RSS
 

Archive for May, 2012

PKM-KC @UTAMA: WEB GIS UNTUK TRACKING RUTE PERJALANAN TRANSPORTASI UMUM DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJIKSTRA DAN GOOGLE MAP API

14 May

 

Hari ini saya hadir (walau tidak sepenuhnya) di acara Monitoring Evaluasi (MONEV) PKM-KC di Student centre-ITB untuk mahasiwa binaan saya dengan judul:

“WEB GIS UNTUK TRACKING RUTE PERJALANAN TRANSPORTASI UMUM

DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJIKSTRA DAN GOOGLE MAP API”

Oleh :

Abraham Mikhael Dolok (06.11.P002)

Esa Fauzi (06.10.P001)

Rizkiyanda Tri Putera Akhmad (06.08.136)

Muh. Fitra Ramadhan (06.11.U060)

Rizal Rifqiana Mutaqin (06.11.U56)


UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG

Di negara Indonesia transportasi umum adalah salah satu sarana yang paling banyak digunakan oleh masyarakat untuk berpergian. Transportasi umum ini terdiri diri dari beberapa macam seperti bus, angkutan umum, kereta, dan lain-lain. 

Transportasi umum terutama di darat masing-masing memiliki kode yang disebut trayek. Trayek ini adalah lintasan/jurusan yang akan dilalui kendaraan umum. Setiap kendaraan umum memiliki trayek yang berbeda-beda, bahkan dalam satu jenis transportasi umum misalkan busway juga memiliki trayek yang berbeda-beda.

Keberadaaan trayek yang banyak dan bermacam-macam dalam suatu kota terkadang membingunkan masyarakat yang akan menggunakan kendaraan umum untuk berpergian terutama masyarakat pendatang dari luar kota. Kesulitan akan faktor informasi tentang trayek kendaraan umum adalah salah satu penghambatnya. Masalah ini bahkan bisa menjadi salah satu penghambat laju perekonomian indonesia karena menghambat proses transportasi. Apalagi jika masyarakat pendatang dari luar kota adalah turis. Kurangnya informasi mengenai trayek ini bisa membuat para turis enggan datang berkunjung ke negara kita.

Sistem Informasi Grafis (SIG) dengan tampilan visual berupa peta interaktif yang memberikan informasi berupa rute yang akan dilalui oleh kendaraan umum merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Teknologi Google Maps API (Google, 2011) merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam pembuatan Web GIS. Google Maps API merupakan salah satu pilihan utama dalam merealisasikan GIS, karena selain memiliki API yang bisa diintegrasikan dengan beberapa teknologi, Google Maps API merupakan layanan gratis yang menyediakan peta digital dalam beberapa tipe seperti peta roadmap, satellite, terrain dan hybrid.

Aplikasi yang akan dibuat ini juga akan didukung dengan menggunakan algoritma dijikstra. Algoritma dijikstra adalah algoritma shortest-path atau algoritma pencarian rute terpendek. Dengan adanya algoritma ini akan memudahkan bagi masyarakat dalam menentukan rute tercepat dalam berpergian dengan menggunakan kendaraan umum. Namun algoritma ini memiliki aturan yang pasti yaitu harus adanya vertex dan edge. Vertex disini nantinya akan digunakan sebagai lokasi tempat menaikan dan menurunkan penumpang. Oleh karena itu, aplikasi ini memiliki batasan bahwa setiap kendaraan umum harus menaikkan maupun menurunkan penumpang pada lokasi yang sudah ditetapkan.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/v6gqipmbcok” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

07 May

Kami tahu engkau telah berusaha sekuat tenaga 

Mempersiapkan diri menghadapi salah satu ujian dalam hidupmu

Engkau ingin menjadi ahli di bidang sipil juga komputer

Di lain waktu, engkau ingin menjadi wartawan atau reporter

 

Di rumah kita banyak buku yang telah engkau baca dan tamatkan

Mulai dari hikayat Nabi, Napoleon, Mac Arthur, bahkan Soekarno dan Hatta

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Doa kami bersama usaha dan tekadmu untuk dapat mencapai tujuan hidupmu

 

Catatan: 

Mohon doanya putra kami, Muhammad Firman Nugraha, dapat melewati Ujian Nasional 7-9 Mei 2012 dan mencapai apa yang dicita-citakannya selama ini….. Amin Ya Robbal Alamin…..

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/7xo0QlavhW0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Mengapa Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Sangat Penting?

06 May

“Seorang Wirausaha adalah orang yang bersedia dan mampu untuk mengkonversi  ide atau penemuan baru menjadi sukses inovasi, sekaligus menciptakan produk dan model bisnis baru yang memberi sumbangan atas pertumbuhan dinamisme industri dan ekonomi jangka panjang.”~Joseph A. Schumpeter  

Daya saing, inovasi dan pertumbuhan ekonomi tergantung pada kemampuan untuk menghasilkan pemimpin masa depan dengan keterampilan, sikap dan perilaku untuk menjadi wirausaha dan  di saat yang sama bertanggung jawab secara sosial. Kewiraswastaan tidak hanya tentang membuat rencana bisnis dan  usaha. Hal ini juga tentang kreativitas, inovasi dan pertumbuhan, cara berpikir dan bertindak yang relevan dengan semua bagian dari ekonomi dan masyarakat serta seluruh ekosistem sekitarnya. Dalam konteks ini ekosistem kewirausahaan dapat dicirikan sebagai kerangka saling tergantung dan interaktif untuk aktivitas kewirausahaan. Saling ketergantungan ini terdiri dari aturan kelembagaan dan kondisi lingkungan  yang menentukan rentang dari sosial dan ekonomi peluang kewirausahaan yang layak. Serta cara di mana pengusaha dan pemangku kepentingan lainnya membentuk kondisi kelembagaan dan lingkungan sekitarnya.

Orang yang kreatif, inovatif dan berwirausaha sangat penting untuk penciptaan kekayaan dan pertumbuhan ekonomi. Pengusaha Inovatif  datang dalam segala bentuk. Mereka memulai dan menumbuhkan perusahaan, menginkubasi perusahaan dari universitas atau organisasi lain, merestrukturisasi perusahaan yang membutuhkan pemusatan, atau berinovasi dalam organisasi yang lebih besar.

Dalam mengembangkan kewirausahaan, lulusan pendidikan tinggi memiliki peran penting untuk bermain. Hal ini dapat dipahami sebagai proses seumur hidup yang mengembangkan keterampilan individu, sikap dan perilaku. Penting untuk memulai sedini mungkin di semua tingkat pendidikan formal dan informal. Itu harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan dasar dan sekolah menengah serta pendidikan tinggi. Untuk pendidikan kewirausahaan yang efektif, kurikulum selama bertahun-tahun haruslah konsisten dan terkoordinasi dan pendidikan kewirausahaan harus terus mendapat tempat  lembaga pendidikan tinggi.

Program dan modul Kewirausahaan dapat memiliki berbagai tujuan, seperti:

  1. Pengembangan Kewirausahaan di kalangan siswa (meningkatkan kesadaran dan motivasi);
  2. Mengembangkan kemampuan kewirausahaan untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang;
  3. Pelatihan keterampilan yang dibutuhkan untuk memulai  dan mengelola pertumbuhan  bisnis. 

Dalam semua konteks ini, penting untuk mendorong mahasiswa untuk berpikir dan bertindak kewirausahaan serta punya etis dan bertanggung jawab sosial.

<iframe width=”640″ height=”480″ src=”http://www.youtube.com/embed/Z9dzOUUt4AM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Mengenang Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih:Gajah Meninggalkan Gading, Manusia Meninggalkan Jasa

03 May

Dikutip dari http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/05/02/33399/540x270/ketua-dpr-kita-kehilangan-orang-baik.jpg

 

 Hari ini Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (57) dimakamkan sebagai umat yang kembali kehadirat Ilahi. Beliau meninggal karena penyakit kanker paru yang dideritanya setelah di rawat di Paviliun Kencana RSCM. Paviliun dimana Menteri Kesehatan RI, Dr.dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH meresmikannya pada hari Jumat, 7 Mei 2010. Dan Mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia di Paviliun Kencana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (2/5/2012) pukul 11.41 WIB.   

Terkait penyakitnya, Endang menjadi perokok pasif karena Indonesia adalah ”surga” bagi perokok. Asap rokok lingkungan (environmental tobacco smoke) jauh lebih beracun dan karsinogenik dibandingkan asap rokok utama (mainstream smoke). Ini yang mungkin memicu kanker paru yang diidap Endang.   

Ia dan keluarganya untuk pertama kali mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker paru ketika melihat hasil rontgen parunya pada 22 Oktober 2010.

Endang tetap tegar. Tanggal 22 Desember 2010 ketika meluncurkan buku Perempuan-perempuan Kramat Tunggak di Bentara Budaya Jakarta, ia masih terlihat sehat dan segar. Dan ia tetap tegak tegar ketika diwawancara di rumah dinasnya beberapa pekan kemudian (Kompas, 23 Januari 2011). Malah ia bisa menertawakan dirinya sendiri sambil menyanyikan lagu David Bowie ”Dead Man Walking”.

Salah satu perjuangan Endang yang berani melawan arus adalah membuat Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Kantor Kemenkes tak jarang didemo oleh para petani tembakau dan buruh industri rokok. Bahkan fotonya pernah terpampang di baliho besar sebagai salah satu dari 10 musuh petani tembakau dan buruh industri rokok (Buku Indonesia–The Heaven for Cigarette Companies and the Hell for the People, FKM UI, 2012).

Padahal, tujuan RPP itu tak lain adalah mengamankan mereka yang belum menjadi perokok dan para perokok pasif. Tidak dimaksudkan untuk mematikan industri rokok dan melarang penanaman tembakau.

Disalahpahami dan difitnah memang risiko jabatan bagi pejabat tinggi negara. Namun, Endang telah membuktikan bahwa ia tetap bekerja sampai saat-saat terakhir, sebelum akhirnya ia menyerah dan harus meminta cuti sebulan untuk berobat, lalu dipuncaki dengan permohonannya mengundurkan diri. Ini menunjukkan kejujurannya untuk tidak mengangkangi jabatan yang diamanahkan kepada dirinya. 

Jenazah Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Kamis (3/5/2012), dimakamkan di tempat pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Setelah jenazah dimakamkan, tabur bunga dilakukan oleh keluarga dengan diiringi alunan lagu “Gugur Bunga”. 

Selaku inspektur upacara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara simbolis menimbun peti jenazah dengan tanah, yang diikuti oleh keluarga. Baru setelah itu penimbunan dilakukan oleh petugas pemakaman. Upacara pemakaman yang berlangsung secara militer itu diikuti oleh para menteri, antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

SBY lantas membacakan kata-kata Endang dalam Pengantar buku itu sebagai berikut:

“Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan lima bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi saya tidak bertanya, “Why me?” “Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. 

“Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan dua putera dan satu puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan.” 

“So …. Why not? Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.”

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. 

Dan …. jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu.”

“Demikianlah kata-kata Almarhumah yang penuh nilai, keimanan dan pelajaran ini,” lanjut SBY.

SBY menambahkan, harus diakui bahwa almarhumah selama hidup, telah memberikan begitu banyak jasa kepada masyarakat, bangsa dan negara. SBY mengajak melanjutkan pengabdian Endang dengan tindakan nyata, khususnya dalam peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia.

Catatan: Dikutip dari berbagai sumber

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/wTG2P0TCvik” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Renungan Hari Pendidikan Nasional 2012: Apa Yang Harus Dicapai Bangsa Ini Melalui Pendidikan?

02 May
  
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (UUSPN, 2003).
 
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan  akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. 
 
Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai bangsa. Pendidikan telah terbukti mampu mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah Swt., serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga kehidupan manusia semakin beradab.
 
John Vaisey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah dasar dari pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sains dan teknologi, menekan dan mengurang kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, serta peningkatan kualitas peradaban pada umumnya. Selanjutnya dikemukakan juga oleh John Vayse bahwa sejumlah besar dari apa yang kita ketahui diperoleh dari proses belajar secara formal di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi).  
 
Berdasarkan pandangan di atas, Cristope J. Lucas  begitu yakin bahwa pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberikan informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan di dunia, serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan hidup yang esensial demi menghadapi perubahan di masa depan.  Sementara itu John Dewey berpendapat bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup (a neccesity of life), sebagai bimbingan (a direction), sebagai sarana pertumbuhan(as growth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup. Pendidikan mengandung misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup serta perubahan-perubahan yang terjadi.  
  
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/qjjhMvkNkKY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Pendidikan Nasionalisme: Antara “Perjuangan” SuJu, Justin Bieber dan Syahrini

01 May
Dikutip dari http://1.bp.blogspot.com/-Mt8iaL-2Fp4/TgGZpIjXXsI/AAAAAAAAAf0/2s3hGWUG8i4/s1600/HORMAT.jpg
Kaum muda Indonesia dihebohkan dengan pemunculan dan show Boy Band SuJu dari Korea Selatan. Mereka berbondong-bondong mengelu-elukan idolanya pada “batas yang tidak bisa dibayangkan”. Bahkan ada beberapa yang “mencapai kepuasan batin tak terhingga” setelah melihat atau bertemu dengan idola mereka.
Dikutip dari Kompas, sepanjang pertunjukkan mereka menjerit sambil mengacungkan “light stick” warna biru safir yang harganya sekitar Rp 250.000 per batang dan meneriakkan nama-nama personel kelompok yang kini beranggotakan 11 penyanyi itu. Kadang mereka ikut bernyanyi dan menggoyangkan badan saat band bentukan Lee Soo Man, pendiri SM Entertainment di Korea Selatan, itu mendendangkan lagu-lagu hitsnya. Sejak awal hampir seluruh penonton yang memenuhi ruang konser berlantai tiga itu seperti terbius pertunjukan penyanyi-penyanyi muda Korea tersebut.
Di lain tempat, Justin Bieber seperti yang dikutip dari Republika, salah satu idola dari “Negeri Seberang” memberikan pernyataan kontroversial yang menghina Indonesia sebagai negara tidak jelas dan kualitas rekaman Indonesia buruk yang terus menuai pro-kontra dari para penggemarnya di Indonesia. Salah satu fans Indonesia mengatakan: “Memang dari awal munculnya Justin Bieber juga sudah banyak kontroversial. Bukan cuma sekali ini saja dia menghina atau berulah yang bikin orang sakit hati. Dia juga pernah kasar dengan fansnya.”
Kemudian muncullah figur Syahrini yang mencoba “membela” negaranya Indonesia dengan memberikan pernyataan sengitnya pada Justin Bieber. Diberitakan sebelumnya, Syahrini “berkicau” agar Bieber meminta maaf kepada publik berkait dengan pernyataannya dalam acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi dengan menyebut Indonesia sebagai a random country, yang diartikan sebagai negeri entah berantah. Bukannya disambut positif, akun Twitter @princessyahrini justru diserang para Belieber selama tiga hari berturut-turut.
Ketiga peristiwa tersebut, punya kesamaan “Pemain Peran” yang sama dan sangat penting yaitu Kaum Muda Indonesia. Bagaimana mereka melihat nasionalisme dari sudut pandang remaja Indonesia dihubungkan dengan fenomena “agama baru” yang dinamakan “Fun, Food & Fashion”?
Pada Bukunya bertajuk “Nasional.Is.Me”, Pandji Pragiwaksono (salah satu Tokoh Muda Indonesia Kontemporer) menggugat etos nasionalisme kaum muda yang sedang tergerus. Saat ini, spirit kaum muda banyak yang “absen” dengan nilai perjuangan yang tertancap dalam monumen perjuangan.
 
Penulis melihat melihat ada beberapa indikasi makin runtuhnya nasionalisme kaum muda di tengah gempuran globalisasi. Pertama, Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.
 
Kedua, dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala erkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
 
Ketiga, masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
 
Keempat, adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
 
Kelima, munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
 
Kelima hal tersebut menjadikan nasionalisme tak lagi menancap dalam gerak kaum muda hari ini. Berbagai jebakan yang mengitari kanan-kiri menjadikan kaum muda kehabisan energi melakukan gerak perubahan untuk bangsa.
 
Dalam konteks ini, penulis melihat bahwa perlu gerak rekonstruksi nasionalisme kaum muda hari ini. Tantangan kebangsaan yang kita hadapi sekarang ini telah bergeser dari isu-isu lama ke isu-isu kontemporer yang membutuhkan nilai-nilai baru yang dikonstruksikan sesuai dengan tantangan zaman.
 
Tantangan yang harus diatasi oleh kaum muda hari ini adalah membuat Indonesia berdaulat. Berdaulat atas tanah, air, dan segala yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kedaulatan tak akan berarti jika kesejahteraan hanya menjadi pepesan kosong, sekadar retorika politik yang manis dan bual. Kedaulatan juga tak akan bermakna manakala harkat dan martabat bangsa sering diinjak-injak bangsa lain.
 
Nasionalisme baru kaum muda adalah nasionalisme original yang tidak dibangun dari atas lalu meluncur ke bawah yang oleh sejarawan Charles Tilly, disebut sebagai state-led nationalism. Sebab, nasionalisme kaum muda adalah nasionalisme yang tidak dibentuk oleh rezim, melainkan sesuatu yang muncul secara alamiah.
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)
Itulah yang dikatakan oleh Bung Karno atas harapannya pada kaum muda. Apakah nasionalisme kaum muda sekarang bisa menjawab tantangan Bung Karno tersebut? Wallahu Alam Bissawab 
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/uT43dUQ3H18″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>