Pencarian

May 3rd, 2012 § 0 comments § permalink

Seumur hidupnya, manusia terus mencari. Mencari jodoh, mencari jati diri, mencari kebenaran.

Dan jawaban atas pencarian itu pun tidak absolut. Jodoh itu tidak selamanya satu, seperti penganut poligami. Jati diri itu bukan hanya aktualisasi diri, tapi juga dipengaruhi nasib. Kebenaran itu bersifat subjektif, hanya benar bagi golongan tertentu.

Lalu ketika pencarian itu selesai, selalu muncul kalimat berawalan kata ‘seandainya’. “Seandainya saya memilih jalan ini,” atau “Seandainya saya tidak melakukan itu,” atau “Seandainya saya tidak mendengar kata orang-orang,”.

Manusia, apakah yang sebenarnya kalian cari?

Share

Wedding Day

April 30th, 2012 § 4 comments § permalink

This is it. The best day of my life.

Kata-kata itu yang seharusnya aku lontarkan sekarang.

Sambil menatap cermin dan mendapati Ibu memakaikan kebaya kutubaru putih yang berat dengan payet putih-emas, aku menghela nafas. Ingin habis itu menggigit bibir, tapi lipstick nude ini harus diaplikasikan ulang. Sementara itu penata rias cuma satu orang untuk jumlah klien yang berjubel, dari pengantin sampai pagar ayu.

Kombinasi pemasangan sirkam yang terlalu keras dan kening yang baru dicabuti anak rambutnya membuat kulit kepala serasa dijambak. Hold on, Dinda, this torture will only last an hour. Resepsi akan dilakukan malam hari, jadi selama beberapa jam rambut bergelombang ini akan bebas dan tidak terikat apapun! Tapi untuk saat ini, rasa sakit harus ditahan. No pain, no gain.

Mataku melirik grandfather clock yang terletak di sebelah jendela kamar. Masih 15 menit menuju pukul sembilan. Aku menghela nafas lagi.

Sampai saat ini aku masih deg-degan. Aku masih belum percaya bahwa dalam hitungan menit, aku akan ijab qabul dan diperistri dengan seorang pria. Pria yang sudah memacari aku selama empat tahun terakhir ini. Pria yang sudah mendampingi aku dari sejak masa kuliah hingga kami terpisahkan oleh Laut Jawa. Pria yang selalu ada dan akan senantiasa terus ada.

Dulu saat jaman kuliah, ingin sekali aku cepat menikahinya. Alasannya sederhana; aku tidak mau ditinggal ke Kalimantan. Atau Papua. Atau NTT. Atau Bangka-Belitung. Aku mau ikut ke manapun dia pergi, meskipun itu meninggalkan impianku untuk meraih gelar magister, hasrat untuk berkarir di ibukota dan mimpi-mimpi lainnya.

Tapi sekarang, mimpi-mimpi yang sudah ku simpan jauh di dasar pikiran paling dalam berteriak penuh rindu. Mimpi-mimpi itu merintih ingin dijemput, diraih dan dijadikan kenyataan.

Namun apa daya. Calon suamiku berkata bahwa mimpi-mimpi tersebut perlu dikorbankan. Katanya, buat kami. But in the back of my mind, menurut aku itu buat dia.

Dahulu aku punya cita-cita menjadi aktivis lingkungan. Bukan, bukan seperti aktivis yang menyebar pamflet-pamflet bertuliskan “I rather go naked than wear fur!“ di New York Fashion Week sambil bugil. Aktivis lingkungan yang bertanggungjawab tepatnya, yang melakukan gerakan horizontal melalui kegiatan riset dan pengabdian masyarakat.

Sayangnya, mimpiku ini ditepis oleh calon suamiku dua tahun lalu. Katanya, environmental concerns yang aku pelajari itu sudah kuno dan ketinggalan jaman, tidak ada gunanya diriset kembali. Dia juga bilang bahwa isu-isu seperti itu tidak perlu ditindaklanjuti dengan mengambil pendidikan S2, yang sangat ku dambakan.

Ya, betul, calon suamiku ini banyak membuat keputusan-keputusan untukku. Selain menentukan masa depanku, dia juga menentukan pola pikirku, sikapku sampai ucapanku.

Dulu, aku dikenal sebagai pribadi yang kritis dan banyak pendapat. Namun sejak dengannya, aku tidak banyak beropini. Katanya, opini yang benar itu berasal dari sudut pandang yang melaluinya. Selama ini aku pikir bahwa yang disebut opini itu adalah kebebasan berbicara yang layak dimiliki semua orang, tapi aku tidak tahu bahwa beropini pun ada aturannya. Menurut dia, opini itu harus berbobot. Dia bilang opiniku tidak cerdas dan seperti tong kosong. Well, compared to him, a major public figure, sudah sewajarnya begitu. Jadi ku maklumi saja.

Calon suamiku juga menuntutku untuk bersikap dengan baik. Dia tidak suka jika aku ketawa-ketawa bersama teman-temannya, katanya unladylike dan memalukan. Padahal aku senang sekali jika bertemu teman-temannya. Mereka lucu dan baik hati, diajak bercanda pun menyenangkan. Mereka pun sepertinya senang denganku. Tapi calon suamiku bilang jika tingkah lakuku tidak diperbaiki, dia malu mempertemukanku dengan teman-temannya.

Dia juga tidak suka jika aku berbicara menggunakan prefiks dan suffiks tertentu pada awal kalimat, karena menimbulkan kesan arogan. Katanya, sebutan “eh” dan “dong” itu terkesan sombong dan menggurui. Tidak pantas dilontarkan oleh wanita. Lah, tapi kalau ke teman kan tidak apa? Tidak, tidak boleh. Pandangan orang ke aku akan menjadi minus, katanya.

Aku banyak sekali berubah sejak dengan calon suamiku ini. Apapun yang dia minta, aku turuti. Kenapa harus aku turuti? Karena memang dia lebih baik dariku. Lebih pintar, lebih cerdas, lebih berwawasan, dan punya lebih banyak teman. Toh, sejak sama dia, aku jadi lebih baik. Orang-orang kini memandangku sebagai wanita yang santun, unggak ungguk dan berwibawa.

Segala sesuatu yang membuat kita lebih baik itu baik, kan?

Kalau memang baik, why am I not happy?

Tiba-tiba setitik air muncul dari mata, mengalir melewati pipi dan berakhir di dagu. Tetesannya meninggalkan warna gelap di kain batikku.

“Lho, Dinda? Ada apa??”

Si Ibu langsung kebingungan. Cepat-cepat dia menyuruh adikku yang dari tadi mencari selopku untuk mengambil tisu yang entah ada di mana.

“Aduh anakku…” kata beliau sambil mengeringkan matakku. “Meskipun kamu udah nikah, Ibu gak akan ninggalin kamu. Sering-sering main ke Jakarta ya nanti…”

Aku hanya merespon dengan senyuman pahit.

Bukan Bu, bukan itu. Aku yakin Ibu tidak akan meninggalkanku. Tapi dia yang akan meninggalkanku. Diriku yang dulu. Dinda yang jenaka. Dinda yang senang tertawa. Dinda yang kritis dalam beropini. Dinda yang cinta Bumi dan kekayaan alamnya.

Kamu dan mimpi-mimpimu tinggal bayangan. Bayangan yang senantiasa akan menghiasi lamunanku, malamku serta nasihat untuk anak-anakku.

Kini Dinda yang lebih dewasa hadir. Dinda yang santun. Dinda yang penuh wibawa. Dinda yang menurut pada suami.

Entah kenapa, tiba-tiba hatiku seperti tertimpa besi. Berat. Perih. Tapi tidak kuat untuk melawan.

DING DONG!

Grandfather clock akhirnya berbunyi. Sudah tepat pukul sembilan pagi.

This is it, Dinda.

Air mataku mengering.

Inilah jalan yang ku pilih. Aku telah memilih untuk bersama dia, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri.

There’s no turning back now.

“Ayo Nak, kita keluar. Semua orang menunggumu.”

Aku mengangguk mendengar ajakan Ibu. Life must go on.

» Read the rest of this entry «

Share

Goodbye, the best time of our lives.

April 16th, 2012 § 0 comments § permalink

Congratulations, Grad!

Itu adalah kata-kata yang saat ini sedang banyak diucapkan sejak hari Sabtu lalu. Kalimat ini umumnya disertai setangkai bunga atau lebih, kadang dengan balon.

Gue yakin teman-teman wisudawan dan wisudawati banyak mendengar kalimat ini. Mungkin di antara kalian ada yang sampai kewalahan bawa bunga, balon dan kado lain yang dikasih teman-teman kalian.

Banyaknya bunga, balon dan kado yang diberikan orang ke kita itu menunjukkan betapa membahagiakannya momen ini di depan mata mereka.

Graduates!

Graduates!

Perjuangan kita menuntut ilmu di tempat yang disebut sebagai Institut Terbaik Bangsa ini akhirnya selesai. 144 SKS sudah tuntas kita lunasi. Tugas akhir, skripsi dan sidang sudah kita hadapi. Gelar sarjana yang didamba-dambakan sebagian besar rakyat Indonesia sudah disandingkan di belakang nama kita. How could you not be happy?

Dalam balutan toga, kebaya dan high heels 9 cm, gue akhirnya menjabat tangan Pak Rektor dan mengambil ijazah dengan nama dan tanda tangan gue. I should be happy. Tujuan kuliah 4,5 tahun gue membuahkan hasil yang cukup matang dan gue akhirnya bisa memijak kaki gue di dunia nyata dengan status “Lulusan ITB” di jidat gue.

Tapi bukannya senang, gue cenderung sedih.

Selama ini, gue selalu merasa bahwa masa kuliah adalah masa yang gue gak kira akan berakhir. Ya, gue tau suatu saat gue akan lulus, tapi gak dalam waktu dekat. But time sure flies fast. Eventually, akan muncul saat di mana gue harus TA, skripsian, sidang dan lulus. And here it is, I finally graduated. I’ve gone past all those things now.

4,5 tahun memang bukan sesuatu yang bisa dirangkum dengan mudah. Gue yakin di antara kalian banyak yang merasa masa kuliah kalian seperti drama Jepang. Bukan ilmu di jurusan loe yang nampol di ingatan loe, tapi perjuangan loe menemukan jati diri, mengenal teman, cinta bahkan dunia sekalipun. Dan semua itu diakhiri dengan finale yang ciamik berupa kita diwisudakan.

Gue merasa telah mengalami transformasi hebat selama kuliah. Masa kuliah, buat gue, bukan hanya diisi sama laporan dan praktikum yang bertubi-tubi. Masa kuliah gue diisi sama konflik batin, pertemanan sampai cowok. Gue udah ketawa, nangis, jatuh, bangun berkali-kali sampai akhirnya ke titik ini.

Memang ketika sampai pada finale itu, gue merasa masih banyak hal yang belum gue lakukan dan gue cukup menyesalinya. Tapi gue juga merasa banyak hal yang, di luar rencana gue, telah gue lakukan dan gue mendapatkan banyak hal yang sebelumnya gak pernah gue kira akan dapatkan. Apapun yang terjadi, itu semua membentuk gue hari ini, and I think it’s a wonderful finale, despite its flaws.

Jalan orang memang gak pernah ketebak. Kayak kata Paula Cole, “I don’t want to wait for our lives to be over, I want to know right now what will it be.” However, we do have to wait. Prosesnya perlu kita lewati biar kita dapat menikmati hasilnya sekarang.

But like every finale, that means something is ending.

Say goodbye to labwork, journals, reports and lecturers.

Say goodbye to your classrooms, libraries and cafetaria.

Say goodbye to afternoon basketball games, lumpia basah and extracurricular activities.

Say goodbye to lonely nights in the dorm, unrequited feelings and old lovers.

Good luck, Grads, the world is waiting for you. Have a nice day!

Share

Tentang Pasangan

April 2nd, 2012 § 1 comment § permalink

Menarik ya ternyata.

Ketika kita melihat sebuah pasangan, kita seperti melihat satu orang. Kita mengamati karakternya, gerak geriknya, hal-hal yang mereka lakukan, sama kayak kita mengamati sebuah individu. Suka ngerasa gak sih kalo sebuah pasangan itu lama-lama kayak satu orang?

Sama juga kalo udah putus. Ketika putus, orang itu menjadi individu yang berbeda.Karakternya berubah, hal-hal yang dilakukan udah gak sama.

Lalu ketika orang ini punya pacar baru, pasangan baru ini akan membentuk individu baru dengan karakter baru.

Dan semua ini terpikirkan ketika sedang melihat album foto pasangan yang sudah putus (hint: not me).

Share

Tentang Demonstrasi

March 30th, 2012 § 0 comments § permalink

“Kukira negeri kita bukan seperti yang kamu bilang, mesin yang menindas, melainkan sesuatu yang penuh ketidakpastian di mana hukum berayun-ayun seperti bandul jam: di satu sisi ada ketidakefektifan atau mungkin keengganan–terserah kamu mau bilang apa, tapi orang suka menyebutnya “kebijaksanaan”, di tengah-tengah ada “penegakan hukum”, dan sisi yang lain ada “kelewatan” atau “over acting“.” -Ayu Utami, Saman

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah Indonesia saat ini adalah pemerintah yang tidak tegas. Undang-undang boleh banyak, rancangan masih banyak mengantri menunggu disahkan, tapi eksekusinya? Sebagai pengamat, saya tidak tahu pasti di mana semuanya bisa salah. Undang-undang ambigu, aparat hukum yang makan gaji buta, masyarakat yang doyan sogok. Apapun yang terjadi, hukum berlangsung dengan ‘berayun-ayun’, kadang keras kadang lembek, dan pada akhirnya secara norma tidak berlaku lagi di masyarakat.

Pembatasan subsidi BBM juga tidak jauh dari ini. Sudah seyogyanya masyarakat mengeluh karena pembatasan subsidi BBM. Hal tersebut terjadi karena ketidaktegasan pemerintah sendiri. Bagaimana masyarakat menengah ke atas bisa menikmati Premium itu juga karena karyawan SPBU tidak menegaskan hukum tersebut bukan? Bukan salah mereka yang seenaknya membeli Premium padahal harusnya beli Pertamax. Manusia itu pada dasarnya oportunis dan mau enak.

A government afraid of its citizens is democracy. Citizens afraid of government is tyranny!” -Thomas Jefferson

Kenapa sih harus demonstrasi? Kenapa bukan gerakan horizontal seperti pengabdian masyarakat?

Bukan, bukan berarti gerakan horizontal itu tidak penting. “Mendidik adalah kewajiban setiap orang terdidik” kata Bapak Anies Baswedan. Sebagai orang terdidik, kita tetap memiliki kewajiban pada masyarakat. Tak ada salahnya membangun desa, sekolah, sociopreneurship dan sebagainya. Semua kegiatan yang bermanfaat dan memberikan dampak baik itu tidak akan pernah salah.

Sayangnya, sejarah mencatat bahwa revolusi sebuah negara paling banyak terjadi setelah adanya gerakan vertikal. Jika kaum Israel tidak melarikan diri dari Mesir dulu, mungkin saat ini hidup mereka tetap sengsara. Jika Marie Antoinette tidak dipenggal, Perancis tidak akan sejahtera seperti sekarang. Jika tidak ada Revolusi Amerika, mungkin sekarang negara adikuasa di dunia adalah Cina. Jika kejadian Mei 1998 tidak terjadi, mungkin saat ini kita sedang menikmati Orde Baru part II.

Menurut Napoleon Bonaparte, salah satu penggerak manusia adalah rasa takut. Demonstrasi menimbulkan rasa takut pada pemerintah; takut digulingkan, takut tidak dipercaya, takut dicabut nyawanya. Rasa takut inilah yang membawa mereka pada titik baliknya, lalu berubah.

Dewasa ini, banyak yang mencemooh kegiatan demonstrasi. Tapi apakah kalian akan tinggal diam, melihat semua karya yang kalian ciptakan untuk negeri ini, tidak dihiraukan dan dibiarkan terbengkalai?

Gerakan vertikal memang selalu dihiasi oleh anarkisme. Tapi pada sebuah pemerintahan yang tidak tentu arahnya, tidak adakah korban jiwa yang dihasilkannya? Semua ada baik buruknya. Terkadang langkah yang ekstrim pun bisa menjadi solusi.

Share