RSS
 

Posts Tagged ‘Telematika’

Manajemen Pengetahuan: Adakah Itu “Distorsi” Atau “Informasi” Bagi Perusahaan?

26 May
Sehubungan dengan dibutuhkannya pengetahuan sebagai keuntungan kompetitif, manajemen pengetahuan banyak terlibat dalam organisasi. Manajemen pengetahuan sebenarnya mengacu pada pengetahuan yang terkait dengan disiplin ilmu manajemen, suatu disiplin studi pada isu-isu dari organisasi manajemen. Isu-isu ini mengacu pada organisasi, manajer dan bawahan, perilaku organisasi, hubungan antara organisasi, hubungan antara organisasi dan lingkungan eksternalnya, dan sebagainya. David (2004) membagi manajemen pengetahuan menjadi pengetahuan manajemen teoritis dan pengetahuan manajemen praktis.
Manajemen pengetahuan adalah sejumlah  pengetahuan dan pengalaman tentang fenomena manajemen yang diperoleh oleh organisasi dari praktek menjelajahi atau mengubah fenomena sosial. Menurut pemahaman ini, harus dikatakan bahwa semua pengetahuan berhubungan dengan manajemen dikenal sebagai pengetahuan manajemen, sehingga manajemen teori dan pola manajemen adalah bidang pengetahuan manajemen. Dan Tulisan ini masuk ke dalam manajemen pengetahuan praktis.
Manajemen pengetahuan adalah pengetahuan dengan sifat-sifat umum pengetahuan. Inti dari semua hal untuk mengeksplorasi pengetahuan adalah kebutuhan untuk mengelola pengetahuan.  Yang paling memprihatinkan adalah karakteristik transfer dari pengetahuan yang merupakan faktor kunci ketika pengetahuan diubah menjadi keunggulan kompetitif. Karakteristik transfer pengetahuan termasuk kompleks. Substansinya adalah untuk mengetahui hambatan untuk mentransfer pengetahuan.
Kesulitan untuk transfer pengetahuan dapat dibagi menjadi tiga kategori. Itu adalah:
  1. Pengetahuan yang lengket pada pemiliknya
  2. Pengetahuan yang ambigu
  3. Pengetahuan yg dipahami tanpa dikatakan
Grant ( 1996 ) berfokus pada karakteristik pengetahuan itu sendiri, dan berpendapat bahwa karakteristik pengetahuan itu sendiri adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kelengketan pengetahuan. Beberapa peneliti percaya bahwa pengetahuan lingkungan transfer pengetahuan adalah juga sebuah bentuk penting dari kelengketan pengetahuan. Oleh karena itu, tidak hanya karakteristik pengetahuan itu sendiri yang harus diperhitungkan untuk pembentukan pengetahuan yang lengket pada pemiliknya, tetapi juga faktor lingkungan dalam transfer pengetahuan.
Simonin (1999) mengatakan bahwa ada empat faktor ambiguitas pengetahuan yaitu: tingkat tacitness, tingkat kompleksitas, tingkat kekhususan dan empiris. Kogut & Zander (1993) menganalisis tingkat tacitness pengetahuan dan berpendapat bahwa pengetahuan yang lebih kompleks adalah lebih sulit dan  yang tinggi tingkat tacitness-nya adalah  pengetahuan yang diberikan. Seperti dapat dilihat dari pembahasan di atas, kelengketan pengetahuan, pengetahuan ambiguitas dan tacitness pengetahuan memiliki implikasi yang sama dalam arti lebih jauh dengan menjelaskan isi masing-masing menjadi satu sama lain.
Dari perspektif transfer pengetahuan, ciri yang menonjol dari manajemen pengetahuan adalah pengetahuan “tacitness and embedability” situasional bila dibandingkan dengan pengetahuan lainnya. Manajemen pengetahuan yang berbeda cocok untuk situasi yang berbeda. Transfer manajemen pengetahuan  menarik dukungan dari “situasi yang sama” untuk meningkatkan efek transfer. Dan itu membutuhkan komunikasi dan umpan balik berulang-ulang yang terikat pada situasi untuk tujuan tersebut. Manajemen pengetahuan dapat lebih dekat dengan situasi yang diterapkan itu sendiri adalah kompleks. Ini berisi baik pengetahuan eksplisit dan yang tacit.
Tidak semua manajemen pengetahuan dapat dinyatakan dan diartikulasikan oleh teks sederhana atau gambar. Beberapa manajemen pengetahuan bahkan perlu beberapa saluran dan masukan ganda untuk mendapatkan yang lebih akurat yg dpt dimengerti. Organisasi diharapkan dapat menerima dan memahaminya dengan mudah sehingga mencapai efek transfer yang lebih baik. Ini juga mengatakan kepada kita pentingnya komunikasi dalam proses transfer manajemen pengetahuan. Berdasarkan dua karakteristik di atas, perlunya mengadopsi pengetahuan model referensi pengalihan yang yang didirikan berdasarkan perspektif komunikasi bila membuat model transfer manajemen  pengetahuan dalam rangka untuk menghapus hambatan.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/j6IJCw_ZDus” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Seminar @WifiUtama: Memprediksi masa depan ERP – Sebuah Analisis SWOT

30 Apr

Saya jadi moderator dan “pembicara”  acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatamabertajuk Widyatama Informatics Festival (WIFi). Rangkaian acara ini telah dimulai sejak awal April kemarin dan akan mencapai puncaknya pada tanggal 26 – 28 April 2012.

WIFi  menggelar seminar dan workshop ditambah dengan berbagai macam kompetisi. Seminar diadakan pada tanggal 28 April 2012 di Universitas Widyatama, Jl. Cikutra 204, Bandung. Seminar akan terdiri dari dua bagian. Seminar pertama akan membahas tentang ERP khususnya SAP dan  diselenggarakan pada pukul 09.30 sampai pukul 12.00. Seminar SAP ini diisi oleh Wahyudi (Staff Ahli Direksi PT. Kereta Api Indonesia) dan Ribkah Gustina (Metrasys) dan moderator Djadja Sardjana.

Berikut adalah ulasan atas seminar tersebut dikaitkan dengan Sebuah Analisis SWOT memprediksi masa depan ERP: 

Teknologi informasi telah tumbuh di era yang didominasi proses di mana otomatisasi telah difokuskan pada pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan?”. Hal ini diyakini bahwa kita sekarang telah memasuki era baru di mana otomatisasi dapat membantu menjawab pertanyaan besar: “Apa yang harus saya ketahui” Di era ini, kemampuan untuk mengekspos, mengasosiasikan, menganalisis, dan mempresentasikan konten terstruktur dan tidak terstruktur adalah salah satu sumber yang belum dimanfaatkan untuk keunggulan kompetitif.

Hingga sekarang, kebutuhan operasional dan transaksional – bukan informasi – adalah fokus dari implementasi ERP yang paling penting. Aktifitas tersebut termasuk yang didasarkan pada proses bisnis yang otomatis, bukan analisis bisnis  atau indikator kinerja utama (KPI).

Platform ERP memiliki kemampuan untuk pelaporan historis dan dukungan keputusan, tetapi kebanyakan solusinya telah membatasi fungsi analisis deskriptif  atau prediksi. Upaya untuk memperluas fungsi dalam ERP sering tertinggal fitur dan kegunaannya dari solusi analisis canggih yang terpisah dari ERP.

Para Eksekutif  mengasumsikan informasi  akan menjadi output dari upaya solusi ERP. Namun, sebagian besar implementasi tidak memiliki visi informasi (atau anggaran) untuk hal ini. Banyak implementasi tidak termasuk sejarah informasi  sebagai bagian dari konversi data. Visibilitas terbatas pada transaksi yang terjadi setelah ERP “go-live”. Solusi ERP disebarkan melaluliperilaku “data yang tercemari” serta tidak mengatasi data organik, “sistem rumah-tumbuh  dan sumber tersembunyi lainnya.

Tapi sekarang banyak organisasi berpikiran maju  menyadari bahwa paket perangkat lunak skala besar yang  “memakan semua sumber daya”  perusahaan  bukan prasyarat untuk mencapai kemampuan informasi. Mereka telah meluncurkan “best-of-breed” upaya mewujudkan business intelligence (BI) dan solusi analisis di mana ERP dipandang sebagai salah satu sumber data perusahaan.

Pemain teknologi informasi di perusahaan telah melakukan investasi yang signifikan dan akuisisi untuk mendukung kemampuan informasi mereka. Setelah proses terintegrasi ke dalam platform eksekusi mereka, harus ada banyak peningkatan kemampuan untuk mewujudkan visi informasi perusahaan. Implementasi Multi-tahun ERP  dapat cepat komponen melacak data master dan analisis bisnis untuk mempercepat “time to value”, yang memungkinkan visibilitas untuk menjadi pemercepat jadwal “roll-out”.

Usaha yang mengadopsi pendekatan bisnis KPI di luar operasional, menggabungkan kebutuhan informasi dari bisnis yang jauh melampaui apa yang vendor  perlukan untuk proses eksekusi. Otomatisasi informasi adalah disiplin yang berbeda dari ERP, membutuhkan satu set keterampilan, keteguhan dan metode yang berbeda – terutama jika tidak paralel dengan implementasi ERP. Organisasi menyadari bahwa ERP merupakan sebagian dari data yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bisnis.

 

Mari kita melakukan analisis SWOT prediktif untuk ERP:

Kekuatan:

  1. Perkembangan TI telah menyebabkan kerangka teknologi baru yang memudahkan untuk Business Intelligence, OLAP dan Manajemen Kinerja Bisnis
  2. Banyak  Algoritma prediksi  tersedia melalui karya-karya penelitian
  3. Komputasi kecepatan tinggi telah memudahkan data mining
  4. Banyak gudang data telah dibangun selama bertahun-tahun yang dapat digunakan untuk analisis

Kelemahan:

  1. Analisis prediktif banyak bertumpu pada membangun sebuah model untuk sistem berdasarkan asumsi tertentu. Hal ini mengakibatkan prinsip “Garbage in garbage out”
  2. Kinerja perangkat lunak ERP menurun sebagai akibat proses prediktif memerlukan komputasi tambahan dan sumber daya dalam bentuk tabel data
  3. “Analytics & predictives” dikembangkan menggunakan teknologi terbaru yang masih belum cukup stabil. Oleh karena itu menghasilkan beberapa bug kode yang tidak diinginkan

Peluang:

  1. Dalam situasi kompetisi yang sangat ketat, perusahaan memberikan perhatian maksimal untuk strategi dan pengambilan keputusan. “Predictives” membantu manajemen dalam membuat keputusan yang berdasarkan perkiraan. Ada banyak peluang pasar yang besar untuk produk ERP seperti ini.
  2. Memperkenalkan  Analisis dan prediksi dengan membuat user interface yang lebih “user friendly” dan intuitif

Ancaman:

  1. Ada banyak pesaing di industri ini seperti Oracle, SAP, dan Microsoft yang berjuang untuk pangsa pasar produk tersebut
  2. Menggunakan teknologi terbaru untuk menambahkan “predictives” untuk ERP menyebabkan peningkatan biaya  dari investasi dalam produk  sehingga mungkin menghalangi usaha kecil menggunakannya.
Melihat analisis SWOT, rasanya investasi di predictives untuk ERP adalah pilihan yang layak untuk perusahaan IT. Ini tidak hanya akan mengantar ke masa depan baru ERP tetapi juga membuat produk ERP yang lebih menarik dan lebih cerdas.
Catatan: Sebagian disadur dari http://fms-syssoc.net/blog/?p=76
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/_LIlOxEMlxs” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

 

Seminar @WiFiUtama: Social Media, Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan?

29 Apr

Kemarin saya jadi moderator dan “pembicara”  acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatama bertajuk Widyatama Informatics Festival (WIFi). Rangkaian acara ini telah dimulai sejak awal April kemarin dan akan mencapai puncaknya pada tanggal 26 – 28 April 2012.

WIFi  menggelar seminar dan workshop ditambah dengan berbagai macam kompetisi. Seminar diadakan pada tanggal 28 April 2012 di Universitas Widyatama, Jl. Cikutra 204, Bandung. Seminar akan terdiri dari dua bagian. Seminar pertama akan membahas tentang SAP dan akan diselenggarakan pada pukul 09.30 sampai pukul 12.00. Seminar SAP ini diisi oleh Wahyudi (Staff Ahli Direksi PT. Kereta Api Indonesia) dan Ribkah Gustina (Metrasys) dan moderator Djadja Sardjana.

Seminar kedua  dilaksanakan pada pukul 13.30 – 16.30. Seminar ini berkonsep seminar dan talkshow dan  mengangkat tema “The Power of Sosial Media Community”. Bagian kedua ini akan diisi oleh Reza Budi Prabowo (FOWAB), Winastwan Gora (Intel), Wiku Baskoro (DailySocial),  dan Willis Wee (Techinasia) dan moderator Yohan Totting (FOWAB). 

Sesuai yang disampaikan Pak Winastwan Gora (Intel), menarik membicarakan Social Media ini, apakah  Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan khususnya di Indonesia? 

Jaringan sosial online sekarang begitu dalam tertanam dalam gaya hidup anak-anak, remaja bahkan orang dewasa yang bersaing dengan televisi untuk menarik perhatian mereka, menurut sebuah studi baru dari Grunwald Associates LLC. Penelitian itu menunjukkan, anak berumur 9 sampai 17 tahun, sekarang menghabiskan waktu menggunakan layanan jejaring sosial dan situs web hampir sama seperti mereka menghabiskan menonton televisi. Diantaranya sekitar sembilan jam seminggu digunakan kegiatan pada jejaring sosial dan sekitar 10 jam seminggu menonton TV.

Siswa kebanyakan tidak pasif pada saat online. Selain berkomunikasi, banyak siswa terlibat dalam kegiatan yang sangat kreatif di situs jaringan sosial – dan proporsi yang cukup besar dari mereka adalah menjadi “nara sumber” pendidikan yang mengatur “kecepatan belajar” bagi rekan-rekan mereka.

Dalam hal ini, melalui beberapa Social Media termasuk Facebook dan Twitter, Inisiatif Intel® Education adalah sebuah komitmen yang berkelanjutan untuk mempercepat proses pengembangan pendidikan menghadapi ekonomi baru yang berbasis pengetahuan (knowledge economy). Sebagai partner yang telah dipercaya oleh pemerintah berbagai negara dan dunia pendidikan di seluruh dunia dan investasi tahunan sebesar USD 100 juta di lebih dari 50 negara, program Intel® Education memiliki fokus untuk: meningkatkan proses belajar mengajar melalui penggunaan teknologi yang efektif, dan mengembangkan pendidikan serta penelitian dalam matematika, ilmu pengetahuan alam, dan rekayasa. Semua ini ditujukan untuk mencapai pendidikan yang mampu menjawab tantangan abad 21.

Indonesia menjadi Negara ke 45 yang mengimplementasikan Program Intel® Teach. Hingga tahun 2011, program ini telah di implementasikan di 70 negara dan melatih lebih dari 10 juta guru diseluruh dunia. Intel Indonesia memulai program pada pertengahan tahun 2007, MOU antara Departemen Pendidikan Nasional dan Intel Indonesia yang ditandatangai tanggal 16 Mei 2007 menandai dimulainya pelaksanaan program Intel teach di Indonesia.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/3zKdPOHhNfY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Blackberry dan RIM: Ketika Kreatifitas dan Inovasi Berhenti

26 Apr

 

Selalu sedih melihat perusahaan  besar yang tersapu ke dalam kelesuan, tak memperoleh angin dari komunitas teknologi, serta secara bertahap keluar dari Silicon Valley sampai “jatuh ke tempat gelap”. Setelah itu, mati dan secara menyedihkan dilupakan. Itu memang sedikit melodramatis.

Research In Motion; Mereka benar-benar berjaya dengan pesan dan “multitasking software Blackberry Messenger” di tahun 2000an ini. Mereka juga bertanggung jawab untuk ponsel pertama yang benar-benar terhubung dengan orang kaya dan pengusaha yang miskin waktu, yang memungkinkan penguasa industri untuk berbaring sementara tetap terhubung ke kantor setiap saat.  


Tapi saat ini berbeda, khususnya antara 2007/8 ketika RIM dan perangkat Blackberry mempunyai masa jayanya. Enkripsi yang ditawarkan pada semua pesan dan email yang dikirim melalui handset adalah menarik bagi bisnis, dan semuanya berjalan baik pada perangkat RIM untuk waktu yang singkat. Meskipun penting untuk diingat, ini adalah waktu ketika iPhone tidak mampu menangani layanan email terenkripsi dan Android hanyalah isapan jempol imajinasi di Microsoft. RIM berada di atas, dan tampak seperti itu bisa tetap seperti itu.

Tapi seperti halnya dengan semua perusahaan yang tak tertandingi, RIM sedikit terlalu puas serta agak terlalu malas ketika mengembangkan perangkat lunak baru dan model untuk smartphone mereka. Mengapa mengubah produk setelah semua menjadi pemenang? Nah RIM, itu dilema teknologi yang Anda hadapi – anda bukan sepasang itu Levi atau Magimix, yang kekuatannya terletak pada warisan mereka – dimana formula mereka  tetap tak berubah selama 50 tahun terakhir.  

 

 

Dan inilah kepuasan yang mengakibatkan situasi saat ini dihadapi RIM: model bisnis bombastis dengan telepon imajinatif. Untuk pengguna bisnis kelas atas yang menginginkan antarmuka multimedia ramping serta fungsionabilitas bisnis, ada iPhone. Untuk pelanggan finansial yang ingin akses ke App Store, ada Android. Apakah RIM cocok dalam dunia teknologi yang baru ini? Kita tidak  tahu pasti. Kita hanya bisa berharap bahwa  mereka bangkit dari abu kehancuran diri mereka sendiri .

Lengkapnya bisa dibaca di http://www.the7thchamber.com/2012/04/the-death-of-rim/  

<a href=”http://www.mbaonline.com/death-of-rim/”><img src=”http://images.mbaonline.com.s3.amazonaws.com/death-of-rim.gif” alt=”Death of RIM” width=”600″  border=”0″ /></a><br />Created by: <a href=”http://www.mbaonline.com/”>MBAOnline.com</a>

 

Analisis Lingkungan Politik dan Hukum Grameen Telecom

24 Apr
   
Dalam menjalankan kegiatannya, Grameen Telecom  menghadapi lingkungan eksternal berupa Lingkungan Umum (Makro),  Lingkungan Industri (Mikro) dan Lingkungan Operasional dan Lingkungan Operasional (Internal) yang masing-masing dianalisis yang menjadi dasar bagi perumusan strategi.
 
Lingkungan makro adalah suatu lingkungan dalam lingkungan eksternal yang faktor-faktornya memiliki ruang lingkup yang luas dan faktor-faktor tersebut pada dasarnya diluar dan terlepas dari operasi perusahaan. Arah dan stabilitas dari faktor politik dan hukum merupakan pertimbangan utama bagi manajer dalam memformulasikan strategi. Kondisi Politik dan Hukum di Bangladesh ikut menyertai Grameen Phone dan Grameen Telecom dengan segala pasang surutnya.Seperti diketahui, pada tahun 1996 Kementrian Pos dan Telekomunikasi Bangladesh (MOPT) telah memberikan lisensi untuk operator GSM kepada TM International (Bangladesh), Grameen Phone Ltd. (Operator dari Grameen Telecom) dan Sheba Telecom Ltd. untuk jangka waktu 15 tahun. 
 
Grameen Phone Ltd. (GP Ltd.) kemudian memperkenalkan skema untuk menyediakan telepon bergerak kepada wanita pedesaan yang tarifnya disubsidi dalam rangka pemberdayaan masyarakat miskin yang berkolaborasi  dengan Grameen Bank (yang didirikan oleh Prof. Muhammad Yunus) dan telah menjadi kisah kebehasilan baik dibidang telekomunikasi dan pengurang kemisikinan di daerah pedesaan Bangladesh. 
 
Untuk memperkuat kebijakan diatas dan memfasilitasi ketersediaan pelayanan telekomunikasi yang terjangkau, pemerintah Bangladesh menyetujui implementasi dari  Kebijakan Telekomunikasi 2001 (Telecommunication Act of 2001). Dibawah kebijakan ini, sebuah komisi independent yang dinamakan Bangaladesh Telecommunication Regulatory Commission (BTRC) didirikan dan mulai berfungsi pada tanggal  31 Januari 2002. Sebagai Badan Regulator, BTRC menerbitkan lisensi kepada operator dan pengguna telekomunikasi serta diberikan mandat . untuk memfasilitasi pelayanan telekomunikasi dengan kualitas yang bisas diterima pelanggan di semua daerah di Bangladesh. Mandat ini dapat diterjemahkan dengan aktifitas sebagai berikut:
Meningkatkan teledensitas sekurang-kurangnya 10 telephon per 100 penduduk di tahun 2010;
Menyediakan komunikasi telepon disetiap desa pada tahun 2006;
Mempromosikan aplikasi telematika (ICT) untuk mendukung perkembangan sosial ekonomi;
Mengkreasikan lingkungan yang kondusif bagi pelayanan ICT;
Memfasilitasi kerjasama Publik dan Swasta dalam perkembangan ICT; dan
Memfasilitasi aplikasi ICT dalam pengentasan kemiskinan
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/T7c5CDGpFAA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
 

Peran Teknologi Telematika dalam Kepemimpinan Bangsa

23 Apr

Pada saat ini bangsa kita sedang dalam tahapan rekonstruksi setelah mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik yang terburuk pada tiga tahun terakhir ini. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga formal amat tipis, bahkan kepercayaan antar kelompok-kelompok dalam masyarakatpun terkikis. Sedangkan gejala disintegrasi bangsa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita. Upaya rekonstruksi diharapkan dapat membawa bangsa kita menjadi suatu masyarakat madani yang bersatu dalam negara Republik Indonesia.

Memasuki milenium ketiga, globalisasi yang semula merupakan suatu kecenderungan telah menjadi suatu realitas, sedangkan alternatifnya adalah pengucilan dari kancah pergaulan antar bangsa. Globalisasi menuntut adanya berbagai macam standar, pengaturan, kewajiban, dan sekaligus juga memberi hak kepada anggota masyarakat global. Berbagai aturan dikenakan secara global (misalnya, WTO, IMF, UN, dan lain-lain). Tuntutan berkompetisi, dan sekaligus berkolaborasi, memaksa kita untuk terus menerus meningkatkan daya saing bangsa kita, baik dalam pasar lokal, regional, maupun dalam pasar global.


Sementara itu, era reformasi memungkinkan kita untuk menelaah dan memperbaiki dampak negatif dari sentralisasi yang berlebihan di masa lalu. Pola sentralisasi selain mengabaikan inisiatif masyarakat, juga cenderung meniadakan proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada kriteria obyektif berdasarkan data dan informasi. Setelah beberapa dasawarsa di bawah pemerintahan tersentralisasi, kebijakan pucuk pimpinan seringkali menjadi satu-satunya acuan yang harus diikuti. Akibatnya, keputusan lebih banyak dilakukan atas dasar kesesuaian dengan kebijakan atasan daripada berdasarkan fakta dan informasi, sehingga informasi yang dikumpulkan dari lapangan menjadi kurang dihargai.

Selain masalah-masalah tersebut di atas, perkembangan teknologi juga memberikan tantangan tersendiri pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan perlu dicermati adalah teknologi informasi. Tanpa penguasaan dan pemahaman akan Teknologi Telematika ini, tantangan globalisasi akan menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap pihak lain dan hilangnya kesempatan untuk bersaing karena minimnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam Kepemimpinan Bangsa. Mengingat perkembangan Teknologi Telematika yang demikian pesat, maka upaya pengembangan dan penguasaan Teknologi Telematika yang didasarkan pada kebutuhan sendiri haruslah mendapat perhatian maupun prioritas yang utama untuk dapat menjadi masyarakat yang lebih maju.


 Dengan tantangan yang beragam seperti itu, Pemerintah Republik Indonesia harus terus melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya dan mengantisipasi langkah-langkah yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana Teknologi Telematika (untuk selanjutnya akan disingkat TI atau IT-Information Technology) dapat berperan dalam langkah-langkah yang sedang, dan akan dilakukan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

 

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/82tR63FQnMw” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Applied Networking: Mobile Device sebagai NMS ( Network Management System )

17 Apr

 

 

TUGAS APPLIED NETWORKING 4

Untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Applied Networking 4

“Mobile Device sebagai NMS ( Network Management System )”

Disusun oleh : 

06060   – Hilman

0607037 – Bobby Febiantoro

06070   – Ruhman Suherman

0607053 – Derri Rana Septiana

0607024 – Heru Prabowo


Laboratorium Network Engineering

Teknik Informatika Universitas Widyatama

Bandung

 

MOBILE DEVICE SEBAGAI NMS ( Network Management System)

Pengertian dari Device Mobile

Mobile Device (juga dikenal dengan istilah cellphone, handheld device, handheld computer, ”Palmtop”, atau secara sederhana disebut dengan handheld) adalah alat penghitung (computing device) yang berukuran saku, ciri khasnya mempunyai layar tampilan (display screen) dengan layar sentuh atau keyboard mini.

MACAM-MACAM MOBILE DEVICE
Mobile Computers :
• Notebook PC
• Ultra-Mobile PC
• Handheld PC
• Personal Digital Assistant/ Enterprise Digital Assistant
• Graphing Calculator
• Pocket Computer

Pengertian dari NMS ( Network Manajemen Sistem)

Definisi normal NMS adalah “Network Management System”.

Sebuah NMS mengelola Elemen Jaringan. Unsur-unsur atau perangkat yang dikelola oleh, NMS sehingga perangkat ini digunakan untuk memanggil sebagai perangkat dikelola. Perangkat manajemen mencakup Kesalahan, Akuntansi, Konfigurasi, Kinerja, dan Keamanan (Fault, Configuration, Accounting, Performance, Security/FCAPS) manajemen. Masing-masing lima fungsi khusus untuk organisasi, tetapi ide dasar untuk mengelola perangkat ini FCAPS.

Sejak berkembangnya Internet dan teknologi komputer, baik perangkatkeras (hardware) maupun perangkat lunak (software) peningkatan penggunaan komputer untuk membantu aktifitas pekerjaan semakin tinggi.Hal ini bertujuan  untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam menyelesaikan pekerjaan. Sistem Operasi yang berkembang mampu mendukung suatu sistem komputer yang saling terhubung, baik komputer pribadi (PC) maupun Server dalam sebuah jaringan LAN (Local Area Network) hingga WAN (Wide Area Network).

Pengembangan sistem jaringan komputer ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Sistem jaringan komputer mampu bertindak sebagai media komunikasi yang baik bagi para pegawai yang terpisah jauh.
  • Mempercepat tersebarnya informasi yang dibutuhkan dalam lingkungan sub-sistem pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong.
  • Menurunkan penyediaan perangkat keras yang berlebihan dengan cara melakukan sharing terhadap perangkat keras tersebut (misalnya : sharing printer).
  • Meningkatkan skalabilitas yaitu kemampuan untuk meningkatkan kinerja sistem secara berangsur-angsur sesuai dengan beban pekerjaan.

Secara umum jaringan komputer dibagi atas lima jenis :

  • Local Area Network (LAN)

Local Area Network (LAN), merupakan jaringan lokal di dalam sebuah gedung yang mampu menjangkau radius beberapa ratus meter. LAN digunakan untuk menghubungkan komputer (workstation) dalam kantor dan memakai bersama sumberdaya (resource), misalnya printer dan saling bertukar informasi. 

  • Metropolitan Area Network (MAN)

Metropolitan Area Network (MAN), pada dasarnya merupakan versi LAN yang lebih besar dan biasanya menggunakan teknologi yang sama dengan LAN. MAN dapat mencakup kantor yang letaknya berdekatan atau juga sebuah kota dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi atau umum.

  • Wide Area Network (WAN)

Wide Area Network (WAN), jangkauannya mencakup daerah geografis yang luas, seringkali mencakup sebuah negara bahkan benua. WAN terdiri dari kumpulan peralatan (router) sebagai node node penghubung untuk bisa saling berkomunikasi.

  • Internet

Jaringan interkoneksi dimana semua komputer atau antar jaringan dapat terhubung melalui media penyedia jasa ISP (Internet Service Provider). Sebagai media penghubung diperlukan gateway dari masing-masing jaringan tersebut. Kumpulan jaringan yang terinterkoneksi inilah yang disebut dengan internet.

  • Jaringan Tanpa Kabel

Jaringan tanpa kabel merupakan suatu solusi terhadap komunikasi yang tidak bisa dilakukan dengan jaringan yang menggunakan kabel. Misalnya orang yang ingin mendapat informasi atau melakukan komunikasi walaupun sedang berada diatas kendaraan atau di luar kantor (mobile), maka mutlak jaringan tanpa kabel diperlukan. Saat ini jaringan tanpa kabel sudah marak digunakan dengan memanfaatkan jasa satelit dan mampu memberikan kecepatan akses yang lebih cepat dibandingkan dengan jaringan yang menggunakan kabel.

Masing-masing lima fungsi khusus untuk organisasi, tetapi ide dasar untuk mengelola perangkat ini FCAPS.

  1. FCAPS Faults
    Yaitu setiap sebuah infrastruktur terjadi kegagalan, harus muncul sebuah event, yaitu alarm.
  2. Configuration
    Dibagi menjadi 2
    1. Inventorying
      yaitu untuk mengetahui konfigurasi dari perangkat-perangkat yang ada. Misalnya sebuah network, bisa diketahui berapa banyak wireless point, komputer, router yang ada dalam perangkat tersebut, sekaligus konfigurasi seperti IP, dll
    2. Provisioning
      Yaitu apa yang kita bisa lakukan untuk mengkonfigurasi perangkat tersebut. Misal kita punya 10 switch. Apabila harus satu persatu didatangi dan dikonfigurasi, menyulitkan. Dengan ini kita dapat melakukannya langsung dari server
  3. Accountance
    Yaitu charging. Aspek ini akan diangkat kedalam BSS. Ini akan digunakan oleh BSS untuk mengetahui charging dari sebuah perangkat. Misalnya koneksi GPRS. Dengan ini bisa dicatat berapa banyak traffic yang sudah dilakukan, untuk kemudian dibuat billingnya.
  4. Performance
    Dibagi kedalam 2 kelompok, yaitu :
    1. Reliability dan Availability
      menyangkut uptime dan downtime dari perangkat
    2. Usage
      menyangkut okupansi dari perangkat tersebut. Contoh sebuah router maksimum 512 Kbps. Maka harus diketahui bahwa kebutuhannya sebenarnya berapa. Cukupkah? banyak yang terbuangkah? Maka kita harus memetakan. Apakah dengan kondisi sekarang perangkat masih sanggup, atau perlu di cluster, atau di update. Misalnya lagi server. Dapat kita ketahui sudah perlukah server tersebut diupdate, dll
  5. Security
    Ada 2 aspek, yaitu preventif dan korektif. Preventif seperti penggunaan login, enkripsi, password, dll. Misalnya sebuah router, bisa di binding IP berapa yang hanya bisa login ke router tersebut.

Pada tingkat F, masalah jaringan yang ditemukan dan diperbaiki. masalah di masa depan Potensi diidentifikasi, dan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah mereka dari terjadi atau berulang.Dengan cara ini, jaringan disimpan operasional, dan downtime diminimalkan.

Pada tingkat C, operasi jaringan dimonitor dan dikontrol. Hardware dan perubahan program, termasuk penambahan peralatan baru dan program, modifikasi sistem yang ada, dan penghapusan sistem usang dan program, dikoordinasikan Inventarisasi peralatan dan program disimpan dan diperbarui secara teratur.

Tingkat A, yang juga bisa disebut tingkat alokasi, dikhususkan untuk mendistribusikan sumber daya secara optimal dan adil di antara pelanggan jaringan. Hal ini membuat penggunaan paling efektif dari sistem yang tersedia, meminimalkan biaya operasi. Tingkat ini juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pengguna ditagih tepat.

Tingkat P terlibat dengan mengelola keseluruhan kinerja jaringan. Throughput dimaksimalkan, bottleneck s dihindari, dan potensi masalah diidentifikasi. Sebagian besar dari upaya ini adalah untuk mengidentifikasi perbaikan akan menghasilkan peningkatan kinerja terbesar secara keseluruhan.

Pada tingkat S, jaringan dilindungi terhadap hacker s, pengguna tidak sah, dan atau elektronik sabotase fisik. Kerahasiaan informasi pengguna dipertahankan bila perlu atau diperlukan. Sistem keamanan juga memungkinkan administrator jaringan untuk mengontrol apa yang berwenang setiap pengguna individu dapat (dan tidak bisa) dilakukan dengan sistem.

Sistem NMS menggunakan berbagai protokol untuk tujuan yang mereka layani. Sebagai contoh, SNMP protokol memungkinkan mereka untuk hanya mengumpulkan informasi dari berbagai perangkat ke jaringan hirarki. NMS perangkat lunak bertanggung jawab untuk identifikasi masalah, sumber yang tepat (s) masalah, dan memecahkan masalah tersebut. sistem NMS tidak hanya bertanggung jawab untuk mendeteksi kesalahan, tetapi juga untuk mengumpulkan statistik perangkat selama periode waktu. Sebuah NMS mungkin termasuk perpustakaan statistik jaringan sebelumnya bersama dengan masalah dan solusi yang berhasil di masa lalu terulang jika kesalahan-berguna. Software NMS kemudian dapat mencari perpustakaan untuk metode terbaik untuk menyelesaikan masalah tertentu.

SNMP

SNMP (Simple Network Management Protocol) berawal dari kebutuhan terhadap suatu alat untuk mengadministrasi atau mengelola (manage) jaringan TCP/IP. Untuk itu perlu standarisasi protokol yang berfungsi untuk mengelola jaringan. Protokol yang didesain untuk itu kemudian dibuat diantaranya adalah SNMP dan CSMIE/CMP (Common Management Information Service Element / Common Management Information).

CMOT (Common Management Information Services and Protocol over TCP/IP) juga dibuat oleh OSI untuk keperluan yang sama. Cepatnya proses standarisasi SNMP oleh IETF dibanding CMOT yang dibuat OSI serta karena SNMP lebih sederhana membuat SNMP lebih cepat digunakan oleh publik.

Sebelumnya SNMP bernama SGMP (Simple Gateway Monitoring Protocol) yang didefinisikan pada RFC 1028 dan telah digunakan untuk monitoring gateway atau router.

SNMP dibuat berawal dari kebutuhan yang didefinisikan pada RFC 1052 (IAB Recommendations for the Development of Internet Network Management Standards). Setelah itu, tahun 1998 beberapa RFC mengenai SNMP dipublikasikan, yaitu:

  • RFC 1065 – Structure and Identification of Management Information for TCP/IP-based internets
  • RFC 1066 – Management Information Base for Network Management of TCP/IP-based internets
  • RFC 1067 – A Simple Network Management Protocol

Setelah mengalami beberapa perubahan, barulah muncul standar SNMP versi 1 yang lengkap pada tahun 1991 dengan beberapa RFC berikut:

  • RFC 1155 – Structure and Identification of Management Information for TCP/IP-based Internets
  • RFC 1212 – Concise MIB Definitions
  • RFC 1213 – Management Information Base for Network Management of TCP/IP-based internets: MIB-II
  • RFC 1157 – Simple Network Management Protocol (SNMP)

April 1993, SNMP versi 2 menjadi standar dengan perubahan utama pada penambahan fitur baru yaitu keamanan dan otentifikasi. SNMP versi 2 tidak kompatibel dengan versi 1 karena SNMP v2 message memiliki header dan format PDU yang berbeda serta menggunakan 2 operasi protokol yang tidak dispesifikasikan pada versi sebelumnya.

  • RFC 1902 – MIB Structure
  • RFC 1903 – Textual Conventions
  • RFC 1904 – Conformance Statements
  • RFC 1905 – Protocol Operations
  • RFC 1906 – Transport Mappings
  • RFC 1907 – MIB
  • RFC 1908 – Coexistence between Version 1 and Version 2

Tahun 1997 SNMP versi 3 mulai dibuat dan pada tahun 2002 menjadi full Internet standard. Dibanding versi sebelumnya, SNMP V3 memiliki fitur-fitur berikut:

– keamanan yang lebih baik dengan enkripsi dan access control,
– pengembangan remote configuration,
– privacy & message integrity

  • RFC 3410 – Intoduction to Network Management Frameworks v3
  • RFC 3411 – An Architecture for Describing SNMP Management Frameworks
  • RFC 3412 – Message Processing and Dispatching
  • RFC 3413 – SNMP Applications
  • RFC 3414 – User-based Security Model (USM)
  • RFC 3415 – View-based Access Control Model (VACM)
  • RFC 3416 – Protocol Operations
  • RFC 3417 – Transport Mappings
  • RFC 3418 – MIB

Arsitektur SNMP

Gambar berikut memperlihatkan bagaimana SNMP digunakan sebagai protokol element management:

Managed device yaitu elemen yang dimonitor atau di-manage oleh NMS. Managed device dapat berupa elemen jaringan seperti router, hub, switch maupun komputer.

Agent adalah program atau software module yang berjalan di setiap elemen yang di monitor yang mengetahui informasi yang harus di-manage dan mentranslasikan informasi tersebut menjadi informasi yang kompatibel dengan SNMP atau dapat dikirimkan ke NMS melalui SNMP.
  

 Manager atau NMS (Network-Management Station) adalah elemen yang menjalankan program untuk memonitor dan mengontrol managed device. NMS bisa mendapatkan langsung informasi dari agent misalnya informasi trap (alarm) atau meminta informasi dari agent.

Management Information
Management Information Base (MIB) adalah koleksi informasi yang diorganisasi dalam bentuk hirarki. Sebuah file MIB adalah sebuah teks file dalam format ASN.1 yang merepresentasikan struktur hirarki dari informasi yang dapat diperoleh dari sebuah aplikasi atau sistem.

Managed object atau MIB object adalah sebuah atau beberapa karakteristik pada sebuah managed device misalnya beban CPU, besar memory yang digunakan. MIB pada dasarnya merupakan hirarki dari managed object.

Object identifier atau Obejct ID (OID) digunakan sebagai indentifikasi yang unik untuk setiap managed object yang ada dalam hirarki MIB. OID dapat direprensentasikan dalam sebuah nama misalnya .iso.org.dod.internet.mgmt.mib-2.interfaces.ifnumber atau nomor yang disebut sebagai object descriptor, misalnya .1.3.6.1.2.1.2.1

Sebuah managed object sebagai contoh ifnumber (number of interface) adalah sebuah ide abstrak, sedangkan representasi real dari informasi itu disebut dengan “instance” yang memiliki nilai dari object tersebut. Misalnya instance dari ifnumber adalah ifnumber.0 yang memiliki nilai 3 yang berarti sistem memiliki 3 network interface. Untuk mendapatkan nilai instance tersebut, NMS harus meminta informasi dengan mendefinisikan OID yaitu .1.3.6.1.2.1.2.1.0 (OID dari object ifnumber dengan ditambahkan .0 dibelakangnya).

Ada dua macam managed object, yaitu:

  • Scalar object yaitu sebuah object instance contohnya ifnumber
  • Tabular object yaitu beberapa object instance yang saling berelasi. Sebagai contoh object ifDescr yang merupakan informasi deskripsi dari masing-masing network interface akan memiliki 3 nilai yang berbeda jika jumlah network interface ada 3, misalnya:
    ifDescr.1 = “lo0”
    ifDescr.2 = “ce1”
    ifDescr.3 = “ce2”

Suatu managed object ada yang hanya bisa dibaca dan ada pula yang bisa diset nilainya.

Karena pada awalnya SNMP didesain untuk me-manage jaringan TCP/IP, maka versi pertama MIB memiliki informasi yang spesifik untuk TCP/IP yaitu:

  • Deskripsi dari sistem
  • Jumlah dari networking interfaces yang dimiliki sebuah elemen (Ethernet adapters, serial ports ..)
  • Alamat IP address untuk setiap network interface
  • Jumlah (counts) dari paket atau datagram yang masuk (incoming) dan keluar (outgoing)
  • Tabel informasi tentang koneksi TCP yang aktif

Sebuah perusahaan atau vendor dapat membuat sendiri cabang (branch) dalam struktur MIB yang disebut sebagai private MIB. Cabang tersebut berada dibawah object. iso. org. dod. internet. private. enterprise. dan harus didaftarkan ke IANA        .

 

Selain  protokol  SNMP  digunakan  jg Protokol  CMIP, CMIP yaitu Protokol standar manajemen untuk elemen telekomunikasi. Protokol yang telah menjadi standar untuk jaringan telekomunikasi adalah Common Management Information Protocol (CMIP) yang dibuat oleh ISO yang kemudian diadopsi sebagai standar oleh organisasi telekomunikasi dunia ITU-T yang dispesifikasikan pada recommendation series X.700. Konsep CMIP hampir sama dengan SNMP tetapi CMIP memiliki lebih banyak fitur seperti authorization, access control,reporting yang lebih flexible, mendukung segala jenis tipe action. 3GPP, organisasi yang membuat standarisasi untuk jaringan GSM/UMTS/IMS/LTE juga menggunakan CMIP sebagai protokol manajemen jaringan (Lihat beberapa spesifikasi tentang Solution Set untuk Integration Reference Point pada seri 32).

Walaupun CMIP merupakan standar protokol yang diratifikasi oleh banyak organisasi telekomunikasi berkelas global tetapi pada kenyataannya SNMP masih lebih sering digunakan di jaringan operator.

Protokol lain yang didesain untuk manajemen jaringan misalnya:

Selain protokol-protokol tersebut kadang vendor juga menggunakan protokol sendiri atau menggunakan protokol yang umum seperti CORBA, HTTP.

NMS perlu mengeluarkan alarm Fault, menggenerate report, menggunakan security, melakukan konfigurasi, melakukan akunting, mengetahui performansi. Namun ini adalah kondisi ideal. Terkadang tidak semua aspek ini diperlukan. Jadi disesuaikan saja. Misalnya sebuah sensor suhu sebuah komputer, tentu tidak bisa dilakukan konfigurasi untuk suhu. Namun bisa disesuaikan bila suhu telah mencapai batas aman tertentu, maka diberikan alarm Fault. Dan disini juga tidak memerlukan report akunting. Paling hanya performansi tentang uptime dan downtime dari komputer tersebut.

Ini adalah dasar dari sebuah OSS. Setiap OSS yang sudah besar dan tampak rumit, sebenarnya hanya terdiri dari FCAPS ini saja.

Kesimpulan dari Mobile Device Menggunakan Network Manajemen Sistem (NMS), Yaitu  NMS merupakan Elemen Jaringan yg terdapat pd Mobile Device baik pd handphone maupun notebook yg berfungsi  untuk memanggil sebagai perangkat dikelola. 

Pendapat Kelompok 

Bobby Febiantoro :

Kelebihan :

Mobile device itu bagus,karena mobile device merupakan perkembangan dari kemajuan teknologi saat ini pada dunia teleomunikasi,yang dapat memudahkan dalam membuat suatu koneksi jaringan yang luas secara relasi maupun mobile sehingga dapat memudahkan para pengguna untuk beraktifitas secara instans dan menghemat waktu

Kekurangan :

Dari sisi kekurangan , terkadang dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat itu sendiri membuat efek kecanduan terhadap manusia sehingga memakan waktu dan terkadang tidak bisa membagi waktu dengan rutinitas lainnya.

Deri Rana Seftiana :

Kelebihan :

Mobile devie sangat membuat kita lebih nyaman dalam beraktifitas dalam berhubungan via internet, Karena dengan mobile device kita dapat mengakses data hanya menggunakan mobile tidak perlu memerlukan PC atau laptop

Kekurangan:

Menrut saya kekurangan nya terdapat pada harga dari mobile device yang sangat tinggi

Heru Prabowo :

Mobile device merupakan network management system jaringan untuk berkomunikasi  

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/4JudKacFj4w” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

 

REZA HERAWAN 0607004: Implementasi COBIT Pada Kerja Praktek di ”PT. TRANSINDO JAYA KOMARA”

04 Apr

Pendahuluan

COBIT yaitu Control Objectives for Information and Related Technology yang merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA), dan IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992.

  1. Business information requirements, terdiri dari : Information : effectiveness (efektif), efficiency (efisien), (keyakinan), integrity (integritas), availability (tersedia), (pemenuhan), reliability (dipercaya). 
  2. Confidentiality compliance  
  3. Information Technology Resource, terdiri dari : People, applications, technology, facilities, data. 
  4. High – Level IT Processes.

 

COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan best practices yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya.

 

Implementasi dari best practices harus konsisten dengan tatakelola dan kerangka kontrol Perusahaan, tepat dengan organisasi, dan terintegrasi dengan metode lain yang digunakan. Standar dan best practices bukan merupakan solusi yang selalu berhasil dan efektifitasnya tergantung dari bagaimana mereka diimplementasikan dan tetap diperbaharui. Best practices biasanya lebih berguna jika diterapkan sebagai kumpulan pinsip dan sebagai permulaan (starting point) dalam menentukan prosedur. Untuk mencapai keselarasan dari best practices terhadap kebutuhan bisnis, sangat disarankan agar menggunakan COBIT pada tingkatan teratas (highest level), menyediakan kontrol framework berdasarkan model proses teknologi informasi yang seharusnya cocok untuk perusahaan  secara umum.

 

COBIT FRAMEWORK

Kerangka kerja CobIT terdiri dari beberapa guidelines (arahan), yakni :

a.    Control Objectives

Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat tinggi (high level control objectives) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu : planning & organization, acquisition & implementation, delivery & support, dan monitoring.

b.    Audit Guidelines

Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendali rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance atau saran perbaikan.

 

 

c.    Management Guidelines

Berisi arahan baik secara umum maupun spesifik mengenai apa saja yang mesti dilakukan, seperti : apa saja indicator untuk suatu kinerja yang bagus, apa saja resiko yang timbul, dan lain-lain.

d.    Maturity Models

Untuk memetakan status maturity proses-proses IT (dalam skala 0 – 5).

 

Pengelolaan TI (Tata Kelola TI)

Teknologi informasi memiliki peranan penting bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan teknologi informasi pada kegiatan bisnisnya, serta merupakan salah satu faktor dalam mencapai tujuan perusahaan. Peran TI akan optimal jika pengelolaan TI maksimal. Pengelolaan TI yang maksimal akan dilaksanakan dengan baik dengan menilai keselarasan antara penerapan TI dengan kebutuhan perusahaan sendiri.

Semua kegiatan yang dilakukan pasti memiliki resiko, begitu juga dengan pengelolaan TI. Pengelolaan TI yang baik pasti mengiidentifikasikan segala bentuk resiko dari penerapan TI dan penanganan dari resiko-resiko  yang akan dihadapi. Untuk itu perusahaan memerlukan adanya suatu penerapan yang harus dilakukan perusahaan, yakni menerapkan Tata Kelola TI (IT Governance).

 

PT. Transindo Jaya Komara 

KOPERASI LANGIT BIRU yang sebelumnya dikenal dengan PT. Transindo Jaya Komara (PT. TJK) dengan Akte Notaris H. Feby Rubein Hidayat SH No. AHU. 0006152.AH.01.09. Tahun 2011 adalah perusahaan konvensional yang sudah berdiri 2 tahun dan bergerak khusus mengelola daging sapi dan air  mineral.
Saat ini KOPERASI LANGIT BIRU telah memiliki 62 suplayer pemotongan dan pendistribusian daging sapi serta pusat pendistribusian air mineral SAFWA. Adalah Ustad Jaya Komara sebagai Direktur utama memiliki pengalaman 16 Tahun dalam pengelolaan daging sapi. Ustad yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya ini memiliki visi misi besar untuk kesejahteraan bersama khususnya Umat Islam. Untuk mengembangkan usahanya ini Ustad jaya Komara pada awalnya hanya menggandeng masyarakat sekitar saja untuk ikut serta menikmati keuntungan hasil usaha daging sapinya.

Berawal dari pandanganya terhadap strata kehidupan masyarakat Indonesia dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin. Maka tercetuslah ide kreatif untuk pengembangan usahanya dengan mengikutsertakan masyarakat pada umumnya. Pada awalnya hanya diadakan arisan daging untuk masyarakat sekitar saja, yang hasilnya dibagikan tiap lebaran haji baik berupa keuntungan berupa uang dan daging sapi itu sendiri, hal ini sudah dilakukan oleh ustad jaya komara sebelum KOPERASI LANGIT BIRU resmi berdiri.

 

Berkaitan dengan pertimbangan diatas, perlu adanya suatu metode untuk mengelola IT. Dalam hal ini, metode COBIT perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar pengguna IT sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap penggunaan IT. Dalam hal ini saya mencoba merancang penerapan COBIT pada PT. Transindo Jaya Komara.

1.    Analisis Permasalahan

·         Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah memiliki prosedur pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan, tetapi faktanya prosedur tersebut tidak sepenuhnya dijalankan, sehingga user biasanya melakukan secara manual.

·         Mengetahui berbagai kendala dalam pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan.

·         Perusahaan menginginkan adanya suatu evaluasi tata kelola teknologi informasi untuk peningkatan mutu perusahaan .

·         Pengolahan Data

PO 1 Merencanakan rencana strategis IT

Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah mengetahui akan rencana strategis TI, meski kenyataannya pelaksanaannya sering diabaikan. Pendokumentasian belum terstruktur dengan jelas. Dan hanya diketahui oleh beberapa pegawai yang berkepentingan saja. Update dari rencana strategis TI merupakan respon dari permintaan pihak perusahaan dan juga berdasarkan perubahan kondisi yang ada. Keputusan-keputusan stategis yang diambil hanya berdasarkan pada masalah yang ada dalam proyek yang dilaksanakan, belum berdasarkan rencana strategis TI yang telah ditetapkan secara konsisten.

Tetapi pada perusahaan ini sudah adanya solusi TI yang dibuat untuk menghadapi masalah yang ada. Penyampaian kepada konsumen juga sudah dilakukan, hanya belum berjalan dengan maksimal. Penyampaian kepada konsumen dilakukan secara online, dengan website yang diberikan perusahaan.

Seperti adanya rencana strategis dalam pemanfataan TI pada perusahaan ini yakni :

·         Solusi menyeluruh untuk industri perdagangan dan investasi

·         Solusi TI menyeluruh dengan nilai yang luar biasa

·         Solusi TI menyeluruh dengan kompetensi yang tinggi

 

PO 2 Arsitektur Informasi

Belum semua instansi memiliki sistem informasi dan sistem informasi yang dikembangkan belum terintegrasi.

PO 3 Arah Teknologi

Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai.

PO 4 Organisasi TI dan hubungan

Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal.

 

PO 5 Investasi TI

Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.

Alokasi anggaran yang terbatas.

 

PO6 Komunikasi tujuan dan arah manajemen

Masih lemahnya koordinasi pembagian produk produk. Hal ini menyebabkan

koordinasi koperasi kurang efektif dan antrian yang semakin panjang.

 

PO 7 Manage SDM

Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas.

Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional

maupun manajerial.

 

PO 8 Kesesuaian dengan external requirement

Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap

perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan

masyarakat (globalisasi).i TI menyeluruh untuk industri transportasi dan perjalan

PO 9 Menilai Resiko TI

Di PT. Transindo Jaya Komara sudah adanya  kebijakan akan manajemen resiko, karena sebagian besar pelaksanaan kegiatan bisnis di Departemen TI di perusahaan ini sudah memanfaatkan teknologi 100 %. Manajemen resiko dilakukan sesuai dengan proses yang telah ditentukan perusahaan, namun belum ada standart khusus untuk mengatur kebijakan manajemen resiko tersebut. Tetapi manajemen resiko pada perusahaan ini belum disosialisasikan kepada seluruh pegawai, jadi hanya pihak terkait atau manager yang mengaturnya dan menjalankannya. Apabila terjadi kesalahan manajer yang memberitahukan secara manual kepada pegawainya.

Proses kelonggaran/mitigasi yang diberikan terhadap resiko proyek, baik proyek baru atau lama semuanya diperiksa oleh manager, tetapi masih belum konsisten karena tidak adanya standart khusus untuk proses tersebut.

PO 10 Manajemen Proyek

Pada perusahaan ini, menajemen untuk proyek telah memenuhi kebutuhan user. User disini ialah pegawai, manager, pimpinan dan stakeholders lainnya. Namun, proses pedokumentasian belum berjalan dengan baik serta pengembangan dan penggunaan teknik juga belum dilaksanakan dengan baik. Serta aplikasi dari penerapan management proyek tergantung pada kebijakan dari manager.

PO 11 Manajemen kualitas

Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.

 

KESIMPULAN

Metode cobit perlu diterapkan pada PT Transindo Jaya Komara, hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan kinerja PT Transindo Jaya Komara dapat lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai dan juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi investor koperasi, pemegang saham dan pemerintah.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/WxwXshM2v3Y” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Liputan The-Marketeers.com: COMLABS-USDI ITB, E-LEARNING UNTUK INDONESIA

29 Mar

[Live Interview]   ComLabs USDI ITB, E Learning untuk Indonesia

Source: http://comlabstraining.files.wordpress.com/

ComLabs USDI ITB, sebuah terobosan baru yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. E-Leraning, sebutan yang tidak asing jika kita mendengar kata tersebut. Banyak hal yang kita lakukan di luar kegiatan dan rutinitas sehari-hari yang masuk ke dalam e-learning. Media sosial seperti facebook, twitter,hingga  youtube dan google mampu memberikan pengetahuan yang tidak kita dapatkan di tempat biasa. Tapi, mungkin banyak yang memandang e-learning hanya dari satu sudut saja. Yaps, electronic learning, hanya itu yang umumnya orang ketahui, dan e-learning sebenarnya lebih dari itu. E-Learning adalah sebuah konsep belajar digital yang berisi tentang banyak hal dan tidak dapat dilihat dari perspektif kecil saja. Di luar negeri, konsep e-learning ini sudah banyak digunakan, dan sangat mudah didapatkan, ada yang bersifat gratis, hingga bersifat bisnis, sesuai dengan kebutuhan dari si pengguna.

Adalah ComLabs USDI ITB yang diplot oleh ITB sebagai gateway bagi para mahasiswa hingga pengajarnya untuk dapat mulai beradaptasi dengan metode e-learning tersebut. Sudah digunakan secara parsial di tahun 2002-an, ComLabs ITB semakin berkembang dan menjadi pusat informasi serta pengembangan e-learning kepada kalangan akademisi hingga kebutuhan-kebutuhan lain di luar itu, seperti pelatihan gratis dan training-training yang mendukung. Fokus di awal tahun 2007, ComLabs USDI ITB sudah mampu memberikan dampak positif kepada lingkungan internal ITB. Dosen-dosen yang selama ini menggunakan metode konvensional di dalam standard pengajarannya, mulai mau beradaptasi dan belajar dalam menjalankan metode e-learning tersebut. Metode yang digunakan pun tidak sembarangan, Metode SCORM, metode yang merupakan standard NASA dan digunakan dalam bentuk konsep dan sudah dipakai di hampir semua jajaran militer di US. Bukan hal yang mengherankan jika pada akhirnya ComLabs USDI ITB menjadi pusat e-learning yang paling progresif di tanah air.

Djadja Achmad Sardjana, ST, MM

Pak Djadja Achmad Sardjana, ST, MM yang merupakan Project Management & Knowledge Management – E-Learning Consutant menambahkan, tingginya antusiasme para e-learner yang ada di ITB pada khususnya dan para pelaku industri pada umumnya. Saya juga sempat ditunjukan beberapa contoh training project dari berbagai perusahaan yang menggunakan ComLabs USDI ITB sebagai konseptornya dan penggagasnya. Menarik, yap, itu kata yang tepat untuk menggambarkannya, banyaknya konten lokal hingga dialog interaktif yang ditunjukan pada sesi itu benar-benar membuat saya takjub, bahwa ComLabs USDI ITB sudah mampu melampaui batas pola pikir pendidikan yang konvensional dan kadang membosankan. “Berhasilnya suatu sistem e-learning, tergantung pada keberagaman dan keberlangsungan konsep yang sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan”. Kata-kata Pak Djadja tersebut seharusnya mampu memotivasi para pelaku akademisi terutama yang berfokus pada e-learning untuk dapat lebih dinamis dan inovatif dalam mengembangkan pasar yang terbilang masih baru ini, untuk ukuran formal tentunya.

Memiliki lebih ari 20 orang pegawai dan beberapa kontributor dari kalangan internal ITB, ComLabs USDI ITB, nantinya diharapkan mampu menjadi wadah bagi para akademisi yang mau menjalankan konsep e-learning ini dengan lebih baik. Walaupun di dalam prosesnya sendiri, ITB masih menggunakan standard belajar 25:75 untuk komposisi e-learning dan pembelajaran konvensional. Tapi tergantung pada pengajar jika ingin menggunakan porsi lebih banyak untuk sisi e-learningnya selama tidak jauh dari konsep pembelajaran awal dan hal yang ingin dicapai.

Terakhir, ComLabs USDI ITB juga selalu berkembang dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk perkembangan e-learning. Salah satunya adalah memberikan Free Saturday Lesson yang diadakan di gedung ComLabs USDI ITB sendiri dan para pembicaranya dihadirkan secara cuma-cuma dengan topik yang selalu up-to-date.  Sehingga tidak ada kata berhenti untuk belajar, karena bagaimanapun juga, “hasil terbaik itu berasal dari sebuah kerjasa team”, tanpa kerjasama, segala sesuatunya akan menjadi lebih sulit. Sukses selalu untuk ComLabs USDI ITB !!

Artikel ini dimuat juga di: http://the-marketeers.com/archives/live-interview-comlabs-usdi-itb-elearning-untuk-indonesia.html

 

Liputan The-Marketeers.com: “Membangun Modal Insani Melalui e-Learning” (Building Human Capital Through e-Learning)

28 Mar
Praktik e-learning sudah lama dilakukan oleh berbagai instansi, khususnya instansi pendidikan. Universitas Terbuka boleh dibilang menjadi pelopor dari sistem pendidikan jarak jauh tersebut. Tren e-learning makin populer ketika kampus-kampus swasta turut melakukannya.
 
“Potensi e-learning ini cukup besar dan diminati oleh masyarakat di banyak negara. Di Amerika Serikat, ada 6,1 juta yang mengambil bachelor degree melalui online. Konsep ini di dunia pendidikan bukanlah konsep baru. Kami sebagai universitas swasta berterimakasih pada universitas terbuka karena mempopulerkan sistem pembelajaran ini,”  Pantri Heriyati, M.Comm head of school-Management, Bina Nusantara, Jakarta dalam Friday Online Seminar bertajuk “Building Human Capital Through e-Learning” di studio Jakarta, Jumat (02/03/2012).
 
Heriyati mengatakan di Binus praktik e-learning ini dinaungi dalam program Binus Online yang terbagi dalam dua musim, yakni ekstensi selama dua semester dan program komplit. “Kami melihat permintaan e-learning cukup besar. Meski demikian, promosi dan edukasi perlu kontinu digalakkan, khususnya kepada korporat yang mana skill dan knowledge sumber daya manusia di perusahaan tersebut perlu ditingkatkan,” imbuh Lianti Raharjo, Head of Program Undergraduate, School of Management Binus Business School.
 
Sementara itu, Nur Agustinus, Coordinator Faculty of Entrepreneurship and Humanities Universitas Ciputra Surabaya, mengatakan program e-learning bisa dilakukan kapan pun dan di manapun karena sifatnya yang lintas batas. Agustinus mengatakan e-learning masih memiliki tantangan untuk Indonesia. Misalnya, masih ada anggapan miring bahwa lulusan e-learning kurang berkualitas bila dibanding sistem belajar konvensional. “Tantangan lain berupa keterbatasan infrastruktur Internet,” tandas Agustinus.
Sementara itu, Djadja Achmad Sardjana dari COMLABS-USDI Bandung menambahkan, tantangan lain adalah kultur dan kebijakan  yang kurang mendukung e-learning. “E-learning bukan sekadar memindahkan materi kuliah konvensional ke online. Perlu modul-modul yang disajikan secara online dengan menarik. Bukan sekadar memindah file-file yang membosankan. Inilah yang menjadi tantangan bagi tenaga pengajarnya,” kata  Djadja. Ia menambahkan e-learning sering dianggap hanya cocok untuk kampus-kampus IT. e-Learning, kata Djadja, juga bisa dilakukan untuk semua jurusan, termasuk kedokteran sekalipun.
 
Sebenarnya, program e-learning menjadi jawaban akan mahalnya proses pembelajaran selama ini. Dengan komunikasi nir tatap muka, pengajaran masih bisa dilakukan dengan sistem e-learning. Boleh dibilang strategi low budget high impact untuk pendidikan. “Fleksibilitas juga menjadi keunggulan lain dari e-learning,” imbuh Heriyati.
 
Heriyati berharap ke depannya ada sistem akreditasi yang jelas sistem belajar e-learning ini karena tidak kalah dengan sistem konvensional. Binus sendiri akan membuka e-learning untuk magister management pada Juni tahun ini.
 
 
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/8GnDDZEUKf0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>