RSS
 

Archive for the ‘Digital’ Category

e-Learning Sebagai Bagian Pembelajaran Saat Bencana Terjadi

10 Mar

Gangguan atau “bencana” di kampus  mungkin mempengaruhi pembelajaran atau kuliah ketika fokusnya adalah dosen di podium  kelas. Sistem administrasi pendidikan mungkin gagal atau tidak berfungsi saat itu, tapi kelas dan pembelajaran harus terus dilanjutkan dimanapun dan kapanpun (kecuali jika bencana ada pada skala yang sangat besar).

Bagaimana bila institusi menyediakan “program online” atau menawarkan “blended learning” pada saat bencana? Dapatkah kampus melayani penggunanya 24 jam 7 hari seminggu tidak peduli apa yang terjadi? Kampus perlu untuk dapat melakukan itu –  itulah salah satu keunggulan  dari e-learning.

Dalam era mahasiswa pengguna TIK,  ruang kelas tanpa batas dan “blended learning”, kontinuitas kemampuan e-Learning yang “fault-tolerant” dan sangat andal harus tersedia di kampus.

Sistem e-Learning harus siap di lingkungan virtualisasi, “cloud computing” dan komunikasi terpadu sehingga semua itu mencerminkan kesiapan pembelajaran saat bencana yang tetap bekerja di pendidikan tinggi dimana organisasi pendukungnya harus siap untuk apa pun yang terjadi.

Bila  perguruan tinggi dapat membentuk lingkungan ketersediaan tinggi untuk pembelajaran (High Avalaibility for Learning), dapat dipastikan akan jauh lebih banyak program “online learning” – dapat memberikan “failover” untuk  pemulihan bencana (Disaster Recovery) sistem pembelajaran termasuk administrasi pendidikannya. Ditambah lagi, dengan pendekatan ini berarti staf kampus  akan dapat memberikan pilihan untuk pemulihan kuliah  tradisional, apakah krisis berlangsung beberapa jam, beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.

Pemimpin atau Manajemen kampus harus banyak  melakukan langkah lebih jauh dengan perencanaan “Disaster Recovery” yang didasarkan pada jenis bencana yang mungkin menimpa lembaga mereka. Mereka harus merencanakan strategi didasarkan pada serangkaian pemikiran skenario “bagaimana jika kita kehilangan layanan pembelajaran”. Itu akan ideal karena memfokuskan sumber daya pada ketersediaan pembelajran ketimbang bencana itu sendiri.

 

Kebijakan dan Strategi Perguruan Tinggi untuk Hadapi Era Pembelajaran Terbuka

05 Mar

Menurut UNESCO, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bergerak ke arah masyarakat berpengetahuan (Knowledge Community) yang saling ketergantungan. Masyarakat di dunia merasakan tantangan dan peluang baru untuk mendesain dan melaksanakan pendidikan. TIK membuka cakrawala baru bagi kemajuan dan pertukaran kreativitas dan dialog antar budaya.

Namun demikian, tumbuh kesenjangan digital (Digital Divide), yang sebenarnya menyebabkan kesenjangan yang lebih besar dalam pembangunan manusia. Hal ini menimbulkan situasi paradoks pendidikan, dimana orang-orang yang memiliki kebutuhan terbesar seperti kelompok tertinggal, masyarakat pedesaan, populasi buta huruf atau bahkan sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki akses kepada sarana yang akan memungkinkan mereka menjadi anggota dari masyarakat berpengetahuan.

Di bidang Pendidikan Tinggi, ketimpangan kesempatan ini diperkirakan akan terus berlanjut, terutama melihat proyeksi pertumbuhan penduduk dunia saat ini (UNESCO, 2000 ©). Selain kurangnya kesempatan tersebut, rendahnya kualitas dan tidak relevannya pendidikan juga menjadi perhatian utama. Cepatnya perubahan dalam angkatan kerja, pengangguran serta ketidakpastian menuntut pendidikan yang cepat beradaptasi, tepat waktu dan berkelanjutan seumur hidup.

Misi dari sistem pembelajaran terbuka harus mendefinisikan perannya dalam konteks kebijakan pendidikan nasional. Misi ini dapat diarahkan pada tujuan, target kelompok, daerah, sektor atau tingkat pendidikan dan pelatihan serta didorong oleh nilai-nilai filosofi pembelajaran dan pendidikan. Pernyataan misi lembaga pembelajaran terbuka harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan nasional. Di sisi lain, organisasi pembelajaran terbuka swasta harus merespon kebutuhan segmen pasar tertentu, terutama dari pasar tenaga kerja dengan cepat dan efisien.

Untuk itu dibutuhkan Kebijakan dan Strategi Perguruan Tinggi Untuk Menghadapi Era Open Learning yang ampuh dan berkelanjutan dalam menghadapi era ini. Kebijakan pembelajaran terbuka (Open Learning) itu diantaranya harus mencakup:

  1. Jenis Pelajaran dan Kurikulum yang akan menentukan profil dari sistem atau lembaga. Hal ini harus terkait dengan misi dan kebutuhan dari pasar. Banyak sistem pendidikan terbuka menyediakan kursus dalam persiapan untuk ujian dan gelar yang sama atau mirip dengan yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga konvensional.
  2. Strategi dan Teknik Pembelajaran tergantung pada jenis program dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan, filsafat pendidikan, karakteristik pendidikan dan potensi dari teknologi yang digunakan. Sering kali ada hubungan yang erat antara strategi pengajaran, ekonomi dan pilihan teknologi yang digunakan.
  3. Bahan dan Sumber Daya Pembelajaran merupakan komponen penting dari semua sistem pembelajaran. Secara komprehensif, bahan yang dirancang dengan baik dapat merangsang pembelajaran mandiri dan dengan demikian mempengaruhi kualitas dari sistem pembelajaran secara keseluruhan. Desain, pengembangan dan produksi dari bahan pembelajaran sering dianggap sebagai sub-sistem dalam organisasi pembelajaran terbuka (Open Learning).
  4. Komunikasi antara Pendidik dan Peserta Didik merupakan komponen penting dalam Pembelajaran Terbuka (Open Learning) seperti bentuk pendidikan lainnya. Pengetahuan dapat disampaikan kepada sejumlah besar peserta didik, baik secara “synchronous atau asynchronous” yang disiarkan atau dapat diakses melalui audio/video player atau internet. Dengan demikian, Internet akan memungkinkan orang dalam jumlah lebih besar berbagi pengalaman belajar secara “real time”. Atau memungkinkan pembelajar individu untuk memiliki interaksi pribadi yang unik dengan guru atau dengan peserta didik yang lain di mana pun berada.
  5. Manajemen Sub-sistem Mahasiswa dan Staf yang terdiri dari pendaftaran, alokasi untuk pembelajaran dan layanan siswa, pengelolaan pembelajaran serta prosedur mengajar, tugas dan penilaian, pemantauan dan penyelesaian drop-out, serta ujian.
  6. Manajemen dan Staf Administrasi yang efektif tidak hanya membutuhkan staf yang kompeten, tetapi juga dirancang dengan baik, sistem administrasi yang efisien, perencanaan dan monitoring sistem. Ini akan sangat berbeda dari sistem manajemen yang diperlukan dalam pendidikan lain.
  7. Persyaratan Prasarana dan Peralatan juga mungkin sangat berbeda dari institusi pendidikan konvensional. Sebuah pembelajaran terbuka memiliki sedikit kebutuhan ruang kelas/kuliah di lokasi pusat. Fasilitas tersebut mungkin diperlukan secara lokal dan sering disediakan dalam kerjasama dengan lembaga lokal. Di lokasi pusat akan ada kebutuhan untuk fasilitas produksi dan kapasitas penyimpanan, meskipun beberapa desentralisasi produksi juga dimungkinkan.
  8. Terakhir, Sistem Evaluasi dalam rangka memberikan informasi untuk penyesuaian peran dan operasi komponen sistem pembelajaran. Keberhasilan dari setiap institusi Pembelajaran Terbuka (Open Learning) sangat tergantung pada efisiensi dan efektivitas sistem monitoring dan evaluasi.***

 

Optimalisasi #HumanCapitalManagement (HCM) Melalui “Knowledge Management & e-Learning”

27 Jun

Pendahuluan

Dalam bukunya “HRM in Knowledge Economy”, Mark Lengnick-Hall dan Cynthia Lengnick-Hall mengatakan belakangan ini fungsi manajemen sumber daya manusia (SDM) di banyak organisasi bersifat dangkal. Mereka cenderung hanya berusaha melakukan pekerjaan rutin  secara lebih baik dan efisien daripada mengevaluasi peran dan kontribusi mereka dalam rangka menyongsong era bisnis baru menuju Human Capital Management (HCM).


Seiring dengan globalisasi, information-based, kemajuan teknologi, dan persaingan ketat, manajemen SDM dituntut meningkatkan kemampuan SDM-nya. Manajemen SDM akan menghadapi kewajiban-kewajiban baru di era bisnis masa kini, yaitu:

·         Membangun Kapabilitas Strategis

Organisasi pada era masa kini perlu membangun kapabilitas strategis, yaitu kapasitas untuk membuat value berdasarkan aset-aset intangible. Yang dimaksud dengan aset intangible adalah aset yang tidak terlihat, sulit dihitung, tidak ada dalam akunting, dan harus dikembangkan dari waktu ke waktu. Misalnya: pengetahuan teknologi, kesetiaan customer, proses bisnis dan lain-lain. Intangible aset inilah yang akan menentukan apakah perusahaan akan berhasil atau gagal.

Beberapa karakteristik perusahaan yang sudah mempunyai kapabilitas strategis adalah: kompetensi bisnis yang tinggi, kemampuan untuk menganalisis kondisi pasar, kemampuan mentransfer skill secara cepat dan akurat di perusahaan, dan lain-lain. Intinya, kapabilitas strategis (Intellectual Capital) adalah kesiapan pada saat ini dan kemampuan beradaptasi pada masa depan.

 

Kapabilitas strategis (Intelectual Capital) diperoleh melalui proses penciptaan, pertukaran, dan mengumpulkan pengetahuan yang membangun kapabilitas individu dan organisasi untuk memberi hasil yang terbaik bagi pelanggan. Kapabilitas strategis terdiri dari tiga komponen yang terkait dengan SDM, yaitu: human capital (skill dan kompetensi individu/organisasi), structural capital (arsitektur organisasi dan proses manajerial), dan relationship capital (hubungan interpersonal di organisasi). Manajemen SDM harus berkontribusi dengan menciptakan dan memelihara ketiga komponen kapabilitas strategis ini melalui program, praktek, dan kebijakan yang mendukung.

·         Memperluas Batas

Orang sering berpikir bahwa tugas manajemen SDM adalah merekrut, mempromosikan, melatih, memecat dan seterusnya serta fungsi manajemen SDM adalah hanya merupakan organisasi tunggal. Jadi menurut pandangan tersebut, manajemen SDM adalah fungsi internal perusahaan. Jarang orang berpikir bahwa manajemen SDM (termasuk program, praktek, dan kebijakannya) bisa diterapkan ke supplier atau distributor, bahkan ke pelanggan.


Hal ini akan menjadi keharusan dalam perkembangan era ekonomi pengetahuan (knowledge economy). Dengan memperluas batas dari perusahaan ke supplier, distibutor, dan pelanggan, manajemen SDM bisa mempunyai pengaruh yang lebih dan signifikan di organisasi. Pada dasarnya, dengan memperluas batas, manajemen SDM menggunakan kemampuan mereka untuk membantu organisasi memberi pengaruh ke pelanggan, supplier, dan seluruh pegawai yang menjalankan aktivitas organisasi.

·         Mengelola Peran Baru

Berdasarkan pandangan lama, peran manajemen SDM adalah menarik dan menyeleksi calon pegawai, mengembangkan manajemen performansi dan sistem kompensasi untuk menyelaraskan tingkah laku pegawai dengan tujuan organisasi, dan mengembangkan dan me-retensi pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Peran manajemen SDM seperti itu dalam era ekonomi pengetahuan (Knowledge Economy) tidaklah cukup. Bukan berarti manajemen SDM tidak akan melakukan fungsi-fungsi tersebut, peran ini tetap akan dilakukan. Bagaimanapun, untuk mengelola SDM di masa depan, manajemen SDM perlu mengadopsi peran baru untuk menghadapi tantangan.

Tetap bertahan di fungsional birokrasi semata akan menyebabkan fungsi manajemen SDM menjadi kurang efektif dalam organisasi. Kegagalan untuk berubah sesuai dengan tuntutan ekonomi akan menjadikan manajemen SDM kurang penting, di mana tantangan-tantangan baru seperti manajemen pengetahuan (knowledge management) dan pengembangan SDM akan diperankan di tempat lain dalam organisasi. Tetapi hal ini tidak perlu terjadi. Pada kenyataannya, SDM adalah sumber logis dari tantangan-tantangan baru ini. 

Bagaimanapun, untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan menjadi kendala, manajemen SDM harus keluar dari birokrasi masa lalu. Ini memerlukan pergeseran paradigma bahwa manajemen SDM tidak hanya sekadar menjalankan fungsi dan proses, tetapi lebih kepada peran.

Definisi peran dalam organisasi adalah tanggung jawab, hubungan, dan area kontribusi, serta harapan-harapan. Peran bisa dianalogikan sebagai pernyataan visi organisasi. Dengan mengelola peran, manajemen SDM memberi kontribusi lebih untuk kesuksesan organisasi. Ini berarti paradigma manajemen SDM telah berubah dari fungsi dan proses menjadi hasil dan pencapaian.


“KNOWLEDGE MANAGEMENT” di Era Ekonomi Berbasis Pengetahuan

Perusahaan  merupakan  kolaborasi  antara  aset  tangible  dan  intangible dalam mencapai tujuan. Aset tangible    perusahaan dapat berupa berupa “Land, Labour and  Capital”.  Aset  tangible ini  mudah  dikembangkan  dengan meningkatkan kuantitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Aset intangible perusahaan  terintegrasi  melalui  labour  yaitu  dalam  proses  regenerasi  melalui sharing knowledge.

Dewasa ini adalah era knowledge based economy, di mana kekuatan inti suatu perusahaan terletak pada human capital. Persaingan antar perusahaan yang semakin  kompetitif  memunculkan  konsep  industri  yang  padat  pengetahuan dengan  menuntut  ketersediaan  knowledge  worker  dalam  jumlah  besar  untuk mendukung  kemajuan  suatu  perusahaan.  Human  capital  yang  sarat  akan pengetahuan ini memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas yang jauh lebih signifikan daripada faktor material seperti lahan atau modal semata.

·         Manfaat Pengetahuan

Francis Bacon pada abad ke – 15 mengungkapkan bahwa “knowledge is a power”. Bill Gates membuktikan kekuatan ilmu pengetahuan tersebut pada abad ke  –  20 melalui kemunculan Microsoft. Lompatan besar dalam knowledge ini mendongkrak kebangkitan teknologi informasi seperti Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Peter F. Drucker membenarkan pentingnya knowledge yang membawa perubahan besar pada kemajuan dunia modern.

Teori ekonomi modern yang digagas Paul Romer imendukung asumsi mengenai perlunya lembaga dan kebijakan negara memanfaatkan sains, teknologi, dan  inovasi  untuk  mendorong  economic  growth.  Model  Romer  dan  aplikasi empirisnya  menunjukkan  bahwa  inovasi  dan  adopsi  teknologi  pada  dasarnya melekat  di  dalam  pertumbuhan  ekonomi  yang  disebabkan  oleh  kombinasi investasi dalam bidang sains, teknologi, inovasi serta kebijakan yang padu.

Modal intelektual dapat bermanfaat melalui tiga perspektif,  yaitu:  manusia,  struktural,  dan  relasi.  Manfaat  knowledge  dalam  perspektif manusia adalah implicit knowledge yang mencakup skill (kompetensi dan keahlian seseorang dalam suatu bidang khusus) dan attitude (kejujuran, tanggung jawab, visioner,  disiplin,  kooperatif,  ulet  dan  tidak  mudah  menyerah).  Manfaat knowledge   dalam   perspektif   struktural   berupa   explicit   knowledge   yang menunjukkan  proses (sistem  kerja,  manajemen,  korporat,  komputerisasi  dan enterprising  ) serta budaya yang menjunjung tinggi etika. Manfaat knowledge management  dalam  perspektif  relasi  adalah  meningkatkan  kerjasama  antar jaringan, reputasi (pengakuan), dan customer capital (mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dengan baik melalui lembaga pendidikan, birokrat, dan industri).

·         Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

Knowledge  Management  adalah  merupakan  proses  sistematis  untuk menemukan, memilih, mengelola, menyaring dan menyajikan informasi dalam suatu  cara  yang  dapat  meningkatkan  pengetahuan  individu  dalam  suatu lingkungan. Knowledge management memungkinkan penciptaan,pencapaian dan penggunaan segala macam knowledge untuk mencapai tujuan bisnis.

Knowledge Management adalah pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan keunggulan bersaing atau kinerja prima. Melalui knowledge management, organisasi mengidentifikasikan pengetahuannya, lantas memanfaatkannya guna meningkatkan kinerja dan menghasilkan berbagai inovasi. Guna memperoleh knowledge management sebesar-besarnya, organisasi juga aktif mengidentifikasi dan mengakuisisi pengetahuan berkualitas yang ada di lingkungan eksternal organisasi.

Knowledge  management  dikelompokkan  ke  dalam  empat  arahan  yaitu pertama, sebagai pemrosesan informasi organisasi  (organizational information processing);  kedua,  inteligen  bisnis (business  intelligence);  ketiga,  kognisi organisasi (organizational cognition), dan keempat, pengembangan perusahaan (organizational development).

Peranan   knowledge   management   dapat   dilihat   dari   penggunaan pengetahuan  sebagai  basis  melahirkan  inovasi  juga  landasan  meningkatkan responsivitas  terhadap  kebutuhan  pelanggan  dan  stakeholders.  Selain  itu, pengetahuan juga menjadi basis yang meningkatkan produktivitas dan kompetensi karyawan  yang  telah  diberi  tanggung  jawab.  Secara  generik,  knowledge management dapat dipahami melalui aktivitasnya, yakni mengembangkan dan mempertahankan dinamika serta daya saing perusahaan yang bertumpu kepada sumber daya pengetahuan (knowledge assets). Jadi, sebenarnya, faktor intrinsik perbedaan kinerja antara perusahaan tadi adalah pengetahuan.

Para  pelaku  knowledge  management  cenderung  menggunakan  metode dalam menganalisis suatu proses, keadaan, dan aktivitas bisnis, di mana dalam proses analisis tersebut terdapat siklus atau aliran pengetahuan (knowledge flow). Pada akhirnya, mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit yang perlu ditumbuhkan.

 

“E-LEARNING” SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN ORGANISASI (LEARNING ORGANIZATION)

Modal manusia (Human Capital) menjadi sumber utama nilai ekonomi dimana pendidikan dan pelatihan menjadi “upaya” seumur hidup bagi jutaan pekerja (Stokes, 2003; Urdan & Weggen, 2000). Hal ini karena keberhasilan usaha lebih tergantung pada kinerja karyawan berkualitas tinggi, yang pada gilirannya memerlukan pelatihan berkualitas tinggi. Kemajuan teknologi informasi dan hambatan perdagangan yang tidak ada lagi, memfasilitasi bisnis berkembang di seluruh dunia.

Solusi pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi yang berkembang harus mengantisipasi kebutuhan perusahaan secara global. Adalah e-Learning dimana tenaga kerja saat ini dapat memproses informasi pendidikan dan pelatihan lebih dalam dengan jumlah waktu yang lebih singkat.

 

Hal ini disebabkan produk-produk baru dan jasa muncul dengan cepat. Siklus produksi dan rentang hidup produk yang semakin singkat, menjadikan informasi dan pelatihan cepat menjadi usang. Ada urgensi pelatihan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan lebih cepat dan efisien kapanpun dan dimanapun diperlukan. Dalam era produksi “just-in-time”, pelatihan yang tepat waktu dan mutu menjadi elemen penting untuk keberhasilan organisasi (Rosenberg, 2001; Urdan & Weggen, 2000).

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning.

Supaya implementasi e-learning bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Manajemen Strategi e-Learning dan Knowledge Management Menuju SDM Kompetitif

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning dan Knowledge Management.

Supaya implementasi bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Tanpa strategi, seorang implementor e-learning dan Knowledge Management tidak akan memiliki hal-hal berikut:

·         Tidak memiliki resep untuk melakukan implementasi,

·         Tidak memiliki roadmap untuk keunggulan kompetitif,

·         Tidak memiliki game plan untuk memuaskan stakeholder atau mencapai goal kinerja.

Tiga proses yang mendukung penetapan suatu strategi :

1.       Pemikiran strategis : kreatif, pandangan entrepreneur,

2.       Perencanaan strategis : sistematis, komprehensif, analisis untuk membuat rencana/tindakan,

3.       Pengambilan keputusan: reaksi efektif terhadap peluang dan ancaman yang tidak dikehendaki;

Kaitannya dengan strategi, peranan sistem teknologi informasi atau sistem informasi, IT/IS adalah adalah untuk menerapkan strategi yang dipilih dan juga sebagai enabler untuk strategi bisnis baru atau strategi yang hanya bisa diterapkan dengan alat bantu teknologi informasi.

Lima Langkah Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Berikut adalah tabel lima tugas manajemen strategi untuk e-learning dan Knowledge Management:

Task1

Task2

Task3

Task4

Task5

Membuat visi strategis dan misi bisnis

Menetapkan objektif/goal

Membuat strategi mencapai objektif

menerapkan &mengeksekusi strategi

Mengevaluasi kinerja, monitoring pengembangan baru, serta inisasi koreksi/
penyesuaian

 

Tiga Faktor untuk Diperhatikan dalam Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

1.       Lingkungan eksternal : Politic (legal), Economic, Social (Ecological), Technological;

2.       Tekanan grup dan stakeholder : Shareholder, competitor, customer, supplier, government, employee, serikat buruh, publik, financial, mass media;

3.       Strategi dan perencanaan internal bisnis : pengembangan internal;

4.       Dari tiga faktor tersebut kemudian dirumuskan strategi bisnis dan perencanaan proses untuk menentukan cakupan.

Faktor-faktor yang perlu untuk diidentifikasi meliputi :

1.       Resiko manajerial dan finansial;

2.       Tingkatan yang diperlukan untuk menciptakan kapabilitas baru;

3.       Struktur organisasi eksisting;

4.       Kemampuan organisasi untuk menerapkan strategi yang dirumuskan (kompetensi, sumberdaya, proses, dan budaya)

5.       Implikasi terhadap customer, partner

6.       Kebutuhan membuat perserikatan,aliansi, joint ventura;

Penerapan Strategi

Setelah strategi dibuat, maka perlu dilakukan langkah-langkah penerapan. Setelah langkah tersebut diimplementasikan, maka akan dapat diketahui strategi lanjutan, konstrain-konstrain muncul, opsi baru muncul, peluang baru datang.

Dalam kaitannya dengan penerapan strategi maka perlu diperhatikan pula siklus hidup produk e-learning dan Knowledge Management.

Alat dan Teknik untuk Strategi

Alat dan teknik yang umum digunakan untuk merancang dan merumuskan strategi antara lain:

1.       SWOT Analysis

2.       BCG matrices; untuk resource alocation

3.       Policy/portfolio matricecs

4.       Five forces

5.       Industry analysis

Strategi Umum E-learning dan Knowledge Management

Umumnya, strategi e-learning dan Knowledge Management diterapkan berdasarkan,

1.       Low cost strategy,

2.       Differentiation strategy,

3.       Niche focus strategy,

Ada tiga kunci penting untuk bisa menjadi trend-setter e-learning dan Knowledge Management di organisasi:

1.       operational excellent, (reliable, easily, dan cost-effective)

2.       customer intimacy , (targeting market precisely)

3.       product leadership, (continuing product innovation yang memenuhi customer needs).

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan sistem pembelajaran di dalam institusi. Menyediakan sistem pembelajaran akan membuat perusahaan selalui bisa selalu menyegarkan pengetahuan bagi stafnya serta membuat pegawai selalu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan.

 

 

#ICTEdu: Mengukur Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Pada Pendidikan

15 Jun
Pada penelitian yang dilakukan Cor-Jan Jager, Jesse Bos, dan Robbin te Velde digambarkan bahwa  dengan TIK dianggap akan memberikan hasil pendidikan yang lebih baik pada banyak orang secara lebih efisien daripada yang dapat dicapai tanpa teknologi tersebut. Dipicu oleh “janji-janji”, negara di seluruh dunia telah berinvestasi  besar-besaran pada Teknologi Informasi   dan  Komunikasi (TIK) dalam pendidikan selama dekade terakhir. Dengan demikian, timbul pertanyaan strategis: Apa faktor kunci (driver, enabler, dan penghambat) yang menentukan dampak ICT untuk pendidikan? Studi ini menganalisis dampak ICT untuk pendidikan dalam skala global dengan fokus pada pendidikan dasar dan menengah di beberapa negara. Mereka mencoba untuk menjelaskan beberapa perbedaan dalam kinerja pendidikan di negara-negara tersebut dengan melihat karakteristik kontekstualnya (misalnya kebijakan, infrastruktur teknologi, dll).
Ketersediaan TIK, didorong oleh investasi di bidang infrastruktur keras, merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan besar dampak TIK terhadap kinerja pendidikan. Jelas, ketersediaan perangkat keras dan perangkat lunak saja tidak cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Secara umum, investasi di bidang perangkat keras dan lunak harus diakomodasi dan didampingi oleh investasi dalam bidang keterampilan dan perubahan organisasi. Untuk itu, perlu dilihat  faktor-faktor seperti tingkat keterampilan TIK pada siswa dan guru serta perubahan organisasi yang cenderung membuat penggunaan TIK menjadi efektif. Perlu dicatat bahwa dampak ICT ini sangat sulit untuk diisolasi dari perubahan organisasi secara keseluruhan. Di Belanda, misalnya, penggunaan ICT dalam pendidikan berkaitan erat dengan pengenalan cara-cara baru mengajar dengan fokus yang lebih kuat pada otonomi dan kemandirian siswa.Sejumlah faktor kontrol juga harus diperhitungkan, seperti jumlah jam mengajar kelas tradisional. Akhirnya, dampak keseluruhan ICT pada kinerja pendidikan selalu harus dilihat dengan latar belakang faktor-faktor yang secara tradisional memiliki pengaruh kuat terhadap kinerja, terlepas dari perubahan teknologi dan organisasi, seperti latar belakang pendidikan orang tua.
Faktor yang terkait TIK mungkin berdampak pada kinerja, tetapi pengaruh secara keseluruhan mungkin relatif tidak terlalu tinggi. Penelitian ini didasarkan pada analisis dari sejumlah besar data dari banyak negara  untuk mendeteksi  hubungan potensial antara langkah-langkah sistematis dari keberadaan dan penggunaan ICT dan ukuran  kinerja pendidikan tradisional. Ada dua keterbatasan penting untuk pendekatan ini. Pertama, hubungan diukur dengan menggunakan korelasi parsial yang tidak selalu berarti kausalitas. Kedua, karena tidak memiliki data yang sangat spesifik tentang jenis TIK sedang digunakan di berbagai sekolah. Studi kasus yang dilakukan memungkinkan kita untuk lebih fokus  pada data per negara dan untuk memeriksa secara rinci tersedia penelitian khusus negara (kontekstual) untuk membantu menterjemahkan hasilnya. Pemilihan lokasi geografis didasarkan sebagian besar pada ketersediaan data dan pengetahuan kontekstual tentang mereka.
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/Uk8x3V-sUgU” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Angklung dan TIK: Salah Satu Pusaka dan Kemajuan Teknologi Dari Bandung

12 Jun
Sebetulnya ketertarikan saya pada Angklung sudah dimulai sejak lama. Hal ini kemudian dipacu karena salah satu teman di SMP adalah putra dari Ujo Ngalagena tokoh angklung yang sangat terkenal itu. Pernah juga beberapa kali memainkan alat musik ini di sekolah namun tidak begitu intens karena dikemudian hari lebih menyenangi Tembang Cianjuran.
Ketertarikan dan Kebutuhan (Want & Need) itu berubah ketika putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikulernya di sekolahnya SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Bandung . Tambahan lagi setelah mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.
Kemudian, pada Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo 31 Mei 2012 yang diadakan di Aula Barat ITB dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Eliazar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry Stephanus Suwita (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Karya kombinasi High-Tech dan Kearifan Lokal ini membius para pembicara, peserta seminar dan pengunjung expo terutama saat memainkan lagu “Pahlwan Tanpa Tanda Jasa”. Semoga karya “Urang Bandung” ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahkan bererapa hari lalu, perwakilan dari ITB dan Saung sempat berdiskusi dengan mereka berdua dan menyatakan kekagumannya.
Angklung yang terdiri dari batang bambu vertikal yang digerakkan atau digoyang sehingga menimbulkan bunyi, kelihatannya sebuah alat musik sederhana. Tapi alat musik ini sebagai Salah Satu Pusaka Dari Bandung dapat memberi nuansa orkestra yang kental bilamana dimainkan dengan benar dan penuh penghayatan. Hal ini terbukti dari pementasan yang diadakan di Saung Mang Ujo dan luar negeri sering mendapat sambutan meriah dan “Standing Ovation” dari turis mancanegara bahkan pecinta  musik dari berbagai negara.
Nah kayaknya tidak salah kalau kita mencintai alat musik ini khan?
Angklung memang salah satu pusaka dari Bandung
Engkau tidak hanya pantas menjadi bintang panggung
Menjadi ciri integritas dan keramahan yang adiluhung
Satukan jiwa dan rasa dalam musik yang agung
Angklung  jangan sampai tersandung
Boleh dimainkan oleh  orang sekampung
Namun jangan  kita terus terkungkung
Alat musik ini harus menjadi sesuatu yang terhitung
 

Manajemen Pengetahuan: Adakah Itu “Distorsi” Atau “Informasi” Bagi Perusahaan?

26 May
Sehubungan dengan dibutuhkannya pengetahuan sebagai keuntungan kompetitif, manajemen pengetahuan banyak terlibat dalam organisasi. Manajemen pengetahuan sebenarnya mengacu pada pengetahuan yang terkait dengan disiplin ilmu manajemen, suatu disiplin studi pada isu-isu dari organisasi manajemen. Isu-isu ini mengacu pada organisasi, manajer dan bawahan, perilaku organisasi, hubungan antara organisasi, hubungan antara organisasi dan lingkungan eksternalnya, dan sebagainya. David (2004) membagi manajemen pengetahuan menjadi pengetahuan manajemen teoritis dan pengetahuan manajemen praktis.
Manajemen pengetahuan adalah sejumlah  pengetahuan dan pengalaman tentang fenomena manajemen yang diperoleh oleh organisasi dari praktek menjelajahi atau mengubah fenomena sosial. Menurut pemahaman ini, harus dikatakan bahwa semua pengetahuan berhubungan dengan manajemen dikenal sebagai pengetahuan manajemen, sehingga manajemen teori dan pola manajemen adalah bidang pengetahuan manajemen. Dan Tulisan ini masuk ke dalam manajemen pengetahuan praktis.
Manajemen pengetahuan adalah pengetahuan dengan sifat-sifat umum pengetahuan. Inti dari semua hal untuk mengeksplorasi pengetahuan adalah kebutuhan untuk mengelola pengetahuan.  Yang paling memprihatinkan adalah karakteristik transfer dari pengetahuan yang merupakan faktor kunci ketika pengetahuan diubah menjadi keunggulan kompetitif. Karakteristik transfer pengetahuan termasuk kompleks. Substansinya adalah untuk mengetahui hambatan untuk mentransfer pengetahuan.
Kesulitan untuk transfer pengetahuan dapat dibagi menjadi tiga kategori. Itu adalah:
  1. Pengetahuan yang lengket pada pemiliknya
  2. Pengetahuan yang ambigu
  3. Pengetahuan yg dipahami tanpa dikatakan
Grant ( 1996 ) berfokus pada karakteristik pengetahuan itu sendiri, dan berpendapat bahwa karakteristik pengetahuan itu sendiri adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kelengketan pengetahuan. Beberapa peneliti percaya bahwa pengetahuan lingkungan transfer pengetahuan adalah juga sebuah bentuk penting dari kelengketan pengetahuan. Oleh karena itu, tidak hanya karakteristik pengetahuan itu sendiri yang harus diperhitungkan untuk pembentukan pengetahuan yang lengket pada pemiliknya, tetapi juga faktor lingkungan dalam transfer pengetahuan.
Simonin (1999) mengatakan bahwa ada empat faktor ambiguitas pengetahuan yaitu: tingkat tacitness, tingkat kompleksitas, tingkat kekhususan dan empiris. Kogut & Zander (1993) menganalisis tingkat tacitness pengetahuan dan berpendapat bahwa pengetahuan yang lebih kompleks adalah lebih sulit dan  yang tinggi tingkat tacitness-nya adalah  pengetahuan yang diberikan. Seperti dapat dilihat dari pembahasan di atas, kelengketan pengetahuan, pengetahuan ambiguitas dan tacitness pengetahuan memiliki implikasi yang sama dalam arti lebih jauh dengan menjelaskan isi masing-masing menjadi satu sama lain.
Dari perspektif transfer pengetahuan, ciri yang menonjol dari manajemen pengetahuan adalah pengetahuan “tacitness and embedability” situasional bila dibandingkan dengan pengetahuan lainnya. Manajemen pengetahuan yang berbeda cocok untuk situasi yang berbeda. Transfer manajemen pengetahuan  menarik dukungan dari “situasi yang sama” untuk meningkatkan efek transfer. Dan itu membutuhkan komunikasi dan umpan balik berulang-ulang yang terikat pada situasi untuk tujuan tersebut. Manajemen pengetahuan dapat lebih dekat dengan situasi yang diterapkan itu sendiri adalah kompleks. Ini berisi baik pengetahuan eksplisit dan yang tacit.
Tidak semua manajemen pengetahuan dapat dinyatakan dan diartikulasikan oleh teks sederhana atau gambar. Beberapa manajemen pengetahuan bahkan perlu beberapa saluran dan masukan ganda untuk mendapatkan yang lebih akurat yg dpt dimengerti. Organisasi diharapkan dapat menerima dan memahaminya dengan mudah sehingga mencapai efek transfer yang lebih baik. Ini juga mengatakan kepada kita pentingnya komunikasi dalam proses transfer manajemen pengetahuan. Berdasarkan dua karakteristik di atas, perlunya mengadopsi pengetahuan model referensi pengalihan yang yang didirikan berdasarkan perspektif komunikasi bila membuat model transfer manajemen  pengetahuan dalam rangka untuk menghapus hambatan.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/j6IJCw_ZDus” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Hambatan Mengintegrasikan Teknologi Intruksional ke dalam Pendidikan Tinggi

31 Mar

Dikutip dari http://ernisilvernie.wordpress.com/2011/11/08/teknologi-pendidikan/

 

Dikutip dari Jurnal “Mengintegrasikan Teknologi Pembelajaran  ke dalam Pendidikan Tinggi” karya David M. Antonacci University of Missouri-Kansas City IS 11 Desember 2002:

 

“Perguruan tinggi dan universitas melakukan investasi yang cukup besar yang berhubungan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk mendukung dan meningkatkan instruksional (Massy & Zemsky, 1996). Namun, kebanyakan dosen tidak menggunakan teknologi dalam kuliah mereka (Dewa & Miller, 2001). Perlu langkah strategis untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran pendidikan tinggi.

 

Dalam literatur, penting meneliti hambatan atau rintangan menghambat integrasi teknologi ke dalam pembelajaran. Berdasarkan literatur dan pengalaman praktisi, Leggett & Persichitte (1998) mengidentifikasi lima kategori hambatan untuk integrasi teknologi: waktu, keahlian, akses, sumber daya, dan dukungan.  

 

PL Rogers (2000) mengidentifikasi hambatan yang sama dan mengembangkan model untuk memvisualisasikan hubungan antara hambatan itu. Dalam model ini, sikap dan persepsi pemangku kepentingan terhadap teknologi, penggunaannya dalam pendidikan, dan kelembagaan mendukung menentukan apa yang akan dipertimbangkan.  

 

Setelah itu ditetapkan, tiga hambatan eksternal yang dapat memperlambat atau menghentikan pelaksanaannya: ketersediaan dan akses, dukungan teknis, dan stakeholder pembangunan. Juga, waktu dan dana mempengaruhi tiga hambatan itu.

 

Untuk lengkapnya bisa dibaca di: 

http://associations.missouristate.edu/assets/mohighedweb/IS-TechnologyIntegrationinHigherEducation.pdf  

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nJ0nlh5FU5A&w=600&h=400]

 

Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM): Manfaat penggunaan software Open Source untuk mengurangi pembajakan software di Indonesia

22 Mar

 

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL

Manfaat penggunaan software Open Source untuk mengurangi pembajakan software di Indonesia dan cara menanggulanginya dengan Audit System Information

 

JENIS KEGIATAN :

PKM Penelitian (PKM-P)

 

Dikutip dari PKM-P yang diusulkan oleh:

 

Riski Setioajie                        2006                06.06.080       

Budi Hariyanto                      2006                06.06.070       

Karismawaty Sintia D.         2008                06.08.114       

Dahlia Guteres B.                2008                06.08.139       

Norma Sela R                        2008                06.08.048       

 

UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG 2011

 

Pendahuluan

Latar Belakang

            Perkembangan yang pesat pada bidang teknologi informasi saat ini memunculkan keniscayaan bahwa setiap aspek kehidupan sangat dimudahkan dengan teknologi informasi. Kondisi ini menimbulkan pemanfaatan yang tinggi terhadap teknologi informasi tersebut. Ironisnya, terdapat fakta bahwa di seluruh dunia khususnya Indonesia terdapat suatu tindakan ilegal atas teknologi informasi ini, yaitu pembajakan perangkat lunak (software).

Permasalahan yang cukup menggelitik adalah kenyataan bahwa penggunaan software bajakan ini tidak hanya melingkupi publik secara umum saja, namun pula mencakup kalangan korporat, pemerintahan, atau bahkan para penegak hukum (www.detik.com).

Terkait pembajakan, pemerintah telah memberlakukan Undang-undang nomor 19 tahun 2002 atau sering disebut UU HAKI. UU ini menjelaskan lebih lengkap tentang permasalahan hak cipta termasuk masalah penggunaan software. Pemberlakuan UU HAKI menunjukkan niat baik pemerintah untuk memberantas atau paling tidak mengurangi tingkat pelanggaran hak cipta, termasuk penggunaan software bajakan.

Setelah dikeluarkannya UU HAKI, para pembuat software pun semakin gencar menempuh jalan hukum  di pengadilan Indonesia. (www.detik.com)

            Peristiwa tersebut memunculkan kekhawatiran bila gugatan semacam itu benar-benar dilakukan lebih intensif. Munculnya kekhawatiran tersebut bermula dari harga-harga software legal yang masih tergolong mahal untuk orang Indonesia. Harga software yang memang agak mahal ditambah kurs rupiah yang lemah terhadap Dollar Amerika semakin membuat software legal sulit terjangkau.

Kondisi tersebut memudahkan orang Indonesia mengambil jalan pintas bila terbentur pada masalah harga software. Software bajakan telah banyak membuat warga Indonesia memiliki ketergantungan terhadap software bajakan meskipun merupakan kegiatan ilegal (melanggar hukum).

Jika usaha-usaha hukum berkiprah lebih intensif untuk memberantas pembajakan software maka perkembangan ini lambat laun akan menumbuhkan kebutuhan solusi alternatif software aplikasi. Salah satu solusi alternatif yang makin digemari komunitas teknologi informasi (TI) di dunia adalah pengunaan software open source (www.pikiran-rakyat.com).

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang ada maka penyusunan proposal ini dilaksanakan untuk mensosialisasikan software open source dan mengoptimalisasikan software audit untuk menanggulangi maraknya pembajakan software di Indonesia.

 

Perumusan Masalah

            Pembajakan software yang semakin marak di Indonesia dan munculnya software open source sebagai salah satu solusi alternatif untuk menguranginya merupakan sebuah hal yang menarik untuk diteliti.

Adapun tujuan dan batasan rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain:

a.  Menganalisa persepsi mahasiswa terhadap pembajakan software.

b. Menganalisa pemahaman tentang software open source dari sudut pandang mahasiswa.

c. Menganalisa motivasi dan kendala yang dihadapi oleh mahasiswa dalam penggunaan software open source.

d.  Menganalisa pengaruh penggunaan software open source terhadap pembajakan software berdasarkan pada perspektif mahasiswa.

e.   Upaya untuk mengurangi maraknya pembajakan software di Indonesia.

 

 Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang dapat diambil dari Penyusunan Proposal ini adalah:

·         Mengoptimalisasikan kegunaan software IT audit untuk menanggulangi maraknya pembajakan software di Indonesia.

·         Mempermudah dalam proses pemeriksaan software yang akan di audit.

·         Memberikan pemahaman bagi kita semua tentang pentingnya untuk menghargai karya orang lain khususnya dalam bidang teknologi informasi sehingga tidak melakukan tindakan pembajakan software.

·          Memberikan motivasi bagi masyarakat umum dan mahasiswa khususnya untuk belajar tertib, yaitu tertib untuk menggunakan software secara benar.

·         Mengukur pemanfaatan software open source sebagai alternatif dalam mengurangi tindakan pembajakan software.

 

Harapan terakhir dari proses identifikasi dan perumusan masalah yang telah dilakukan adalah dapat mengurangi pembajakan di Indonesia, dikarenakan itu semua memiliki hak cipta yang tidak bisa kita gunakan seenaknya.

 

Kegunaan

            Tujuan audit SIA adalah untuk meninjau dan mengevaluasi pengendalian internal yang melindungi sistem tersebut.Ketika melaksanakan audit sistem informasi, para auditor harus memastikan tujuan-tujuan berikut ini dipenuhi :

1.      Perlengkapan keamanan melindungi perlengkapan komputer,  program, komunikasi, dan data dari akses yang tidak sah, modifikasi, atau penghancuran.

2.      Pengembangan dan perolehan program dilaksanakan sesuai dengan otorisasi khusus dan umum dari pihak manajemen.

3.      Modifikasi program dilaksanakan dengan otorisasi dan persetujuan pihak manajemen.

4.      Pemrosesan transaksi, file, laporan, dan catatan komputer lainnya telah akurat dan lengkap.

5.      Data sumber yang tidak akurat atau yang tidak memiliki otorisasi yang tepat diidentifikasi dan ditangani sesuai dengan kebijakan manajerial yang telah ditetapkan.

6.      File data komputer telah akurat, lengkap, dan dijaga kerahasiaannya.

 

Contoh Tools IT Audit:


1.ACL
            Audit Command Language (ACL) adalah paket perangkat lunak interogasi berdasarkan PC MSDOS dan dirancang untuk menganalisis data keuangan pada tingkat yang sangat cepat. http://www.acl.com/

 

                              

2.Picalo
Picalo merupakan sebuah software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) seperti halnya ACL yang dapat dipergunakan untuk menganalisa data dari berbagai macam sumber  http://www.picalo.org/.

 

 

3. Powertech Compliance Assessment
Powertech Compliance Assessment merupakan automated audit tool yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark user access to data, public authority to libraries, user security, system security, system auditing dan administrator rights (special authority) sebuah server AS/400.
http://www.powertech.com/

 

                           

4.Nipper
Nipper merupakan audit automation software yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark konfigurasi sebuah router.
http://sourceforge.net/projects/nipper/

 

                                                

5.Nessus
Nessus merupakan sebuah vulnerability assessment software.
http://www.nessus.org/

 

                          

6.Metasploit
Metasploit Framework merupakan sebuah penetration testing tool.
http://www.metasploit.com/

 

                               
7.NMAP
NMAP merupakan open source utility untuk melakukan security auditing.
http://www.insecure.org/nmap/

 

                                              

8.Wireshark
Wireshark merupakan network utility yang dapat dipergunakan untuk meng-capture paket data yang ada di dalam jaringan komputer.
http://www.wireshark.org/

 

                                              

9.Winaudit

WinAudit adalah audit perangkat lunak freeware yang mengumpulkan informasi yang komprehensif tentang perangkat keras mesin lokal, perangkat lunak, jaringan dan konfigurasi keamanan

www.pxserver.com/WinAudit.html

 

 

Tinjauan Pustaka

Berdasarkan laporan studi yang diterbitkan oleh International Planning and Research Corporation untuk Business Software Alliance (BSA) dan Software & Information Industry Association (SIIA), dapat diketahui bahwa praktek pembajakan software di seluruh dunia sangatlah tinggi.

Khusus di Indonesia, data dari Business Software Alliance (2003) menunjukkan tingkat pembajakan piranti lunak mencapai 88 persen. Indonesia menduduki peringkat keempat dari 20 besar negara dengan tingkat pembajakan software tertinggi di dunia, setelah Cina, Vietnam, dan Ukrania (www.majalahtrust.com).

Menurut daftar yang dikeluarkan United State Trade Representative (2005), saat ini Indonesia masuk dalam kategori “priority watch list” karena masih banyak kasus pembajakan Hak Cipta, khususnya VCD dan software teknologi informasi (www.detik.com).

            Disadari atau tidak, pembajakan software di Indonesia memang marak terjadi. Berbagai macam software dengan mudah dibajak dengan harga penjualan terjangkau di toko-toko penjual software, bahkan di pedagang kaki lima. Kemajuan di bidang teknologi dirasakan turut mempermudah terjadinya pembajakan software.

            Hukum yang mengatur masalah pembajakan di Indonesia sebenarnya sudah cukup tegas. Dalam pasal 72 Undang-Undang Hak Cipta no. 19 tahun 2002 menyebutkan, penggunaan program komputer tak berlisensi untuk kepentingan komersial merupakan tindakan pidana dengan ancaman penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500 juta (www.tempointeraktif.com).

            Meskipun Indonesia telah mempunyai perangkat hukum di bidang Hak Cipta, tetapi penegakan hukum atas pembajakan software ini masih dirasakan sulit dicapai, dan sepertinya pembajakan software akan tetap terjadi, dan permasalahan ini tidak pernah tertuntaskan.

 

Gambaran umum rencana usaha

            Terdapat banyak faktor yang mendukung terjadinya pembajakan software. Software adalah produk digital yang dengan mudah dapat digandakan tanpa mengurangi kualitas produknya, sehingga produk hasil bajakan akan berfungsi sama seperti software asli (www.lkht.net). Selain itu, tidak disangkal lagi, satu hal yang mendukung maraknya pembajakan atas software adalah mahalnya harga lisensi software yang asli. Menurut Wahid (2004), motivasi pembajakan software antara lain:

1. Harga software legal terlalu mahal.

2. Kebutuhan untuk studi.

3. Kebutuhan untuk pekerjaan.

4. Kemungkinan akan ditangkap karena membajak software sangat kecil.

 

            Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi pembajakan di antaranya adalah diskriminasi harga software terutama untuk negara berkembang, penerapan undang-undang secara konsisten termasuk pemberantasan peredaran software bajakan, dan pemasyarakatan penggunaan software open source.

      Menurut Widoyo (2004), dalam mengurangi tindakan pembajakan serta peredaran software bajakan, pemerintah Indonesia telah melakukan peluncuran program yang bernama ”Indonesia Go Open Source (IGOS)” yaitu:

  1. Software open source merupakan salah satu isu global dalam Information Communication and Technology (ICT).
  2. Mengatasi meningkatnya pembajakan software dan berlakunya UU Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
  3. Adanya kesenjangan teknologi informasi antara negara berkembang dengan negara maju.
  4. Kesepakatan World Summit on Information Society (WSIS) pada Desember 2003, di mana pemerintah bersama swasta bekerja sama dalam pengembangan software open source.
  5. Hasil kajian dari The United Nation Conference on Trade Development (UNCTAD) tahun 2003, di mana negara berkembang direkomendasikan untuk mengadopsi software open source.

 

Metode Pelaksanaan

 

Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada hasil polling (kuesioner) kepada mahasiswa Universitas di Indonesia pada Jurusan Teknik Informatika yang disebarkan secara acak (random sampling). Pemilihan responden atas mahasiswa Jurusan Teknik Informatika merupakan representasi penguna teknologi informasi, khususnya dalam penggunaan open source dan pembajakan software di tingkat mahasiswa.

 

Sampel Penelitian

Jumlah kuesioner yang dibagikan adalah 150, tetapi hanya 109 yang dapat dianalisis lebih lanjut. Responden terdiri dari 67,9% laki-laki dan 32,1% perempuan.

Kuesioner disebarkan kepada mahasiswa dari berbagai angkatan mulai mahasiswa angkatan 1999 sampai angkatan 2005. Sebanyak 36,7% responden adalah mahasiswa angkatan 2002, 33% angkatan 2004, 22% angkatan 2003, 4,65% angkatan 2005, 2,75% angkatan 2001 dan 0.9% adalah angkatan 1999.

 

 

Persepsi Mahasiswa terhadap Pembajakan Software

Sebagaimana dipaparkan di atas, bahwa pembajakan software bisa muncul dari berbagai macam motivasi. Berdasar pernyataan terkait dengan frekuensi sering tidaknya mahasiswa melakukan pembajakan software, rata-rata mahasiswa menyatakan hampir sangat sering melakukan atau menggunakannya (skor 4,98 untuk skor 1=Tidak Pernah, 5=Sangat Sering).

 

Tabel 1. Skor pernyataan terkait motivasi membajak

Pernyataan

Nilai

Harga software legal terlalu mahal

4.57

 

Saya membutuhkannya untuk studi saya

4.44

Saya membutuhkannya untuk komputer saya

4.33

Saya membutuhkannya untuk pekerjaan saya

3.81

Kemungkinan ditangkap karena membajak software sangat kecil

3.74

Orang lain juga melakukannya

3.68

 

Saya senang memiliki banyak sekali software

3.63

Membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan software yang legal

3.37

Saya tidak tahu di mana dapat membeli software yang legal

3.33

Tantangan yang menarik saya melakukannya

2.71

Saya mendapatkan uang dengannya

2.55

 

Catatan: nilai 1=sangat tidak setuju, 5=sangat setuju.

Pada tabel 1 merangkum skor terhadap pernyataan terkait motivasi pembajakan. Harga software legal yang terlalu mahal dan kebutuhan menjadi motivasi utama dalam membajak bagi mahasiswa.

 

Tabel 2. Skor pernyataan sikap terkait dengan pembajakan

Pernyataan

Nilai

Menurut saya membajak software itu baik

2.84

Menurut saya membajak software itu legal

2.67

Menurut saya membajak software itu etis

2.66

Menurut saya membajak software itu bijak

2.63

 

Catatan: Skor 1=sangat tidak setuju, 5=sangat setuju.

 

Tabel.2 merangkum pernyataan sikap yang terkait dengan pembajakan. Rata-rata responden menyatakan sikap netralnya terhadap pernyataan bahwa pembajakan itu baik (skor 2,84), pembajakan itu legal (2,67), pembajakan itu etis (2,66) dan pembajakan itu bijak (2,63).

            Sebanyak 77,36% responden menyatakan pemberlakuan UU HAKI No. 19 tahun 2002 tidak mempengaruhi tingkat pembajakan software dan 22.64% menyatakan terpengaruh dengan UU tersebut. (lihat Gambar 1).

 

Gambar 1. Apakah pemberlakuan UU Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) No. 19 tahun 2002 mempengaruhi Anda dalam pembajakan software.

 

Sedangkan alasan dari responden yang menyatakan tidak terperngaruh antara lain karena kurang tegasnya aparat dalam penegakan UU HAKI, pembajakan sudah menjadi kebutuhan studi dan isi dari UU HAKI tersebut. Di sisi lain, alasan yang menyatakan terpengaruh antara lain karena ingin mematuhi undang-undang, takut terkena razia dan dihukum.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  • Dyson, Esther, 1998, The Open Source Revolution, Release 1.0, November 1998, (DEAD URL).
  • Raharjo, B., 2002, Proyek Penggunaan Open Source untuk Skala Perusahaan. dalam http://budi.insan.co.id/.
  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006, (SNATI 2006) ISSN: 1907-5022, Yogyakarta 17 Juni 2006.
  • Raymond, Eric S., 2000, Frequently Asked Questions about Open Source, per November 2001: http://www.opensource.org/advocacy/faq.html.
  • Samik-Ibrahim, Rahmat M. 2002. Open Source Software (OSS) Keinginan Mulia dan Kenyataan di Lapangan, dalam www.vLSM.org
  • Stallman, Richard M., 1994, Mengapa Perangkat Lunak Seharusnya Tanpa Pemilik, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/why-free.id.html
  • Stallman, Richard M., 1996, Kategori Perangkat Lunak Bebas dan Tidak Bebas, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/categories.id.html
  • Stallman, Richard M., 1998, Proyek GNU, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/gnu/thegnuproject.id.html.
  • Parson & Oja. 2002. “New Perspective On Computer Concepts”. Course Technology, Thomson Learning.
  • Wahid, F. 2004. “Motivasi Pembajakan Software: Perspektif Mahasiswa”. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004. Yogyakarta: UII.
  • Widoyo. 2004. “Implementasi Open Source Software pada Badan Usaha”, Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004. Yogyakarta: UII.
  • www.detik.comwww.gnu.orgwww.igos.web.idwww.intervisi.relawan.net.
  • www.linuxindo.com
  • www.lkht.net
  • www.pikiran-rakyat.com
  • www.google.com
  • www.tempointeraktif.com

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/27AGe1b0mnI” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

    E-Learning: Lingkungan bagi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Berperan Mendukung Proses Pembelajaran

    09 Mar
    Modus Pembelajaran menurut Horton (Designing Web-Based Training, Wiley, 2010) bisa berupa Mendengarkan kuliah, diskusi; Mencari saran dari dosen, ahli; Membaca buku, artikel; Memperhatikan presentasi, demonstrasi; Menyimak pameran, contoh-contoh;  Menerima kritik dari ahli, sejawat; Memodelkan karakteristik sistem, fenomena; Mengeksplorasi hal-hal baru; Mendiskusikan ide dengan teman, ahli, guru/dosen; Mempraktekkan kemampuan atau Melakukan penelitian.
    Bagaimana TIK dapat membantu pembelajaran? 

    Menurut Horton pula pada buku tersebut kita dapat memanfaatkan hal-hal  sebagai berikut dalam pembelajaran  yaitu: Penggunaan perangkat keras komputer, Pemanfaatan jaringan komputer (termasuk Internet), Sumber informasi, Sarana komunikasi dan Penggunaan perangkat lunak untuk beragam keperluan yang kemudian disebut dengan Infrastruktur e-Learning.
    Definisi E-Learning
    Lingkungan yang memberikan kesempatan bagi teknologi informasi untuk berperan dalam mendukung proses pembelajaran
    Kalau begitu:
    • E-learning bukan hanya “pemakaian komputer”
    • Ada komponen-komponen lain selain TIK (Integrasi antara “People, Process & Technology”)
    • Proses pembelajaran melibatkan TIK

    Mengapa menggunakan E-Learning ?

    • Mengatasi rendahnya rasio pendidik-peserta didik
    • Beban pendidik dapat dikurangi dengan mengalihkan (sebagian) inisiatif pembelajaran kepada Peserta Didik
    • Fleksibilitas dalam pelaksanaan proses pembelajaran
    • Melepaskan dari ketergantungan ruang dan waktu

    Hal ini sesuai dengan artikel New Wave Marketing – Marketeers [LIVE INTERVIEW] – E-LEARNING UNTUK INDONESIA yang mengatakan:

    Mungkin banyak yang memandang e-learning hanya dari satu sudut saja. Yaps, electronic learning, hanya itu yang umumnya orang ketahui, dan e-learning sebenarnya lebih dari itu.  E-Learning adalah sebuah konsep belajar digital yang berisi tentang banyak hal  dan tidak dapat dilihat dari perspektif kecil saja. Di luar negeri, konsep e-learning ini sudah banyak digunakan, dan sangat mudah didapatkan, ada yang bersifat gratis, hingga bersifat bisnis, sesuai dengan kebutuhan dari si pengguna.

    Namun demikian “Berhasilnya suatu sistem e-learning, tergantung pada keberagaman dan keberlangsungan konten yang sesuai dengan kebutuhan”

    Artikel Terkait:

    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/sxUQsKxcOYM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

     

    e-Learning Perguruan Tinggi: Antara Keinginan dan Kebutuhan

    04 Mar

    E-learning atau electronic learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-learning, namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya.

    Dalam berbagai literatur, e-learning didefinisikan sebagai berikut:

    “e-learning is a generic term for all technologically supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided instruction also commonly referred to as online courses” (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2008). 

    Indonesia yang terletak diantara 6º LU sampai 11º LS dan 95º BT sampai 141º BT adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak diantara dua benua, Asia dan Australia dengan jumlah kepulauan 17.000 lebih yang membentang sepanjang  kurang lebih 3.200 mil dari Timur ke Barat serta 1.100 mil dari Utara ke Selatan. Kondisi geografi ini sedikit banyaknya menjadi kendala dalam penyebarluasan layanan pendidikan dan pelatihan yang menggunakan metode konvensional (tatap muka) kepada seluruh warga negara.

    Nah bagaimana pemangku kepentingan Pendidikan Tinggi sebagai puncak tertinggi institusi pendidkan di Indonesia melihatnya?
    Dalam acara Friday Online Seminar bertajuk “Building Human Capital Through e-Learning” di Marketers Online Radio disampaikan beberapa pendapat sebagai berikut:
    Praktik e-learning sudah lama dilakukan oleh berbagai instansi, khususnya instansi pendidikan. Universitas Terbuka boleh dibilang menjadi pelopor dari sistem pendidikan jarak jauh tersebut. Tren e-learning makin populer ketika kampus-kampus swasta turut melakukannya.
    “Potensi e-learning ini cukup besar dan diminati oleh masyarakat di banyak negara. Di Amerika Serikat, ada 6,1 juta yang mengambil bachelor degree melalui online. Konsep ini di dunia pendidikan bukanlah konsep baru. Kami sebagai universitas swasta berterimakasih pada universitas terbuka karena mempopulerkan sistem pembelajaran ini,”  Pantri Heriyati, M.Comm head of school-Management, Bina Nusantara, Jakarta dalam Friday Online Seminar bertajuk “Building Human Capital Through e-Learning” di studio Jakarta, Jumat (02/03/2012).
    Heriyati mengatakan di Binus praktik e-learning ini dinaungi dalam program Binus Online yang terbagi dalam dua musim, yakni ekstensi selama dua semester dan program komplit. “Kami melihat permintaan e-learning cukup besar. Meski demikian, promosi dan edukasi perlu kontinu digalakkan, khususnya kepada korporat yang mana skill dan knowledge sumber daya manusia di perusahaan tersebut perlu ditingkatkan,” imbuh Lianti Raharjo, Head of Program Undergraduate, School of Management Binus Business School.
    Sementara itu, Nur Agustinus, Coordinator Faculty of Entrepreneurship and Humanities Universitas Ciputra Surabaya, mengatakan program e-learning bisa dilakukan kapan pun dan di manapun karena sifatnya yang lintas batas. Agustinus mengatakan e-learning masih memiliki tantangan untuk Indonesia. Misalnya, masih ada anggapan miring bahwa lulusan e-learning kurang berkualitas bila dibanding sistem belajar konvensional. “Tantangan lain berupa keterbatasan infrastruktur Internet,” tandas Agustinus.
    Sementara, Djadja Sardjana, Manager Human Capital+Knowledge Management Comlabs-ITB menambah tantangan lain adalah kultur dan kebijakan  yang kurang mendukung e-learning. “E-learning bukan sekadar memindah materi kuliah konvensional ke online. Perlu modul-modul untuk disajikan secara online dengan menarik. Bukan sekadar memindah file-file yang membosankan. Inilah yang menjadi tantangan bagi tenaga pengajarnya,” katanya. Ia menambahkan e-learning sering dianggap hanya cocok untuk kampus-kampus IT. e-Learning, kata Djadja, juga bisa dilakukan untuk semua institusi, termasuk kedokteran sekalipun.
    Serta perlu disadari bahwa:
    Penerapan Pembelajaran Dengan Media Baru tidak hanya menambahkan sesuatu, tetapi mengubah segalanya. Sistem baru biasanya melawan sistem yang sudah ada. Hal ini bersaing dengan waktu, uang, perhatian, prestise, dan pandangan dunia pendidikan
    <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/NhhFOLUrVM4″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>