RSS
 

Archive for September, 2011

Pojok Pendidikan Publishing: Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif Edisi-1” Sudah Terbit

29 Sep

 

Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa, betapa besar peranan pendididikan dlam hajat hidup manuasia yang dikatakan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.


Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian kita lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial.  

Tulisan dalam Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif” ini dimaksudkan sebagai tambahan menu dalam dunia pendidikan yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru. Walaupun bukan merupakan buku referensi dan ditulis dengan gaya populer, diharapkan menambah khasanah bagi semua pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia.

Semoga.

 Pendidik Pembebas

Djadja Achmad Sardjana

Buku bisa dipesan di : http://www.nulisbuku.com/books/view/bunga-rampai-pendidikan-kreatif-edisi-1

 

[slideshare id=6413231&doc=presentasigurukreatifpojokpendidikan-30dec10-101231023256-phpapp01]

 

Related articles, courtesy of Zemanta:

 

Diky Candra, Joko Widodo dan Arti Sebuah Amanah

24 Sep

Akhir-akhir ini ada dua tokoh yang terkenal karena jabatannya: Dicky Chandra dan Joko Wi. Keduanya menduduki rating tinggi di beberapa media televisi, majalah, surat kabar dan online. 

Diky Candra (Sumber dari Wikipedia)

Raden Diky Candranegara (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 12 Mei 1974; umur 37 tahun) atau yang lebih dikenal dengan Diky Candra adalah seorang pria Indonesia yang berprofesi sebagai pelawak, MC, sutradara, penulis naskah dan aktor dalam dunia hiburan di tanah air. Ia adalah wakil bupati Garut untuk periode 2009-2013

Pada tahun 2008 Diky mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Garut mendampingi calon bupati Aceng Fikri sebagai wakil kelompok independen. Setelah melalu dua putaran pemilihan akhirnya Aceng-Diky terpilih menjadi Bupati-Wakil Bupati Garut untuk periode 2009-2014.

Persoalan mulai muncul ketika Dicky Chandra  mengajukan Pengunduran diri, yang menurut beberapa kalangan merupakan tindakan seorang ksatria yang harus diberikan apresiasi dan dihormati. Selain itu, Dicky Chandra telah melakukan tindakan seorang pemimpin yang bertanggungjawab apabila dirinya memang mengakui tidak mampu memimpin.

“Ini adalah suatu tindakan dan langkah yang bertanggungjawab yang dilakukan oleh Dicky Chandra,” kata beberapa tokoh.

Menurut beberapa kalangan, ia  bisa membangun Kabupaten Garut dan tidak harus menjadi pejabat seperti Bupati atau Wakil Bupati dengan memiliki karya yang bermanfaat merupakan salah satu yang dapat membangun daerah. Apalagi Dicky Chandra, merupakan artis atau sosok figur yang dikenal banyak masyarakat di Garut maupun se-Indonesia yang tentunya dapat memberikan yang terbaik untuk Garut umumnya bangsa Indonesia dengan keahlian yang dimilikinya.

Sementara itu surat pengajuan pengunduran diri Wakil Bupati Garut, Dicky Chandra telah diterima oleh pimpinan DPRD Kabupaten Garut. Bahkan keputusan pengunduran diri Dicky Chandra itu sudah diketahui Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, dan pihak DPRD sudah bertemu langsung dengan Wakil Bupati Garut Dicky Chandra untuk menjelaskan alasan pengunduran diri tersebut. Sementara itu Dicky Chandra merupakan sosok artis yang sering muncul di layar televisi mencalonkan diri menjadi Wakil Bupati bersama pasangannya Bupati Garut Aceng HM Fikri dari calon perseorangan pada Pilkada Garut 2009.

Joko Widodo (Sumber dari Wikipedia)

Ir. Joko Widodo (lahir di Surakarta, 21 Juni 1961; umur 50 tahun), lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi, adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo.

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java”. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman.

Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008”.

Arti Sebuah Amanah

Bercermin dari dua kejadian di atas, apa yang dapat kita simpulkan dari “Arti Sebuah Amanah”? Terutama dihubungkan dengan amanah jabatan yang dipegang sebagai manifestasi kekuasaan “Dari Rakyat, Oleh rakyat dan Untuk Rakyat”.

Menurut Syariah Online, Arti Sebuah Amanah digambarkan dalam sebuah ayat Al-Qur’an sbb: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al-Anfaal 27).

Ayat ini mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa diantara indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu melaksanakan amanah. Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikankan amanah-amanahnya. Amanah, dari satu sisi dapat diartikan dengan tugas, dan dari sisi lain diartikan kredibilitas dalam menunaikan tugas. Sehingga amanah sering dihubungkan dengan kekuatan. Firman Allah: “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS Al-Qhashash 27).

Oleh karena itu sekecil apapun amanah yang dilaksanakan, maka memiliki dampak positif berupa kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan, niscaya memiliki dampak negatif berupa keburukan. Dampak itu bukan hanya mengenai dirinya tetapi juga mengenai umat manusia secara umum. Seorang mukmin yang bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal dan baik, maka akan memberikan dampak positif berupa ketenanggan jiwa dan kebahagiaan bagi keluarganya. Lebih dari itu dia mampu memberi sedekah dan infak kepada yang membutuhkan. Sebaliknya seorang yang mengaggur dan malas akan menimbulkan dampak negatif berupa keburukan, terlantarnya keluarga, kekisruhan, keributan dan beban bagi orang lain.

Kesalahan kecil dalam menunaikan amanah akan menimbulkan bahaya yang fatal. Bukankah terjadinya kecelakan mobil ditabrak kereta, disebabkan hanya karena sopirnya lengah atau sang penjaga pintu rel kereta tidak menutupnya? Bahaya yang lebih fatal lagi jika amanah dakwah tidak dilaksanakan, maka yang terjadi adalah merebaknya kemaksiatan, kematian hati, kerusakan moral dan tatanan sosial serta kepemimpnan di pegang oleh orang yang bodoh dan zhalim.

Harta, wanita dan kekuasaan memang merupakan sarana yang paling ampuh digunakan syetan untuk mengoda orang beriman agar melalaikan amanah, bahkan meninggalkannya sama sekali. Betapa sebagian da’i yang ketika tidak memiliki sarana harta yang cukup dan tidak ada kekuasaan yang disandangnya, begitu istiqomah menjalankan amanah dakwah. Tetapi setelah dakwah sudah menghasilkan harta dan kekuasaan, amanah dakwah itu ditinggalkan dan bahkan berhenti dari jalan dakwah dan futur dalam barisan jama’ah dakwah!

Oleh karena itu waspadalah terhadap harta, wanita dan kekuasaan! Itu semua hanya sarana untuk melaksanakan amanah dan jangan sampai menimbulkan fitnah yang berakibat pada melalaikan amanah. Dibalik dari menunaikan amanah terkadang ada bunga-bunga yang mengiringinya, harta yang menggiurkan, wanita yang menggoda sehingga orang yang beriman harus senanatiasa menguatkan taqarrub illallah dan istianah billah.

Amanah adalah perintah dari Allah yang harus ditunaikan dengan benar dan disampaikan kepada ahlinya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS An-Nisaa 58)

Amanah yang paling tinggi adalah amanah untuk berbuat adil dalam menetapkan hukum pada kepemimpinan umat. Pahala yang paling tinggi adalah pahala dalam melaksanakan keadilan sebagai pemimpin umat. Begitulah sebaliknya, bahaya yang paling tinggi adalah bahaya melakukan kezhaliman pada saat memimpin umat. Kezhaliman pemimpin akan menimbulkan kehancuran dan kerusakan total dalam sebuah bangsa. Maka kezhaliman pemimpin merupakan sikap menyia-nyiakan amanah yang paling tinggi.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=FQbwj368Vas&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

  • Amanah – http://blog.re.or.id/amanah.htm
  • Amanah – http://cahayabunda.blogdetik.com/2011/01/21/amanah/
  • Arti Sebuah Amanah — http://musyafucino.wordpress.com/tag/arti-sebuah-amanah/
  • Arti Dari Sebuah Amanah – http://ainicahayamata.wordpress.com/2010/02/10/arti-dari-sebuah-amanah/
 

Educational Innovation, Technology and Entrepreneurship

11 Sep

      by Fernando Reimers | on http://blogs.hbr.org/innovations-in-education/2011/03/educational-innovation-technol.html

Editor’s note: This post is part of a three-week series examining educational innovation and technology, published in partnership with the Advanced Leadership Initiative at Harvard University.

I have spent the last 25 years studying and working with governments and private groups to improve the education available to marginalized youth, in the United States and around the world. Most of that work was based in the belief that change at scale could result from the decisions made by governments, and that research could enlighten those choices. When I joined the Harvard faculty 13 years ago I set out to educate a next generation of leaders who would go on to advise policy makers or to become policy makers themselves, and designed a masters program largely responsive to that vision. During those years I continued to write for those audiences.

Over time, however, I have become aware that traditional approaches can’t improve education at a scale and depth sufficient to ready the next generation of students for the challenges they will face. I have also become more skeptical of the assumed linear relationship between conventional research and educational change. I now believe the needed educational revitalization requires design and invention, as much as linear extrapolation from the study of the status quo — that is, of the past. It also requires systemic interventions — changes in multiple conditions and at multiple levels, inside the school and out. And it requires a departure from the conventional study into how much we can expect a given intervention or additional resource to change one educational outcome measure — typically a skill as measured on a test or access to an education level, or transition to the next.

It is this interest in change that has led me to study the work of education entrepreneurs — of innovators who are creating new education designs, in ways that exceed the resources they command. I am especially interested in the entrepreneurs whose goal is to produce significant educational innovation — rather than simply providing access and delivering services to new groups, or rather than improving the efficiency of the educational enterprise as we know them — to teach our old schools a few new tricks, so to speak. I am also particularly interested in entrepreneurs who can achieve sufficient scale and develop the strategy to significantly change the ecosystem, to shift the conversation about education, to eventually transform the sector in the way in which Wilhelm Humboldt transformed the sector of higher education with the creation of the University of Berlin, or in the way in which Joseph Lancaster propelled the universalization of basic education with the development of a method to teach a basic curriculum at low cost.

The conversations in these blogs on Educational Innovation and Technology are an exciting opportunity to explore a promising mix — the synergies that can result from combining innovation, the utilization of technology in education and the role of education entrepreneurs in creating new designs that can transform the ecosystem. It is in the interplay of these three factors that I see the greatest potential. Not all education entrepreneurs using technology generate innovation, and most of their designs have failed to transform the sector and not all innovators using technology have produced designs that can be scaled or with the ambition and potential to change the conversation or the sector. As a result, educational enterprise is a fragmented territory, of modest scale, yet to transform the education ecosystem.

In order for these three elements — innovation, technology and entrepreneurship — to produce the synergies necessary to substantially transform education, we will need to build a collaborative architecture that allows for the fruitful integration of careful study, design and invention, and action at scale. Such collaboration of industry, academy and the public schools is exceptional, not the conventional way of business for universities, governments or businesses.

Universities are uniquely positioned to lead in forging these partnerships. The trust we receive from society in the form of financial resources, financial and legal advantages and institutional autonomy enable us to anticipate new organizational forms to support educational renewal, rather than reproduce the established forms of the past. While we haven’t done this consistently in the history of higher education in the US or abroad, there are good historical precedents of universities taking seriously the task of substantially improving the work of elementary and secondary schools, of serving those who are not direct members of the university community.

This is the time for universities to lead the task of fundamentally reinventing public education. But to do it well, we need to seriously commit to design and innovation, and to work with others — with entrepreneurs, industry and governments — so that their ambitions and impatience for results, and the accountability they have with the constituencies they serve, can help align our efforts with the creation of public value in the form of education institutions that prepare the next generation to lead and manage the challenges we have passed on to them.

Fernando Reimers is the Ford Foundation Professor of International Education and the Director of the International Education Policy Program at the Harvard Graduate School of Education. He is a member of the Council on Foreign Relations, a Fellow of the International Academy of Education, and Chair of the World Economic Forum’s Global Agenda Council on Education.

Learn more about the Advanced Leadership Initiative at Harvard.

FERNANDO REIMERS

 

Fernando Reimers is the Ford Foundation Professor of International Education and the Director of the International Education Policy Program at the Harvard Graduate School of Education. He is a member of the Council on Foreign Relations, a Fellow of the International Academy of Education, and Chair of the World Economic Forum’s Global Agenda Council on Education.

 

Kenangan Kepada Pagerageung, Almarhum Kakek & Abah Anom

07 Sep

Pagerageung…..Engkau Selalu Kukenang

Kampung halamanku ada di Pagerageung – Tasikmalaya, desa yang melahirkan kedua orang tua dan tempat “Bali Geusan Ngajadi” bagi seluruh keluarga besar alm. H. Abdul Aziz dan Oewon Natamihardja. Disinilah dilahirkan tokoh-tokoh seperti Raden Moehamad Asnawi, Pagerageung, Tjiawi, berputerakan Raden Moehamad Markoem, Penghulu Pagerageung, berputerakanRaden Moehamad Noerjakin, Penghulu Pagerageung, Raden Moehamad Tabri, di Pagerageung, Tjiawi. berputerakan Raden Abdoelah, pegawai Kaoem Bandoeng.

Luas wilayah Kecamatan Pagerageung adalah 6.368,450 Ha terdiri dari Tanah Sawah: 2.339,263 Ha, Tanah Darat: 3.918,152 Ha, Tanah Hutan: 109,234 Ha dan Jalan, sungai dll: 1,801 Ha. Desa Pagerageung adalah ibukota dari Kecamatan Pagerageung. Terdiri dari 5 wilayah Kampung yaitu Pagerageung Kulon (Bojot, Tanjaknangsi, Cijeruk, Calingcing, Munjul), Pagerageung Kidul (Citugu, Patombo, Bolkam), Pagerageung Tengah (Tengkot, Sisi Makam, Baros), Pagerageung Kaler (Ciseupan, Pasantren, Cidomba), dan terakhir Pagerageung Wetan (Pasar, Darul Ulum, Cibeunying, Tanjakan Genteng, Kebon Suuk). Merupakan desa yang masih mempertahankan ciri tradisional masyarakat Sunda dan sangat kental dengan nuansa islami. Ini ditandai dengan berdirinya berbagai pondok pesantren di setiap kampungnya. Masyarakatnya 100% menganut agama Islam dan sebagian besar bermata penceharian sebagai petani. Kesenian khas dari desa ini yaitu seni tembang Pagerageungan, yang setiap tahun dilombakan terutama di tingkat sekolah dasar. Seni lainnya yaitu seni kosidahan yang biasanya diselenggarakan secara meriah di balai desa saat hari-hari besar Islam, seperti pada perayaan Isra Mi’raj dan Maulid Nabi.

Kakekku almarhum H. Abdul Aziz dan Oewon Natamihardja

Kedua kakekku berasal dari Pagerageung. Beliau berdua mewakili latar belakang demografis yang berbeda. Almarhum kakek dari fihak Ibu (alm. H. Abdul Aziz) adalah seorang petani yang kemudia bermetamorfosis menjadi tokoh sentral lokal yang disegani. Masih segar di ingatan saya, pada saat beliau naik haji tahun 1970-an ribuan orang mengantar kepergian beliau dengan seperti oarang yang tidak akan kembali. Teringat juga cerita orang tua bahwa beliau menyumbangkan tanahnya seluas 100 Ha kepada negara dalam rangka perjuangan melawan penjajah.

Kenangan pribadi yang menonjol dengan beliau adalah pada saat naik haji, saya mengantar sampai dengan Pelabuhan Tanjung Priuk – Jakarta dengan naik Kereta Gandeng (Anhang) dari Pagerageung – Tasikmalaya. Suatu perjalana yang mengasyikkan, rasanya seperti Karl May atau Huckleberry Finn yang melakukan perjalan penuh bahaya menuju “The Last Frontier” terutama karena saya dan sepupu duduk di atas peti-peti kayu (Sahara) untuk bekal kakek dan nenek di Tanah Suci. Kenangan lainnya adalah bila pulang mudik, saya selalu ikut “Kursus Kilat Mengaji” dimana kakek bertindak sebagai Tutor. Bila sepupu lain kena sentil “Sapu Nyere” bila salah melafalkan ayat suci Al-Qur’an, maka saya belum pernah mengalaminya 🙂

Almarhum kakek dari fihak ayah (alm. Oewon Natamihardja) berasal juga dari Pagerageung. Hanya saja beliau sudah lama tinggal di Bandung dan bekerja di GBO (yang kemudian berubah nama menjadi PLN) sejak jaman “Noormal”. Kakek bekerja di instansi ini sejak tahun 1930 sampai dengan pensiun 1970, suatu masa kerja yang cukup panjang dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi beliau. Beliau adalah salah seorang pendiri Masjid Nugraha – Bandung dan tokoh masyarakat Muararajeun yang hidup dengan segala kesederhanaanya.

Kenangan pribadi dengan beliau adalah kesederhanaan, keramahan dan kesejukan seorang kakek. Beliau tidak mau tinggal di rumah dinas, sampai-sampai menolak tinggal di peruamahan PLN di Jalan Ciateul – Bandung, karena tidak ingin anak cucunya “terusir” dari rumah tersebut. Seperti kita tahu banyak dari rumah dinas tersebut bisa dimiliki oleh pegawai, namun tidak ada penyesalan dari beliau yang sampai akhir hayatnya tinggal di “Rumah Buruh” (Woneng) …… Suatu sikap integritas yang selalu saya ikuti sampai sekarang. Selain itu setiap selesai sholat Jum’at beliau datang ke rumah kami (jaraknya hanya ~100 meter) untuk bersilaturahmi dan mengecek keadaan anak cucu beliau.

Dengan Abah Anom, saya tidak tahu hubungan kedua kakek dengan Kyai dari Suryalaya ini. Yang pasti mereka berdua sering menyebut-nyebut nama Kyai Godebag dalam pembicaraan menyangkut guru-guru spiritual mereka. Mungkin mereka berdua pernah/sering berhubungan dengan Abah Anom baik sebagai murid atau jamaah dari Pagerageung. Wallahu Alam Bissawab.

Riwayat Singkat KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom)

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya (Kecamatan Pagerageung) tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.

Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.

Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.

Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.

Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah.

Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.

Abah Anom meninggal dan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Puncak Suryalaya atau sekitar komplek pesantren, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (6/9) pagi. Almarhum dimakamkan di sebuah bangunan dekat dengan makam ayahnya Syekh H Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh pendiri pondok pesantren Suryalaya dan makam keluarga besar Suryalaya lainnya.

Related articles, courtesy of Zemanta:

 

Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Dalam Manajemen

04 Sep

‘Stakeholders’ menurut definisnya adalah kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi. Clarkson membagi Stakeholders menjadi dua: Stakeholders primer dan Stakeholders sekunder. Stakeholders primer adalah ‘pihak di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan organisasi tidak dapat bertahan.’ Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja, pelanggan, dan pemasok. Menurut Clarkson, suatu perusahaan atau organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem Stakeholders primer – yang merupakan rangkaian kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai hak, tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda. 

Stakeholders sekunder didefinisikan sebagai ‘pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah media dan berbagai kelompok kepentingan tertentu. Perusahaan tidak bergantung pada kelompok ini untuk kelangsungan hidupnya, tapi mereka bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dengan mengganggu kelancaran bisnis perusahaan. 

Clarkson (dalam artikel tahun 1994) juga telah memberikan definisi yang bahkan lebih sempit lagi di mana Stakeholders didefinisikan sebagai suatu kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka telah melakukan investasi (material ataupun manusia) di perusahaan tersebut (‘Stakeholders sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi risiko akibat kegiatan perusahaan tersebut (‘Stakeholders non-sukarela’). Karena itu, Stakeholders adalah pihak yang akan dipengaruhi secara langsung oleh keputusan dan strategi perusahaan. 

Menurut Freeman (1984), perusahaan-perusahaan terkemuka telah menerima kenyataan bahwa mereka bukanlah semata-mata pelayan kepentingan pemilik modal, melainkan juga pemangku kepentingan lain yang lebih luas. Pemangku kepentingan ini didefinisikan sebagai pihak-pihak yang dapat terpengaruh dan/atau mempengaruhi kebijakan serta operasi perusahaan. Clarkson (1995) semakin meyakinkan dunia bisnis bahwa hanya dengan memperhatikan semua pemangku kepentinganlah sebuah perusahaan dapat mencapai kinerja sosial yang tinggi (yaitu perolehan social license to operate). Permasalahannya, siapa saja yang dapat dianggap sebagai pemangku kepentingan yang sah terhadap operasi perusahaan? Jawaban pertanyaan ini pertama-tama dikemukakan oleh Mitchell, Agle dan Wood (1997), yang menyatakan bahwa derajat kesahihan pemangku kepentingan ditentukan oleh aspek kekuatan, legitimasi, dan urgensi. Sejak itu ketiga kriteria itu dipergunakan secara luas, sampai kemudian Driscoll dan Starik (2004) mengusulkan kedekatan (proximity) sebagai kriteria lainnya

(Dikutip dari berbagai sumber)
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=bIRUaLcvPe8&w=640&h=410]