RSS
 

Archive for the ‘Liputan’ Category

Hari Lahir Pancasila dan Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo @Pojokpendidikan @ComlabsITB (2)

03 Jun
Dikutip dari http://bappeda.bantulkab.go.id/photo-post/post-43_n.jpg
Perlunya Kerja Sama Dalam Pengembangan Modal Insani (Human Capital)

Keberhasilan suatu bangsa sesuai yang disiratkan sila-sila dalam Pancasila, memerlukan sebuah cara atau sebuah strategi untuk melaksanakannya dan dalam hal ini kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani sebagai suatu cara yang perlu mendapatkan pioritas yang tinggi dalam perencanaan pembangunan Sistem Pendidikan di Indonesia. Keberhasilan suatu Sistem Pendidikan dalam membangun bangsa adalah terjadinya keseimbangan tujuan-tujuan pendidikan yang akan mencapai manusia seutuhnya. Dan yang terjadi di Indonesia tidak terjadi sinkronasi antara Sistem Ekonomi Pendidikan dengan faktor makro ekonomi dan faktor mikro ekonomi, hal ini bisa terjadi terjadi karena akademis, bisnis dan pemerintah belum menyediakan parameter jembatan yang tepat (bridging).
Faktor “bridging” ini adalah adanya lembaga-lembaga  akademis, bisnis dan pemerintah yang belum fokus dan tidak punya strategi yang singkron dengan lembaga lainya. Atau dalam istilah sederhananya antar lembaga ini berdiri sendiri-sendiri dengan visi masing-masing tanpa memperhatikan hubungannya dan keterkaitannya dengan lembaga lainnya khususnya kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani. Kementerian Pendidikan Nasional seharusnya melibatkan bidang Sumber Daya Manusia (Badan Kepegawaian Negara dan Daerah), Keuangan (Kementerian Keuangan), Pemerintahan (Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah), Sarana dan Prasarana (Kementerian Pekerjaan Umum), Telematika (Kementrian Kominfo), Legal (Kementerian Hukum dan HAM) dan lembaga lain dikalangan akademis dan bisnis untuk mencapai hal itu.
Modal utama dalam keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun modal insani dan membangun jembatannya. Dan dalam hal ini pemerintah belum bisa memberikan strategi yang tepat dalam membangun modal insani yang  dapat dibangun melalui keberhasilan pembangunan pendidikan, termasuk Ekonomi Pendidikan di dalamnya, sebagai fondasi awal. Strategi pembangunan bangsa yang sedari awal sudah salah langkah jika dilihat dari perkembangan negara lain dalam menentukan kebijakan ekonominya. Atau lebih tepatnya adalah bukan salah langkah tapi kurang strategis sebagai langkah awal. Karena strategi kita menggunakan strategi ekonomi terbuka, atau yang dikenal dengan istilah liberasi ekonomi, dan langkah ini berpedoman kepada Konsesus Washington, yang menurut Pemenang Nobel Joseph Stiglitz , negara-negara berkembang yang berpedoman pada konsensus Washington pertumbuhan ekonominya tidak secepat Negara-negara yang tidak berpedoman kepada Konsensus Washington. Yang mana dalam konsensus Washington ini banyak kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada ekonomi mikro, dan modal insani yang keduanya tidak berjalan seimbang dengan ekonomi makro sehingga sangat berpengaruh pada isi dan konteks  dari Persfektif Ekonomi Pendidikan.  
Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo: “Lesson Learned” Dari Beberapa Perusahaan 
 
Sesi ini dibuka oleh Prof Dr. Ir. Bambang Riyanto (Kepala Lembaga Pengkajian Pendidikan , Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat ITB) dan meresmikan Blended Learning ITB yang merupakan portal belajar online bagi mahasiswa ITB yang saat ini telah mengakomodasi 246 mata kuliah. Berisi materi kuliah, platform pengumpulan tugas, bahkan forum diskusi, Blended Learning ITB yang dapat dikunjungi di http://blendedlearning.itb.ac.id ini bertujuan untuk mendukung sistem pembelajaran yang lebih berpusat kepada mahasiswa serta mengintegrasikan pembelajaran online dan tatap muka dengan menyediakan keduanya, sehingga kedua pendekatan ini saling mendukung satu sama lain.  
Hasil yang diharapkan dari adanya Blended Learning ITB yang juga memiliki aktivitas School on Internet dan Distance Education ini antara lain adalah adanya standardisasi pembelajaran, pemberian akses kepada masyarakat umum untuk ikut mempelajari mata kuliah di ITB, dan dalam jangka panjang untuk menciptakan masyarakat pembelajaran. Blended Learning ITB juga dibentuk untuk meningkatkan akses dan visibilitas web ITB, agar ITB makin dikenal oleh masyarakat luas.  
Sebagai Pembicara Pertama sesi ini adalah Hasnul Suhaimi (CEO PT. XL Axiata Tbk) yang menggambarkan Tantangan Terbesar Indonesia yaitu membutuhkan masyarakat Indonesia yang siap menjadi pemimpin global yang kompetitif. Namun demikian masih ada “Education Quality Gap” yang terlalu luas antara Indonesia dan negara sekitarnya. Hal ini disertai kurangnya “character building”, integritas menurun, Tidak mengajarkan Life Skills, Budaya “malu”, rendahnya semangat kompetisi karena rendah diri, dan Kemampuan Berbahasa Inggris praktis.  
Beliau mengatakan: “Indonesia membutuhkan masyarakat Indonesia yang siap menjadi pemimpin global yang kompetitif”. Untuk itulah XL menjawab tantangan Global dengan mengadakan program  “XL Future Leaders” (http://www.xl.co.id/futureleaders) yang bertujuan Menciptakan bibit baru Indonesia yang siap berkompetisi secara global untuk menjadi pemimpin melalui pendidikan Keahlian Utama (Life Skills) berbasis TIK. Kerangka 5 PILAR XL FUTURE LEADERS adalah:
  1. Berpikir Kritis: Kemampuan untuk memproses dan mengevaluasi suatu kondisi menggunakan pengetahuan dan logika, serta menyajikannya dengan cara yang  rasional.
  2. Kepemimpinan: Memupuk kemampuan seseorang menjadi visioner, mampu memotivasi dan menginspirasi orang lain, memiliki rasa yang  kuat keberanian, tanggung jawab dan empati.
  3. Komunikasi: MengarBkulasikan pikiran dan pendapat secara efektif dan bermakna dalam hubungan apapun, serta mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan memahami.
  4. Kreatifitas: Stimulasi untuk mendorong batas-batas yang  diketahui dan berpikir di luar kebiasaan, dalam pengembangan metode baru yang inovatif dan solusi.
  5. Sikap: Seorang pemimpin harus memiliki sikap yang baik dan benar.
Pembicara Kedua adalah Harry Hermania (General Function Training Manager, Pertamina Learning Center) dengan judul presentasi “E-Learning Pertamina”. Beliau menggambarkan latar belakang dari program ini adalah: 
  1. Biaya pembelajaran (termasuk  biaya perjalanan dinas) masih relatif  tinggi.
  2. Program pembelajaran masih bersifat konvensional hanya dengan menggunakan metode tatap muka di kelas
  3. Optimalisasi pembelajaran masih relatif rendah dalam mendukung kompetensi teknis setiap pekerja

Adapun objektif yang diinginkan Pertamina dari “E-Learning Pertamina” adalah:

  1. Proses pembelajaran dapat dilakukan melaluipembelajaran jarak jauh.
  2. Mengurangi biaya pembelajaran (termasuk biaya perjalanan dinas)
  3. Menumbuhkan budaya proaktif learning
  4. Optimalisasi pembelajaran yang  mendukung peningkatan kompetensi teknis pekerja secara terukur
Pembicara Ketiga adalah Batara Yohannes (PT. Bank Internasional Indonesia Tbk) yang membahas “New Learning Initiative”. BII e-Learning dmulai dari tahun 2002 dengan biaya 40 juta rupiah dengan 1 modul: Mengenal Nasabah. Saat ini ada  28000 pengguna di 2012 dengan 20 Modul  yaitu  2 Modul Nilai / Induksi, 4 Modul Syariah, 3 modul KYC, 5 modul Manajemen Risiko, 2 Video Layanan Belajar  dan 1 Dalam proses. BII Memulainya dengan mengirim Nota Internal dan Hadiah, dan  Penilaian Kinerja dengan Pelatihan (e-learning) adalah komponen inti serta karyawan harus melewati Masa Percobaan periode dengan e-Learning.
Sesi ini diakhiri oleh dua pembicara yaitu William Tepfenhardt (Nokia) dan Mico Wendy (Konsep.Net) dengan topik “Mobile Learning Application”. Wiliam menginformasikan bahwa Nokia di Indonesia telah melibatkan 12,000 pengembang dari 50 universitas dan 3 operator, 2.5 jutaan orang men-download/minggu, telah ada 3.000 aplikasi lokal  dan  5 Nokia “Data Plan”. Sedangkan Mico mendeskripsikan aplikasi “Baby Play Learn” yang dikembangkannya.
Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo juga dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Elizar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Bersamaan dengan seminar, dilaksanakan juga expo dan seminar paralel bertemakan pendidikan. Terdapat berbagai organisasi non-profit maupun perusahaan yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, antara lain Skhole PM-KM ITB, SD IT Rabbani, Komunitas Lingkungan Hidup, Agate Studio, Npaperbox, Segitiga.net, Rumah Belajar Sahaja, Fantastic Inc., Tim Network Comlabs, YPBB, LPP Salman ITB, Komunitas Sahabat Kota, Marketeers, dan Nyangkod.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/–u3SyOxfqE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo Aula Barat ITB – 31 Mei 2012

30 May

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Comlabs USDI ITB dan Pojok Pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional. Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo memiliki tiga kegiatan utama, yaitu seminar, expo, dan lomba untuk guru.


Seminar

Seminar yang akan diselenggarakan terdiri dari dua sesi seminar, yaitu:

  • Seminar Pendidikan Kreatif dan Kewirausahaan.
    Seminar ini ditujukan untuk Guru pendidikan dasar dan menengah, Pemerhati/Komunitas pendidikan, Perusahaan pendukung pendidikan, Wirausahawan, Mahasiswa dan Umum.
  • Seminar E-Learning dan Knowledge Management.
    Seminar ini ditujukan untuk Akademisi, Korporasi, Penyelenggara Training, Penyedia layanan Distance Learning, Departemen pemerintahan.

Informasi lengkap seminar dapat dilihat di sini.


Expo

Expo terdiri dari dua rangkaian utama yakni Pameran Kreativitas dan Paralel Session. Pameran Kreativitas akan diisi insan-insan kreatif dalam pendidikan maupun korporat untuk menampilkan hasil karyanya serta memotivasi pengunjung. Pameran ini akan menampilkan alat peraga hasil karya finalis kompetisi alat peraga pengajaran. Selain itu, akan ditampilkan juga produk-produk dari komunitas kreatif serta dari perusahaan sponsor.

 

Sepakbola dan Kita: Antara Inter Milan, Persija dan Persib

29 May

Sepak bola bagi sebagian orang adalah nyawa kehidupan mereka. Walapun hanya sebagai supporter, semua akan dicurahkan bagi kesebelasan kesayangannya seperti mereka membela negaranya sendiri. Hidup ini tidak akan lengkap bila sepakbola pergi dari “Top Of Mind” mereka. Berikut adalah beberapa cuplikan “passion, spirit, and blind love” penggemar sepak bola terhadap kesebelasan kesayangannya.

Fans Fanatik Yang Terbesar Di Dunia

Masyarakat Indonesia terhibur dengan kedatangan kesebelasan Inter Milan ke Indonesia. Pertandingan yang disaksikan sekitar puluhan ribu penonton ini, sebahagian besar fans berat Inter dari penjuru Tanah Air, berlangsung seru, mereka tanpa henti-hentinya meneriakkan yel-yel serta nyanyian berbahasa Italia . “Di Indonesia fans fanatik ini berjumlah sekitar 20 ribuan, termasuk terbesar di dunia,” ujar Entong Nursanto yang juga Presiden Interisti Club Indonesia (ICI).

Berbahagialah para pemain Inter Milan yang dipuja puji di negara ini yang berjarak 11.082,98 KM. Kedatangan Inter Milan berhasil menyedot perhatian seluruh pendukung Inter di Indonesia. Ratusan fans Inter berkumpul di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Rabu (23/5/2012) pagi. Bahkan, ada yang sudah datang dari kemarin dan ikut menyambut kedatangan tim ofisial “I Nerrazurri” pada hari ini di tempat yang sama. Sebagian para fans, atau yang biasa disebut Interisti, itu ternyata memilih menginap di bandara.

Mereka Disambut Bagaikan Raja

Teriakan yel-yel terdengar setiap Inter bermain, membahana sepanjang pertandingan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Suasana stadion semakin meriah ketika sang kapten, Zanetti, berlari mengelilingi lapangan sebagai bentuk apresiasinya.”Saya mengucapkan terimakasih suporter orang Indonesia atas sambutan, suka cita semangat diberikan,” ujar Moratti seperti dilansir situs resmi klub.”Saya bisa menyaksikan lewat televisi cerita hadir Jakarta hari terakhir. Saya tidak bisa hadir Jakarta urusan pekerjaan,” sambungnya.”Saya bahagia terharu. Hal membuat semakin bersemangat bekerja demi suporter mengagumkan. Indonesia, berterimakasih kalian menjaga perasaan luar biasa selamanya.” 

Dalam keterangan persnya seusai laga melawan Indonesia Selection, para punggawa muda Inter mengaku termotivasi untuk berusaha lebih keras lagi guan menembus tim inti ‘Nerazzurri’. Sementara, para pemain Inter yang sudah berusia senja mengaku bakal gantung sepatu setelah tur Indonesia ini. “Saya harap bisa terus bersama dengan Inter, dan bisa bermain dengan baik. Saya senang bisa mencetak dua gol. Fans di stadion juga luar biasa. Saya takjub dengan fans di sini,” ujar pemain Muda Inter, Coutinho. “Saya bakal gantung sarung tangan dan berusaha untuk menjadi pelatih kiper Inter Milan,” tutur kiper gaek Inter, Paolo Orlandoni.

Duel Klasik Dua Bebuyutan

Beberapa hari setelah itu, di stadion yang sama terjadi duel klasik antara Persija dan Persib yang berakhir imbang 2-2 dalam laga lanjutan kompetisi ISL 2011-2012 pada hari Minggu 27 Mei 2012 . Tampil di depan lima puluh ribu Jakmania yang merubah Stadion Utama GBK menjadi berwarna oranye, Persija tampil menyerang di babak pertama. Dua gol Persija disumbangkan oleh Ramdani Lestaluhu di menit 64 dan Precious di menit 72. Sedangkan gol untuk Persib ditorehkan oleh Atep di menit 46 dan Maman Abdurahman di menit 88.

Pertemuan tim bubuyutan Persib vs Persija di GBK berjalan panas. Persija “si macan kemayoran” gagal menuntaskan dendamnya kepada tim “Maung Bandung” sebutan Persib Bandung.  Duel berlangsung panas dan terlihat sangat keras sejak menit-menit awal hingga berakhirnya pertandingan. Kedua tim juga tampak bermain tak lepas. Adu fisik antar pemain sukses memanaskan tensi pertandingan. Bahkan, beberapa kali adu mulut mewarnai duel dua musuh bebuyutan ini.

Gajah Berperang, Pelanduk Mati Ditengah

Ternyata bukan hanya di lapangan GBK saja suasana panas terjadi, namun di luar stadion ada kekerasan yang menimbulkan korban. Insiden pengeroyokan  terjadi usai laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Gelora Bung Karno, Senayan, Minggu 27 Mei 2012, mengakibatkan tiga orang tewas. Salah satu korban bernama Lazuardi, 29 tahun. Sementara dua korban lainnya belum diketahui identitasnya. 

“Kami masih mencari tahu identitas dua korban itu. Sampai saat ini belum ada keluarga yang datang untuk mengecek,” kata Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, ketika dihubungi, Senin 28 Mei 2012. Dua korban tewas saat ini masih berada di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo. Sedangkan jenazah salah satu korban yaitu Lazuardi sudah dibawa pulang oleh keluarganya di Jalan Menteng Sukabumi RT 08, RW 03, Kelurahan Sukabumi, Jakarta. 

Akibat Yang Tidak Terelakan
Setelah kejadian tersebut, Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya akan memperketat pemberian izin keramaian untuk pertandingan sepak bola. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto, Senin,  mengatakan pengetatan pemberian izin ini dilakukan, menyusul jatuhnya korban setelah pertandingan Persija melawan Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, pada Minggu sore (27/5). Tiga orang dilaporkan tewas dan lima lainnya luka berat setelah menyaksikan pertandingan antara Persija dan Persib tersebut. “Tentunya ke depan kami akan lebih selektif memberikan izin pertandingan,” katanya.
Menurut dia, fakta di lapangan menunjukkan ada suporter tim sepak bola yang tidak dapat mengendalikan diri saat mendukung klub kesayangannya. Lebih lanjut ia mengatakan Polda Metro Jaya juga akan berkoordinasi dengan panitia penyelenggara agar memindahkan lokasi pertandingan sepak bola yang rawan terjadi bentrokan antarsuporter. 
Sepak Bola Sebagai Tontonan dan Tuntunan
Sepak bola merupakan salah satu olahraga paling populer di Indonesia. Beberapa orang bermain sepak bola hanya untuk menang – bagi mereka yang penting siapa pencetak gol terbanyak. Tapi yang lainnya yakin, ini lebih dari sebuah pertandingan; karena ini adalah olahraga tim, bisa mengajarkan orang untuk saling berkerja sama, termasuk pada para supporternya.
Para pendukung sepak bola yang baik senang sekali menyanyikan lagu saat memberikan dukungan kepada tim kesayangannya, meski kerap kali juga mencemooh. Saat tim lawan bermain lebih hebat, tidak jarang mereka juga memberikan aplaus. Saat ada perayaan tertentu, para penggemar juga memberikan apresiasi. Jika ada mantan pemain atau tokoh tertentu meninggal dunia, maka penonton ikut dalam mengheningkan cipta.
Sepak bola tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan bagi supporter-nya. Fans tidak hanya melihat keindahan permainan sepak bola atau aksi menawan para pemainnya, tetapi juga melihat hal lain seperti sportivitas, solidaritas, dan aksi lainnya yang patut dipelajari.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/dFtAjqfQOJA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Moko Darjatmoko: Antara Titik Karir dan Perjalanan Kehidupan (Manfaat Nonton Film “Revenge of the Electric Car”)

01 Apr

 Tadi malam saya nonton film “Revenge of the Electric Car”  di COMLABS-ITB.  Film ini merupakan sekuel dari film “Who Killed the Electric Car?” yang penuh dengan informasi dan sejarah tentang upaya untuk memperkenalkan – dan mempertahankan – kendaraan listrik di jalan Amerika pada kurun 1996-2006. Untuk sutradara film, Chris Paine, bukti-bukti yang ada “terlalu mengerikan dan udara politik terlalu kotor” untuk hidupnya mobil listrik di Amerika Serikat saat itu.

Yang menarik, film ini adalah salah satu cara dari Mas Moko Darjatmoko berbicara tentang kehidupan khususnya pendidikan. Beliau di Kampus ITB sering disebut sebagai “insinyur sesat” (sudah susah-susah diajari ngelmu engineering tetapi berkecimpung dibidang yang sama sekali lain). Mengapa?  Mas Moko alumni Sipil ITB yang hidup dan bekerja di US (30 tahun di Madison, Wisconsin) dan sekarang sedang melakukan riset di Indonesia a.l. dalam bidang pendidikan dan antropologi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

Dikutip dari Portal Senyum ITB, sadar bahwa bangsa ini tidak punya library (yang memadai), beberapa tahun belakangan ini Mas Moko mencoba membuat semacam digital library (untuk anak-anak) yang terdiri dari buku-buku yang “specially selected”. Sebagian besar adalah berbahasa Inggris (karena tujuan tertentu), dari jaman keemasan “picture book” di literature barat (sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20); plus beberapa contoh yang bagus-bagus dari berbagai negara di dunia; plus koleksi “award winning picture books” dari Persia selama 3 dekade terakhir .. total sekitar 2000-an buku. Ini masih harus digarap satu-per-satu, dipilih mana yang paling cocok untuk kultur kita (cultural adjustment).

Karena keunikan selera itu, beliau terus melakukan trial and error, sampai ketemu cerita yang paling disukai, sampai ketemu cerita atau buku yang “turns the kid on.” “Karena saya sering “salah tembak” — apa yang saya anggap bagus/menarik kadang sama sekali tidak menarik, dan sebaliknya. Ini pengalaman nyata di Cijengkol. Solusinya? aku bawa beberapa (puluh) buku, dan coba satu-per-satu, mana yang cocok bagi mereka (dari kacamata anak-anak Cijengkol). Well, sembari mengajar kita memang harus juga belajar — that’s the law of the universe.” kata Mas Moko.

Sementara itu beliau juga sudah memulai menggarap buku-buku untuk kelompok umur remaja (young adult) yang terutama dari corpus (body of works) pengarang klasik (yang coyrightnya sudah expired), seperti Agatha Christie, Athur Conan Doyle, C. S. Lewis, Charles Dickens, L. Frank Baum, Lewis Carroll, Mark Twain, Rudyard Kipling, Grimm Brothers, H. C. Andersen, H. G. Wells, Horatio Alger. Disamping itu ada yang masih ber-copywright tetapi perlu mulai dipikirkan, seperti karya sci-fi grandmasters Arthur C. Clarke, Isaac Asimov, Robert Heinlein; atau yang masih “muda-muda” seperti Roald Dahl, Enid Blyton, John Grisham, Neil Gaiman, Stephen King, etc … (his goal at least 1000 books)…

Well, ini memang kerjaan kolosal, tetapi kurasa aku bisa menyelesaikannya, sendirian, “in my life time” (if I’m lucky). Tentu saja kalau ada yang bantu-bantu, kerjaannya akan jadi lebih enteng. Syaratnya cuma satu .. you have a great love for books and reading.

Kelihatan bahwa “passion” serta “want and need” beliau sekarang seperti “Connecting The Dots” dari Steve Jobs yang menyatukan semua pengalaman dan ekspresi hidup mulai dari lulus Teknik Sipil ITB,  hidup di negeri orang (Madison, Wisconsin) kemudian akhirnya memberikan inspirasi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/nH_vJRRMkvE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Liputan The-Marketeers.com: “Membangun Modal Insani Melalui e-Learning” (Building Human Capital Through e-Learning)

28 Mar
Praktik e-learning sudah lama dilakukan oleh berbagai instansi, khususnya instansi pendidikan. Universitas Terbuka boleh dibilang menjadi pelopor dari sistem pendidikan jarak jauh tersebut. Tren e-learning makin populer ketika kampus-kampus swasta turut melakukannya.
 
“Potensi e-learning ini cukup besar dan diminati oleh masyarakat di banyak negara. Di Amerika Serikat, ada 6,1 juta yang mengambil bachelor degree melalui online. Konsep ini di dunia pendidikan bukanlah konsep baru. Kami sebagai universitas swasta berterimakasih pada universitas terbuka karena mempopulerkan sistem pembelajaran ini,”  Pantri Heriyati, M.Comm head of school-Management, Bina Nusantara, Jakarta dalam Friday Online Seminar bertajuk “Building Human Capital Through e-Learning” di studio Jakarta, Jumat (02/03/2012).
 
Heriyati mengatakan di Binus praktik e-learning ini dinaungi dalam program Binus Online yang terbagi dalam dua musim, yakni ekstensi selama dua semester dan program komplit. “Kami melihat permintaan e-learning cukup besar. Meski demikian, promosi dan edukasi perlu kontinu digalakkan, khususnya kepada korporat yang mana skill dan knowledge sumber daya manusia di perusahaan tersebut perlu ditingkatkan,” imbuh Lianti Raharjo, Head of Program Undergraduate, School of Management Binus Business School.
 
Sementara itu, Nur Agustinus, Coordinator Faculty of Entrepreneurship and Humanities Universitas Ciputra Surabaya, mengatakan program e-learning bisa dilakukan kapan pun dan di manapun karena sifatnya yang lintas batas. Agustinus mengatakan e-learning masih memiliki tantangan untuk Indonesia. Misalnya, masih ada anggapan miring bahwa lulusan e-learning kurang berkualitas bila dibanding sistem belajar konvensional. “Tantangan lain berupa keterbatasan infrastruktur Internet,” tandas Agustinus.
Sementara itu, Djadja Achmad Sardjana dari COMLABS-USDI Bandung menambahkan, tantangan lain adalah kultur dan kebijakan  yang kurang mendukung e-learning. “E-learning bukan sekadar memindahkan materi kuliah konvensional ke online. Perlu modul-modul yang disajikan secara online dengan menarik. Bukan sekadar memindah file-file yang membosankan. Inilah yang menjadi tantangan bagi tenaga pengajarnya,” kata  Djadja. Ia menambahkan e-learning sering dianggap hanya cocok untuk kampus-kampus IT. e-Learning, kata Djadja, juga bisa dilakukan untuk semua jurusan, termasuk kedokteran sekalipun.
 
Sebenarnya, program e-learning menjadi jawaban akan mahalnya proses pembelajaran selama ini. Dengan komunikasi nir tatap muka, pengajaran masih bisa dilakukan dengan sistem e-learning. Boleh dibilang strategi low budget high impact untuk pendidikan. “Fleksibilitas juga menjadi keunggulan lain dari e-learning,” imbuh Heriyati.
 
Heriyati berharap ke depannya ada sistem akreditasi yang jelas sistem belajar e-learning ini karena tidak kalah dengan sistem konvensional. Binus sendiri akan membuka e-learning untuk magister management pada Juni tahun ini.
 
 
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/8GnDDZEUKf0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Indonesian Networkers Event @ITENAS Pembicara Himawan Nugroho (@hnugroho)

27 Mar
Sangat menarik setelah menjadi moderator Indonesian Networkers Event @ITENAS dengan Pembicara Himawan Nugroho (@hnugroho), Security dan Service Provider. Di dunia kerja, Himawan Nugroho terbilang profesional langka. Sarjana Teknik Mesin ITB ini salah satu dari segelintir orang di Indonesia yang mengantongi sertifikasi Cisco Certified Internetwork Expert (CCIE) di tiga bidang yang berbeda (Routing, Security, Service Provider) yang biasa disebut Triple CCIE – di seluruh dunia, hanya 300-an orang yang memilikinya. Sempat berkarier di IBM Global Services sebagai konsultan, November 2006 ia bergabung dengan Cisco System yang berbasis di Singapura, untuk mengerjakan proyek konsultasi untuk pelanggan di Asia Pasifik. Sekarang ia dipercaya menjabat sebagai Technical Lead, Solution Architect, Senior Consultant di Cisco System, Dubai, Uni Emirat Arab, mengerjakan proyek untuk pelanggan di Eropa, Timur Tengah dan Afrika.
Banyak orang yang bermimpi dan bercita-cita untuk bekerja di luar negeri. Pendapatan yang relatif lebih besar, mendapat pengalaman dan cerita unik, membuka wawasan, maupun taraf hidup yang lebih baik merupakan beberapa alasan mengapa orang-orang tertarik untuk merantau jauh meninggalkan kehidupan nyaman di Indonesia. Di sesi “Berkompetisi di Pasar Global sebagai IT Professional” di depan mahasiswa dan Alumni Elektro ITENAS ini pembicara Himawan Nugroho berbagi pengalaman pribadinya selama 10 tahun lebih bekerja di luar negeri dengan pokok pembahasan tentang program sertifikasi yang bisa membantu karir, case study tentang proyek IP Next Generation Network (NGN) di salah satu customer Service Provider, dan tips dalam berkompetisi di pasar international. Tujuan utama dari sesi ini adalah memberikan masukan khususnya buat para mahasiswa Indonesia dalam berkarir dan mempersiapkan diri memasuki pasar global, baik di luar maupun dalam negri, yang semakin hari semakin kompetitif.
“Setiap mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depan dirinya termasuk mengambil sertifikasi yg mendukung kariernya” kata @hnugroho. Ia tambahkan: “Sertifikasi penting untuk memperoleh pengakuan profesional di suatu bidang yg kompetitif dan selektif”. Saat ini kata dia, ada beberapa Level N/W Engineer yaitu : “Configurator” aka “Copy Paste Monkey”, terus “Troublehooter”, kemudian “Specialist”, dilanjutkan “Designer”, selanjutnya “Architect” dan terakhir tingkat “Expert”.
Namun, “Dalam bekerja selain hal teknis perlu menguasai soft-skill terutama pada saat kritis menghadapi konsumen”. Hal ini didasarkan pengalaman ketika suatu pekerjaan yg “impossible” pernah hrs diselesaikan oleh @hnugroho spt “Memanggil 9 wanita utk melahirkan dalam waktu 1 bulan”. Ya, dia dan rekan-rekanya pernah diminta menyelesaika masalah dimana “customer” tidak mempunyai dokumentasi sama sekali yang semestinya ada padahal mereka meminta tenggat waktu yang ketat dalam pengerjaannya.
Re.@hnugroho saat kuliah, ada 10 hal agar kita berhasil yaitu:
  1. Melakukan banyak kesalahan dan mau ambil risiko yang diantisipasi.
  2. Temukan sesuatu yang anda suka lebih awal.
  3. Bekerja keras pada sesuatu yang bernilai. 
  4. Selesaikan apapun yang kita mulai.
  5. Buat jaringan pergaulan lebih banyak dan luas
  6. Selalu mencoba menjadi pemimpin 
  7. Lebih banyak meningkatkan berkomunikasi dan presentasi.
  8. Mengontrol keuangan dengan bijaksana. 
  9. Berkontribusi kepada komunitas.  
  10. Cobalah untuk berkeliling dunia.
Dia akhiri sesi ini dengan kata mutiara: “Jangan melihat kasta pekerjaan, seseorang dilihat dari hasil pekerjaannya.” Juga Kata Penutup: “Dream. Fight. Love. Live. Seize The Day”
Trims Mas.@hnugroho yg telah memberikan pencerahan pada mahasiswa alumni Elektro ITENAS SERTA Kg @tedhiachdiana semoga kariernya semakin gemilang.
<iframe width=”600″ height=”440″ src=”http://www.youtube.com/embed/Rm5sfgAYJBA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Seminar “Ecotourism based on Environment, Education and Creative Industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya

25 Mar

 

Pada tanggal 24 Maret 2012 saya menghadiri seminar “Ecotourism based on Environment, Education and  Creative industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya. Ekowisata (Ecotourism) merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Tidak ada definisi yang diterima secara universal tentang ekowisata. Evans-Pritchard dan Salazar [1992, dikutip dalam Mowforth dan Munt, 1998, p.104] mencatat bahwa “Kita  tidak mengetahui tepatnya apakah istilah ‘ekowisata’ dimaksudkan sebagai konsep murni atau sebagai istilah yang secara umum digunakan “. Secara teoritis, ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu jenis pariwisata di mana lingkungan, masyarakat lokal dan pengunjung semuanya memperoleh manfaat . Dalam prakteknya, istilah ‘ekowisata’ sering digunakan oleh operator tur sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan segala bentuk pariwisata yang berhubungan dengan wistata alam. Sebagai Wight [1994, hal.39] catatan:

“Tampaknya ada dua pandangan yang berlaku pada ekowisata: satu fihak memandang bahwa kepentingan umum pada lingkungan dapat digunakan untuk memasarkan produk, yang lain melihat bahwa ketertarikan yang sama dapat digunakan untuk menyelamatkan sumber daya di mana produk ini didasarkan. Pandangan ini tidak perlu saling berhubungan”.

Berbagai konferensi telah diadakan membahas ekowisata dan pariwisata yang bertanggung jawab untuk mempromosikan pandangan di atas. Pada Konferensi Dunia Tahun 1995 tentang Pariwisata Berkelanjutan yang diselenggarakan di Lanzarote, disepakati bahwa:

“Pariwisata akan berkelanjutan ketika pembangunan dan operasinya  memasukkan partisipasi penduduk lokal, perlindungan lingkungan, hasil ekonomi yang adil untuk industri dan masyarakat sekitarnya, serta  memuaskan dan saling menghargai semua pihak yang terlibat” [Jafari, 1996 , p.959]. Dari konferensi tersebut dan literatur tentang ekowisata telah muncul prinsip pariwisata yang harus dipatuhi jika ingin didefinisikan sebagai ekowisata. 

Salah satu pembicara adalah Jalu Sugih Cahyanto yang membuat beragam kerajinan kap lampu, miniatur sepeda, vas bunga, dan baki lamaran yang dipamerkan Kreativitas Seni Saung EGP. Jika dilihat sekilas, mungkin tak ada yang menyangka bahwa beragam produk berbahan dasar sampah. Ya, memang benar-benar hanya sampah kertas koran, kertas majalah, serta jenis kertas sisa lainnya. Namun, sampah-sampah kertas itu di tangan Jalu, sang pemilik ide kreatif di Saung EGP, dapat menjadi produk yang indah dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Jalu, yang berlatar belakang pendidikan di bidang ekonomi, memang suka usil mengutak-atik benda-benda di sekitarnya. Produk limbah kertas yang dijual dengan kisaran harga Rp 30 ribu hingga Rp 200.000 itu pun ternyata buah dari keusilan Jalu.

“Inspirasinya karena memang saya suka jail dan usil. Saya sering iseng-iseng membuat kerajinan dan ternyata kertas itu sangat mudah diutak-atik sehingga akhirnya menjadi barang kerajinan seperti ini,” katanya.

Pemilihan sampah kertas, lanjut Jalu, merupakan satu bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan. Selain sampah kertas terbilang mudah dijumpai, ternyata kepekaan Jalu terhadap isu pemanasan global juga menjadi alasan yang mendasari pemilihan kertas sebagai bahan dasar kerajinannya.

“Dapat ide buat kerajinan dari kertas karena kebetulan di sekitar saya banyak kertas. Dulu pernah bikin kerajinan pakai plastik, tapi terbentur masalah bahan. Kertaskan ada di mana-mana, jadi mudah mendapatkannya. Selain itu, saya juga punya misi cinta lingkungan. Kertas itu limbah yang ramah lingkungan. Terkait isuglobal warming, kita juga ingin bersahabat dengan alam. Itulah sebabnya saya memilih bahan yang ramah lingkungan,” ujar Jalu.

Setelah selesai mengikuti “Tasikmalaya Ecotourism Seminar” ini ada berita menggembirakan dari Ketua Kadin Tasikmalaya Wahyu Tri Rahmadi bahwa @pojokpendidikan (www.pojokpendidikan.com) akan dilibatkan untuk berpatisipasi dalam perencanaan dan eksekusi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah-sekolah TK. SD, SMP, SMU dan SMK di Tasikmalaya.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/enWkNtzxcMc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Presiden Fidel Ramos: Peduli, Berbagi dan Berani (Caring, Sharing and Daring)

21 Mar
 
Pertemuan saya dengan Mantan Presiden Fidel V. Ramos  pada 2012 International Conference on Business, Entrepreneurship and Management” (ICBEM2012) di San Beda College, Manila-Filiipina sangat mendalam dan tidak mudah dilupakan. Mantan Presiden Fidel V. Ramos datang dengan tujuan yang jelas, mencolok, dan nyata menjadi pusat perhatian peserta konferensi.  
Dia memiliki reputasi sebagai pembawa kedamaian. Selama masa kepresidenannya, ia diakui dalam melakukan negosiasi perdamaian dengan separatis Muslim dan Komunis serta melaksanakan peningkatan stabilitas di Filipina. Saya bertanya kepadanya tentang perannya sebagai pembawa kedamaian – serta apa artinya bagi dia.
 
“Saya telah menjadi tentara selama empat puluh dua tahun,” kembali dia bicara perlahan namun tegas. “Saya adalah seorang prajurit yang menginginkan perdamaian dan itu yang paling penting bagi kita.”  
Gaya “propaganda”-nya jitu. Dia menunjukkan kepada saya brosur resmi dari Pusat Perdamaian dan Pengembangan Ramos, yang berjudul “The Visionary” dan subjudul artikelnya berbicara tentang perdamaian dan kerja sama internasional “Menuju Hidup Yang Lebih Baik untuk Masyarakat Demokratis.”   
 
Mantan Presiden Fidel V. Ramos sekarang mendedikasikan hidupnya untuk visi kerjasama perdamaian dan pembangunan diantara Negara-negara Pasifik. Visioner ini bertindak dan melakukan kegiatannya mencakup berbicara di depan tokoh negara dan masyarakat, membuat dia harus berkelana dari Cina ke Taiwan serta dari Jepang ke Malaysia sampai ke New Haven, Connecticut. Di negara-negara tersebut, ia mengemukakan pesan globalisasi kerja sama dan komunikasi yang akan mengarah pada kemajuan kehidupan manusia.
 
Tujuan akhirnya adalah perdamaian dan pembangunan “Pax Asia-Pacifica,” sebut dia, merujuknpada artikelnya yang sesuai di The Visionary. Tentu saja, maka pertanyaannya adalah: Apa yang menghalangi jalan damai? Jawaban yang jelas adalah kesenjangan, ketidakadilan, ketidaksetaraan. Ramos memperluasnya menjadi metafora mencolok.
 
“Berapa jumlah satu ditambah satu?” Tanya dia. Dua jawab hadirin. “Dua. Tapi bagaimana kalau satu ditambah satu sama dengan nol? Atau -5 “Kesenjangan ini, katanya, menghalangi manusia dari apa yang ia tunjuk sebagai kebutuhan yang paling penting:” yaitu “makanan, air minum, dan pendidikan “.
 
Kita harus bekerja sama menuju sebuah dunia di mana satu ditambah satu sama dengan dua. Untuk tujuan ini, rencana Ramos untuk Pax Asia-Pacifica adalah salah satu “Peduli, berbagi, dan berani.” (Caring, Sharing and Daring). Melalui usaha bersama, ia berharap untuk menutup kesenjangan antara kaya dan miskin, sehat dan orang sakit, orang berpendidikan dan orang yang bodoh.
 
Dia berbicara gagasan mengenai peningkatan sesama. Dia mengambil tangan saya, dan mengangkatnya ke udara. “Engkau harus membantu sesamamu manusia,” katanya serius. “Tapi,” tambahnya sambil tertawa, “bukan istri sesamamu.” Saat pidato, Ramos hampir tidak ada yang berbeda dari orang dengan siapa saya berjabat serta berbagi percakapan di Pelataran San Beda College. Dalam 2012 International Conference on Business, Entrepreneurship and Management” (ICBEM2012) di San Beda College, Manila-Filiipina, ia memberikan pidato yang di dalamnya ia berbagi pesan yang sama tentang kerjasama internasional ke arah perdamaian dan pembangunan yang ia tulis dalam buku “The Visionary.”
 
Ramos muncul sangat manusiawi dan mudah dimengerti. Dia sangat langsung dan jujur ​​dalam pidato-serta membangun semacam hubungan percakapan dengan penonton. “Itu cara orang harus berinteraksi,” katanya. “Kita harus bertukar, dialog dan bicara tentang perdamaian.” Dia memimpin peserta konferensi untuk berjabat tangan dengan orang di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang kami. Dia juga minta untuk sekarang merangkul mereka. 
 
Karena sesungguhnya, “Bagaimana kita akan memiliki perdamaian di dunia di antara faksi-faksi yang berperang kecuali kita merangkul satu sama lain?” Menurut dia, Dasar bagi perdamaian terletak pada hubungan manusia. 
  <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/bFeYSpNzYxo” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

e-Learning for Goverment: Bersatunya Strategi, Eksekusi dan Evaluasi

15 Dec

Kemarin dan hari ini saya menjadi Tutor Pelatihan “e-Learning for Goverment” di COMLABS-ITB untuk topik “Kebijakan & Regulasi e-Learning di Pemerintahan” dan “Manajemen Strategik dan Evaluasi eLearning di Pemerintahan”. Pelatihan kali ini diikuti oleh beberapa peserta dari unsur Pemerintah Daerah yang ingin menerapkan e-Learning pada DIKLAT di daerah mereka.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah ke-2 2010-2014 (RPJM-2) salah satu tujuannya adalah: “Meningkatkan kualitas SDM, membangun kemampuan iptek, memperkuat daya saing perekonomian.” Hal itu dicapai dengan “‎KOMPETENSI PERILAKU INDIVIDU BIROKRASI PEMERINTAHAN” seperti Kualifikasi, Kompetensi dan Profesionalisme melalui Pendidikan formal, informal dan nonformal. 

Kebijakan dan Regulasi e-Learning di Pemerintahan hrs sesuai dengan “PP 101/2000 ttg Diklat Jabatan PNS” dan “Pedoman Umum Diklat Jabatan PNS 193/2001” agar memperoleh hasil yang efektif dan efisien sesuai tujuan di atas. Hal ini sesuai dengan isi Pasal 3 ayat (1),  UU 43/1999: “Pegawai Negeri (Sipil) berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan, dan pembangunan.”

Walaupun demikian, banyak kalangan memulai e-Learning tanpa pertimbangan yang matang agar kelihatan bergengsi tanpa Kebijakan & Strategi Manajemen DIKLAT yg jelas. E-Learning akan dimanfaatkan atau tidak, sangat tergantung pada Kebijakan Birokrasi serta bagaimana pengguna memandang atau menilai e-Learning tersebut.

Perlu diperhatikan sebelum memanfaatkan e-Learning untuk pendidikan dan latihan, yaitu melakukan analisis kebijakan agar menjawab apakah memang memerlukannya. Dalam analisis ini tentunya sudah termasuk apakah secara teknis dan non-teknis e-learning bisa dilaksanakan. Juga apakah secara ekonomis penggunaan e-learning ini menguntungkan (economically profitable) dan secara sosial diterima oleh birokrat/masyarakat (socially acceptable). 

Satu hal yang perlu ditekankan dan dipahami adalah bahwa e-Learning tidak dapat sepenuhnya menggantikan kegiatan DIKLAT konvensional. Tetapi, e-Learning dapat menjadi partner atau saling melengkapi dengan pembelajaran konvensional di kelas. 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=uVvhOT8zd1U?rel=0&w=640&h=450]

 

Liputan Bisnis Jabar: Ayo, bermain dan mendidik lewat pojokpendidikan.com

26 Oct

Oleh Eka Merdekawati K.S on 23 October , 2011 (http://bisnis-jabar.com/index.php/2011/10/ayo-bermain-mendidik-lewat-pojokpendidikan-com/)

Bermain bukan hanya menghabiskan waktu dan bersenang-senang semata. Hal inilah yang dibuktikan oleh pojokpendidikan.com, sebuah komunitas untuk guru yang melakukan inovasi dalam hal pengajaran untuk siswa. 

Pojokpendidikan.com sendiri melakukan pengajaran melalui aneka permainan yang diciptakan oleh para guru. Aneka permainan digital dan board game pun tersedia untuk para siswa dari tingkat SD hingga SMA.

“Permainan-permainan ini merupakan ide dari para guru untuk aneka pelajaran. Sampai saat ini ada 20 permainan digital dan 2 board game. Kebanyakan ide dari guru dan nanti ada orang yang khusus untuk menciptakan permainannya dari kami,” jelas Asep Sufyan, Trainer IT pojok pendidikan, hari ini.

Diakui Asep, hingga kini pojok pendidikan yang berdiri sejak 2008, mulai menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat seperti Karawang dan Bekasi. Asep menuturkan hingga kini permainan hasil dari pojok pendidikan masih digunakan terbatas untuk guru yang tergabung di komunitas tersebut.

“Yang pakai permainan ini guru yang tergabung di kita untuk pengajaran ke siswanya. Sampai saat ini masih dalam rencana untuk menjual. Semoga akhir tahun ini dapat terealisasikan,” terang Asep.

Salah satu permainan yang diciptakan adalah permainan fisika untuk kelas 2 SMP. Papan permainan yang berisi alur perjalanan dari rumah sampai sekolah ini mengajarkan murid untuk dapat menghafalkan rumus kecepatan.

Caranya, murid cukup mengeluarkan kartu “waktu” dan “kecepatan” untuk mendapatkan jumlah kotak jalan yang perlu ditempuh menuju sekolah. Dengan cara seperti ini, ujar Asep, murid dapat lebih mudah menghafalkan rumus kecepatan yang diajarkan oleh guru.

Permainan lain adalah board game yang mengajarkan murid untuk belajar Bahasa Sunda. Permainan yang bisa digunakan untuk siswa SD hingga SMA ini mengajarkan aneka istilah bahasa sunda yang selama ini belum diajarkan dalam kurikulum.

Jadi, siapa bilang bermain itu tidak mendidik?

<iframe width=”640″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/aO2j5CG7I4E” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Liputan Lain: