Kemarin (4 Agustus 2019), Bandung dan beberapa daerah lain di Indonesia mengalami pemadaman listrik yang cukup lama. Di rumah saya, listrik mati sejak sekitar jam 11.30 hingga menjelang tengah malam. Di rumah ada lampu darurat, tapi kami lupa mengisi muatannya, jadi nyalanya tidak bertahan lama. Untungnya ada sepeda listrik. Empat LED putih di bagian depan sepeda menyala selama sekitar 5 jam, cukup untuk menerangi ruang tengah.

Jelas bahwa sepeda listrik itu dibeli bukan untuk jadi lampu darurat saat mati lampu. Alasan utama membelinya adalah karena saya ingin sesekali bersepeda jarak jauh, misalnya ke kampus (sekitar 16 km kalau ke kampus di Bandung, 7 km kalau ke kampus Jatinangor), dan pulangnya bisa nanjak dari jalan raya ke rumah dengan lebih ringan. Sebenarnya di rumah sudah ada sepeda gunung, tapi kaki saya belum sanggup menghasilkan torsi yang cukup untuk nanjak dari jalan raya cinunuk ke rumah (naik dari 700mdpl ke 900 mdpl dalam jarak tempuh sekitar 1200 m). Betul, solusi yang memang lebih tepat adalah latihan, bukan beli sepeda baru.

Sepeda listrik itu bernama Selis EOI (Enery of Indonesia), sepeda listrik buatan Indonesia yang bentuknya masih mirip sepeda (nggak mirip motor) dan (mungkin) paling murah. Spesifikasi lengkap sepeda itu ada di sini. Ok, bagaimana rasanya pakai Selis EOI? Berikut komentar tentang beberapa hal yang menurut saya penting:

Bobot. Sepeda ini jauh lebih berat dibanding sepeda gunung. Kalau pembaca pernah naik sepeda onthel, maka saya bisa bilang bahwa sepeda ini mungkin lebih berat dibanding sepeda onthel. Bobot sepeda ini berasal dari rangka, komponen motor DC dan juga baterai. Bobot yang besar memungkinkan sepeda melaju stabil ketika tuas “gas” diputar. Bagaimana kalau pas habis baterai? Jelas Anda harus mengeluarkan tenaga ekstra. Motor DC yang melekat di poros roda belakang akan menambah momen inersia roda, sehingga butuh torsi yang besar pula untuk memutar roda, walhasil pedal menjadi sangat berat untuk digowes.

Baterai. Baterai sepeda ini disimpan di bawah sadel, penempatannya sama sekali tidak mengganggu kenyamanan bersepeda. Baterai dilengkapi dengan empat LED merah sebagai indikator banyaknya muatan yang tersimpan. Kapasitasnya cukup besar (5,2 Ah. Setara berapa ‘butir’ elektron itu?). Saya isi penuh di kampus Bandung (4 LED indikator menyala), sampai rumah masih masih menyala 2 LED (jadi masih tersisa sekitar 26-50 persen dari muatan totalnya). Kemarin, waktu dijadikan lampu darurat, LED depan menyala sekitar 5 jam dan muatan tersisa >75% (3 LED masih menyala). Karena masih baru, sejauh ini belum ada masalah serius terkait baterai.

Torsi dari motor DC. Sebenarnya, ini menjadi aspek utama yang mestinya saya hitung dulu sebelum membeli sepeda ini, karena torsi dari motor DC itulah yang membantu kita mengayuh. Misalnya sepeda menaiki tanjakan dengan sudut elevasi \theta. Anggap daya motor sepenuhnya digunakan untuk menaikkan energi potensial gravitasi sistem sepeda+pengendara. Jika massa total sepeda dan pengendara adalah M dan sepeda bergerak dengan laju v, maka daya yang diperlukan untuk menanjak adalah Mgv\sin\theta. Daya motor DC yang dipakai di sepeda ini adalah sekitar 180 watt. Jika M=120 kg, v= 1 m/s, g=10 m/s^2, maka sudut tanjakan maksimum adalah sekitar 8,6 derajat. Tengok lagi paragraf kedua, kemiringan rata-rata dari jalan raya ke rumah saya adalah atan(200/1200) atau sekitar 9,46 derajat! Jadi, kalau lihat dari torsinya sebenarnya sepeda ini tidak cocok untuk saya beli.

Laju. Produsen mengklaim laju maksimum sepeda mencapai 20 km/jam. Tapi tentu kita tidak bisa menerimanya mentah-mentah, karena laju maksimum sepeda akan bergantung berapa massa pengendaranya. Kapan-kapan kita hitung eksplisit deh, bagaimana hubungan antara laju maksimum sepeda  dengan massa pengedara.

Posisi berkendara. Sangat baik! Pinggang dan punggung tidak terasa pegal walaupun bersepeda sejauh 2×16 km.

Suspensi. Ban terbuat dari busa padat, rangka dan fork depan rigid, sadel kurang empuk. Kena kerikil pun terasa goncangannya.

Kesimpulan? Sepeda ini cocok digunakan di jalanan yang halus dan rata.