TAK SEMPAT

“Happy birthday, Rifa.”
Kulihat sekotak rainbow cake dan lilin berbentuk angka dua puluh satu disodorkan tepat di depan wajahku.
“Wah, kenapa seniat ini.”
“Sudah. Sebutkan semua permintaanmu dan tiup lilinnya. Siapa tahu keberuntungan berpihak kepadamu di hari yang spesial ini.”
“Bukankah kita sama-sama berulang tahun sekarang? Bagaimana kalau kita meniup lilinnya sama-sama?”
Rafa mengiyakan. Kami meniup lilin sama-sama.
“Selamat ulang tahun juga, Rafa.”
Aku memeluknya. Tak lupa untuk menciumnya juga.
“Sama-sama, Rifa sayang. Ini kadonya. Jangan dibuka sekarang ya. Sekarang kita potong kuenya.”
“Maaf, aku belum bisa memberikanmu apa-apa sekarang. Aku tadinya berniat untuk membuat kue sendiri pagi ini dan mengantarkannya langsung ke tempat kostmu. Tidak mungkin aku datang kesana tepat pukul 00.00 seorang diri.”
“Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya kesini untuk merayakan ulang tahun kita berdua. Apakah ayah sudah meneleponmu untuk mengucapkan selamat ulang tahun, Rifa? Ayah belum menghubungiku. Kukira ayah akan menghubungimu lebih dulu.”
Bagiku, hal ini sudah lebih dari istimewa. Seumur hidup aku tidak pernah merayakan ulang tahun bersama keluarga yang seutuhnya. Ibu pergi meninggalkan kami saat melahirkan aku dan Rafa, kakak kembarku. Ibu mengalami pendarahan yang cukup parah saat itu. Sedari kecil, aku dan Rafa diasuh oleh nenek. Ketika kami berdua beranjak remaja, nenek sudah tiada. Jadilah hingga saat ini keluargaku hanya ada aku, Rafa, dan ayah. Tapi ayah selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Jarang sekali mampir ke tempat kostku dan Rafa.
“Jangan berharap lebih dari ayah. Ayah tidak akan pernah mengucapkan itu. Sudahlah, Rafa. Jangan bersedih hanya karena ayah tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Yuk, kita potong kuenya”
Kau tahu, Rafa. Aku lebih sedih karena di dunia ini aku hanya mempunyai kamu. Sedangkan kamu. Kamu punya segalanya.
“Oh iya. Putra, kamu harus ucapin selamat ulang tahun juga dong ke Rifa.”
“Happy birthday ya, Rif.”
“Terima kasih, kak Putra.”
Ada yang berbeda ketika harus bertemu dengan kak Putra. Aku mengenalnya sejak ia sering mengantarkan Rafa untuk mampir ke tempat kostku. Rafa tidak pernah bercerita banyak tentang kak Putra. Yang kutahu kak Putra adalah rekan kerja Rafa. Meskipun masih kuliah, Rafa bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar. Selain karena ingin mempunyai penghasilan sendiri, Rafa memang senang sekali mengajar. Kak Putra adalah pengajar tetap di lembaga itu. Kak Putra sangat baik. Sering kali ia ke tempat kostku seorang diri untuk mengantarkan makanan-makanan kesukaanku. Mungkin ia tahu itu semua dari Rafa.
“Bagaimana kuliahmu? Lancar?” tanya kak Putra.
“Aku ingin jalan-jalan. Penat dengan urusan kuliah yang tiada hentinya”
“Kamu mau jalan-jalan kemana?” tanya Rafa sambil menggigit rainbow cake yang telah kupotong.
“Aku ingin dekat dengan alam.”
“Aku tahu kamu harus kemana. Tapi aku tidak bisa menemanimu. Hari ini aku ada acara bersama teman-teman sejurusan. Aku lupa untuk memberitahumu sebelumnya. Bagaimana kalau Putra yang menemanimu?”
“Kakak tidak keberatan kok, Rifa.”
Kak Putra meyakinkanku untuk mengiyakan Rafa. Apakah ini mimpi?
“Boleh. Terima kasih ya, kak.”
Rafa membisikkan sesuatu kepada kak Putra.
“Baiklah, Rifa. Kamu siap-siap jam 6 pagi nanti. Pakai sepatu olahraga juga ya. Nanti kakak jemput kamu.”
“Aku mau dibawa kemana, kak?”
“Ada deh. Pokoknya tempat itu keren banget. Cocok buat refreshing.“
Kak Putra dan Rafa saling tersenyum.
“Sudah ya, Rif. Kami pulang. Aku juga harus siap-siap. Kamu istirahat dulu. Karena hari ini kamu akan jalan-jalan seharian.”
“Oke. Sekali lagi terima kasih untuk kalian berdua ya.”
Aku mengantarkan mereka ke gerbang depan. Mengapa tumbuh rasa cemburu ketika aku melihat mereka selalu bersama. Tak bisa dibohongi, aku mencintai kak Putra. Aku segera kembali ke kamar. Aku kembali tidur karena hari ini aku akan menjalani hari yang indah.

“Kita mau kemana, kak?” tanyaku dengan senang hati. Bagaimana tidak, hari ini aku diberi kesempatan untuk bisa jalan-jalan seharian bersamanya tanpa harus aku yang meminta.
“Ada deh. Nanti bukan kejutan dong. Anggap ini hadiah ulang tahunmu juga.” jawabnya sambil ia fokus menyetir mobil.
Sepanjang perjalanan kak Putra lebih banyak bercerita. Tapi ia tidak pernah bercerita mengenai hati. Aku ingin dia menceritakan hal itu. Tapi aku malu jika harus aku yang menanyakan.
“Kita sudah sampai.”
Ternyata kak Putra membawaku pergi ke sebuah hutan. Hutan ini bukan hutan liar dan sudah dijadikan tempat wisata. Kami berjalan menyusuri tanah yang penuh kerikil. Kak Putra tidak memberi tahuku kami akan berjalan sampai mana.
Hutan ini sangat indah. Meskipun hutan ini dijadikan tempat wisata, tidak mengurangi keasriannya akibat ulah manusia. Beragam pohon ditanami sepanjang jalan. Kulihat ada beberapa monyet yang memanjat pepohonan. Di sebelah kiri aku dapat melihat sebuah jurang yang dibawahnya terdapat sungai. Aku juga bisa melihat gunung. Ditambah dengan sinar matahari yang membuat pemandangan ini semakin eksotis.
Aku memetik satu bunga lalu kuberikan kepada kak Putra. Aku sendiri tidak tahu mengapa harus bunga.
“Kak, buat kakak. Cantik ya.” kataku sambil menyodorkan bunga berwarna kuning itu.
“Wow terima kasih, Rifa. Bunga ini cantik sepertimu.”
Aku tersipu malu. Apakah ini pertanda kak Putra juga mencintaiku?
Setelah 1 jam kami berjalan, ternyata tujuan akhir kami adalah sebuah air terjun. Air terjun itu cukup tinggi dan mengalir ke sungai yang terdapat bebatuan. Indah sekali. Kami berjalan melewati jembatan yang membentang diatas air terjun.
“Kak, ini keren banget!” Aku tertawa girang. Ini kado ulang tahun terindah yang pernah aku dapatkan. Kak Putra melemparkan senyum kepadaku.
“Kita duduk yuk di batu sungai sana. Kakak duluan ya yang turun kesana.”
Kak Putra memegang erat tanganku agar aku tidak terjatuh. Sesampainya kak Putra duduk di sampingku.
“Rifa, menurutmu apakah aku sudah pantas untuk bisa mencintai wanita dengan penuh keseriusan?”
Jantungku berdegup keras. Akankah kau akan menyatakan perasaanmu padaku? Tidak, apapun yang terjadi aku harus tenang.
“Bukankah sudah seharusnya ketika mencintai seseorang harus dengan penuh keseriusan?”
“Maksudku, apakah aku sudah pantas untuk menikahi seorang wanita?”
“Aku tidak tahu, kak. Aku sendiri belum pernah tahu kapan aku pantas.”
Aku menunggu ia berkata-kata lagi. Aku berharap ia menyatakan cintanya padaku sekarang.
*)
30 menit kita disini
Tanpa suara
Dan aku resah harus menunggu lama
Kata darimu
“Rifa, ayo kita kembali ke mobil. Tiba-tiba langitnya mendung. Nanti kalau tidak cepat kembali kita bisa kehujanan.”
Ah, aku kecewa. Bukankah sekarang waktu masih menunjukkan pukul 8.00. Kenapa langit menjadi mendung. Dan kenapa ia tidak segera mengatakannya padaku. Aku berjalan mendahuluinya. Aku kecewa meskipun sebenarnya ia tidak bersalah. Hujan mulai turun. Kami pun tetap menerobos hujan.
“Rifa, tunggu. Jalanannya licin. Kamu harus hati-hati. Jangan berjalan terlalu cepat.”
Aku tak peduli. Ingin rasanya aku menangis tanpa perlu ia tahu. Aku berjalan setengah berlari dan aku lupa bahwa tanah di tempat itu labil. Aku pun tergelincir dan terseret cukup jauh ke bawah.
“Rifaaaaaa….!!!”
Aku hanya mendengar teriakan itu. Selebihnya aku tidak tahu apa-apa.

Aku membuka mataku. Ternyata ayah berada disampingku.
“Ayah…”
“Ayah selalu berada disampingmu sejak kamu masuk rumah sakit. Kamu hampir masuk ke dalam jurang. Untung badanmu masih tertahan oleh akar pohon. Tiga hari kamu tidak sadarkan diri. Ayah takut sekali jika harus kehilanganmu. Maafkan ayah selama ini kurang memperhatikan kedua anak ayah, Rafa dan Rifa.”
“Tidak apa-apa, Ayah. Yang penting ayah tetap berada disini.”
Aku dan ayah pun sama-sama menitikkan air mata rindu.

Sepulang dari rumah sakit, aku dan Rafa pulang ke rumah. Saat itu kami sudah memasuki liburan akhir semester. Kulihat akhir-akhir ini Rafa sangat sibuk sehingga tidak selalu bisa menemaniku. Setiap kutanya ia sedang sibuk apa ia hanya berkata “Ini rahasia negara.”
Aku duduk di depan meja komputerku. Meskipun tanganku patah, aku masih sanggup untuk tetap menulis. Aku senang sekali menulis. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamarku. Itu kak Putra.
“Lagi apa, Rif?”
“Eh, kak Putra. Kenapa ada disini? Aku lagi nulis nih.”
“Kamu hebat. Kamu konsisten dalam menulis walaupun kamu sedang sakit. Pasti suatu saat kamu akan jadi penulis hebat.”
“Ya mudah-mudahan bisa terwujud.”
Kami tertawa bersama. Saat itu, aku merasa kehangatan yang lebih dari biasanya. Dia berjongkok disampingku. Aku merasa kami menjadi lebih dekat.
“Maafin aku, Rifa. Aku tidak bisa menjagamu saat itu.”
Lupakan itu. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Mungkin kini saatnya aku harus mengatakan hal itu.
“Kak Putra, aku…”
“Putra, kamu lagi ngapain?”
Suasana pun remuk ketika Rafa masuk ke kamarku.
“Engga, sayang. Aku hanya ingin menengok calon adik iparku. Kelihatannya Rifa perlu ditemani. Kasihan dia sedang sakit.”
Apa aku tidak salah mendengarnya?
“Wah, Rifa. Maaf aku belum memberitahumu. Kami sudah resmi bertunangan dua hari yang lalu. Saat itu kamu masih berada di rumah sakit sementara acara pertunangan itu harus diselenggarakan karena kami sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Dokter tidak membolehkan kami membawamu pulang. Jadi acara pertunangan itu kami selenggarakan di restoran dekat rumah sakit supaya tidak jauh darimu. Aku sengaja akan memberitahumu nanti seminggu sebelum hari pernikahan kami. Tadi sepertinya Putra lupa untuk merahasiakannya. Tapi tidak apa-apa. Kamu pasti sangat senang bukan. Sebentar lagi kamu akan punya kakak ipar. Bukankah dulu kamu pernah bilang sangat ingin mempunyai kakak laki-laki yang bisa menyayangi kamu?”
Kini, semua yang kurasa menjadi terlarang. Ia tidak sempat mengetahui hal itu. Semoga engkau bahagia bersamanya kelak dan masih bisa membahagianku juga.
**)
Kau tak sempat tanyakan aku
Cintakah aku padamu
Tiap kali aku berlutut
Aku berdoa
Suatu saat kau bisa cinta padaku

*) Jamrud – Pelangi di Matamu
**) Bunga Citra Lestari – Cinta Pertama

4 thoughts on “TAK SEMPAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *