RSS
 

Archive for the ‘ITENAS’ Category

Bandung Sebagai “City of Eduaction” (Kota Pendidikan Berdasarkan Contoh dan Tindakan)

24 Feb

Bandung (Source: yudipram.wordpress.com)

 

Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Jawa Barat sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta. Di kota yang bersejarah ini, berdiri sebuah perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia (Technische Hoogeschool, sekarang ITB), menjadi ajang pertempuran pada masa kemerdekaan, serta pernah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955, suatu pertemuan yang menyuarakan semangat antikolonialisme, bahkan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dalam pidatonya mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika.

Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota teraman di dunia berdasarkan survei majalah Time.[6]

Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh disana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun 2007British Councilmenjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan.

Kota Bandung merupakan salah satu kota pendidikan, dan Soekarnopresiden pertama Indonesia, pernah menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda pada masa pergantian abad ke-20.

Pendidikan formal

SD atau MI 

negeri&swasta

SMP atau MTs negeri&swasta

SMA negeri& swasta

MA negeri&swasta

SMK negeri&swasta

Perguruan tinggi

Jumlah satuan

1023

250

184

25

96

130

Data sekolah di kota Bandung

Sejak jaman kolonial Belanda, Kota Bandung merupakan incaran para student dari berbagai penjuru tanah air untuk melanjutkan pendidikannya di Bandung. Saat itu yang ada hanya Technise Hoge School (THS) yang sekarang nomenklaturnya Institut Teknologi Bandung (ITB). Termasuk Soekarno yang mendalami keilmuannya di THS hingga lulus. Dalam masa pendidikannya, Soekarno juga berjuang untuk mencapai Indonesia Merdeka di Bandung.

Sampai tahun 1955, pendidikan tinggi baru THS sekarang ITB saja. Kemudian muncul Perguruan Tinggi lainnya, Universitas Negeri Padjadjaran (Unpad). Belum ada perguruan tinggi swasta. Beberapa tahun setelah Unpad memulai operasionalnya, berdirilah Universitas Parahyangan (Unpar). Baru setelah itu bermunculan perguruan tinggi swasta, termasuk akademi swasta, pendidikan setaraf D-1-3.

Dari sejarah, fakta dan data di atas ternyata Bandung sudah menjadi tolok ukur pendidikan di Indonesia bahkan dunia. Mulai dari Observatorium Bosscha yang merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36′ Bujur Timur dan 6° 49′ Lintang Selatan. Lembaga Pasteur berdiri 6 Agustus 1890 dengan nama “Parc Vaccinogene” berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890. Sampai Museum Geologi Bandung yang didirikan pada tanggal 16 Mei 1928 yang pada awalnya berfungsi sebagai laboratorium dan tempat penyimpanan hasil penyelidikan geologi dan pertambangan dari berbagai wilayah Indonesia lalu berkembang lagi bukan saja sebagai sarana penelitian namun berfungsi pula sebagai sarana pendidikan, penyedia berbagai informasi tentang ilmu kebumian dan objek pariwisata. Serta banyak lagi Pusat Keunggulan Pendidikan yang lain seperti ITB, UPI, Unpad, IT/IM Telkom, Widyatama, ITENAS serta  banyak Univesitas, Pusdiklat atau institusi/organisasi pendidkan lain (mis. Pojok Pendidikan)yang menjadi referensi bagi insitusi serupa di Indonesia, Asia tenggara bahakan dunia.

Sebut saja Bandung sebagai kota pendidikan yang tak lepas dari mata masyarakat Indonesia. Meskipun di setiap sekolah selalu di ajarkan akhlak dan moral bagi anak anaknya dari mulai tingkat taman kanak kanak hingga sekolah menengah atas ataupun sekolah menengah kejuruan bahkan perguruan tinggi, masih saja dirasakan pendidikan in belum memberikan kemanjuran (Efficacy) atas kehidupan masyarakatnya. Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa? Betapa besar peranan pendidikan dalam hajat hidup manusia seperti yang ditekankan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.

Diharapkan Pendidikan (khususnya di Bandung) dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman, kita harus lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat membumi dan praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan kontribusi bagi kebutuhan dunia nyata yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Sebagai penutup, nila-nilai inti dari pendidikan masih sangat relevan. Yang perlu ditekankan adalah pendidikan masih perlu berubah. Ketersediaan pendidikan yang memanusiakan tampaknya masih terbatas  dan hanya sebagian kecil dari penduduk memiliki akses. Hal yang lain, mengingat argumen-argumen yang  di atas, pendidikan bisa menjadi jauh lebih bersifat sosial dan jauh lebih berdampak. Akhirnya, apa yang kita ajarkan dan cara kita mendidik memiliki kesempatan untuk merubah Bandung Sebagai “City of Eduaction” (Kota Pendidikan Berdasarkan Contoh dan Tindakan) …..

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/ZtYqquuBIHE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Peran Alumni Dalam Pengembangan Almamaternya

31 Dec
Sering terjadi bahwa setelah lepas dari sekolah/institusi pendidikan yang telah membesarkan kita, tidak ada yang perlu dan bisa dilakukan untuk almamater kita tersebut. Setelah lulus yang dirasakan adalah lepas dari salah satu penjara akademis yang melelahkan dan menguras otak, materi dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Namun apa yang dilakukan oleh Universitas Cincinnati, dengan Program Bakti Alumni, membawa para lulusan kembali ke kampus untuk saling berbagi kesuksesan dan menjalin hubungan dengan para mahasiswa dan fakultas dimana mereka pernah menuntut ilmu. Melalui berbagai kegiatan dan pertemuan-pertemuan, para siswa belajar tentang “menguasai kehidupan” di luar ijasah & pencapaian akademis, serta pembuatan surat lamaran yang menjadi bekal dari suatu kesuksesan.
Eva Paus, profesor ekonomi dan CLPIA mencatat bahwa, “Kita dapat belajar banyak melalui interaksi dengan peran alumni, namun dengan waktu dan sumber daya membatasi kemampuan kita diantaranya mendatangkan suatu sejumlah besar alumni kepada kampus. Saya melihat Web sebagai satu cara yang efektif untuk menukar gagasan-gagasan antar alumni dan seluruh civitas akademika.”
Masing-masing lulusan diminta untuk menyediakan satu awal pernyataan tentang pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan sebagian dari permasalahan yang tidak bisa dipisahkan dengan menjawab tiga pertanyaan-pertanyaan: Bagaimana cara anda memutuskan harus berbuat apa setelah lulus dari univesitas dan bagaimana cara anda dapat seperti hari ini? Apa yang sesungguhnya area/issue yang spesifik di mana anda memberikan kontribusi kepada komunitas almamatermu? dan Apa salah satu dilema paling sulit yang anda hadapi dalam memperjuangkan komunitas almamater Anda?
Nah bagaimana dengan anda???

 

Antara Organisasi Mahasiswa dan Kebutuhan Dunia Kerja

04 Dec

Hari ini saya menjadi pembicara di depan mahasiswa Elektro Institut Teknologi Nasional – Bandung dengan topik “Manfaat Keterlibatan di Organisasi Mahasiswa pada Dunia Kerja”. Seminar diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektro ITENAS  karena acara ini ada hubunganya dengan proses inisiasi agar mahasiswa baru jadi lebih tertarik dan mantap untuk ikut menjadi anggota himpunan.

Beberapa poin yang ingin dicapai  antara lain :

  1. Menjelaskan apa itu organisasi,dan mengapa perlu adanya organisasi
  2. Apa beda organisasi mahasiswa dan organisasi lainya
  3. Ruang lingkup organsisasi mahasiswa
  4. Apa kelebihan dan kekuranganya dalam berorganisasi
  5. Apa manffaat organisasi buat mahasiswa
  6. Pelajaran apa yg bs diperoleh dalam berorganisasi
  7. Aplikasi apa yg bisa diterapkan di dunia kerja dari hasil kita berorganisasi.

Dalam seminar ini diantaranya saya menyampaikan pentingnya penguasaan Soft-Skill, selain Hard-Skill, untuk menunjang keberhasilan mereka di dunia kerja. Soft Skills dalam hal ini didefinisikan sebagai perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja humanis. Atribut “SOFT SKILLS” Menurut Patrick O’Brien dalam bukunya “Making College Count” meliputi: Communication skills, Organization Skills, Leadership, Logic, Effort, Group Skills dan Ethics.

Selain itu saya menekankan perlunya dikuasai karakteristik orang sukses yaitu kesehatan fisik yang baik, kemampuan konseptual dan pemecahan masalah yang superior, mempunyai pemikiran yang luas, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan toleransi  pada keinginan, mempunyai daya dorong yang kuat, mempunyai kebutuhan dasar  untuk mengontrol dan mengatur, mempunyai  keinginan untuk mengambil resiko yang menengah, sangat realistik, memiliki ketrampilan   di dalam diri (interpersonal) yang menengah serta memiliki stabilitas emosi yang cukup.

Menurut Andrie Wongso, dalam dunia kerja, banyak perusahaan yang lebih mengutamakan calon karyawan dari lulusan yang memiliki riwayat organisasi. Alasannya memiliki manajemen waktu, keterampilan interpersonal, serta problem solving yang lebih baik jika dibandingkan dengan yang tidak memiliki pengalaman organisasi. Karena mereka lebih terlatih dalam mengelola tugas yang banyak dan menetapkan prioritas penyelesaiannya. Mereka tidak canggung lagi dengan tuntutan budaya kerja kantor. Dan tentunya mereka telah terbiasa berinteraksi dengan orang dengan berbagai karakteristiknya, sehingga lebih siap menjadi pemecahan solusi ketika terjadi konflik dalam perusahaan.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang memiliki pengalaman berorganisasi waktu di kuliahnya, lebih terlatih jiwa kepemimpinannya, lebih terasah kemampuan sosialnya dan tentu jaringannya lebih luas. Mereka dipandang lebih memiliki inisiatif dan dapat memotivasi serta mengarahkan diri sendiri juga rekannya dalam bekerja. Secara kemampuan dan kepekaan sosial juga lebih aktif. Terutama memiliki akses jaringan luas yang akan menjadi modal utama meraih sukses yang diinginkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aktif di organisasi mahasiswa berperan penting sebagai ajang latihan dunia kerja yang sesungguhnya serta menjadi bekal dalam meraih cita-cita dalam hidupnya. Hal ini didasarkan karena bangku perkuliahan selama ini tidak banyak mengajari kemampuan-kemampuan yang tergolong soft skills seperti itu.

Salah satu panitia (Nicky) mengatakan: “Saya sangat berterimakasih sekali dan karena ini berhubungan juga dengan proses inisiasi dan kami ingin hasil dari seminar ini sedikt banyak bisa memotivasi mahasiswa baru untuk benar-benar yakin berorganisasi karena kemauan diri sendiri bukan dari orang lain. Ini salah satu proses juga buat mereka, karena situasi dan kondisi sekarang sudah berbeda dengan zaman dulu, maka dari itu kami mencoba mengkonsepnya dengan cara lain, salah satunya dengan memberikan seminar ini dimana nantinya akan ada proses selanjutnya dari panitia.”

 [youtube http://www.youtube.com/watch?v=TCiCeCnqeZc?rel=0&w=640&h=450]

 Artikel Terkait:
 

Kerjasama Telematika Dalam Rangka Mengantisipasi ACFTA

07 Nov

Berdasarkan kenyataan yang ada saat ini, dunia Teknologi Telematika sudah menjadi ilmu atau sebuah terapan yang wajib dimengerti oleh masyarakat pada umumnya terutama setelah diterapkannya “ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)”. Persaingan yang ketat di pentas ekonomi dunia memunculkan  kesadaran perlunya pemahaman serta penguasaan Teknologi Telematika untuk memenangkan persaingan. 

Kerja sama dunia akademik, profesional/bisnis dan pemerintah (ABG/ Academic, Business & Goverment) yang berkesinambungan dan saling menguntungkan sangatlah diperlukan untuk  meningkatkan dan mengefektifkan sumber daya manusia Indonesia. Kerjasama yang melibatkan universitas, dunia usaha dan pemerintah diharapkan akan memberikan manfaat di bidang telekomunikasi dan informatika terhadap perkembangan dan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia sesuai salah satu pernyataan dari Direktur Utama PT Telkomsel Sarwoto Atmo Sutarwo bahwa “Sekitar 1% pertumbuhan telekomunikasi bisa membantu 1% pertumbuhan GNP.” 

Tentunya program ini memiliki banyak manfaat. Bagi kalangan birokrat, kerja sama yang dilakukan diharapkan dapat menjadi terciptanya salah satu Pusat Unggulan Riset dan Inovasi Teknologi Telematika (Center for Research and Innovation of Competitive Telematics Technology). Di lain fihak kerjasama ini dapat menghasilkan riset bagi pengusaha yang bermanfat diantaranya untuk mengetahui mapping situasi pasar, kendala operasional, segmentasi sosial dan ekonomi serta perilaku konsumen. 

Sedangkan bagi kalangan akademis, manfaatnya adalah dapat memperoleh ”Transfer of Knowledge, Transfer of Technology, dan Transfer of Resources” dari salah operator telekomunikasi di Indonesia. Pada akhirnya hal ini akan menguntungkan seluruh pemangku kepentingan akademis dalam menyongsong persaingan kompetensi sumber daya manusia dibidang Teknologi Telematika.

Adapun Maksud dan Tujuan dari kerja sama ini adalah:

a.    Sebagai sarana “Corporate Social Responsibility (CSR)”:

Dengan dilandasi kebersamaan dan ikatan yang kuat dalam implementasi “Corporate Social Responsibility (CSR)” kepada dunia pendidikan, maka kehidupan akademis dalam suatu univeitas akan terbentuk dengan sangat baik didukung kompetensi dan pengalaman usaha dan kewirausahaan yang mapan. Pembinaan univeristas yang dilakukan tidaklah hanya terbatas pada bantuan dana maupun sejenisnya, namun juga pelatihan, pembinaan manajerial & kewirausahaan, akses kepada dunia kerja dan usaha  yang juga sangat perlu dan penting. Pembinaan secara langsung ini merupakan bagian dari upaya Telkomsel dalam membentuk SDM yang unggul dalam memenangkan persaingan ekonomi di Indonesia.

  

b.    Sebagai sarana “Link & Match” timbal balik / dua arah:

Sebagai sarana “Link & Match”  timbal balik antara kalangan akademis, bisnis dan pemerintah merupakan bagian dari kebutuhan ekosistem dunia usaha dan akademis dibidang Teknologi Telematika. Dunia akademis merupakan salah satu faktor penentu maju mundurnya dunia usaha yang harus mampu membantu memberikan kontribusi ilmiah dan terapan yang kuat, sehingga dunia usaha dapat maju dan berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan. Kerjasama dan komunikasi dua arah sebagai pemecah kebuntuan dalam dunia usaha dan akademis menjadi langkah yang strategis bagi manajemen dalam menjalankan roda organisasi serta pemangku kepentingan akademis dalam memenuhi tingkat kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha. Tatanan kerjasama dan komunikasi yang dinamis ini menjadi salah satu parameter bagi kesuksesan suatu negara dalam menempatkan dunia akademis sebagai basis dari “Human Capital Management “ bagi dunia usaha.

Bertitik tolak dari keinginan diatas semoga kedepan kompetensi sumber daya manusia dibidang Teknologi Telematika yang dimiliki negara ini akan lebih baik.

<iframe width=”640″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/SUMnj2dwTdU” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

ACFTA Trickle Down Effect: ICT Education Roles on Human Resources Readiness for Indonesia

29 Oct

  • World Economic Growth : The cheese already moved to the east (mostly China).
  • CHINA IS A SUPER POWER already:
    • China GDP will grow by seven percent or more next year.
    • China will mandate buy China for domestic usage
    • China will buy IMF bonds
    • China owns about 800 billion of US Treasury
    • China has two trillion dollars of foreign reserve. This will grow to three trillion in next five years.
    • China wants to have significant say at IMF
    • China does not want to called as part of BRIC, It should be renamed as BRIM (Brazil, Russia, India, and Mexico)
  • Countries Economic Characteristics: 
    • ASEAN Needs to Define A Better Strategy 
    • China is an economic giants to ASEAN 
    • GDP and Foreign Reserve of China are far above those of ASEAN members 
    • Trade structure between China and ASEAN members show that Chinese products are highly competitive 
    • Almost all ASEAN members face trade deficit against China 
    • Chinese attractiveness for foreign investment is above that of ASEAN members in average.
  • ACFTA,Gates to Liberalization:
    • ACFTA was agreed in November 2002 and effectively due date on January 01, 2010. Both sides have targeted the realization of ACFTA in 2010 for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand and China, and 2015 for Cambodia, Lao PDR, Myanmar and Viet Nam. 
    • Under the ACFTA, tariffs on certain products as known as the Early Harvest Program (EHP), were reduced before the onset of the FTA (came into effect on 1 January 2004). 
    • Others agreements by sectors have also been agreed under ACFTA.
  • ICT Education Roleson Human Resources Readiness for Indonesia:
    • Learn from Singapore:
      • Aim: Basic blueprint, Infocomm21, lays out plans to develop Singapore into a dynamic and vibrant infocomm capital with a thriving and prosperous Internet economy by 2010.
      • Vision: To develop Singapore into a dynamic and vibrant global infocomm capital with a thriving and prosperous e-economy and an infocomm-savvy e- society.DR TONY TAN KENG YAM, SINGAPORE ACTING PRIME MINISTER
    • Knowledge-driven Economy – Heavily supported by prominent ICT Education Institution:
      • The knowledge-driven economy continues to be characterized by a rapidly changing and pervasive information infrastructure.
      • The Internet and its accompanying applications # e- Business platforms, interactive experiences with new forms of content, sophisticated consumer devices, leading-edge information technology # are all elements of the digital economy. 
    • Ecosystem of the Infocomms and Media – Education Institution as part of “Innovator & Early-Adopter:
      • Communications 
      • e-Business 
      • Information Technology (IT) 
      • Media & Digital Entertainment (MDE) 
    • e-Powering the Public Sector Strategies:

Education Institution can propose to Telkomsel as “Change Agent” for Educate their external stakeholder (customer , partner, community, supplier etc.) 

  •  
    • Encourage the delivery of online public services
    • Innovate with technology to build new capabilities
    • Develop thought leadership on e-government
    • Promote the use of e-government services
    • Leverage the private sector

Education Institution can propose to Telkomsel as “Change Agent” for Universal Sevice Obligation (USO) stakeholder (customer , partner, community, supplier etc.)

  •  
    • Improve the accessibility of infocomm technology
    • Bridge the digital divide
    • Encourage the adoption of an e-lifestyle 
  • Trend for ICT for the next 5 years –  Education Institution can propose to Telkomsel to Educate & Train their internal stakeholder (employee, manager, shareholder etc.):
    • Network Security
    • Mobile Wireless & Broadband Access
    • Service Delivery Platform (SDP) for Convergence
[slideshare id=9915784&doc=acftatrickledowneffect-djadjawidyatama-draft-v1-0-111027211708-phpapp02]
 

ELITE (Elektro ITENAS) : Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

18 Jul

[slideshare id=2341750&doc=presentasi-itenas-3nov07-091025114230-phpapp02]

 

Karir Apa Yang Anda Pilih?

18 Jul
Anda and Paper Airplanes

Image by bre pettis via Flickr

Fase Karier (Refer: Andrew Mayo):

  1. Discovery Phase: Fase ini dialami Anda yang berusia 20 tahunan. Berlangsung sekitar sepuluh tahun pertama dalam dunia kerja. Di tahap ini, Anda adalah angkatan kerja baru karena kemungkinan besar Anda baru lulus dari bangku perguruan tinggi.
  2. Consolidation Phase: Fase ini biasanya berlangsung pada usia 30-40 tahunan. Ada yang memulai fase ini lebih awal dan ada pula yang terlambat. Demikian pula dengan akhir fase ini, ada yang mengakhirinya lebih awal, dan ada pula yang terlambat.
  3. Maturity Phase: Inilah fase terakhir dari sebuah perjalanan karier. Fase ini banyak diisi oleh mereka yang memasuki usia 50an ke atas.

Apa Yang Perlu Kita Fahami:

  1. Kadang-kadang pilihan karir itu berubah sesuai beranjaknya waktu dan keadaan yang mempengaruhinya.
  2. Karir itu hanya objek dan yang jadi subjek adalah kita sebagai umat manusia.
  3. Semestinya didasari oleh kecintaan, tanggung jawab dan komitmen yang kuat.
[slideshare id=2341748&doc=presentasi-wisuda-itenas-29mar08-091025114233-phpapp02]
 

Right Size Curricula for ITENAS: User Perspective

07 Jul
Mission: STS-41-B Film Type: 70mm Title: Views...

Image via Wikipedia

“Life and Work in the 21st Century: Rapid change Scientific and technological Societal, political, economic. Evolving demands Flexibility, adaptability. Working across boundaries. Understanding connections. Rethinking educational goals. Technological competence. Broad skills and perspectives Creative problem solving. Effective leadership” Rick Vaz Dean, Worcester Polytechnic Institute

[slideshare id=1729930&doc=elitetechnologybasedcurricula-14jul09-090716092258-phpapp01]

 
 

Invitation to join ITENAS Alumni at LinkedIn

19 Nov


Dear Friends and Colleagues.

As you know LinkedIn is The Best Professional Networking which can leverage our career. For that reason, Join LinkedIn ITENAS Alumni Group at: http://www.linkedin .com/e/gis/ 35634.