RSS
 

Archive for the ‘Buku’ Category

Bandung Sebagai “City of Eduaction” (Kota Pendidikan Berdasarkan Contoh dan Tindakan)

24 Feb

Bandung (Source: yudipram.wordpress.com)

 

Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Jawa Barat sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta. Di kota yang bersejarah ini, berdiri sebuah perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia (Technische Hoogeschool, sekarang ITB), menjadi ajang pertempuran pada masa kemerdekaan, serta pernah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955, suatu pertemuan yang menyuarakan semangat antikolonialisme, bahkan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dalam pidatonya mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika.

Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota teraman di dunia berdasarkan survei majalah Time.[6]

Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh disana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun 2007British Councilmenjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan.

Kota Bandung merupakan salah satu kota pendidikan, dan Soekarnopresiden pertama Indonesia, pernah menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda pada masa pergantian abad ke-20.

Pendidikan formal

SD atau MI 

negeri&swasta

SMP atau MTs negeri&swasta

SMA negeri& swasta

MA negeri&swasta

SMK negeri&swasta

Perguruan tinggi

Jumlah satuan

1023

250

184

25

96

130

Data sekolah di kota Bandung

Sejak jaman kolonial Belanda, Kota Bandung merupakan incaran para student dari berbagai penjuru tanah air untuk melanjutkan pendidikannya di Bandung. Saat itu yang ada hanya Technise Hoge School (THS) yang sekarang nomenklaturnya Institut Teknologi Bandung (ITB). Termasuk Soekarno yang mendalami keilmuannya di THS hingga lulus. Dalam masa pendidikannya, Soekarno juga berjuang untuk mencapai Indonesia Merdeka di Bandung.

Sampai tahun 1955, pendidikan tinggi baru THS sekarang ITB saja. Kemudian muncul Perguruan Tinggi lainnya, Universitas Negeri Padjadjaran (Unpad). Belum ada perguruan tinggi swasta. Beberapa tahun setelah Unpad memulai operasionalnya, berdirilah Universitas Parahyangan (Unpar). Baru setelah itu bermunculan perguruan tinggi swasta, termasuk akademi swasta, pendidikan setaraf D-1-3.

Dari sejarah, fakta dan data di atas ternyata Bandung sudah menjadi tolok ukur pendidikan di Indonesia bahkan dunia. Mulai dari Observatorium Bosscha yang merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36′ Bujur Timur dan 6° 49′ Lintang Selatan. Lembaga Pasteur berdiri 6 Agustus 1890 dengan nama “Parc Vaccinogene” berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890. Sampai Museum Geologi Bandung yang didirikan pada tanggal 16 Mei 1928 yang pada awalnya berfungsi sebagai laboratorium dan tempat penyimpanan hasil penyelidikan geologi dan pertambangan dari berbagai wilayah Indonesia lalu berkembang lagi bukan saja sebagai sarana penelitian namun berfungsi pula sebagai sarana pendidikan, penyedia berbagai informasi tentang ilmu kebumian dan objek pariwisata. Serta banyak lagi Pusat Keunggulan Pendidikan yang lain seperti ITB, UPI, Unpad, IT/IM Telkom, Widyatama, ITENAS serta  banyak Univesitas, Pusdiklat atau institusi/organisasi pendidkan lain (mis. Pojok Pendidikan)yang menjadi referensi bagi insitusi serupa di Indonesia, Asia tenggara bahakan dunia.

Sebut saja Bandung sebagai kota pendidikan yang tak lepas dari mata masyarakat Indonesia. Meskipun di setiap sekolah selalu di ajarkan akhlak dan moral bagi anak anaknya dari mulai tingkat taman kanak kanak hingga sekolah menengah atas ataupun sekolah menengah kejuruan bahkan perguruan tinggi, masih saja dirasakan pendidikan in belum memberikan kemanjuran (Efficacy) atas kehidupan masyarakatnya. Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa? Betapa besar peranan pendidikan dalam hajat hidup manusia seperti yang ditekankan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.

Diharapkan Pendidikan (khususnya di Bandung) dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman, kita harus lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat membumi dan praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan kontribusi bagi kebutuhan dunia nyata yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Sebagai penutup, nila-nilai inti dari pendidikan masih sangat relevan. Yang perlu ditekankan adalah pendidikan masih perlu berubah. Ketersediaan pendidikan yang memanusiakan tampaknya masih terbatas  dan hanya sebagian kecil dari penduduk memiliki akses. Hal yang lain, mengingat argumen-argumen yang  di atas, pendidikan bisa menjadi jauh lebih bersifat sosial dan jauh lebih berdampak. Akhirnya, apa yang kita ajarkan dan cara kita mendidik memiliki kesempatan untuk merubah Bandung Sebagai “City of Eduaction” (Kota Pendidikan Berdasarkan Contoh dan Tindakan) …..

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/ZtYqquuBIHE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Forum Knowledge Management Society Indonesia (KMSI): Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan

16 Feb

“Aset paling berharga yang dimiliki oleh sebuah perusahaan adalah pengetahuan. Kemampuan untuk menciptakan dan berbagi pengetahuan akan menjadi factor #1 penentu kesuksesan di abad mendatang.” – Manajer sebuah perusahaan otomotif di AS

Hal itulah yang saya  dapat saat mengikuti  Acara Forum Knowledge Management Society Indonesia (KMSI) sbb:

Hari/Tanggal    : Kamis, 16 Februari 2012

Waktu                   : Pkl 09.00 – 15.15 WIB
Tempat                 : PT Telkom, 
Jl. Japati No. 1 Bandung, Ruang Infocom GKP TELKOM Lt. 8

Agenda Acara

Waktu 

Agenda 

PIC 

09.00 – 09.15

Registrasi

Panitia

09.15 – 09.45

Sambutan dari Direktur HCGA TELKOM

Bapak Faisal Syam *

09.45 – 10.00

Sambutan dari KMSI

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

10..00 – 10.30

Break

Acoustic Play

10.30 – 11.15

Implementasi Knowledge Management di Telkom

VP BPE PT. Telkom

11.45 – 12.00

KAMPIUM sebagai Knowledge Repository

AVP KM dan Tim PT. Telkom

12.00 – 13.00

ISOMA

13.00 – 15.00

Sharing Knowledge Map

1.     The Ecosistem of Knowledge Assesment for Knowledge Audit and Mapping

2.     Metodologi pengembangan Knowledge-Map

1.     M. Santo (founder Mobeeknowledge)

2.     Moh. Haitan Rachman (VP KMSI program)

15.00 – 15.15

Penutup

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

Banyak perusahaan yang punya kepedulian besar terhadap “Knowledge Management” (Manajemen Pengetahuan) untuk Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan. Diantaranya adalah Telkom, Pertamina, PLN, Pos Indonesia dan masih banyak BUMN dan perusahaan di Indonesia yang memahami, melaksanakan dang mengevaluasi “Knowledge Management” di Perusahaannya.

Mereka menyadari pernyataan Peter Drucker pada tahun 1995 bahwa “pengetahuan telah menjadi sumber daya ekonomi utama dan sumber paling dominan untuk unggul dalam persaingan” telah menunjukkan pentingnya memperhatikan pengetahuan dengan serius. Dalam buku “Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan” karangan Rudy Ruggles dari “The Ernst & Young Center for Business Innovation”, serta Dan Holtshouse dari “Xerox Corporation” memperlihatkan arti dan kebijaksanaan sebenarnya dari memperoleh keunggulan kompetitif dengan pengetahuan.  Buku ini juga memaparkan beberapa pandangan tentang sejarah pengelolaan pengetahuan dan merefleksikan sejarah itu melalui kacamata keunggulan dengan pengetahuan.

Sejarah Singkat Pengelolaan (Manajemen) Pengetahuan

Telah ada beberapa karya tentang pengelolaan pengetahuan, termasuk The Knowledge-Creating Company (Perusahaan Pencipta Pengetahuan) karya Ikujiro Nonaka dan Hirota Takeuchi, tulisan-tulisan Tom Stewart dalam majalah Fortune tentang kekuatan otak dan modal intelektual dan bukunya yang berjudul Intellectual Capital (Modal Intelektual), selain itu ada Fifth Discipline (Ilmu/Disiplin Kelima) karya Peter Senge, yang mengangkat istilah “learning organization” menjadi pembicaraan umum di bidang bisnis.

Pengelolaan pengetahuan, sebagian berakar dari adanya sistem kecerdasan dan keahlian buatan.  Di tahun 1960an dan 1970an, orang mengira bahwa computer akan menyimpan pengetahua untuk kita, tetapi ternyata pengetahuan masih tersimpan dalam otak manusia.

Di akhir tahun 1980an, terjadi pengurangan jumlah pekerja sehingga perusahaan-perusahaan harus memikirkan cara baru memindahkan pengetahuan.  Pemberhentian karyawan tingkat menengah mengakibatkan hilangnya sumber pengetahuan (pengalaman yang dimiliki karyawan).  

Bersamaan dengan itu, rekayasa ulang proses bisnis berusaha menangkap pengetahuan yang berhubungan dengan proses, tetapi ada kelemahannya yaitu hanya meperhatikan pengetahuan yang eksplisit.  Usaha-usaha tersebut, dan ditambah dengan Total Quality Control dan ISO, mendorong berbagai organisasi untuk mengungkapkan dengan jelas apa yang mereka ketahui dan lakukan.

Pengaruh-pengaruh lain berasal dari Leif Edvinsson yang menulis tentang modal intelektual, dan Margaret Wheatley yang menulis tentang kepemimpinan dan sains baru. Selain itu, munculnya internet menjadi kultur populer, dan dibantu oleh berbagai browser, memungkinkan semua orang di dalam dan diluar organisasi untuk mengakses data dan informasi dalam jumlah besar.

Sekarang, perusahaan-perusaan dengan masalah yang lebih besar, yang melibatkan lebih banyak orang.  Sayangnya, jumlah pekerja ahli tidak banyak. Selain itu perusahaan-perusahaan juga memiliki masalah dalam mengambil pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan senior dan berpengalaman sebelum mereka pensiun.

Model bisnis secara keseluruhan telah berubah. Sekitar tahun 1980an, orang-orang mulai dimasukkan ke dalam kelompok-kelomppok kerja, dan kelompok bisa menentukan cara melakukan pekerjaan mereka sendiri.  Agar bisa melakukan hal ini, mereka memerlukan informasi yang lengkap, dan mereka membutuhkannya dengan cepat.  Terdapat sebuah siklus yang menarik, kita dihadapkan dengan berbagai ekspektasi kerja, kemudian teknologi dikembangkan untuk mendukung berbagai gaya kerja, yang kemudian memungkinkan bertambahnya ekspektasi kerja.  Saat ini, teknologi membukakan berbagai pintu bagi semua orang untuk mendapatkan pengetahuan dan menerapkannya.  Pengetahuan diakui sebagai alat yang bisa digunakan oleh semua orang.

Perkembangan Saat Ini

Dalam beberapa tahu terakhir, terjadi perubahan besar dalam lingkungan bisnis umum, yang kemudian meningkatkan kebutuhan akan pengelolaan pengetahuan yang lebih aktif daripada sebelumnya. Sekarang kita akan membahas lingkungan di mana pengelolaan pengetahuan diterapkan.

Buku karya Chris Meyer dan Stan Davis berjudul “BLUR” menyiratkan bahwa: “kerja pikiran mulai mengungguli kerja otot dalam kaitannya dengan nilai dalam ekonomi global”.  George Gilder dalam buku “Microcosm” menyatakan:  “Kejadian utama pada abad keduapuluh adalah jatuhnya nilai materi.  Dalam hal teknologi, ekonomi, dan politik, nilai dan signifikansi kekayaan dalam bentuk fisik akan terus berkurang.  Kekuatan pikiran akan muncul di mana-mana dan mengungguli kekuatan fisik.”  Pengetahuan diterapkan untuk menciptakan nilai dengan lebih efektif.  Selain itu, koneksi elektronik memungkinkan kita mempertemukan orang-orang yang jaraknya jauh untuk mencipta dan berbagi ide, yang merupakan hal penting bagi industri dan perusahaan.

Jadi, pengetahuan adalah produk dari lingkungan.  Pengetahuan adalah respon organisasional terhadap perubahan.  Dulu, sumberdaya yang patut dikelola dengan efektif adalah lahan, pekerja, dan modal uang, sekarang aset yang lebih berharga adalah modal pengetahuan.

 

BJ HABIBIE: Ketika Prestasi Tokoh Bangsa Hanya Dianggap Iseng Belaka

13 Feb
Cuplikan Kunjungan Mantan Presiden BJ HABIBIE ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia yang saya peroleh dari Sahabat Suprayogi Permadi yang pernah sama-sama bekerja di Merpati Nusantara Airlines.
————————————————————————————-
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-

escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.
Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..”Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek.


Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900
jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Brazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11.
Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad”
sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

– Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten- C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis- D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya
1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya.
Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.
Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

  1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa! 
  2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………
  3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.


Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat………….saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara.
Isinya sangat inspiratif……………….”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012
Salam,
Capt. Novianto Herupratomo


 

Studi Kasus: “Program Telepon Desa Grameen Telecom” (Dr. Don Richardson, Ricardo Ramirez & Moinul Haq)

01 Nov

a.       Judul:

        Grameen Telecom’s Village Phone Programme: A Multi-Media Case Study

b.       Penulis:

Dr. Don Richardson, Ricardo Ramirez & Moinul Haq

c.        Perguruan Tinggi/Institusi:

Telecommons Development Group(TDG)

d.       Variabel Yang Diteliti:

·         Prakarsa dan pengoperasian Village Phone, serta dampaknya dalam pengentasan kemiskinan,

·         Model bisnis untuk telekomunikasi pedesaan di Pemangku kepentingan,

·         Analisa dari konteks jenis kelamin dan penggunaan telepon di pedesaan Pemangku kepentingan.

e.        Uraian Singkat:

Dalam Studi kasus ini, Telecommons Development Group(TDG) melakukan analisa yang mendalam terhadap Model Bisnis Grameen Telecom. Laporan ini juga berisi daftar pustaka yang luas dengan sambungan hiperteks untuk mengunduh dokumen dan laporan-laporan, termasuk laporan riset sebelumnya yang diprakarsai Village Phone oleh Prof. Abdul Bayes. Laporan ini disertai juga dengan video, termasuk satu wawancara dengan Muhammad Yunus, Direktur Utama GrameenBank.

Studi ini diselenggarakan oleh Perencanaan Strategis &Divisi Kebijakan Proyek Pengentasan Kemiskinan Cabang Asia, Agen Pengembangan Internasional Kanada (Strategic Planning & Policy Division of the Asia Branch Poverty Reduction Project, Canadian International Development Agency), sebagai suatu studi kasus untuk menyelidiki dampak dari program GrameenPhone dan Grameen Telecom dalam pemberian kredit mikro untuk pelayanan telepon selular dalam pengentasan kemiskinan dan situasi ekonomi-sosial operator wanita  “Village Phone”.

 “Village Phone” dari Grameen Telecom merupakan proyek percobaan yang sampai tahun 2000 melibatkan 950 Village Phones yang menyediakan akses telepon kepada lebih dari 65,000 orang. Wanita-wanita desa/kampung mengakses kredit mikro untuk memperoleh pelayanan telepon selular GSM dan sesudah itu menjual lagi pelayanan tersebut di desa/kampung mereka. Grameen Telecom memperkirakan  bahwa ketika programnya selesai, akan ada 40,000 operator “Village Phone” dengan  laba bersih $24 juta USD tiap tahun. 

Hasil Penelitian Utama (Key Findings):

1.       Program Village Phone muncul sebagai solusi teknis terbaik yang tersedia untuk akses telekomunikasi universal pedesaan sesuai dengan keadaan Regulasi Telekomunikasi Pemangku kepentingan dan kondisi ekonomi saat itu. Program “Village Phone” adalah suatu solusi organisatoris dan teknis untuk akses telekomunikasi pedesaan yang dibutuhkan oleh suatu lingkungan dengan regulasi telekomunikasi yang tidak mendukung bagi percepatan infrastruktur telekomunikasi pedesaan.

2.       Konsep dari “akses yang universal” bukanlah sesuatu yang netral terhadap gender. Di dalam kasus dari Pemangku kepentingan ini, jenis kelamin dari operator “Village Phone” dan penempatan secara fisik dari telepon di dalam suatu desa/kampung yang tersegmentasi secara gender dapat menghalangi atau memperbaiki akses wanita-wanita untuk menelpon karena alasan religius. Biasanya, satu lokasi operator wanita akan menyediakan suatu ruang yang bisa diterima untuk wanita-wanita desa/kampung yang lain untuk mengakses telepon. Dari sudut pandang pendapatan dan laba, adalah penting untuk memastikan bahwa “Village Phone” secara penuh dapat diakses oleh seluruh populasi desa/kampung,  jika 50% dari pemakai berdasarkan gender menghadapi rintangan-rintangan untuk menelpon, maka suatu arus pendapatan yang penting telah lenyap.

3.       Village Phone bertindak sebagai suatu instrumen yang tangguh untuk mengurangi resiko  dalam pengiriman uang dari para anggota keluarga para pekerja di Dhaka City dan yang bekerja di luar negeri, serta untuk membantu orang desa di dalam memperoleh informasi akurat tentang kurs valuta asing. Mengirim uang tunai dari suatu negara Timur Tengah ke suatu desa/kampung di Banglades adalah penuh resiko; pengiriman uang seperti itu adlah faktor pokok yang membuat laku/laris untuk pemakaian telepon. Mengurangi resiko dari pengiriman uang dari para pekerja di luar negeri mempunyai implikasi penting untuk penduduk rumah tangga dan pedesaan di pemangku kepentingan. Di tingkatan yang mikro, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk biaya rumah tangga sehari-hari seperti makanan, pakaian dan pelayanan kesehatan. Pengiriman uang seperti itu satu faktor yang penting dalam memenuhi penghidupan rumah tangga, dan dapat meningkatkan porsi yang penting dari penghasilan rumah tangga. Begitu penghidupan dipenuhi, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk “investasi-investasi produktif,” atau untuk uang tabungan.

4.       Panggilan-panggilan telepon kepada keluarga dan para teman sering melibatkan pertukaran informasi tentang harga pasar, daftar biaya pengiriman barang-barang,  tren pasar dan pertukaran valuta. Hal ini  membuat “Village Phone” satu alat yang penting untuk membuka peluang usaha rumah tangga dalam mengambil informasi pasar untuk meningkatkat keuntungan dan mengurangi biaya produktif.

5.       Pelayanan telepon pedesaan di Pemangku kepentingan adalah sangat menguntungkan karena regulasi yang ada sekarang (ketiadaan interkoneksi menjadi penghalang yang paling besar), sehingga operator telekomunikasi tidak mampu untuk mengimbangi permintaan untuk jasa telekomunikasi antar operator. Telepon-telepon di dalam program Grameen Telecom Village Phone menghasilkan tiga kali pendapatan untuk pelayanan selular pedesaan ($100/bulan lawan $30/bulan). Bahkan, satu pesaing operator telekomunikasi di Pemangku kepentingan melaporkan mempunyai pendapatan dari 12,000 sama dengan pendapatan dari 1,500 “Village Phone”.

6.       Teknologi telepon genggam GSM adalah suatu solusi yang mahal untuk akses  universal di daerah pedesaan. Liputan selular ini terbatas untuk daerah pedesaan serta hanya menguntungkan di bawah regulasi telekomunikasi yang sehat – ketika lingkungan yang regulasi diperbaiki, teknologi selular tidak akan menjadi alat paling efisien dan sehat dalam menyediakan servis yang universal. GSM teknologi telepon genggam juga menempatkan tarif-tarif jauh lebih tinggi pada para pemakai telepon pedesaan dibanding “Wireless Local Loop” (WLL) teknologi. Tanpa perbaikan-perbaikan pada regulasi, teknologi selular adalah suatu solusi yang praktis. Juga, teknologi selular sekarang ini bukan suatu opsi yang sehat untuk hubungan email/Internet/data yang murah. WLL dan opsi lain dapat menyediakan secara luas dan jauh lebih baik dengan ongkos pelayanan lebih murah.


 Unsur-unsur yang dapat direplikasi:

1.       Pengalaman Grameen Telecom di dalam perencanaan bisnisnya memungkinkan kami untuk menyarankan satu solusi potensial menarik operator telekomunikasi dalam melayani daerah pedesaan. Targetnya adalah melayani: daerah yang tak dapat dilayani, kurang terlayani dan menyediakan dukungan untuk pelayanan informasi  riset pasar  yang bermutu. Riset pasar akan membantu ke arah pembuktian kasus bisnis, menarik modal investasi, dan mengurangi kendala  dari pemodal-pemodal dan operator.

2.      Poin-poin pengalaman Grameen Telecom menunjukkan kepada suatu solusi yang potensial untuk operator telekomunikasi, dalam  menghadapi tantangan mengatur “last mile” dari operasi telekomunikasi pedesaan. Hal ini dihubungkan dengan organisasi-organisasi kredit mikro yang sukses berdampingan dengan operator telekomunikasi untuk memperluas liputan telepon umum publik (Public Call Office/PCO) di daerah pedesaan. Pinjaman-pinjaman mikro kepada wirausaha pedesaan (terutama yang ditargetkan kepada kalangan wanita dan kaum muda) dapat memungkinkan wirausaha untuk menyelenggarakan telepon umum publik (Public Call Office/PCO) yang menyediakan bidang jasa telepon, fax, email dan bahkan internet, fotokopi dan jasa komputer pengolah kata. Suatu program waralaba  jenis ini akan juga menetapkan konsistensi pelayanan ke semua daerah yang pada gilirannya mendukung pengembangan sosial dan ekonomi lokal.

<iframe width=”640″ height=”480″ src=”http://www.youtube.com/embed/4VZ9i8NrcsY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 


 


 

Sinta Ridwan: “Berteman Dengan Kematian”, “Bersahabat Dengan Makna Kehidupan”

14 Oct

JIKA ada ungkapan, bahwa musibah adalah berkah, rupanya itu bukanlah mengada-ada atau ucapan pelipur lara. Mungkin banyak orang yang pernah ditimpa misibah, kemudian ia mengambil hikmahnya dan akhirnya ia sadar bahwa itu berkah.

Orang miskin belum tentu sengsara, orang sakit belum tentu menderita. Banyak orang miskin dan orang sakit justru bisa hidup bahagia. Mengapa? Jawabanya dapat disimak ketika Dewi Kunti berdialog dengan Krishna dalam epos Mahabharata. Suatu hari Krishna berkata, “Bibi, tampaknya bibi hidup menderita, hidup dalam serba kekurangan. Kalau bibi mau, aku akan beri bibi hidup dengan segala kemewahan.”

Apa jawab Kunti? “Nak, bibimu ini tidak menginginkan kemewahan duniawi. Bibi justru merasa bahagia dalam penderitaan. Karena dengan hidup seperti ini, bibimu selalu berdoa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang sehingga merasa selalu dekat dengan Tuhan. Adakah yang lebih bahagia selain dekat dengan Tuhan?”

Dialog Krishna dan Kunti itu rupanya memiliki makna yang sama, jika kita menyimak pengakuan Sinta dalam bkunya: “Berteman Dengan Kematian”. Di atas planet bumi ini, mungkin tidak banyak orang seperti Sinta. Seorang gadis pengidap lupus, suatu penyakit yang setara dengan HIV/AIDS yang belum ada obatnya. Penyakit itu membuat tubuhnya melemah dari hari kehari.

Penampilannya  selalu  percaya   diri  dan  penuh   senyum.  Jika  Anda pertama kali melihatnya, mungkin  tak  akan menyangka,  jika   gadis berusia 26 tahun  ini  adalah  penyandang lupus, penyakit  yang   hingga kini belum ada  obatnya. 

Namun ironisnya, penyakit itu justru membuat Sinta tampak tegar. Penyakit itu membuat ia sadar, bahwa Dewa Kematian selalu tersenyum, melambaikan tangan di depannya. Karena itu pula, Sinta ingin memberi makna hidup ini agar lebih berarti. Mumpung masih hidup, Sinta ingin berbuat sesuatu yang berguna dan penuh makna.

Itu bisa ia buktikan, terbukti ia berhasil merogoh mutiara hidup dalam penderitaannya. Sinta yang lahir dari keluarga broken home dapat membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Bahkan ia menanggung kuliah adiknya, dan justru memberikan semangat hidup buat orang-orang di sekelilingnya. Jangankan orang sakit, orang sehatpun jarang seperti itu.

Sinta yang baru menamatkan kuliah S2 di jurusan  Filiologi Universitas Padjajaran ini   menganggap obat yang paling mujarap dari segala penyakit adalah rasa  bahagia.“ Jadi kalau kita sakit, jangan dirasakan kalau kita sakit, tetapi kita  harus berpikir sesuatu yang menyenangkan dan terus tersenyum walaupun kita  sedang sakit,” ucap Sinta.

Pengalaman Sinta dengan penyakit lupus yang telah dideritanya sejak  tahun 2005 lalu dia catatkan dalam sebuah buku otobiografi berbentuk  novel berjudul “Berteman  Dengan Kematian”.  Dalam buku itu Sinta menceritakan tentang perjuangan dirinya untuk berjuang  melawan lupus yang  bersemayam di dalam  tubuhnya.

Untuk mengisi hari-harinya wanita yang hobi membuat puisi ini berusaha  untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Salah satu upaya Sinta untuk  memberikan arti hidupnya bagi orang lain dan bangsa ini adalah dengan cara  mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang Fiolog.

Dengan ilmu itu Sinta membuka kelas aksara kuno di Gedung  Indonesia Menggugat, di  Jalan Perintis  kemerdekaan Bandung. Kelas aksara kuno atau yang disingkat kelas Aksakun ini  pertama kali dibentuk pada tahun 2009 atas dasar gagasan dari seniman-seniman  beraliran  metal yang beralamat di Ujung Berung, Bandung.

Dari dorongan para seniman yang biasa memainkan musik cadas itulah kelas aksakun  berdiri dengan jumlah murid sebanyak 35 orang. Pengikut aksakun mengalami  pasang surut. Tercatat  dari awal beridiri hingga sekarang orang-orang yang pernah naskah kuno oleh  Sinta sekitar 200 orang.

Murid yang mengikuti kelas aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat  umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas  aksakun ini adalah untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang  merupakan warisan masa lalu.

“Tidak ada masa kini tanpa adanya masa lalu, dan itu semua  tertuang di dalam naskah kuno,” ungkapnya. Sinta membebaskan teman-temanya yang  mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat sesuai dengan keinginannya masing-masing.

Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno  untuk dijadikan design dalam sebuah  kaos, dan poster-poster. Selain itu ada juga murid yang membuat lirik lagu yang mengadaptasi dari  naskah-naskah kuno.

Menurut Sinta di dalam naskah kuno itu terdapat  berbagai macam kandungan diantaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat  menghargai alam, dan sastra orang-orang masa laliu.

Kecintaan Sinta terhadap naskah kuno mengalahkan rasa  sakit akibat lupus. Sinta mengaku jika sedang tidak enak badan tidak  menyurutkan dia untuk absen tidak mengajar kelas aksara kuno, “karena dengan  mengajar saya menjadi bahagia dan itu bisa mengalihkan rasa sakit saya,”  akunya.

Selain itu Sinta di tengah keterbatasan fisiknya  akibat lupus itu bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan  diberi nama ensiklopedia naskah kuno. Tujuan dari pembuatan museum digital itu  adalah untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan  mudah.

Sinta  beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun membaca  naskah-naskah kuno itu karena sulitnya mengakses catatan-catatan orang-orang  dari masa lalu yang tersebebar di seluruh penjuru nusantara. Dengan hadirnya  museum digital itu akan memudahkan orang-orang untuk mempelajari sejarahnya  langsung dari sumber sejarah tanpa harus berusasah payah pergi ke museum.

Sumber:

  1. www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=44373
  2. www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html

Related articles, courtesy of Zemanta:

 

Partisipasi Mahasiswa Menulis untuk Meningkatkan Diskusi Akademis

12 Oct

Menghubungkan diskusi kelas dengan menulis dapat membantu Anda fokus pada tujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Tips berikut tentang penggunaan menulis untuk meningkatkan diskusi dari Pusat Studi dan Pengajaran “The Ohio State University.”

Bagaimana cara memfasilitasi partisipasi yang produktif dan aktif di kelas? Bagaimana kita bisa menghubungkan keterlibatan kelas dengan tulisan yang siswa lakukan di luar kelas?

 Beberapa dosen tertarik untuk melakukan diskusi dan keterlibatan mahasiswa, mereka melihat partisipasi dalam kelas sebagai cara untuk memperluas bagaimana mahasiswa berpikir tentang masalah tertentu atau menginterpretasikan suatu buku tertentu. Beberapa dosen mungkin mendekati topik keterlibatan kelas dengan sedikit gamang, mereka khawatir yang mungkin terjadi jika siswa tidak berpartisipasi dan percakapan berhenti, atau jika siswa terjebak dalam perdebatan yang panas tentang topik kontroversial. Menghubungkan diskusi kelas dengan partisipasi mahasiwa untuk menulis dapat membantu Anda memfokuskan tujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Menghubungkan keterlibatan kelas dan partisipasi menulis akan menjadi lebih penting bila kita harus menyesuaikan diri dengan mengajar kelas (semester) pendek!

Minggu Pertama: Awali dan akhiri kelas Anda dengan beberapa menit menulis bebas.

 Hal ini  untuk membantu mahasiswa punya pendirian dan menyimpulkan pikiran mereka sendiri di kelas. Coba angkat masalah atau isu yang relevan ke kelas. Awali kelas Anda dengan memberikan mahasiswa waktu lima menit untuk menulis tentang referensi mereka. Ini akan memberi mereka waktu untuk “ganti persneling” dan fokus pada topik di kelas, dan juga akan memberi mereka sesuatu yang konkret untuk membangun partisipasi kelas. Setelah siswa menulis di akhir kelas, dapat membantu mereka untuk menarik pemikiran mereka selama periode itu, mulai mempertimbangkan isu-isu sesi berikutnya, dan menghubungkan diskusi untuk tugas-tugas mereka. Selain itu, jika Anda memiliki kesempatan untuk mengumpulkan tulisan mereka, Anda dapat memiliki gambaran yang benar-benar kaya dari apa yang siswa pikirkan dan bagaimana mereka belajar. Anda bahkan tidak perlu menilai refleksi-refleksi ini.

Tunjukkan bahwa menulis adalah cara yang baik untuk membangun pikiran seseorang, dan bahwa diskusi dan kuliah akan membantu membangun ide dari latihan menulis bebas. Menulis bebas dapat sangat efektif bila Anda mengarahkan siswa langsung terhadap pertanyaan tertentu atau masalah, dan ketika Anda secara eksplisit menghubungkan penulisan yang siswa lakukan untuk pembahasan atau kegiatan berikutnya .

Minggu Berikutnya: Mengembangkan kerja kelompok dan kegiatan diskusi.

yang meminta mahasiswa untuk praktek menulis dan mengembangkan keterampilan berpikir  yang mereka perlukan untuk tugas-tugas menulis mereka. Bagilah kelas menjadi kelompok-kelompok dan membuat kegiatan yang mendorong siswa untuk melatih keterampilan yang mereka akan gunakan dalam tulisan mereka dengan cara yang interaktif. Minta kelompok-kelompok itu untuk menulis tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dan posting mereka ke papan diskusi atau membaca dengan suara keras di kelas.

Sebagai contoh, seorang dosen dalam ilmu sosial dapat meminta siswa untuk membentuk sebuah tesis operasional untuk mengatasi masalah atau pertanyaan yang luas. Kemudian, kelompok ini bisa berdiskusi variabel potensial yang beririsan untuk tesis kelompok lain, dan anggota kelompok ini bisa merevisi tesis mereka yang lebih baik untuk variabel tersebut.

Seorang dosen eksakta mungkin meminta siswa membangun suatu pernyataan analitis berdasarkan teks yang kelas telah membaca dan menganalisisnya. Kelompok mahasiswa kemudian bisa membaca bukti tekstual yang mendukung dan meragukan atau bertentangan dengan tesis yang ada, serta mereka bisa merevisinya karena menemukan dan mengintegrasikan bukti baru dari teks.

Dosen bisa menampilkan data dari studi yang ada dan meminta kelompok untuk mendiskusikan dan menulis kesimpulan yang mungkin menarik dari data-data tersebut. Kelompok itu kemudian membaca hasil riset asli, membandingkan dan mengevaluasi kesimpulan mereka dengan laporan penelitian yang sudah ada.

Dosen dapat menekankan bahwa siswa harus mendengarkan setiap posisi anggota kelompok  dan melalui dialog kolaboratif, menyepakati tesis dan bukti pendukung. Setelah siswa mempraktekannya secara singkat, menulis kolaboratif informal dapat membantu mereka melihat menulis sebagai sebuah proses  langsung dari keterlibatan kolaboratif. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk membahas bagaimana kolaborasi tidak terpisahkan untuk proses penelitian dan pengetahuan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=5HePQWodWiQ&w=640&h=400]

Artikel terkait: 

 

Pojok Pendidikan Publishing: Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif Edisi-1” Sudah Terbit

29 Sep

 

Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa, betapa besar peranan pendididikan dlam hajat hidup manuasia yang dikatakan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.


Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian kita lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial.  

Tulisan dalam Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif” ini dimaksudkan sebagai tambahan menu dalam dunia pendidikan yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru. Walaupun bukan merupakan buku referensi dan ditulis dengan gaya populer, diharapkan menambah khasanah bagi semua pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia.

Semoga.

 Pendidik Pembebas

Djadja Achmad Sardjana

Buku bisa dipesan di : http://www.nulisbuku.com/books/view/bunga-rampai-pendidikan-kreatif-edisi-1

 

[slideshare id=6413231&doc=presentasigurukreatifpojokpendidikan-30dec10-101231023256-phpapp01]

 

Related articles, courtesy of Zemanta: