Skip to content

Mengapa Rasisme Selalu Ada?

2014 June 12
by Rima Putri Agustina

Pada tanggal 6-11 April 2014 lalu, saya dan teman-teman melakukan survey melalui media sosial online mengenai perilaku rasisme. Respondenden dari survey tersebut terdiri dari 19 orang laki-laki dan 40 orang perempuan, dengan kelompok umur dominan berkisar diantara 20-24 tahun. Berikut adalah beberapa jawaban yang terkumpul dari survey tersebut:

gambar-3

gambar-4

Dari survey tersebut, sekitar 63% responden menyatakan bahwa membeda-bedakan manusia–salah satunya berdasarkan ras–adalah tindakan yang wajar. Sekitar 86% responden menyatakan bahwa semua ras manusia memiliki derajat yang sama. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa sebagian orang menganggap pembeda-bedaan manusia adalah wajar, namun bukan berarti ada ras yang lebih posisinya yang lebih tinggi dibanding yang lain.

Wajarkah membeda-bedakan manusia satu sama lain? Menurut saya, wajar. Asalkan definisi “beda” yang digunakan mengacu pada variasi fisik saja, bukan hierarki yang didasarkan pada variasi fisik. Variasi fisik manusia merupakan suatu fenomena alami yang kasat mata, sehingga wajar saja jika kita mengelompokkan manusia berdasarkan sifat-sifat fisik yang dimilikinya. Selain mempermudah hal-hal linguistik (seperti misalnya penggunaan istilah tertentu untuk menyebut suatu ras), pengelompokan manusia berdasarkan ras bisa jadi sangat bermanfaat, misalnya informasi tentang Rhesus darah.

Namun pada praktiknya, sayangnya pengelompokan berdasarkan ras ini dibarengi dengan tindakan-tindakan yang merugikan ras tertentu, seolah-olah ada ras yang memiliki hierarki lebih tinggi dari ras lain. Cara pandang ini dikenal dengan paham “rasisme” atau “rasialisme.”

top

(sumber foto)

Menurut KBBI, rasisme atau rasialisme didefinisikan sebagai (1) prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; (2) paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yag paling unggul.

Menurut kamus Merriam-Webster, rasisme adalah paham bahwa ras adalah penentu utama dari sifat dan kemampuan manusia, dan bahwa adanya perbedaan antar ras menyebabkan adanya keunggulan pada ras tertentu.

Menurut The FreeDictionary,  rasisme adalah pertimbangan yang didasarkan pada ras dalam penentuan kebijakan atau interpretasi suatu fenomena.

Apakah rasisme alamiah?

Pada sebuah artikel, Robert Wright menuliskan bahwa hampir tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa manusia terlahir dengan sifat rasis. Berdasarkan sejarah evolusi, kemungkinan besar kelompok-kelompok manusia dengan ras berbeda tidak pernah tinggal dalam satu lokasi yang sama dan berebut sumber daya. Oleh karena itu manusia yang hidup saat ini tidak mewarisi sifat rasis sebagai mekanisme pertahanan diri. Namun manusia memiliki sifat grupis (groupist) secara alamiah. Adaptasi evolusi yang diturunkan pada manusia membuat manusia dengan mudah menentukan kelompok  manusia lain sebagai musuh, yang mana patut disakiti atau dibunuh. Penentuan apakah suatu kelompok dikatakan sebagai musuh dari suatu kelompok lain dilakukan sesuai kebutuhan. Oleh karena itu lah Wright semakin merasa mantap bahwa rasisme merupakan sebuah konstruksi sosial (Wright, 2012).

Jika semua ras dikatakan sejajar, mengapa orang masih saja berperilaku rasis? Berikut adalah faktor-faktor yang menunjang suburnya paham ini di masyarakat.

1. Kita terbiasa mengadopsi pendapat orang lain. Perilaku seseorang terbentuk sejak usia dini. Ketika ada anggota keluarga atau teman yang mengeluarkan pendapat yang bersifat rasis, seseorang akan cenderung mengadopsi pendapat tersebut. Mungkin inilah yang membuat stereotipe tentang ras-ras atau suku-suku tertentu ada di masyarakat dalam waktu yang lama.

2. Kita cenderung bergaul dengan orang dari kelompok yang sama. Kelompok yang dimaksud adalah kumpulan orang yang memiliki kesamaan latar belakang, budaya, ketertarikan, dan lain-lain. Keterikatan ini menciptakan “sense of belonging” yang penting dalam kehidupan bersosial, namun juga memiliki sisi negatif yaitu menciptakan jarak antar kelompok. Dalam waktu yang lama, hal ini akan menciptakan perasaan bahwa kelompok sendiri lebih baik dari pada kelompok lain.

3. Kita cenderung cepat menilai seseorang. Kita sering kali melabeli seseorang menurut persepsi kita atau menurut stereotipe yang beredar. “Dari pakaiannya, pasti dia suka musik metal,” atau “dia sekolah di Universitas X, pasti dia kaya.” Atau mungkin “dia orang Padang, pasti jago berdagang,” atau “sebagai orang Manado, dia pasti suka berpesta.” Parahnya, stereotipe yang lebih berkembang biasanya merupakan stereotipe negatif seperti malas, pelit, pemarah, dan lain-lain. Padalah setiap orang adalah unik. Kita tidak berhak melabeli seseorang atas dasar asumsi pribadi dan stereotipe, tanpa kita benar-benar mengenal mereka.

4. Kita cenderung menyalahkan orang lain atas masalah yang kita hadapi. Ketika kita marah dan merasa frustrasi, kita cenderung melempar kesalahan kepada orang lain. Begitupun kehidupan antar kelompok dalam masyarakat. Orang-orang yang terlihat berbeda dengan kita bisa menjadi sasaran empuk pelemparan kesalahan. Misalnya ketika muncul pernyataan “para pendatang dari pulau itu merebut lapangan pekerjaan kami,” mungkin saja hal itu terjadi karena para pendatang tersebut memiliki etos kerja yang lebih baik dibanding orang lokal, sehingga lebih disukai pemberi kerja.

 ***

Rasisme tidak serta merta muncul pada diri kita ketika kita lahir. Tapi kita lahir dengan kenderungan untuk mengklasifikasikan manusia lain ke dalam kelompok-kelompok, bukan sekedar sebagai pembeda, tetapi juga sebagai media yang membantu kita memutuskan tindakan yang akan kita lakukan kepada anggota-anggota kelompok tersebut. Manusia secara alamiah berpotensi melakukan diskriminasi terhadap ras tertentu, dan potensi ini sangat ditunjang oleh struktur kemasyarakatan yang berkembang dewasa ini. Namun bukan berarti potensi ini tidak bisa ditekan. Dengan pendidikan yang mumpuni, kita bisa menciptakan masyarakat yang bebas rasis. Sifat alamiah kita bukanlah takdir, melainkan sebuah tantangan untuk dikendalikan.

quote 1 quote2 quote3 quote4 quote5

PUSTAKA

Wright, R. 2012. New Evidence That Racism Isn’t ‘Natural.’ The Atlantic. http://www.theatlantic.com/health/archive/2012/10/new-evidence-that-racism-isnt-natural/263785/ Diakses 6 Mei 2014.

http://www.kbbi.web.id/rasialisme

http://www.merriam-webster.com/dictionary/racism

http://www.thefreedictionary.com/racism

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS