Sebelumnya kenalin dulu gw Athur, mahasiswa ITB jurusan Sistem dan Teknologi Informasi (salah satu dari enam prodi STEI) angkatan 2016.

Jawaban singkatnya menantang. Emang iya? Kok bisa ngomong gitu? Apa buktinya?

Santai dulu bro, tapi memang kuliah di ITB itu masuknya susah, keluarnya juga susah. Hal ini disebabkan lingkungan dari ITB, input (maba2), dan ekspektasi output yang berkualitas tinggi. Makanya bisa seperti itu.

Mungkin, biar bisa kegambar deskripsi kuliah di STEI ITB kita bahas setiap elemen-elemen yang ada yuk, satu per satu.

  1. Sistem dan Kurikulum. Di ITB acuan akademiknya banyak yang bertumpu ke MIT salah satunya konsep Tahun Pertama Bersama (TPB). Yaitu adanya satu tahun untuk waktu adaptasi (katanya), waktu matrikulasi, dan penyamarataan standar fundamental sciences (contoh kalkulus, fisika, kimia). Masa ini merupakan mimpi buruk bagi kalian (yang sengaja milih STEI biar teknik tp nggak belajar kimia or fisika) karena pelajaran IPA di SMA will be intensifies! Karena beda sama guru, most dosen don’t care sama mahasiswanya. So goodluck brosis!
  2. Bisa ngoding dan programming mikrokontroller bakal dianggap dewa disini. Meskipun memang STEI di peruntukan untuk pengembangan teknologi namun nama nya masih pemula jadi kebanyakan belum punya basic ngoding disini. Makanya bisa ngoding dikit aja misal html or php dah kelihatan dewa disini. Tapi bukan berarti gak ada yg bisa justru ada dan biasanya mau ngajarin kita asal ada balas budi.
  3. Perkumpulan nerd, wibu, freaks, dan young leaders. Berhubung fakultas ini terbilang paling tinggi passing gradenya di ITB maka gak jarang kita akan nemu berbagai jenis orang jenius. Mulai dari yang normal, baik hati, yang suka mimpin dan aktivis, sampai yang wibu dan badboy. (karena disini being wibu is one approach to have larger networks jadi sometimes they do look cool). Jadi bisa dibilang seperti miniatur Indonesia tapi didalamnya orang2 super pintar (gak selalu pinter kuliah tp berbagai macam dari bentuk pinter). Upsnya: temen2 belajar empati dan manage orang yg beragam, downnya: karena pinter2 jadi azas manfaat berlaku kalau kita gk ngasih balas budi don’t hope they will help us.
  4. Dosen2 have high expectations. Seperti yang sempet gw sampaikan diatas terkait sistem di sini dosen-dosen memiliki high expectation atas skill2 dan ilmu yg kita miliki. Ada keuntungan dan kerugian dari hal ini tentunya. Keuntungannya adalah kita jadi makin tertantang buat belajar hal baru dan terbiasa belajar secara cepat ringkas dan komprehensif. Kerugiannya tentunya toleransi yg rendah atas kesalahan. Jadi kalau gak deliver tugas dengan spek standar yg ditetapkan dosen siap2 dapet BC atau C. Oh iya dan berbangga lah ketika lulus matkul bukan ketika dapet nilai A, karena mungkin kalian gak akan pernah bangga kalau gitu di itb. Saking susahnya dapet A kecuali kalau anda dewa di STEI atau ada yg imba di kelompok anda.
  5. Kaderisasi nomor satu . Mungkin pernah lihat dari zenius kalau di ITB lebih banyak mahasiswa yang aktif di bidang pengkaderan (unit, hmj, bem or KM, kongress,etc) dibanding karya dan sosial (misal lomba, paper, workshop, dan kegiatan pengmas). Di ITB memang sangat mendewakan organisasi. Karena disini wadah “aktualisasi diri” seorang mahasiswa. Dan bisa menebar koneksi. Meskipun gw yang di tingkat 3 dan sudah pernah aktif di bidang ini dan karya malah ngerasain lebih banyak manfaat di karya doang. Jadi mungkin kalian bakal melihat kakak tingkat (kating), pembina, bahkan alumni yang dateng cuman buat ngekader anak baru. Tapi emang kaderisasi terbukti membuat orang jadi kritis sekaligus teriris karena menahan stress wkwkk.
  6. Kebanyakan tugas berbentuk kerja kelompok. Jadi di ITB bakal banyak banget waktu yang dihabiskan bareng temen2 kelompok buat ngerjain tugas. Itu juga sebabnya nilai anda sangat ditentukan oleh dosen dan teman kelompok anda (sehingga networking is a mandatory in here)

Sumber: https://www.danifin.web.id