Tragedi G 30 S1965, sebuah refleksi

November 17, 2010 No Comments

Tak terasa 45 tahun peristiwa itu telah berlalu namun hingga saat ini masih saja menyisakan berbagai kontroversi. Tepat hari ini, kita memperingatinya sebagai peristiwa kemanusiaan yang fundamental dalam kehidupan sosial dan politik bangsa Indonesia. Tulisan ini tidak berniat untuk mengurai benang kusut yang ada atau memberikan pencerahan atas ketidakjelasan siapa dalang di balik itu semua namun ini hanyalah sebuah refleksi dari seorang pecinta sejarah.

Salah satu episode sejarah bangsa ini yang masih diselimuti ketidakjelasan adalah G 30 S1965. Banyak istilah yang digunakan untuk menamakan tragedi tersebut, misalnya Gerakan September Tiga Puluh -Gestapu- ( Soeharto) dan Gerakan Satu Oktober -Gestok- (Soekarno) tetapi keduanya merujuk pada peristiwa yang sama pada tahun 1965. Di sini, penulis menggunakan istilah G 30S 1965 (tanpa ada muatan atau tendesi politik apapun) tapi kalau anda punya istilah sendiri silakan saja.

Pasca tumbangnya Orde Baru, tafsir sejarah terhadap G 30 S 1965 semakin beragam. Sangatlah wajar muncul tafsir-tafsir alternatif mengingat pemerintahan pada waktu itu sangat represif dan tidak dimungkinkan adanya tafsir yang berbeda. Rakyat Indonesia hanya dibolehkan mengakses versi resmi pemerintah (baca : produk Negara). Menurut versi ini, yang paling bertanggungjawab adalah PKI bahkan untuk mempertegas, pemerintah menggunakan istilah G 30 S / PKI 1965. Kini, lteratur yang tersediapun bak cendawan di musim penghujan, penulis dalam dan luar negeri seakan berlomba untuk memotret dari berbagai sudut pandang akademis.

Kita patut berbangga hati atas fenomena ini meskipun demikian -dalam hemat penulis- saat ini belum ada usaha yang sungguh-sungguh, legal formal dan terstruktur untuk merekonstruksi peristiwa tersebut. Ini penting dilakukan mengingat sejarah adalah memori kolektif suatu masyarakat dan yang menjadi fokusnya adalah generasi muda yang notabene calon pemimpin di masa depan. Bukankah sejarah dipelajari untuk diambil hikmahnya? Apakah kita akan terus mewariskan sejarah yang abu-abu? Akankah tetap dibiarkan stigmatisasi bagi orang-orang yang tak berdosa??

Sekedar mengingatkan, bahwa ada beberapa analisis terkait dalang di balik tragedi G 30 S 1965, yaitu :
1. Partai Komunis Indonesia (PKI)
2. Soekarno
3. Soeharto
4. Pertikaian Angkatan Darat
5. CIA (AS)
6. Teori Konspirasi

Dari beberapa analisis di atas, silakan para pembaca memilih kira-kira siapa yang pantas menjadi dalang tragedi G 30 S 1965. Tentu saja setelah melakukan kajian mendalam terhadap fakta-fakta sejarah dan literatur yang tersedia sehingga argumentasinya dapat dipertanggungjawabkan. Terlepas dari itu semua, penulis ingin mengatakan betapa pentingnya rekonstruksi sejarah terhadap peristiwa tersebut maka dari itu, ada beberapa hal yang –mungkin- harus dilakukan, yaitu :

1. Menjadikan Sejarah sebagai salah satu paradigma dalam membangun bangsa
“History is past human behavior, recorded and unrecorded, in its many varieties”. Ketika mengkaji sejarah, kita akan dihadapkan pada pelbagai dimensi kehidupan manusia. Artinya, sejarah telah merangkum dengan baik catatan hitam-putihnya perjalanan suatu bangsa dan ini yang layak untuk dijadikan pelajaran (ibroh) untuk pemimpin sekarang dan masa depan. Tidak cukup hanya ceremonial rutin memperingati Kesaktian Pancasila atau berkunjung ke museum di Lubang Buaya, bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya??

2. Adanya itikad baik pemerintah untuk membentuk tim dalam merekonstruksi tragedi G 30 S 1965.
Pemerintah mempunyai posisi yang strategis sebagai decision maker, dengan demikian hendaknya ada upaya (baca : itikad baik) membentuk tim independen dalam merekonstruksi tragedi G 30 S 1965. Kalaulah ada dikemudian hari ditemukan fakta sejarah baru dan bertentangan dengan versi resmi selama ini maka pemerintah harus legowo alias berbesar hati dan menjelaskan kepada masyarakat luas.

3. Mengusut secara tuntas kasus pelanggaran HAM tragedi G 30 S 1965.
Penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh oknum-oknum aparat terhadap para aktivis yang dianggap PKI serta simpatisannya telah menyisakan luka yang mendalam. Begitu pula dengan para aparat yang diculik dan dibunuh oleh para oknum aktivis pra-tragedi G 30 S 1965. Sangatlah penting dilakukan agar keluarga yang ditinggalkan mendapat informasi yang jelas. Meskipun sempat terdengar ada Tim Pencari Fakta dan LSM yang giat mencari keadilan tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda keberhasilan.

4. Peran Stakeholder sejarah
Pemerintah, Sejarawan, Dosen Sejarah, Guru sejarah dan para pecinta sejarah wajib memberikan informasi yang tepat dan akurat tentang tragedi G 30 S 1965 pada masyarakat.

5. Mengambil hikmah
Last but not least, kalau sejarah dianggap mengajarkan smua hal pada kita, berarti ada makna yang yang terkandung di setiap peristiwa. Empat puluh lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk melakukan kontemplasi. Moment ini patut dijadikan bahan evaluasi buat semuanya, menciptakan kondisi yang aman, nyaman, tertib dan terjaminnya kesejahteraan rakyat niscaya ke depan tragedi seperti G 30 S 1965 takkan terulang lagi. Mari..saatnya kita belajar (dari) sejarah !!! wallahu’allam bish showab.

coppas dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=431458678234

Tags: Sejarah

Leave a Reply

(required)

(required)


Tragedi G 30 S1965, sebuah refleksi

Tak terasa 45 tahun peristiwa itu telah berlalu namun hingga saat ini masih saja menyisakan berbagai kontroversi. Tepat hari...

Hello world!

Welcome to Blogs ITB Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!