Dec 182010
 

Pagi ini saya dapat link suatu blog dari salah seorang teman di facebook.  Di blog itu, diceritakan bagaimana seorang mahasiswa Indonesia menjadi kuli untuk mengangkat-angkat koper para anggota dewan yang kebetulan sedang studi banding dari Paris ke Berlin. Diceritakan juga bahwa si mahasiswa senang-senang saja karena ia mendapatkan uang saku, dan juga secara gratis ikut berjalan-jalan ke Berlin. Yang terpikir oleh saya adalah komentar dari si penulis blog, “Yg jd mslh buat gw, kok pekerjaannya maaf..hina bgt.”

Terlepas dari cerita-cerita tentang ‘kelakuan’ dari bapak/ibu anggota dewan yang sering tidak patut, saya merasa si penulis blog menyiratkan kalau pekerjaan kuli adalah pekerjaan hina. Mungkin perasaan saya salah, tapi kalau benar, maka saya rasa ini adalah  mental berpikir yang tidak benar.

Pekerjaan angkat-angkat alias kuli tentunya bukan pekerjaan yang hina. Banyak kategori pekerjaan yang lebih tepat dianggap hina, seperti menjual diri, ataupun pekerjaan yang melibatkan korupsi, kolusi atau nepotisme.

Tapi dari sisi lain, saya juga mengerti kenapa si penulis blog menuliskan ‘hina’. Pekerjaan ‘kuli’ di Indonesia memang pekerjaan yang biasa dilakukan oleh orang yang ‘kepepet’. Alias pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan otot, dan tidak perlu otak. Dengan kepadatan penduduk Indonesia yang luar biasa, orang berlomba-lomba untuk mencari ilmu dan mengasah otak. Sehingga ‘mereka’ yang tidak berkesempatan untuk mengasah otak, berakhir dengan pekerjaan yang menguras otot. Dan banyak orang akhirnya menganggap pekerjaan kuli adalah pekerjaan yang tidak layak atau bahkan ‘hina’.

Di negara maju, semua pekerjaan tidak dianggap rendah, asal mengikuti ketentuan yang berlaku.  Semua orang merasa sejajar, tidak perlu ada perbedaan karena tempat kerja yang berbeda.

Saya pernah mengenal seorang akuntan yang kaya raya, sehingga bisa memiliki satu gedung besar dan juga sebidang ladang anggur. Suatu sore mobilnya terjebak  lumpur di ladang anggurnya.  Dan ia terpaksa harus menginap di rumah kecil di ladangnya. Paginya, saat para pekerja di ladang anggurnya datang, ia ikutan kerja membantu memetik anggurnya, sambil menunggu lumpurnya mengering. Katanya lebih baik dia melakukan sesuatu daripada diam di rumah. Para pekerjanya yang tahu kalau ia ini boss mereka, dengan ‘biasa’nya menyapa si boss selayaknya teman biasa. Inti dari ceritanya ini, tidak ada pekerjaan yang hina, seseorang tidak perlu merasa lebih dari yang lain asal pekerjaan dilakukan dengan halal.

Di negara maju, tidaklah aneh seorang mahasiswa melakukan pekerjaan yang mengandalkan otot. Banyak para mahasiswa ini melakukan pekerjaan seperti mengantar koran, menjaga pom bensin, menjadi pelayan di restoran, atau bertugas mencuci piring di restoran. Banyak juga yang menjadi pemetik anggur, atau menjadi tukang sapu di supermarket.  Semua wajar dilakukan selama ada pembayaran yang wajar. Penduduk lokalpun banyak yang melakukan pekerjaan ini.  Dan mereka  tidak pernah membedakan seseorang dari jenis pekerjaannya. Silakan di konfirmasi kepada bapak-bapak dosen yang pernah merasakan menjadi mahasiswa  di negara maju.

Tapi memang banyak juga rekan-rekan yang lulusan luar negeri ini yang tidak menceritakan jenis pekerjaannya dulu. Mungkin karena tidak ingin dianggap ‘hina’ oleh rekan-rekannya yang tidak tahu bagaimana kehidupan di luar negeri. Nampaknya memang ‘mindset’ kita untuk pekerjaan ‘kuli’ ini perlu di ubah. Semua pekerjaan yang mengikuti norma yang berlaku adalah halal, dan tidak hina.

Yang hina adalah pekerjaan kantoran yang dilakukan oleh para pekerja berdasi tapi berlumpuran dengan korupsi ataupun kolusi. Termasuk hina juga  para anggota dewan yang katanya mewakili rakyat, tetapi berperilaku seolah menjadi penguasa atas rakyat. Dalam hal ini saya sepakat dengan  penulis blog itu yang intinya menceritakan perilaku anggota dewan ini.

Share

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)