedul Adha dan Aktualisasi Sumpah Pemuda

27 Oct

Kemarin dirayakan sebagai Hari Raya Iedul Adha 1433 H dan besok dikhidmati sebagai Hari Sumpah Pemuda 2012. Betap sangat relevannya kedua perayaan tersebut dijadikan bekal kita untuk terus mensyukuri nikmat Allah SWT dengan cara berkorban demi orang lain serta tetap mempunyai semangat kepemudaan agar tidak tergilas jaman. Tepatlah apa yang digambarkan dalam film “Negeri 5 Menara” yang diputar tadi malam di salah satu stasiun televisi tadi malam. Dalam film tersebut digambarkan “Orang Besar” itu:

“Disini, kalian akan kami didik untuk jadi orang besar. Apakah jadi pengusaha besar, jadi menteri, ketua partai, ketua DPR/MPR atau Ketua Ormas Islam. Bukan itu yang saya maksud orang besar….”

“Orang besar itu bukan dilihat dari jabatan apa yang kamu raih, bukan seberapa banyak harta yang kamu miliki, namun orang besar itu adalah siapapun dari kamu yang keluar dari pondok pesantren ini dan dapat memberikan kebermanfaatan yang banyak bagi sekitarmu, entah di kolong jembatan, di bukit-bukit gunung negeri ini, di daerah pelosok dan dimanapun kamu berada…..”

Semangat Berkorban Iedul Adha

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.

Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rakaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu.

Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail. Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya.

Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109. Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama. Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba.

Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia. Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. 

Aktualisasi Sumpah Pemuda

Tidak dapat dipungkiri, Peran Pemuda Tak Tergantikan Dalam Kehidupan Berbangsa. Hampir semua bangsa punya tokoh muda yang tampil untuk memeprjuangkan dan menjaga kedaulatan bangsanya. Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Pada detik-detik kemerdekaan Indonesia, para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana –yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka –yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan dan menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta.

Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

 

Share
 

@HarvardBiz Mindfulness Helps You Become a Better Leader

26 Oct

HBR Blog Network / HBS Faculty


Mindfulness Helps You Become a Better Leader

Ever since the financial crisis of 2008, I have sensed from many leaders that they want to do a better job of leading in accordance with their personal values. The crisis exposed the fallacies of measuring success in monetary terms and left many leaders with a deep feeling of unease that they were being pulled away from what I call their True North.

As markets rose and bonus pools grew, it was all too easy to celebrate the rising tide of wealth without examining the process that created it. Too many leaders placed self-interest ahead of their organizations’ interests, and ended up disappointing the customers, employees, and shareholders who had trusted them. I often advise emerging leaders, “You know you’re in trouble when you start to judge your self-worth by your net worth.” Nevertheless, many leaders get caught up in this game without realizing it.

This happened to me in 1988, when I was an executive vice president at Honeywell, en route to the top. By external standards I was highly successful, but inside I was deeply unhappy. I had begun to focus too much on impressing other people and positioning myself to become CEO. I was caught up with external measures of success instead of looking inward to measure my success as a human and a leader. I was losing my way.

My colleague, Harvard Professor Clayton Christensen, addressed this topic in his HBR article, How Will You Measure Your Life? Clay observed that few people, if any, intend at the outset of their career to behave dishonestly and hurt others. Early on, even Bernie Madoff and Enron’s Jeff Skilling planned to live honest lives. But then, Christensen says, they started making exceptions to the rules “just this once.”

At Harvard Business School, we are challenging students to think hard about their definition of success and what’s important in their lives. Instead of viewing success as reaching a certain position or achieving a certain net worth, we encourage these future leaders to see success as making a positive difference in the lives of their colleagues, their organizations, their families, and society as a whole. The course that I created in 2005, Authentic Leadership Development (ALD), has become one of the most popular elective MBA courses, thanks to my HBS colleagues who are currently teaching it. It enables second-year MBAs to ground their careers in their beliefs, values, and principles, following the authentic leadership process described in my 2007 book, True North. More recently, ALD has become a very popular course for executives of global companies.

With all the near-term pressures in today’s society, especially in business, it is very difficult to find the right equilibrium between achieving our long-term goals and short-term financial metrics. As you take on greater leadership responsibilities, the key is to stay grounded and authentic, face new challenges with humility, and balance professional success with more important but less easily quantified measures of personal success. That is much easier said than done.

The practice of mindful leadership gives you tools to measure and manage your life as you’re living it. It teaches you to pay attention to the present moment, recognizing your feelings and emotions and keeping them under control, especially when faced with highly stressful situations. When you are mindful, you’re aware of your presence and the ways you impact other people. You’re able to both observe and participate in each moment, while recognizing the implications of your actions for the longer term. And that prevents you from slipping into a life that pulls you away from your values.

I don’t use the word “practice” lightly. In order to gain awareness and clarity about the present moment, you must be able to quiet your mind. That is tremendously difficult and takes a lifetime of practice. In 2012, I had the privilege of presenting my ideas on authentic leadership to his Holiness the Dalai Lama. When I asked him what it took to become an authentic leader, he replied, “You must have practices that you engage in every day.”

My most important introspective practice is mediation, something I try to do for twenty minutes twice a day. In 1975 I went with my wife Penny to a Transcendental Meditation (TM) Workshop. Although I never adopted the spiritual portion of TM, the physical practice became an integral part of my daily routine. Meditation has been a godsend for me. As an active leader who has held highly stressful roles since my mid-twenties, I was diagnosed with high blood pressure in my early thirties. When I started meditating, I was able to stay calmer and more focused in my leadership, without losing the “edge” that I believed had made me successful. Meditation enabled me to cast off the many trivial worries that once possessed me and gain clarity about what was really important. I gradually became more self-aware and more sensitive to the impact I was having on others. Just as important, my blood pressure returned to normal and stayed there.

In recent years, medical studies have found evidence of meditation’s many benefits, includingprotecting against health problems from high blood pressure and arthritis to infertilityreducing stress, improving attention and sensory processing; and physically altering parts of the brain associated with learning and memory, emotional regulation, and perspective-taking — critical cognitive skills for leaders attempting to maintain their equilibrium under constant pressure.

While many CEOs and companies are embracing meditation, it may not be for everyone. The important thing is to have a set time each day to pull back from the intense pressures of leadership to reflect on what is happening. In addition to meditation, I know leaders who take time for daily journaling, prayer, and reflecting while walking, hiking or jogging. I also find it extremely helpful to share the day’s events with Penny and seek her counsel.

Regardless of the daily introspective practice you choose, the pursuit of mindful leadership will help you achieve clarity about what is important to you and a deeper understanding of the world around you. Mindfulness will help you clear away the trivia and needless worries about unimportant things, nurture passion for your work and compassion for others, and develop the ability to empower the people in your organization.

More blog posts by Bill George
Bill George

BILL GEORGE

Bill George is professor of management practice at Harvard Business School and former chair and CEO of Medtronic.

Share
 

#UPICintakuTakPernahSepi “The Last Lecture” Prof. Dr. H. Mohammad Fakry Gaffar, M.Ed.: From Good To Great Lecture

16 Sep
Kemarin saya menghadiri  “The Last Lecture” Prof. Dr. H. Mohammad Fakry Gaffar, M.Ed. sebagai Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Administrasi Pendidikan, beliau memasuki masa purna bakti setelah berkarir lebih dari 40 tahun. Acara Purna Bakti dengan segenap civitas akademika UPI digelar di Gedung Balai Pertemuan UPI Jalan Setiabudhi, Sabtu (15/9).  

Prof Dr Mohammad Fakry Gaffar MEd, kelahiran Pontianak, 16 Juli 1942 walaupun orang tuanya berasal dari Serang, Banten.  Ketertarikannya terhadap dunia pendidikan melebihi cita-citanya sebagai kiai besar. Dan selama dua periode yakni sejak tahun 1995 menjadi Rektor UPI (dulu IKIP).  Kisah hidupnya sangat mengesankan. Ia ‘berkelana’ dari satu negara ke negara lain, mengejar beasiswa dan menjadi guru hanya untuk mendapatkan kepuasan pendidikan yang tinggi dan lebih tinggi lagi. 

Saya kenal dekat dengan beliau sejak menjadi siswa S3 di Manajemen Pendidikan UPI, walapun orang tua sudah kenal terlebih dahulu karena mereka berdua juga sekolah di IKIP (sekarang UPI). Dalam pandangan saya, beliau adalah tipe pendidik (Educator) dan pemimpin (Leader) yang mumpuni, walaupun kadang-kadang “LUHUR SAUR BAHE CAREK”, beliau membuktikan bukan hanya  kompeten dalam bidanng teoritis Academic saja, namun juga bergerak luas pada ranah Business & Goverment.
Terbukti dari “sepak terjangnya” yang tidak hanya di UPI, bahkan sampai ranah nasional bahkan global. Salah satu prestasinya diluar UPI adalah menjadi Lulusan Terbaik LEMHANAS yang kita tahu adalah jaminan menduduki jabatan-jabatan strategis di negeri ini baik sipil maupun militer. Di UNESCO, beliau juga mempunyai peran yang tidak kecil, terbukti dengan hasil penelitian dan kerja nya di organisasi pendidikan dan kebudayaan tingkat dunia ini. 
Masih segar dalam ingatan,  ketika saya mewakili SPS Adpend UPI menjadi pembicara di Doctoral School Seminar – Institute of Education, University of London. Dinihari (~ Jam 2 malam) pada saat transit di Dubai, sambil menunggu pesawat menuju London, dengan tekun membimbing saya untuk mempersiapkan dengan serius presentasi saya di sana. Walapun terkantuk-kantuk, kelihatan benar beliau sangat ingin anak didiknya berhasil dalam segala hal.

Inipun terbukti di UPI dimana pada Purna Bakti ini banyak fihak dan acara yang merupakan sumbangan dari kolega, teman sahabat, mahasiswa bahkan pemnagku kepentingan lain yang bererima kasih pada beliau.
Pada  kuliah ilmiahnya (The Last Lecture) yang dikutip dari Tribun Jabar, beliau menyampaikan bahwa  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan segala dampaknya dan arus globalisasi melanda berbagai aspek kehidupan. hal ini juga menciptakan dinamika sosial dan memunculkan berbagai tantangan termasuk di dunia pendidikan dan secara spesifik perguruan tinggi.

Salah satunya adalah revolusi  information and communication technology (ICT). Menurut Prof Dr Mohammad Fakry Gaffar MEd, revolusi ICT banyak mengubah pola hidup, pola pikir dan pola tindak manusia yang semakin materialistik dan pragmatis serta amat tergabtung pada ICT hampir dalam setiap aspek kehidupan.

“Hal ini menantang perguruan tinggi untuk mengubah pengaruh negatif ini menjadi peluang sehingga manusia menemukan kembali martabat dan kemandirian serta kemampuan untuk berperan aktif dalam mengendalikan dan memanfaatkan teknologi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat,” katanya dalam pidato Purna Bakti nya dengan judul “Membangun Universitas Masa Depan Strategi Jangka Panjang Menuju World Class University pada Tahun 2035″  di Gedung BPU Kampus UPI Jalan Setiabudhi, Sabtu (15/9).


Menurutnya, dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap berbagai aspek kehidupan manusia termasuk dunia bisnis dan industri yang tidak hanya mendatangkan kemajuan tapi juga berakibat pada pengrusakan lingkungan kehidupan manusia di seluruh dunia yang menantang perguruan tinggi untuk berperan dan memberikan respon penyelamatan terhadap lingkungan hidup tersebut sebagai langkah penyelamatan kehidupan manusia.

Beliau memang sangat kompeten bukan hanya di bidangnya. Menurut pengamatan saya, UPI akan kehilangan tokoh yang bisa menjembati dan faham betul integrasi dan kolaborasi “Academic, Business and Government” untuk peningkatan peradaban bangsa. Melihat beliau, saya terbayang pada Gary Becker, seorang pemenang Nobel yang banyak menguasai ilmu pengetahuan serta dapat mengimplementasikannya………….
Semoga beliau diberi kesehatan, kemampuan berkarya dan panjang  umur oleh Allah SWT……Amin Ya Robbal Alamin…..

 

Share
 

#ManajemenPembebas Implementasi Strategi: Kepemimpinan Strategis (Strategic Leadership)

04 Sep

Dalam makalahnya yang berjudul “KEPEMIMPINAN STRATEGIS DI ABAD XXI”,  Adi Sujatno, Bc.IP, SH, MH (Widyaiswara Utama Lemhannas R.I) menyebutkan bahwa kepemimpinan stategis  beresensi umum berkaitan dengan jenis teori kepemimpinan, konsep dan strategi kepemimpinan.   

Kepemimpinan lahir sebagai suatu konsekuensi logis dari perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan sosial (zoon politicon) yang sangat tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya (homo sapiens). ABRAHAM MASLOW mengidentifikasi adanya 5 tingkat kebutuhan manusia :  1). kebutuhan biologis, 2). kebutuhan akan rasa aman, 3). kebutuhan untuk diterima dan dihormati orang lain, 4). kebutuhan untuk mempunyai citra yang baik, dan 5). kebutuhan untuk menunjukkan prestasi yang baik. 

Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut manusia kemudian menyusun organisasi dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai media pemenuhan kebutuhan serta menjaga berbagai kepentingannya. Bermula dari hanya sebuah kelompok, berkembang hingga menjadi suatu bangsa. 

Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya.

Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama “pimpin”. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Adapun istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan “pemimpin”. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.

“Sometimes, I think my most important job as a CEO is to listen for bad news. If you don’t act on it, your people will eventually stop bringing bad news to your attention and that is the beginning of the end.” – Bill Gates

Kajian mengenai kepemimpinan termasuk kajian yang multi dimensi, aneka teori telah dihasilkan dari kajian ini. Teori yang paling tua adalah The Trait Theory atau yang biasa disebut Teori Pembawaan. Teori ini berkembang pada tahun 1940-an dengan memusatkan pada karakteristik pribadi seorang pemimpin, meliputi : bakat-bakat pembawaan, ciri-ciri pemimpin, faktor fisik, kepribadian, kecerdasan, dan ketrampilan berkomunikasi. Tetapi pada akhirnya teori ini ditinggalkan, karena tidak banyak ciri konklusif yang dapat membedakan antara pemimpin dan bukan pemimpin.

“A real leader faces the music even when he doesn’t like the tune.” – Arnold H. Glassgow

Dengan surutnya minat pada Teori Pembawaan, muncul lagi Teori Perilaku, yang lebih dikenal dengan Behaviorist Theories. Teori ini lebih terfokus kepada tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin daripada memperhatikan atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dari teori inilah lahirnya konsep tentang Managerial Grid oleh ROBERT BLAKE dan HANE MOUTON. Dengan Managerial Grid mereka mencoba menjelaskan bahwa ada satu gaya kepemimpinan yang terbaik sebagai hasil kombinasi dua faktor, produksi dan orang, yaitu Manajemen Grid. Manajemen Grid merupakan satu dari empat gaya kepemimpinan yang lain, yaitu : Manajemen Tim, Manajemen Tengah jalan, Manajemen yang kurang, dan Manajemen Tugas.

“Be as careful as to the books you read as of the company you keep; for your habits and character will be as much influenced by the former as the latter.” – Poxton Hood

Pada masa berikutnya teori di atas dianggap tidak lagi relevan dengan sikon zaman. Timbullah pendekatan Situational Theory yang dikemukakan oleh HARSEY dan BLANCHARD. Mereka mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah berbeda-beda, tergantung dari situasi yang sedang dihadapi. Pendekatan ini menjadi trend pada tahun 1950-an.

“There are no working hours for leaders.” – James Cardinal Gibbons

Teori yang paling kontemporer adalah teori Jalan Tujuan, Path-Goal Teory. Menurut teori ini nilai strategis dan efektivitas seorang pemimpin didasarkan pada kemampuannya dalam menimbulkan kepuasan dan motivasi para anggota dengan penerapan reward and punisment. 

 “A real leader faces the music even when he doesn’t like the tune.” – Arnold H. Glassgow

Perkembangan teori-teori di atas sesungguhnya adalah sebuah proses pencarian formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Atau dengan kata lain sebuah upaya pencarian sistem kepemimpinan yang efektif dan strategis.

 

Share
 

Peran Teknologi Telematika dalam Kepemimpinan Bangsa

23 Apr

Pada saat ini bangsa kita sedang dalam tahapan rekonstruksi setelah mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik yang terburuk pada tiga tahun terakhir ini. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga formal amat tipis, bahkan kepercayaan antar kelompok-kelompok dalam masyarakatpun terkikis. Sedangkan gejala disintegrasi bangsa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita. Upaya rekonstruksi diharapkan dapat membawa bangsa kita menjadi suatu masyarakat madani yang bersatu dalam negara Republik Indonesia.

Memasuki milenium ketiga, globalisasi yang semula merupakan suatu kecenderungan telah menjadi suatu realitas, sedangkan alternatifnya adalah pengucilan dari kancah pergaulan antar bangsa. Globalisasi menuntut adanya berbagai macam standar, pengaturan, kewajiban, dan sekaligus juga memberi hak kepada anggota masyarakat global. Berbagai aturan dikenakan secara global (misalnya, WTO, IMF, UN, dan lain-lain). Tuntutan berkompetisi, dan sekaligus berkolaborasi, memaksa kita untuk terus menerus meningkatkan daya saing bangsa kita, baik dalam pasar lokal, regional, maupun dalam pasar global.


Sementara itu, era reformasi memungkinkan kita untuk menelaah dan memperbaiki dampak negatif dari sentralisasi yang berlebihan di masa lalu. Pola sentralisasi selain mengabaikan inisiatif masyarakat, juga cenderung meniadakan proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada kriteria obyektif berdasarkan data dan informasi. Setelah beberapa dasawarsa di bawah pemerintahan tersentralisasi, kebijakan pucuk pimpinan seringkali menjadi satu-satunya acuan yang harus diikuti. Akibatnya, keputusan lebih banyak dilakukan atas dasar kesesuaian dengan kebijakan atasan daripada berdasarkan fakta dan informasi, sehingga informasi yang dikumpulkan dari lapangan menjadi kurang dihargai.

Selain masalah-masalah tersebut di atas, perkembangan teknologi juga memberikan tantangan tersendiri pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan perlu dicermati adalah teknologi informasi. Tanpa penguasaan dan pemahaman akan Teknologi Telematika ini, tantangan globalisasi akan menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap pihak lain dan hilangnya kesempatan untuk bersaing karena minimnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam Kepemimpinan Bangsa. Mengingat perkembangan Teknologi Telematika yang demikian pesat, maka upaya pengembangan dan penguasaan Teknologi Telematika yang didasarkan pada kebutuhan sendiri haruslah mendapat perhatian maupun prioritas yang utama untuk dapat menjadi masyarakat yang lebih maju.


 Dengan tantangan yang beragam seperti itu, Pemerintah Republik Indonesia harus terus melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya dan mengantisipasi langkah-langkah yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana Teknologi Telematika (untuk selanjutnya akan disingkat TI atau IT-Information Technology) dapat berperan dalam langkah-langkah yang sedang, dan akan dilakukan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

 

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/82tR63FQnMw” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Share
 

Antara Organisasi Mahasiswa dan Kebutuhan Dunia Kerja

04 Dec

Hari ini saya menjadi pembicara di depan mahasiswa Elektro Institut Teknologi Nasional – Bandung dengan topik “Manfaat Keterlibatan di Organisasi Mahasiswa pada Dunia Kerja”. Seminar diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektro ITENAS  karena acara ini ada hubunganya dengan proses inisiasi agar mahasiswa baru jadi lebih tertarik dan mantap untuk ikut menjadi anggota himpunan.

Beberapa poin yang ingin dicapai  antara lain :

  1. Menjelaskan apa itu organisasi,dan mengapa perlu adanya organisasi
  2. Apa beda organisasi mahasiswa dan organisasi lainya
  3. Ruang lingkup organsisasi mahasiswa
  4. Apa kelebihan dan kekuranganya dalam berorganisasi
  5. Apa manffaat organisasi buat mahasiswa
  6. Pelajaran apa yg bs diperoleh dalam berorganisasi
  7. Aplikasi apa yg bisa diterapkan di dunia kerja dari hasil kita berorganisasi.

Dalam seminar ini diantaranya saya menyampaikan pentingnya penguasaan Soft-Skill, selain Hard-Skill, untuk menunjang keberhasilan mereka di dunia kerja. Soft Skills dalam hal ini didefinisikan sebagai perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja humanis. Atribut “SOFT SKILLS” Menurut Patrick O’Brien dalam bukunya “Making College Count” meliputi: Communication skills, Organization Skills, Leadership, Logic, Effort, Group Skills dan Ethics.

Selain itu saya menekankan perlunya dikuasai karakteristik orang sukses yaitu kesehatan fisik yang baik, kemampuan konseptual dan pemecahan masalah yang superior, mempunyai pemikiran yang luas, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan toleransi  pada keinginan, mempunyai daya dorong yang kuat, mempunyai kebutuhan dasar  untuk mengontrol dan mengatur, mempunyai  keinginan untuk mengambil resiko yang menengah, sangat realistik, memiliki ketrampilan   di dalam diri (interpersonal) yang menengah serta memiliki stabilitas emosi yang cukup.

Menurut Andrie Wongso, dalam dunia kerja, banyak perusahaan yang lebih mengutamakan calon karyawan dari lulusan yang memiliki riwayat organisasi. Alasannya memiliki manajemen waktu, keterampilan interpersonal, serta problem solving yang lebih baik jika dibandingkan dengan yang tidak memiliki pengalaman organisasi. Karena mereka lebih terlatih dalam mengelola tugas yang banyak dan menetapkan prioritas penyelesaiannya. Mereka tidak canggung lagi dengan tuntutan budaya kerja kantor. Dan tentunya mereka telah terbiasa berinteraksi dengan orang dengan berbagai karakteristiknya, sehingga lebih siap menjadi pemecahan solusi ketika terjadi konflik dalam perusahaan.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang memiliki pengalaman berorganisasi waktu di kuliahnya, lebih terlatih jiwa kepemimpinannya, lebih terasah kemampuan sosialnya dan tentu jaringannya lebih luas. Mereka dipandang lebih memiliki inisiatif dan dapat memotivasi serta mengarahkan diri sendiri juga rekannya dalam bekerja. Secara kemampuan dan kepekaan sosial juga lebih aktif. Terutama memiliki akses jaringan luas yang akan menjadi modal utama meraih sukses yang diinginkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aktif di organisasi mahasiswa berperan penting sebagai ajang latihan dunia kerja yang sesungguhnya serta menjadi bekal dalam meraih cita-cita dalam hidupnya. Hal ini didasarkan karena bangku perkuliahan selama ini tidak banyak mengajari kemampuan-kemampuan yang tergolong soft skills seperti itu.

Salah satu panitia (Nicky) mengatakan: “Saya sangat berterimakasih sekali dan karena ini berhubungan juga dengan proses inisiasi dan kami ingin hasil dari seminar ini sedikt banyak bisa memotivasi mahasiswa baru untuk benar-benar yakin berorganisasi karena kemauan diri sendiri bukan dari orang lain. Ini salah satu proses juga buat mereka, karena situasi dan kondisi sekarang sudah berbeda dengan zaman dulu, maka dari itu kami mencoba mengkonsepnya dengan cara lain, salah satunya dengan memberikan seminar ini dimana nantinya akan ada proses selanjutnya dari panitia.”

 [youtube http://www.youtube.com/watch?v=TCiCeCnqeZc?rel=0&w=640&h=450]

 Artikel Terkait:

Share
 

Steve Jobs: Kemana….Kemana? Muncul dan Hilangnya Inovasi

08 Oct

Bila kita bayangkan seseorang dari tahun 1970 melakukan perjalanan waktu ke masa depan yaitu hari ini. Anda bisa menunjukkan salah satunya adalah Steve Jobs yang menciptakan iPhone. Orang kembali kemudian membayangkan komunikasi nirkabel (pada film Dick Tracy atau Star Trek), tetapi mereka tidak pernah membayangkan kita bisa menyimpan informasi seluruh dunia  melalui perangkat berukuran saku. Perjalanan waktu kita akan bergetar dengan kegembiraan. Kita ingin tahu apa keajaiban teknologi lainnya yang telah ditemukan dalam 41 tahun terakhir. Kita tahu tentang ruang koloni di Mars, mobil terbang, pesawat bertenaga nuklir supercepat  dan organ buatan. Orang yang lahir pada tahun 1900 dimulai dengan adanya kereta kuda dan meninggal dengan peristiwa laki-laki berjalan di Bulan, tetapi beberapa dekade terakhir ini kita tidak melihat kemajuan teknologi seperti itu. 

Baru-baru ini, sejumlah penulis telah berpikir adanya perlambatan inovasi. Michael Mandel menulis artikel di Business Week pada tahun 2009. Tyler Cowen menulis sebuah buku berpengaruh The Great Stagnation: How America Ate All The Low-Hanging Fruit of Modern History,Got Sick, and Will Eventually Feel Better pada tahun 2010. Penulis Fiksi Ilmiah Neal Stephenson baru saja menerbitkan sebuah makalah yang disebut  “Innovation Starvation” di World Policy Journal  dan Peter Thiel, yang membantu menciptakan PayPal dan keuangan pada Facebook, memiliki sebuah esai berjudul “Akhir dari Masa Depan” (The End of the Future) dalam National ReviewPenulis-penulis ini mengakui bahwa telah terjadi inovasi yang luar biasa dalam teknologi informasi. Bidang Robotika tampaknya juga tumbuh dengan baik. Namun kecepatan inovasi melambat di banyak sektor lainnya. 

Sebagai titik awal, Thiel mengatakan, kita melakukan perjalanan dengan kecepatan yang sama seperti yang kita lakukan setengah abad yang lalu, apakah di darat atau di udara. Kita bergantung pada sumber energi dasar yang sama. Warren Buffett melakukan investasi $ 44 miliar pada 2009, ia berinvestasi pada rel kereta api yang membawa batubara. Revolusi Hijau meningkatkan hasil gabah dengan 126 persen pada kurun 1950-1980, namun hasil itu meningkat hanya sebesar 47 persen pada dekade selanjutnya. Perusahaan-perusahaan farmasi besar sangat sedikit mengeluarkan obat-obatan fenomenal karena memangkas dana departemen riset mereka. 

Jika kita percaya tesis stagnasi inovasi, ada tiga penjelasan yang paling menarik tampaknya. Pertama, sifat bukit ganda dari kurva belajarKetika peneliti mendaki bukit pertama dari masalah, mereka pikir mereka dapat melihat puncak.Tapi begitu mereka sampai di sana, mereka menyadari hal-hal yang lebih rumit daripada yang mereka pikir. Mereka harus kembali ke dasar dan mendaki sebuah bukit pengetahuan yang bahkan lebih curam depan. KIta telah melalui fase  dalam segala macam masalah – genetika, energi, penelitian kanker dan Alzheimer. Inovasi tentu akan datang, hanya saja tidak secepat yang kita pikir. 

Kedua, telah terjadi kehilangan idealisme dan utopianismeJika kita kembali dan berpikir tentang Pameran Dunia besar Amerika, atau jika Anda membaca tentang Bell Labs (Laboratorium perusahaan tempat saya bekerja dulu) pada masa kejayaannya atau Silicon Valley di tahun 1980 atau 1990, kita melihat orang-orang dalam cengkeraman visi idealisme mereka. Mereka membayangkan dunia yang sempurna. Mereka merasa seolah-olah memiliki kekuatan untuk memulai dunia baru. Ini adalah delusi (pikiran yang tidak berdasar), tetapi ini adalah delusi yang menjadi inspirasi.  

Utopianisme ini hampir tak bisa ditemukan saat ini. Stephenson dan Thiel menunjukkan bahwa buku fiksi ilmiah sekarang sekarat; pekerjaan saat ini merupakan distopia (kondisi hidup yang buruk), bukan inspirasi. Thiel berpendapat bahwa etos lingkungan telah merusak kepercayaan adanya sihir teknologi. Lembaga-lembaga hukum dan budaya TV kita mengurangi antusiasme dengan menghukum kegagalan tanpa ampun. Padahal, kegagalan awal NASA dipandang sebagai langkah sepanjang jalan menuju masa depan yang gemilang.  

Ketiga, tidak adanya benturan budaya yang ekstrim. Lihatlah sejarah hidup Steve Jobs. Selama hidupnya, ia mengkombinasikan tiga ruang hidup yang asinkron – Budaya anti kemapanan tahun 1960-an, budaya awal “penggila (Geeks)” komputer  dan budaya perusahaan Amerika. Ada “Hippies”, “The Whole Earth Catalogue” dan eksplorasi spiritual di IndiaAda juga jam yang dikhususkan untuk mencoba membangun sebuah kotak untuk membuat panggilan telepon gratis :-)  

Penggabungan tiga “kehidupan” ini memicu inovasi yang berkelanjutan, menghasilkan tidak hanya produk baru dan gaya manajemen, tetapi juga kepribadian yang baru – seragam perusahaan berupa celana jins dan T-Shirt lengan panjang hitam. Ini didahului orang-orang marjinal yang datang bersama-sama, bersaing keras dan mencoba untuk menyelesaikan hubungan mereka sendiri yang tidak nyaman dengan masyarakat. 

Akar inovasi yang besar tidak pernah hanya di teknologi itu sendiri. Kita selalu dalam konteks sejarah yang lebih luas  danmembutuhkan cara baru untuk melihat. Seperti Einstein mengatakan, “Masalah penting yang kita hadapi tidak bisa dipecahkan pada tingkat pemikiran yang sama pada saat kita menciptakan hal tersebut.” 

Jika Anda ingin menjadi Steve Jobs dan selanjutnya mengakhiri stagnasi inovasi, mungkin Anda harus mulai mencoba hal-hal yang sama sekali baru.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=NugRZGDbPFU&w=640&h=360]

Share
 

Pojok Pendidikan Publishing: Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif Edisi-1″ Sudah Terbit

29 Sep

 

Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa, betapa besar peranan pendididikan dlam hajat hidup manuasia yang dikatakan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.


Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian kita lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial.  

Tulisan dalam Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif” ini dimaksudkan sebagai tambahan menu dalam dunia pendidikan yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru. Walaupun bukan merupakan buku referensi dan ditulis dengan gaya populer, diharapkan menambah khasanah bagi semua pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia.

Semoga.

 Pendidik Pembebas

Djadja Achmad Sardjana

Buku bisa dipesan di : http://www.nulisbuku.com/books/view/bunga-rampai-pendidikan-kreatif-edisi-1

 

[slideshare id=6413231&doc=presentasigurukreatifpojokpendidikan-30dec10-101231023256-phpapp01]

 

Related articles, courtesy of Zemanta:

Share
 

Diky Candra, Joko Widodo dan Arti Sebuah Amanah

24 Sep

Akhir-akhir ini ada dua tokoh yang terkenal karena jabatannya: Dicky Chandra dan Joko Wi. Keduanya menduduki rating tinggi di beberapa media televisi, majalah, surat kabar dan online. 

Diky Candra (Sumber dari Wikipedia)

Raden Diky Candranegara (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 12 Mei 1974; umur 37 tahun) atau yang lebih dikenal dengan Diky Candra adalah seorang pria Indonesia yang berprofesi sebagai pelawak, MC, sutradara, penulis naskah dan aktor dalam dunia hiburan di tanah air. Ia adalah wakil bupati Garut untuk periode 2009-2013

Pada tahun 2008 Diky mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Garut mendampingi calon bupati Aceng Fikri sebagai wakil kelompok independen. Setelah melalu dua putaran pemilihan akhirnya Aceng-Diky terpilih menjadi Bupati-Wakil Bupati Garut untuk periode 2009-2014.

Persoalan mulai muncul ketika Dicky Chandra  mengajukan Pengunduran diri, yang menurut beberapa kalangan merupakan tindakan seorang ksatria yang harus diberikan apresiasi dan dihormati. Selain itu, Dicky Chandra telah melakukan tindakan seorang pemimpin yang bertanggungjawab apabila dirinya memang mengakui tidak mampu memimpin.

“Ini adalah suatu tindakan dan langkah yang bertanggungjawab yang dilakukan oleh Dicky Chandra,” kata beberapa tokoh.

Menurut beberapa kalangan, ia  bisa membangun Kabupaten Garut dan tidak harus menjadi pejabat seperti Bupati atau Wakil Bupati dengan memiliki karya yang bermanfaat merupakan salah satu yang dapat membangun daerah. Apalagi Dicky Chandra, merupakan artis atau sosok figur yang dikenal banyak masyarakat di Garut maupun se-Indonesia yang tentunya dapat memberikan yang terbaik untuk Garut umumnya bangsa Indonesia dengan keahlian yang dimilikinya.

Sementara itu surat pengajuan pengunduran diri Wakil Bupati Garut, Dicky Chandra telah diterima oleh pimpinan DPRD Kabupaten Garut. Bahkan keputusan pengunduran diri Dicky Chandra itu sudah diketahui Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, dan pihak DPRD sudah bertemu langsung dengan Wakil Bupati Garut Dicky Chandra untuk menjelaskan alasan pengunduran diri tersebut. Sementara itu Dicky Chandra merupakan sosok artis yang sering muncul di layar televisi mencalonkan diri menjadi Wakil Bupati bersama pasangannya Bupati Garut Aceng HM Fikri dari calon perseorangan pada Pilkada Garut 2009.

Joko Widodo (Sumber dari Wikipedia)

Ir. Joko Widodo (lahir di Surakarta, 21 Juni 1961; umur 50 tahun), lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi, adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo.

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java”. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman.

Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″.

Arti Sebuah Amanah

Bercermin dari dua kejadian di atas, apa yang dapat kita simpulkan dari “Arti Sebuah Amanah”? Terutama dihubungkan dengan amanah jabatan yang dipegang sebagai manifestasi kekuasaan “Dari Rakyat, Oleh rakyat dan Untuk Rakyat”.

Menurut Syariah Online, Arti Sebuah Amanah digambarkan dalam sebuah ayat Al-Qur’an sbb: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al-Anfaal 27).

Ayat ini mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa diantara indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu melaksanakan amanah. Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikankan amanah-amanahnya. Amanah, dari satu sisi dapat diartikan dengan tugas, dan dari sisi lain diartikan kredibilitas dalam menunaikan tugas. Sehingga amanah sering dihubungkan dengan kekuatan. Firman Allah: “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS Al-Qhashash 27).

Oleh karena itu sekecil apapun amanah yang dilaksanakan, maka memiliki dampak positif berupa kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan, niscaya memiliki dampak negatif berupa keburukan. Dampak itu bukan hanya mengenai dirinya tetapi juga mengenai umat manusia secara umum. Seorang mukmin yang bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal dan baik, maka akan memberikan dampak positif berupa ketenanggan jiwa dan kebahagiaan bagi keluarganya. Lebih dari itu dia mampu memberi sedekah dan infak kepada yang membutuhkan. Sebaliknya seorang yang mengaggur dan malas akan menimbulkan dampak negatif berupa keburukan, terlantarnya keluarga, kekisruhan, keributan dan beban bagi orang lain.

Kesalahan kecil dalam menunaikan amanah akan menimbulkan bahaya yang fatal. Bukankah terjadinya kecelakan mobil ditabrak kereta, disebabkan hanya karena sopirnya lengah atau sang penjaga pintu rel kereta tidak menutupnya? Bahaya yang lebih fatal lagi jika amanah dakwah tidak dilaksanakan, maka yang terjadi adalah merebaknya kemaksiatan, kematian hati, kerusakan moral dan tatanan sosial serta kepemimpnan di pegang oleh orang yang bodoh dan zhalim.

Harta, wanita dan kekuasaan memang merupakan sarana yang paling ampuh digunakan syetan untuk mengoda orang beriman agar melalaikan amanah, bahkan meninggalkannya sama sekali. Betapa sebagian da’i yang ketika tidak memiliki sarana harta yang cukup dan tidak ada kekuasaan yang disandangnya, begitu istiqomah menjalankan amanah dakwah. Tetapi setelah dakwah sudah menghasilkan harta dan kekuasaan, amanah dakwah itu ditinggalkan dan bahkan berhenti dari jalan dakwah dan futur dalam barisan jama’ah dakwah!

Oleh karena itu waspadalah terhadap harta, wanita dan kekuasaan! Itu semua hanya sarana untuk melaksanakan amanah dan jangan sampai menimbulkan fitnah yang berakibat pada melalaikan amanah. Dibalik dari menunaikan amanah terkadang ada bunga-bunga yang mengiringinya, harta yang menggiurkan, wanita yang menggoda sehingga orang yang beriman harus senanatiasa menguatkan taqarrub illallah dan istianah billah.

Amanah adalah perintah dari Allah yang harus ditunaikan dengan benar dan disampaikan kepada ahlinya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS An-Nisaa 58)

Amanah yang paling tinggi adalah amanah untuk berbuat adil dalam menetapkan hukum pada kepemimpinan umat. Pahala yang paling tinggi adalah pahala dalam melaksanakan keadilan sebagai pemimpin umat. Begitulah sebaliknya, bahaya yang paling tinggi adalah bahaya melakukan kezhaliman pada saat memimpin umat. Kezhaliman pemimpin akan menimbulkan kehancuran dan kerusakan total dalam sebuah bangsa. Maka kezhaliman pemimpin merupakan sikap menyia-nyiakan amanah yang paling tinggi.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=FQbwj368Vas&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

  • Amanah - http://blog.re.or.id/amanah.htm
  • Amanah - http://cahayabunda.blogdetik.com/2011/01/21/amanah/
  • Arti Sebuah Amanah – http://musyafucino.wordpress.com/tag/arti-sebuah-amanah/
  • Arti Dari Sebuah Amanah - http://ainicahayamata.wordpress.com/2010/02/10/arti-dari-sebuah-amanah/

Share
 

Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Dalam Manajemen

04 Sep

‘Stakeholders’ menurut definisnya adalah kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi. Clarkson membagi Stakeholders menjadi dua: Stakeholders primer dan Stakeholders sekunder. Stakeholders primer adalah ‘pihak di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan organisasi tidak dapat bertahan.’ Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja, pelanggan, dan pemasok. Menurut Clarkson, suatu perusahaan atau organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem Stakeholders primer – yang merupakan rangkaian kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai hak, tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda. 

Stakeholders sekunder didefinisikan sebagai ‘pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah media dan berbagai kelompok kepentingan tertentu. Perusahaan tidak bergantung pada kelompok ini untuk kelangsungan hidupnya, tapi mereka bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dengan mengganggu kelancaran bisnis perusahaan. 

Clarkson (dalam artikel tahun 1994) juga telah memberikan definisi yang bahkan lebih sempit lagi di mana Stakeholders didefinisikan sebagai suatu kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka telah melakukan investasi (material ataupun manusia) di perusahaan tersebut (‘Stakeholders sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi risiko akibat kegiatan perusahaan tersebut (‘Stakeholders non-sukarela’). Karena itu, Stakeholders adalah pihak yang akan dipengaruhi secara langsung oleh keputusan dan strategi perusahaan. 

Menurut Freeman (1984), perusahaan-perusahaan terkemuka telah menerima kenyataan bahwa mereka bukanlah semata-mata pelayan kepentingan pemilik modal, melainkan juga pemangku kepentingan lain yang lebih luas. Pemangku kepentingan ini didefinisikan sebagai pihak-pihak yang dapat terpengaruh dan/atau mempengaruhi kebijakan serta operasi perusahaan. Clarkson (1995) semakin meyakinkan dunia bisnis bahwa hanya dengan memperhatikan semua pemangku kepentinganlah sebuah perusahaan dapat mencapai kinerja sosial yang tinggi (yaitu perolehan social license to operate). Permasalahannya, siapa saja yang dapat dianggap sebagai pemangku kepentingan yang sah terhadap operasi perusahaan? Jawaban pertanyaan ini pertama-tama dikemukakan oleh Mitchell, Agle dan Wood (1997), yang menyatakan bahwa derajat kesahihan pemangku kepentingan ditentukan oleh aspek kekuatan, legitimasi, dan urgensi. Sejak itu ketiga kriteria itu dipergunakan secara luas, sampai kemudian Driscoll dan Starik (2004) mengusulkan kedekatan (proximity) sebagai kriteria lainnya

(Dikutip dari berbagai sumber)
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=bIRUaLcvPe8&w=640&h=410]

Share
 
 

Switch to our mobile site