RSS
 

Archive for the ‘Puisi’ Category

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

07 May

Kami tahu engkau telah berusaha sekuat tenaga 

Mempersiapkan diri menghadapi salah satu ujian dalam hidupmu

Engkau ingin menjadi ahli di bidang sipil juga komputer

Di lain waktu, engkau ingin menjadi wartawan atau reporter

 

Di rumah kita banyak buku yang telah engkau baca dan tamatkan

Mulai dari hikayat Nabi, Napoleon, Mac Arthur, bahkan Soekarno dan Hatta

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Doa kami bersama usaha dan tekadmu untuk dapat mencapai tujuan hidupmu

 

Catatan: 

Mohon doanya putra kami, Muhammad Firman Nugraha, dapat melewati Ujian Nasional 7-9 Mei 2012 dan mencapai apa yang dicita-citakannya selama ini….. Amin Ya Robbal Alamin…..

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/7xo0QlavhW0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Re-post: Kartini….Adakah cita-citamu sudah tercapai kini???

21 Apr

 

Engkau mungkin dikagumi wanita-wanita yang kucintai
Walaupun waktu memisahkan eramu dengan jati diri….
Tidakkah kau mengerti ada banyak salah persepsi
Diantara asa dan perjuangan penuh emosi

Kartini,mungkin jiwamu beserta kaum yang kami hormati
Namun arah itu telah jauh dari makna emansipasi
Yang kami coba untuk selalu memaknai
Bahwa hidup itu bukan untuk nafsi-nafsi

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/E6_a8dc1QlQ” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Kuingin Umurku Menjadi Tabungan Akhiratku

18 Mar

Ku tahu masih banyak tabungan yang harus kulaju
Antara kepentingan benalu, nafsu, dan qalbu
Seiring waktu kehidupan fana kencang berlalu
Tamatkan halaman perjalanan yang membiru

 

Ingin kutengok buku tabungan amalku
Terlihat masih banyak bolong sanubariku
Sungguh, itu bukan kesengajaan tentu
Kuingin Umurku Menjadi Tabungan Akhiratku

 

Note:
Dihaturkan terima atas semua doa, kasih sayang, dorongan dan kerja sama kepada semua keluarga, sahabat, handai tolan, teman, kolega dan semua fihak yang pernah bersilaturahim dengan saya

 

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/FQbwj368Vas” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Dear My Lovely Daughter

09 Feb

Dear my lovely daughter

Understood that you want to reach 

many stars in your life 

Choose several brightest

stars that you can reach

Don’t forget that you

still stands on the earth,

 with your family who loves you


 

Aryasa Tamara: Intruder in the Darkness using BlackBox and Mobile Phones as a Supporting System

06 Feb

GSM (Global System for Mobile Communication) is a digital cellular communication technology. It is widely applied in many kinds of mobile communication tool, such as mobile phone. The technology uses microwave and signal delivery which are divided by time. For the result, the information signal sent will reach its destination.  Nowadays, GSM is known as the largest cellular technology that is widely used by the people around the world. Thus, it used as the global standard for mobile communication.

                GSM security mechanism is implemented in three different system components. In order to do wire-tapping, we use information databases and identity of each GSM customer stored in the authentication center in the form of International Mobile Subscriber Identity (IMSI), TMSI (Temporary Mobile Station Identity), LAI (Logical Area Identity) and Ki from those three system components. Therefore, the recommendation from the Government, Badan Intelijen Indonesia (BIN), Polri, and Mobile Vendors are needed to legalize the process.

Along with the development of information and communication technology which open the space line between communication freedoms, there are many tendencies to abuse the technology to commit crime, such as terrorism or criminal.  We can not deny that telecommunication media, such as mobile phone, is one of the fastest communications media ever which is not limited by distance and it is also privately in information exchange between individuals.


Due to limitations in obtaining private information, it is difficult for the relevant parties to solve the problems. Not only they could only follow up the problems but they also have a difficulty to prevent those problems. As the students who care about this matter, we have a desire to help to solve the problems by trying to make an application and designing the hardware which have function as a mediator in efforts to find the necessary data and information.

We call the system Intruder in the Darkness (Intrusion in the shadows). It is software that can perform scanning phone number, man-in-the-middle attack and phone tracking. It can be used for searching accurate information of many crimes, such as terrorism that are in the planning and has been going on. Thus, they can be prevented or resolved.  Not only the system is worked using a BlackBox but it is also stored inside it. The BlackBox, which is a hardware designed to fulfill the system needed, is connected with a PC.

For twenty-one years, A5 / 1, the same encryption, has been used to protect the privacy of calls under the GSM standard.  With the standard that covers 80% of users from around the world, of course, the GSM network is considered as the most secure network.  But finally, Karsten Nohl, a Germany researcher, has succeeded to break the GSM security code. According to what has been done by Nohl, it can be assumed that GSM security mechanism is implemented in three different system components that is:

1. Subscriber Identity Mobile (SIM) inside the Mobile Station (MS). SIM contains IMSI, Ki, A8, A3, and PIN.

 2. Handset GSM or the MS (mobile phone). Handset contains A5

 3.  GSM network (such as ProXL, IM3 and Indosat).  Encryption algorithms (A3, A5, and A8) are also contained inside the network operator. Network Authentication center contains database of the identity and authentication information of the customers.  The information are in the form of IMSI, TMSI, LAI (Logical Area Identity), and Ki of each customer.

From those three system components, we use the database to help us to do wire-tapping.

The algorithm was first developed in 1987 when GSM can only be used in Europe. At the time the algorithm was called A5/1.  In order to improve the safety of the algorithm, the development of it has been continued. For the result, in 1989, algorithm A5 / 2 has successfully developed.  Both algorithms are highly classified at that time by the parties and the GSM service provider. Iin 1994, the information about these algorithms finally can be known by the public. Then, in 1999, it has been reverse engineered successfully through an ordinary mobile phone by Marc Briceno.  Even so, in 2000, when mobile phone service began to grow rapidly and its use expanded, algorithm A5 / 1 eventually be used to secure voice communications. Currently, the development of the algorithm has reached the third generation that is algorithm A5 / 3 which is different from the first ones.  Algorithm A5 / 3 is a block algorithm which was adapted from chippers Kasumi algorithm.  Kasumi made by Secure Algorithms Groups of Experts (SAGE, part of the ETSI, an European standards department. KASUMI itself is the result of the development of MISTY1algorithms.

Intruder in the Darkness has a function to reduce complicated bureaucracy in searching information of mobile phone users in a faster time (realtime). It also has a function to optimize the utilization of cellular phone (cell phone) as a flexible tool in monitoring people who are suspected or has become a suspect in a crime, especially in criminal and terrorism. For the result, the authorities can prevent and tackle crime, criminality and terrorism occurred. 


 

Puisi: Sedu Sedan Antara Tawa dan Airmata

05 Feb

Sudah kering kelopak jiwamu terbawa seka
Seketika kelam sangsaka kelana meratap hampa
Sedu sedan antara tawa dan airmata
Simbah harapan terpaku karma tergolek kasta

Simpan rindu semesta langit karsa
Sampaikan do’a pengiring kalbu kantata
Suguhkan arti semanis hantaran takwa
Sembilu kala derita ruang maya nan hampa


 

Puisi: Pojok Pendidikan Mengabdi

02 Jan
Yang kami lakukan adalah sesuatu yang nisbi
Dan tahu itu hanya sekedar menginspirasi
Setetes ilmu, nyawa pendidikan bagi guru kami
Profesi pendidik yang penuh kecintaan dan dedikasi

Memang tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa ini
Namun secara moral tugas setiap orang secara hakiki
Doakan kami sabar  membimbing dengan nurani
Terima kasih untuk pendidik dengan sepenuh hati

 

Hari Ibu dan Peringatan Pernikahan Orangtua yang ke 50

24 Dec
Dua hari yang lalu adalah Hari Ibu dan hari ini adalah “Peringatan Pernikahan Orangtua yang ke 50”. Untuk mengingat momen spesial ini saya persembahkan puisi yang berjudul “Bersatu Dalam Keheningan Rindu” ebagai berikut:
Tak terasa lima puluh tahun telah berlalu
Cinta dan kasih sayangmu menjadi padu
Sebarkan nikmat ikatan resmi dalam bahasa kalbu
Membawa kami dalam biduk dan sauh yang bersatu
Mohonkan maaf kami belum bisa menghentikan deru
Hati dan tindakan kami yang masih penuh tanda seru
Namun hidmat dan doa menyertai sepanjang waktu
Sungguh bahagia tak terperi hantarkan bakti kepadamu
<iframe width=”640″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/o62USXfcWCc?rel=0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Artikel yang terkait:
 

Sekarang atau Nanti

20 Nov

Jika waktu itu bisa kita hentikan

Tak ada sesal yang menghantam

Selipkan karsa dalam sentuhan

Semburat asa bertumpah ragam

Sekarang aksi sampaikan jalan

Tepi hati kerjakan ihsan

Pikirkan nanti sertakan azam

Karma jiwa sangsikan badan

 

Sinta Ridwan: “Berteman Dengan Kematian”, “Bersahabat Dengan Makna Kehidupan”

14 Oct

JIKA ada ungkapan, bahwa musibah adalah berkah, rupanya itu bukanlah mengada-ada atau ucapan pelipur lara. Mungkin banyak orang yang pernah ditimpa misibah, kemudian ia mengambil hikmahnya dan akhirnya ia sadar bahwa itu berkah.

Orang miskin belum tentu sengsara, orang sakit belum tentu menderita. Banyak orang miskin dan orang sakit justru bisa hidup bahagia. Mengapa? Jawabanya dapat disimak ketika Dewi Kunti berdialog dengan Krishna dalam epos Mahabharata. Suatu hari Krishna berkata, “Bibi, tampaknya bibi hidup menderita, hidup dalam serba kekurangan. Kalau bibi mau, aku akan beri bibi hidup dengan segala kemewahan.”

Apa jawab Kunti? “Nak, bibimu ini tidak menginginkan kemewahan duniawi. Bibi justru merasa bahagia dalam penderitaan. Karena dengan hidup seperti ini, bibimu selalu berdoa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang sehingga merasa selalu dekat dengan Tuhan. Adakah yang lebih bahagia selain dekat dengan Tuhan?”

Dialog Krishna dan Kunti itu rupanya memiliki makna yang sama, jika kita menyimak pengakuan Sinta dalam bkunya: “Berteman Dengan Kematian”. Di atas planet bumi ini, mungkin tidak banyak orang seperti Sinta. Seorang gadis pengidap lupus, suatu penyakit yang setara dengan HIV/AIDS yang belum ada obatnya. Penyakit itu membuat tubuhnya melemah dari hari kehari.

Penampilannya  selalu  percaya   diri  dan  penuh   senyum.  Jika  Anda pertama kali melihatnya, mungkin  tak  akan menyangka,  jika   gadis berusia 26 tahun  ini  adalah  penyandang lupus, penyakit  yang   hingga kini belum ada  obatnya. 

Namun ironisnya, penyakit itu justru membuat Sinta tampak tegar. Penyakit itu membuat ia sadar, bahwa Dewa Kematian selalu tersenyum, melambaikan tangan di depannya. Karena itu pula, Sinta ingin memberi makna hidup ini agar lebih berarti. Mumpung masih hidup, Sinta ingin berbuat sesuatu yang berguna dan penuh makna.

Itu bisa ia buktikan, terbukti ia berhasil merogoh mutiara hidup dalam penderitaannya. Sinta yang lahir dari keluarga broken home dapat membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Bahkan ia menanggung kuliah adiknya, dan justru memberikan semangat hidup buat orang-orang di sekelilingnya. Jangankan orang sakit, orang sehatpun jarang seperti itu.

Sinta yang baru menamatkan kuliah S2 di jurusan  Filiologi Universitas Padjajaran ini   menganggap obat yang paling mujarap dari segala penyakit adalah rasa  bahagia.“ Jadi kalau kita sakit, jangan dirasakan kalau kita sakit, tetapi kita  harus berpikir sesuatu yang menyenangkan dan terus tersenyum walaupun kita  sedang sakit,” ucap Sinta.

Pengalaman Sinta dengan penyakit lupus yang telah dideritanya sejak  tahun 2005 lalu dia catatkan dalam sebuah buku otobiografi berbentuk  novel berjudul “Berteman  Dengan Kematian”.  Dalam buku itu Sinta menceritakan tentang perjuangan dirinya untuk berjuang  melawan lupus yang  bersemayam di dalam  tubuhnya.

Untuk mengisi hari-harinya wanita yang hobi membuat puisi ini berusaha  untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Salah satu upaya Sinta untuk  memberikan arti hidupnya bagi orang lain dan bangsa ini adalah dengan cara  mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang Fiolog.

Dengan ilmu itu Sinta membuka kelas aksara kuno di Gedung  Indonesia Menggugat, di  Jalan Perintis  kemerdekaan Bandung. Kelas aksara kuno atau yang disingkat kelas Aksakun ini  pertama kali dibentuk pada tahun 2009 atas dasar gagasan dari seniman-seniman  beraliran  metal yang beralamat di Ujung Berung, Bandung.

Dari dorongan para seniman yang biasa memainkan musik cadas itulah kelas aksakun  berdiri dengan jumlah murid sebanyak 35 orang. Pengikut aksakun mengalami  pasang surut. Tercatat  dari awal beridiri hingga sekarang orang-orang yang pernah naskah kuno oleh  Sinta sekitar 200 orang.

Murid yang mengikuti kelas aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat  umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas  aksakun ini adalah untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang  merupakan warisan masa lalu.

“Tidak ada masa kini tanpa adanya masa lalu, dan itu semua  tertuang di dalam naskah kuno,” ungkapnya. Sinta membebaskan teman-temanya yang  mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat sesuai dengan keinginannya masing-masing.

Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno  untuk dijadikan design dalam sebuah  kaos, dan poster-poster. Selain itu ada juga murid yang membuat lirik lagu yang mengadaptasi dari  naskah-naskah kuno.

Menurut Sinta di dalam naskah kuno itu terdapat  berbagai macam kandungan diantaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat  menghargai alam, dan sastra orang-orang masa laliu.

Kecintaan Sinta terhadap naskah kuno mengalahkan rasa  sakit akibat lupus. Sinta mengaku jika sedang tidak enak badan tidak  menyurutkan dia untuk absen tidak mengajar kelas aksara kuno, “karena dengan  mengajar saya menjadi bahagia dan itu bisa mengalihkan rasa sakit saya,”  akunya.

Selain itu Sinta di tengah keterbatasan fisiknya  akibat lupus itu bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan  diberi nama ensiklopedia naskah kuno. Tujuan dari pembuatan museum digital itu  adalah untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan  mudah.

Sinta  beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun membaca  naskah-naskah kuno itu karena sulitnya mengakses catatan-catatan orang-orang  dari masa lalu yang tersebebar di seluruh penjuru nusantara. Dengan hadirnya  museum digital itu akan memudahkan orang-orang untuk mempelajari sejarahnya  langsung dari sumber sejarah tanpa harus berusasah payah pergi ke museum.

Sumber:

  1. www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=44373
  2. www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html

Related articles, courtesy of Zemanta: