RSS
 

Posts Tagged ‘Leadership’

Djadja Sardjana Life as Professional

05 Aug

professional (as recite from Wiki) is a member of a vocation founded upon specialized educational training. Examples of professions include  medicinelaw,  engineering  and  social work.  The word professional traditionally means a person who has obtained a degree in a professional field. The term is used more generally to denote a white collar worker, or a person who performs commercially in a field typically reserved for hobbyists or amateurs.

In western nations, such as the United States, the term commonly describes highly educated, mostly salaried workers, who enjoy considerable work autonomy, a comfortable salary, and are commonly engaged in creative and intellectually challenging work.[1][2][3][4] Less technically, it may also refer to a person having impressive competence in a particular activity.[5]

Because of the personal and confidential nature of many professional services and thus the necessity to place a great deal of trust in them, most professionals are held up to strict ethical and moral regulations.

Definition

Main criteria for professional include the following:

  1. Expert and specialized knowledge in field which one is practicing professionally.[6]
  2. Excellent manual/practical and literary skills in relation to profession.[7]
  3. High quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavors.
  4. A high standard of professional ethics, behavior and work activities while carrying out one’s profession (as an employee, self-employed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc.). The professional owes a higher duty to a client, often a privilege of confidentiality, as well as a duty not to abandon the client just because he or she may not be able to pay or remunerate the professional. Often the professional is required to put the interest of the client ahead of his own interests.
  5. Reasonable work morale and motivation. Having interest and desire to do a job well as holding positive attitude towards the profession are important elements in attaining a high level of professionalism.
  6. Participating for gain or livelihood in an activity or field of endeavor often engaged in by amateurs b : having a particular profession as a permanent career c : engaged in by persons receiving financial return[6]
  7. Appropriate treatment of relationships with colleagues. Special respect should be demonstrated to special people and interns. An example must be set to perpetuate the attitude of one’s business without doing it harm.
  8. A professional is an expert who is master in a specific field.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nc7oX71IGZM&w=640&h=390]

You also can see the long version below:

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dYC6lqapKLI&w=640&h=510]

References

  1. ^ Gilbert, D. (1998). The American class structure: In an age of growing inequality. Belmont, CA: Wadsworth Press.
  2. ^ Beeghley, L. (2004). The structure of social stratification in the United States. Boston: Allyn & Bacon.
  3. ^ Eichar, D. (1989). Occupation and Class Consciousness in America. Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 978-0-313-26111-4
  4. ^ Ehrenreich, B. (1989). Fear of falling: The inner life of the middle class. New York: Harper Prennial.
  5. ^ definition of professional from Oxford Dictionaries Online. Askoxford.com. Retrieved on 2011-01-29.
  6. a b Professional – Definition and More from the Free Merriam-Webster Dictionary. Merriam-webster.com (2010-08-13). Retrieved on 2011-01-29.
  7. ^ Professional | Define Professional at Dictionary.com. Dictionary.reference.com. Retrieved on 2011-01-29.
 

Djadja Sardjana Life as Lecturer

04 Aug

“I have come to believe that a great teacher is a great artist and that there are as few as there are any other great artists. Teaching might even be the greatest of the arts since the medium is the human mind and spirit.” ~ John Steinbeck quotes

(American Novelist and Writer, Nobel Prize for Literature for 1962, 1902-1968)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=E-xf_X0-g8Q&w=640&h=390]

The Long Version can be seen below: 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=3DOv_H2m11g&w=640&h=510]

 

Pengembangan Ilmu Administrasi dan Manajemen Pendidikan

25 Jul

[slideshare id=2753709&doc=tugas-dasar-administrasi-pendidikan-prof-djaman-by-djadjasardjana-13nov09-rev1-1-091220083839-phpapp01&type=d]

Terdapat minat besar dalam manajemen pendidikan di bagian awal abad 21. Hal ini karena kualitas kepemimpinan dipercaya secara luas membuat perbedaan yang signifikan kepada sekolah dan siswa. Di banyak bagian dunia, ada pengakuan bahwa sekolah membutuhkan pemimpin dan manajer yang efektif jika mereka ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada pelajar mereka. Ketika ekonomi global mengalami resesi, pemerintah lebih menyadari bahwa aset utama mereka adalah orang-orang yang kompetitif dan semakin tergantung pada sebuah sistem pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja terampil. Hal ini memerlukan guru-guru yang terlatih dan berkomitmen, dan pada gilirannya, memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang sangat efektif dan dukungan lain manajer senior dan menengah (Bush, in press).

Bidang manajemen pendidikan adalah pluralis, dengan banyaknya kekurangan perspektif dan kesepakatan yang tak terelakkan mengenai definisinya. Salah satu kunci perdebatan apakah manajemen pendidikan telah menjadi bidang yang berbeda atau hanya sebuah cabang studi yang lebih luas dari manajemen. Sementara pendidikan dapat belajar dari manajemen lain, manajemen pendidikan harus terpusat tujuan pendidikan. Tujuan atau tujuan ini memberikan arti penting arah untuk mendukung manajemen sekolah. Kecuali keterkaitan antara tujuan dan manajemen pendidikan yang jelas dan dekat, ada bahaya ‘Managerialism’, “Penekanan pada prosedur dengan mengorbankan tujuan pendidikan serta nilai-nilai ” (Bush, 1999:240). 1. Konsep Manajemen Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan ‘to Manage’ sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization” sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘Manajemen’ diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih jelas.

 

Filsafat pendidikan tidak berada “di-langit”, tetapi dalam suatu konteks historis dan sosial

21 Jul
lecture on western & islamic philosophy

Lecture on western & islamic philosophy

Pengertian Falsafah Pendidikan:

  • Filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan pada wilayah tertentu dari usaha manusia.
  • Melibatkan refleksi kritis untuk mempengaruhi dan mengarahkan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang disebut sebagai pendidikan.
  • Filsafat pendidikan tidak berada “di-langit”, tetapi dalam suatu konteks historis dan sosial.

Mengapa Kita Membutuhkan Falsafah Pendidikan?

  • Semua pendidik harus memiliki  falsafah pribadi yang mewarnai cara mereka bertindak
  • Membenarkan atau menjelaskan pendidikan  secara  logis & sistematis

Fungsi Falsafah Pendidikan

  • Membawa penafsiran baru serta menganalisis, memperbaiki, memodifikasi konsep-konsep dan prosedur pendidikan yang ada
  • Bertindak sebagai “ruang pembersih” untuk menganalisis dan menjelaskan ide-ide dan masalah-masalah pendidikan
  • Menawarkan sumber & bimbingan etis bagi pendidikan
  • Menginduksi kebiasaan berpikir seperti toleransi, tidak memihak, dan sikap tidak menghakimi

[slideshare id=2778325&doc=philosophyofeducation-bapinger-26dect09-091226081541-phpapp02]

 

Karir Apa Yang Anda Pilih?

18 Jul
Anda and Paper Airplanes

Image by bre pettis via Flickr

Fase Karier (Refer: Andrew Mayo):

  1. Discovery Phase: Fase ini dialami Anda yang berusia 20 tahunan. Berlangsung sekitar sepuluh tahun pertama dalam dunia kerja. Di tahap ini, Anda adalah angkatan kerja baru karena kemungkinan besar Anda baru lulus dari bangku perguruan tinggi.
  2. Consolidation Phase: Fase ini biasanya berlangsung pada usia 30-40 tahunan. Ada yang memulai fase ini lebih awal dan ada pula yang terlambat. Demikian pula dengan akhir fase ini, ada yang mengakhirinya lebih awal, dan ada pula yang terlambat.
  3. Maturity Phase: Inilah fase terakhir dari sebuah perjalanan karier. Fase ini banyak diisi oleh mereka yang memasuki usia 50an ke atas.

Apa Yang Perlu Kita Fahami:

  1. Kadang-kadang pilihan karir itu berubah sesuai beranjaknya waktu dan keadaan yang mempengaruhinya.
  2. Karir itu hanya objek dan yang jadi subjek adalah kita sebagai umat manusia.
  3. Semestinya didasari oleh kecintaan, tanggung jawab dan komitmen yang kuat.
[slideshare id=2341748&doc=presentasi-wisuda-itenas-29mar08-091025114233-phpapp02]
 

Biaya Pendidikan: Berkah atau Masalah?

11 Jul
Adam Smith

Adam Smith

Setiap diri manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa mengenal usia dan tanpa dibatasi oleh bangunan gedung sekolah yang megah yang memisahkan antara si kaya dan si miskin walaupun itu membutuhkan Pembiayaan Pendidikan yang cukup besar. Falsafah Pendidikan yang memanusiakan manusia (humanize the human being) harus tetap menjadi pandangan hidup dalam dunia pendidikan sehingga akan tercipta pendidikan yang bebas secara politik, sejahtera secara ekonomi, adil secara hukum dan partisipatif secara budaya

Menurut Adam Smith, Human Capital berupa kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan. Perolehan ketrampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik “Rate of Return” yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan Human Capital ada hubungan Linier antara Investasi Pendidikan dengan “Higher Productivity & Higher Earning”. Manusia sebagai modal dasar yang diinvestasikan akan menghasilkan manusia terdidik yang produktif dan meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan.

Itu masalahnya, ternyata Pembiayaan Pendidikan (terutama Pendidikan Tinggi) dilihat sebagai “Lahan Hijau” (Green Field),  yang sumber utamanya melalui pembebanan pada mahasiswanya.  Hal ini menciptakan “kelangkaan barang di pasar” Pendidikan Tinggi sehingga timbul “koreksi pasar” (baca: kenaikan harga) terutama di banyak PTN terkenal yang mungkin sudah berfikir bahwa “The Price is Right” (baca: Ada Harga Ada Rupa). Di satu sisi memang ini tidak salah karena ada fenomena  ”Supply&Demand”  dengan keterbatasan daya tampung Perguruan Tinggi dengan animo masyarakat yang tinggi.

Menyikapi hal di atas, sebagai orangtua yang juga punya anak baru masuk PTN ternama  saya sangat mengerti perasaan yang diungkapkan pada Artikel Kompas dengan judul: [BIAYA KULIAH] “Nak, Urungkan Niatmu Jadi Sarjana” http://t.co/LJpM453. Hal itu diakibatkan “Pasar Pendidikan Tinggi” mengalami gejala  telah mengikuti mekanisme pasar dimana harga bergerak bebas sesuai hukum permintaan dan penawaran (supply and demand). Jika suplai lebih besar dari demand, maka harga akan cenderung rendah. Begitupun jika demand lebih tinggi sementara suplai terbatas, maka harga akan cenderung mengalami peningkatan

Menarik pendapat dari Morfet, Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Ada anggapan bahwa membicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan. Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi  dan peradaban negara modern. Dikemukakan: “Hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan sesuai buku Morphet Edgar C. (1983):  ”The Economist & Financing of Education (Fourth Edition)”, New Jersey: Prentice Hall Inc. Engelwood Cliffs.

Perlu dipahami oleh kita bahwa mustahil kalau suatu negara ingin mempunyai daya saing yang tinggi kalau tidak mempunyai sumber daya (resources) yang memadai dengan melihat nilai Tangible dan Intangible. Dari sisi Pembiayaan Pendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible, hal tersebut dapat berupa sumber daya yang ‘dapat dilihat’ (tangible) dan sumber daya yang tidak dapat dilihat (in-tangible). Sumber daya yang tangible, antara lain: sumber daya pendukung atau sarana dan prasarana seperti kelas, laboratorium, gedungadministrasi, ruang rapat, ruang kerja guru/dosen dan karyawan, ruang perpustakaan, ruang perkuliahan, teknologi audio dan video, komputer dan internet dan dana. Sementara itu yang in-tangible adalah manusia (guru, dosen,tenaga kependidikan), IPR (intellectual property rights), hak monopoli, “exclusive licenses”, sistem/program pendidikan, kurikulum, organisasi dan kepemimpinan, “strong brands”, serta kemampuan bekerjasama. Pada kondisi seperti ini, Pembiayaan Pendidikan akan menjadi lebih kompleks bila kita memberikan pertimbangan yang matang terhadap Manfaat Tangible dan Intangible-nya.

 

Kreatifitas: Tuntutan Guru Profesional di Era Global

07 Jul

[slideshare id=6413231&doc=presentasigurukreatifpojokpendidikan-30dec10-101231023256-phpapp01]

Permasalahan sekolah saat ini:

• Tingkat perubahan yang terjadi sangat cepat dan ketika kita memikirkan itu, sudah menjadi tidak relevan.

• Berkembang birokrasi yang secara alami sangat resisten  terhadap perubahan

 

Project Management: For Best Results, Add Training

07 Jul

Project Management: For Best Results, Add Training

 

Service Excellence for Institution or Company

05 Jul

[slideshare id=7344611&doc=comlabs-itbserviceexcellenceforinstitutionorcompany-110322055413-phpapp01]

 

Resep Menuju Kesuksesan: “Dedikasi suci dalam mencari pintu keluar dari berbagai labirin kesulitan”

05 Jul
Roerich N.K. Tibet. Himalayas. 1933.

Roerich N.K. Tibet. Himalayas. 1933.

Perjalanan Hidup Manusia Kalau seorang anak punya cita-cita sebagai pilot, insinyur, ulama, dokter, guru, tentara dan sebagainya…… Mungkin mereka telah memikirkan secercah karir masa depan yang akan dipilih….. Kadang-kadang pilihan itu berubah sesuai beranjaknya waktu dan keadaan yang mempengaruhinya…….

Kesuksesan? Coba simak deskripsi dan fakta sebagai berikut:

  • John Wood, seorang eksekutif cemerlang dari Microsoft, setelah melakukan pendakian ke Himalaya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti dan Microsoft, “pensiun” dari perusahaannya mengabdikan hidupnya dengan mendirikan yayasan “Room to Read” yang Foundation. pada Oktober 2010 telah membuka/mendirikan lebih dari  3.300 perpustakaan dengan 2 juta buku.
  • Bill Gates, Sang Pendiri/Pemilik Mayoritas dan mendedikasikan dirinya kepada Gates Foundation
  • Onno W. Purbo, Sang Suhu Internet Indonesia, memilih “berpindah ke lain hati” dari institusinya dan berkarier sebagai seorang “Ronin” (Pendekar/Samurai Tanpa Tuan/Majikan) seperti Miyamoto Musashi dengan komitmen ingin memberikan kontribusi lebih banyak dan luas pada orang lain
  • Budi Rahardjo, Pendekar Telematika  Serba Bisa, yang mempunyai karir beragam mulai dari dosen, konsultan, pengusaha, penulis, pemusik bahkan  beberapa kali jadi Khatib Jumat.

Malcom Gladwell (2008) yang meneliti tentang kesuksesan manusia menemukan karya-karya besar ternyata tidak ditentukan oleh tingginya skor IQ yang dimiliki manusia, latar belakang keluarga, tanggal lahir, darah biru atau bukan, melainkan oleh dedikasi suci dalam mencari pintu keluar dari berbagai labirin kesulitan. Ia menyebut dedikasi itu sebagai suatu kecerdasan praktis Talenta atau bakat itu hanyalah sebuah kesempatan, namun untuk menjadi ”sesuatu”, bakat itu harus diasah agar ia mengeluarkan aura cahayanya dan menemukan pintunya (Maxwell, 2007)

[slideshare id=7290569&doc=resepmenujukesuksesan-rumah-ilmu-110317003413-phpapp01]