RSS
 

Archive for April, 2012

Analisis SPICEWORKS Sebagai Alat Bantu IT Audit

19 Apr

 

Tugas Kuliah Information Technology-3

 

0606020          Rd. Kasono Galih     Pamungkas

0608125          Ihsan   Nugraha

0605036          Raditya           Rachman

0608118          Chandra        

0608139          DAHLIA        GUTERIES BERNARDO

0605073          Yogi    Ramanda

 

 

Analisis SPICEWORKS Sebagai Alat Bantu IT Audit  

 

Spiceworks IT Desktop adalah sebuah aplikasi untuk manajemen desktop, manajemen persediaan, pengelolaan jaringan dan help desk perangkat lunak. 

Secara umum untuk mendapatkan paket software yang lengkap untuk Windows dengan hampir semua fitur yang dibutuhkan, pengguna diharuskan untuk membeli perangkat lunak yang berharga mahal dan kebanyakan hanya digunakan oleh perusahaan besar serta menengah. 

Namun untuk aplikasi ini, pengguna komputer dapat memakainya secara gratis.

Perangkat lunak ini menawarkan fitur 7 menu utama, yaitu:

           * My Spiceworks

* Inventory

* Help Desk

* Reports

    * Community

* Store

           * Settings

Freeware ini sangat cocok bagi anda yang memiliki bisnis kecil atau network di rumah anda namun tidak memiliki staff IT yang banyak.

Spiceworks akan menghemat biaya pengeluaran anda dengan mengurangi jumlah Staff IT yang anda sewa.

Spiceworks akan menampilkan berbagai informasi mengenai network device anda ecaran detail dan dilengkapi dengan IT managemen tool sehingga anda bisa menemukan solusi dan troubleshooting jika terjadi masalah di network anda.

Spicework akan memanage network anda mulai dari memberikan informasi disk space, antivirus yang digunakan hingga memberikan notifikasi dan pemberitahuan saat terjadi error atau masalah pada network anda.

Spicework juga akan memberi saran kepada anda jika terjadi masalah semisal saran untuk menginstall software tertentu dan troubleshooting lainnya.

Cara Kerja Spiceworks

 

Spiceworks berjalan dengan tahapan sebagai berikut :

 

•     Aktive Direktori Diakses

Jika digunakan Spiceworks memiliki aksesterhadap active directory, Spiceworks akan memeriksa active directory tersebut untuk menginventarisasi asset pada jaringan. Spiceworks menggunakan info ini(alamat IP, sistem operasi, tingkat service pack, nama mesin) untuk mengisi informasi perangkat yangditemukan.

 

•     NetBIOS diakses

Netbios akan diakses untuk mendapatkan informasi asset pada jaringan sebanyak mungkin

 

•    Alamat IP pada jaringan di Ping

IP addres yang ada dijaringan akan di ping, danspiceworks akan memberikan informasi yang mana IP yang online dan yang kosong ( offline )

 

•     Mesin Diidentifikasi

Mesin yang merespon ping, akan diidentifikasi oleh berdasarkan port yang bisa dimasuki oleh spiceworks.Spiceworks akan mencoba untuk terhubungmenggunakan SNMP, WMI, SSH, SIP, MAC alamat,kemudian HTTP. Jika semua port gagal, makaspiceworks akan mengidentifikasi mesin sesuai infoyang didapat dari NetBIOS dan akan berlabel“unkown”. Pada mesin yang mendapat label unkown, berarti spiceworks tidak mendapatkan informasimendetail tentang mesin, dan hanya info terbatas, dan biasanya akan bertuliskan “scan error”.

 

•     Informasi Dikumpulkan

Dengan protocol yang sesuai, spiceworks akanmengumpulkan informasi sesuai dengan jenis mesin.Misalnya, untuk PC, maka informasi software bisadidapat, dan untuk switch, port mana yang sedangon/off.

 

•    Sebuah Laporan DNS Dibuat

Laporan tentang Domain Name System akan dibuatsetelah proses scanning selesai, apakah ada perubahanDNS atau tidak.

 

•    Perangkat Dikelompokkan

Setelah melakukan proses scan dan mendapatkaninformasi dari perangkat, spiceworks akanmengelompokkan perangkat-perangkat tersebut kedalam beberapa kategori, seperti workstation/PC,server, printer, dll. Anda juga dapat melakukan pengelompokkan sendiri (custom) pada bagianinventory.

 

•    Kegiatan yang masuk

Ketika Scan berjalan, spiceworks akan mengumpulkankegiatan windows berdasarkan kriteria admin padasetiap perangkat.

Kelebihan Spiceworks :

1. Easy-installation (bisa localhost ataupun server, baca OS compatibility di situsnya)

2. Agent-less (tidak perlu menginstall tools tambahan di komputer client)

3. Full-featured (fiturnya lengkap, mulai dari network scanning, reporting hingga helpdesk)

4. Free License (gratis namun aplikasi ini bersifat closed-source dan disisipi ads oleh developernya, selebihnya tidak ada yang mengganggu)

5. Easy2Use (cukup mudah untuk mempelajari penggunaan tools ini)

 

Kelemahan Spiceworks:

Kepadatan informasi per komputer, memiliki banyak data per mesin tetapi untuk hal-hal seperti server banyak statistik perlu menggunakan alat lain.

 

Requirements:

Operating System:

  • Windows 7
  • Windows XP Professional SP2+
  • Windows Vista
  • Windows 2003 Server SP1+
  • Windows 2008 Server

Hardware:

  • 1.5 GHz Pentium 4 Class Processor – Minimum
  • 1.0 GB RAM – Minimum

Discovery Requirements:

  • Windows 2000 Professional
  • Windows 2000 Server
  • Windows XP Professional
  • Windows Vista
  • Windows 7
  • Windows 2003 Server
  • Windows 2008 Server
  • Macintosh OS X – SSH must be enabled
  • Linux/Unix – SSH must be enabled

Exchange Monitoring Support:

  • Spiceworks dapat memonitor Exchange 2003, dan dapat memonitor 2007 dan 2010 menggunakan script ini.

Deteksi Interface Bandwidth:

  • Device perlu support Bridge MIB atau Q-Bridge MIB untuk Spiceworks to mendapatkan kembali informasi VLAN.
  • Device perlu support IP-MIB dan IF-MIB untuk Spiceworks untuk mendapatkan kembali informasi interface.

Email Server Requirements:

  • Incoming Email: IMAP, POP, atau Exchange 2003, 2007, dan 2010
  • Outgoing Email: SMTP atau Exchange 2003, 2007, dan 2010

Browser Requirements:

 

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/6kdRoLMq-qo” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

    Kewirausahaan: Wawancara Dengan Pengusaha Warung Kopi (Pewawancara: Dimas Kustya Prayoga)

    18 Apr

    Wawancara Dengan Pengusaha Warung Kopi

                Pewawancara    : Dimas kustya prayoga

                Narsumber        : Komar ( Sebagai pemilik warung kopi)

    Kami mewawancarai pemilik warung yang baru membuka usahanya. Berikut hasil wawancara kami dengan narasumber yang bernama Pak komar:

    1.       Kenapa bapak membuka warung ini?

    Pertamanya saya hanya ingin mempunyai usaha sendiri walaupun dengan modal yang pas-pasan saya beranikan diri untuk membuka warung ini.

    2.       Bagaimana upaya bapak agar usaha bapak semakin berkembang dan bertahan dari persaingan?

    Menurut pendapat saya ya dek, kalo mau usaha kita lancer yang uitama kita harus menjaga kepercayaan orang yang membeli kepada kita dengan tidak mengurangi dan melebih-lebihkan takaran atau harga barang dagangan yang kita jual

    3.       Target apa yang belum bapak capai?

    Sampai saat ini saya masih berharap mendapatkan modal lebih dari luar untuk lebih bisa membantu usaha saya ini menjadi lebih maju. Dengan begitu saya bisa menambah barang yang saya jual 

    4.       Bagaimana respon dari konsumen kepada produk anda?

    Sampai saat ini respon konsumen sangat baik tidak ada complain dari konsumen, itu semua karena Saya selalu menjaga kualitas produk,

    Siapa target dari produk anda?

    Ya target saya sudah pasti anak-anak kosan di daerah ini lagi pula di sini masih jarang yang menjual makanan ringan karena biasanya anak kos sangatsuka jajan mas.

    6.       Siapa saja yang mengelola usaha bapak?

    Saya sendiri aja dek,soalnya saya belum sanggup menggaji karyawan  dek saya kan baru saja membuka usaha baru jadi modal aja belum balik dulu.

    7.       Mengapa bapak memilih usaha ini?

    Melihat dari keadaan lingkungan yang cukup strategis disini saya berfikir kenapa saya tidak membuka usaha yang bisa menguntungkan bagi saya karena disini belum ada pesaingnya.

    8.       Dari mana modal di dapatkan? Apakah ada modal dari luar?

    Saat ini saya memulai modal dari pribadi, modal awal 500 ribu belum termasuk sewa tempatnya dek.

    9.       Dari mana bisa mendapatkan barang untuk di jual?

    Barang didapat langsung dari pasar induk dan di beli sendiri. Di pasar induk sudah tersedia berbagai bahan dengan kwalitas yang tidak kalah bagus

    10.   Berapa kira-kira pendapatan anda per hari nya?

    Pendapatan bersih perhari kurang lebih Rp.100.000.

    11.   Jam berapa anda memulai usaha anda?

    Saya memulai usaha saya sekitar jam 06.00-20.00

    12.   Apa kiat-kiat atau pesan yang ingin bapak sampaikan bagi orang yang ingin membuka usaha seperti bapak?

    Mungkin yang bisa saya sampaikan jangan menyerah dengan yang anda yakini. Mulai lah usaha dengan sepenuh hati, mulailah dari sesuatu yang anda senangi sehingga anda tidak memiliki beban melakukannya.

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/-JKnhDd1ato” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

    Applied Networking: Mobile Device sebagai NMS ( Network Management System )

    17 Apr

     

     

    TUGAS APPLIED NETWORKING 4

    Untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Applied Networking 4

    “Mobile Device sebagai NMS ( Network Management System )”

    Disusun oleh : 

    06060   – Hilman

    0607037 – Bobby Febiantoro

    06070   – Ruhman Suherman

    0607053 – Derri Rana Septiana

    0607024 – Heru Prabowo


    Laboratorium Network Engineering

    Teknik Informatika Universitas Widyatama

    Bandung

     

    MOBILE DEVICE SEBAGAI NMS ( Network Management System)

    Pengertian dari Device Mobile

    Mobile Device (juga dikenal dengan istilah cellphone, handheld device, handheld computer, ”Palmtop”, atau secara sederhana disebut dengan handheld) adalah alat penghitung (computing device) yang berukuran saku, ciri khasnya mempunyai layar tampilan (display screen) dengan layar sentuh atau keyboard mini.

    MACAM-MACAM MOBILE DEVICE
    Mobile Computers :
    • Notebook PC
    • Ultra-Mobile PC
    • Handheld PC
    • Personal Digital Assistant/ Enterprise Digital Assistant
    • Graphing Calculator
    • Pocket Computer

    Pengertian dari NMS ( Network Manajemen Sistem)

    Definisi normal NMS adalah “Network Management System”.

    Sebuah NMS mengelola Elemen Jaringan. Unsur-unsur atau perangkat yang dikelola oleh, NMS sehingga perangkat ini digunakan untuk memanggil sebagai perangkat dikelola. Perangkat manajemen mencakup Kesalahan, Akuntansi, Konfigurasi, Kinerja, dan Keamanan (Fault, Configuration, Accounting, Performance, Security/FCAPS) manajemen. Masing-masing lima fungsi khusus untuk organisasi, tetapi ide dasar untuk mengelola perangkat ini FCAPS.

    Sejak berkembangnya Internet dan teknologi komputer, baik perangkatkeras (hardware) maupun perangkat lunak (software) peningkatan penggunaan komputer untuk membantu aktifitas pekerjaan semakin tinggi.Hal ini bertujuan  untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam menyelesaikan pekerjaan. Sistem Operasi yang berkembang mampu mendukung suatu sistem komputer yang saling terhubung, baik komputer pribadi (PC) maupun Server dalam sebuah jaringan LAN (Local Area Network) hingga WAN (Wide Area Network).

    Pengembangan sistem jaringan komputer ini memiliki tujuan sebagai berikut:

    • Sistem jaringan komputer mampu bertindak sebagai media komunikasi yang baik bagi para pegawai yang terpisah jauh.
    • Mempercepat tersebarnya informasi yang dibutuhkan dalam lingkungan sub-sistem pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong.
    • Menurunkan penyediaan perangkat keras yang berlebihan dengan cara melakukan sharing terhadap perangkat keras tersebut (misalnya : sharing printer).
    • Meningkatkan skalabilitas yaitu kemampuan untuk meningkatkan kinerja sistem secara berangsur-angsur sesuai dengan beban pekerjaan.

    Secara umum jaringan komputer dibagi atas lima jenis :

    • Local Area Network (LAN)

    Local Area Network (LAN), merupakan jaringan lokal di dalam sebuah gedung yang mampu menjangkau radius beberapa ratus meter. LAN digunakan untuk menghubungkan komputer (workstation) dalam kantor dan memakai bersama sumberdaya (resource), misalnya printer dan saling bertukar informasi. 

    • Metropolitan Area Network (MAN)

    Metropolitan Area Network (MAN), pada dasarnya merupakan versi LAN yang lebih besar dan biasanya menggunakan teknologi yang sama dengan LAN. MAN dapat mencakup kantor yang letaknya berdekatan atau juga sebuah kota dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi atau umum.

    • Wide Area Network (WAN)

    Wide Area Network (WAN), jangkauannya mencakup daerah geografis yang luas, seringkali mencakup sebuah negara bahkan benua. WAN terdiri dari kumpulan peralatan (router) sebagai node node penghubung untuk bisa saling berkomunikasi.

    • Internet

    Jaringan interkoneksi dimana semua komputer atau antar jaringan dapat terhubung melalui media penyedia jasa ISP (Internet Service Provider). Sebagai media penghubung diperlukan gateway dari masing-masing jaringan tersebut. Kumpulan jaringan yang terinterkoneksi inilah yang disebut dengan internet.

    • Jaringan Tanpa Kabel

    Jaringan tanpa kabel merupakan suatu solusi terhadap komunikasi yang tidak bisa dilakukan dengan jaringan yang menggunakan kabel. Misalnya orang yang ingin mendapat informasi atau melakukan komunikasi walaupun sedang berada diatas kendaraan atau di luar kantor (mobile), maka mutlak jaringan tanpa kabel diperlukan. Saat ini jaringan tanpa kabel sudah marak digunakan dengan memanfaatkan jasa satelit dan mampu memberikan kecepatan akses yang lebih cepat dibandingkan dengan jaringan yang menggunakan kabel.

    Masing-masing lima fungsi khusus untuk organisasi, tetapi ide dasar untuk mengelola perangkat ini FCAPS.

    1. FCAPS Faults
      Yaitu setiap sebuah infrastruktur terjadi kegagalan, harus muncul sebuah event, yaitu alarm.
    2. Configuration
      Dibagi menjadi 2
      1. Inventorying
        yaitu untuk mengetahui konfigurasi dari perangkat-perangkat yang ada. Misalnya sebuah network, bisa diketahui berapa banyak wireless point, komputer, router yang ada dalam perangkat tersebut, sekaligus konfigurasi seperti IP, dll
      2. Provisioning
        Yaitu apa yang kita bisa lakukan untuk mengkonfigurasi perangkat tersebut. Misal kita punya 10 switch. Apabila harus satu persatu didatangi dan dikonfigurasi, menyulitkan. Dengan ini kita dapat melakukannya langsung dari server
    3. Accountance
      Yaitu charging. Aspek ini akan diangkat kedalam BSS. Ini akan digunakan oleh BSS untuk mengetahui charging dari sebuah perangkat. Misalnya koneksi GPRS. Dengan ini bisa dicatat berapa banyak traffic yang sudah dilakukan, untuk kemudian dibuat billingnya.
    4. Performance
      Dibagi kedalam 2 kelompok, yaitu :
      1. Reliability dan Availability
        menyangkut uptime dan downtime dari perangkat
      2. Usage
        menyangkut okupansi dari perangkat tersebut. Contoh sebuah router maksimum 512 Kbps. Maka harus diketahui bahwa kebutuhannya sebenarnya berapa. Cukupkah? banyak yang terbuangkah? Maka kita harus memetakan. Apakah dengan kondisi sekarang perangkat masih sanggup, atau perlu di cluster, atau di update. Misalnya lagi server. Dapat kita ketahui sudah perlukah server tersebut diupdate, dll
    5. Security
      Ada 2 aspek, yaitu preventif dan korektif. Preventif seperti penggunaan login, enkripsi, password, dll. Misalnya sebuah router, bisa di binding IP berapa yang hanya bisa login ke router tersebut.

    Pada tingkat F, masalah jaringan yang ditemukan dan diperbaiki. masalah di masa depan Potensi diidentifikasi, dan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah mereka dari terjadi atau berulang.Dengan cara ini, jaringan disimpan operasional, dan downtime diminimalkan.

    Pada tingkat C, operasi jaringan dimonitor dan dikontrol. Hardware dan perubahan program, termasuk penambahan peralatan baru dan program, modifikasi sistem yang ada, dan penghapusan sistem usang dan program, dikoordinasikan Inventarisasi peralatan dan program disimpan dan diperbarui secara teratur.

    Tingkat A, yang juga bisa disebut tingkat alokasi, dikhususkan untuk mendistribusikan sumber daya secara optimal dan adil di antara pelanggan jaringan. Hal ini membuat penggunaan paling efektif dari sistem yang tersedia, meminimalkan biaya operasi. Tingkat ini juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pengguna ditagih tepat.

    Tingkat P terlibat dengan mengelola keseluruhan kinerja jaringan. Throughput dimaksimalkan, bottleneck s dihindari, dan potensi masalah diidentifikasi. Sebagian besar dari upaya ini adalah untuk mengidentifikasi perbaikan akan menghasilkan peningkatan kinerja terbesar secara keseluruhan.

    Pada tingkat S, jaringan dilindungi terhadap hacker s, pengguna tidak sah, dan atau elektronik sabotase fisik. Kerahasiaan informasi pengguna dipertahankan bila perlu atau diperlukan. Sistem keamanan juga memungkinkan administrator jaringan untuk mengontrol apa yang berwenang setiap pengguna individu dapat (dan tidak bisa) dilakukan dengan sistem.

    Sistem NMS menggunakan berbagai protokol untuk tujuan yang mereka layani. Sebagai contoh, SNMP protokol memungkinkan mereka untuk hanya mengumpulkan informasi dari berbagai perangkat ke jaringan hirarki. NMS perangkat lunak bertanggung jawab untuk identifikasi masalah, sumber yang tepat (s) masalah, dan memecahkan masalah tersebut. sistem NMS tidak hanya bertanggung jawab untuk mendeteksi kesalahan, tetapi juga untuk mengumpulkan statistik perangkat selama periode waktu. Sebuah NMS mungkin termasuk perpustakaan statistik jaringan sebelumnya bersama dengan masalah dan solusi yang berhasil di masa lalu terulang jika kesalahan-berguna. Software NMS kemudian dapat mencari perpustakaan untuk metode terbaik untuk menyelesaikan masalah tertentu.

    SNMP

    SNMP (Simple Network Management Protocol) berawal dari kebutuhan terhadap suatu alat untuk mengadministrasi atau mengelola (manage) jaringan TCP/IP. Untuk itu perlu standarisasi protokol yang berfungsi untuk mengelola jaringan. Protokol yang didesain untuk itu kemudian dibuat diantaranya adalah SNMP dan CSMIE/CMP (Common Management Information Service Element / Common Management Information).

    CMOT (Common Management Information Services and Protocol over TCP/IP) juga dibuat oleh OSI untuk keperluan yang sama. Cepatnya proses standarisasi SNMP oleh IETF dibanding CMOT yang dibuat OSI serta karena SNMP lebih sederhana membuat SNMP lebih cepat digunakan oleh publik.

    Sebelumnya SNMP bernama SGMP (Simple Gateway Monitoring Protocol) yang didefinisikan pada RFC 1028 dan telah digunakan untuk monitoring gateway atau router.

    SNMP dibuat berawal dari kebutuhan yang didefinisikan pada RFC 1052 (IAB Recommendations for the Development of Internet Network Management Standards). Setelah itu, tahun 1998 beberapa RFC mengenai SNMP dipublikasikan, yaitu:

    • RFC 1065 – Structure and Identification of Management Information for TCP/IP-based internets
    • RFC 1066 – Management Information Base for Network Management of TCP/IP-based internets
    • RFC 1067 – A Simple Network Management Protocol

    Setelah mengalami beberapa perubahan, barulah muncul standar SNMP versi 1 yang lengkap pada tahun 1991 dengan beberapa RFC berikut:

    • RFC 1155 – Structure and Identification of Management Information for TCP/IP-based Internets
    • RFC 1212 – Concise MIB Definitions
    • RFC 1213 – Management Information Base for Network Management of TCP/IP-based internets: MIB-II
    • RFC 1157 – Simple Network Management Protocol (SNMP)

    April 1993, SNMP versi 2 menjadi standar dengan perubahan utama pada penambahan fitur baru yaitu keamanan dan otentifikasi. SNMP versi 2 tidak kompatibel dengan versi 1 karena SNMP v2 message memiliki header dan format PDU yang berbeda serta menggunakan 2 operasi protokol yang tidak dispesifikasikan pada versi sebelumnya.

    • RFC 1902 – MIB Structure
    • RFC 1903 – Textual Conventions
    • RFC 1904 – Conformance Statements
    • RFC 1905 – Protocol Operations
    • RFC 1906 – Transport Mappings
    • RFC 1907 – MIB
    • RFC 1908 – Coexistence between Version 1 and Version 2

    Tahun 1997 SNMP versi 3 mulai dibuat dan pada tahun 2002 menjadi full Internet standard. Dibanding versi sebelumnya, SNMP V3 memiliki fitur-fitur berikut:

    – keamanan yang lebih baik dengan enkripsi dan access control,
    – pengembangan remote configuration,
    – privacy & message integrity

    • RFC 3410 – Intoduction to Network Management Frameworks v3
    • RFC 3411 – An Architecture for Describing SNMP Management Frameworks
    • RFC 3412 – Message Processing and Dispatching
    • RFC 3413 – SNMP Applications
    • RFC 3414 – User-based Security Model (USM)
    • RFC 3415 – View-based Access Control Model (VACM)
    • RFC 3416 – Protocol Operations
    • RFC 3417 – Transport Mappings
    • RFC 3418 – MIB

    Arsitektur SNMP

    Gambar berikut memperlihatkan bagaimana SNMP digunakan sebagai protokol element management:

    Managed device yaitu elemen yang dimonitor atau di-manage oleh NMS. Managed device dapat berupa elemen jaringan seperti router, hub, switch maupun komputer.

    Agent adalah program atau software module yang berjalan di setiap elemen yang di monitor yang mengetahui informasi yang harus di-manage dan mentranslasikan informasi tersebut menjadi informasi yang kompatibel dengan SNMP atau dapat dikirimkan ke NMS melalui SNMP.
      

     Manager atau NMS (Network-Management Station) adalah elemen yang menjalankan program untuk memonitor dan mengontrol managed device. NMS bisa mendapatkan langsung informasi dari agent misalnya informasi trap (alarm) atau meminta informasi dari agent.

    Management Information
    Management Information Base (MIB) adalah koleksi informasi yang diorganisasi dalam bentuk hirarki. Sebuah file MIB adalah sebuah teks file dalam format ASN.1 yang merepresentasikan struktur hirarki dari informasi yang dapat diperoleh dari sebuah aplikasi atau sistem.

    Managed object atau MIB object adalah sebuah atau beberapa karakteristik pada sebuah managed device misalnya beban CPU, besar memory yang digunakan. MIB pada dasarnya merupakan hirarki dari managed object.

    Object identifier atau Obejct ID (OID) digunakan sebagai indentifikasi yang unik untuk setiap managed object yang ada dalam hirarki MIB. OID dapat direprensentasikan dalam sebuah nama misalnya .iso.org.dod.internet.mgmt.mib-2.interfaces.ifnumber atau nomor yang disebut sebagai object descriptor, misalnya .1.3.6.1.2.1.2.1

    Sebuah managed object sebagai contoh ifnumber (number of interface) adalah sebuah ide abstrak, sedangkan representasi real dari informasi itu disebut dengan “instance” yang memiliki nilai dari object tersebut. Misalnya instance dari ifnumber adalah ifnumber.0 yang memiliki nilai 3 yang berarti sistem memiliki 3 network interface. Untuk mendapatkan nilai instance tersebut, NMS harus meminta informasi dengan mendefinisikan OID yaitu .1.3.6.1.2.1.2.1.0 (OID dari object ifnumber dengan ditambahkan .0 dibelakangnya).

    Ada dua macam managed object, yaitu:

    • Scalar object yaitu sebuah object instance contohnya ifnumber
    • Tabular object yaitu beberapa object instance yang saling berelasi. Sebagai contoh object ifDescr yang merupakan informasi deskripsi dari masing-masing network interface akan memiliki 3 nilai yang berbeda jika jumlah network interface ada 3, misalnya:
      ifDescr.1 = “lo0”
      ifDescr.2 = “ce1”
      ifDescr.3 = “ce2”

    Suatu managed object ada yang hanya bisa dibaca dan ada pula yang bisa diset nilainya.

    Karena pada awalnya SNMP didesain untuk me-manage jaringan TCP/IP, maka versi pertama MIB memiliki informasi yang spesifik untuk TCP/IP yaitu:

    • Deskripsi dari sistem
    • Jumlah dari networking interfaces yang dimiliki sebuah elemen (Ethernet adapters, serial ports ..)
    • Alamat IP address untuk setiap network interface
    • Jumlah (counts) dari paket atau datagram yang masuk (incoming) dan keluar (outgoing)
    • Tabel informasi tentang koneksi TCP yang aktif

    Sebuah perusahaan atau vendor dapat membuat sendiri cabang (branch) dalam struktur MIB yang disebut sebagai private MIB. Cabang tersebut berada dibawah object. iso. org. dod. internet. private. enterprise. dan harus didaftarkan ke IANA        .

     

    Selain  protokol  SNMP  digunakan  jg Protokol  CMIP, CMIP yaitu Protokol standar manajemen untuk elemen telekomunikasi. Protokol yang telah menjadi standar untuk jaringan telekomunikasi adalah Common Management Information Protocol (CMIP) yang dibuat oleh ISO yang kemudian diadopsi sebagai standar oleh organisasi telekomunikasi dunia ITU-T yang dispesifikasikan pada recommendation series X.700. Konsep CMIP hampir sama dengan SNMP tetapi CMIP memiliki lebih banyak fitur seperti authorization, access control,reporting yang lebih flexible, mendukung segala jenis tipe action. 3GPP, organisasi yang membuat standarisasi untuk jaringan GSM/UMTS/IMS/LTE juga menggunakan CMIP sebagai protokol manajemen jaringan (Lihat beberapa spesifikasi tentang Solution Set untuk Integration Reference Point pada seri 32).

    Walaupun CMIP merupakan standar protokol yang diratifikasi oleh banyak organisasi telekomunikasi berkelas global tetapi pada kenyataannya SNMP masih lebih sering digunakan di jaringan operator.

    Protokol lain yang didesain untuk manajemen jaringan misalnya:

    Selain protokol-protokol tersebut kadang vendor juga menggunakan protokol sendiri atau menggunakan protokol yang umum seperti CORBA, HTTP.

    NMS perlu mengeluarkan alarm Fault, menggenerate report, menggunakan security, melakukan konfigurasi, melakukan akunting, mengetahui performansi. Namun ini adalah kondisi ideal. Terkadang tidak semua aspek ini diperlukan. Jadi disesuaikan saja. Misalnya sebuah sensor suhu sebuah komputer, tentu tidak bisa dilakukan konfigurasi untuk suhu. Namun bisa disesuaikan bila suhu telah mencapai batas aman tertentu, maka diberikan alarm Fault. Dan disini juga tidak memerlukan report akunting. Paling hanya performansi tentang uptime dan downtime dari komputer tersebut.

    Ini adalah dasar dari sebuah OSS. Setiap OSS yang sudah besar dan tampak rumit, sebenarnya hanya terdiri dari FCAPS ini saja.

    Kesimpulan dari Mobile Device Menggunakan Network Manajemen Sistem (NMS), Yaitu  NMS merupakan Elemen Jaringan yg terdapat pd Mobile Device baik pd handphone maupun notebook yg berfungsi  untuk memanggil sebagai perangkat dikelola. 

    Pendapat Kelompok 

    Bobby Febiantoro :

    Kelebihan :

    Mobile device itu bagus,karena mobile device merupakan perkembangan dari kemajuan teknologi saat ini pada dunia teleomunikasi,yang dapat memudahkan dalam membuat suatu koneksi jaringan yang luas secara relasi maupun mobile sehingga dapat memudahkan para pengguna untuk beraktifitas secara instans dan menghemat waktu

    Kekurangan :

    Dari sisi kekurangan , terkadang dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat itu sendiri membuat efek kecanduan terhadap manusia sehingga memakan waktu dan terkadang tidak bisa membagi waktu dengan rutinitas lainnya.

    Deri Rana Seftiana :

    Kelebihan :

    Mobile devie sangat membuat kita lebih nyaman dalam beraktifitas dalam berhubungan via internet, Karena dengan mobile device kita dapat mengakses data hanya menggunakan mobile tidak perlu memerlukan PC atau laptop

    Kekurangan:

    Menrut saya kekurangan nya terdapat pada harga dari mobile device yang sangat tinggi

    Heru Prabowo :

    Mobile device merupakan network management system jaringan untuk berkomunikasi  

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/4JudKacFj4w” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

     

    Ujian Nasional: Antara Evaluasi Dan Monitoring Kinerja Proses Pembelajaran

    14 Apr
     
    Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online makna “ujian” adalah: 
    uji.an [n] (1) hasil menguji; hasil memeriksa; (2) sesuatu yg dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan, hasil belajar, dsb): ~ kenaikan kelas diselenggarakan di sekolah masing-masing; (3) cobaan: musibah ini adalah ~ dari Tuhan. 
     
    Sedangkan Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas (sekarang Kemdikbud) di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.  
     
    [slideshare id=1147554&doc=ujiannasionaldanpeningkatanmutupend-drramliz-090315093406-phpapp01]
       
    Ada yang menarik dari Undang-undang tersebut bahwa selain evaluasi, UN/UNAS merupakan “proses pemantauan (Monitoring) evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan”. Apa artinya? Berarti “Keyword” (Kata Kunci)  penting lainnya adalah “Proses Pemantauan secara berkesinambungan”. Dalam bahasa lain ada proses “Monitoring” di sana. 
     
    Dari “Kamus Bahasa Indonesia Online” makna “monitor” adalah: 
    mo.ni.tor [n] orang yg memantau; (2) n alat untuk memantau (spt alat penerima yg digunakan untuk melihat gambar yg diambil oleh kamera televisi, alat untuk mengamati kondisi atau fungsi biologis, alat yg memantau kerja suatu sistem, terutama sistem komputer, dsb); (3) n alat semprot air dng tekanan 4-7 atmosfer yg digunakan pd tambang timah aluvial untuk menambang biji timah; (4) n alat yg dirancang untuk mengobservasi, mengawasi, mengontrol, atau memverifikasi operasi suatu sistem; (5) n pengawasan dan tindakan memverifikasi kebenaran operasi suatu program selama pelaksanaannya berdasarkan rutin diagnostik yg digunakan dr waktu ke waktu untuk menjawab pertanyaan tt program tsb; (6) v pantau; cek secara cermat
       
    Permasalahan UN/UNAS menjadi pelik ketika ada “Disparitas” (Perbedaan Yang Mencolok) dan “Proses Yang Tidak Berkesinambungan” dari proses pendidikan. Menurut pasal-1 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003:  
    “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”  
     
     
      
    Disini jelas bahwa perlu monitoring berkesinambungan dari “usaha sadar dan terencana” menuju “suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya”. Jelas perlu metoda dan alat ukur yang tepat guna agar peserta didik “memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”    
      
     
    Secara filosofis UN/UNAS baik konsepnya, namun perlu ditekankan bahwa prosesnya tidak hanya ditekankan pada akhir tahun ajaran. Ia harus merupakan bagian “Sistem Pendidikan Berkelanjutan” yang dimonitor setiap waktu terhadap semua pemangku kepentingan utama pendidikan yaitu Kepala Sekolah, Guru, Peserta Didik, Tenaga Non-Kependidikan, Dinas Pendidikan, Kemdikbud bahkan Orang Tua/Wali.   
      
      
     
    [youtube http://www.youtube.com/watch?v=R73fdqhpJBo&w=600&h=450]
     

    Ekonomi Berbasis Pengetahuan dan Kewajiban Baru Manajemen Sumber Daya Manusia

    12 Apr


     

    Dalam bukunya “HRM in Knowledge Economy”, Mark Lengnick-Hall dan Cynthia Lengnick-Hall mengatakan belakangan ini fungsi manajemen sumber daya manusia (SDM) di banyak organisasi bersifat dangkal. Mereka cenderung hanya berusaha melakukan pekerjaan rutin  secara lebih baik dan efisien daripada mengevaluasi peran dan kontribusi mereka dalam rangka menyongsong era bisnis baru menuju Human Capital Management (HCM).


    Seiring dengan globalisasi, information-based, kemajuan teknologi, dan persaingan ketat, manajemen SDM dituntut meningkatkan kemampuan SDM-nya. Manajemen SDM akan menghadapi kewajiban-kewajiban baru di era bisnis masa kini, yaitu:

    o   Membangun kapabilitas strategis

    o   Memperluas batas

    o   Mengelola peran baru

     

    • Membangun Kapabilitas Strategis

    Organisasi pada era masa kini perlu membangun kapabilitas strategis, yaitu kapasitas untuk membuat value berdasarkan aset-aset intangible. Yang dimaksud dengan aset intangible adalah aset yang tidak terlihat, sulit dihitung, tidak ada dalam akunting, dan harus dikembangkan dari waktu ke waktu. Misalnya: pengetahuan teknologi, kesetiaan customer, proses bisnis dan lain-lain. Intangible aset inilah yang akan menentukan apakah perusahaan akan berhasil atau gagal.

    Beberapa karakteristik perusahaan yang sudah mempunyai kapabilitas strategis adalah: kompetensi bisnis yang tinggi, kemampuan untuk menganalisis kondisi pasar, kemampuan mentransfer skill secara cepat dan akurat di perusahaan, dan lain-lain. Intinya, kapabilitas strategis adalah kesiapan pada saat ini dan kemampuan beradaptasi pada masa depan.

    Kapabilitas strategis diperoleh melalui proses penciptaan, pertukaran, dan mengumpulkan pengetahuan yang membangun kapabilitas individu dan organisasi untuk memberi hasil yang terbaik bagi pelanggan. Kapabilitas strategis terdiri dari tiga komponen yang terkait dengan SDM, yaitu: human capital (skill dan kompetensi individu/organisasi), structural capital (arsitektur organisasi dan proses manajerial), dan relationship capital (hubungan interpersonal di organisasi). Manajemen SDM harus berkontribusi dengan menciptakan dan memelihara ketiga komponen kapabilitas strategis ini melalui program, praktek, dan kebijakan yang mendukung.


    • Memperluas Batas

    Orang sering berpikir bahwa tugas manajemen SDM adalah merekrut, mempromosikan, melatih, memecat dan seterusnya serta fungsi manajemen SDM adalah hanya merupakan organisasi tunggal. Jadi menurut pandangan tersebut, manajemen SDM adalah fungsi internal perusahaan. Jarang orang berpikir bahwa manajemen SDM (termasuk program, praktek, dan kebijakannya) bisa diterapkan ke supplier atau distributor, bahkan ke pelanggan. Hal ini akan menjadi keharusan dalam perkembangan era ekonomi pengetahuan (knowledge economy). Dengan memperluas batas dari perusahaan ke supplier, distibutor, dan pelanggan, manajemen SDM bisa mempunyai pengaruh yang lebih dan signifikan di organisasi. Pada dasarnya, dengan memperluas batas, manajemen SDM menggunakan kemampuan mereka untuk membantu organisasi memberi pengaruh ke pelanggan, supplier, dan seluruh pegawai yang menjalankan aktivitas organisasi.


    • Mengelola Peran Baru

    Berdasarkan pandangan lama, peran manajemen SDM adalah menarik dan menyeleksi calon pegawai, mengembangkan manajemen performansi dan sistem kompensasi untuk menyelaraskan tingkah laku pegawai dengan tujuan organisasi, dan mengembangkan dan me-retensi pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi.

    Peran manajemen SDM seperti itu dalam era ekonomi pengetahuan tidaklah cukup. Bukan berarti manajemen SDM tidak akan melakukan fungsi-fungsi tersebut, peran ini tetap akan dilakukan. Bagaimanapun, untuk mengelola SDM di masa depan, manajemen SDM perlu mengadopsi peran baru untuk menghadapi tantangan.

    Tetap bertahan di fungsional birokrasi semata akan menyebabkan fungsi manajemen SDM menjadi kurang efektif dalam organisasi. Kegagalan untuk berubah sesuai dengan tuntutan ekonomi akan menjadikan manajemen SDM kurang penting, di mana tantangan-tantangan baru seperti manajemen pengetahuan (knowledge management) dan pengembangan SDM akan diperankan di tempat lain dalam organisasi. Tetapi hal ini tidak perlu terjadi. Pada kenyataannya, SDM adalah sumber logis dari tantangan-tantangan baru ini.  

    Bagaimanapun, untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan menjadi kendala, manajemen SDM harus keluar dari birokrasi masa lalu. Ini memerlukan pergeseran paradigma bahwa manajemen SDM tidak hanya sekadar menjalankan fungsi dan proses, tetapi lebih kepada peran.

    Definisi peran dalam organisasi adalah tanggung jawab, hubungan, dan area kontribusi, serta harapan-harapan. Peran bisa dianalogikan sebagai pernyataan visi organisasi. Dengan mengelola peran, manajemen SDM memberi kontribusi lebih untuk kesuksesan organisasi. Ini berarti paradigma manajemen SDM telah berubah dari fungsi dan proses menjadi hasil dan pencapaian.

     

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/4mWYA3Z-YJ0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

    Kewirausahaan: Penjualan PARASIT (Bersatunya Tekad dan Nekad)

    10 Apr

    Laporan Kegiatan Kewirausahaan Hasil Penjualan

    PARASIT ( PISANG AROMA PANGSIT)

    Kelompok 1

      

    Dosen : Djadja Ahmad Sardjana S.T., M.M.

     

    Disusun Oleh :

    Gaby Permata           0110u196

    Eka Andika .P.          0110u127

    Ari Achmad               0105076

    Meriani                       0110u324

    Rickna Fitria .S.        0110u157

     

     

    Fakultas Ekonomi

    Universitas Widyatama

     

    Pendahuluan

    Latar belakang

    Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium.

    Pisang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin, yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak.

    Berdasarkan cara konsumsi buahnya, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang meja (dessert banana) dan pisang olah (plantain, cooking banana). Pisang meja dikonsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, seperti pisang ambon, susu, raja, seribu, dan sunripe. Pisang olahan dikonsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar, atau dikolak, seperti pisang kepok, siam, kapas, tanduk, dan uli. Buah pisang diolah menjadi berbagai produk, seperti sale, kue, ataupun arak (di Amerika Latin).

    Selain memberikan kontribusi gizi lebih tinggi daripada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak mengalami keletihan. Beragam jenis makanan ringan dari pisang yang relatif populer antara lain Kripik Pisang asal Lampung, Sale pisang (Bandung), Pisang Molen (Bogor), dan epe (Makassar).

                Dalam pembelajaran menjadi seorang pewirausaha pemula kita sebagai mahasiswa mencoba memberikan ide dalam melakukan suatru usaha, usaha ini didasari dari tugas yang diberikan oleh dosen kewirausahaan untuk memenuhi salah satu tugas akhir semester 3.

    Kelompok kita adalah terdiri dari 5 orang yang terdiri dari Ari, Eka, Rickna, Gaby, dan Meriani. Pada awalnya kita memulainya dengan cara berdiskusi dan menemukan ide yg terinspirasi dari pisang aroma yang awalnya bernama papangsit (pisang pangsit) namun karena nama tersebut kurang enak didengar namanya di ubah menjadi PARASIT (pisang aroma pangsit).

    Usaha ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan suatu profit dan juga mendapatkan pengalaman dalam berwirausaha. Dalam melakukann suatu usaha kita melalui beberapa tahap aspek :

    1. Sales

    2. Marketing

    3. Wawancara Konsumen

    4. Sosialisasi produk

     

    Pelaksanaan Kegiatan

    Waktu dan Tempat

              Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di sekitar kampus dalam waktu yang sama selama 3 hari, yaitu:

              Hari/Tanggal  : Jumat,Sabtu, dan Senin (tanggal 9,10, dan12 Desember 2011)

             Waktu            : Pukul 13.00– 17.00 WIB

    Segmen pasar dalam hal ini adalah semua kalangan masyarakat, dari mulai masyarakat tingkat atas, menengah, dan bawah. Harga parasit ini sangan terjangkau sehingga bisa dirasakan oleh semua tingkatan masyarakat. Target market yang dipilih diantaranya adalah mahasiswa, dosen, warga sekitar kampus widyatama dan seluruh masyarakat.

    Produk

    Makanan yang dibuat adalah makanan ringan dari pisang, yaitu pisang aroma yang berbentuk seperti pangsit. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan parasit ini adalah bahan-bahan yang mudah di dapat di pasaran dan terbilang murah, diantaranya adalah gula pasir, susu, messes, kulit lumpia, minyak goreng, dan bahan utamanya yaitu pisang.

    Parasit ini terdiri dari 5 rasa, yaitu rasa manis original, rasa keju coklat, rasa colat, rasa keju, dan rasa susu. Semuanya memiliki sensasi tersendiri. Bentuknya berbeda dari pisang aroma lain, dengan bentuk seperti pangsit, parasit ini bisa menarik rasa penasaran pembeli untuk mencobanya. Dan rasa pada isinya yang bercampur dengan pisang akan membuat pembeli ketagihan.

     

    Pencatatan Keuangan Penjualan Parasit

    Selama 3 hari (Tgl. 9,10,12 Desember 2011)

     

    Tanggal

    Keterangan

    Debit

    Kredit

    Saldo

    8 Des 2011

    Modal awal 5 orang @12.000

    Rp.   60.000

     

    Rp.   60.000

     

    Belanja hari ke 1:

     

     

     

     

    ·         Pisang 2kg

     

    Rp.   8.000

    Rp.   52.000

     

    ·         Lumpia 10 bungkus

    @2.500

     

    Rp. 10.000

    Rp.   42.000

     

    ·         Susu kaleng

     

    Rp.   7.000

    Rp.   35.000

     

    ·         Gula

     

    Rp.   4.000

    Rp.   31.000

     

    ·         Minyak goreng

     

    Rp. 15.200

    Rp.   15.800

     

    ·         Meises

     

    Rp.   5.000

    Rp.   10.800

     

    ·         Plastik bening

    3 bungkus @1.000

     

    Rp.   3.000

    Rp.     7.800

     

    ·         Tisu makan

     

    Rp.   3.000

    Rp.     4.800

    9 Des 2011

    Penghasilan hari ke 1:

    45 buah

    Rp.   71.000

     

    Rp.   75.800

    10 Des 2011

    Belanja hari ke 2:

     

     

     

     

    ·         Pisang 2,5kg

     

    Rp.   7.500

    Rp.   68.300

     

    ·         Lumpia 10 bungkus @2.500

     

    Rp. 10.000

    Rp.   58.300

     

    ·         Keju batang

     

    Rp. 15.000

    Rp.   43.300

     

    ·         Meises

     

    Rp.   3.500

    Rp.   39.800

     

    ·         Tisu makan

     

    Rp.   2.000

    Rp.   37.800

     

    ·         Kantung kresek

     

    Rp.   2.000

    Rp.   35.800

     

    ·         Minyak goreng

     

    Rp. 12.600

    Rp.   23.200

    10 Des 2011

    Penghasilan hari ke 2:

    60 buah

    Rp. 120.400

     

    Rp. 143.600

    12 Des 2011

    Belanja hari ke 3:

     

     

     

     

    ·         Lumpia 3 bungkus

    @2.500

     

    Rp.   7.500

    Rp. 136.100

     

    ·         Susu 2 bungkus

    @2.500

     

    Rp.   5.000

    Rp. 131.100

    12 Des 2011

    Penghasilan hari ke 3:

    77 buah

    Rp. 150.500

     

    Rp. 281.600

     

    Rincian Biaya Belanja Perhari:

     

    *      Belanja hari ke 1:

    ·         Pisang 2kg                                                 Rp.   8.000

    ·         Lumpia 10 bungkus @2.500                     Rp. 10.000

    ·         Susu kaleng                                               Rp.   7.000

    ·         Gula                                                          Rp.   4.000

    ·         Minyak goreng                                          Rp. 15.200

    ·         Meises                                                       Rp.   5.000

    ·         Plastik bening 3 bungkus @1.000            Rp.   3.000

    ·         Tisu makan                                                Rp.   3.000

    Total                                                         Rp. 55.200

     

    *      Belanja hari ke 2:

    ·         Pisang 2,5kg                                              Rp.   7.500

    ·         Lumpia 10 bungkus @2.500                     Rp. 10.000

    ·         Keju batang                                               Rp. 15.000

    ·         Meises                                                       Rp.   3.500

    ·         Tisu makan                                                Rp.   2.000

    ·         Kantung kresek                                         Rp.   2.000

    ·         Minyak goreng                                          Rp. 12.600

    Total                                                         Rp. 52.600

     

    *      Belanja hari ke 3:

    ·         Lumpia 3 bungkus @2.500                       Rp.   7.500

    ·         Susu 2 bungkus @2.500                           Rp.   5.000

    Total                                                         Rp. 12.500

     

     

    Pemasaran

                Proses pemasaran parasit dilakukan seperti kebanyakan penjual lainnya yaitu dengan cara promosi ke costumer yang berada dikampus Universitas Widyatama dengan cara mendatangi ke beberapa ukm dan juga dilakukan dengan cara broadcast via bbm dan lewat sms.

                Dalam melakukan pemasaran ketika bertemu langsung dengan costumer kita melakukan beberapa cara dalam menarik pelanggan seperti perkenalan terlebih dahulu, bersikap ramah, dan meyakinkan pembeli terhadap produk tersebut.

     

    Penjualan

                Penjualan dilakukan dengan cara menjual produk yang dikemas sendiri dimana penjualan merupakan suatu proses bertemunya seorang penjual dan pembeli untuk melakukan suatu transaksi jual beli guna mencapai kesepakatan dengan tujuan memperoleh laba.

                Dalam proses wirausaha ini kami mencoba menjual suatu produk yang sudah tidak asing lagi dengar di kalangan masyarakat yaitu produk yang diolah dari pisang namun cara penampilannya yang kita ubah menjadi unik dan beda dari pisang aroma pada umumnya.

     

    Hasil dan Pembahasan

    Analisa Usaha

                Dari keseluruhan kegiatan usaha yang telah kami lakukan selama 3 hari kami dapat menganalisis bahwa usaha yang kita dapat dibilang sukses karena pihak konsumen di lingkungan kampuspun dapat menerima dan juga dilihat dari modal yang kita keluarkan sedikit namun profit yang kita dapat banyak .

                Hal ini juga dapat terjadi karena sebuah strategi yang kita lakukan yaitu dengan cara setiap harinya harga penjualan produk dinaikan secara bertahap sehingga profit yang dihasilkan mengalami peningkatan setiap harinya. Dari kegiatan inipun kami banyak belajar dalam hal pengalaman dan mengetahui bahwa sebagai seorang pewirausaha bukanlah hal yang mudah melainkan membutuhkan kesabaran, keuletan, resiko, dan motivasi yang timbul dalam diri seorang pewirausaha pemula khususnya.

     

    Kesimpulan dan Saran

    Kesimpulan

                Kesimpulan dari melakukan suatu kegiatan ini kita dapat belajar menjadi seorang pewirausaha dimana kita dari awal mencari sebuah ide untuk menciptakan suatu produk, resiko yang harus diambil saat berjualan, dan strategi dalam pemasaran suatu produk. Selain itu kegiatan inipun sangat baik bagi proses belajar mahasiswa sehingga mahasiswa mampu berpikir untuk lebih luas dalam mencari inovasi-inovasi baru dan juga dapat merealisasikan ilmunya dengannya cara turun kelapangan secara langsung.

     

    Saran

                Saran dari kita bagi para pewirausaha pemula janganlah takut untuk belajar menjadi seorang pewirausaha karena hal yang terpenting adalah motivasi dalam diri kita dalam menjalankan suatu usaha dan mampu menerima resiko yang ada. Disamping itu juga kita harus mampu bekerja sama dengan rekan-rekan karena dengan demikian suatu usaha dapat berjalan dengan baik dan efisien sehingga dapat menemukan banyak peluang dalam menjalankan suatu usaha.

     

    Perjalanan Kehidupan: Merajut Sejarah Hidup Seperti Hikayat “Connecting The Dots” Dari Steve Jobs

    09 Apr

     

    Sering kehidupan kita seperti hikayat  “Connecting The Dots” dari Steve Jobs. Banyak yang melaksanakan pendidikan, pekerjaan, hobi bahkan kecintaan yang “terlihat” tidak ada hubungannya satu sama lain. Mereka baru menyadari, semua keterkaitan itu setelah mencapai satu kondisi dimana titik-titik itu membentuk “garis yang indah” pada kehidupannya.

    Coba kita simak kehidupan Steve Jobs dalam “Menyambungkan titik-titik perjalanan hidupnya” yang ditulis dan diterjemahkan “Be Like Bee” sebagai berikut:

    Saya putus kuliah dari Reed College setelah enam bulan pertama, namun saya tetap ada di kampus selama 18 bulan kemudian, sebelum benar-benar berhenti.

    Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga terpelajar, maka saya pun dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin memiliki bayi perempuan.

    Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari pengurus adopsi: “Kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.”

    Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.

    Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua angkat  saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya.

    Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.

    Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.

    Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Dan Saya menikmatinya.

    Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, yang ternyata kemudian sangat berharga.

    Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

    Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.

    Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.

    Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

    Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.

    Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/UF8uR6Z6KLc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

    Formulasi Strategi: Jaminan Menuju “Kemenangan” Manajemen

    06 Apr

               

    Perumusan strategi atau formulasi strategi merupakan proses penyusunan langkah-langkah ke depan yang dimaksudkan untuk membangun visi dan misi organisasi, menetapkan tujuan strategis dan keuangan perusahaan, serta merancang strategi untuk mencapai tujuan tersebut dalam rangka menyediakan customer value terbaik.

    Morton (1996 : 17-22) mengatakan bahwa ada keterikatan yang saling menunjang antara Struktur  Organisasi & Budaya Perusahaan, Teknologi, Peran Individu, Struktur Organisasi dan Proses Manajemen yang dipengaruhi oleh Lingkungan Sosio-Ekonomis External dan Lingkungan Teknologi External dalam metodologi pembentukan Strategi Formulasi seperti digambarkan dalam gambar berikut:

    Untuk itu, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan perusahaan sebagai berikut :

    1. Identifikasi lingkungan yang akan dimasuki oleh perusahaan pada masa depan. Tentukan misi perusahaan untuk mencapai visi yang dicita-citakan dalam lingkungan tersebut.
    2. Lakukan analisis lingkungan intern dan ekstern untuk mengukur kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang akan dihadapi perusahaan dalam menjalani misi dan  meraih keunggulan bersaing (competitive advantage).
    3. Rumuskan faktor-faktor penting ukuran keberhasilan (key succes factors) sesuai dengan perubahan lingkungan yang dihadapi.

    Tentukan tujuan dan target terukur, identifikasi dan evaluasi alternatif strategi dan rumuskan strategi terpilih untuk mencapai tujuan dan ukuran keberhasilan. Dalam tahap ini penyusun strategi harus melakukan analisis terhadap opsi yang dimiliki perusahaan dengan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki dengan fakta ekstern yang dihadapi. Tentukan strategic option yang paling dikehendaki diantara opsi yang ada sesuai dengan misi organisasi. Tentukan tujuan yang bersifat jangka panjang dan strategi utama untuk mencapai opsi yang paling dikehendaki. Tentukan target tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai dengan tujuan jangka panjang dan strategi utama.  

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/8DllJxaaUGc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     


     

    Nilai dan Budaya Perusahaan: Perpaduan Antara “Pedal Gas dan Rem” Kelangsungan Institusi

    05 Apr

     

    Sebuah sistem nilai adalah seperangkat nilai-nilai etika yang konsisten (lebih spesifik lagi, nilai-nilai pribadi dan budaya) dan langkah-langkah yang digunakan untuk tujuan integritas etis atau ideologis. Sistem nilai yang didefinisikan dengan baik adalah sistem moral (Code of Conduct) dari suatu institusi.  

     

    Pribadi dan Komunitas 

    Satu atau lebih orang dapat memegang sistem nilai. Demikian juga, sistem nilai dapat diterapkan pada salah satu atau banyak orang. Sebuah sistem nilai pribadi dipegang oleh dan diterapkan pada satu orang saja. Sebuah sistem nilai budaya komunitas dipegang  dan diterapkan pada intitusi/kelompok masyarakat. Beberapa sistem nilai komunitas yang tercermin dalam bentuk moral hukum atau hukum positif.

     

    Sistem Nilai Perusahaan

    Fred Wenstop dan Arild Myrmel mengusulkan struktur untuk sistem nilai perusahaan yang terdiri dari tiga kategori nilai yang komplementer dan disandingkan pada tingkat yang sama sebagai berikut:

    ·         Kategori pertama adalah nilai Nilai Inti yang mengatur sikap dan karakter organisasi, dan sering ditemukan di bagian-bagian tentang Kode etik pada institusi. Filosofis nilai-nilai dari Anteseden ini, yang sering dikaitkan dengan etika Kebajikan Aristoteles.

    ·         Kategori kedua adalah Nilai yang dilindungi melalui peraturan, standar dan sertifikasi. Hal ini sering berhubungan dengan bidang-bidang seperti kesehatan, lingkungan dan keamanan.

    ·         Kategori ketiga  adalah Nilai  yang Diciptakan dari nilai-nilai stakeholders termasuk pemegang saham yang diharapkan sebagai imbalan atas kontribusi mereka kepada perusahaan.

    Nilai-nilai ini tunduk pada “trade-off” atau proses tawar-menawar oleh pengambil keputusan atau pemangku kepentingan. Proses ini sering dijelaskan lebih lanjut dalam teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder).  

     

    1. 

    1.1. 

    1.2. 

    Konsistensi

    Sebagai anggota kelompok, masyarakat atau institusi, seseorang dapat memegang kedua sistem nilai pribadi dan sistem nilai komunal pada saat yang sama. Dalam hal ini, dua sistem nilai (satu pribadi dan satu komunal) secara eksternal konsisten asalkan mereka tidak ada kontradiksi atau pengecualian diantara mereka.

    Sebuah sistem nilai dalam dirinya sendiri secara internal konsisten ketika nilai-nilainya tidak bertentangan satu sama lain dengan nilai perusahaan serta cukup untuk digunakan pada semua situasi dan diterapkan secara konsisten.

     

     

    Saat ini Institusi  dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Kemampuan menyikapi tantangan dan tren yang dibawa oleh zaman akan sangat menentukan apakah sebuah institusi dapat tetap kompetitif atau kehilangan pasar. Tantangan dan tren inilah yang memaksa dan mengharuskan institusi untuk menerapkan logika korporasi, dengan mengedepankan prinsip-prinsip efisiensi pembiayaan, memperhitungkan setiap risiko (Calculability), dan kemampuan untuk memprediksi tantangan dan tren ke depan (Predictability).

    Maka tidak heran apabila peran seorang pemimpin institusi semakin menyerupai manajer perusahaan, dan manajemennya makin menitikberatkan pada akuntabilitas. Salah satu dampak dari perubahan ini adalah bergesernya fokus institusi dari sasaran utamanya tidak hanya Civitas Akademika ITB sebagai konsumen internal, namun juga konsumen eksternal dari kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)”. Karena di sini konsumen ada pada posisi produk yang dihasilkan oleh seluruh proses yang ada di institusi.

    Proses bisnis (Business Process) sangat ditentukan oleh bagaimana cara menanganinya atau mengelolanya. Jika manajemen sebuah institusi yang dipimpin oleh seorang pemimpin itu bagus, sebagai akibat penerapan nilai dan budaya perusahaan yang konsisten serta berkelanjutan maka otomatis produk atau jasa yang dihasilkannya juga bagus. Jadi sesungguhnya sasaran akhirnya tetap mengarah pada konsumen baik internal maupun eksternal.

    Tuntutan kualitas institusi yang bermutu dan terjangkau dapat menyulitkan institusi dalam mendesain, baik program maupun kepastian produk dan jasanya agar dapat diterima pasar. Setiap institusi memiliki problem tersendiri. Dan pada saat yang sama, kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)” juga mempunyai masalah dan isu yang berkaitan dengan kebutuhan tenaga di bidang IT dan Manajemen yang semakin besar. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut bergantung pada kondisi struktur dan kepemimpinan di tingkat lokal dan latar belakang kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)” itu sendiri. Segenap potensi sumber daya institusi seharusnya dapat digunakan untuk memperbarui, memvalidasi, dan memperluas wilayah keilmuan dan kepakaran yang bersifat humanis dengan menggunakan metode-metode pengetahuan standar.

    “Sebuah pertanyaan kritis muncul berkaitan dengan fenomena perusahaan dengan excellent performance seperti GE, Sony, Toyota, atau IBM: bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun dan selama waktu tersebut mampu secara konsisten mempertahankan kinerjanya yang excellen? Bagaimana mereka bisa demikian adaptif, kuat, dan tegar menghadapi sebesar apa pun hempasan perubahan lingkungan bisnis? Begitu juga bagaimana mereka bisa demikian inovatif dan mampu dengan cepat memanfaatkan peluang-peluang bisnis baru dan reinventing the industry yang menjadi basis dan menentukan masa depannya?”

     Jawaban yang tepat dalam kacamata Hermawan Kartajaya terhadap hal tersebut adalah karena mereka mempunyai tiga komponen inti dari sebuah perusahaan: yaitu inspirasi, kultur, dan institusi yang kokoh. Ketiganya harus padu satu sama lain.

    Maka untuk membangun sebuah “Corporate Value and Culture” dalam institusi, pertama adalah usaha mengenali, menemukan, menyadari dan menguraikan budaya perusahaan yang build-in dalam organisasi tersebut. Kemudian menetapkan sasaran yang jelas dan terukur. Sasaran program, dan sasaran kultural yang berupa keyakinan, sikap maupun perilaku.

    Dilanjutkan dengan perencanaan dan penerapan dari tindakan-tindakan yang secara ideal akan mewujudkan perubahan pada empat dimensi, yaitu pada individu, pada anggota tim sekerja, pada pimpinan, dan organisasi secara proses, sistem, kebijakan dan struktur.

     Untuk itu karena “cara bekerja” sebuah organisasi harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terus berubah, maka usaha untuk membentuk “Corporate Value and Culture” sebaiknya ditinjau sebagai suatu sistem. Timbal balik sebaiknya diperoleh secara berkala guna meninjau kembali kecocokan dari asumsi semula dan menyesuaikan tindakan selanjutnya. Selain itu setiap pemimpin harus memikul beban untuk membentuk atau memelihara “Corporate Value and Culture” sesuai dengan otoritasnya. Ia merupakan penerjemah bagi bawahan di unit kerjanya. Terjemahannya itu tentu dipengaruhi oleh apakah ia mengerti dan menerima nilai dan budaya makro dari perusahaannya. Bila sudah jelas, ia wajib memelihara, menguatkan dan mempertimbangkannya dalam setiap ketetapan dan kebijaksanaan perusahaan. Bila setiap manager mampu untuk menerjemahkan “nilai dan budaya makro” institusi menjadi suatu “nilai dan budaya mikro” di unitnya masing-masing, maka institusi itu akan seperti berlian: satu badan tetapi banyak segi. Adapun institusi yang memiliki Corporate Value and Culture” yang positif ibarat berlian yang tetap diasah dengan baik: meski banyak segi, cahayanya dapat menyatu.  

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/6AFn0vFtLC0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

    REZA HERAWAN 0607004: Implementasi COBIT Pada Kerja Praktek di ”PT. TRANSINDO JAYA KOMARA”

    04 Apr

    Pendahuluan

    COBIT yaitu Control Objectives for Information and Related Technology yang merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA), dan IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992.

    1. Business information requirements, terdiri dari : Information : effectiveness (efektif), efficiency (efisien), (keyakinan), integrity (integritas), availability (tersedia), (pemenuhan), reliability (dipercaya). 
    2. Confidentiality compliance  
    3. Information Technology Resource, terdiri dari : People, applications, technology, facilities, data. 
    4. High – Level IT Processes.

     

    COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan best practices yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya.

     

    Implementasi dari best practices harus konsisten dengan tatakelola dan kerangka kontrol Perusahaan, tepat dengan organisasi, dan terintegrasi dengan metode lain yang digunakan. Standar dan best practices bukan merupakan solusi yang selalu berhasil dan efektifitasnya tergantung dari bagaimana mereka diimplementasikan dan tetap diperbaharui. Best practices biasanya lebih berguna jika diterapkan sebagai kumpulan pinsip dan sebagai permulaan (starting point) dalam menentukan prosedur. Untuk mencapai keselarasan dari best practices terhadap kebutuhan bisnis, sangat disarankan agar menggunakan COBIT pada tingkatan teratas (highest level), menyediakan kontrol framework berdasarkan model proses teknologi informasi yang seharusnya cocok untuk perusahaan  secara umum.

     

    COBIT FRAMEWORK

    Kerangka kerja CobIT terdiri dari beberapa guidelines (arahan), yakni :

    a.    Control Objectives

    Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat tinggi (high level control objectives) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu : planning & organization, acquisition & implementation, delivery & support, dan monitoring.

    b.    Audit Guidelines

    Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendali rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance atau saran perbaikan.

     

     

    c.    Management Guidelines

    Berisi arahan baik secara umum maupun spesifik mengenai apa saja yang mesti dilakukan, seperti : apa saja indicator untuk suatu kinerja yang bagus, apa saja resiko yang timbul, dan lain-lain.

    d.    Maturity Models

    Untuk memetakan status maturity proses-proses IT (dalam skala 0 – 5).

     

    Pengelolaan TI (Tata Kelola TI)

    Teknologi informasi memiliki peranan penting bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan teknologi informasi pada kegiatan bisnisnya, serta merupakan salah satu faktor dalam mencapai tujuan perusahaan. Peran TI akan optimal jika pengelolaan TI maksimal. Pengelolaan TI yang maksimal akan dilaksanakan dengan baik dengan menilai keselarasan antara penerapan TI dengan kebutuhan perusahaan sendiri.

    Semua kegiatan yang dilakukan pasti memiliki resiko, begitu juga dengan pengelolaan TI. Pengelolaan TI yang baik pasti mengiidentifikasikan segala bentuk resiko dari penerapan TI dan penanganan dari resiko-resiko  yang akan dihadapi. Untuk itu perusahaan memerlukan adanya suatu penerapan yang harus dilakukan perusahaan, yakni menerapkan Tata Kelola TI (IT Governance).

     

    PT. Transindo Jaya Komara 

    KOPERASI LANGIT BIRU yang sebelumnya dikenal dengan PT. Transindo Jaya Komara (PT. TJK) dengan Akte Notaris H. Feby Rubein Hidayat SH No. AHU. 0006152.AH.01.09. Tahun 2011 adalah perusahaan konvensional yang sudah berdiri 2 tahun dan bergerak khusus mengelola daging sapi dan air  mineral.
    Saat ini KOPERASI LANGIT BIRU telah memiliki 62 suplayer pemotongan dan pendistribusian daging sapi serta pusat pendistribusian air mineral SAFWA. Adalah Ustad Jaya Komara sebagai Direktur utama memiliki pengalaman 16 Tahun dalam pengelolaan daging sapi. Ustad yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya ini memiliki visi misi besar untuk kesejahteraan bersama khususnya Umat Islam. Untuk mengembangkan usahanya ini Ustad jaya Komara pada awalnya hanya menggandeng masyarakat sekitar saja untuk ikut serta menikmati keuntungan hasil usaha daging sapinya.

    Berawal dari pandanganya terhadap strata kehidupan masyarakat Indonesia dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin. Maka tercetuslah ide kreatif untuk pengembangan usahanya dengan mengikutsertakan masyarakat pada umumnya. Pada awalnya hanya diadakan arisan daging untuk masyarakat sekitar saja, yang hasilnya dibagikan tiap lebaran haji baik berupa keuntungan berupa uang dan daging sapi itu sendiri, hal ini sudah dilakukan oleh ustad jaya komara sebelum KOPERASI LANGIT BIRU resmi berdiri.

     

    Berkaitan dengan pertimbangan diatas, perlu adanya suatu metode untuk mengelola IT. Dalam hal ini, metode COBIT perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar pengguna IT sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap penggunaan IT. Dalam hal ini saya mencoba merancang penerapan COBIT pada PT. Transindo Jaya Komara.

    1.    Analisis Permasalahan

    ·         Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah memiliki prosedur pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan, tetapi faktanya prosedur tersebut tidak sepenuhnya dijalankan, sehingga user biasanya melakukan secara manual.

    ·         Mengetahui berbagai kendala dalam pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan.

    ·         Perusahaan menginginkan adanya suatu evaluasi tata kelola teknologi informasi untuk peningkatan mutu perusahaan .

    ·         Pengolahan Data

    PO 1 Merencanakan rencana strategis IT

    Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah mengetahui akan rencana strategis TI, meski kenyataannya pelaksanaannya sering diabaikan. Pendokumentasian belum terstruktur dengan jelas. Dan hanya diketahui oleh beberapa pegawai yang berkepentingan saja. Update dari rencana strategis TI merupakan respon dari permintaan pihak perusahaan dan juga berdasarkan perubahan kondisi yang ada. Keputusan-keputusan stategis yang diambil hanya berdasarkan pada masalah yang ada dalam proyek yang dilaksanakan, belum berdasarkan rencana strategis TI yang telah ditetapkan secara konsisten.

    Tetapi pada perusahaan ini sudah adanya solusi TI yang dibuat untuk menghadapi masalah yang ada. Penyampaian kepada konsumen juga sudah dilakukan, hanya belum berjalan dengan maksimal. Penyampaian kepada konsumen dilakukan secara online, dengan website yang diberikan perusahaan.

    Seperti adanya rencana strategis dalam pemanfataan TI pada perusahaan ini yakni :

    ·         Solusi menyeluruh untuk industri perdagangan dan investasi

    ·         Solusi TI menyeluruh dengan nilai yang luar biasa

    ·         Solusi TI menyeluruh dengan kompetensi yang tinggi

     

    PO 2 Arsitektur Informasi

    Belum semua instansi memiliki sistem informasi dan sistem informasi yang dikembangkan belum terintegrasi.

    PO 3 Arah Teknologi

    Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai.

    PO 4 Organisasi TI dan hubungan

    Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal.

     

    PO 5 Investasi TI

    Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.

    Alokasi anggaran yang terbatas.

     

    PO6 Komunikasi tujuan dan arah manajemen

    Masih lemahnya koordinasi pembagian produk produk. Hal ini menyebabkan

    koordinasi koperasi kurang efektif dan antrian yang semakin panjang.

     

    PO 7 Manage SDM

    Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas.

    Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional

    maupun manajerial.

     

    PO 8 Kesesuaian dengan external requirement

    Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap

    perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan

    masyarakat (globalisasi).i TI menyeluruh untuk industri transportasi dan perjalan

    PO 9 Menilai Resiko TI

    Di PT. Transindo Jaya Komara sudah adanya  kebijakan akan manajemen resiko, karena sebagian besar pelaksanaan kegiatan bisnis di Departemen TI di perusahaan ini sudah memanfaatkan teknologi 100 %. Manajemen resiko dilakukan sesuai dengan proses yang telah ditentukan perusahaan, namun belum ada standart khusus untuk mengatur kebijakan manajemen resiko tersebut. Tetapi manajemen resiko pada perusahaan ini belum disosialisasikan kepada seluruh pegawai, jadi hanya pihak terkait atau manager yang mengaturnya dan menjalankannya. Apabila terjadi kesalahan manajer yang memberitahukan secara manual kepada pegawainya.

    Proses kelonggaran/mitigasi yang diberikan terhadap resiko proyek, baik proyek baru atau lama semuanya diperiksa oleh manager, tetapi masih belum konsisten karena tidak adanya standart khusus untuk proses tersebut.

    PO 10 Manajemen Proyek

    Pada perusahaan ini, menajemen untuk proyek telah memenuhi kebutuhan user. User disini ialah pegawai, manager, pimpinan dan stakeholders lainnya. Namun, proses pedokumentasian belum berjalan dengan baik serta pengembangan dan penggunaan teknik juga belum dilaksanakan dengan baik. Serta aplikasi dari penerapan management proyek tergantung pada kebijakan dari manager.

    PO 11 Manajemen kualitas

    Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.

     

    KESIMPULAN

    Metode cobit perlu diterapkan pada PT Transindo Jaya Komara, hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan kinerja PT Transindo Jaya Komara dapat lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai dan juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi investor koperasi, pemegang saham dan pemerintah.

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/WxwXshM2v3Y” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>