Aku dan Puisi

Setiap manusia dianugerahi berbagai emosi dalam hidup. Emosi tidak hanya berupa amarah ataupun kekesalan. Bahagia, malu, bimbang, prihatin adalah bentuk dari emosi. Emosi adalah salah satu alasan yang umum dalam menulis khususnya puisi. Saya lebih sering menulis puisi apabila saya berhasil mengundang emosi untuk bisa saya rasakan sepenuhnya. Emosi yang datang secara spontan merupakan momen terbaik untuk menulis puisi. Tulisan yang ditulis dalam keadaan emosi biasanya akan merepresentasikan emosi yang sedang dirasakan. Tulisan dibuat dengan maksud untuk dibaca, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Karena pada hakikatnya manusia senang bercerita dengan media apapun itu.

Puisi adalah lukisan dari pikiran manusia yang menempatkan kata – kata sebagai media untuk melukis. Orang yang membuat puisi apapun bisa disebut sebagai penyair. Meluangkan waktu untuk menulis puisi merupakan hal yang sulit apabila tidak dibiasakan. Sangat disayangkan apabila dalam suatu waktu kita dihantui oleh deretan kata – kata yang bisa dirangkai menjadi sebuah puisi tetapi kita membiarkan kata – kata itu berlalu dan tidak membekas.

Bagi saya puisi merupakan media terbaik dalam mencurahkan emosi tanpa harus membuat orang lain bosan mendengarkan cerita saya. Keadaan emosi membuat manusia cenderung ingin terus bercerita. Padahal belum tentu ia sedang bercerita kepada orang yang benar – benar antusias dengan cerita itu. Saya memilih bercerita dengan cara menulis puisi karena saya lebih suka penyajian kata – kata yang singkat namun padat makna. Selain itu, saya lebih menginginkan orang lain yang membaca puisi saya atau mendengarkan puisi saya dibacakan memahami apa yang saya rasakan secara tersirat.

Puisi tidak hanya sebagai media curahan emosi. Puisi bisa digunakan sebagai media penyampaian sindiran ataupun pujian secara tidak langsung. Saya adalah tipe orang yang tidak bisa terbuka ketika menyampaikan suatu sindiran ataupun pujian. Puisi telah menutup rasa malu saya untuk bisa tetap menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan pada orang lain.

Selain itu, puisi memiliki kekuatan yang bisa mempengaruhi psikis seseorang ketika membaca puisi tersebut. Kekuatan sebuah puisi dapat dilihat pada kemampuan puisi tersebut untuk membuat orang yang membacanya atau mendengarkannya menjadi berpikir apa yang selama ini belum pernah terpikirkan. Entah itu sebuah kesadaran atau emosi. Sebagai contoh suatu hari saya membuat puisi berjudul “Jalan Kelabu”. Dalam puisi tersebut diceritakan semua makhluk atau benda selain manusia di sebuah jalan raya sedang menanti peran masing-masing. Seseorang yang membaca puisi tersebut mengaku merasakan adanya kesedihan dalam sebuah penantian.

Puisi yang telah ditulis sebaiknya dibacakan apabila dirasa perlu. Bagi saya, membacakan puisi karya sendiri seperti sedang bercerita kepada banyak orang tanpa harus dikritik. Membacakan puisi orang lain pun tidak kalah menyenangkan meski ada kemungkinan perbedaan penafsiran makna antara kita sebagai pembaca dengan penyair puisi tersebut.

Keindahan dari puisi bergantung pada cara penyair memilih dan merangkai kata. Penyair dapat mempertajam kosakata dalam membuat puisi dengan cara sering membaca karya sastra dan kamus. Selain itu, semakin sering menulis puisi akan semakin mudah seorang penyair dalam memilih kosakata dan mengemasnya menjadi puisi yang indah.

Langkah menulis puisi bagi tiap orang bisa saja berbeda. Keinginan saya untuk menulis puisi biasanya diawali dengan adanya suatu kata asing yang terlintas dalam pikiran. Kata asing tersebut biasanya tidak berkaitan dengan keadaan atau lingkungan saat itu. Contoh: Saya sedang mengikuti kuliah yang membahas bagaimana pesawat bisa terbang lalu tiba – tiba saya berpikir tentang seekor siput yang secara jelas tidak dibahas dalam kuliah. Saya segera mencatat kata ‘siput’ lalu mencoba menuliskannya dalam bentuk puisi dengan emosi yang sedang saya rasakan saat itu.

Penting bagi seorang penyair untuk membawa buku kecil beserta alat tulis setiap saat. Dalam era globalisasi ini, keberadaan buku kecil dan alat tulis tersebut dapat digantikan dengan gadget yang mampu membuat penyair langsung menuliskan ide dalam sebuah gadget bahkan bisa langsung dipost ke media sosial.

Ada dua jenis puisi yang biasa saya tulis, yaitu puisi dengan rima beraturan dan puisi dengan rima tidak beraturan. Untuk puisi dengan rima beraturan, pertama-tama saya menuliskan beberapa kata yang memiliki akhiran sama. Saya membebaskan diri saya untuk meletakkan kata – kata tersebut dalam baris yang mana saja. Lalu saya padukan dengan kalimat – kalimat yang mengandung ide dari puisi sedemikian rupa sehingga setiap kalimat yang tertulis memiliki makna yang sesuai. Untuk puisi dengan rima tak beraturan, saya langsung menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Memang kalimat yang ditulis terkadang terlihat tidak terstruktur dan penuh coretan. Namun, puisi boleh direvisi kapan pun. Puisi juga boleh ditulis tidak sampai selesai. Bisa dilanjutkan di kemudian hari.

Menulis puisi adalah mulai menjadi bagian dari hidup saya sebagai bentuk pengekspresian diri. Mengekspresikan diri dengan cara apapun merupakan hak setiap manusia dan tidak bisa disalahkan. Mari menulis puisi!

6 thoughts on “Aku dan Puisi

  1. Profile photo of Gabylia Kusuma DewiGabylia Kusuma Dewi

    postingan bagus.
    kalo buat saya pribadi sih justru menulis puisi itu kok rasanya lebih susah ya daripada menulis cerpen/ficlet, haha. entahlah, merangkai kata-kata sederhana menjadi indah itu cuma bukan saya banget aja. tapi kagum sama mereka yg suka ulis dan bisa mengapresiasi puisi

    Reply
  2. Gina

    Saya suka menulis puisi ketika sekolah… Namun ketika SMA menghentikannya karena satu alasan.

    Sekarang saya kembali mencoba menulis lagi meskipun dengan cara yang berbeda.

    Reply

Leave a Reply to Gina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *