Jul 162011
 

Pagi ini saya tersenyum-senyum sendiri membaca email dari salah satu anggota milis yang memanggil sebutan Pak kepada seseorang yang seharusnya dipanggil Bu. Kebetulan milis ini anggotanya belum tentu saling kenal, sehingga salah sapa sering terjadi. Biasanya karena namanya tidak jelas menunjukkan jenis kelaminnya.

Beberapa nama seperti Fitri, ternyata bukan hanya dimiliki oleh kaum wanita. Ada banyak pria yang memiliki nama Fitri, tapi biasanya disambung dengan nama kedua yang bisa menunjukkan jenis kelaminnya. Misalnya Fitri Hardi, hampir bisa dipastikan kalau pemiliknya adalah pria. Walau mungkin saja ada yang menggunakan nama kedua berdasarkan nama suaminya. Atau nama seperti Andi buat orang Jawa umumnya adalah nama pria, tapi di Sulawesi nama itu juga digunakan untuk wanita, misalnya nama artis terkenal yang sudah meninggal, Andi Meriem Matalatta.

Banyak juga orangtua yang memberikan nama anaknya cuma satu nama. Hal ini menjadi masalah kalau si anak di sekolahkan ke negara Barat. Di sana, nama kedua adalah nama keluarga yang biasanya di ambil dari nama orang tuanya.

Seorang teman yang ditugaskan belajar ke luar negeri, diharuskan mencantumkan nama keluarganya di formulir pendaftaran onlinenya. Sistemnya akan kacau kalau tidak ada nama keluarga. Tidak hanya itu, nama pertama juga harus dicantumkan. Teman saya akhirnya memasukkan nama pertama sama dengan nama kedua. Yang agak lucu,  karena sudah komputerisasi, sistem komputer universitas secara otomatis memberikan nama pertama dan kedua untuk email, akhirnya teman saya punya punya email: ariadi.ariadi@apasaja.edu. Semoga saja nama di ijasahnya tidak dobel, karena bisa jadi masalah kalau ia kembali ke Indonesia.

Solusi lain ada teman yang hanya mencantumkan nama orangtuanya, walaupun di sertifikat lahirnya tidak ada nama kedua. Semoga saja tidak jadi masalah di kemudian hari.

Walaupun sudah ada nama pertama dan kedua, tapi sistem penamaan kita juga bisa membingungkan buat orang barat. Seorang teman lain yang juga ditugaskan belajar di luar negeri,  memiliki anak bernama Mohamad Ali. Suatu ketika teman saya di minta menghadap guru sekolah anaknya.  Sempat terpana dia ketika dipanggil Mr. Ali, oleh guru itu. Padahal nama teman saya ini tidak ada “Ali” nya. Rupanya sang guru berasumsi kalau Ali adalah nama keluarga si anak dan tentunya adalah nama keluarga dari bapaknya.

Temen bule sayapun terheran-heran ketika tahu nama belakang adik-adik saya bervariasi. Dia bingung bagaimana cara cara mengidentifikasi bahwa adik-adik saya adalah memang keluarga saya…memang beda sistem beda cara..

Pemberian nama ternyata juga tidak bisa sembarangan. Suatu ketika saya memberikan tutorial kepada murid2. Dan seperti biasa di awal kuliah, adalah acara perkenalan. Ada seseorang yang di daftar hadir tertulis Slamet M. (bukan nama sebenarnya). Saya tanya apa itu M? Karena daftar nama itu tidak ada yang disingkat. Dia menolak menjawab, teman-temannyapun hanya senyum-senyum saja. Ketika kuliah selesai, dia dateng ke saya, dan dengan malu-malu menyebutkan namanya. Ternyata M nya adalah “Mu*lihat”. Mungkin orang tuanya tidak berniat memberi nama jelek, tapi konotasi dari nama itu membuat dirinya malu di hadapan teman-teman.

Jadi “What’s in a Name” nya Shakespeare gak berlaku kayaknya..

Share

  One Response to “Keliru Gara-gara Nama”

  1. Ya begitulah, kalao orang bilang nama pasaran.. hehehee

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)