Monthly Archives: January 2013

Balada Si Bunga Melati

Kusambut pagi ini dengan biasa saja. Tidak ada yang spesial. Hidupku terasa begitu monoton. Selalu berdiam dan meratapi diri yang tidak ada apa – apanya seperti ini.

Aku si bunga melati. Panggil saja aku melati. Entah mengapa aku bisa berada di sebuah taman indah ini. Seharusnya di taman ini tidak ada aku. Aku lebih pantas berada di tepi jalan bahkan di tepi selokan. Kehadiranku akan sama artinya dengan ketidakhadiranku.

Aku sedih. Setiap hari aku merasa kesepian. Aku tak punya Ibu dan saudara. Aku tak mengerti mengapa hanya aku saja yang dapat tumbuh dengan sehat. Ibuku telah lama meninggalkanku. Sekarang ia sedang berada di surga. Kata ibu, surga itu jauh lebih indah dari taman ini. Ibu,aku rindu padamu. Aku yakin,engkau bahagia disana.Sebelum meninggalkanku, ibuku berpesan: Meskipun kita tidak sempurna jika dibandingkan dengan yang lain, janganlah kita berkecil hati. Dan janganlah sombong jika kita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Ingat, Tuhan itu adil kepada setiap makhluk-Nya.

Tapi aku tetap tidak mengerti. Mengapa Tuhan menciptakan aku? Mengapa Tuhan tidak menyamakan nasibku seperti saudara – saudaraku? Aku tak mau hidup lagi,Tuhan. Aku ingin menyusul ibu.

Kesedihanku semakin berlarut ketika aku melihat bunga yang begitu indah dimataku, bunga matahari. Bunga matahari itu besar. Mahkota yang berwarna kuning segar itu begitu menggoda serangga – serangga untuk menghisap nektarnya. Batangnya yang tebal membuatnya terlihat kokoh untuk berdiri. Sedangkan, aku hanyalah melati kecil yang hanya memiliki lima lembar mahkota kecil. Tidak ada yang menarik bila dibandingkan dengan bunga matahari. Aku yakin banyak serangga yang suka menghampiri dan menghisap nektarnya. Ah,sudahlah. Tak perlu aku membanding – bandingkan diriku yang kecil ini dengannya. Itu hanya membuatku minder dan semakin terjatuh.

“Hai,melati. Mengapa kau melihat diriku seperti itu. Apa kamu iri dengan keanggunanku?!” bentak bunga matahari

“Tidak. Apa aku salah melihatmu?”

“Kamu tidak perlu melihat diriku. Sudah terlihat bahwa aku jauh lebih bagus daripada kamu. Coba kamu lihat rupamu sendiri. Kecil,tak menarik pula. Takkan ada serangga yang mau menghampirimu kalau rupamu masih jelek seperti itu,melati”

Aku semakin sedih. Sombong sekali bunga matahari itu. Tapi memang benar yang dikatakan bunga matahari. Aku ini kecil dan tak menarik. Tanpa kusadari, air mataku mengalir tiada henti. Tak lama kemudian datanglah kumbang, kupu – kupu, dan angin

“Melati,mengapa kau bersedih?” tanya kumbang

“Kalian tahu darimana aku sedang bersedih?”

“Rumput yang memanggil kami” jawab angin

Aku menoleh pada rumput dan ia tersenyum padaku.

“Tadi air matamu menetes padaku,melati. Aku khawatir padamu. Maka dari itu aku memanggil mereka semua”

Aku terharu. Ternyata mereka begitu sayang padaku.

“Melati,kamu baik – baik saja kan?” tanya kupu – kupu

“Teman – teman, aku tidak mau sendiri”

“Kamu tidak sendiri,melati. Kamu akan selalu bersama kami. Kami sayang padamu” kata kumbang

“Teman – teman, mengapa kalian mau berteman denganku? Aku ini hanya setangkai melati yang tidak berarti. Aku ini tidak pantas disebut bunga. Yang kutahu,semua bunga itu cantik dan sering dihinggapi oleh serangga – serangga. Mahkotaku biasa saja. Warnanya putih dan tidak menarik. Tidak ada serangga yang mau menghisap nektarku”

Kupu – kupu pun hinggap di mahkotaku.

“Melati,lihatlah dirimu yang anggun ini. Mahkotamu putih. Putih itu melambangkan kesucian.”

“Benar,melati. Jadikan warna putihmu sebagai pertanda kesucian hatimu” kata angin

“Apakah kau lupa jika aku adalah serangga yang paling suka menghisap nektarmu. Aku suka wangimu,melati” kata kumbang

“Melati, kita harus mensyukuri apa yang kita punya. Aku ini hanya rumput. Banyak orang yang sering menginjak – injakku. Tapi inilah aku. Aku tidak mau terus meratapi nasibku ” kata rumput

Aku jadi teringat pesan ibuku : Meskipun kita tidak sempurna jika dibandingkan dengan yang lain, janganlah kita berkecil hati. Dan janganlah sombong jika kita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Ingat, Tuhan itu adil kepada setiap makhluk-Nya.

Ibu,aku begitu rindu padamu. Tapi aku harus mandiri. Aku ingin seperti ibu kelak. Pesanmu akan selalu kuingat,ibu.

“Melati,ayolah tersenyum kembali. Aku ingin melihat mahkotamu merekah seperti bunga – bunga lain. Jangan kau sembunyikan keindahanmu.”

Aku pun mencoba merekahkan mahkotaku selebar – lebarnya.

“Horeeeeeeeee”

Senang rasanya tertawa bersama teman – teman. Di tengah kami tertawa, kami melihat ada seorang anak perempuan kecil sedang bermain di taman bersama ibunya. Anak itu menghampiri bunga matahari. Ibunya pun mengikutinya dari belakang.

“Ma, bunga mataharinya cantik ya.”

“Iya,sayang. Cantik sekali.”

Bunga matahari pun tersenyum dengan sombongnya.

“Aku boleh petik satu ya,ma.”

“Boleh,sayang.”

Anak itu pun memegang batang bunga matahari dan memetiknya. Tampaknya bunga matahari meringis kesakitan. Anak itu pun menggenggam bunga matahari dengan erat sambil berlari senang. Saat ia sedang berlari – lari, datanglah penjual es krim yang mengalihkan perhatiannya.

“Mama, belikan aku es krim ya.”

Anak itu pun menghampiri gerobak es krim dan melupakan bunga matahari hingga terlepas dari genggamannya. Bunga matahari jatuh di atas tanah yang kotor. Tanpa sengaja, si ibu yang sedang mengikuti anaknya menginjak bunga matahari dengan sepatu haknya.

Bunga matahari terlihat malang sekali. Tubuhnya remuk, berlapis debu, dan sesekali diterpa angin. Tak beberapa lama, bunga matahari pun mati. Kami menyaksikan kejadian yang menyedihkan itu secara langsung. Miris sekali rasanya.

“Melati,itulah balasan untuk makhluk yang sombong.” kata kumbang

Kini aku mengerti mengapa kita harus bersyukur. Aku yakin, Tuhan sayang padaku sehingga memberikanku hidup untuk menikmati kebahagiaan disini. Baiklah, mulai sekarang akan kutunjukan pada dunia bahwa aku, si bunga melati, akan selalu ceria, bersyukur,dan percaya diri.

Tanpa terasa langit mulai gelap pertanda malam akan tiba. Kumbang, kupu – kupu, dan angin pun pamit pulang. Sementara rumput tetap menemaniku. Aku menutup mahkota dan kelopakku untuk beristirahat dan menghadapi esok hari yang lebih spesial.