Dec 242010
 

Majalah The Economist dalam edisi 16 Desember 2010, menerbitkan tulisan yang menceritakan bahwa program doktoral atau S3 bisa jadi hanya membuang-buang waktu saja.

Tulisan itu dimulai dari latar belakang seseorang mengambil program S3 (Doktor) yang di beberapa negara disebut juga PhD (Philosophy Doctor).  Beberapa hal di antaranya adalah kebutuhan untuk yang ingin mendalami karir di akademik dan juga keinginan untuk mendapatkan gaji yang lebih besar.

Diceritakan bahwa sebelum perang dunia kedua, sangat sedikit staf akademik di Amerika yang bergelar doktor. Tapi keadaaan itu berubah sejak 1945. Hingga pada tahun 1970, 1/3 jumlah mahasiswa dunia berada di Amerika. Dan setengahnya adalah mahasiswa S3. Dan sejak itu setiap tahun ada 64000 doktor yang di hasilkan Amerika. The Economist juga menuliskan bahwa sejak 1996, prosentase mahasiswa S3 ini tidak lagi didominasi Amerika, tapi di negera-negara seperti Meksiko, Protugis, Italia, Slovenia dan Jepang.

Saat ini di Amerika, the Economist memperkirakan telah terjadi kejenuhan lulusan S3, sehingga lulusannya mendapat bayaran yang hanya lebih tinggi sedikit daripada lulusan S2. Suatu studi di Inggris, menyebutkan bahwa seorang lulusan S1 mendapatkan gaji 14% lebih besar dari yang tidak lulus S1. Lulusan S2 mendapat 23% lebih besar, dan S3 mendapat 26% lebih besar. Untuk lulus S2 dapat dilakukan dengan hanya menjalani satu tahun pendidikan, sedangkan untuk lulus S3 dilakukan minimum 3-4 kali lebih  lama, tapi gaji yang diterima hanya 3% lebih besar dari S2.

The Economist juga memperkirakan bahwa universitas turut mengambil keuntungan dari ketersediaan mahasiswa S3 ini. Keuntungan itu dari dua sisi. Dari sudut riset, universitas mendapatkan keuntungan karena mahasiswa S3 umumnya bermotivasi tinggi, dan tentunya akan menaikkan jumlah publikasi dari pembimbingnya. Dari sudut ekonomi, universitas tidak perlu mengeluarkan biaya besar jika mahasiswa S3 ini diperbantukan untuk pengajaran di S1. Karena itu pihak universitas terus berusaha meningkatkan jumlah peminat program S3 ini.

Di Amerika dan Inggris, juga telah terjadi peningkatan mahasiswa S3 dari luar negeri. Tahun 1966, tercatat hanya 23% gelar doktor di berikan untuk mahasiswa dari luar, tapi tahun 2006, telah terjadi peningkatan hingga 48%. Majalah the Economist juga mengkritik kecenderungan mahasiswa asing untuk mentoleransi kondisi kerja yang seadanya. Hal ini merugikan, karena secara umum tidak mendukung perbaikan secara keseluruhan.

Menurut majalah the Economist ini , banyak lulusan S3 yang tidak bekerja di bidangnya, bahkan menurut dunia industri, lulusan S3 masih tidak siap pakai.

The Economist telah menggambarkan situasi pendidikan di negara maju. Penulis melihat bahwa untuk Indonesia kebutuhan tenaga terdidik seperti S3 masih diperlukan untuk kemajuan pendidikan bangsa. Sebelum tahun 2000, mungkin kondisinya mirip dengan kondisi di Amerika sebelum perang dunia kedua, dimana tenaga pendidik yang setara S3 masih sangat kurang.

Negara-negara maju sesudah perang dunia kedua berlomba-lomba memajukan dunia pengetahuan dengan meningkatkan tenaga pendidik termasuk penambahan jumlah lulusan S3.

Saat ini pemerintah Indonesia sedang berusaha menambahkan jumlah lulusan S3. Pemerintah mencanangkan untuk menghasillkan 7000 doktor setiap tahun. Walaupun jumlah ini masih jauh dari yang dihasilkan Amerika tapi jumlah 7000 termasuk angka yang besar.

Jumlah pendidik di Amerika telah mencapai lebih 5% dari jumlah total penduduknya, sedangkan Indonesia masih dibawah 2%. Tentu saja hal ini menyiratkan diperlukan lebih banyak tenaga pendidik yang tidak harus S3.

Jika melihat kondisi di tanah air, fokus peningkatan saat ini sebaiknya untuk tenaga pendidik. Naiknya tenanga pendidik tentunya perlu di iringi dengan naiknya kualitas. Negara-negara maju saat itu memiliki kondisi yang mirip dengan Indonesia saat ini. Mereka juga pernah mengalami masalah ekonomi, dan akhirnya bisa bangkit dengan mengandalkan peningkatan keilmuan di berbagai bidang.

Tulisan dari majalah The Economist menggambarkan keadaan lulusan S3 saat ini di Amerika/Inggris. Kejenuhan jumlah lulusan yang tidak diiringi dengan peningkatan gaji secara signifikan sedang mereka alami.

Mungkin pada suatu saat nanti, Indonesia juga akan mengalami kejenuhan seperti yang digambarkan telah terjadi di Amerika.  Tapi mungkin hal itu masih lama. Untuk saat sekarang Indonesia masih perlu S3 lebih banyak, tapi prioritas utama tentunya untuk peningkatan jumlah tenaga pendidik.

Sumber referensi:

http://www.economist.com/node/17723223/print

http://blogs.itb.ac.id/bayu/2010/12/21/tentang-program-7000-doktor-setahun/

Share

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)