Posted March 5, 2021 by dendy.rustiady in Info Pendidikan

Berbagai Musibah Menimpa Pendidikan Indonesia

Problematika Pendidikan pada Masa Pandemi COVID-19|Kolom Pembaca | Bengkulu  News

Pendidikan di Indonesia dapat kita lihat mulai menunjukkan peningkatan ke arah hal-hal yang positif, seperti halnya Indonesia telah menunjukkan kemajuan besar dalam kesetaraan gender dalam pendidikan. Pada tahun 1975, 65 persen siswa adalah laki-laki, sementara sekarang proporsi laki-laki dan perempuan kurang lebih sama, meskipun terdapat variasi penting di tingkat subnasional.

Desentralisasi diiringi dengan peningkatan belanja pendidikan sekitar 200 persen secara riil sejak 2002. Partisipasi siswa telah meningkat selama periode waktu yang sama lebih dari 10 juta (31 persen) di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Tapi mari kita bedah secara baik, dapat kita melihat celah-celah di dalam hal positif tersebut yang masih ada kandungan hal negatif di dalamnya.  Berbagai hal negatif seperti ketidaksamarataan dalam dunia Pendidikan di Indonesia itu yang paling kita rasakan saat ini.

Menurut laporan dari Bank Dunia yang didanai oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta, terlepas dari peningkatan penting ini, tingkat pembelajaran siswa dan ketidaksetaraan belajar merupakan tantangan utama. Menurut laporan yang sama, sebagian besar siswa tidak memenuhi target pembelajaran nasional yang ditetapkan Indonesia sendiri.

Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan sosial di bidang pendidikan antara lain:

  • Kualitas Lingkungan Sekolah. Faktor ini meliputi masyarakat dan lingkungan sekitar yang mendukung seorang anak untuk mendapat pendidikan yang baik.
  • Kesempatan Memperoleh Pendidikan yang Berkualitas. Keterbatasan dari segi kualitas pengajar, budaya masyarakat, hingga kemudahan akses ke sekolah juga berpengaruh terhadap mudah atau tidaknya kesempatan seseorang untuk mendapat pendidikan yang berkualitas.
  • Kualitas Lulusan. Semakin baik kualitas lulusan di wilayah tersebut, makin besar pula kesempatan wilayah itu untuk menjadi lebih berkembang dan sejahtera.
  • Fasilitas Pendidikan. Hal ini juga mencakup ketersediaan fasilitas pendidikan, rasio guru-siswa, dan kualitas guru.

Saran Sistem Pendidikan di Indonesia

Sejumlah siswa kelas XII mengerjakan soal Bahasa Indonesia saat mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMKN 50 Jakarta, Senin (25/3). Kemendikbud mengatur UNBK tingkat SMK dilaksanakan serentak dalam empat hari mulai 25 sampai 28 Maret 2019. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Untuk melanjutkan reformasi pendidikan dan mencapai hasil yang lebih baik sejalan dengan visi Presiden Jokowi, Indonesia dapat mempertimbangkan beberapa pilihan sesuai dengan laporan Bank Dunia.

Indonesia dapat mewajibkan pendidikan anak usia dini yang berkualitas selama dua tahun dan dapat diakses oleh semua sehingga anak-anak yang datang ke sekolah siap untuk belajar. Hal ini dapat memperkuat cakupan dan kualitas pendidikan anak usia dini dengan mengalokasikan dana yang cukup baik di tingkat pusat maupun kabupaten, dan mengembangkan peta jalan untuk mencapai dua tahun pendaftaran anak usia dini universal pada tahun 2030.

Selain itu, fokus pada pembelajaran dibutuhkan di seluruh sistem pendidikan. Untuk memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal, terutama mereka yang miskin, tinggal di daerah terpencil, atau penyandang disabilitas.

Indonesia dapat menggunakan penilaian siswa untuk menginformasikan guru dan direktur sekolah tentang apa yang tidak diketahui siswa, dan menghubungkannya dengan dukungan yang ditargetkan untuk siswa yang membutuhkan bantuan lebih lanjut. Ini sangat penting sebagai bagian dari pemulihan dan peningkatan COVID-19.

Guru yang terlatih dan termotivasi adalah unsur paling mendasar untuk pembelajaran setelah siswa itu sendiri. Untuk meningkatkan pembelajaran siswa, Indonesia perlu memilih calon guru terbaik dan mendukung mereka secara lebih efektif, baik sebelum mereka masuk kelas maupun sepanjang karir mereka.