RSS
 

Rekayasa Genetik: Pro dan Kontra

30 Apr

Rekayasa Genetik adalah proses manipulasi langsung genom suatu organisme yang memanfaatkan teknologi DNA modern. Proses ini melibatkan DNA asing (DNA rekombinan), gen sintetis yang dimasukkan ke organisme yang akan dituju menggunakan suatu vektor, micro-injection, macro injection, atau micro-encapsulation.Selain itu,rekayasa genetik juga dapat dilakukan denganmengubah susunan rantai DNA suatu organisme. Rekayasa genetik tidak membutuhkan metode genetika klasik, namun metode pembiakan tradisional masih tetap digunakan.

Perkembangan rekayasa genetik tak lepas dari perkembangan ilmu genetika. Setelah struktur DNA dipublikasikan pada 1953 oleh F. H. C. Crick dan J. D. Watson, dua puluh tahun kemudian,ilmuwan telah berhasil menerapkan teknologi dari DNA Rekombinan, yaitu kloning. Pada 1973, kloning dilaksanakan pada bakteri Escherichia coli, dan tahun berikutnya dilakukan ke tikus, kemudian tanaman tembakau menjadi tanaman yang pertama kali mengalami rekayasa genetik, yaitu pada tahun 1983. Manusia mulai menyadari manfaat dari rekayasa genetik, dan kemudian merekayasa bakteri yang dapat menciptakan insulin, dan mulai dikomersilkan pada 1982.Pada tahap berikutnya, dunia mulai dilanda kekhawatiran tentang kekeringan dan menurunnya suplai makanan.

Crop Design - The fine art of gene discovery

Gambar 1: Padi yang dimodifikasi secara genetis di dalam percobaan

Maka beberapa ilmuwan mulai memanfaatkan rekayasa genetik untuk menghasilkan makanan, dan makanan ini mulai beredar pada 1994 (Flavr Savr) dan 1996 (Roundup Ready). Bahkan, setelah lahirnya domba Dolly yang merupakan hewan hasil kloning, muncul wacana untuk membuat klon manusia, namun ide ini ditentang karena ada berbagai masalah yang dikhawatirkan akan timbul karenanya.

Dengan mengubah susunan beberapa rantai DNA serta menyambungkannya dengan rantai DNA yang lain, manusia dapat mendapatkan berbagai keuntungan. Salah satunya, melalui rekayasa genetik, manusia kini bisa memanfaatkan terapi gen untuk menyembuhkan penyakit dengan mengubah atau menghilangkan gen-gen yang rusak, atau juga bisa dilakukan dengan memperkenalkan gen terapi yang dapat melawan penyakit tersebut. Beberapa penyakit, seperti Huntington’s disease, ALS (Lou Gehrig’s disease), serta cystic fibrosis(kelainan genetis yang berpengaruh terhadap paru-paru dan sistem pencernaan) dan berbagai penyakit menurun lainnya disebabkan oleh kerusakan gen. Diharapkan dengan adanya rekayasa genetik, nantinya penyakit-penyakit tersebut akan dapat disembuhkan.Namun meskipun beberapa hewan telah sukses menjalani terapi ini, terapi ini masih ilegal untuk dilakukan terhadap manusia.

Keuntungan lain yang didapatkan, ada di dunia farmasi. Kini, hormon yang dibutuhkan oleh manusia, bisa diperbanyak menggunakan bakteri. Salah satu contoh nyatanya adalah insulin dan Human Growth Hormone (HGH). Dulu manusia mendapatkan hormon insulin (hormon yang sangat diperlukan, terutama oleh penderita Diabetes Mellitus) dengan mengekstrak bagian tertentu dari sapi atau domba (bahkan untuk HGH harus diambil dari bangkai manusia), sehingga harganya sangat mahal. Namun kini, hormon tersebut dapat didapatkan dengan mudah, karena jika DNA penghasil hormon tersebut dikaitkan pada DNA bakteri yang cepat membelah diri, maka insulin yang akan dihasilkanpun semakin banyak dan terus digandakan.

Kemudian keuntungan lain yang mungkin sangat diperlukan di masa kini, adalah manusia bisa mengatur suatu produk makanan yang dihasilkan hewan/tumbuhan, menjadi seperti yang diinginkan. Misalnya, suatu tomat dapat di//atur gen-nya supaya waktu simpannya bisa menjadi lebih lama namun tanpa menggunakan bahan tambahan makanan. Contoh makanan yang merupakan produk rekayasa genetik adalah produk Flavr Savr yang diproduksi oleh Calgene pada tahun 1994. Selain memperbaiki kualitas makanan, ada juga penggunaan gen racun dari Bacillus thuringiensis (Bt) pada tanaman pangan. Namun, racun ini hanya akan bekerja pada serangga, tidak pada manusia, sehingga aman dikonsumsi manusia dan tanaman akan kebal terhadap serangga.

XA-21 experiment

Gambar 2: Pengembangan padi transgenik oleh IRRI

Pada tahun 2011, ilmuwan dari Argentina dan China, secara terpisah telah berhasil memasukkan gen yang berfungsi untuk menghasilkan Air Susu Ibu (ASI) ke sapi. Program yang masih berada dalam tahap penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan susu yang serupa dengan ASI, bahkan lebih bernutrisi.Para peneliti China, yang telah berhasil memasukkan gen manusia ke 300 ekor sapi, berharap bahwa susu tersebut sudah dapat dijual 3 tahun kemudian. Sementara itu, para pekerja di peternakan melaporkan bahwa susu yang dihasilkan sapi tersebut lebih manis dan rasanya ‘lebih kuat’ daripada susu sapi biasa. China, sebagai negara yang mendukung rekayasa genetik (terutama untuk memberi makan jumlah penduduknya yang sangat besar), sebelumnya telah berhasil mengembangkan sapi yang resisten terhadap penyakit sapi gila, serta sapi yang telah direkayasa sehingga daging yang dihasilkan menjadi lebih bernutrisi.

Meskipun kelihatannya rekayasa genetik dapat menjadi jawaban atas berbagai permasalahan manusia, rekayasa ini sendiri memiliki berbagai permasalahan. Semakin lama, para ilmuwan menemukan bahwa organisme hasil rekayasa genetik memiliki berbagai cacat dan kekurangan, serta dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah terkait dengan etika, lingkungan dan agama. Selain itu, para ilmuwan juga menemukan fakta bahwa fungsi gen tidak sesederhana yang diperkirakan sebelumnya.

Mari coba kita lihat dari sudut pandang agama. Kita semua tahu, agama Islam melarang penganutnya memakan babi, tapi memakan sapi diperbolehkan. Bagaimana jika seekor sapi, gennya dicampur dengan gen dari babi untuk mendapat suatu kualitas tertentu, jadi meskipun secara fisik ia adalah sapi, di dalam tubuhnya terdapat gen babi. Apakah hewan ini diharamkan atau dihalalkan? Tentunya hal ini akan menyebabkan benturan di antara ilmuwan dan para pemuka agama.

Produk makanan hasil rekayasa genetikpun tak luput dari kesalahan dan kegagalan. Pada tahun 1994, kedelai jenis Roundup Ready yang merupakan hasil rekayasa genetik telah ditanam di Amerika Serikat, dan telah mulai dikomersialkan pada tahun 1996. Namun, baru pada tahun 2000, para ilmuwan menemukan temuan yang mengejutkan pada kedelai ini. Pada gen yang disisipkan di gen Roundup Ready ditemukan potongan rangkaian DNA yang tidak dikenal. Dari mana potongan tersebut berasal atau apa gunanya, tidak ada yang tahu. Masih ada banyak lagi skandal dan kasus yang berkaitan dengan produk makanan hasil rekayasa genetik, seperti Starlink Scandal pada tahun 2000, Mexican Maize Scandal pada 2001, dan Prodigen Pharm Corn Scandal pada 2002.

Meskipun sebagian orang berpendapat bahwa dengan rekayasa genetik, manusia bisa menghasilkan lebih banyak makanan, sehingga dapat mengatasi kelaparan, tidak semua orang setuju dengan pernyataan ini. Ketika rekayasa genetik diperkenalkan di sebagian negara berkembang, ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan, karena perilaku tanaman-tanaman tersebut yang cukup sulit diprediksi. Contohnya, kegagalan masif dari tanaman yang diberi gen Bt di India, yang terjadi pada tahun 2002. Bahkan, menurut laporan dari ActionAid, menunjukkan bahwa ternyata sangat sedikit dari hasil penelitian rekayasa genetik yang benar-benar ditujukan untuk mengembangkan bibit yang dapat digunakan oleh para petani di negara miskin. UN Development Programme juga menyebutkan bahwa “teknologi dibuat untuk memenuhi tekanan dari pasar, bukan untuk orang-orang miskin, yang tidak punya kemampuan untuk membeli.

Kemudian, dalam bidang kesehatan, meskipun beberapa obat atau hormon dapat didapatkan dengan lebih mudah, banyak obat-obat yang masih belum bisa dipastikan efek sampingnya (misal, apakah insulin yang dihasilkan bakteri berbeda dengan yang dihasilkan manusia?) dan bila obat ini tersebar dalam lingkungan masyarakat maka akan menyebabkan penyakit yang bisa menyebar tidak hanya dalam suatu kota tertentu, namun juga dunia. Pada kasus Prodigen Pharm Corn Scandal, kedelai yang akan dimanfaatkan untuk konsumsi manusia, ternyata terkontaminasi dengan gen dari jagung yang mengandung vaksin untuk sakit perut pada babi.

Masalah lingkungan dapat pula disebabkan oleh modifikasi gen. Dalam pemberantas hama seperti Bt misalnya, mereka akan menyebabkan serangga mati namun jika ada beberapa serangga yang tidak mati karena racun Bt karena ada anomali gen yang menyebabkan ia kebal, maka ia dapat bertahan hidup dan kemudian menurunkan anomali gen tersebut ke anak-anaknya, sehingga lama kelamaan semua serangga akan kebal terhadap racun Bt. Hal ini akan menyebabkan pemberantas hama harus terus menerus dikembangkan dan akan menyebabkan efek samping pada alam yang makin lama makin parah.Data yang diperoleh dari US Department of Agriculture menunjukkan bahwa penggunaan herbisida dan pestisida meningkat pada penggunaan kedelai Roundup Ready. Hal ini dikarenakan tanaman dapat memiliki kekebalan/resisten terhadap herbisida dan pestisida. Temuan di Kanada menyatakan bahwa persilangan antara gen hasil rekayasa dan gen alami dari tanaman oilseed rape menyebabkan tanaman itu memiliki kekebalan terhadap 3 jenis herbisida yang berbeda.

Greenpeace shakes biotechnology meet with demand for GE-free crops

Gambar 3: Aksi protes Greenpeace terhadap beras hasil rekayasa genetik. Disini digambarkan beras hasil rekayasa sebagai ‘bom waktu’ yang siap menghancurkan lingkungan.

Masalah lain yang cukup mengkhawatirkan adalah bahwa sifat gen hasil rekayasa genetik yang dominan, akan menyebabkan tanaman alami beserta keragamannya akan semakin terpinggirkan akibat kalah bersaing dengan gen hasil rekayasa. Pada tahun 2002, para petani organik di Saskatchewan, Kanada, menuntut perusahaan rekayasa genetik karena akibat menyebarnya bibit hasil rekayasa genetik, sudah tidak memungkinkan lagi untuk menanam biji minyak lobak alami di Kanada.

Modifikasi gen pada dasarnya tidak sesuai dengan etika dan perikemanusiaan apabila digunakan pada manusia. Hal ini akan menyebabkan manusia merasa seperti Tuhan yang dapat menentukan keturunan mereka masing-masing. Hal ini akan menyebabkan manusia menjadi egois dan pada akhirnya tidak lagi peduli akan keberadaan lingkungan sekitar mereka lagi. Selain itu, orang tua yang ingin mengatur gen anaknya supaya dapat memiliki kualitas tertentu (berbadan tinggi, mata biru, dsb.), bisa dibilang seolah-olah sudah menggariskan nasib anaknya. Namun hingga kini, masalah ini masih menjadi perdebatan yang luas di masyarakat.

genetic engineering cartoon

Gambar 4: Nobody’s perfect, but we’re working in it: Akankah manusia bisa menjadi makhluk sempurna dengan adanya rekayasa genetik?

Selain modifikasi gen, kloning juga memiliki banyak masalah etika yang lain, seperti misalnya bagaimana masalah identitas dari seorang manusia hasil klon, karena makhluk hidup hasil kloning memiliki kemiripan dengan kembarannya, dan kemiripan ini tidak hanya kemiripan fisik, namun sampai ke kemiripan biologis (DNA), karena pada dasarnya, kloning adalah membuat kopian dari suatu makhluk hidup. Dan dari hasil kloning beberapa hewan sebelumnya, ditemukan bahwa sebagian besar hewan hasil kloning memiliki berbagai abnormalitas dan penyakit serius, bahkan sebagian umurnya tak begitu panjang.

Meet my twin brother  :-)

Gambar 5: Ketidakjelasan identitas hasil klon: Mana diantara kedua orang yang merupakan hasil klon?

Pada akhirnya, adanya beberapa kekurangan ini membuktikan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi manusia tidak selalu membawa kebaikan bagi dunia ini. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan dampaknya sebelum suatu teknologi benar-benar diterapkan. Daya pikir manusia selalu akan berkembang, namun jangan sampai manusia kehilangan etika dan kesadaran terhadap makhluk hidup lain yang ada di sekitarnya.

Sumber:

Chronology of Scientific and Genetic Engineering. Greenpeace: 2003

http://www.biology-online.org/2/13_genetic_engineering.htm

http://stanfordreview.org/article/arguing-and-against-genetic-engineering

http://allaboutpopularissues.org/benefits-of-human-genetic-engineering-faq.htm

http://www.guardian.co.uk/zurichfuturology/story/0,,1920337,00.html

 

 
 

Leave a Reply

 
*