RSS
 

Archive for December, 2007

25 Dec 2007: Ulang Tahun Pernikahan Orangtua Tercinta yang ke 46

25 Dec
Hari ini (25 Dec 2007) adalah Ulang Tahun Pernikahan Orangtua Tercinta yang ke 46. Beliau berdua menikah di Bandung dan telah melahirkan 2 orang putra dan 1 orang putri dengan 3 cucu. Foto keluarga kami tersebut dapat dilihat disini…..

Apa yang anda renungkan dari kejadian ini? Kesetiaan? Komitmen? Komunikasi? Kasih Sayang? Syariat Agama? Atau Yang Lain…..

Silahkan isi jajak pendapatnya….

 
 

Hidup Itu Harus Mengganjilkan dan Menggenapkan

21 Dec

Saat Mentoring lebih dari 3 dekade yang lalu di Masjid Salman-Bandung, saya pertama kali memperoleh pencerahan mengenai Hidup Itu Harus Mengganjilkan dan Menggenapkan. Hhmm…..Apa artinya ya….

Mirip dengan bilangan ganjil dan genap dalam pelajaran matematika….Saat itu salah satu mentor mengibaratkan kalimat di atas dengan adanya garam dalam masakan. Tanpa garam, masakan akan terasa hambar dan hanya cocok bagi orang2 yang sedang diet untuk mencegah penyakit…….Begitu pula ketidak-hadiran atau ketidak-ikut-sertaan seseorang yang sangat berarti bagi keluarga, komunitas, organisasi, institusi atau perusahaan akan membuat suatu aktifitas atau pekerjaan menjadi berkurang artinya, “hambar”, terbengkalai atau gagal total (…gatot ). Sebaliknya, kehadirannya akan menumbuhkan semangat, nilai juang kelompok (Team Patriotism), kerja sama dan atmosfir yang membuat aktifitas atau pekerjaan menjadi bernilai tinggi (above average return)…..

Untuk itulah kehadiran kita di semua kondisi harus diusahakan agar berarti….dan menjadi tolok ukur (baca: panutan) bagi banyak orang…..Akan sangat baik bila kita bisa menjadi “Personal Long Lasting Brand” yang amanah, tawaddu & sabar dalam menghadapi semua kondisi kehidupan…..

Memang…..Hidup Itu Harus Mengganjilkan dan Menggenapkan

 
 

Distorsi Lebih Besar Dari Informasi

19 Dec
Istilah ini sering saya pergunakan bila ingin menyitir (baca: agak menyindir) bahwa kehidupan itu harus selalu diukur dari selera kebanyakan orang, kebiasaan, pergaulan atau karena “sesuai rating TV”……Mungkin pada saat SMU atau SMK kita masih ingat bahwa suatu “informasi dapat ditumpangkan pada gelombang pembawa (carrier)”….Namun bila gelombang termodulasi itu (informasi dan “carrier”), pada saat pengiriman terganggu oleh distorsi terlalu besar, maka informasinya akan berubah atau rusak dan tidak akan sama lagi dengan informasi semula…….

Bisakah kita mengerti dan menghayati bahwa kelak kehidupan itu bukan sekedar harus mirip atau sama dengan orang lain……Mungkin banyak contoh pengusaha yang sukses….ilmuwan yang hebat,…pemimpin yang cemerlang,…ulama yang zuhud, pekerja yang baik, orang tua teladan, anak yang sholeh,….dan banyak contoh lagi….melakukan terobosan (kadang “pemberontakan”) yang kadang tidak terpikirkan pada zamannya.

Mereka dibekali dengan naluri (kadang kalbu) bahwa tidak selamanya “data mentah” yang mereka terima adalah sesuatu nilai yang “mutlak”. Keingintahuan untuk mencari kebenaran hakiki selalu menjadi bekal dan dasar semua pemikiran serta tindakan mereka sehingga menghasilkan “above average return”…..Mereka punya kemampuan memilah informasi dari distorsi yang ada dengan teliti dan sabar…serta punya hikmah bahwa seringkali “Distorsi Lebih Besar Dari Informasi”.

Wallahu Alam Bissawab…..

 
 

Bandung-ku Tercinta Makin Ambles

18 Dec

Sepertinya apa yang dikhawatirkan blog sebelumnya (http://sardjana.multiply.com/journal/item/69) terjadi juga…..Ayo Urang Bandung jangan hamburkan air tanah untuk mencegah Bandung makin “tenggelam”…..berikut laporan koran PR hari ini:


Bandung Makin Ambles

BANDUNG Raya berada dalam cekungan, bak sebuah kuali raksasa. Proses geologi yang terjadi selama ribuan tahun telah membuat wilayah ini memiliki karakteristik yang sangat khas. Salah satunya, menjadi daerah tangkapan air hujan, lengkap dengan iklim yang membuat banyak orang kerasan tinggal di daerah ini.

Sayangnya, data dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa keberadaan cekungan Bandung justru semakin dalam. Permukaan tanah di cekungan Bandung semakin ambles karena eksploitasi air tanah. Secara teknis, hal itu terjadi karena volume pori-pori batuan pasir yang tadinya penuh berisi air menjadi kopong (kosong). Kondisi seperti itu diperparah oleh terus bertambahnya tekanan dari bangunan dan juga kendaraan yang ada di atasnya.

Sayangnya, amblesnya permukaan tanah di wilayah cekungan Bandung masih sebatas bahasan akademik. Padahal, kecepatan ambles permukaan tanah di kawasan cekungan Bandung tergolong sangat mengkhawatirkan. Wilayah cekungan Bandung-Soreang adalah salah satu contohnya. Sampai saat ini, daerah itu sudah ambles sekitar 42-52 cm akibat muka air tanah di kawasan cekungan air tanah (CAT) turun 2-3 m. Data ini disampaikan Kepala Pusat Geologi Lingkungan Dr. Ir. Ade Djumarma Wirakusumah, Dipl. Seis, beberapa waktu lalu.

Pengambilan air bawah tanah yang tak terkendali menyebabkan penurunan muka air tanah yang signifikan. Itulah pula yang menyebabkan banyak daerah di Kota Bandung dan sekitarnya digolongkan sebagai daerah rawan dan kritis air. Daerah yang mengalami penurunan lapisan air tanah paling besar adalah kawasan Bandung selatan. Daerah tersebut berpotensi banjir karena lapisan tanahnya sebagian besar terdiri dari lempung yang kurang mampu menyerap air, sementara saluran keluarnya tidak ada.

Penurunan tanah ini merupakan salah satu faktor signifikan yang menyebabkan banjir. Ketika titik-titik tanah pada satu kawasan menurun, daerah tersebut menjadi lebih rendah dari tempat-tempat lainnya dan membentuk cekungan, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang berpotensi banjir terutama saat musim hujan. Ironisnya, air menjadi sesuatu yang sulit didapat setiap musim kemarau.

Jika diasumsikan jumlah penduduk kawasan Bandung Raya mencapai 7 juta orang dan kebutuhan air bersih sebanyak 125 liter per hari per orang, kebutuhan air yang harus tersedia sekitar 350 juta m3 per tahun.

Kebutuhan air bersih untuk industri diperkirakan mencapai 132 juta m3 per tahun, sedangkan untuk keperluan sosial (tempat ibadah, dsb.) dan perkantoran diperkirakan mencapai 30 juta m3 per tahun. Dengan demikian, total kebutuhan air bersih di kawasan ini mencapai 512 juta m3 per tahun.

Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air bersih yang mampu disediakan PDAM Kota Bandung hanya sekitar 17 juta m3 per tahun. Sedangkan PDAM Kab. Bandung-Cimahi baru mampu menyediakan sekitar 19 juta m3 per tahun.

Secara keseluruhan, pemenuhan air bersih oleh kedua PDAM itu baru mencapai 36,5 juta m3 per tahun dengan proporsi sumber air bakunya 40% berasal dari air permukaan dan 60% dari air tanah. Pengambilan air tanah yang dilakukan industri terjadi karena PDAM memang tak mampu menyediakan kebutuhan air mereka.

Penurunan muka air tanah yang drastis terjadi terutama sejak tahun 1980-an. Hal itu seiring dengan pesatnya perkembangan industri dan permukiman penduduk. Penurunan muka air tanah paling parah terjadi di daerah industri, seperti Cimahi (sekitar Leuwigajah), Batujajar, sekitar Jln. Moh. Toha, Dayeuhkolot, Rancaekek-Cicalengka, Ujungberung, Cicaheum, dan Kiaracondong.

Di daerah permukiman dan perumahan, penurunan terjadi pada muka air tanah dangkal. Hal itu terlihat dari sulitnya penduduk mendapatkan air tanah dari sumur-sumur mereka. Berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar, di seluruh cekungan Bandung terdapat 2.237 sumur bor air tanah.

Kondisi penurunan air tanah yang disertai amblesnya permukaan tanah ini terjadi terus setiap tahun. Keadaan ini juga selalu dipaparkan para ahli. Apakah harus menunggu hingga cekungan Bandung benar-benar cekung? Atau, hingga bangunan mulai banyak yang miring karena tiang pancangnya bergeser? Tak ada kata terlambat untuk berbuat, setidaknya mulai tahun depan.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menekan laju penurunan permukaan tanah di cekungan Bandung salah satunya dengan penggunaan kembali air yang telah digunakan (reuse) sehingga lebih efisien. Implementasi regulasi pengambilan air tanah juga harus ditegakkan dengan rencana tata ruang wilayah yang ditaati dan diimplementasikan secara baik oleh semua pihak, baik oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat di wilayah cekungan Bandung dapat berbuat dengan memperbanyak air yang meresap ke dalam tanah dengan menanam pepohonan, penghutanan, sumur resapan atau bendung penampung air. Masyarakat juga dapat mengalihkan pemenuhan kebutuhan air bersih yang berasal dari air tanah dengan sumber air lain seperti air permukaan atau penampungan air hujan. (Deni Yudiawan/ “PR”)***

Dikutip dari : http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=5140

Foto dipinjam dari: http://www.asianafrican-museum.org/images/bandung.jpg

 
 

Ma Deong……Ma Deong…..Pangmukakeun Lawang Angin

18 Dec
Jaman keur leutik….nepi ka SMP ketang….Kuring sok ngahariring…Ma Deong……Ma Deong…..Pangmukakeun Lawang Angin….mun langlayangan teu daek ngapung kumarga euweuh angin…

Teuing timana asalna hariring ieu….Ngan mun langlayangan bisa ngapung jeung anginna jadi gede….sok hayang nyaho urang mana Ma Deong teh….

 
 

Begadang…jangan Begadang

13 Dec

Begadang…jangan Begadang kalau tiada artinya……
Tadi malam ku begadang…..mungkin itu ada artinya
Begadang boleh saja kalau ada perlunya…..
Ku begadang memang ada perlunya…Kang Oma…

Tapi tolonglah diriku….ngantuk tiada taranya…

Foto dipinjam dari:
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/r/rhoma-irama/rhoma_irama.jpg

 
 

Muararajeun….Tempat Lahir Beta…..

12 Dec
Sudah lama saya tinggal di daerah ini…yaitu sejak saya dilahirkan oleh ibu tercinta. Namun tempat ini sulit untuk dilupakan dan ditinggalkan karena beberapa hal:

  1. Aman:
    • Karena lingkungannya yang masih relatif homogen, kami masih mengenal warga di sekeliling rumah. Hal ini memudahkan “Komando Teritorial” dengan warga sekitar.
    • Kawasan ini seperti perumahan cluster (keren ya…), walaupun ada beberapa “lubang tikus”, namun mudah diawasi dengan hubungan yang baik dengan warga sekitar Muararajeun.
  2. Tidak sulit air bersih:
    • Kawasan ini dilalui oleh pipa air minu dari PAM yang cukup baik. Rumah kami misalnya, airnya mengalir 24 jam sehari….
    • Karena tanahnya kebanyakan terdiri dari cadas dan tanah pasir, maka kandungan air bersih dalam tanahnya mencukupi. Hanya saja kawasan ini, seperti tempat lain di Bandung, juga mengalami penurunan air tanah cukup signifikan.
  3. Relatif berada ditengah kota:
    • Jarak dari pusat kota ke kawasan ini adalah ~ 3 KM dan berada 1 KM di tenggara Gedung Sate atau Gasibu. Hal ini memudahkan kami untuk melakukan perjalanan ke semua area kota Bandung.
    • Hal ini pula yang menjadi pertimbangan tinggal disini agar putra putri kami tidak jauh dari sekolah mereka. Dalam kondisi normal, sekolah putra putri kami masing bisa ditempuh dalam waktu 15 dan 5 menit dar rumah.
  4. Bukan daerah macet:
    • Selain lokasinya dekat pusat kota, daerah ini juga tidak mengalami macet pada hari kerja maupun libur. Alasan ini pula yang menyebabkan kami pindah dari rumah di Antapani yang dibeli (tepatnya: Ngiridit) saat masih bujangan….
    • Hanya saja setelah dibangunnya Jembatan Layang Paspati, Jalan Supratman sebagai akses utama ke daerah ini jadi ramai dan perlu berhati-hati untuk menyebranginya terutama bagi anak-anak.
  5. Dekat dengan rumah orang tua:
    • Kepindahan kami dari rumah di Antapani juga disebabkan kami ingin tinggal dekat kakek dan nenek…..agar bisa giliran menjaga beliau berdua yang sudah uzur….yang notabene dekat rumah orang tua juga….
    • Dengan kedekatan rumah dari orang tua punya keuntungan ganda bilamana harus keluar kota atau daerah cukup lama ….tidak ragu meninggalkan keluarga. Hal ini juga pada saat darurat terpaksa minta bantuan orang tua bila saya dan istri sedang sibuk di kantor dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan…
  6. Lingkungannya Tidak Kumuh:
    • Walaupun bukan daerah elit (menuru saya), kawasan ini tidak kumuh dan cukup terpelihara kebersihannnya. Sejak saya tinggal disini, kebersihannya (terutama sampah) telah dikelola dengan baik dan tidak menimbulkan masalah.
    • Kebetulan permaisuri bertindak sebagai salah “unsur pemerintah lokal” (baca: bendahara RT) sehingga salah satu tanggung jawabnya dalam hal-hal pendukung masalah kebersihan ini.

That’s all…

 
 

Teu Aya Bangsa Anu Maju Mun Poho Kana Jati Dirina

11 Dec

Urang Ulah Poho Kana Waruga
Yen Hirup Di Tatar Sunda
Geuning Masih Keneh Sok Era Parada
Mun ngomong make basa kawula

Alusna mah geura Pikiran ku sarerea
Meujeuhna dilenyepan tur mikaboga rasa
Ngahormat kana warisan jeung budaya Sunda
Teu Aya Bangsa Anu Maju Mun Poho Kana Jati Dirina

 
 

Teruskan Perjuanganmu Hai Bangsaku: Kekaguman pada Jendral Besar Soedirman

10 Dec

Arah langkah menuju cerah
Kemana jiwa memapah titah

Ibu Pertiwi sampaikan hati
Jeritan norma dan budi pekerti

Aku sadar kemana kalbu mengharu
Memberi akad menerpa biru

Tak ada langkah yang sia-sia
Sejuta asa dan airmata bahagia

Teruskan Perjuanganmu hai bangsaku
Menuju istana harapan anak cucu

 

Kuring Balik Ti Lembur

10 Dec

Poe kamari….Kuring Balik Ti Lembur di Pagerageung, Tasikmalaya. Ngalongok uwa jeun bibi nu kabejakeun gering parna. Uwa gaduh panyawat jantung jeung geus sabaraha kali dirawat di rumah sakit….Bibi mah gering kanker rahim anu geus nyaliara jeung teu bisa ingkah tina tempat sarena. Kuring ngan bisa ngadu’a supaya arajeunnana daramang sabihara sabihari bari masihkeun sumbangan sakadarna……

Salian ti eta simkuring ka Tasik ningali sapi keur Qurban tahun ayeuna nu biasana dipeuncit di Pagerageung. Minangkamah rek amal bari ngaraketkeun silaturahmi jeun dulur anu jarang tuang daging sapi…..Alhamdullah meunangkeun sapi anu mulus tur cocok boh dina harga jeun pangawakannana….

Balikna teu poho meuli Daging Hayam Mang Adang di Ciawi jeung Sop Cokor Sapi di Malangbong karesep barudak di imah. Ari keu permaisuri adi pangmeulikeun Lauk Nila Bumbu Cobek karesepna…

Cag…sakitu dongeng Kuring Balik Ti Lembur…Hapunten nu kasuhun bilih Undak Usukna kirang merenah……..