RSS
 

Archive for the ‘Lingkungan’ Category

Unjuk Rasa: Antara Perjuangan Rakyat atau Pokoknya Sama-sama Hancur (MAD/Mutual Assured Destruction)

03 Apr
 
 
Dikutip dari Wikipedia; Unjuk rasa atau demonstrasi (“demo”) adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok.
 
Unjuk rasa umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah, atau para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya. Namun unjuk rasa juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lainnya dengan tujuan lainnya. Unjuk rasa kadang dapat menyebabkan pengrusakan terhadap benda-benda. Hal ini dapat terjadi akibat keinginan menunjukkan pendapat para pengunjuk rasa yang berlebihan.  
Menurut Endang Sriwahyuni di Suara Mahasiswa Okezone.com; ISU kenaikan harga BBM telah berhasil membuat tegang suasana Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh guncangan gelombang demonstrasi dengan segala pernak-perniknya mulai dari pemblokiran jalan hingga keanarkisan. Dampak yang sangat terasa adalah sulitnya banyak warga untuk mengakses jalanan yang menjadi arena demonstrasi. Alasannya bukan sekadar karena jalan yang ditutup, melainkan juga khawatir akan adanya tindakan kekerasan yang dapat membahayakan mereka ketika melintasi arena itu.
 
Bukan fiktif belaka, memang, ketika demonstrasi memanas, alias massa dan petugas kemanan telah sama-sama memijaki titik ricuh, lemparan batu dan peluru akan melayang ke sembarang arah dan jatuh bebas ke mana pun, termasuk pada kendaraan umum dan penumpang di dalamnya. Walhasil, beberapa instansi memulangkan stafnya lebih awal sebelum demo menjadi anarkis, atau bahkan meliburkannya dengan alasan keamanan. Bahkan, tanpa dimungkiri, ada juga orangtua yang melarang anaknya pergi ke sekolah atau kuliah. Demikian, Jakarta di satu sisi menjadi begitu ngeri, menakutkan, akibat demonstrasi yang terjadi.  
Semuanya menjadi tidak terkendali dan menimnbulkan kerugian pada semua fihak yang terlibat. Esensi dari unjuk rasa telah berubah menjadi kekacauan (Chaos) dan arena balas dendam (Revenge). Semua yang terlibat menjadi lupa sebgai manusia yang beradab dan berpendidikan.
 
Kalau terjadi demikian, tepat apa yang dikatakan penyanyi Band Armada, “Mau Dibawa Kemana” unjuk rasa tersebut? Apakah Perjuangan Rakyat atau Pokoknya Sama-sama Hancur (MAD/Mutual Assured Destruction)? 
  
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/PoYGAxF-zWE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Moko Darjatmoko: Antara Titik Karir dan Perjalanan Kehidupan (Manfaat Nonton Film “Revenge of the Electric Car”)

01 Apr

 Tadi malam saya nonton film “Revenge of the Electric Car”  di COMLABS-ITB.  Film ini merupakan sekuel dari film “Who Killed the Electric Car?” yang penuh dengan informasi dan sejarah tentang upaya untuk memperkenalkan – dan mempertahankan – kendaraan listrik di jalan Amerika pada kurun 1996-2006. Untuk sutradara film, Chris Paine, bukti-bukti yang ada “terlalu mengerikan dan udara politik terlalu kotor” untuk hidupnya mobil listrik di Amerika Serikat saat itu.

Yang menarik, film ini adalah salah satu cara dari Mas Moko Darjatmoko berbicara tentang kehidupan khususnya pendidikan. Beliau di Kampus ITB sering disebut sebagai “insinyur sesat” (sudah susah-susah diajari ngelmu engineering tetapi berkecimpung dibidang yang sama sekali lain). Mengapa?  Mas Moko alumni Sipil ITB yang hidup dan bekerja di US (30 tahun di Madison, Wisconsin) dan sekarang sedang melakukan riset di Indonesia a.l. dalam bidang pendidikan dan antropologi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

Dikutip dari Portal Senyum ITB, sadar bahwa bangsa ini tidak punya library (yang memadai), beberapa tahun belakangan ini Mas Moko mencoba membuat semacam digital library (untuk anak-anak) yang terdiri dari buku-buku yang “specially selected”. Sebagian besar adalah berbahasa Inggris (karena tujuan tertentu), dari jaman keemasan “picture book” di literature barat (sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20); plus beberapa contoh yang bagus-bagus dari berbagai negara di dunia; plus koleksi “award winning picture books” dari Persia selama 3 dekade terakhir .. total sekitar 2000-an buku. Ini masih harus digarap satu-per-satu, dipilih mana yang paling cocok untuk kultur kita (cultural adjustment).

Karena keunikan selera itu, beliau terus melakukan trial and error, sampai ketemu cerita yang paling disukai, sampai ketemu cerita atau buku yang “turns the kid on.” “Karena saya sering “salah tembak” — apa yang saya anggap bagus/menarik kadang sama sekali tidak menarik, dan sebaliknya. Ini pengalaman nyata di Cijengkol. Solusinya? aku bawa beberapa (puluh) buku, dan coba satu-per-satu, mana yang cocok bagi mereka (dari kacamata anak-anak Cijengkol). Well, sembari mengajar kita memang harus juga belajar — that’s the law of the universe.” kata Mas Moko.

Sementara itu beliau juga sudah memulai menggarap buku-buku untuk kelompok umur remaja (young adult) yang terutama dari corpus (body of works) pengarang klasik (yang coyrightnya sudah expired), seperti Agatha Christie, Athur Conan Doyle, C. S. Lewis, Charles Dickens, L. Frank Baum, Lewis Carroll, Mark Twain, Rudyard Kipling, Grimm Brothers, H. C. Andersen, H. G. Wells, Horatio Alger. Disamping itu ada yang masih ber-copywright tetapi perlu mulai dipikirkan, seperti karya sci-fi grandmasters Arthur C. Clarke, Isaac Asimov, Robert Heinlein; atau yang masih “muda-muda” seperti Roald Dahl, Enid Blyton, John Grisham, Neil Gaiman, Stephen King, etc … (his goal at least 1000 books)…

Well, ini memang kerjaan kolosal, tetapi kurasa aku bisa menyelesaikannya, sendirian, “in my life time” (if I’m lucky). Tentu saja kalau ada yang bantu-bantu, kerjaannya akan jadi lebih enteng. Syaratnya cuma satu .. you have a great love for books and reading.

Kelihatan bahwa “passion” serta “want and need” beliau sekarang seperti “Connecting The Dots” dari Steve Jobs yang menyatukan semua pengalaman dan ekspresi hidup mulai dari lulus Teknik Sipil ITB,  hidup di negeri orang (Madison, Wisconsin) kemudian akhirnya memberikan inspirasi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/nH_vJRRMkvE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Seminar “Ecotourism based on Environment, Education and Creative Industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya

25 Mar

 

Pada tanggal 24 Maret 2012 saya menghadiri seminar “Ecotourism based on Environment, Education and  Creative industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya. Ekowisata (Ecotourism) merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Tidak ada definisi yang diterima secara universal tentang ekowisata. Evans-Pritchard dan Salazar [1992, dikutip dalam Mowforth dan Munt, 1998, p.104] mencatat bahwa “Kita  tidak mengetahui tepatnya apakah istilah ‘ekowisata’ dimaksudkan sebagai konsep murni atau sebagai istilah yang secara umum digunakan “. Secara teoritis, ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu jenis pariwisata di mana lingkungan, masyarakat lokal dan pengunjung semuanya memperoleh manfaat . Dalam prakteknya, istilah ‘ekowisata’ sering digunakan oleh operator tur sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan segala bentuk pariwisata yang berhubungan dengan wistata alam. Sebagai Wight [1994, hal.39] catatan:

“Tampaknya ada dua pandangan yang berlaku pada ekowisata: satu fihak memandang bahwa kepentingan umum pada lingkungan dapat digunakan untuk memasarkan produk, yang lain melihat bahwa ketertarikan yang sama dapat digunakan untuk menyelamatkan sumber daya di mana produk ini didasarkan. Pandangan ini tidak perlu saling berhubungan”.

Berbagai konferensi telah diadakan membahas ekowisata dan pariwisata yang bertanggung jawab untuk mempromosikan pandangan di atas. Pada Konferensi Dunia Tahun 1995 tentang Pariwisata Berkelanjutan yang diselenggarakan di Lanzarote, disepakati bahwa:

“Pariwisata akan berkelanjutan ketika pembangunan dan operasinya  memasukkan partisipasi penduduk lokal, perlindungan lingkungan, hasil ekonomi yang adil untuk industri dan masyarakat sekitarnya, serta  memuaskan dan saling menghargai semua pihak yang terlibat” [Jafari, 1996 , p.959]. Dari konferensi tersebut dan literatur tentang ekowisata telah muncul prinsip pariwisata yang harus dipatuhi jika ingin didefinisikan sebagai ekowisata. 

Salah satu pembicara adalah Jalu Sugih Cahyanto yang membuat beragam kerajinan kap lampu, miniatur sepeda, vas bunga, dan baki lamaran yang dipamerkan Kreativitas Seni Saung EGP. Jika dilihat sekilas, mungkin tak ada yang menyangka bahwa beragam produk berbahan dasar sampah. Ya, memang benar-benar hanya sampah kertas koran, kertas majalah, serta jenis kertas sisa lainnya. Namun, sampah-sampah kertas itu di tangan Jalu, sang pemilik ide kreatif di Saung EGP, dapat menjadi produk yang indah dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Jalu, yang berlatar belakang pendidikan di bidang ekonomi, memang suka usil mengutak-atik benda-benda di sekitarnya. Produk limbah kertas yang dijual dengan kisaran harga Rp 30 ribu hingga Rp 200.000 itu pun ternyata buah dari keusilan Jalu.

“Inspirasinya karena memang saya suka jail dan usil. Saya sering iseng-iseng membuat kerajinan dan ternyata kertas itu sangat mudah diutak-atik sehingga akhirnya menjadi barang kerajinan seperti ini,” katanya.

Pemilihan sampah kertas, lanjut Jalu, merupakan satu bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan. Selain sampah kertas terbilang mudah dijumpai, ternyata kepekaan Jalu terhadap isu pemanasan global juga menjadi alasan yang mendasari pemilihan kertas sebagai bahan dasar kerajinannya.

“Dapat ide buat kerajinan dari kertas karena kebetulan di sekitar saya banyak kertas. Dulu pernah bikin kerajinan pakai plastik, tapi terbentur masalah bahan. Kertaskan ada di mana-mana, jadi mudah mendapatkannya. Selain itu, saya juga punya misi cinta lingkungan. Kertas itu limbah yang ramah lingkungan. Terkait isuglobal warming, kita juga ingin bersahabat dengan alam. Itulah sebabnya saya memilih bahan yang ramah lingkungan,” ujar Jalu.

Setelah selesai mengikuti “Tasikmalaya Ecotourism Seminar” ini ada berita menggembirakan dari Ketua Kadin Tasikmalaya Wahyu Tri Rahmadi bahwa @pojokpendidikan (www.pojokpendidikan.com) akan dilibatkan untuk berpatisipasi dalam perencanaan dan eksekusi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah-sekolah TK. SD, SMP, SMU dan SMK di Tasikmalaya.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/enWkNtzxcMc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Pojok Pendidikan: Ingin Seperti Air, Menjadi Kekuatan Pendorong di Alam Pendidikan

17 Mar
Dikutip dari Jurnal Mahasiswa Filsafat UGM, Manusia merupakan perwujudan dari alam bukan sebagai penakluk alam, namun menjadi penyelaras di alam serta bukan menjadi pemangsa alam. Manusia sebagai perwujudan dari alam seharusnya mengungkapkan keindahan, kebenaran, dan kebaikan alam; dan mengartikulasikannya dalam pengolahan moral atau alam dari kehidupan manusia atau sifat manusia. Sebagai bagian dan bidang dari alam, manusia tidak berdiri menentang alam dengan cara yang bermusuhan. Sebaliknya, manusia memiliki keprihatinan dan perhatian yang mendalam pada alam  karena cocok dengan sifatnya sendiri. Untuk pertumbuhan dan kesejahteraannya sendiri, manusia harus mengolah hubungan internal dalam dirinya antara dirinya dan alam semesta. Menaklukkan alam dan mengeksploitasinya adalah bentuk perusakan diri dan perendahan diri bagi manusia.
Dalam dunia modern, kesejahteraan manusia sangat ditentukan oleh usaha-usaha yang dilakukan manusia itu sendiri, sehingga ada orang yang kaya dan orang yang miskin. Usaha-usaha yang dilakukan manusia tersebut ada yang bersifat individual (untuk kepentingan prinbadi) yang menghalalkan segala cara demi kesejahteraan pribadi, dan ada yang bersifat komunal (untuk masyarakat) yang mementingkan keseimbangan yang ada dalam lingkungan.Sikap egois manusia yang tidak pernah habis-habisnya untuk memperoleh keuntungan sesaat telah menghasilkan kecenderungan manusia untuk melakukan manipulasi terhadap lingkungan. Ini mengganggu keseimbangan antara manusia dan lingkungannya dan intensitas ketergantungan itu semakin lama semakin meningkat kualitasnya.
Saat sekarang ini ilmu pengetahuan, juga sedang memerankan fungsi yang tidak baik, dia tidak saja mencemari lingkungan manusia, merusak jaringan tubuh manusia, pada akhirnya manusia jahat ingin menggantikan manusia baik. Ada juga masalah pencemaran yang lebih parah pada manusia, yakni bahwa air tawar di atas dunia sekarang ini, hampir tidak ada yang murni lagi. Baik itu air dibawah tanah atau diatas tanah, bagaimanapun manusia berusaha agar air tersebut disaring dan dimurnikan, juga tidak dapat mencapai tingkat kemurnian yang benar-benar dari air itu.
Untuk itulah Pojok Pendidikan lahir dari keinginan dan kebutuhan (Need and Want) Lingkungan Pendidikan yang alami.
“Education is not a preparation for life, education is life itself.”
Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey menegaskan pemikirannya tentang pendidikan. Dengan demikian, umur pendidikan sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini.
Dikutip dari tulisan Drs. Suparlan, M.Ed; Ketika Adam diciptakan oleh Tuhan, bersama itu pulalah proses pendidikan telah berlangsung, sebagai suatu sistem yang dibangun oleh Allah SWT. Adam diajari untuk dapat menyebutkan nama-nama yang ada di bumi, tempat kehidupan Adam dan keturunannya. Dengan demikian, yang dimaksud pendidikan sebenarnya memang dengan makna kehidupan itu sendiri. 
Tidak demikianlah halnya dengan malaikat dan iblis. Adam dapat menyebutkan nama-nama, sementara malaikat dan iblis tidak dapat menyebutkan nama-nama itu. Mengapa? Karena hanya manusialah yang telah memperoleh pendidikan, langsung dari Allah SWT. Itulah proses pendidikan yang dilakukan oleh manusia untuk pertama kalinya. Proses itu kemudian dikembangkan sendiri oleh manusia, karena manusia memiliki otak, faktot penentu kelebihan manusia dibandingkan dengan mahluk lain yang sama-sama diciptakan Allah SWT. 
Untuk menjadi manusia yang sempurna, manusia tidak boleh tidak memang harus belajar, atau harus memperoleh pendidikan. Manusia merupakan mahluk yang dapat diajar dan dapat mengajar. Siapa yang berhenti belajar, artinya ia telah mati.

“Animat educandum dan animal educancus. Manusia mahluk pembelajar, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.”
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/QcnzHlcfvPU” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

“Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.”~Idris@MataNajwa MetroTV

02 Mar

 

Itulah yang dikatakan M. Idris, Kepala Desa Bone-bone, Enrekang, Sulawesi Selatan untuk membahas desa bebas rokok yang dipimpinnya di acara Mata Najwa  di Metro TV. Menurut dia “Saya ingat waktu kuliah dulu, teman2 saya yang perokok di kampung tidak ada yg jd orang,belum lagi anak2 yg sudah merokok sejak cilik.” Dia berfikir dan mengkhidmati “Sejak itulah saya berpikir,harus ada yang dilakukan tentang hal ini (kebiasaan merokok). Ini untuk memperbaiki taraf kehidupan.” Kemudian Idris melakukan gebrakan: “Saat sy pulang kampung, sy mulai ajak seluruh pemuka desa utk memberdayakan desa bebas asap rokok ini&semuanya langsung mendukung.”  sehingga mulai tahun 2005, desa kami sudah benar-benar tidak ada lagi yang merokok. 

Ada yang unik cara bagaimana Idris bisa sukses: “Bagi yg ketahuan merokok, hukuman pertamanya adalah, harus berteriak di speaker masjid bahwa dia ketahuan merokok”. Kemudian pabila ketahuan lg, hukumannya adalah bekerja untuk umum, semisal memperbaiki jalan, membersihkan masjid, bersihkan MCK, dll. Ini berlaku bagi semua, termasuk pendatang. Kalau ada pendatang ketahuan merokok, dia dipersilakan meninggalkan desa. “Pernah juga turis Prancis ketahuan merokok, dia mau kasih uang suap,kmi tolak,dia mau sembunyi,kmi bilang tak ada tempat sembunyi.” kata Idris. 
Hal ini membuat Bupati pun sempat segan utk masuk desa kami karena masih perokok aktif. Baru tahun 2008 dia berani masuk desa setelah berhenti merokok. Selain itu di desa tersebut juga dilarang menjual makanan yang mengandung zat pewarna dan zat pengawet.Kalau ada yg ketahuan menjual, hukumannya adalah membuatkan/menggantikan biaya pembuatan bubur kacang ijo untuk seluruh anak di desa. “Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.” – Idris mengakhiri ceritanya.
Bagaimana dengan kita?
Menurut saya …….Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda……Mengapa? Sesuai HAM kita bebas merokok karena itu hak azasi, namun anda tidak boleh meracuni udara di sekitar kita karena itu bukan milik anda 🙂
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/ZfqojfipwN0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda

10 Feb

Saat ini banyak orang mempermasalahkan rokok dari sisi kesehatan, agama, ekonomi bahkan ideologi, politik, sosial dan budaya. Bahkan pada artikel Detik disebutkan bahwa: “Sebulan sudah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan polemik rokok dalam UU Kesehatan. Namun hingga saat ini Menteri Kesehatan belum melaksanakan poin-poin putusan MK yang menyudahi silang sengketa tersebut.” 
“Tujuan besar dari perjuangan antirokok adalah melarang perusahaan rokok mengajak orang untuk merokok. Mengajak dalam berbagai cara,” kata M. Joni selaku kuasa hukum Komnas Perlindungan Anak dan Tobacco Control Support Centrel (TCSC) saat berbincang dengan detikcom, Selasa, (6/12/2011).
Pada awalnya manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. 
Kata “tembakau” mungkin berasal dari nama pulau Tobago. Menurut kesaksian pelaut Spanyol, yang tiba bulan Oktober 1942 silam. yang terkenal dengan ekspedisi Columbus saat ini Amerika Tengah. Kata “tobaco” berasal dari penduduk setempat yaitu memutar daun berukuran besar yang dimaksudkan untuk ritual merokok. Columbus disana bertemu dengan orang tua yang sedang merokok atau disebut dengan “Injun”, lalu penduduk setempat menawarkan kepada sang kapten kapal, dia tidak bisa menolaknya dan mencoba untuk “merokok” yang digunakan orang-orang Indian, dia tidak hanya mencoba akan tetapi juga menyita daun tembakau yang dimiliki penduduk setempat untuk dibawa pulang. Selanjutnya, orang-orang Spanyol dan Portugis membawa daun dan biji tembakau ke Eropa kemudian orang-orang Eropa juga mulai menanam tembakau tersebut.
Berikut adalah beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam rokok:
  1. Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks.
  2. Tar, yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
  3. Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
  4. Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
  5. Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
  6. Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
  7. Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.
  8. Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
  9. Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
  10. Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
  11. Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
  12. Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil.
So…….Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda……Mengapa? Sesuai HAM anda bebas merokok karena itu hak azasi, namun anda tidak boleh meracuni udara di sekitar anda dengan 12 bahan kimia di atas karena itu bukan milik anda 🙂

 

Herru Azhar/0509u014: Peranan Elektronika Dalam Industri

16 Jan
Sekarang ini peranan elektronika dalam kehidupan banyak banget.Mulai dari TV, Komputer, Radio de el el. Dan kebanyakan, elektronika menggunakan listrik (yealah masa pake tenaga dalem ;p) Oke itu just for fun aja ye…..
Elektronika dalam industri itu intinya merupakan benda untuk memudahkan, efisien, dan meningkatkan produktifitas. Ini dilakukan untuk penekanan pengeluaran yang berlebih. Secara ya, IPTEK itu udah berkembang jauh, dari yang asalnya radio butut, jadi tipi item putih sampe tipi plasma cem sekarang2 ini.
Sama halnya dengan di Perindustrian, dulu yang harus dikerjain manual, cekrak cekrek pake palu ini itu skrg udah pake mesin yang kepresisiannya ampir 100%. Dulu satu benda dikerjain rame rame trs lama lagi, mahal nyari bahannya, mahal bayar pegawainya. Skrg mah tinggal cklik tuas ama seekor manusia, biarin mesin jalan, tungguin, berees. ngehemat waktu, biaya dan super efisien kan?
Tapi kekurangannya ya mempersempit lapangan kerja sih. Dan otomatis harus lulusan sarjana teknik juga biar ngerti gimana cara ngejalaninnya ini itu bla bla bla. Tapi ini harusnya bukan menjadi masalah, justru harusnya membuat persaingan industri menjadi ketat, sehingga produsen kelas menengah ke bawah dapat bermerger ria buat ngelawan produsen kelas atas.
Nah peran saya sekarang cuma bisa belajar dan mengikuti proses pembelajarannya aja, biar nanti kalau diaplikasiin bisa buat sebuah perindustrian yang menggunakan elektronika, namun juga dapat menyerap tenaga kerja manusia yang baik pula. Bukan berarti asal cabut, tapi berkompeten dalam pekerjaannya. Orang tanpa pendidikan yang amat rajin jauh lebih baik daripada lulusan doktor yang pemales kok.
Yang penting kita bisa menggunakan kelebihan kita buat ngebantu yang kurang beruntung. Disini, sebagai lulusan Teknik Indusri, alangkah baiknya apabila kita membuka usaha yang menggunakan tenaga kerja yang baik, dan penggunaan IPTEK yang bagus pula. Soal pengguna IPTEK yang bagus sih ga perlu dari jurusan teknik, tapi cukup dikasih tau atau diajari dari nol. Ga rugi rugi amat kok ngajarin ini itu bla bla bla juga. Lagian pahala nambah kok, trus kan kalau gitu bisa menekan biaya penggajian karyawan 😛
 

“Siapa yang Membunuh Mobil Listrik?”: Konspirasi Korporasi dan Birokrasi

04 Oct

 

Sebagai sebuah film “misteri pembunuhan”, “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik?”  (Who Killed the Electric Car?) adalah salah satu karya dokumenter yang berhasil. Seperti “Inconvenient Truth” dari Al Gore dan dokumenter nonfiksi tentang perang di Irak, film ini penuh dengan informasi dan sejarah tentang upaya untuk memperkenalkan – dan mempertahankan – kendaraan listrik di jalan pada kurun 1996-2006. Untuk sutradara film Chris Paine, bukti-bukti yang ada “terlalu mengerikan dan udara politik terlalu kotor” untuk hidupnya mobil listrik di Amerika Serikat saat itu. 
   
Cepat dan Lugas, film “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik?” ditingkahi kisah sedih upaya yang heroik oleh sekelompok orang berpikiran terbuka untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Cerita sebagian besar diungkap selama kurun tahun 1990-an, ketika beberapa produsen mobil, termasuk General Motors, yang didorong untuk mengejar masa depan mobil yang bersih. Pada tahun 1990 “California Air Resources Board” mengadopsi mandat “Kendaraan Nol Emisi” dalam upaya untuk memaksa perusahaan mobil untuk memproduksi kendaraan bebas gas buang. Idenya sederhana: “Kita jangan tersedak sampai mati di limbah polusi kita sendiri”. Tujuan itu tampaknya sederhana: pada tahun 1998, 2 persen dari semua mobil baru yang dijual di pasar kendaraan terbesar di negara itu akan tanpa gas-buang, sehingga membuat gaya hidup California lebih ramah lingkungan. 

Mengingat bahwa beberapa perusahaan, termasuk GM, sudah menciptakan prototipe untuk mobil listrik yang dapat diproduksi secara massal. Percaya atau tidak, mobil listrik telah dikenal selama era mobil diciptakan, kata tokoh otomotif Phyllis Diller. Film arahan Paine ini dibumbui dengan kesaksian bintang Hollywood, yang menjelaskan mengapa, di samping ahli mobil, berbicara tentang perlunya mobil listrik sebagai alternatif kendaraan ramah lingkungan . 

Agaknya Pak Paine berpikir, khalayak perlu mendengarkan tokoh terkenal dan tidak terkenal, seperti kasus Nona Diller, yang memberikan bernostalgia kepada kendaraan listrik pertama di depan sebuah lukisan berbingkai Tokoh Komedi Bob Hope. Kedua komedian dan pembuat film pasti tahu bagaimana menarik perhatian kita terhadap nasib mobil listrik pertama GM sat itu.

Henry Ford dan minyak murah membantu mencegah mobil listrik dipergunakan di jalan-jalan Amerika, meninggalkan sistem jalan raya yang tumbuh cepat dengan mesin yang memuntahkan polusi pembakaran internal. Bergerak cepat antara wawancara dan sebuah tayangan visual yang mengejutkan,  Mr Paine menjabarkan bagaimana “kisah cinta negara AS dengan mobil haus bensin”, serta cepat berubah menjadi cinta buta. Pada tahun 1950-an, dimana Jack Kerouac dan James Dean bersinar,  pejalan kaki Los Angeles yang menerjang jalan-jalan kota terlihat menutupi mulut mereka dengan sapu tangan, mencoba untuk menyaring udara. Beberapa dekade kemudian, negara mengambil tindakan berani untuk mencegah polusi dari kendaraan bermotor. Apa yang terjadi selanjutnya, Mr Paine menjelaskan, adalah kisah adanya keserakahan korporasi dan korupsi pemerintah, berhadapan dengan semangat idealisme dan kemarahan. 

Ini adalah kisah Mr Paine dengan gigitan keras pada konspirasi hilangnya mobil listrik saat itu. Pada tahun 1996 surat kabar Los Angeles melaporkan bahwa “dewan pengwasan udara California ragu dengan kesediaan konsumen untuk menerima mobil listrik, yang harganya mahal dan memiliki jarak perjalanan yang terbatas.” Mr Paine melampaui laporan ini, menunjukkan bahwa salah satu alasan dewan ragu-ragu karena ketuanya pada waktu itu, Alan C. Lloyd, telah bergabung dengan “California Fuel Cell Partnership”. Didirikan pada tahun 1999, kemitraan ini merupakan upaya bersama dari badan-badan federal dan negara, perusahaan sel bahan bakar, produsen mobil seperti GM dan energi seperti Exxon untuk mengeksplorasi “potensi” kendaraan bertenaga sel bahan bakar hidrogen.

Mengapa perusahaan seperti Exxon tertarik teknologi kendaraan nol-emisi – menurut beberapa pihak berwenang yang diwawancarai dalam film, seperti Joseph J. Romm, seorang sekretaris asisten di Departemen Energi selama pemerintahan Clinton dan penulis “The Hype About Hydrogen”– mengatakan adalah jauh dari kenyataan penggunaanya di jalan raya? Jawabannya mungkin tidak mengejutkan Anda, terutama jika Anda cenderung untuk menonton film berjudul “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik,?” (Who Killed the Electric Car?). Mr Paine dengan tegas menjelaskan, cerita dari mobil listrik lebih besar dari satu perjalanan bergairah dari orang-orang yang menyukainya. Ini seperti cerita es di kutub utara yang terpisah sampai ke Los Angeles, suatu cerita besar tentang kehidupan, dan mendesak untuk dipikirkan sebagai solusi ramah lingkungan.

<iframe width=”640″ height=”360″ src=”http://www.youtube.com/embed/nsJAlrYjGz8″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Related articles, courtesy of Zemanta:

 

Educational Innovation, Technology and Entrepreneurship

11 Sep

      by Fernando Reimers | on http://blogs.hbr.org/innovations-in-education/2011/03/educational-innovation-technol.html

Editor’s note: This post is part of a three-week series examining educational innovation and technology, published in partnership with the Advanced Leadership Initiative at Harvard University.

I have spent the last 25 years studying and working with governments and private groups to improve the education available to marginalized youth, in the United States and around the world. Most of that work was based in the belief that change at scale could result from the decisions made by governments, and that research could enlighten those choices. When I joined the Harvard faculty 13 years ago I set out to educate a next generation of leaders who would go on to advise policy makers or to become policy makers themselves, and designed a masters program largely responsive to that vision. During those years I continued to write for those audiences.

Over time, however, I have become aware that traditional approaches can’t improve education at a scale and depth sufficient to ready the next generation of students for the challenges they will face. I have also become more skeptical of the assumed linear relationship between conventional research and educational change. I now believe the needed educational revitalization requires design and invention, as much as linear extrapolation from the study of the status quo — that is, of the past. It also requires systemic interventions — changes in multiple conditions and at multiple levels, inside the school and out. And it requires a departure from the conventional study into how much we can expect a given intervention or additional resource to change one educational outcome measure — typically a skill as measured on a test or access to an education level, or transition to the next.

It is this interest in change that has led me to study the work of education entrepreneurs — of innovators who are creating new education designs, in ways that exceed the resources they command. I am especially interested in the entrepreneurs whose goal is to produce significant educational innovation — rather than simply providing access and delivering services to new groups, or rather than improving the efficiency of the educational enterprise as we know them — to teach our old schools a few new tricks, so to speak. I am also particularly interested in entrepreneurs who can achieve sufficient scale and develop the strategy to significantly change the ecosystem, to shift the conversation about education, to eventually transform the sector in the way in which Wilhelm Humboldt transformed the sector of higher education with the creation of the University of Berlin, or in the way in which Joseph Lancaster propelled the universalization of basic education with the development of a method to teach a basic curriculum at low cost.

The conversations in these blogs on Educational Innovation and Technology are an exciting opportunity to explore a promising mix — the synergies that can result from combining innovation, the utilization of technology in education and the role of education entrepreneurs in creating new designs that can transform the ecosystem. It is in the interplay of these three factors that I see the greatest potential. Not all education entrepreneurs using technology generate innovation, and most of their designs have failed to transform the sector and not all innovators using technology have produced designs that can be scaled or with the ambition and potential to change the conversation or the sector. As a result, educational enterprise is a fragmented territory, of modest scale, yet to transform the education ecosystem.

In order for these three elements — innovation, technology and entrepreneurship — to produce the synergies necessary to substantially transform education, we will need to build a collaborative architecture that allows for the fruitful integration of careful study, design and invention, and action at scale. Such collaboration of industry, academy and the public schools is exceptional, not the conventional way of business for universities, governments or businesses.

Universities are uniquely positioned to lead in forging these partnerships. The trust we receive from society in the form of financial resources, financial and legal advantages and institutional autonomy enable us to anticipate new organizational forms to support educational renewal, rather than reproduce the established forms of the past. While we haven’t done this consistently in the history of higher education in the US or abroad, there are good historical precedents of universities taking seriously the task of substantially improving the work of elementary and secondary schools, of serving those who are not direct members of the university community.

This is the time for universities to lead the task of fundamentally reinventing public education. But to do it well, we need to seriously commit to design and innovation, and to work with others — with entrepreneurs, industry and governments — so that their ambitions and impatience for results, and the accountability they have with the constituencies they serve, can help align our efforts with the creation of public value in the form of education institutions that prepare the next generation to lead and manage the challenges we have passed on to them.

Fernando Reimers is the Ford Foundation Professor of International Education and the Director of the International Education Policy Program at the Harvard Graduate School of Education. He is a member of the Council on Foreign Relations, a Fellow of the International Academy of Education, and Chair of the World Economic Forum’s Global Agenda Council on Education.

Learn more about the Advanced Leadership Initiative at Harvard.

FERNANDO REIMERS

 

Fernando Reimers is the Ford Foundation Professor of International Education and the Director of the International Education Policy Program at the Harvard Graduate School of Education. He is a member of the Council on Foreign Relations, a Fellow of the International Academy of Education, and Chair of the World Economic Forum’s Global Agenda Council on Education.

 

Manusia dan Lingkungannya: Hubungan Benci Tapi Rindu Sepasang Kekasih

26 Jul
Graph summarizing some of the Global Warming expected impacts

Graph summarizing some of the Global Warming expected impacts

Apa yang terpikir oleh kita pada Lingkungan Sedunia tanggal 05 Juni ? 
Mungkin perlu difahami hal-hal sbb:
a. Udara itu gratis namun terbatas (Friendly Reminder: Orang dewasa sekurangnya harus bernafas 16 respirasi per-menit – atau sekitar 50 m3/jam, bayangkan untuk 1 juta orang dikota anda….atau bahkan seluruh penduduk dunia yang sekitar 5 Milyar orang)
c. Warga Negara Indonesia mempunyai hak dan kewajiban terhadap lingkungan yang di jamin oleh Undang-Undang Dasar. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut dan menyatakan, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ”
Menurut WALHIpada tanggal 5 Juni 2007, negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatnya sebagai Hari Lingkungan Hidup. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). 
Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.


Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi. 

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.

Lantas dengan situasi sedemikian rupa apa yang dibutuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? Yang dibutuhkan adalah REVOLUSI GAYA HIDUP, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan. 

Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim. Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi Protokol Kyoto yang menekankan kewajiban pada negara-negara Utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara Selatan. 


Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja. 

Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan? 

Ini semua adalah cerminan bagi mereka yang berusaha dan sadar sepenuh hati demi keberlanjutan kehidupan sosial (sustainable society) yang berkeadilan secara sosial, budaya, ekologis dan ekonomi. Inilah tindakan nyata untuk meraih kedaulatan energi dan melepaskan ketergantungan terhadap energi fosil yang sekarang telah dikuasai oleh korporasi modal. Sekarang siapapun bisa memilih, mau jadi kontributor pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan suhu yang makin panas? Atau mau menjadi bagian dari pelaku ”penyejukan global” dengan mengubah pola konsumsi dan gaya hidup dari sekarang juga? Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.


Gambar dipinjam dari :
1. Weblogcartoons 
2. Neatorama
3. John-Daly
4. Calgary University
5. MSN