This is it. The best day of my life.
Kata-kata itu yang seharusnya aku lontarkan sekarang.
Sambil menatap cermin dan mendapati Ibu memakaikan kebaya kutubaru putih yang berat dengan payet putih-emas, aku menghela nafas. Ingin habis itu menggigit bibir, tapi lipstick nude ini harus diaplikasikan ulang. Sementara itu penata rias cuma satu orang untuk jumlah klien yang berjubel, dari pengantin sampai pagar ayu.
Kombinasi pemasangan sirkam yang terlalu keras dan kening yang baru dicabuti anak rambutnya membuat kulit kepala serasa dijambak. Hold on, Dinda, this torture will only last an hour. Resepsi akan dilakukan malam hari, jadi selama beberapa jam rambut bergelombang ini akan bebas dan tidak terikat apapun! Tapi untuk saat ini, rasa sakit harus ditahan. No pain, no gain.
Mataku melirik grandfather clock yang terletak di sebelah jendela kamar. Masih 15 menit menuju pukul sembilan. Aku menghela nafas lagi.
Sampai saat ini aku masih deg-degan. Aku masih belum percaya bahwa dalam hitungan menit, aku akan ijab qabul dan diperistri dengan seorang pria. Pria yang sudah memacari aku selama empat tahun terakhir ini. Pria yang sudah mendampingi aku dari sejak masa kuliah hingga kami terpisahkan oleh Laut Jawa. Pria yang selalu ada dan akan senantiasa terus ada.
Dulu saat jaman kuliah, ingin sekali aku cepat menikahinya. Alasannya sederhana; aku tidak mau ditinggal ke Kalimantan. Atau Papua. Atau NTT. Atau Bangka-Belitung. Aku mau ikut ke manapun dia pergi, meskipun itu meninggalkan impianku untuk meraih gelar magister, hasrat untuk berkarir di ibukota dan mimpi-mimpi lainnya.
Tapi sekarang, mimpi-mimpi yang sudah ku simpan jauh di dasar pikiran paling dalam berteriak penuh rindu. Mimpi-mimpi itu merintih ingin dijemput, diraih dan dijadikan kenyataan.
Namun apa daya. Calon suamiku berkata bahwa mimpi-mimpi tersebut perlu dikorbankan. Katanya, buat kami. But in the back of my mind, menurut aku itu buat dia.
Dahulu aku punya cita-cita menjadi aktivis lingkungan. Bukan, bukan seperti aktivis yang menyebar pamflet-pamflet bertuliskan “I rather go naked than wear fur!“ di New York Fashion Week sambil bugil. Aktivis lingkungan yang bertanggungjawab tepatnya, yang melakukan gerakan horizontal melalui kegiatan riset dan pengabdian masyarakat.
Sayangnya, mimpiku ini ditepis oleh calon suamiku dua tahun lalu. Katanya, environmental concerns yang aku pelajari itu sudah kuno dan ketinggalan jaman, tidak ada gunanya diriset kembali. Dia juga bilang bahwa isu-isu seperti itu tidak perlu ditindaklanjuti dengan mengambil pendidikan S2, yang sangat ku dambakan.
Ya, betul, calon suamiku ini banyak membuat keputusan-keputusan untukku. Selain menentukan masa depanku, dia juga menentukan pola pikirku, sikapku sampai ucapanku.
Dulu, aku dikenal sebagai pribadi yang kritis dan banyak pendapat. Namun sejak dengannya, aku tidak banyak beropini. Katanya, opini yang benar itu berasal dari sudut pandang yang melaluinya. Selama ini aku pikir bahwa yang disebut opini itu adalah kebebasan berbicara yang layak dimiliki semua orang, tapi aku tidak tahu bahwa beropini pun ada aturannya. Menurut dia, opini itu harus berbobot. Dia bilang opiniku tidak cerdas dan seperti tong kosong. Well, compared to him, a major public figure, sudah sewajarnya begitu. Jadi ku maklumi saja.
Calon suamiku juga menuntutku untuk bersikap dengan baik. Dia tidak suka jika aku ketawa-ketawa bersama teman-temannya, katanya unladylike dan memalukan. Padahal aku senang sekali jika bertemu teman-temannya. Mereka lucu dan baik hati, diajak bercanda pun menyenangkan. Mereka pun sepertinya senang denganku. Tapi calon suamiku bilang jika tingkah lakuku tidak diperbaiki, dia malu mempertemukanku dengan teman-temannya.
Dia juga tidak suka jika aku berbicara menggunakan prefiks dan suffiks tertentu pada awal kalimat, karena menimbulkan kesan arogan. Katanya, sebutan “eh” dan “dong” itu terkesan sombong dan menggurui. Tidak pantas dilontarkan oleh wanita. Lah, tapi kalau ke teman kan tidak apa? Tidak, tidak boleh. Pandangan orang ke aku akan menjadi minus, katanya.
Aku banyak sekali berubah sejak dengan calon suamiku ini. Apapun yang dia minta, aku turuti. Kenapa harus aku turuti? Karena memang dia lebih baik dariku. Lebih pintar, lebih cerdas, lebih berwawasan, dan punya lebih banyak teman. Toh, sejak sama dia, aku jadi lebih baik. Orang-orang kini memandangku sebagai wanita yang santun, unggak ungguk dan berwibawa.
Segala sesuatu yang membuat kita lebih baik itu baik, kan?
Kalau memang baik, why am I not happy?
Tiba-tiba setitik air muncul dari mata, mengalir melewati pipi dan berakhir di dagu. Tetesannya meninggalkan warna gelap di kain batikku.
“Lho, Dinda? Ada apa??”
Si Ibu langsung kebingungan. Cepat-cepat dia menyuruh adikku yang dari tadi mencari selopku untuk mengambil tisu yang entah ada di mana.
“Aduh anakku…” kata beliau sambil mengeringkan matakku. “Meskipun kamu udah nikah, Ibu gak akan ninggalin kamu. Sering-sering main ke Jakarta ya nanti…”
Aku hanya merespon dengan senyuman pahit.
Bukan Bu, bukan itu. Aku yakin Ibu tidak akan meninggalkanku. Tapi dia yang akan meninggalkanku. Diriku yang dulu. Dinda yang jenaka. Dinda yang senang tertawa. Dinda yang kritis dalam beropini. Dinda yang cinta Bumi dan kekayaan alamnya.
Kamu dan mimpi-mimpimu tinggal bayangan. Bayangan yang senantiasa akan menghiasi lamunanku, malamku serta nasihat untuk anak-anakku.
Kini Dinda yang lebih dewasa hadir. Dinda yang santun. Dinda yang penuh wibawa. Dinda yang menurut pada suami.
Entah kenapa, tiba-tiba hatiku seperti tertimpa besi. Berat. Perih. Tapi tidak kuat untuk melawan.
DING DONG!
Grandfather clock akhirnya berbunyi. Sudah tepat pukul sembilan pagi.
This is it, Dinda.
Air mataku mengering.
Inilah jalan yang ku pilih. Aku telah memilih untuk bersama dia, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri.
There’s no turning back now.
“Ayo Nak, kita keluar. Semua orang menunggumu.”
Aku mengangguk mendengar ajakan Ibu. Life must go on.
» Read the rest of this entry «