Jan 012011
 

Tulisan ini membahas masalah pendidikan di perguruan tinggi dengan fokus pada situasi pengajaran dan penelitian yang dilakukan dosen. Tulisan ini menampilkan pendapat dari Dr. Mark Tarver yang menyatakan tidak lagi  mengejar jabatan professor dan telah berhenti menjadi dosen dari suatu universitas di Inggris.

Tarver memberikan kritik tajam terhadap situasi akademik yang telah menurunkan kualitas pengajaran  dan memberikan tekanan yang besar kepada dosen di Inggris dan kemungkinan juga terjadi di Amerika Serikat. Secara umum penulis melihat bahwa yang diungkapan Tarver juga telah terjadi di banyak universitas di negara maju lain, termasuk Australia.

Tulisan Tarver dituangkan dengan judul “Why I am Not a Professor OR The Decline and Fall of the British University”.  Dari judul yang panjang itu, Tarver menuliskan kritiknya dari sisi personal dan sisi sosial akademik yang dialami universitas di Inggris.

Penulis akan membandingkan situasi yang dituliskan Tarver dengan keadaan di Indonesia.  Keadaan yang diceritakan Tarver nampaknya akan atau sudah terjadi pada akademia di Indonesia, hanya dalam konteks yang sedikit berbeda.

Situasi di Akademik di Inggris.

Tarver bercerita tentang bagaimana kualitas pendidikan di Inggris makin menurun dari tahun ke tahun. Beberapa hal yang menjadi perhatiannya:

  • Perubahan system perkuliahan yang memungkin seorang mahasiswa memilih matakuliah yang disukai, telah merusak tatanan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Sebelumnya pihak departemen yang menentukan matakuliah apa yang harus dipelajari oleh mahasiswa. Tapi dengan sistem baru departemen menawarkan mata kuliah, dan kemudian mahasiswa yang memilih subyek yang disukainya.  Dengan sistem baru ini, kuliah  yang sulit cenderung tidak di ambil oleh mahasiswa, padahal mata kuliah  itu bisa relatif penting. Akibatnya mata kuliah itu akan dihilangkan karena tidak ada yang mengambil. Efek negatifnya adalah mahasiswa yang cukup pintar tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajarinya.
  • Tarver kemudian membandingkan juga jaman dia mahasiswa dengan mahasiswa sekarang. Dengan sistem yang baru, seorang mahasiswa komputer bisa memintanya untuk membantu proyek tugas akhir yang tidak membutuhkan kemampuan pemrograman. Sesuatu yang tidak mungkin pada era sebelumnya. Si mahasiswa sudah pasti akan di tolak. Dengan sistem yang baru ini, bila permintaan mahasiswa ditolak, maka akan ada universitas  lain yang bisa menerima mahasiswa itu. Dan itu artinya universitas lain yang akan mendapatkan uang.
  • Tarver menyiratkan juga, bahwa bila digunakan kebijaksanaan sebelum tahun 1990, maka 20% dari mahasiswanya akan gagal. Tarver prihatin dengan system penilaian yang dimanipulasi dengan pemberian skala yang fleksibel untuk mendapatkan nilai akhir yang lebih baik untuk seluruh mahasiswa. Hal ini terpaksa dilakukan karena penilaian yang terlalu ‘ketat’ akan menyebabkan suatu matakuliah kehilangan mahasiswanya. Dan berakibat pada penghilangan matakuliah itu, dan kemudian si Dosen tadi juga  akan terpaksa melepas topik yang sudah dikuasainya.
  • Tarver juga mengeluh kalau makin lama materi perkuliahan makin ‘mudah’. Ia membandingkan jumlah tugas kuliah yang makin berkurang untuk materi  yang sama antara tahun 92 hingga 99. Seorang mahasiswa phd-nya dari Brazil mengatakan kalau performansi mahasiswa di Inggris lebih rendah daripada di Brazil.
  • Tarver juga menyayangkan sistem audit dosen dengan melihat kontribusi pengejaran atau penelitian secara kuantitas dan bukan dari kualitas. Sistem ini menyebabkan banyak dosen memperbanyak kontribusi tanpa memperhatikan kualitas kontribusi.
  • Dengan system audit itu, banyak dosen berlomba-lomba melakukan publikasi ilmiah dengan berbagai cara. Seorang dosen mungkin bisa menampilkan 100 publikasinya. Tapi mungkin saja ia bukan penulis utama. Mahasiswa doktoralnya yang diletakkan sebagai nama pertama. Belum lagi materi yang mirip di publikasikan di tempat yang berbeda-beda. Walaupun hal ini sah, tapi kontribusi original menjadi tidak banyak. Mungkin dari 100 publikasi, hanya beberapa persen menggunakan nama pertama, dan sekian persen lagi tidak memiliki kontribusi yang berbeda. Bagi Tarver ini adalah salah satu bentuk jual diri akademik atau prostitusi akademik.

Keadaan-keadaan itulah yang akhirnya menyebabkan Tarver tidak lagi berminat menjadi professor.

Nama universitas menjadi rusak, tapi hal ini tidak di sadari oleh pemerintah Inggris yang menyiapkan kebijaksanaan pendidikan.

Tarver menambahkan bahwa pekerjaan dosen saat ini menjadi profesi yang penuh tekanan, dan birokratik. Gaji dosen yang rendah akan membuat orang yang pandai akan memilih pekerjaan lain. Universitas akan kehilangan kandidat orang-orang pandai. Kekurangan akan tenaga dosen mungkin bisa diatasi dengan mengambil dosen imigran yang kemampuan bahasa Inggrisnya tidak sebaik dosen lokal. Tapi akibatnya kualitas pengajaran bisa turun.

Dampak negatif juga akan menimpa mahasiswa. Mereka akan menyadari bahwa walau uang yang dibayar semakin mahal tapi tidak sebanding dengan kualitas seperti yang diterima oleh para orangtuanya. Komunikasi dengan dosen juga menurun, karena si dosen sibuk memenuhi tuntutan audit akademik dan juga mencari kebutuhan mencari uang.

Keadaan di Indonesia

Dr. Mark Tarver telah menggambarkan keadaan di Inggris secara khusus, dan kemungkinan hal itu juga yang sedang terjadi di negara maju. Penulis pernah memberikan tutorial untuk suatu matakuliah yang diajarkan di suatu universitas di Australia.  Materi kuliah yang sama diajarkan hanya satu semester di ITB, tapi di universitas ini diajarkan dalam dua semester.

Belum lagi tugas mandiri yang dikerjakan hanyalah satu, dan itu dianggap tugas besar. Saat penulis masih mahasiswa dulu, untuk matakuliah yang sama, tugas mandiri diberikan sebanyak 3 atau 4 tugas, dan dilanjutkan dengan tugas besar.

Untuk bidang komputer yang penulis ajarkan,  penulis melihat beberapa kesamaan telah di Indonesia. Bidang komputer yang di adopsi dari luar negeri,  dipelajari di Teknik Informatika atau Ilmu Komputer. Tapi saat ini telah ramai dibuka pendidikan komputer seperti komputer manajemen, atau komputer akuntansi.

Materi yang diajarkan  menghilangkan bagian-bagian yang secara ‘matematik’ relatif sulit, dan fokus di berikan ke materi manajemen atau akuntansi. Yang menjadi masalah adalah lulusannya tetap mendapatkan gelar sarjana komputer, dan  tentunya bagi orang luar, tidak akan terlihat terlalu berbeda antara sarjana komputer akuntansi dan sarjana komputer yang berasal dari teknik informatika atau ilmu komputer.

Penelitian di Indonesia

Dosen pegawai negeri di Indonesia selain di minta untuk melakukan pengajaran diminta  juga melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian diperlukan untuk memperdalam keilmuannya, sedangkan pengabdian kepada masyarakat adalah layanan yang diberikan untuk masyarakat (baik lembaga pemerintah atau elemen swasta). Layanan ini bersifat penerapan dari ilmu yang terkait dengan keahlian dosen.

Hasil dari pengajaran (dari sudut metode pengajaran), penelitian (riset) dan pengabdian masyarakat dapat dipublikasikan dalam suatu tulisan ilmiah. Banyak konperensi local atau nasional telah diselenggarakan dan jurnal di terbitkan. Beberapa konperensi internasional juga sudah di dilakukan. Tapi nampaknya masih kurang banyak dosen lokal yang melakukan penerbitan internasional. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh:

  • Kurangnya dampak kontribusi bagi masyarakat internasional
  • Kurangnya kemampuan bahasa Inggris

Untungnya keadaan ini sudah dicoba diperbaiki oleh Kemendiknas dengan meningkatkan pengiriman dosen untuk tugas belajar S2 atau S3 di luar negeri. Bahkan mendiknas M. Nuh mengusulkan untuk menghasilkan 7000 doktor setiap tahun.

Untuk kenaikan pangkat, dosen harus mengajukan bukti kontribusi di bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dr. Tarver menyatakan keprihatinannya bahwa yang cenderung di perhatikan adalah kuantitas dan bukan kualitas dari kontribusi. Walau tidak ada bukti apakah hal itu sudah terjadi di Indonesia, tapi tidak ada salahnya jika hal ini turut menjadi perhatian bagi para pengambil keputusan.

Penyesuaian Kurikulum

Kurikulum biasanya harus diubah untuk disesuaikan dengan kemajuan ilmu. Evaluasi bisa dilakukan dalam 5 atau 10 tahun. Kekuatiran yang dituliskan Dr. Tarver adalah penghilangan materi penting hanya karena alasan materi terlalu sulit.

Kurikulum yang dimiliki Indonesia sering menggunakan acuan dari luar negeri. Dengan melihat keresahan Dr. Tarver, sebaiknya kita perlu memilah bagian mana yang memang penting walaupun sulit, dan bukan asal menyalin kurikulum luar negeri.

Kesimpulan

Perguruan  tinggi di Indonesia masih mencoba meningkatkan kualitas pada tingkat dunia. Walaupun demikin di negara majupun masih banyak ditemui kelemahan-kelemahan yang signifikan.  Sebagai negara yang masih perlu berkembang, kita patut mewaspadai  hal-hal yang diungkapkan Tarver.

Share

  4 Responses to “Catatan Perguruan Tinggi Indonesia”

  1. Terimakasih atas sharing tulisannya 🙂

  2. Makasih untuk sharingnya 🙂

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)