Jawa Barat, Surganya Energi Panas Bumi Indonesia

 

Perubahan musim hujan dan musim kemarau kini tak menentu. Dulu bulan Oktober hingga April boleh dikatakan sebagai periode musim hujan, namun sekarang tidak lagi. Boleh jadi musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan atau sebaliknya. Gejala ini disebabkan oleh efek rumah kaca sehingga mengakibatkan pemanasan global.

Wajarlah bila masyarakat internasional dituntut untuk mempunyai kepedulian lebih besar terhadap ancaman semakin meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer kita, khususnya gas CO. Salah satu bentuk kepedulian itu antara lain mengalihkan pemilihan sumber energi kepada energi-energi yang lebih ramah lingkungan.

Energi listrik yang kita nikmati adalah salah satu sumber energi yang selayaknya juga ramah lingkungan. Maklumlah, selain kapasitas listrik yang tersedia masih terbatas, tidak sedikit energi listrik yang kita nikmati itu diperoleh dari proses produksi yang kurang bersih lingkungan. Mesin-mesin pembangkit listrik di Indonesia masih banyak yang menggunakan batubara dan minyak, yang untuk setiap satu megawatt hour (MWH) menurut penelitian akan menghasilkan 961 kilogram CO.

Masyarakat di Jawa Barat (Jabar) sangat beruntung karena mendapat berkah yang besar berupa cadangan energi panas bumi yang terbesar di Indonesia. Lapangan-lapangan panas bumi itu sebagian sudah dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Kamojang, PLTP Darajat, PLTP Wayang Windu, dan PLTP Salak.

Potensi energi panas bumi di Jabar pun mewakili hampir 20 persen potensi energi panas bumi di Indonesia yang sudah ditemukan sampai saat ini. Sumur sumur panas bumi itu kebanyakan terdapat di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, antara lain sumur Kamojang yang potensinya diperkirakan sekitar 300 MW (baru dimanfaatkan 140 MW), sumur Patuha yang potensinya 482 MW (akan dikembangkan 170 MW), sumur Wayang Windu 460 MW (sudah dimanfaatkan 110 MW), sumur Darajat yang potensinya sekitar 350 MW (sudah dimanfaatkan 145 MW), dan Sumur Awibengkok/Gunung Salak yang potensinya 600 MW (sudah dimanfaatkan 330 MW).

Selain sumur-sumur tersebut, beberapa ahli panas bumi Indonesia meyakini bahwa sebenarnya masih ada potensi sumur panas bumi lain di tatar Parahyangan sehingga tanpa disadari banyak warga Jabar hidup di atas tungku panas bumi. Sumur-sumur yang berpotensi tetapi masih belum banyak dilirik itu menurut data Asosiasi Panasbumi Indonesia adalah sumur Karaha (potensi diperkirakan 250 MW), sumur Talaga Bodas (potensi 275 MW), sumur Tangkuban Parahu (potensi 190 MW), sumur Gunung Gede-Pangrango (potensi 260 MW), dan sumur Batukuwung (potensi 105 MW). Sayangnya, potensi panas bumi di atas sebagian besar belum menjadi sebuah potensi yang terbukti sehingga diperlukan eksplorasi lebih jauh sebelum pemanfaatannya.

 

Share
This entry was posted in Geothermal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>