Monthly Archives: October 2014

Senja Tenggelam

Sejak siang kita disini

Duduk memangku khayalan yang tak henti

Menyambut matahari yang akan pergi

Langit kian menghitam

Senja pun tenggelam

Aku hanya bisa diam

Seiring meluruhnya kepedihan hari itu

Saat pertokoan mulai menyalakan lampu

Aku bangkit menjejaki jalan berbatu

Mengakhiri kisah melodi merah semu

Menyembunyikan rindu dalam temaram

Menghapus bayang kelam

Ah, akan berakhir hari yang suram

Saatnya kini

Berjalan bak sepasang merpati

Lalu pulang ke peraduan sepi

 

Nb: Teruntuk seseorang yang menemaniku menikmati keindahan senja

Kaki Meja

Empat kaki meja bersepatu kaca

Menahan dentuman amarah

Dalam gejolak api yang menangis

Kilauan butir pasir kuarsa menyilaukan mata

Menopang kaki meja di setiap pijakannya

Terkadang retak namun utuh kembali

Hanya empat

Meja membentang diatas kepalanya

Menahan beban angin berhembus ke bawah

Berat…

Suatu gelap yang tak biasa

Kaki meja hilang satu tanpa pamit

Meja itu tak lagi statis

Sepatu kacanya telah mengkristal

Bukan menjadi es

Tapi mengurai tajam dalam diam

Kini hanya tiga

Mencari pioner baru namun goyah

Dimana harus berdiri

Menjadi segitiga permata yang tak terkalahkan

 

Bandung

22 – 9 -2014

 

Nb: Teruntuk geng FALCON HELI (Hans, Eka, Luqman, Iga)

Sang Penguji

Berdiri

Menepis takut pengecut

Menghadap sang penguji

Duhai sang penguji

Malam kelam aku meneguk bosan

Menguras peluh dalam raga

Menjilat habis teka-teki itu

Menelan bulat-bulat apa jawabnya

Namun apa?

Lecutan katamu meremukkan tawa

Menggilas asa

Mencabik nyawaku pagi ini

Celaka

Masih ada deretan minggu seram

Terkurung hingga habis nafasku

Hingga tubuhku lunglai dalam paksaan

Duhai sang penguji

Lihat aku

Aku akan tetap berpijak dalam permainanmu

Jalan Kelabu

Jalan kelabu

Panggung sandiwara kehidupan

Dibawah kerlap kerlip lampu banyak warna

Biru, hijau, coklat, dan kelabu

Hitam

Seperti kopi yang kuseruput pagi ini

Panggung pun gelap

Padahal mentari masih tersenyum ramah

Kini aku meraba lapisan rasa yang ada di jalan kelabu

Pohon yang tak lagi ada daunnya memimpikan datangnya musim semi

Kuda yang tidak ada penunggangnya menanti bocah kecil merengek minta naik kuda

Mobil yang berbaris rapi menunggu sang pemilik menancapkan kunci

Semua diam menanti datangnya peran

Hanya aku dengan kopi hitamku yang masih bercerita

Lantas bagaimana pohon, kuda, dan mobil merasakan pedihnya menanti?

 

Jalan Ganeca

10 Oktober 2014