Dec 122010
 

Beberapa tahun lewat, saya jalan-jalan ke Surabaya dan Bali bareng teman-teman dekat. Berhubung status masih mahasiswa, kita berusaha mencari alat transportasi dan juga penginapan yang murah. Perjalanan nyaris tanpa rencana, jadi kami tidak tahu jam kereta keberangkatan kereta. Pokoknya perhitungan termurah yang akan di ambil.

Saat pulang, terdamparlah kami di stasiun Gubeng, Surabaya. Kami tiba terlalu awal, loket belum dibuka, loket baru dibuka sekitar 4-5 jam kemudian. Tapi di loket sudah ada beberapa orang yang mengantri, dan akhirnya diputuskan untuk menunggu di depan loket, sembari duduk dan tertidur.

Sekitar 1 jam sebelum loket dibuka, di belakang kami antrian sudah mulai memanjang. Dan saya sendiri hilang kantuknya, dan mulai bersiap mengantri.

Menjelang loket dibuka antrian sudah makin panjang. Sekitar 10-15 menit sebelum di buka, di kiri-kanan kami orang juga sudah mulai banyak berkumpul.  Wah para calo rupanya, atau orang yang tidak mau antri.

Dan benar saat loket dibuka orang-orang itu ikutan mendesak mau beli tiket, tanpa peduli orang-orang di belakangku. Benar-benar menyebalkan.

Ketika saya di luar negeri, mengantri sudah menjadi bagian dari budaya mereka.  Kata teman bule saya, ia akan merasa bersalah jika dia tidak mengantri. Dan tercengang dia, ketika saya menceritakan soal antrian saya di stasiun Gubeng itu.

Mengantri bagi mereka sudah semacam kewajiban. Sama wajibnya buat orang Indonesia kalau disapa sebaiknya tersenyum, kalau tidak mau di bilang sombong.

Kalau ada toko sedang buka discount besar-besaran, tidak jarang orang mengantri di depan toko sehari sebelumnya. Mereka mau dan rela berkorban waktu, karena mereka akan mendapat jaminan untuk mendapatkan discount itu, jika mereka di antrian terdepan.

Bayangkan kalau model antriannya seperti kasus di stasiun kereta itu. Ngapain capai-capai mengantri kalau bisa ambil jalan pintas.

Walau akhir-akhir ini, saya temui banyak orang sudah mulai terbiasa untuk mengantri, tapi masih di beberapa tempat masih banyak yang malas untuk mengantri.

Kayaknya cuma ada satu antrian yang orang tidak mau paling depan, padahal setiap orang pasti akan masuk antrian itu.  Antrian apa itu?

“(: ɹnqnʞ ƃuɐıl ǝʞ uɐıɹʇuɐ”

Share

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)