RSS
 

Posts Tagged ‘Retropeksi’

Biaya Pendidikan: Berkah atau Masalah?

11 Jul
Adam Smith

Adam Smith

Setiap diri manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa mengenal usia dan tanpa dibatasi oleh bangunan gedung sekolah yang megah yang memisahkan antara si kaya dan si miskin walaupun itu membutuhkan Pembiayaan Pendidikan yang cukup besar. Falsafah Pendidikan yang memanusiakan manusia (humanize the human being) harus tetap menjadi pandangan hidup dalam dunia pendidikan sehingga akan tercipta pendidikan yang bebas secara politik, sejahtera secara ekonomi, adil secara hukum dan partisipatif secara budaya

Menurut Adam Smith, Human Capital berupa kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan. Perolehan ketrampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik “Rate of Return” yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan Human Capital ada hubungan Linier antara Investasi Pendidikan dengan “Higher Productivity & Higher Earning”. Manusia sebagai modal dasar yang diinvestasikan akan menghasilkan manusia terdidik yang produktif dan meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan.

Itu masalahnya, ternyata Pembiayaan Pendidikan (terutama Pendidikan Tinggi) dilihat sebagai “Lahan Hijau” (Green Field),  yang sumber utamanya melalui pembebanan pada mahasiswanya.  Hal ini menciptakan “kelangkaan barang di pasar” Pendidikan Tinggi sehingga timbul “koreksi pasar” (baca: kenaikan harga) terutama di banyak PTN terkenal yang mungkin sudah berfikir bahwa “The Price is Right” (baca: Ada Harga Ada Rupa). Di satu sisi memang ini tidak salah karena ada fenomena  ”Supply&Demand”  dengan keterbatasan daya tampung Perguruan Tinggi dengan animo masyarakat yang tinggi.

Menyikapi hal di atas, sebagai orangtua yang juga punya anak baru masuk PTN ternama  saya sangat mengerti perasaan yang diungkapkan pada Artikel Kompas dengan judul: [BIAYA KULIAH] “Nak, Urungkan Niatmu Jadi Sarjana” http://t.co/LJpM453. Hal itu diakibatkan “Pasar Pendidikan Tinggi” mengalami gejala  telah mengikuti mekanisme pasar dimana harga bergerak bebas sesuai hukum permintaan dan penawaran (supply and demand). Jika suplai lebih besar dari demand, maka harga akan cenderung rendah. Begitupun jika demand lebih tinggi sementara suplai terbatas, maka harga akan cenderung mengalami peningkatan

Menarik pendapat dari Morfet, Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Ada anggapan bahwa membicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan. Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi  dan peradaban negara modern. Dikemukakan: “Hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan sesuai buku Morphet Edgar C. (1983):  ”The Economist & Financing of Education (Fourth Edition)”, New Jersey: Prentice Hall Inc. Engelwood Cliffs.

Perlu dipahami oleh kita bahwa mustahil kalau suatu negara ingin mempunyai daya saing yang tinggi kalau tidak mempunyai sumber daya (resources) yang memadai dengan melihat nilai Tangible dan Intangible. Dari sisi Pembiayaan Pendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible, hal tersebut dapat berupa sumber daya yang ‘dapat dilihat’ (tangible) dan sumber daya yang tidak dapat dilihat (in-tangible). Sumber daya yang tangible, antara lain: sumber daya pendukung atau sarana dan prasarana seperti kelas, laboratorium, gedungadministrasi, ruang rapat, ruang kerja guru/dosen dan karyawan, ruang perpustakaan, ruang perkuliahan, teknologi audio dan video, komputer dan internet dan dana. Sementara itu yang in-tangible adalah manusia (guru, dosen,tenaga kependidikan), IPR (intellectual property rights), hak monopoli, “exclusive licenses”, sistem/program pendidikan, kurikulum, organisasi dan kepemimpinan, “strong brands”, serta kemampuan bekerjasama. Pada kondisi seperti ini, Pembiayaan Pendidikan akan menjadi lebih kompleks bila kita memberikan pertimbangan yang matang terhadap Manfaat Tangible dan Intangible-nya.

 

“Sekelumit Perjalanan Hidup Manusia”

28 Oct

Firman.Museum-Iptek

Dibacakan Firman pada Acara Silaturahmi Iedul Fitri 1430H di Pagerageung, Tasikmalaya

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Marilah kita renungkan :

“Sekelumit Perjalanan Hidup Manusia”

Pertama, Masa Dalam Kandungan Ibu:

  • Betapa berat tanggung jawab dan penderitaan Ibu serta bapak menjaga siang dan malam
  • Selama 9 bulan di kandung. Kadang-kadang  naik turun tangga di rumah dan di kantor atau di ladang…..Kemanapun pergi mencari nafkah untuk kesejahteraan anak.

Kedua, Masa Kelahiran Bayi:

  • Begitu lahir ke dunia disambut bapak dengan kumandang azan yang mengharukan. Tanda bersyukur kepada Allah atas kebesarannya:

Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali) ; Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali) ;

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali) ; Hayya ‘alash sholah (2 kali) ; Hayya ‘alal falah (2 kali) ; Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali) ; Lailaha ilallah (1 kali)

  • Diteruskan dengan doa agar menjadi anak yang bermanfaat dunia akhirat.

Ketiga, Masa Kanak Sedang Menyusui:

  • Dengan kesabaran yang tinggi, menjaga dan memelihara keselamatan dan kesehatan bayi siang dan malam.
  • Kadang-kadang terbangunkan tengah malam sedang tidur lelap di udara kedinginan.
  • Ibu dan bapak mengganti popok yang basah dengan cermat agar selalu terjaga kesehatannya.
  • Saya tidak ingat waktu itu karena masih bayi. Tapi melihat ibu dan bapak sibuk sekali dengan wajah berseri-seri dan untaian kasih sayang….Maaf…Maaf…..
  • Ibu menyusui dengan mengusap rambut sambil berdoa…..

Keempat, Masa Pendidikan dan Pembinaan:

  • Ibu dan bapak mempunyai cita-cita agar anak-anak kelak bahagia dunia-akhirat.
  • Dimasukkan ke sekolah…..Dibina agamanya…..Dibina pengetahuan umumnya……Dibina akhlaknya…..Dibina kemandiriannya…..
  • Kesemua itu bertujuan supaya mempunyai bekal untuk untuk:
    • Berbakti kepada Allah, Pencipta Semesta Alam…..
    • Mengeratkan silaturahmi antar manusia dlam kehidupan selama hidupnya.

Kelima, Masa Berkeluarga dan Kemandirian Berusaha:

  • Semua orang tua dengan penuh doa melepas putra-putrinya untuk hidup mandiri.
  • Meningkatkan pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT.
  • Meningkatkan hubungan silaturahmi dalam usaha dan kekeluargaan.

Keenam, Masa Kembali Atas Panggilan Allah SWT.

  • Semua manusia akan menghadapi kematian.
  • Setelah kematian, dituntut pertanggung-jawaban selama hidup di dunia:

“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un”

Artinya:

“ Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali padanya.”

Sebagai penutup, mari kita lantunkan doa:

“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”

Artinya:

“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

The Last Lecture: Pesan Terakhir Sang Professor

05 Jan

Setelah munculnya film Laskar Pelangi, makin besar kesadaran kita akan pentingnya guru (baca: pendidik)…. Tidak hanya di Indonesia tapi di belahan dunia manapun karir ini menempati posisi yang terhormat dan sangat strategis……

Baru-baru ini muncul “The Last Lecture”, sebuah buku biografi dan film dokumenter yang menceritakan Randy Pausch seorang professor dari Carnegie Mellon University…. Buku ini menceritakan perjuangannya menghadapi kanker pankreas pada akhir hidupnya tanpa menghilangkan kecintaan, dukungan dan selera humornya pada keluarga, sahabat, teman dan koleganya.

Pada akhir kuliahnya yang historis (mirip pidato Steve Jobbs di Stanford) ia masih sempat menyampaikan kuliah dengan judul “Really Achieving Your Childhood Dreams”. Randy menceritakan apa saja mimpi-mimpi masa kecilnya, mulai dari mendapatkan boneka beruang paling besar di pasar malam, menjadi salah satu designer animasi walt disney (walt disney imagineering), merasakan berada di ruang hampa, menulis artikel untuk World Encyclopedia, bermain untuk NFL (National Football League), dan menjadi Captain Kirk dalam film Star Trek. Hebatnya, hampir semua mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan dengan keunikan caranya masing-masing.

Bagi sebagian orang, mungkin mimpi-mimpi itu hanyalah mimpi “kecil”. Tapi kemudian justru mimpi-mimpi itulah yang mengubah kehidupan Randy, menjadikannya manusia yang berbeda. Bagaimana ia berusaha untuk membantu setiap orang yang dikenalnya (minimal adalah para mahasiswanya) untuk dapat merealisasikan mimpi-mimpi masa kecil mereka, serta bagaimana kita dapat memaknai hidup bila kita tahu kalau kita hanya punya sedikit kesempatan, dan kesempatan itu akan segera habis.

“If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.” Itulah salah satu pesan dari Randy, dan itulah keyakinan yang terus menuntun Randy hingga akhir hidupnya.

Kuliah terakhir Randy sangat fenomenal. Bukan karena yang menyampaikannya adalah seorang yang sedang sekarat akibat kanker, tapi karena apa yang disampaikannya benar-benar menginspirasi. Rekaman kuliah terakhir ini dengan cepat beredar di youtube , kemudian juga dibukukan. Dan telah menginspirasi banyak orang yang menonton ataupun membaca bukunya.

Randy sendiri merekam kuliah terakhirnya tersebut bukan untuk sebuah kenangan semata-mata. Tetapi untuk ketiga anaknya, Dylan (6 tahun), Logan (3 tahun) dan Chloe (18 bulan). Randy sangat tahu bahwa kelak, ketiga anak-anaknya mungkin tidak akan ingat dengan jelas seperti apa sosok ayahnya. Mereka hanya akan mengenal ayahnya melalui foto dan cerita. Yang diinginkan Randi adalah agar kelak anak-anaknya bukan hanya mengenangnya (melalui rekaman kuliah terakhir itu), tapi juga yakin bahwa ayah mereka selalu mencintai mereka. Melalui rekaman kuliah terakhir tersebut, Randy ingin mengajarkan pada anak-anaknya, “how to live this life through achieving your childhood dreams”.

Rekaman kuliah itu memang sengaja dibuat oleh Randy untuk ketiga anaknya. Ia sudah tidak punya cukup waktu untuk ikut mendampingi ketiga anaknya tumbuh besar. Pelajaran dalam kuliah terakhirnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang ingin ia wariskan pada anak-anaknya. Warisan yang tidak akan habis, sebagai pengganti waktu yang tidak akan pernah ia dapatkan untuk menemani mereka tumbuh dewasa.

Randy memberikan kuliah terakhirnya pada 18 September, 2007. Dan Jumat, 25 July 2008 yang lalu, Prof. Randy Pausch, akhirnya dikalahan oleh penyakitnya. Tetapi, Randy telah meninggalkan warisan yang besar, bukan hanya untuk anak-anaknya tetapi juga untuk semua orang yang mengenalnya (meski hanya melalui buku dan rekaman kuliah terakhirnya), tentang bagaimana memaknai hidup dan kehidupan, bagaimana membuat mimpi menjadi nyata, dan pelajaran tentang harapan.

“Brickwalls are there for a reason. They give us a chance to show how badly we want something. Only those who want it so badly can scale that brickwall., …Experience is what you get when you didn’t get what you wanted” (Randy Pausch, 2007)

Note:
Dikutip dari Kick Andy dan beberapa sumber

 

Doa Akhir Ramadhan

23 Sep

Assalammualaikum.

Saya dapat dari salah seorang rekan kerja pencerahan yang sangat bermanfaat bagi kita:

“Doa Akhir Ramadhan

Dalam Hadits Rasulullah SAW , Bersabda “ Barang siapa yang berdoadi akhir Sujud Shalat Subuh pada Jumat terakhir di akhir Ramadhan , niscaya Allah SWT akan mengabulkan “.

Sahabat bertanya, “ Doa apa itu Ya Rasulullah” ? ,Berdoalah ;

Ya Allah, Pertemukan Saya di Bulan Ramadhan tahun berikutnya, dalam keadaan Sehat Walafiat, mudahkanlah Rezeqiku dan segala urusanku Ya Allah “

Amien Ya Rabbal Alamien

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=mKVmHYcp7Ao&w=640&h=410]

Related articles

 
 

Impian adalah benih dari ide

28 Jul
Impian adalah benih dari ide. Terus bermimpi untuk mencapai sesuatu yang baik adalah bagian dari “Managing Innovation”. Mimpi tidak bisa diatur skenario dan alur ceritanya. Ide adalah buah dari dari impian baik yang kita punya.

Terus bermimpi yang berbeda dengan orang lain untuk melahirkan ide dan inovasi baru. Seperti orang bijak berkata: “Tidak ada yang kekal didunia ini kecuali perubahan itu sendiri”

 

Dewi Sartika…Pahlawan Wanita Dari Tanah Sunda

28 Jul
Coat of Arms of Indonesian province of West Java.

Lambang Propinsi Jawa Barat

Pada tanggal 19 Juli 2008 saya, permaisuri dan Firman mengunjungi rumah Dewi Sartika…Pahlawan Wanita Dari Tanah Sunda………… Rumah yang terletak di Jl.Dewi Sartika – Cicalengka – Kabupaten Bandung itu terlihat asri dan khas kediaman priyayi jaman dulu.Kami tidak bisa masuk memang…..Namun dari luar suasananya mencerminkan kearifan beliau itu masih ada……Sayang kami tidak bisa lama di sana….Maklum tempat tersebut belum dibuka untuk umum…….

 

Berikut cuplikan sejarah beliau dari Wikipedia:Dewi Sartika (Bandung, 4 Desember 1884 – Tasikmalaya, 11 September 1947), tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.

Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.

Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.

Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu

Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.

Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

 

 

Ruang Kerjaku…..Saat Malam Telah Tiba

28 Jul


Malam telah tiba…….Ruang Kerjaku….

Tempat dimana 5 hari dalam seminggu aku bersamamu……





 

Pendidikan Seumur Hidup

29 May

Terasa setelah permaisuri dan saya menyelesaikan S-2, pernyataan Aristotle yang berbunyi “Education is The Best Provision For The Journey To Old Age” dan dijadikan tema dari blog ini adalah benar adanya…..Hal inipun ditunjang dengan “Causa Prima” dari hadits: “Carilah Ilmu Sampai Ke Negeri Cina” yang menjadi kekuatan moral kami sekeluarga…… 

Ada harapan kecil memang agar kami dapat menjadi contoh kedua putra-putri yang dalam bahasa inggrisnya: “Keur Meumeujeuhna Bilatung Dulang”…….Ya, jauh didalam hati sudah diniatkan agar mereka mendapatkan pendidikan (baca: lebih dalam dari pengajaran) yang baik sehingga bisa mandiri dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Bila memungkinkan selain memprioritaskan pendidikan mereka, kami pun masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Hal ini dimaksudkan agar mereka terpacu dan melihat orang tuanya pun masih ulet untuk meraih pendidikan demi masa depan dan bekal yang lebih baik di dunia dan akherat…..Amin Ya Robbal Alamin….

 

 
 

Diantara Musibah dan Bencana

22 Mar

Tidurku tidak nyenyak tadi malam.....
Pikirkan resah dan gundah derita Ibu Pertiwi
Berkeluh kesah Diantara Musibah dan Bencana
Mengukur serta menimbang asa yang hilang diterjang masa

Akankan aku menyerah pada semua ini???
Tanpa berikan perlawanan diri yang berarti
Menyeruak kerdil dengan beribu galau di hati
Sebagai anak negeri mencari jati diri....Mengapa ini bisa terjadi????

Gambar dipinjam dari: http://heliconia.files.wordpress.com/2007/05/hp2.jpg

 

Hai Kaum Muda……Hidupmu Sangat Berharga

11 Feb
Membaca, melihat dan mendengar peristiwa tewasnya 10 orang dalam pertunjukan band di Bandung pada tanggal 09 Februari 2008, bisa dianggap biasa atau luar biasa. Biasa karena kejadian tersebut telah terjadi berkali-kali dan sepertinya tidak meninggal “lesson learned” (baca: hikmah atau pelajaran) bagi semua fihak terutama kaum muda dan penyelenggara pertunjukan. Tidak biasa karena petaka tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit dan menorehkan bagaimana peristiwa itu bisa “sering” terjadi.Saya coba mengerti kebutuhan kaum muda terhadap hiburan, perlunya sebuah band untuk manggung sebagai pembuktian eksistensinya dan manfaat dari penyelenggara pertunjukan seperti itu sebagai bagian dari hak asasi. Namun semua itu tidak membuat suatu azas baru yang menghalalkan segala cara seperti pemeo “Muda foya-foya, Tua kaya raya dan mati masuk syurga”. Tapi mungkin saat ini skala prioritas telah berubah dan kita lebih mendahulukan “Distorsi Lebih Besar Dari Informasi”, sehingga aspek-aspek kehidupan lebih diukur dari hal-hal yang tersurat daripada yang tersirat. Hal ini menjadi salah kaprah sehingga jauh dari arti sebuah kebanggaanseperti disindir oleh kartun berikut: 

Hai Kaum Muda……Hidupmu Sangat Berharga. Jangan biarkan kenikmatan “Fun, Food and Fashion (F3)” penuh racun itu menghancurkanmu…….