RSS
 

Archive for February, 2008

Memilih Prosesor: Hikmah Perang Harga

26 Feb
Dikutip dari Info Komputer Edisi Desember-2007,

Memilih Prosesor: Hikmah Perang Harga

Bahan Pertimbangan
Intel atau AMD?
Jika kinerja yang utama, pilih prosesor Intel. Namun di bawah harga US$ 200, kinerja prosesor Intel dan AMD praktis sejajar.
Quad core atau dual core?
Jika Anda pengguna software multimedia (Adobe Premiere, After Effect, Maya), pilih prosesor quad core. Banyaknya inti akan mempercepat kecepatan kerja. Namun gamer dan pengguna biasa sebaiknya pilih
Mau repot overclock?
Prosesor Intel E2160 kabarnya sangat fleksibel di-overclock, bahkan menyamai kinerja Core 2 Extreme yang 10x lebih mahal. Pilih prosesor ini jika Anda mau repot melakukan overclock
Ingin lebih hemat energi?
Prosesor AMD Athlon64 Black Edition dirancang untuk bekerja dengan voltase rendah sehingga lebih dingin dan hemat energi.
Rela menunggu?
Tahun depan akan datang prosesor generasi baru, baik dari Intel maupun AMD. Kalau tidak terburu-buru, lebih baik menunggu.
Tahun 2007 ini ditandai dengan perang harga yang sengit antara Intel dan AMD. Superioritas Intel dengan prosesor Core 2 Duo-nya memaksa AMD untuk memangkas seluruh lini prosesornya agar tetap kompetitif. Namun Intel pun tidak mau kalah. Karena memiliki jajaran produk yang lebar—mulai dari prosesor quad core sampai Celeron—Intel juga leluasa memainkan faktor harga. Alhasil kini kita bisa mendapatkan prosesor bertenaga dengan harga yang menggiurkan, bahkan prosesor empat inti seperti Core 2 Quad Q6600 bisa diperoleh dengan harga di bawah US$ 300 saja.
Terjangkaunya prosesor 4 inti adalah kabar baik jika Anda adalah pengguna aplikasi multimedia seperti video authoring (Adobe Premiere, Adobe After Effect) 3D authoring (Maya, 3DSMax), atau penyunting gambar (Photoshop). Aplikasi-aplikasi tersebut sudah mendukung penggunaan prosesor multi inti, sehingga semua inti dapat bekerja bahu-membahu dan mempercepat kecepatan pemrosesan kerja. Menurut pengujian yang pernah kami lakukan, peningkatan kinerja yang terjadi berkisar antara 20-40% dibandingkan prosesor dua inti.
Jadi jika Anda banyak bergelut di aplikasi multimedia, prosesor empat inti adalah pilihan yang paling tepat. Ada 4 pilihan yang tersedia saat ini, mulai dari C2Q Q6600 (2,4Ghz, 8MB cache, FSB1066MHz) yang harganya US$ 279 sampai Intel Core 2 Extreme QX6850 (3GHz, 8MB cache, FSB1333MHz) seharga US$ 1150. Menimbang kedua prosesor tersebut menggunakan mikroarsitektur dan spesifikasi yang identik, dan cuma dibedakan pada kecepatan clock dan FSBnya, kami tidak merekomendasikan pembelian prosesor Core 2 Extreme yang mahal itu. Lebih baik Anda memilih Core 2 Quad Q6600 dan Q6700 yang harganya lebih terjangkau.
Kalaupun ingin kinerja yang lebih cepat lagi, Anda bisa melakukan overclock ke prosesor-prosesor tersebut. Situs Hexus.net berhasil meningkatkan kecepatan Q6700 dari angka semula 2,66Ghz menjadi 3Ghz tanpa harus melakukan modifikasi di sisi voltase. Bahkan jika Anda lebih serius melakukan overclock, Q6700 bisa menembus kecepatan 3,4GHz, atau 11% di atas kecepatan prosesor Intel terbaik yang ada saat ini.
Namun jika merasa prosesor empat inti terlalu bagus (dan terlalu mahal) buat kebutuhan komputasi Anda, silakan pilih prosesor dua inti. Pada segmen ini, pilihannya sangat beragam, baik dari Intel maupun AMD. Mana yang dipilih, Intel atau AMD? Sebenarnya tidak jadi soal. Hikmah dari perang harga antara Intel dan AMD adalah keduanya memposisikan prosesor dengan performa yang setara pada kisaran harga yang sama. Ambil contoh Athlon64 X2 6000+ dan Intel Core 2 Duo E6550 dibandrol di kisaran harga US$ 180, dan keduanya memiliki performa yang mirip. Jadi prosesor manapun yang Anda pilih, akan memberikan kinerja yang sama.
Namun hitung-hitungan itu terbatas pada prosesor di bawah harga US$ 200. Di atas angka itu, Intel praktis tidak memiliki lawan sehingga Anda tinggal memilih antara Intel E6600, E6700, E6750, dan E6850. Pilihan paling seimbang antara harga dan performa adalah E6750 yang saat ini dibandrol di kisaran US$ 237. Di atas itu, harganya sudah mendekati prosesor empat inti, jadi lebih baik langsung beralih ke prosesor empat inti.
Untuk prosesor di bawah harga US$ 100, Anda harus melirik Pentium E2140, E2160, dan E2180. Jajaran prosesor berlabel Pentium E2xxx ini dibangun dari mikroarsitektur Core (seperti halnya prosesor Core 2 Duo), namun dengan beberapa pengurangan spesifikasi. Contohnya FSB cuma 800MHz, L2 cache cuma 1MB, serta tidak mendukung VT (virtualisasi). Namun kehebatan prosesor seri ini adalah kemampuan overclock-nya yang sangat tinggi. Situs seperti Anandtech, Tomshardware, dan Legion Hardware berhasil menaikkan frekuensi E2160 sampai 3,6GHz cuma dengan pendingin biasa. Jadi jika Anda mau sedikit repot melakukan overclock, burulah E2160.
Namun perlu dicatat, tahun depan akan datang prosesor generasi baru. Intel akan meluncurkan prosesor dengan mikroarsitektur Penryn yang dibuat dengan proses fabrikasi 45nm. Kata Intel, prosesor baru ini akan lebih bertenaga sekaligus lebih dingin dibanding prosesor Core 2 Duo yang ada saat ini. AMD pun akan meluncurkan generasi terbaru prosesor mereka yang disebut Phenom. Prosesor ini revolusioner karena berarsitektur 4 inti dan masing-masing inti adalah bagian yang terpisah (bandingkan dengan Intel yang 2×2 atau gabungan dua buah inti prosesor dua inti). Jadi kalau tidak terburu-buru, lebih baik menunggu prosesor generasi terbaru ini.
REKOMENDASI KAMI
Prosesor
Kisaran Harga
Keterangan
Intel Pentium E2160
US$ 85
Harganya murah namun perkasa untuk di-overclock
AMD Athlon64 X2 BE-2300
US$ 97
Harganya memang sedikit lebih tinggi dibanding prosesor dengan kinerja sekelas, namun dikompensasi dengan konsumsi daya yang minim
Intel Core 2 Duo E4400
US$ 128
Pilihan bagus untuk kisaran harga di bawah US$ 150. Meskipun FSBnya cuma 800MHz, namun mudah di-overclock.
Athlon64 X2 6000+
US$ 180
Prosesor terbaik AMD ini dibandrol dengan harga cukup realistis, dan mampu menandingi Intel seri E6550
Intel Core 2 Quad Q6600
US$ 279
Prosesor empat inti paling terjangkau, cocok untuk pengguna aplikasi multimedia

 

Cegah Babakan Siliwangi jadi Mall…..

26 Feb

Seperti yang diungkapkan Pak Budi Rahardjo,
ada rencana Babakan Siliwangi jadi Mall…..

Bandung yang usianya lebih dari 197 tahun, saat ini sudah sesak (baca: Bandung Heurin Ku Tangtung), serta semakin ambles dan akan kehilangan jati dirinya sebagai “Paris Van Java“….

Saya teringat pada saat masih kecil sering diajak orang tua untuk piknik, makan dan naik kuda di sini…….Sungguh, masih besar ikatan emosional pada tempat ini bagi kami sekeluarga, entah siapa yang tega merubah artifak ini menjadi kumpulan tempat untuk hingar-bingarnya “Fun, Food and Fashion” yang jauh dari kalbu kita…..

Serius…..Setuju 100%, kita harus cegah Lebak Siliwangi jadi Mall…..

 

Listrik….Oh Listrik

25 Feb

Listrik memang lagi bermain “cantik”
Bagai putri yang semakin dilirik…..
Namun ia juga sering dibidik
Sebagai alat untuk melanggengkan politik……
Lihat juga:
 
No Comments

Posted in Listrik

 

Listrik….Oh Listrik

25 Feb
Tidak sanggup membayar tarif listrik yang terlalu mahal

Tidak sanggup membayar tarif listrik yang mahal

Listrik memang lagi bermain “cantik”
Bagai putri yang semakin dilirik…..
Namun ia juga sering dibidik
Sebagai alat untuk melanggengkan politik……

 

Artikel “Penjara Banceuy, Riwayatmu Kini” dimuat di Detikcom 19 Februar 2008

19 Feb


Artikel “Penjara Banceuy, Riwayatmu Kini” dimuat di Detikcom 19 Februari 2008.
Permuatan itu bermula dari keinginan untuk menceritakan pengalaman pribadi atas kondisi penjara tersebut yang terbengkalai.
Ditengah maraknya wisata yang sedang digalakkan, alangkah baiknya kita mengajak putra putri kita mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka ingat akan jati dirinya.


 

 

Iwan Abdulrachman: Seribu Mil Lebih Sedepa

18 Feb


Sejak SMP saya senang lagu-lagu dari Iwan Abdulrachman (a.k.a Abah Iwan), termasuk lagu “Seribu Mil Lebih Sedepa“. Syairnya yang lembut, penuh rasa cinta dan inspirasi kehidupan ini memang sarat dengan pesan moral yang tinggi.
Coba kita simak syairnya:

SERIBU MIL LEBIH SEDEPA

Gubuk sunyi di pinggir danau

Diam-diam tersenyum dipeluk mentari senja

Yang juga nakal meraba-raba ujung bunga rerumputan

Lagu alam memang sunyi, sayang

Apalagi sore ini, sore ini sore Sabtu. Sore biasa kita berdua

Membelai mentari senja di ujung jalan Bandung utara

Mentarinya yang ini juga, sayang

Cuma jarak yang memisah kita

Seribu mil lebih sedepa

Seribu mil pun lebih sedepa

Lagu alam memang sunyi.. mmm..

Lagi pula bukan puisi

Cuma bahana yang diam-diam

Lalu bangkit dari dalam hati

Lagu alam memang sunyi, sayang

Kini jarak yang memisah kita

Seribu mil lebih sedepa

Seribu mil pun lebih sedepa

Gubuk sunyi di pinggir danau.. mmm..


Sepertinya sekarang sangat jarang pemusik balad yang punya penghayatan tinggi terhadap karyanya seperti Abah Iwan……Kecintaannya pada manusia, alam, tanah air dan budayanya (termasuk Budaya Sunda) sungguh sangat menyentuh, terbukti dari pujian dan penghormatan media….salah satunya saya kutip dari “Pikiran Rakyat” – 10 Desember 2006:
Iwan, Alam, dan Cianjuran
Oleh SONI FARID MAULANA Sore tadi sudut perlahan
Dan bayang-bayang senja merayap satu-satu
Menjemput bintang-bintang
Yang diam-diam hadir
Kuterpana tiba-tiba bagai dalam mimpi
Langit luas malam ini penuh lagu
ENAM larik puisi di atas dipetik dari lirik lagu “Nyanyian Langit,” yang ditulis sekaligus dinyanyikan oleh musikus Iwan Abdulrachman. Penggalan enam lirik lagu tersebut tidak hanya menggambarkan tentang terjadinya pergeseran waktu yang demikian cepat dalam kehidupan manusia di muka bumi, akan tetapi mengungkapkan pula suasana malam yang datang menjelang, yang dilimpahi dengan nyanyian serangga.

Tentu saja nyanyian yang hadir pada saat itu adalah bunyi-bunyian serangga dan desir angin di daun-daun. Hanya masalahnya kemudian, di tempat macam apakah suasana semacam itu bisa hadir kalau bukan di pinggir hutan? Apa sebab? Kita yang kini hidup di kota besar, yang tinggal di perumahan, yang halaman rumahnya sempit dan hanya ditumbuhi tanaman hias, rasanya sangat tidak mungkin bisa mendengar suara alam.

Berkait dengan hal itu, mendengarkan lagu demi lagu yang dikreasi oleh Iwan Abdulrachman baik yang digelar dalam berbagai pertunjukan maupun lewat kaset dan CD, adalah mendengar renungan seorang penghayat lingkungan hidup, yang dalam kehidupan sehari-hari terlibat total di situ. Betapa, lelaki kelahiran Sumedang, 3 September 1947 itu, memang dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup dan pendaki gunung. Ia aktif di Wanadri sejak tahun 1964. Pengalaman semacam itulah yang menyebabkan dirinya kian dekat dengan alam.

**

SEBUAH lirik yang baik yang ditulis oleh seorang penyair, memang lahir dari pengalaman. Karena lahir dari pengalaman maka terasa geregetnya. Iwan adalah penyair dalam pandangan saya, yang lirik-liriknya ditulis dengan kalimat yang sederhana, namun kaya makna. Di dalam liriknya yang sederhana itu memang sangat jarang kita temukan metafora, namun apa yang ingin diungkapnya cukup jelas. Sering menyeret apresiator lirik dan lagunya ke dalam suasana batin yang hening, seperti kita baca dalam penggalan lirik lagu di bawah ini, yang dipetik dari lagu “Seribu Mil Lebih Sedepa” yang berbunyi: Gubuk sunyi di pinggir danau/ Diam-diam tersenyum dipeluk mentari senja/ Yang juga nakal meraba-raba/ Ujung bunga rerumputan/ Lagu alam memang sunyi, sayang// atau dalam lirik lainnya pada lagu “Melati dari Jayagiri” yang berbunyi: Melati dari Jayagiri/ Kuterawang keindahan kenangan/ Hari-hari lalu di mataku/ Tatapan yang lembut dan penuh kasih//.

Gambaran-gambaran tentang alam dalam lirik lagunya semacam itu sering kali diposisikan sebagai pintu masuk untuk mengungkap persoalan-persoalan kalbunya, yang ada kalanya dilanda kesepian, kesunyian, serta kerinduan yang menggelegak pada kekasihnya yang jauh, yang entah di mana pada saat itu. Lagu “Melati dari Jayagiri” dan “Seribu Mil Lebih Sedepa” mengungkap suasana kalbu semacam itu.

Dalam pandangan saya, pola lirik dan pola lagu semacam itu mengingatkan kita pada tembang Sunda cianjuran, entah dalam wanda papantunan maupun dalam wanda jejemplangan dan panambih. Dan apa yang baru saja digelarnya dalam Festival Sunda Ambu II-2006 yang baru saja berlangsung di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Jln. Buahbatu 212 Bandung itu, mengambil pola semacam itu. ***

Penulis, wartawan “PR,” penyair.


 

 
 

Top Badak….Top Maung

18 Feb

Sok inget baheula mun ngadengekeun Kang Ibing ngocoblak di Radio Mara, mun muji sok teu lepas ngomong “Top Badak….Top Maung”. Kuring teu ngarti naon maksudna….Anu pasti ieu teu lepas tina kabiasaanana anu sok resep heureuy.

Meureun mun urang geus top (baca: terkenal) bakal moal lepas tina sifat Maung atawa Badak? Atawa boga sagala kasieun ku rupa2 jalma anu boga sifat siga Maung/Badak? Kadituna bisa jadi…..meureun…urang bakal rubah rupa jadi Maung/Badak….Hiy seyeeemmm…..

Kuring neangan rambat lancah….eh salah tumbu rambat keur “Top Badak….Top Maung”, ngan kapanggih ieu wungkul…….

 

 
No Comments

Posted in Canda, Tokoh

 

Apa yang kita cari dari suatu pekerjaan?

13 Feb

Apa yang kita cari dari suatu pekerjaan?
Pertanyaan strategis ini saya tanyakan sebagai pembuka artikel ini sebagai pancingan atau pencerahan bagi kita yang pernah, sedang dan akan bekerja…….Hal ini saya bahas sebagai renungan setelah pertama kali bekerja di salah satu penerbangan nasional tahun 1991, dimana gaji pertama saya saat itu hampir 70% habis untuk biaya hidup di Jakarta sedang istri tinggal di Bandung. Namun ada suatu kebanggaan karena saat itu dapat “mengalahkan saingan” dari beberapa PTN yang terkenal dan bisa keliling Indonesia secara gratis….. :-). Saat ini setelah mengarungi berbagai ombak kehidupan, ingin rasanya berbagi suatu perspektif tentang makna suatu pekerjaan……


Menurut saya, ada beberapa komponen yang perlu kita perhatikan sebelum masuk kerja sebagai berikut:

a. Kesempatan Belajar:
Kelihatannya naif, tapi terasa sekali bahwa setelah lulus ada kekosongan atau “gap” antara dunia kerja dengan pendidikan. Kita ternyata harus berhubungan bukan hanya sekedar dengan Rangkaian Listrik, Elektronika, atau Propagasi Antena. Namun juga harus bisa bekerja secara tim, berjiwa proaktif, berbicara atau bekerja sama dengan orang asing, menyusun jadwal atau laporan dan lain-lain. Hal ini dapat diperoleh dari institusi atau perusahaan yang mapan dan “well organized” atau juga sedang berkembang namun memberi kesempatan untuk pengembangan diri pegawainya. Itulah mengapa saya niatkan pertama kali lulus untuk bekerja di tempat seperti ini agar memberi nilai tambah…..

b. Lokasi yang tepat:
Kadang kita lupa bahwa tempat kita bekerja selama minimal 8 jam sehari (baca: 33,3% dari hidup kita)memerlukan lingkungan yang tepat. Mulai berangkat sampai pulang kerja harus kita perhatikan semua biaya (termasuk kerugian) dan penghasilan/keuntungan yang kita peroleh. Jangan lupa perhatikan juga “emotional atau social cost” yang kita tanggung dari pengambilan keputusan tsb. Sebagai contoh saya pernah memutuskan dan memilih bekerja di Bandung walau gajinya lebih kecil dengan alasan keluarga serta ingin memperoleh kesempatan pengembangan diri…..

c. Nama besar:
Kadang kita perlu suatu “papan loncat” (baca: spring board) agar kita tercatat (terutama di CV)pernah bekerja atau terlibat dengan institusi atau perusahaan besar. Bisa juga itu berupa kerja sama dengan tokoh besar yang bisa merekomendasikan kita agar dapat pekerjaan yang lebih baik.

d. Gaji besar:
Bagi saya hal ini relatif, karena setelah bekerja selama ~18 tahun (di beberapa perusahaan yang berbeda), dirasakan bahwa kebahagiaan pada saat pertama kali bekerja sampai sekarang relatif hampir sama. Karena hal itu sesuai dengan rumus “High Risk High Gain” karena perusahaan yang kita tempati bukan milik kakek atau nenek kita. Kecuali kalau perusahaan itu milik pribadi, maka kita bisa memperlakukan institusi atau perusahaan sesuai keinginan kita.

e. Identifikasi Diri:
Bagi laki-laki (terutama yang sudah berkeluarga) bekerja bukan hanya urusan mencari uang namun merupakan identifikasi diri. Ada hal-hal di luar material yang membuat dia bahagia dan berharga dihadapan komunitasnya agar tetap eksis. Pekerjaan (baca: kegiatan) apapun yang kita pilih asal memenuhi azas ini akan membuat kita bahagia dan berharga. Sebagai contoh, saat ini saya punya impian kembali sebagai guru (juga dosen) karena merasa karir ini (termasuk jadi orangtua) tidak pernah berakhir kecuali maut memisahkan kita.

Sekian…….

 

 

Siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan

12 Feb
Mendapat kiriman dari Milis, semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan semangat kita:“Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan (man a’jabul khalqi imanan)?” Demikian pertanyaan Nabi Muhammad kepada sahabatnya di suatu pagi.

Para sahabat langsung menjawab, “Malaikat!”. Nabi menukas, “Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?”

Sahabat menjawab lagi, “kalau begitu, para Nabi-lah yang imannya paling menakjubkan! ” “Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu turun kepada mereka,” sahut Nabi.

Untuk ketiga kalinya, sahabat mencoba memberikan jawaban, “kalau begitu, sahabat-sahabatmu ya Rasul.” Nabi pun menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.”

Rasul yang mulia meneruskan kalimatnya, “Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, walaupun mereka tidak melihatku. Mereka benarkan aku tanpa pernah melihatku. Mereka temukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka amalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka bela aku seperti kalian membela aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku itu!”

Kita bukanlah sahabat Nabi yang menyaksikan secara langsung betapa mulianya akhlak junjungan kita itu;
kita juga bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu;
kita juga bukan waliyullah yang telah merasakan manisnya kasih sayang Allah.Kita adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.

Dalam kelemahan itulah kita masih beriman kepada Allah. Dalam ketidakhebatan kita itulah kita selalu berusaha mendekati Allah. Di tengah kesibukan dan beban ekonomi yang semakin meningkat, kita tetap keluarkan zakat dan sedekah. Tak sedikitpun kita akan gadaikan iman kita.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, kita masih sempatkan untuk shalat. Di tengah godaan duniawi yang luar biasa, kita tahan nafsu kita di bulan Ramadhan. Di tengah kumpulan manusia yang putus asa dengan krisis moneter ini, kita masih bisa mensyukuri sejumput ni’mat yang diberikan Allah.

Nabi Muhammad menghibur kita, “Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku,” Nabi ucapkan kalimat ini satu kali.

“Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi ucapkan kalimat terakhir ini tujuh kali.

 

 
 

Hai Kaum Muda……Hidupmu Sangat Berharga

11 Feb
Membaca, melihat dan mendengar peristiwa tewasnya 10 orang dalam pertunjukan band di Bandung pada tanggal 09 Februari 2008, bisa dianggap biasa atau luar biasa. Biasa karena kejadian tersebut telah terjadi berkali-kali dan sepertinya tidak meninggal “lesson learned” (baca: hikmah atau pelajaran) bagi semua fihak terutama kaum muda dan penyelenggara pertunjukan. Tidak biasa karena petaka tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit dan menorehkan bagaimana peristiwa itu bisa “sering” terjadi.Saya coba mengerti kebutuhan kaum muda terhadap hiburan, perlunya sebuah band untuk manggung sebagai pembuktian eksistensinya dan manfaat dari penyelenggara pertunjukan seperti itu sebagai bagian dari hak asasi. Namun semua itu tidak membuat suatu azas baru yang menghalalkan segala cara seperti pemeo “Muda foya-foya, Tua kaya raya dan mati masuk syurga”. Tapi mungkin saat ini skala prioritas telah berubah dan kita lebih mendahulukan “Distorsi Lebih Besar Dari Informasi”, sehingga aspek-aspek kehidupan lebih diukur dari hal-hal yang tersurat daripada yang tersirat. Hal ini menjadi salah kaprah sehingga jauh dari arti sebuah kebanggaanseperti disindir oleh kartun berikut: 

Hai Kaum Muda……Hidupmu Sangat Berharga. Jangan biarkan kenikmatan “Fun, Food and Fashion (F3)” penuh racun itu menghancurkanmu…….