RSS
 

Posts Tagged ‘Kerja’

#ManajemenPembebas Rekrutmen: Biar Lambat Asal Selamat atau Biar Cepat Asal Manfaat

04 Oct

 

Sering kita berpikir seorang staf berkinerja rendah dapat diselamatkan, kemudian membantu mereka membalikkan keadaan bisa kaya bermanfaat.
 
Tetapi jika Anda akhirnya harus melakukan PHK kepada staf, Anda berutang kepada tim untuk kembali dan melihat apakah mempekerjakan orang yang benar-benar bekerja.
 
Setelah semuanya berlalu, orang berpikir bahwa anggota staf “yang tak berguna” adalah direkrut hanya beberapa bulan yang lalu!
 
Dalam memikirkan proses perekrutan Anda, simak dulu siapa yang terlibat. Banyak pengusaha yang salah dalam proses perekrutan, karena mereka menghabiskan sebagian besar waktu berbicara tentang perusahaan mereka sendiri dan tidak cukup mendengarkan kandidat.

 

Pikirkan tentang apa pertanyaan yang akan Anda ajukan. Apa yang tidak Anda ketahui pada wawancara yang terbukti menjadi penting pada waktunya? Pertanyaan apa yang harus Anda ganti?

 
Pikirkan setelah wawancara Anda proses sebagai berikut: Apakah Anda memeriksa referensi dari kandidat? Apakah Anda memeriksa karakter kandidat di media sosial seperti facebook atau Twitter?
 
Apakah Anda membutuhkan tingkat selanjutnya dari pengujian? Apakah Anda menjalankan uji coba kandidat (OJT/magang) dengan staf?
 
Pertimbangkan segalanya……….”Rekrutlah seseorang dengan hati-hati, namun jangan melakukan PHK sama sekali”………..

 

 

Kesuksesan Seorang Ayah: Antara Karir dan Keluarga

09 Jun

“A wise man is cured of ambition by ambition itself; his aim is so exalted that riches, office, fortune and favor cannot satisfy him”  Samuel Johnson quotes

Kemarin saya mengantar dan mendampingi Firman tes masuk di salahsatu SMP di Bandung. Tes hari itu adalah penguasaan TIK dan merupakan tes terakhir setelah sebelumnya mengikuti TPA dan Bahasa Inggris. Sengaja saya mendampinginya setelah sebelumnya harus berada di belantara Sumbawa karena suatu pekerjaan.

Ya……Setiap zaman ada masanya hubungan orang tua dan anak direpresentasikan. Semua ada “base line” dan “key word” yang tetap sama yang direpresentasikan dengan peribahasa:

“Kasih sayang ayah sepanjang langkah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu”.

Benar atau salah, semuanya bermula dari hati (baca: kalbu). Ayah yang sabar (baca: bagi saya ini susyaaah….) pada buah hatinya serta ibu yang selalu merindu pada putra-putrinya dan tawaddu, merupakan salah satu “Key Performance Indicator / KPI” dalam hubungan yang indah namun tidak sesederhana yang kita bayangkan tersebut……..

Banyak para ayahanda melihat perannya di sisi keluarga dari sisi “Hard Power” dan “Maskulinitas”. Adapula yang melihatnya dari sisi seorang “Commander In Chief” membawa biduk keluarga agar tercapai ke pelabuhan bahagia.

Sampai saat ini…setelah bekerja di beberapa perusahaan Multi Nasional (terutama Amerika), dalam diri sudah ditekadkan bahwa keseimbangan kepentingan keluarga dan perusahaan adalah sangat penting..atau sedikit lebih besar….he…he. Ini tidak lepas karena seringnya membaca buku dan melihat film yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa seorang manusia pada dasarnya bermula dan berakhir pada keluarganya.  

Statistik dan fakta: Kerja Normal/Wajib adalah 8 jam/33,3%, sisanya yang 16 jam/66,66% adalah milik keluarga ….walaupun harus dikurangi oleh waktu2 yang berhubungan dengan transportasi, komunikasi dll yang pada dasarnya untuk keluarga juga…. Hal ini ditambah pengalaman beberapa “expat” yang pernah bekerja sama (atau sama-sama kerja) dan menjadi panutan karena komitmennya yang sama besar terhadap keluarga dan perusahaan.

“In dwelling, live close to the ground. In thinking, keep to the simple. In conflict, be fair and generous. In governing, don’t try to control. In work, do what you enjoy. In family life, be completely present.”  Tao Te Ching quotes

http://www.youtube.com/embed/5Tc1992kI3w

 

Djadja Sardjana Life as Professional

05 Aug

professional (as recite from Wiki) is a member of a vocation founded upon specialized educational training. Examples of professions include  medicinelaw,  engineering  and  social work.  The word professional traditionally means a person who has obtained a degree in a professional field. The term is used more generally to denote a white collar worker, or a person who performs commercially in a field typically reserved for hobbyists or amateurs.

In western nations, such as the United States, the term commonly describes highly educated, mostly salaried workers, who enjoy considerable work autonomy, a comfortable salary, and are commonly engaged in creative and intellectually challenging work.[1][2][3][4] Less technically, it may also refer to a person having impressive competence in a particular activity.[5]

Because of the personal and confidential nature of many professional services and thus the necessity to place a great deal of trust in them, most professionals are held up to strict ethical and moral regulations.

Definition

Main criteria for professional include the following:

  1. Expert and specialized knowledge in field which one is practicing professionally.[6]
  2. Excellent manual/practical and literary skills in relation to profession.[7]
  3. High quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavors.
  4. A high standard of professional ethics, behavior and work activities while carrying out one’s profession (as an employee, self-employed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc.). The professional owes a higher duty to a client, often a privilege of confidentiality, as well as a duty not to abandon the client just because he or she may not be able to pay or remunerate the professional. Often the professional is required to put the interest of the client ahead of his own interests.
  5. Reasonable work morale and motivation. Having interest and desire to do a job well as holding positive attitude towards the profession are important elements in attaining a high level of professionalism.
  6. Participating for gain or livelihood in an activity or field of endeavor often engaged in by amateurs b : having a particular profession as a permanent career c : engaged in by persons receiving financial return[6]
  7. Appropriate treatment of relationships with colleagues. Special respect should be demonstrated to special people and interns. An example must be set to perpetuate the attitude of one’s business without doing it harm.
  8. A professional is an expert who is master in a specific field.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nc7oX71IGZM&w=640&h=390]

You also can see the long version below:

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dYC6lqapKLI&w=640&h=510]

References

  1. ^ Gilbert, D. (1998). The American class structure: In an age of growing inequality. Belmont, CA: Wadsworth Press.
  2. ^ Beeghley, L. (2004). The structure of social stratification in the United States. Boston: Allyn & Bacon.
  3. ^ Eichar, D. (1989). Occupation and Class Consciousness in America. Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 978-0-313-26111-4
  4. ^ Ehrenreich, B. (1989). Fear of falling: The inner life of the middle class. New York: Harper Prennial.
  5. ^ definition of professional from Oxford Dictionaries Online. Askoxford.com. Retrieved on 2011-01-29.
  6. a b Professional – Definition and More from the Free Merriam-Webster Dictionary. Merriam-webster.com (2010-08-13). Retrieved on 2011-01-29.
  7. ^ Professional | Define Professional at Dictionary.com. Dictionary.reference.com. Retrieved on 2011-01-29.
 

Pindahan Kantor: Rumah keduaku di Ibukota

02 Apr
Minggu-minggu ini kami disibukkan oleh kegiatan Pindahan Kantor. Rumah keduaku di Ibukota ini pindah dari BRI-2 Lantai 30 ke Lantai 10.

Kantor kami di lantai 30 telah ditingggalkan dengan membawa kenangan indah, mengharukan dan menyenangkan…..Banyak teman, kolega dan sahabat telah bergabung ataupun menyebar setelah “singgah” di rumah kedua mereka ini………..

Ruanganku yang bernomor 15 di lantai 30 pun telah kosong dan memberikan ingatan yang bernas akan pekerjaan berikut suka dukanya…….. Tidak ketinggalan “artifak” rasa dan pikiran yang menyertainya………Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan

Sekarang kami menempati lantai 10…….Perubahan itu nyata dan menuju yang lebih baik. Suasana dan fasilitas baru meningkatkan semangat yang lain dengan tujuan peningkatan kinerja ……..Itu yang diharapkan dan menjadi tujuan dari suatu institusi dimana kita bekerja.




 

Apa yang kita cari dari suatu pekerjaan?

13 Feb

Apa yang kita cari dari suatu pekerjaan?
Pertanyaan strategis ini saya tanyakan sebagai pembuka artikel ini sebagai pancingan atau pencerahan bagi kita yang pernah, sedang dan akan bekerja…….Hal ini saya bahas sebagai renungan setelah pertama kali bekerja di salah satu penerbangan nasional tahun 1991, dimana gaji pertama saya saat itu hampir 70% habis untuk biaya hidup di Jakarta sedang istri tinggal di Bandung. Namun ada suatu kebanggaan karena saat itu dapat “mengalahkan saingan” dari beberapa PTN yang terkenal dan bisa keliling Indonesia secara gratis….. :-). Saat ini setelah mengarungi berbagai ombak kehidupan, ingin rasanya berbagi suatu perspektif tentang makna suatu pekerjaan……


Menurut saya, ada beberapa komponen yang perlu kita perhatikan sebelum masuk kerja sebagai berikut:

a. Kesempatan Belajar:
Kelihatannya naif, tapi terasa sekali bahwa setelah lulus ada kekosongan atau “gap” antara dunia kerja dengan pendidikan. Kita ternyata harus berhubungan bukan hanya sekedar dengan Rangkaian Listrik, Elektronika, atau Propagasi Antena. Namun juga harus bisa bekerja secara tim, berjiwa proaktif, berbicara atau bekerja sama dengan orang asing, menyusun jadwal atau laporan dan lain-lain. Hal ini dapat diperoleh dari institusi atau perusahaan yang mapan dan “well organized” atau juga sedang berkembang namun memberi kesempatan untuk pengembangan diri pegawainya. Itulah mengapa saya niatkan pertama kali lulus untuk bekerja di tempat seperti ini agar memberi nilai tambah…..

b. Lokasi yang tepat:
Kadang kita lupa bahwa tempat kita bekerja selama minimal 8 jam sehari (baca: 33,3% dari hidup kita)memerlukan lingkungan yang tepat. Mulai berangkat sampai pulang kerja harus kita perhatikan semua biaya (termasuk kerugian) dan penghasilan/keuntungan yang kita peroleh. Jangan lupa perhatikan juga “emotional atau social cost” yang kita tanggung dari pengambilan keputusan tsb. Sebagai contoh saya pernah memutuskan dan memilih bekerja di Bandung walau gajinya lebih kecil dengan alasan keluarga serta ingin memperoleh kesempatan pengembangan diri…..

c. Nama besar:
Kadang kita perlu suatu “papan loncat” (baca: spring board) agar kita tercatat (terutama di CV)pernah bekerja atau terlibat dengan institusi atau perusahaan besar. Bisa juga itu berupa kerja sama dengan tokoh besar yang bisa merekomendasikan kita agar dapat pekerjaan yang lebih baik.

d. Gaji besar:
Bagi saya hal ini relatif, karena setelah bekerja selama ~18 tahun (di beberapa perusahaan yang berbeda), dirasakan bahwa kebahagiaan pada saat pertama kali bekerja sampai sekarang relatif hampir sama. Karena hal itu sesuai dengan rumus “High Risk High Gain” karena perusahaan yang kita tempati bukan milik kakek atau nenek kita. Kecuali kalau perusahaan itu milik pribadi, maka kita bisa memperlakukan institusi atau perusahaan sesuai keinginan kita.

e. Identifikasi Diri:
Bagi laki-laki (terutama yang sudah berkeluarga) bekerja bukan hanya urusan mencari uang namun merupakan identifikasi diri. Ada hal-hal di luar material yang membuat dia bahagia dan berharga dihadapan komunitasnya agar tetap eksis. Pekerjaan (baca: kegiatan) apapun yang kita pilih asal memenuhi azas ini akan membuat kita bahagia dan berharga. Sebagai contoh, saat ini saya punya impian kembali sebagai guru (juga dosen) karena merasa karir ini (termasuk jadi orangtua) tidak pernah berakhir kecuali maut memisahkan kita.

Sekian…….