Nyasar Jadi Pesilat (bagian 1)

Pertama kalinya aku ikut pencak silat saat masih SMA. Saat pengenalan ekstrakulikuler aku sama sekali tidak tertarik dengan pencak silat. Dan pada akhirnya temanku, Alfan, berhasil meracuniku untuk mencoba ilmu beladiri asli Indonesia ini. Tidak terpikirkan untuk menjadi jagoan. Aku hanya ingin menambah hobi baru selain belajar dan menulis. Aku pun datang untuk latihan perdana. Jumlah wanita dan pria saat itu seimbang sehingga aku tidak segan untuk datang latihan. Latihan dilaksanakan 2 minggu sekali di sekolah dan 1 kali latihan gabungan di gelanggang olahraga (tempatnya dekat dari rumah). Dan hasil dari latihan rutin adalah aku bisa melakukan tendangan T, tendangan sabit, jep, sapuan, circle, guntingan dan lainnya. Dan ketika aku sudah jatuh cinta dengan pencak silat, Alfan menghilang. Padahal dia yang mengajakku untuk ikut pencak silat. Aku meneruskan kegiatan ini dan aku ditawarkan oleh pelatihku untuk ikut bertanding di Universitas Mercubuana. Awalnya aku menolak dengan alasan takut cidera. Pelatihku, bang Aris, berkata :”Mental pesilat ga akan terbentuk sebelum kamu bertanding. Percuma punya teknik bagus tapi ga puya mental. Gimana mau dipake buat bela diri.” Iya juga ya, buat apa aku latihan cape-cape tapi ga ada terapannya. Aku pun mengiyakan tawaran itu dan bang Aris berkata :”Eka,Fitri pake body protector sama pelindung tulang kering sekarang.” Saat itu juga aku sparing (kebetulan lagi latihan gabungan). Lawanku adalah ka Fitri. Sabuknya lebih tinggi dariku. Rasa grogi dan tidak percaya diri mengrogotiku. Jurus apa yang mau aku gunakan nanti,pikirku saat aku mengenakan body protector. Bang Aris bertindak sebagai wasit. Aku mulai menginjak matras, begitu juga ka Fitri. Bang Aris pun memberi aba-aba mulai. Aku memulai sikap pasangan yang masih alakadarnya. Perlahan-lahan kaki ku maju dan ‘jebreeetttt’. Ka Fitri mengeluarkan tendangan T nya ke arah body protectorku. Aku tidak bisa menangkisnya. Aku pun membalasnya dengan tendangan T juga tetapi kakiku berhasil ditangkap dan aku terjatuh. Mentalku menjadi ciut. Apa aku masih bisa meneruskan ini, pikirku. Bisa, ini sparing pertamaku. Wajar jika banyak kesalahan. Aku mengeluarkan circle tapi gagal karena teknik circle ku masih belum benar. Aku jadi malu. Hehehehe. Sparing pun selesai.

– – –

Pada latihan berikutnya, lawan sparingku adalah Ria. Dia adik kelasku sewaktu SMP. Jam terbangnya sudah lebih dariku bahkan dia pernah mengikuti POPDA. Meskipun dia adik kelasku, postur badannya sama denganku. Dia juga ikut pertandingan sepertiku. Sayangnya, kelas berat kami sama sehingga kemungkinan kami akan bertemu di penyisihan. Mudah-mudahan kami tidak bertemu di penyisihan. Setiap sparing dengannya dia selalu unggul dariku. Tapi aku tidak kecewe karena aku memang pemula. Ambisiku naik kembali. Aku berkeinginan untuk menang setidaknya medali perunggu harus kudapatkan.

“Besok semua atlet kumpul jam 6 pagi”

Atlet, ya atlet. Bang Aris memanggil kami atlet. Aku merasa senang dengan panggilan itu. Aku menjadi atlet. Setidaknya panggilanku kini bukan hanya ‘Eka si cadel’ atau ‘Eka si tukang belajar’. Hehehe.

– – –

Tibalah saatnya pertandingan. Aku dan anak didik bang Aris lainnya yang mengikuti pertandingan berangkat menggunakan kendaraan umum. Pertandingan dilaksanakan seminggu. Aku terpaksa meninggalkan kelas di sekolah demi pertandingan ini. Banyak pengalaman selama seminggu itu seperti jadwal mandi yang tidak seperti biasa, makan rame-rame dalam satu wadah, latihan setelah sholat subuh dan pastinya bertanding. Hari pertama bertanding dimulai dengan kelas berat rendah. Pertama kalinya aku menonton pertandingan seperti ini. Aku benar-benar serius memperhatikan teknik dari semua atlet. Aku begitu terpukau. Mungkin mereka memang atlet professional. Aku sedikit mendapat pencerahan setelah melihat banyak atlet yang bertanding dengan gaya bertanding dan perguruan pencak silat yang berbeda-beda.

Aku bertanding pada hari ketiga. Aku masih mempersiapkan diri di camp. Siapapun lawan mainnya aku harus melakukan yang terbaik. Tiba-tiba bang Aris datang :”Gawat nih, Eka sama Ria ketemu di penyisihan pertama.”

Aku kaget dan menatap Ria. Begitu juga dengan Ria.

“Yaudah nanti kalian berdua main yang bagus aja.”

Aku putus asa. Selama sparing dengannya aku selalu kalah bagus. Aku ikhlaskan pertandingan perdanaku. Yang penting aku sudah pernah bertanding.

Kami pun menuju gelangang. Penuh penonton. Atmosfernya sangat berbeda meskipun lawan mainku adalah lawanku selama sparing.  Body protector dan pelindung tulang kering sudah melekat pada diriku. Aku siap bertanding dengan siapapun itu. Aku harus main bagus. Coachku kali ini adalah kak Umam, kakak kelasku di sekolah. Aku masuk ke gelanggang dari sudut biru. Tak lupa memberikan sikap hormat kepada coach, juri dan wasit juri. Kini aku berada di tengah gelanggang. Dihadapanku ada Ria. Kami pun bersalaman. Wasit juri memeriksa kelengkapan kami dan membacakan peraturan. Setelah siap, wasit juri memberikan aba-aba pertanda kami harus melakukan sikap pasangan. Kini, sikap pasanganku tidak terlalu jelek seperti pertama sparing. Setelah ada aba-aba lagi perlahan-lahan kakiku maju ke depan. Mataku terus menatap body protector Ria. Entahlah siapa duluan yang akan menyerang. Biasanya Ria akan menyerang duluan. Ria memang tipe fighter. Dan benar, Ria menyerangku lebih dulu. Aku coba menangkisnya. Hampir berhasil tapi tetap saja serangannya mengenai sasaran. Sudah cukup lama kami berada di gelanggang. Aku mencoba menyerangnya. Berhasil!!! Tendangan T ku berhasil mengenai body protectornya. Wasit memberi break sebentar karena ronde 1 telah selesai. Ronde 1 dimenangkan oleh Ria. Aku kembali ke sudut biru. Kak Umam memberiku minum.

“Ini bukan soal makan temen. Lo tetep main yang bagus dong meskipun lawan lo Ria. Gue yakin kemampuan lo ga cuma segitu.”

Ya,ini bukan soal makan teman tapi ini sportifitas. Aku kembali bertanding untuk ronde 2. Kali ini seranganku lebih banyak mengenai sasaran. Percaya diriku meningkat meskipun berkali-kali aku terkena peringatan oleh wasit yang bisa mengurangi nilaiku. Alhasil aku memenangkan ronde 2 ini. Pada ronde 3 aku berhasil menangkap kaki Ria dan menjatuhkannya. Sebenarnya ada rasa tidak enak pada Ria. Maafin aku, Ria. Aku tidak bermaksud jahat. Ini tentang sportifitas. Ronde 3 pun selesai. Wasit memegang tangan kami. Tangan siapa yang akan diangkat oleh wasit, itulah yang menang. Aku menunduk sambil berdoa. Mudah-mudahan tidak ada yang tersakiti disini.

“Dan partai ini dimenangkan oleh sudut…”

Aku masih tetap menunduk sambil berdoa.

“Biru. Atas nama pesilat Eka.”

Alhamdulillah Ya Rabb. Engkau memberikanku kesempatan untuk maju ke semifinal. Para wasit juri mengangkat bendera biru sebanyak 2 dan bendera merah sebanyak 1. Meskipun tidak mencapai 3 bendera biru, tidak apa-apa. Ini pertandingan perdanaku. Mudah-mudahan lain kali bisa lebih baik.

Aku bersalaman dengan Ria dan memberi hormat pada juri dan wasit juri. Aku kembali ke sudut biru untuk keluar dari gelanggang.

“Nah gitu dong”

“Iya,kak. Tapi aku ga enak sama Ria.”

“Yaudah, dia udah pernah menang POPDA. Kasih kesempatan buat yang lain.”

Ya justru itu. Aku khawatir dia malu karena dia pernah memenangkan POPDA tapi kalah di penyisihan. Kami semua kembali ke camp bersama bang Aris.

“Eka, selamat ya. Besok latihan lagi ya. Masuk semifinal.”

Aku hanya tersenyum kecil.

– – –

Malam pun tiba. Kami semua boleh bermain asalkan sudah kembali ke camp dan tidur pada pukul 22.00. Aku pergi bersama temanku yang saat itu masih kelas 1 SMP. Kami berdua keluar camp hanya sekadar jajan. Kami pun kembali ke camp sebelum pukul 22.00. Di camp, aku bercerita dengan temanku itu. Disaat giliran dia bercerita sesekali aku melirik ke arah Ria. Ria terlihat begitu murung. Setelah sesi cerita selesai aku mendekati Ria sambil menawarkan biskuit yang aku beli.

“Mau ga,ri? Enak lho.”

Ria tersenyum dan mengambil satu biskuit.

Tidak lama kemudian, bang Aris datang membawa makanan dan pembalut wanita. Ya,pembalut wanita memang dibutuhkan saat pertandingan untuk setiap atlet (khususnya beladiri) wanita baik sedang haid maupun tidak. Tanpa pikir panjang kami semua langsung menyerbu makanan yang dibawa bang Aris. Tapi kali ini kami semua makan tidak dalam satu wadah.

“Inget ye. Yang semifinal jangan makan kebanyakan biar ga over.” kata bang Aris dengan logat betawinya.

Atlet yang ingin bertanding memang harus menjaga berat badannya. Jangan sampai kurang atau lebih dengan kelas berat yang dimainkannya. Kalo kurang atau lebih bisa didiskualifikasi.

Setelah selesai makan, aku langung mengambil buku fisika dari tasku dan belajar karena sebenarnya hari sabtu besok aku ada lomba fisika.

“Belajar mulu lo.” kata bang Aris.

Ah ketauan. Padahal aku tidak ingin bang Aris tau kalau aku tidak bisa mengikuti rangkaian acara pertandingan ini sampai selesai yaitu sampai hari minggu.

“Sabtu ada lomba fisika,bang.”

“Repot ye jadi orang pinter. Kalo lo masuk final gimana. Finalnya hari sabtu tuh.”

“Entahlah,bang.”

Gini nih jadinya. Bingung. Aku hanya melakukan yang terbaik. Latihan dan bertanding dengan baik, belajar dan lomba dengan baik. Waktu pun menunjukkan pukul 22.00.

“Tidur semua. Atlet maksimal tidur jam 10 malam.”

Kami semua pun tidur

– – –

Adzan subuh berkumandang. Kami semua yang muslim pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat kami semua latihan lagi, baik yang lolos semifinal maupun yang tidak. Tidak ada latihan sparing saat ini. Latihan hanya berupa teknik,kekuatan dan kelenturan.

“Yang masuk semifinal, timbang berat badan .”

Kami pun satu per satu menimbang berat badan kami. Alhamdulillah beratku masih sama seperti hari pertama bertanding. Hanya berbeda 0,2 kg. Temanku, Aji, ternyata berat badannya lebih.

“Ji,kenape berat lu over.” kata bang Aris.

“Ya kagak tau,bang.”

Aji pun berbisik kepadaku.

“Ka,lo kan jago fisika. Gimana caranya manipulasi berat di timbangan.”

“Ga bisa,ji. Kecuali ada bagian tubuh lo yang dipotong.”

“Udeh2. Aji,lu lari keliling yang banyak ya. Pake jaket yang banyak juga.” kata bang Aris

Cara menurunkan berat badan dengan cepat disaat seperti ini ya memang seperti itu. Sudah turun temurun layaknya obat jamu. Tapi memang benar, cara itu bisa membuat berat badan turun sebesar 3 kg.

Setelah timbang menimbang, kami pun kembali latihan.

Sudah empat hari kami berada disini. Sepertinya aku pun baru mandi sebanyak dua kali. Ya memang tidak ada persyaratan bahwa atlet harus mandi sebelum bertanding.

Pertandingan pun tiba. Aku mendapat giliran bertanding pada siang hari. Kulihat skema pertandingan aku bertanding melawan seseorang yang tidak kukenal dari perguruan pencak silat yang berbeda. Perguruan pencak silatku adalah KPSN (Keluarga Pencak Silat Nusantara).

kpsn

Sekarang giliranku. Coachku kali ini masih sama hanya saja Ria menggantikan temanku yang saat penyisihan menjadi coachku bersama kak Umam. Seperti biasa aku pun masuk gelanggang sesuai aturan. Pertandingan pun dimulai. Kali ini teknik yang aku gunakan sedikit lebih bagus dari penyisihan. Pada pertandingan ini aku berani  mengeluarkan teknik sapuanku untuk menjatuhkan lawan. Tapi sulit untuk menjatuhkannya. Lawanku itu seperti benda tegar yang bersifat statis. Sulit untuk memberikan momen agar dia terjatuh di matras. Malah aku yang selalu jatuh. Tapi cara dia menjatuhkanku cukup bagus. Kakiku yang berhasil ia tangkap dijulangkan ke atas sehingga aku menjadi tidak seimbang dan jatuh. Pertandingan ini berlangsung selama dua ronde dan dimenangkan oleh lawanku. Aku tidak kecewa.

“Banyak latihan lagi lo. Dia emang bagus banget mainnya.” kata kak Umam.

“Kak, jujur gue ketagihan buat tanding lagi.”

“Hahaha. Baru ngerasain kan gimana ‘candu’nya bertanding.”

Aku segera bertemu dengan bang Aris.

“Gapapa,ka. Kalo ada pertandingan lagi ikut lagi.” kata bang Aris.

“Siap,bang!!!”

“Lo kalo mau pulang sekarang,pulang aja. Sabtu mau lomba kan.”

“Serius,bang. Gapapa kalo saya pulang?”

“Gapapa. Lo belajar aja di rumah. Kalo lo menang lo kabarin pas latihan terus kite makan-makan.”

“Oke lah,bang. “

Aku pulang tidak sendirian. Teman-temanku yang kalah saat penyisihan atau semifinal pun ikut pulang. Bang Aris tidak bisa mengantar kami pulang. Tapi kami tau jalan pulang. Sore itu kami, para pejuang KPSN, pun pulang menggunakan angkutan umum. Tidak lupa berdoa untuk kesuksesan tiga orang temanku yang berhasil lolos ke final.

5 thoughts on “Nyasar Jadi Pesilat (bagian 1)

  1. Arip Hidayat

    jadi ikutan bangga nih kak, saya juga suka silat. sebelum ikut, sepertinya gerakan silat itu aneh dan kayak menari-nari. tidak gagah seperti karate atau taekwondo. tapi setelah ikut, wow. ternyata luar biasa dan banyak makna filosofisnya dalam tiap gerakan.
    Ayo maju pencak silat indonesia …

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *