RSS
 

Posts Tagged ‘sosial’

Profesor Muhammad Yunus: Merubah Paradigma NACO (Not Action Concept Only) Menjadi PDCA (Plan, Do, Check and Action)

23 Oct

Sering kali kita merasakan sebagai seorang Akademisi bahwa tugasnya hanya berkutat dengan bidang teoritis keilmuan. Jurnal yang terakreditasi, seminar atau konferensi di luar negeri dan menjadi seorang profesor di universitas terkenal telah “mencukupkan” peran kita sebagai seorang akademisi.

Padahal peran kita tidak terbatas pada hal itu. Jelas tertuang dalam Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian pada masyarakat. Jelas sebagai “Tuan Rumah” Perguruan Tinggi, kita dituntut hanya kompeten pada bidang “Process and Technology” namun juga memberikan manfaat pada “People” di sekeliling kampus kita.

Sepertinya para akademisi harus merubah jargon  NACO (Not Action Concept Only) yang hanya menghasilkan konsep dan “tumpukan kertas” belaka di “Ruang Ilmu” serta “Rumah Pengetahuan” yang kita punya. Kita harus rubah Paradigmanya Menjadi PDCA (Plan, Do, Check and Action) sesuai kapasitas sebagai seorang “ilmuwan” dan “kaum terpelajar” seperti pada jaman kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia yang memberi pengaruh besar pada peradaban bangsa.

Saya masih teringat pada saat menulis Tesis di Institut Manajemen Telkom tahun 2008. Saat itu diputuskan untuk membahas topik tentang Muhammad Yunus (pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang memberikan pinjaman tanpa jaminan kepada rakyat miskin sebagai modal usaha). Hal ini dilatar belakangi oleh kekaguman saya pada peran belia sebagai seorang dosen yang tidak hanya “NACO” namun sudah mengimplementasikan “PDCA”. Tesis saya masih berhubungan dengan Telekomunikasi karena yang dibahas adalah Peran Pemangku Kapentingan “Grameen Telecom” salah satu grup dari Grameen yang membuat Kewirausahaan Sosial (Social Enterpreneurship) melalui Program Telepon Desa (Village Phone) di Bangladesh.

Seperti yang dikatakan oleh beberapa Profesor Perguruan Tinggi terkenal di Indonesia, di pada zaman kebijaksanaan ini bukan kekayaan materi yang dicari, tapi lebih pada kekayaan jiwa. Makna kasih sayang, kesejahteraan, perdamaian, keadilan, harmonisasi, kesaling tergantungan, kerendahatian, kejujuran, komitment, integritas, ketakwaan, keimanan dan berbagai sifat kebaikan yang manusiawi lainnya.

Bahkan seperti yang disampaikan oleh Steven Covey (Seorang Pakar Pengembangan Diri), bahwa salah satu sebab ketertarikannya membuat buku The 8th Habits adalah terinspirasi oleh kisah Profesor Muhammad Yunus seorang Dosen Ekonomi di Universitas Chitagong, Bangladesh yang tergugah oleh lingkungan sekitarnya yang miskin, yang papa dan tak berdaya.

Profesor Muhammad Yunus merasa pelajaran yang ia berikan kepada mahasiswanya tidak sejalan dengan kenyataan. Setiap ia keluar kampus selepas mengajarkan tentang ekonomi modern dia mendapati kesulitan yang dihadapi masyarakat. 

Lalu ia mulai menanyai orang-orang miskin namun masih mau berusaha itu, hingga ia mendapat simpulan bahwa mereka membutuhkan modal. Dan lebih dari itu modal yang mereka butuhkan tidak besar, iapun mampu membantunya. Itulah awalnya Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank, yaitu bank yang memberikan pinjaman kepada kaum miskin Bangladesh tanpa jaminan.

Saat ini (22-23 Oktober 2012), Profesor Muhammad Yunus sedang berada di Yogyakarta untuk menghadiri International Microfinance Conference. Sebagai Peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus mengatakan, aktivitas bisnis sosial sama seperti atau bahkan bisa bermakna melebihi kegiatan filantrofis karena kegiatan bisnis sosial dapat meningkatkan tingkat kemandirian ekonomi.

“Filantrofis memberikan uang tetapi orang yang menerimanya cenderung tidak mendapatkan uang itu kembali. Sedangkan bisnis sosial memberikan uang dan orang yang menerimanya dapat mendapatkan uang itu kembali,” kata Muhammad Yunus dalam International Microfinance Conference di Yogyakarta, Senin (22/10).

Mengapa Muhammad Yunus melakukan itu? Itulah hakikat spiritual dari adanya panggilan jiwa adanya suara hati dari kebenaran hakikat yang datangnya dari Allah SWT

 

I Love Monday: Antara Rapat Manajemen, Rekrutmen, Kuliah Cisco Security, Buka Bersama Dengan Riris dan Anak Tetangga Korban Tabrak Lari

01 Oct

 

Hari ini diisi dengan berbagai kegiatan yang lengkap dan berwarna. Mulai yang menggembirakan sampai yang menyedihkan terjadi silih berganti sbb:

 

Rapat Manajemen dan Rekrutmen

 

Rapat di Comlabs-ITB kali ini membicarakan beberapa topik penting diantaranya:

 

  1. Help Desk
  2. Sarpras/Duktek 
  3. Campus Center
  4. Jatinangor
  5. Kekurangan Ruangan
  6. SDM
 
Rapat berlangsung dari Jam 09.00-11.00 dan menghasilkan beberapa keputusan penting.  Diharapkan keputusan ini kan meberikan arah dan gerakan (Direction and Movement) yang menjaga keberlangsungan institusi ke depan.
 
Setelah rapat dilakukan diskusi dengan staf baru yang mengisi posisi Front Office. Banyak harapan digantungkan padanya karena dia punya latar belakang cukup mumpuni dengan penguasaan Bahasa Inggris yang cukup. Pastinya kami tekankan padanya bahwa institusi menekankan pada kinerja yang berkorelasi langsung dengan benefit dan profit yang akan dia terima
 
Kuliah Cisco Security Applied Networking-3
 
Tanpa makan siang dulu (karena shaum), saya langsung meluncur ke Laboratorium Networking Teknik Informatika Universitas Widyatama. Setelah sholat dhuhur, saya buka kuliah Applied Networking-3 dengan tugas kelompok agar mahasiswa membuat proposal Program Kreatifitas Mahasiswa DIKTI 2013. Menurut pengalaman sebelumnya, mahasiswa akan terpacu untuk membuat tugas karena tertarik dengan “exposure” keberhasilan teman-temannya di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional  (PIMNAS).
 
Kuliah dilanjutkan oleh Dosen Tamu Kang Akhmad Muhammad dengan teori dan praktek “Cisco Security” terutama topik “Access List”. Berikut adalah ulasannya:
 
Access List (ACL) digunakan untuk : 
  1. Mengontrol jalannya trafik data dalam network 
  2. Mem-filter paket-paket yang melewati router 
ACL adalah : 
  1. Sekumpulan list-list yang berisi kondisi-kondisi untuk diterapkan pada trafik yang  melewati interface router. 
  2. List ini menginstruksikan router paket mana saja yang akan di accept atau deny.
  3. Accept atau deny dapat berdasarkan kondisi-kondisi tertentu, contoh: 
    • Address source dan atau destination 
    • Protokol yang digunakan 
    • Nomor port yang di akses  

Beberapa alasan menggunakan ACL : 

  1. Membatasi trafik  tertentu sehingga meningkatkan performa network 
  2. Menyediakan kontrol trafik 
  3. Menentukan tipe trafik yang boleh lewat dan yang di blok pada interface router
  4. Contoh: mengijinkan trafik e-mail dan mem-blok trafik telnet 
  5. Tanpa ACL, semua paket bisa melewati router bebas hambatan. 
 
Terima kasih pada Kang Akhmad Muhammad yang telah memberikan  sebagian ilmunya pada kami……..
 
Buka Bersama Dengan Riris
 
Kegiatan dilanjutkan dengan menjemput Riris di SBM-ITB. Kemudian kami menuju Riau Junction karena Riris suka dengan makana Jepang. Ia berencana meramu beberapa resep masakan Jepang yang mungkin terinspirasi oleh kepopuleran acara Master Chef 🙂
 
Setelah berbelanja, kami lanjutkan dengan buka bersama di Restoran Jepang Sushi Tora di Supermarket Yogya Riau Junction. Makanannya enak walau harganya premium dan cukup tinggi dibanding Kedai “Bar Time and Sushi” depan DPRD Jabar Jl.Diponegoro Bandung. Tidak lupa kami juga bawa untuk Firman walaupun bukan berisi ikan karena dia masih alergi.
 
Anak Tetangga Korban Tabrak Lari
 
Pulang ke rumah, kami mendapat berita bahwa ada Anak Tetangga yang menjadi Korban Tabrak Lari. Anak itu ditabrak pengendara motor di Jalan Supratman dekat rumah kami. Penabraknya tanpa perduli (baca: pengecut) melarikan diri dan tidak memikirkan bilamana anak itu adiknya atau keluarganya sendiri.
 
Seperti yang saya kemukakan beberapa waktu yang lalu bahwa “Mengemudi Adalah Bukan Pekerjaan Sampingan“. Serius….., kalaupun kita minimal bisa mengemudikan sepeda motor, seringkali kita merasa itu adalah sesuatu yang “given” dan punya anggapan serba gampang dan nggak ada aturan yang pasti.
 
Tahukah anda, cara mengemudi motor yg baik dan benar salah satunya adalah : Kedua tangan jangan lurus 180 derajat kedepan,tapi harus ada sedikit sudut pada siku tangan?
 
Tahukah anda, bahwa Mengemudikan Kendaraan Itu Bukan Pekerjaan Sampingan (kerennya: Driving Is Not A Part-Time Job) serta memerlukan konsentrasi penuh? 

Ehm…kelihatannya sepele ya..tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Coba lihat dan teliti film Amerika yang memperlihatkan seseorang harus ujian mengemudi berkali-kali agar lulus mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) seperti di film “Speed-2″ dengan Sandra Bullock sebagai pemeran utamanya. Tilik juga Nelson Piquet, ex-pembalap F-1 yg terkenal dari Brazil, yang harus belajar mengemudi lagi karena sering melanggar lalu lintas.

Kelihatannya masih banyak pengemudi di Indonesia harus ujian SIM ulang agar mereka tidak menganggap kendaraannya dan mengemudi di jalanan adalah “Ekpresi Kebrutalan” dirinya 🙁

 http://www.youtube.com/watch?v=fPdgLWHC3xg

 

Cianjuran yang selalu kukenang (Visit to my house)

20 Jul

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=339NitRXq-g&w=600&h=400]

Cianjuran yang selalu kukenang (Visit to my house)

 
 

Pak Raden/Drs.Suyadi, Bapak Animasi Indonesia

20 Jul

Melihat Pak Raden/Drs.Suyadi di seminar telematika Depperin ttg industri animasi, saya menyaksikan love & passion yg kuat dr beliau thd profesinya.

Pada umur 78 tahun beliau masih bersemangat dan mau membagi ilmu thd animator muda…..Sungguh, Unyil itu bukan dibuat olehnya….tapi seperti Pinokio “sebagai anak” Gepetto….Ia “dilahirkan” oleh tangan dingin Drs.Suyadi……

Betapa falsafah kebangsaan…Dari tokoh Cuplis, Pak Ogah, Pak Raden, Meilan sd Orang Gila…..nilai itu telah ditanamkan pada animasi Unyil….Itu datang dari kecintaaannya pada anak2 dan bangsa ini…..Sangat tepat kalau beliau disebut Bapak Animasi Indonesia……..

Jadi teringat ayah yang sangat cinta dunia pendidikan…..Sampai sekarang beliau (74 tahun) masih aktif berkeliling sebagai konsultan pendidikan independen…….

(Videonya bisa dilihat di http://www.facebook.com/video/video.php?v=1127471157359)

“Profesi Anda bukanlah sekedar membawa pulang gaji ke rumah. Profesi Anda adalah apa yang Anda tempatkan di bumi, dengan gairah dan intensitas sedemikian rupa sehingga menjadi panggilan spiritual.” ~ Virgil (Penyair dan Penulis epik Romawi Kuno, Aeneid. 70 BC-19 BC)

 

Telepon melawan kemiskinan

07 Jul
DAVOS-KLOSTERS/SWITZERLAND, 31JAN09 - Muhammad...

Image via Wikipedia

Telepon melawan kemiskinan adalah ide sederhana Grameen Telecom. • Prinsip dasarnya adalah pemberian kredit melalui Grameen Bank untuk pembuatan wartel seluler di kawasan rural. • Perusahaan ini didirikan oleh pelopor bank mikro kredit di Bangladesh yaitu Grameen Bank yang didirikan Prof. Muhammad Yunus. • Sangat serius menggarap ekonomi kerakyatan dengan memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat miskin. • Salah contohnya adalah kisah Laily Begum yang menjadi pioner Village Phone Lady yang melalui program Grameen mengubah nasib keluarganya dari kaum papa menjadi pengusaha sukses.

[slideshare id=1725947&doc=grameentelecomfornewbie-dasmr-090715114025-phpapp01]

 

Kewirausahaan Sosial

29 Nov

Menurut definisi, wirausaha adalah suatu kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah terhadap produk atau jasa melalui transformasi, kreatifitas, inovasi, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga produk atau jasa tersebut lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pengguna produk dan jasa (Prof. Raymond Kao, Nanyang Business School, Singapore 1999). Kewirausahaan (entrepreneurship) berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi bangsa. Singapura misalnya, menjadi negara yang maju karena prinsip2 entrepreneurship.

Hasilnya adalah perusahaan IT kelas dunia yang awalnya dirintis oleh wirausahawan muda. Hal yang sama dilakukan negara-negara Amerika Serikat, Taiwan, Korea yang peka terhadap pembentukan entrepreneurs. (Gatot Johanes Silalahi, MSc; Sinar Harapan, 2003).

Dua setengah dekade lalu, Bill Drayton, pendiri dan CEO Ashoka, memprakarsai konsep kewirausahaan sosial. Prinsipnya tidak berbeda dengan kewirausahaan bisnis, bedanya kewirausahaan sosial digunakan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Bagi Drayton ada dua hal kunci dalam kewirausahaan sosial. Pertama, adanya inovasi sosial yang mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat. Kedua, hadirnya individu bervisi, kreatif, berjiwa pengusaha (entrepreneurial), dan beretika di belakang gagasan inovatif tersebut. Jadi wirausaha sosial adalah individu yang bervisi, kreatif, berjiwa pengusaha, dan beretika, yang mampu menciptakan inovasi sosial dan mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat. Inovasi sosial yang dimaksud Bill adalah yang mampu menciptakan atau mengubah pola di masyarakat sehingga dapat mengakar. Dan karenanya, hal itu dapat berkesinambungan.

Contoh gemilang tentang kerja wirausahawan sosial adalah bagaimana Muhamad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian 2006, yang dengan sistem kredit mikro yang lebih dikenal sebagai “Grameen Bank”, telah membantu jutaan kaum miskin di Bangladesh, terutama perempuan dan anak, untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik.

David Bornstein memaparkan bagaimana para wirausahawan sosial dari berbagai belahan dunia yang hampir tak terliput oleh media namun telah mengubah aras sejarah dunia dengan terobosan berupa gagasan-gagasan inovatif, memutus sekat-sekat birokrasi, mengusung komitmen moral yang tinggi dan kepedulian (How to Change the World, 2004).

Selain buah kerja brilian Muhammad Yunus, David Bornstein juga menceritakan puluhan kisah wirausahawan sosial lain, seperti Fabio Rosa (Brasil) yang menciptakan sistem listrik tenaga surya yang mampu menjangkau puluhan ribu orang miskin di pedesaan, Jeroo Billimoria (India) yang bekerja keras membangun jaringan perlindungan anak-anak telantar, Veronika Khosa (Afrika Selatan) yang membangun model perawatan yang berbasis rumah (home-based care model) untuk para penderita AIDS yang telah mengubah kebijakan pemerintah tentang kesehatan di negara tersebut, dan banyak lagi tokoh yang buah tangannya telah terasa langsung manfaatnya oleh masyarakat.

 

Di Indonesia kita kenal Pak Bahruddin melalui paguyuban petaninya membuka peluang bagi petani untuk memenuhi hak-hak mereka, termasuk di antaranya layanan irigasi, akses pasar, dan perubahan pola pertanian organik yang terintegrasi dengan teknologi tepat guna. Selain petani berpeluang meningkat pendapatannya dan lahan pertaniannya dapat terkelola secara berkesinambungan, paguyuban juga berhasil membuat DPRD Salatiga mengubah perda berkaitan dengan pemenuhan layanan irigasi bagi petani.

Upaya Bahruddin tidak berhenti sampai di situ. Kini beliau sementara mengembangkan pendidikan alternatif berbasis teknologi informasi tingkat SLTP bagi anak-anak petani. Akses internet 24 jam digunakan selain untuk meningkatan kapasitas guru dan murid,juga untuk kegiatan belajar dan mengajar. Di samping itu, Sekolah SLTP Qaryah Thayyibah juga mampu melibatkan petani (orang tua murid) dan kaum muda sebagai relawan tenaga pengajar, dan juga pengusaha komputer yang dapat mendukung pengadaan komputer dan akses internet.
Semua upaya Bahruddin tidak lain didorong oleh kegigihannya mewujudkan perubahan. Kreativitasnya pun menggulirkan inovasi-inovasi sosial yang terus bermunculan seiring perubahan tantangan yang dihadapi masyarakat. Adapun kewirausahaan sosial sendiri hadir bagi hidup dan penghidupan yang lebih baik di dunia ini.

Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) adalah bagian yang tak terpisahkan dari Kewirausahaan Strategis (Strategic Entrepreneurship). Hitt,Ireland&Hoskisson (2005) mengatakan bahwa Kewirausahaan Strategis (Strategic Entrepreneurship) yang biasanya dilakukan oleh perserorangan dan badan usaha adalah :

  • Mengambil langkah-langkah kewirausahaan dengan perspektif strategis.
  • Berperilaku menggiatkan pencarian kesempatan usaha dan keunggulan kompetitif.
  • Merencanakan dan mengimplementasikan strategi kewirausahaan untuk menciptakan keuntungan.

Usaha-usaha Kewirausahaan Strategis (Hitt,Ireland&Hoskisson: 2005) diatas harus didasari, didorong dan mempunyai tujuan pada beberapa faktor yaitu:

  • Cara berfikir kewirausahaan dari pendiri (founding father) organisasi atau badan usaha.
  • Mempunyai kelompok kerja untuk mengembangkan produk atau pelayanan.
  • Memfasilitasi inovasi dan integrasinya dengan menyebarkan nilai luhur dan kepemimpinan kewirausahaan.
  • Menciptakan nilai tambah melalui inovasi yang dilakukan.
 
4 Comments

Posted in Ilmiah