RSS
 

Posts Tagged ‘Muhammad Yunus’

Profesor Muhammad Yunus: Merubah Paradigma NACO (Not Action Concept Only) Menjadi PDCA (Plan, Do, Check and Action)

23 Oct

Sering kali kita merasakan sebagai seorang Akademisi bahwa tugasnya hanya berkutat dengan bidang teoritis keilmuan. Jurnal yang terakreditasi, seminar atau konferensi di luar negeri dan menjadi seorang profesor di universitas terkenal telah “mencukupkan” peran kita sebagai seorang akademisi.

Padahal peran kita tidak terbatas pada hal itu. Jelas tertuang dalam Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian pada masyarakat. Jelas sebagai “Tuan Rumah” Perguruan Tinggi, kita dituntut hanya kompeten pada bidang “Process and Technology” namun juga memberikan manfaat pada “People” di sekeliling kampus kita.

Sepertinya para akademisi harus merubah jargon  NACO (Not Action Concept Only) yang hanya menghasilkan konsep dan “tumpukan kertas” belaka di “Ruang Ilmu” serta “Rumah Pengetahuan” yang kita punya. Kita harus rubah Paradigmanya Menjadi PDCA (Plan, Do, Check and Action) sesuai kapasitas sebagai seorang “ilmuwan” dan “kaum terpelajar” seperti pada jaman kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia yang memberi pengaruh besar pada peradaban bangsa.

Saya masih teringat pada saat menulis Tesis di Institut Manajemen Telkom tahun 2008. Saat itu diputuskan untuk membahas topik tentang Muhammad Yunus (pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang memberikan pinjaman tanpa jaminan kepada rakyat miskin sebagai modal usaha). Hal ini dilatar belakangi oleh kekaguman saya pada peran belia sebagai seorang dosen yang tidak hanya “NACO” namun sudah mengimplementasikan “PDCA”. Tesis saya masih berhubungan dengan Telekomunikasi karena yang dibahas adalah Peran Pemangku Kapentingan “Grameen Telecom” salah satu grup dari Grameen yang membuat Kewirausahaan Sosial (Social Enterpreneurship) melalui Program Telepon Desa (Village Phone) di Bangladesh.

Seperti yang dikatakan oleh beberapa Profesor Perguruan Tinggi terkenal di Indonesia, di pada zaman kebijaksanaan ini bukan kekayaan materi yang dicari, tapi lebih pada kekayaan jiwa. Makna kasih sayang, kesejahteraan, perdamaian, keadilan, harmonisasi, kesaling tergantungan, kerendahatian, kejujuran, komitment, integritas, ketakwaan, keimanan dan berbagai sifat kebaikan yang manusiawi lainnya.

Bahkan seperti yang disampaikan oleh Steven Covey (Seorang Pakar Pengembangan Diri), bahwa salah satu sebab ketertarikannya membuat buku The 8th Habits adalah terinspirasi oleh kisah Profesor Muhammad Yunus seorang Dosen Ekonomi di Universitas Chitagong, Bangladesh yang tergugah oleh lingkungan sekitarnya yang miskin, yang papa dan tak berdaya.

Profesor Muhammad Yunus merasa pelajaran yang ia berikan kepada mahasiswanya tidak sejalan dengan kenyataan. Setiap ia keluar kampus selepas mengajarkan tentang ekonomi modern dia mendapati kesulitan yang dihadapi masyarakat. 

Lalu ia mulai menanyai orang-orang miskin namun masih mau berusaha itu, hingga ia mendapat simpulan bahwa mereka membutuhkan modal. Dan lebih dari itu modal yang mereka butuhkan tidak besar, iapun mampu membantunya. Itulah awalnya Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank, yaitu bank yang memberikan pinjaman kepada kaum miskin Bangladesh tanpa jaminan.

Saat ini (22-23 Oktober 2012), Profesor Muhammad Yunus sedang berada di Yogyakarta untuk menghadiri International Microfinance Conference. Sebagai Peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus mengatakan, aktivitas bisnis sosial sama seperti atau bahkan bisa bermakna melebihi kegiatan filantrofis karena kegiatan bisnis sosial dapat meningkatkan tingkat kemandirian ekonomi.

“Filantrofis memberikan uang tetapi orang yang menerimanya cenderung tidak mendapatkan uang itu kembali. Sedangkan bisnis sosial memberikan uang dan orang yang menerimanya dapat mendapatkan uang itu kembali,” kata Muhammad Yunus dalam International Microfinance Conference di Yogyakarta, Senin (22/10).

Mengapa Muhammad Yunus melakukan itu? Itulah hakikat spiritual dari adanya panggilan jiwa adanya suara hati dari kebenaran hakikat yang datangnya dari Allah SWT

 

Muhammad Yunus Dalam Usaha Mengalahkan Musuh “Bank Untuk Orang Miskin”

22 Jul
Muhammad Yunus

Microfinance pioneer and Nobel peace prize winner Muhammad Yunus Photograph: Philipp Ebeling

Pemenang hadiah Nobel Perdamaian ini membahas serangan pada usaha-usaha untuk mengurangi kemiskinan, dari dalam dan luar Bangladesh

Muhammad Yunus sedang dalam keadaan tenang dan baik. Pada pukul 07:30 di kantor yang dingin di pusat kota London, ia berbicara dengan pesona urban dan semua objektivitas seperti filsuf saat ia menanggapi “kampanye hitam” pemerintah Bangladesh melawan dia, serta kemungkinan upaya menghancurkan pekerjaan dan hidupnya dalam membangun keuangan mikro pertama di dunia perbankan.

Dia adalah Tokoh Bangladesh paling terkenal, dikenal sebagai bankir dunia untuk orang miskin, pemenang Nobel pada tahun 2006 dengan Grameen Bank untuk Nobel Perdamaian, seorang aktivis tak kenal lelah di KTT global untuk keuangan mikro dan kewirausahaan sosial yang dapat diandalkan oleh Hillary Clinton, Nicolas Sarkozy dan Mary Robinson serta teman-temannya. Tapi seperti kata pepatah, seorang nabi tidak pernah diakui di negaranya sendiri. Baik pengakuan global – maupun protes dari pemerintah Perancis dan AS – membuat banyak pertentangan dengan maksud menghancurkan kepemimpinan Yunus pada Grameen Bank dan jaringan kewirausahaan sosialnya yang telah berkembang selama empat dekade terakhir.

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina Wajed telah menuduhnya “menghisap darah dari orang miskin” dan menuduhnya korupsi meskipun pernyataan resmi pemerintah telah  membersihkan dirinya pada bulan lalu dari segala tuduhan. Pada akhirnya, satu-satunya tuduhan adalah bahwa pada umur 70 tahun dianggap kurang sigap, dia terlalu tua untuk menjadi direktur pelaksana Bank Grameen.Tuduhan dibuat, yang secara kebetulan oleh Menteri Keuangan yang berumur 77 tahun.

“Aku tidak terluka oleh fitnah pers; Saya kecewa dan saya khawatir serta saya tidak ingin melihat sebuah organisasi yang telah bermanfaat sejauh ini dan membawa begitu banyak hal yang baik dan membawa kekuatan untuk negara ini . Banyak orang marah  mengenai ini tetapi kemarahan tidak menyelesaikan apa-apa, “katanya.

“Aku ingin menegaskan sesuatu. Jika kita siap, kita bisa melakukan kontrol atas kerusakan yang ada.”

Ini adalah wawancara pertamanya sejak krisis pecah awal tahun ini. Yunus menolak berbicara dengan media Bangladesh karena takut menyulut kontroversi lebih lanjut, dan ia bersikeras bahwa ia tidak akan tertarik ke dalam berspekulasi tentang mengapa pemerintah telah memaksa pengunduran dirinya baru-baru ini. Dia hanya mengatakan: “Saya tidak bisa melihat tujuan tentang ini , saya tidak bisa melihat apa keuntungan negara serta apa keuntungan pemerintah dalam hal ini.”

Tentu banyak kehilangan yang terjadi. Bank apapun tergantung pada kepercayaan dan beberapa bulan terakhir telah  terjadi pergolakan  pada 22.000 karyawan dan 8.360.000 peminjam Grameen , 97% di antaranya adalah perempuan. Sejauh ini, pengembalian pinjaman pada jutaan pinjaman kecil stabil dan peminjam tidak menarik depositonya – yang bisa membuat bank runtuh. Ketenangan Yunus di London adalah semua untuk memantapkan kepercayaan pendukungnya di Bangladesh. Sebagai salah satu lembaga ekonomi yang paling efisien dan stabil di negara sangat miskin, ada banyak yang berharap bahwa dia akan berhasil dan Grameen akan melewati badai ini.

Badai itu dimulai dari sebuah film dokumenter versi YouTube yang dibuat oleh Dane dan disiarkan di Norwegia (dimana Yunus sedang berkonflik dengan Telenor) akhir tahun lalu tentang Yunus, Grameen Bank dan keuangan mikro pada umumnya yang mendorong kecaman terhadap dirinya. Film ini akhirnya mendorong penyelidikan pemerintah  pada Grameen Bank, menyelidiki sejumlah tuduhan mulai dari beberapa akuntansi yang tidak jelas antara anak perusahaan Grameen dan lembaga bantuan Norwegia pada 1990-an, serta dianggap mematok tinggi suku bunga untuk peminjam miskin.

Penyelidikan pemerintah diklarifikasi dan dibersihkan oleh Yunus di bulan April, tetapi membuat sejumlah rekomendasi untuk masa depan Grameen Bank. Pada saat yang sama, pemerintah membuat serangan lain melalui menteri keuangan yang memerintahkan agar Yunus mengundurkan diri karena ia terlalu tua; Bank Grameen melawan Menteri Keuangan tersebut di pengadilan dan kalah. Dengan terpaksa, Yunus memutuskan bahwa untuk menghindari turbulensi lebih lanjut, ia tidak punya pilihan selain mengundurkan diri. Dia berharap bahwa “Fihak yang baik akan menang” dan pemerintah akan memungkinkan dia untuk mengambil posisi kursi non-eksekutif  untuk mengawasi transisi.

Sementara Yunus menolak untuk tertarik pada pertempuran politik yang pahit, banyak teman dan sekutunya yang bergegas untuk membantunya. Sebuah kampanye internasional, Friends of the Grameen, diluncurkan Maret lalu yang diketuai oleh Mary Robinson. Sedangkan  pemerintah Amerika Serikat dan  Perancis telah memprotes keras pemerintah Bangladesh. Clinton menelepon untuk menawarkan dukungan pribadinya; Nicolas Sarkozy menulis untuk menjamin Yunus. Ini semua jauh dari harapan dia saat berbicara dan berdiri di Oslo  yang menempatkan “kemiskinan ke dalam museum” dalam pidato penerimaan hadiah Nobel.

Penjelasan yang paling mungkin untuk serangan terhadap dia adalah bahwa perjalanan singkat Yunus ke dalam dunia politik pada tahun 2007 membuat terkesima Sheikh Hasina. Dia mengumumkan bahwa dia akan mendirikan sebuah partai politik tetapi akhirnya meninggalkan ide itu hanya dalam waktu dua bulan. Reputasi ekonomi global yang besar dan tangguh dari merek Grameen telah membuat musuh merasa tidak aman.

Yunus mungkin tiba-tiba seolah-olah menganggur, tapi dia tidak kekurangan tawaran. Ada banyak minat dari seluruh dunia, ia mengakui,  bahwa ia telah ditawari beberapa lembaga untuk menjadi kepala atau posisi strategis lain. Tapi ini  sangat jelas: ia tidak ingin meninggalkan Bangladesh.

Jika Yunus berada di bawah pengepungan, begitu pula ide-ide yang ia cetuskan. Ada krisis di sektor keuangan mikro di India, di mana tingkat bunga yang tinggi di bank-bank keuangan mikro sektor swasta yang dikaitkan dengan bunuh diri nasabahnya. Yunus adalah pemberontak tentang keuangan mikro, yang masih penuh semangat dan dipercaya telah memberi manfaat bagi jutaan orang.

“Kami tidak pernah mengatakan keuangan mikro adalah peluru perak,” tegas dia.”Atau mengapa saya repot-repot untuk membuat 50 perusahaan lainnya mulai dari pertanian hingga telekomunikasi? Penciptaan lapangan kerja adalah solusi untuk kemiskinan Pinjaman hanya boleh diberikan untuk mendanai perusahaan.. Mereka tidak boleh digunakan untuk ‘kegunaan konsumsi’ atau bagaimana orang bisa membayar kembali pinjaman lain? Itu tentang menggenerasi pendapatan. ”

“Ketika keuangan mikro yang tersebar di seluruh dunia, beberapa orang menyalahgunakannya. Beberapa fihak mengamuk…. Menurut pendapat saya, jika ada keuntungan pribadi yang terlibat, itu tidak boleh disebut keuangan mikro. Hal ini harus benar-benar ditujukan untuk kepentingan masyarakat miskin. Orang-orang akan memberi penghargaan pada keuangan mikro. Di setiap negara di mana ada keuangan mikro mereka membutuhkan pihak berwenang yang tepat untuk mengawasi sektor dan undang-undang menentukan itu.  Saya tahu bahwa sektor ini lumpuh oleh kerangka kebijakan dan hukum yang tidak memadai.. ”

Yunus mengakui ada beberapa “overbilling” pada keuangan mikro, tetapi ini harus dilihat  sebagai bagian dari cara Anda menggaet minat donor dalam suatu proyek. Yunus menggunakan retorika yang kuat untuk mendesak upaya dalam menanggulangi kemiskinan. Dan dia menegaskan: “Keuangan Mikro telah mengurangi kemiskinan Lihatlah orang-orang yang telah bergabung Grameen…. Ini adalah organisasi yang paling intensif diteliti di dunia…”

Penelitian di Bangladesh positif karena perekonomian negara itu telah tumbuh 8% per tahun, dan penelitian belum cukup teliti untuk membuktikan hal apa yang  telah bertanggung jawab untuk pengurangan kemiskinan. Yunus tahu perdebatan tentang bukti-bukti ini, dan ia hanya mengulang: “Saya percaya itu Gramee berperan dalam mengurangi kemiskinan; Hasil riset itu menjadi kampanye negatif tentang Grameen.”

“Grameen adalah media yang dibangun untuk keuangan mikro,” katanya.

Pada satu hal, bahkan kritikus keuangan mikro setuju. Apapun masalah yang kini dihadapi sektor ini, pencetusnya sedang difitnah secara kejam di Bangladesh. Adapun Yunus, ia tenang dan bersikeras pekerjaannya harus terus berjalan. Dia menghabiskan banyak waktu berpidato tentang bisnis sosial atau keuangan mikro, seperti pengembangan kemitraan dengan perusahaan makanan Danone untuk menciptakan skema perusahaan untuk orang miskin. Lembaga yang didedikasikan untuk bisnis sosial yang baru-baru ini telah diluncurkan di Glasgow dan Paris.

“Saya ‘diprogram’ untuk terus bekerja,” ia tersenyum, dan kemudian ia membiarkan dirinya membesarkan diri. “Ini seperti Socrates atau Galileo. Bila Anda mengatakan sesuatu yang berbeda atau baru,. Dan itu tidak cocok, itu akan menciptakan ketegangan. Jika orang bertepuk tangan, Anda tidak melakukan sesuatu yang baru. Jika orang-orang terkejut, Anda berada dalam bisnis.

(Terjemahan bebas “Muhammad Yunus banks on beating the enemies of microfinance” dari http://www.guardian.co.uk/world/2011/jul/18/muhammad-yunus-microfinance-bangladesh)

 

Prof.Muhammad Yunus: Dunia harus meninggalkan logika keuntungan

11 Jul
DAVOS-KLOSTERS/SWITZERLAND, 31JAN09 - Ann M. V...

Profesor Muhammad Yunus di WEF DAVOS-KLOSTERS/SWITZERLAND, 31JAN09

Muhammad Yunus, Pemenang Nobel Perdamaian pada tahun 2006 dan promotor kredit mikro dalam sebuah buku baru yang membela ide ekonomi yang lebih manusiawi (1). Di dalamnya, Profesor Yunus menjelaskan pesan dasar-dasar:

Seberapa pentingkah bagi dunia apa yang anda sebut bisnis sosial?

Ekonomi sosial sekarang hanya bagian kecil dari ekonomi global. Untuk membayangkan ekonomi terputus dari laba/keuntungan,  menakutkan bagi banyak orang   karena dunia telah dibutakan oleh keserakahan. Tapi ini konsepsi Manusia, diwakili oleh model ekonomi saat ini, teori yang sempit dan tidak memperhitungkan dimensi altruistik manusia. Dengan bisnis sosial, saya menunjukkan adalah mungkin untuk melakukan bisnis dan pada saat bersamaan bertindak pada masalah sosial. Ambil contoh Grameen Danone yang memproduksi yoghurt yang diperkaya gizinya & terjangkau bagi keluarga miskin di Bangladesh untuk memerangi malnutrisi. Apakah ini berarti bahwa perusahaan Perancis telah kehilangan pikirannya? Saya tidak berpikir demikian.

Apa perbedaan antara kewirausahaan sosial dan bisnis sosial?

Kewirausahaan sosial adalah kata yang sangat populer, sering dibingungkan dengan bisnis sosial. Para wirausahawan sosial mencari keuntungan sambil menangani masalah sosial. Di fihak lain, prinsip dasar bisnis sosial didasarkan pada ketiadaan total dividen. Seorang investor dapat mengembalikan jumlah yang diinvestasikan dalam bisnis sosial, tetapi tidak lebih dari itu. Contoh lain adalah bahwa Bank Grameen. Bank Grameen tentu bisnis yang mencari keuntungan, tetapi milik kaum miskin, yang menginvestasikan kembali keuntungan. Sehingga ini merupakan bisnis sosial.

Apakah ada batas untuk bisnis sosial?

Tidak, tidak. Perekonomian memiliki potensi mengingat jumlah orang miskin yang besar. Bayangkan jumlah usaha sosial kita yang misalnya dapat menciptakan dan memungkinkan akses energi untuk setiap rumah! Perusahaan dibuat untuk memberikan panel surya yang terjangkau untuk setiap keluarga. Tujuan mereka adalah tidak membuat keuntungan tetapi untuk melindungi planet yang kita cintai ini. Saya menggulirkan dana di Haiti untuk bisnis sosial. Daripada menunggu lembaga-lembaga internasional untuk membangun negeri ini, saya mendorong warga Haiti untuk menciptakan bisnis sosial untuk memenuhi kebutuhan negara mereka sendiri. Selain itu, bisnis sosial tidak terbatas pada negara-negara miskin, juga bisa tumbuh di negara-negara kaya, seperti Amerika Serikat untuk meningkatkan akses terhadap kesehatan, misalnya. Tidak ada kendala bagi pengembangan bisnis sosial karena kreativitas manusia tidak memiliki batas.

Haruskah bisnis sosial menggantikan amal?

Tidak. Asosiasi tersebut diperlukan untuk menanggapi masalah-masalah darurat, seperti bencana alam. Namun saya berpikir bahwa alih-alih mengalokasikan semua sumbangan terhadap perkembangan amal di negara miskin, 10% dari jumlah ini harus disisihkan untuk pembentukan dana untuk bisnis sosial. Saya yakin bahwa dengan dana ini, bisnis sosial dapat dibentuk serta lebih efektif terhadap kemiskinan. Namun dengan satu syarat: bahwa bisnis sosial dibuat dengan dorongan warga dan pemerintah terlibat. Tahun berikutnya, operasi diulang dengan jumlah yang sama untuk membantu menciptakan bisnis baru. Ini dapat menanam benih dan membantu tumbuh bisnis sosial dapat berkembang biak. Dalam hal ini, dunia hanya harus meninggalkan logika keuntungan.

Konsep keuntungan telah berakar di sektor kredit mikro di India

Ini adalah pergeseran dari kredit mikro. Ketika lembaga keuangan mikro membuat pinjaman dengan bunga di atas 15%, kita tidak bisa bicara itu adalah kredit mikro. Selain itu, organisasi kredit mikro yang masuk pasar saham harus menunjukkan keuntungan dan mulai menyimpang dari prinsip-prinsip dasar kredit mikro.

Bagaimana mencegah penyimpangan ini?

Kita harus memberi batasan pada suku bunga yang dibebankan oleh lembaga keuangan mikro. Selain itu, setiap negara harus membentuk otoritas regulasi kredit mikro, seperti halnya di Bangladesh selama lima tahun terakhir. Otoritas ini akan mengeluarkan lisensi untuk lembaga keuangan mikro. Ini akan mengawasi suku bunga mereka dan memungkinkan untuk transparansi yang lebih besar. Saya telah bekerja untuk kredit mikro sejak lama yang dikembangkan untuk memungkinkan masyarakat miskin memperbaiki kondisi kehidupan mereka. Saya berharap ini terus berlanjut.

(1) For a More Human Economy, Ed. JC Lattes, 305 p., 20 euros.

Wawancara oleh Clemence Richard, sumber dari http://muhammadyunus.org/Yunus-Centre-Highlights/the-world-must-abandon-the-logic-of-profit/

 

Melindungi kemandirian Grameen Bank dan integritas Profesor Muhammad Yunus

10 Jul
Muhammad Yunus. Un sorriso di pace

Muhammad Yunus (Image by Giuseppe Nicoloro via Flickr)

Oleh Mary Robinson
Ketua Komite Kehormatan “Friends of Grameen”, mantan Presiden Irlandia, dan mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia

Sejak pertemuan pertama saya dengan Profesor Yunus, saya terkesan oleh keyakinan kuat bahwa setiap orang bisa menjadi aktor untuk nasibnya sendiri, dan dengan visi yang jelas tentang kredit mikro sebagai salah satu alat yang paling efisien dalam memerangi kemiskinan.

Sejak pendirian Grameen Bank di tahun 1983, Profesor Yunus telah mengembangkan sebuah model kredit mikro yang berkelanjutan – dengan tingkat suku bunga yang sangat transparan dan wajar, dan membuat peminjam pemilik pemilik bank mereka.

Dampak model ini telah menjadi “bangunan alternatif” program pengentasan kemiskinan di Bangladesh dan di luar negeri yang tadinya berada di luar imajinasi. Di Bangladesh, lebih dari 8 juta perempuan miskin telah mampu mencapai kemandirian dan martabat mereka melalui keanggotaan Grameen Bank.

Untuk perjuangan mereka melawan kemiskinan, Profesor Yunus dan Grameen Bank dianugerahi Nobel Perdamaian pada tahun 2006.

Model ini sekarang terancam. Selama beberapa bulan terakhir, serangan terhadap anggota Grameen Bank dan Profesor Yunus telah dilakukan untuk alasan politik.

Teman Grameen telah diciptakan, karena kami yakin bahwa Grameen Bank, model yang harus dijaga agar tata kelola perusahaan tetap dipegang oleh jutaan wanita yang pemegang sahamnya.

Kami juga yakin bahwa pendirinya, Profesor Yunus, harus terus menjadi bagian dari itu, membawa keahlian dan energi yang teguh dan komitmen.

Melindungi warisan hidup ini merupakan prioritas bagi semua yang tertarik dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Ini adalah tujuan dari setiap anggota “Friends of Grameen”.

 

How You Can Help Support Prof. Yunus

10 Jul

By grameenfoundation

Todd Bernhardt is Director of Marketing and Communications for Grameen Foundation.

As readers of this blog may know, several weeks ago the Bank of Bangladesh (BoB) informed microfinance pioneer Professor Muhammad Yunus, winner of the 2006 Nobel Peace Prize, that he was dismissed from his post as Managing Director of Grameen Bank, which he founded in 1983. It claimed that he was serving illegally in his position because it had never formally approved his appointment when the 12-person Grameen Bank Board of Directors – which has three government-appointed directors on it, including the chairman – voted unanimously in 1999 to exempt Prof. Yunus from the mandatory retirement age of 60.

In fact, the BoB had asked the Grameen Bank Board in 1999 for an explanation of Prof. Yunus’s appointment. The GB Board promptly replied, and the subject was never brought up by the Bangladesh Bank again – including during its annual audits of Grameen Bank in the ensuing years. Why then, has it only now brought up the age of Prof. Yunus as an issue, after more than 11 years of silence about it?

The answer is becoming increasingly clear. The government’s latest moves are not just about Prof. Yunus and his age; yes, he’s been a victim of partisan politics, in which the players involved seem to be trying to destroy his reputation because they see him as a political rival, but there are also signs that the ruling party is trying to gain control of Grameen Bank to use it as a tool to attain their political goals. Grameen Foundation and others strongly believe that an attack against the independence of Grameen Bank has far-reaching, negative implications for microfinance around the world.

Prof. Muhammad Yunus has devoted his life to fighting poverty and empowering women in his native Bangladesh. The current government has repaid him by unfairly dismissing him from his post, an effort he and Grameen Bank are fighting in the courts. Will you help us defend his reputation?

Prof. Muhammad Yunus has devoted his life to fighting poverty and empowering women in his native Bangladesh. The current government has repaid him by unfairly dismissing him from his post, an effort he and Grameen Bank are fighting in the courts. Will you help us defend his reputation?

The government actions have prompted considerable outrage inside and outside of Bangladesh. Diplomats, politicians, leaders of international-aid agencies, and business and thought leaders from around the world have made their opinions known – there have been open letters by Sens. Kerry and Durbin, and from theBangladesh Caucus in the House of Representatives, for example, as well as very public efforts by Secretary of State Hillary Clinton on Prof. Yunus’s behalf – while many hundreds of thousands of supporters in the country have rallied in protest. Online efforts are also picking up steam – if you haven’t already, please visit and “like” the SupportYunus page on Facebook, and sign one (or more) of the petitions below:

Where Do We Stand Now?
Prof. Yunus and the nine directors on the Grameen Bank Board who represent the Bank’s 8.3 million borrower-owners have petitioned the Bangladesh court system to stop the government’s attempts to dismiss Prof. Yunus from his position. During this appeals process, Prof. Yunus continues to serve in his role as Managing Director, because the Bank’s lawyers and many other legal experts believe that the Bangladesh Bank letter and ruling have no legal basis, because (among other things) the bylaws of Grameen Bank give its Board full discretion over the appointment of its managing director, and because of the precedent set by the many years of the BoB’s audits from 1999 to now that did not mention Prof. Yunus’s age.

The case is now in front of the Bangladesh Supreme Court, which was originally due to hear the petitions March 15 but instead adjourned for two weeks. During this time period, the Grameen Bank staff has continued to cooperate with the government, working toward a solution that ensures the independence of the Bank and that enables Prof. Yunus to retire and set up a succession plan in a considered, orderly fashion. This is what will be best for the poor people of Bangladesh, which has always been the prime concern of Prof. Yunus.

How You Can Help
Grameen Foundation remains concerned that the time before Supreme Court rules will be used by the government to step up its attacks against Prof. Yunus and Grameen Bank – in fact, we’ve already seen indications of this, with members of the ruling party making very personal attacks on the Parliament floor against Prof. Yunus. Because of this, it’s more important than ever that supporters of Prof. Yunus make their views as public as possible.

How can you do this? Here are a few ideas:

  • As mentioned above, please “like” the SupportYunus page on Facebook and tell your friends and families to do the same.  When positive stories and links are posted on this or other Facebook pages, please share them with your friends and family.
  • Please sign the petitions mentioned above.
  • On Twitter, please express your support by posting thoughts, articles, encouragement to join the Facebook page above, etc.   Use the hashtags #SupportYunus, #Yunus, #Grameen, #Socent, #YY and, on Fridays, use the “follow Fridays” hashtag (#ff) to build support.
  • If you have a blog, please post about the situation, or use your keyboard in other ways – write to your local newspaper or media outlet, to the Bangladeshi embassy near you, to the U.S. administration or State Department, etc.  Several supporters in the U.S. have had good luck convincing their member of Congress to issue a statement of support, so please try that.  Of course, if you read articles or blogs about Prof. Yunus and Grameen Bank, please show your support by leaving positive comments.
  • Grameen Foundation is a founding member of an organization called Friends of Grameen, which now has a website containing good background information on what’s happened so far.
  • Finally, we encourage you and your friends to stay informed by signing up for the Grameen Foundation e-newsletter (the link is available on the right side of most pages on our website), on this blog, the Facebook page above, or other sites, including theGrameen Bank and Yunus Centre websites.

One More Way You Can Help
Before wrapping up, perhaps I should clarify the relationship between Grameen Foundation and Grameen Bank, which are completely separate entities. Grameen Foundation has no operations in Bangladesh, and supports no microfinance institutions there.  That said, one reason Grameen Foundation exists is to promote the values of responsible microfinance pioneered by Prof. Yunus and Grameen Bank – transparent, accountable, measurable efforts to empower the working poor, especially women, through small loans and other financial services – throughout the world.  We will continue in that mission, which is possible only because of the generous support of people like you, who care about human dignity and damage that poverty causes to individuals and families every day.  We hope we can count on you for your support.

As always, we will continue to keep you informed as events develop. And, as always, if you have any questions or concerns in the meantime, please let us know.  If you have ideas about how to support Prof. Yunus, please leave them in the comments section!

 

Telepon melawan kemiskinan

07 Jul
DAVOS-KLOSTERS/SWITZERLAND, 31JAN09 - Muhammad...

Image via Wikipedia

Telepon melawan kemiskinan adalah ide sederhana Grameen Telecom. • Prinsip dasarnya adalah pemberian kredit melalui Grameen Bank untuk pembuatan wartel seluler di kawasan rural. • Perusahaan ini didirikan oleh pelopor bank mikro kredit di Bangladesh yaitu Grameen Bank yang didirikan Prof. Muhammad Yunus. • Sangat serius menggarap ekonomi kerakyatan dengan memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat miskin. • Salah contohnya adalah kisah Laily Begum yang menjadi pioner Village Phone Lady yang melalui program Grameen mengubah nasib keluarganya dari kaum papa menjadi pengusaha sukses.

[slideshare id=1725947&doc=grameentelecomfornewbie-dasmr-090715114025-phpapp01]