Category Archives: Uncategorized

Yuk Facial di Rumah

Semua wanita tentu menginginkan wajah yang sehat, halus, dan cantik. Berbagai perawatan dilakukan untuk mendapatkan kulit wajah yang sempurna, salah satunya adalah facial. Facial biasa dilakukan di salon dan tidak menutup kemungkinan bisa dilakukan di rumah. Facial di rumah tidak menggunakan peralatan yang banyak dan lebih cocok untuk kantong mahasiswa.

Kali ini saya mencoba membahas langkah-langkah melakukan facial tanpa harus ke salon alias di rumah. Langkah-langkah ini saya pelajari setelah beberapa kali facial ke salon dan membaca artikel-artikel dari internet. Langkah-langkah ini sudah rutin saya lakukan dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil facial di salon.

Sebelum melakukan facial, siapkan alat dan bahan sebagai berikut:

  1. Facial wash (sabun pembersih wajah)
  2. Milk cleanser
  3. Toner
  4. Facial scrub atau peeling
  5. Krim pijat wajah
  6. Masker
  7. Pelembab
  8. Kapas
  9. Kuas masker
  10. Handuk kering
  11. Bandana facial
  12. Ekstraktor komedo. Kalau tidak ada bisa diganti dengan porepack
  13. 1 baskom air panas
Kuas Masker

Kuas Masker

Bandana Facial

Bandana Facial

Ekstraktor Komedo

Ekstraktor Komedo

Porepack

Porepack

Jika sudah siap, facial bisa dimulai:

  1. Gunakan bandana facial agar rambut tidak ikut menempel pada wajah saat facial
  2. Bersihkan wajah menggunakan facial wash lalu keringkan menggunakan handuk
  3. Oleskan milk cleanser pada wajah lalu usap menggunakan kapas hingga bersih. Milk cleanser ini berfungsi untuk mengangkat kotoran yang tidak terangkat pada tahap sebelumnya
  4. Tuangkan toner secukupnya pada kapas. Usapkan pada wajah hingga sisa milk cleanser terangkat. Penggunaan toner disarankan untuk kulit wajah yang berminyak. Hasilnya kulit akan terasa lebih segar
  5. Basahi wajah. Lakukan scrubbing menggunakan facial scrub atau peeling sampai butir-butir scrub berjatuhan. Scrubbing berfungsi untuk mengangkat sel kulit mati sehingga membantu regenerasi kulit. Hasilnya kulit akan terlihat lebih cerah
  6. Lakukan steaming (penguapan) pada wajah agar pori-pori wajah terbuka sehingga memudahkan untuk mengangkat komedo pada langkah selanjutnya. Di salon sudah ada alat khusus steaming. Untuk di rumah, kita bisa melakukan dengan cara mendekatkan wajah pada baskom yang berisi air panas. Lakukan selama 5-8 menit. Jangan lupa tutup kepala dan baskom dengan handuk dan pastikan kita masih bisa bernafas
  7. Pada langkah ketujuh ini perhatikan alat apa yang akan digunakan untuk mengangkat komedo. Apabila menggunakan ekstraktor komedo, lakukan pemijatan wajah terlebih dahulu lalu angkat komedo. Apabila menggunakan porepack, lakukan pengangkatan komedo lalu pijat wajah. Untuk memijat wajah, gunakan krim pijat wajah. Lakukan selama 10-15 menit. Untuk teknik memijat, saya menggunakan teknik “Tanaka Face Massage” yang berasal dari Jepang (link Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=V4ANcs7oh9s ). Teknik ini dipercaya bisa mengencangkan wajah dalam seketika
  8. Setelah wajah dipijat dan bersih dari komedo, bersihkan dengan air lalu keringkan
  9. Oleskan masker pada wajah menggunakan kuas. Diamkan masker selama 15-20 menit hingga kering. Setelah itu bilas dengan air hangat
  10. Bilas wajah dengan air dingin untuk menutup pori-pori wajah kembali
  11. Langkah terakhir, oleskan pelembab agar wajah tidak kering

Nah, itulah langkah-langkah melakukan facial di rumah. Lakukan facial seminggu sekali agar wajah kita senantiasa bersih dan terawat. Selamat mencoba.

 

TAK SEMPAT

“Happy birthday, Rifa.”
Kulihat sekotak rainbow cake dan lilin berbentuk angka dua puluh satu disodorkan tepat di depan wajahku.
“Wah, kenapa seniat ini.”
“Sudah. Sebutkan semua permintaanmu dan tiup lilinnya. Siapa tahu keberuntungan berpihak kepadamu di hari yang spesial ini.”
“Bukankah kita sama-sama berulang tahun sekarang? Bagaimana kalau kita meniup lilinnya sama-sama?”
Rafa mengiyakan. Kami meniup lilin sama-sama.
“Selamat ulang tahun juga, Rafa.”
Aku memeluknya. Tak lupa untuk menciumnya juga.
“Sama-sama, Rifa sayang. Ini kadonya. Jangan dibuka sekarang ya. Sekarang kita potong kuenya.”
“Maaf, aku belum bisa memberikanmu apa-apa sekarang. Aku tadinya berniat untuk membuat kue sendiri pagi ini dan mengantarkannya langsung ke tempat kostmu. Tidak mungkin aku datang kesana tepat pukul 00.00 seorang diri.”
“Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya kesini untuk merayakan ulang tahun kita berdua. Apakah ayah sudah meneleponmu untuk mengucapkan selamat ulang tahun, Rifa? Ayah belum menghubungiku. Kukira ayah akan menghubungimu lebih dulu.”
Bagiku, hal ini sudah lebih dari istimewa. Seumur hidup aku tidak pernah merayakan ulang tahun bersama keluarga yang seutuhnya. Ibu pergi meninggalkan kami saat melahirkan aku dan Rafa, kakak kembarku. Ibu mengalami pendarahan yang cukup parah saat itu. Sedari kecil, aku dan Rafa diasuh oleh nenek. Ketika kami berdua beranjak remaja, nenek sudah tiada. Jadilah hingga saat ini keluargaku hanya ada aku, Rafa, dan ayah. Tapi ayah selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Jarang sekali mampir ke tempat kostku dan Rafa.
“Jangan berharap lebih dari ayah. Ayah tidak akan pernah mengucapkan itu. Sudahlah, Rafa. Jangan bersedih hanya karena ayah tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Yuk, kita potong kuenya”
Kau tahu, Rafa. Aku lebih sedih karena di dunia ini aku hanya mempunyai kamu. Sedangkan kamu. Kamu punya segalanya.
“Oh iya. Putra, kamu harus ucapin selamat ulang tahun juga dong ke Rifa.”
“Happy birthday ya, Rif.”
“Terima kasih, kak Putra.”
Ada yang berbeda ketika harus bertemu dengan kak Putra. Aku mengenalnya sejak ia sering mengantarkan Rafa untuk mampir ke tempat kostku. Rafa tidak pernah bercerita banyak tentang kak Putra. Yang kutahu kak Putra adalah rekan kerja Rafa. Meskipun masih kuliah, Rafa bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar. Selain karena ingin mempunyai penghasilan sendiri, Rafa memang senang sekali mengajar. Kak Putra adalah pengajar tetap di lembaga itu. Kak Putra sangat baik. Sering kali ia ke tempat kostku seorang diri untuk mengantarkan makanan-makanan kesukaanku. Mungkin ia tahu itu semua dari Rafa.
“Bagaimana kuliahmu? Lancar?” tanya kak Putra.
“Aku ingin jalan-jalan. Penat dengan urusan kuliah yang tiada hentinya”
“Kamu mau jalan-jalan kemana?” tanya Rafa sambil menggigit rainbow cake yang telah kupotong.
“Aku ingin dekat dengan alam.”
“Aku tahu kamu harus kemana. Tapi aku tidak bisa menemanimu. Hari ini aku ada acara bersama teman-teman sejurusan. Aku lupa untuk memberitahumu sebelumnya. Bagaimana kalau Putra yang menemanimu?”
“Kakak tidak keberatan kok, Rifa.”
Kak Putra meyakinkanku untuk mengiyakan Rafa. Apakah ini mimpi?
“Boleh. Terima kasih ya, kak.”
Rafa membisikkan sesuatu kepada kak Putra.
“Baiklah, Rifa. Kamu siap-siap jam 6 pagi nanti. Pakai sepatu olahraga juga ya. Nanti kakak jemput kamu.”
“Aku mau dibawa kemana, kak?”
“Ada deh. Pokoknya tempat itu keren banget. Cocok buat refreshing.“
Kak Putra dan Rafa saling tersenyum.
“Sudah ya, Rif. Kami pulang. Aku juga harus siap-siap. Kamu istirahat dulu. Karena hari ini kamu akan jalan-jalan seharian.”
“Oke. Sekali lagi terima kasih untuk kalian berdua ya.”
Aku mengantarkan mereka ke gerbang depan. Mengapa tumbuh rasa cemburu ketika aku melihat mereka selalu bersama. Tak bisa dibohongi, aku mencintai kak Putra. Aku segera kembali ke kamar. Aku kembali tidur karena hari ini aku akan menjalani hari yang indah.

“Kita mau kemana, kak?” tanyaku dengan senang hati. Bagaimana tidak, hari ini aku diberi kesempatan untuk bisa jalan-jalan seharian bersamanya tanpa harus aku yang meminta.
“Ada deh. Nanti bukan kejutan dong. Anggap ini hadiah ulang tahunmu juga.” jawabnya sambil ia fokus menyetir mobil.
Sepanjang perjalanan kak Putra lebih banyak bercerita. Tapi ia tidak pernah bercerita mengenai hati. Aku ingin dia menceritakan hal itu. Tapi aku malu jika harus aku yang menanyakan.
“Kita sudah sampai.”
Ternyata kak Putra membawaku pergi ke sebuah hutan. Hutan ini bukan hutan liar dan sudah dijadikan tempat wisata. Kami berjalan menyusuri tanah yang penuh kerikil. Kak Putra tidak memberi tahuku kami akan berjalan sampai mana.
Hutan ini sangat indah. Meskipun hutan ini dijadikan tempat wisata, tidak mengurangi keasriannya akibat ulah manusia. Beragam pohon ditanami sepanjang jalan. Kulihat ada beberapa monyet yang memanjat pepohonan. Di sebelah kiri aku dapat melihat sebuah jurang yang dibawahnya terdapat sungai. Aku juga bisa melihat gunung. Ditambah dengan sinar matahari yang membuat pemandangan ini semakin eksotis.
Aku memetik satu bunga lalu kuberikan kepada kak Putra. Aku sendiri tidak tahu mengapa harus bunga.
“Kak, buat kakak. Cantik ya.” kataku sambil menyodorkan bunga berwarna kuning itu.
“Wow terima kasih, Rifa. Bunga ini cantik sepertimu.”
Aku tersipu malu. Apakah ini pertanda kak Putra juga mencintaiku?
Setelah 1 jam kami berjalan, ternyata tujuan akhir kami adalah sebuah air terjun. Air terjun itu cukup tinggi dan mengalir ke sungai yang terdapat bebatuan. Indah sekali. Kami berjalan melewati jembatan yang membentang diatas air terjun.
“Kak, ini keren banget!” Aku tertawa girang. Ini kado ulang tahun terindah yang pernah aku dapatkan. Kak Putra melemparkan senyum kepadaku.
“Kita duduk yuk di batu sungai sana. Kakak duluan ya yang turun kesana.”
Kak Putra memegang erat tanganku agar aku tidak terjatuh. Sesampainya kak Putra duduk di sampingku.
“Rifa, menurutmu apakah aku sudah pantas untuk bisa mencintai wanita dengan penuh keseriusan?”
Jantungku berdegup keras. Akankah kau akan menyatakan perasaanmu padaku? Tidak, apapun yang terjadi aku harus tenang.
“Bukankah sudah seharusnya ketika mencintai seseorang harus dengan penuh keseriusan?”
“Maksudku, apakah aku sudah pantas untuk menikahi seorang wanita?”
“Aku tidak tahu, kak. Aku sendiri belum pernah tahu kapan aku pantas.”
Aku menunggu ia berkata-kata lagi. Aku berharap ia menyatakan cintanya padaku sekarang.
*)
30 menit kita disini
Tanpa suara
Dan aku resah harus menunggu lama
Kata darimu
“Rifa, ayo kita kembali ke mobil. Tiba-tiba langitnya mendung. Nanti kalau tidak cepat kembali kita bisa kehujanan.”
Ah, aku kecewa. Bukankah sekarang waktu masih menunjukkan pukul 8.00. Kenapa langit menjadi mendung. Dan kenapa ia tidak segera mengatakannya padaku. Aku berjalan mendahuluinya. Aku kecewa meskipun sebenarnya ia tidak bersalah. Hujan mulai turun. Kami pun tetap menerobos hujan.
“Rifa, tunggu. Jalanannya licin. Kamu harus hati-hati. Jangan berjalan terlalu cepat.”
Aku tak peduli. Ingin rasanya aku menangis tanpa perlu ia tahu. Aku berjalan setengah berlari dan aku lupa bahwa tanah di tempat itu labil. Aku pun tergelincir dan terseret cukup jauh ke bawah.
“Rifaaaaaa….!!!”
Aku hanya mendengar teriakan itu. Selebihnya aku tidak tahu apa-apa.

Aku membuka mataku. Ternyata ayah berada disampingku.
“Ayah…”
“Ayah selalu berada disampingmu sejak kamu masuk rumah sakit. Kamu hampir masuk ke dalam jurang. Untung badanmu masih tertahan oleh akar pohon. Tiga hari kamu tidak sadarkan diri. Ayah takut sekali jika harus kehilanganmu. Maafkan ayah selama ini kurang memperhatikan kedua anak ayah, Rafa dan Rifa.”
“Tidak apa-apa, Ayah. Yang penting ayah tetap berada disini.”
Aku dan ayah pun sama-sama menitikkan air mata rindu.

Sepulang dari rumah sakit, aku dan Rafa pulang ke rumah. Saat itu kami sudah memasuki liburan akhir semester. Kulihat akhir-akhir ini Rafa sangat sibuk sehingga tidak selalu bisa menemaniku. Setiap kutanya ia sedang sibuk apa ia hanya berkata “Ini rahasia negara.”
Aku duduk di depan meja komputerku. Meskipun tanganku patah, aku masih sanggup untuk tetap menulis. Aku senang sekali menulis. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamarku. Itu kak Putra.
“Lagi apa, Rif?”
“Eh, kak Putra. Kenapa ada disini? Aku lagi nulis nih.”
“Kamu hebat. Kamu konsisten dalam menulis walaupun kamu sedang sakit. Pasti suatu saat kamu akan jadi penulis hebat.”
“Ya mudah-mudahan bisa terwujud.”
Kami tertawa bersama. Saat itu, aku merasa kehangatan yang lebih dari biasanya. Dia berjongkok disampingku. Aku merasa kami menjadi lebih dekat.
“Maafin aku, Rifa. Aku tidak bisa menjagamu saat itu.”
Lupakan itu. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Mungkin kini saatnya aku harus mengatakan hal itu.
“Kak Putra, aku…”
“Putra, kamu lagi ngapain?”
Suasana pun remuk ketika Rafa masuk ke kamarku.
“Engga, sayang. Aku hanya ingin menengok calon adik iparku. Kelihatannya Rifa perlu ditemani. Kasihan dia sedang sakit.”
Apa aku tidak salah mendengarnya?
“Wah, Rifa. Maaf aku belum memberitahumu. Kami sudah resmi bertunangan dua hari yang lalu. Saat itu kamu masih berada di rumah sakit sementara acara pertunangan itu harus diselenggarakan karena kami sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Dokter tidak membolehkan kami membawamu pulang. Jadi acara pertunangan itu kami selenggarakan di restoran dekat rumah sakit supaya tidak jauh darimu. Aku sengaja akan memberitahumu nanti seminggu sebelum hari pernikahan kami. Tadi sepertinya Putra lupa untuk merahasiakannya. Tapi tidak apa-apa. Kamu pasti sangat senang bukan. Sebentar lagi kamu akan punya kakak ipar. Bukankah dulu kamu pernah bilang sangat ingin mempunyai kakak laki-laki yang bisa menyayangi kamu?”
Kini, semua yang kurasa menjadi terlarang. Ia tidak sempat mengetahui hal itu. Semoga engkau bahagia bersamanya kelak dan masih bisa membahagianku juga.
**)
Kau tak sempat tanyakan aku
Cintakah aku padamu
Tiap kali aku berlutut
Aku berdoa
Suatu saat kau bisa cinta padaku

*) Jamrud – Pelangi di Matamu
**) Bunga Citra Lestari – Cinta Pertama

Aku dan Puisi

Setiap manusia dianugerahi berbagai emosi dalam hidup. Emosi tidak hanya berupa amarah ataupun kekesalan. Bahagia, malu, bimbang, prihatin adalah bentuk dari emosi. Emosi adalah salah satu alasan yang umum dalam menulis khususnya puisi. Saya lebih sering menulis puisi apabila saya berhasil mengundang emosi untuk bisa saya rasakan sepenuhnya. Emosi yang datang secara spontan merupakan momen terbaik untuk menulis puisi. Tulisan yang ditulis dalam keadaan emosi biasanya akan merepresentasikan emosi yang sedang dirasakan. Tulisan dibuat dengan maksud untuk dibaca, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Karena pada hakikatnya manusia senang bercerita dengan media apapun itu.

Puisi adalah lukisan dari pikiran manusia yang menempatkan kata – kata sebagai media untuk melukis. Orang yang membuat puisi apapun bisa disebut sebagai penyair. Meluangkan waktu untuk menulis puisi merupakan hal yang sulit apabila tidak dibiasakan. Sangat disayangkan apabila dalam suatu waktu kita dihantui oleh deretan kata – kata yang bisa dirangkai menjadi sebuah puisi tetapi kita membiarkan kata – kata itu berlalu dan tidak membekas.

Bagi saya puisi merupakan media terbaik dalam mencurahkan emosi tanpa harus membuat orang lain bosan mendengarkan cerita saya. Keadaan emosi membuat manusia cenderung ingin terus bercerita. Padahal belum tentu ia sedang bercerita kepada orang yang benar – benar antusias dengan cerita itu. Saya memilih bercerita dengan cara menulis puisi karena saya lebih suka penyajian kata – kata yang singkat namun padat makna. Selain itu, saya lebih menginginkan orang lain yang membaca puisi saya atau mendengarkan puisi saya dibacakan memahami apa yang saya rasakan secara tersirat.

Puisi tidak hanya sebagai media curahan emosi. Puisi bisa digunakan sebagai media penyampaian sindiran ataupun pujian secara tidak langsung. Saya adalah tipe orang yang tidak bisa terbuka ketika menyampaikan suatu sindiran ataupun pujian. Puisi telah menutup rasa malu saya untuk bisa tetap menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan pada orang lain.

Selain itu, puisi memiliki kekuatan yang bisa mempengaruhi psikis seseorang ketika membaca puisi tersebut. Kekuatan sebuah puisi dapat dilihat pada kemampuan puisi tersebut untuk membuat orang yang membacanya atau mendengarkannya menjadi berpikir apa yang selama ini belum pernah terpikirkan. Entah itu sebuah kesadaran atau emosi. Sebagai contoh suatu hari saya membuat puisi berjudul “Jalan Kelabu”. Dalam puisi tersebut diceritakan semua makhluk atau benda selain manusia di sebuah jalan raya sedang menanti peran masing-masing. Seseorang yang membaca puisi tersebut mengaku merasakan adanya kesedihan dalam sebuah penantian.

Puisi yang telah ditulis sebaiknya dibacakan apabila dirasa perlu. Bagi saya, membacakan puisi karya sendiri seperti sedang bercerita kepada banyak orang tanpa harus dikritik. Membacakan puisi orang lain pun tidak kalah menyenangkan meski ada kemungkinan perbedaan penafsiran makna antara kita sebagai pembaca dengan penyair puisi tersebut.

Keindahan dari puisi bergantung pada cara penyair memilih dan merangkai kata. Penyair dapat mempertajam kosakata dalam membuat puisi dengan cara sering membaca karya sastra dan kamus. Selain itu, semakin sering menulis puisi akan semakin mudah seorang penyair dalam memilih kosakata dan mengemasnya menjadi puisi yang indah.

Langkah menulis puisi bagi tiap orang bisa saja berbeda. Keinginan saya untuk menulis puisi biasanya diawali dengan adanya suatu kata asing yang terlintas dalam pikiran. Kata asing tersebut biasanya tidak berkaitan dengan keadaan atau lingkungan saat itu. Contoh: Saya sedang mengikuti kuliah yang membahas bagaimana pesawat bisa terbang lalu tiba – tiba saya berpikir tentang seekor siput yang secara jelas tidak dibahas dalam kuliah. Saya segera mencatat kata ‘siput’ lalu mencoba menuliskannya dalam bentuk puisi dengan emosi yang sedang saya rasakan saat itu.

Penting bagi seorang penyair untuk membawa buku kecil beserta alat tulis setiap saat. Dalam era globalisasi ini, keberadaan buku kecil dan alat tulis tersebut dapat digantikan dengan gadget yang mampu membuat penyair langsung menuliskan ide dalam sebuah gadget bahkan bisa langsung dipost ke media sosial.

Ada dua jenis puisi yang biasa saya tulis, yaitu puisi dengan rima beraturan dan puisi dengan rima tidak beraturan. Untuk puisi dengan rima beraturan, pertama-tama saya menuliskan beberapa kata yang memiliki akhiran sama. Saya membebaskan diri saya untuk meletakkan kata – kata tersebut dalam baris yang mana saja. Lalu saya padukan dengan kalimat – kalimat yang mengandung ide dari puisi sedemikian rupa sehingga setiap kalimat yang tertulis memiliki makna yang sesuai. Untuk puisi dengan rima tak beraturan, saya langsung menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Memang kalimat yang ditulis terkadang terlihat tidak terstruktur dan penuh coretan. Namun, puisi boleh direvisi kapan pun. Puisi juga boleh ditulis tidak sampai selesai. Bisa dilanjutkan di kemudian hari.

Menulis puisi adalah mulai menjadi bagian dari hidup saya sebagai bentuk pengekspresian diri. Mengekspresikan diri dengan cara apapun merupakan hak setiap manusia dan tidak bisa disalahkan. Mari menulis puisi!

Rumah Siput

Seekor siput kehilangan cangkang hangatnya

Dimanakah cangkangmu, duhai siput

Sudah berapa malam kau kedinginan

Tidakkah kau tanyakan pada ilalang dimana cangkangmu

Mungkin terselip diantara pangkal daun mereka

Jika mereka tak tahu ketuklah jendela kamarku

Singgah ke rumahku

Meski tak ada secangkir kopi hangat

Ataupun sepotong roti manis

Mengunyah nasi pun aku tidak

Hanya ada sepiring nasi kering dari tetangga

Duhai siput yang malang

Mari kita meratapi nasib dengan kejenakaan

Mencoba melupakan rindu kehangatan ruang diantara sekat bata

Melupakan makanan enak dan selimut yang hangat

Ruang yang tak pernah hilang

Hanya tak terjangkau oleh sorotan mata

Aku tak bermukjizat seperti Nabi Sulaiman

Yang sanggup membawa singgasana sang ratu menuju kerajaan sang Nabi

Hanya dalam satu kedipan mata

Langkah yang begitu mungil akan payah mencapai kilometer dimensi ruang

Terlalu lemah untukku, duhai siput

Padahal aku ingin mati disana

Aku masih berkhayal

Cangkangku tidak merindu sepertiku

Biarlah jarak tetap nyata

Meski takkan bisa aku temukan rumah terdekat

Terhangat

Dan terabadi

Seperti rumah siput yang aku inginkan

 

Bandung

29 Oktober 2014

Senja Tenggelam

Sejak siang kita disini

Duduk memangku khayalan yang tak henti

Menyambut matahari yang akan pergi

Langit kian menghitam

Senja pun tenggelam

Aku hanya bisa diam

Seiring meluruhnya kepedihan hari itu

Saat pertokoan mulai menyalakan lampu

Aku bangkit menjejaki jalan berbatu

Mengakhiri kisah melodi merah semu

Menyembunyikan rindu dalam temaram

Menghapus bayang kelam

Ah, akan berakhir hari yang suram

Saatnya kini

Berjalan bak sepasang merpati

Lalu pulang ke peraduan sepi

 

Nb: Teruntuk seseorang yang menemaniku menikmati keindahan senja

Kaki Meja

Empat kaki meja bersepatu kaca

Menahan dentuman amarah

Dalam gejolak api yang menangis

Kilauan butir pasir kuarsa menyilaukan mata

Menopang kaki meja di setiap pijakannya

Terkadang retak namun utuh kembali

Hanya empat

Meja membentang diatas kepalanya

Menahan beban angin berhembus ke bawah

Berat…

Suatu gelap yang tak biasa

Kaki meja hilang satu tanpa pamit

Meja itu tak lagi statis

Sepatu kacanya telah mengkristal

Bukan menjadi es

Tapi mengurai tajam dalam diam

Kini hanya tiga

Mencari pioner baru namun goyah

Dimana harus berdiri

Menjadi segitiga permata yang tak terkalahkan

 

Bandung

22 – 9 -2014

 

Nb: Teruntuk geng FALCON HELI (Hans, Eka, Luqman, Iga)

Sang Penguji

Berdiri

Menepis takut pengecut

Menghadap sang penguji

Duhai sang penguji

Malam kelam aku meneguk bosan

Menguras peluh dalam raga

Menjilat habis teka-teki itu

Menelan bulat-bulat apa jawabnya

Namun apa?

Lecutan katamu meremukkan tawa

Menggilas asa

Mencabik nyawaku pagi ini

Celaka

Masih ada deretan minggu seram

Terkurung hingga habis nafasku

Hingga tubuhku lunglai dalam paksaan

Duhai sang penguji

Lihat aku

Aku akan tetap berpijak dalam permainanmu

Jalan Kelabu

Jalan kelabu

Panggung sandiwara kehidupan

Dibawah kerlap kerlip lampu banyak warna

Biru, hijau, coklat, dan kelabu

Hitam

Seperti kopi yang kuseruput pagi ini

Panggung pun gelap

Padahal mentari masih tersenyum ramah

Kini aku meraba lapisan rasa yang ada di jalan kelabu

Pohon yang tak lagi ada daunnya memimpikan datangnya musim semi

Kuda yang tidak ada penunggangnya menanti bocah kecil merengek minta naik kuda

Mobil yang berbaris rapi menunggu sang pemilik menancapkan kunci

Semua diam menanti datangnya peran

Hanya aku dengan kopi hitamku yang masih bercerita

Lantas bagaimana pohon, kuda, dan mobil merasakan pedihnya menanti?

 

Jalan Ganeca

10 Oktober 2014

Nyasar Jadi Pesilat (bagian 1)

Pertama kalinya aku ikut pencak silat saat masih SMA. Saat pengenalan ekstrakulikuler aku sama sekali tidak tertarik dengan pencak silat. Dan pada akhirnya temanku, Alfan, berhasil meracuniku untuk mencoba ilmu beladiri asli Indonesia ini. Tidak terpikirkan untuk menjadi jagoan. Aku hanya ingin menambah hobi baru selain belajar dan menulis. Aku pun datang untuk latihan perdana. Jumlah wanita dan pria saat itu seimbang sehingga aku tidak segan untuk datang latihan. Latihan dilaksanakan 2 minggu sekali di sekolah dan 1 kali latihan gabungan di gelanggang olahraga (tempatnya dekat dari rumah). Dan hasil dari latihan rutin adalah aku bisa melakukan tendangan T, tendangan sabit, jep, sapuan, circle, guntingan dan lainnya. Dan ketika aku sudah jatuh cinta dengan pencak silat, Alfan menghilang. Padahal dia yang mengajakku untuk ikut pencak silat. Aku meneruskan kegiatan ini dan aku ditawarkan oleh pelatihku untuk ikut bertanding di Universitas Mercubuana. Awalnya aku menolak dengan alasan takut cidera. Pelatihku, bang Aris, berkata :”Mental pesilat ga akan terbentuk sebelum kamu bertanding. Percuma punya teknik bagus tapi ga puya mental. Gimana mau dipake buat bela diri.” Iya juga ya, buat apa aku latihan cape-cape tapi ga ada terapannya. Aku pun mengiyakan tawaran itu dan bang Aris berkata :”Eka,Fitri pake body protector sama pelindung tulang kering sekarang.” Saat itu juga aku sparing (kebetulan lagi latihan gabungan). Lawanku adalah ka Fitri. Sabuknya lebih tinggi dariku. Rasa grogi dan tidak percaya diri mengrogotiku. Jurus apa yang mau aku gunakan nanti,pikirku saat aku mengenakan body protector. Bang Aris bertindak sebagai wasit. Aku mulai menginjak matras, begitu juga ka Fitri. Bang Aris pun memberi aba-aba mulai. Aku memulai sikap pasangan yang masih alakadarnya. Perlahan-lahan kaki ku maju dan ‘jebreeetttt’. Ka Fitri mengeluarkan tendangan T nya ke arah body protectorku. Aku tidak bisa menangkisnya. Aku pun membalasnya dengan tendangan T juga tetapi kakiku berhasil ditangkap dan aku terjatuh. Mentalku menjadi ciut. Apa aku masih bisa meneruskan ini, pikirku. Bisa, ini sparing pertamaku. Wajar jika banyak kesalahan. Aku mengeluarkan circle tapi gagal karena teknik circle ku masih belum benar. Aku jadi malu. Hehehehe. Sparing pun selesai.

– – –

Pada latihan berikutnya, lawan sparingku adalah Ria. Dia adik kelasku sewaktu SMP. Jam terbangnya sudah lebih dariku bahkan dia pernah mengikuti POPDA. Meskipun dia adik kelasku, postur badannya sama denganku. Dia juga ikut pertandingan sepertiku. Sayangnya, kelas berat kami sama sehingga kemungkinan kami akan bertemu di penyisihan. Mudah-mudahan kami tidak bertemu di penyisihan. Setiap sparing dengannya dia selalu unggul dariku. Tapi aku tidak kecewe karena aku memang pemula. Ambisiku naik kembali. Aku berkeinginan untuk menang setidaknya medali perunggu harus kudapatkan.

“Besok semua atlet kumpul jam 6 pagi”

Atlet, ya atlet. Bang Aris memanggil kami atlet. Aku merasa senang dengan panggilan itu. Aku menjadi atlet. Setidaknya panggilanku kini bukan hanya ‘Eka si cadel’ atau ‘Eka si tukang belajar’. Hehehe.

– – –

Tibalah saatnya pertandingan. Aku dan anak didik bang Aris lainnya yang mengikuti pertandingan berangkat menggunakan kendaraan umum. Pertandingan dilaksanakan seminggu. Aku terpaksa meninggalkan kelas di sekolah demi pertandingan ini. Banyak pengalaman selama seminggu itu seperti jadwal mandi yang tidak seperti biasa, makan rame-rame dalam satu wadah, latihan setelah sholat subuh dan pastinya bertanding. Hari pertama bertanding dimulai dengan kelas berat rendah. Pertama kalinya aku menonton pertandingan seperti ini. Aku benar-benar serius memperhatikan teknik dari semua atlet. Aku begitu terpukau. Mungkin mereka memang atlet professional. Aku sedikit mendapat pencerahan setelah melihat banyak atlet yang bertanding dengan gaya bertanding dan perguruan pencak silat yang berbeda-beda.

Aku bertanding pada hari ketiga. Aku masih mempersiapkan diri di camp. Siapapun lawan mainnya aku harus melakukan yang terbaik. Tiba-tiba bang Aris datang :”Gawat nih, Eka sama Ria ketemu di penyisihan pertama.”

Aku kaget dan menatap Ria. Begitu juga dengan Ria.

“Yaudah nanti kalian berdua main yang bagus aja.”

Aku putus asa. Selama sparing dengannya aku selalu kalah bagus. Aku ikhlaskan pertandingan perdanaku. Yang penting aku sudah pernah bertanding.

Kami pun menuju gelangang. Penuh penonton. Atmosfernya sangat berbeda meskipun lawan mainku adalah lawanku selama sparing.  Body protector dan pelindung tulang kering sudah melekat pada diriku. Aku siap bertanding dengan siapapun itu. Aku harus main bagus. Coachku kali ini adalah kak Umam, kakak kelasku di sekolah. Aku masuk ke gelanggang dari sudut biru. Tak lupa memberikan sikap hormat kepada coach, juri dan wasit juri. Kini aku berada di tengah gelanggang. Dihadapanku ada Ria. Kami pun bersalaman. Wasit juri memeriksa kelengkapan kami dan membacakan peraturan. Setelah siap, wasit juri memberikan aba-aba pertanda kami harus melakukan sikap pasangan. Kini, sikap pasanganku tidak terlalu jelek seperti pertama sparing. Setelah ada aba-aba lagi perlahan-lahan kakiku maju ke depan. Mataku terus menatap body protector Ria. Entahlah siapa duluan yang akan menyerang. Biasanya Ria akan menyerang duluan. Ria memang tipe fighter. Dan benar, Ria menyerangku lebih dulu. Aku coba menangkisnya. Hampir berhasil tapi tetap saja serangannya mengenai sasaran. Sudah cukup lama kami berada di gelanggang. Aku mencoba menyerangnya. Berhasil!!! Tendangan T ku berhasil mengenai body protectornya. Wasit memberi break sebentar karena ronde 1 telah selesai. Ronde 1 dimenangkan oleh Ria. Aku kembali ke sudut biru. Kak Umam memberiku minum.

“Ini bukan soal makan temen. Lo tetep main yang bagus dong meskipun lawan lo Ria. Gue yakin kemampuan lo ga cuma segitu.”

Ya,ini bukan soal makan teman tapi ini sportifitas. Aku kembali bertanding untuk ronde 2. Kali ini seranganku lebih banyak mengenai sasaran. Percaya diriku meningkat meskipun berkali-kali aku terkena peringatan oleh wasit yang bisa mengurangi nilaiku. Alhasil aku memenangkan ronde 2 ini. Pada ronde 3 aku berhasil menangkap kaki Ria dan menjatuhkannya. Sebenarnya ada rasa tidak enak pada Ria. Maafin aku, Ria. Aku tidak bermaksud jahat. Ini tentang sportifitas. Ronde 3 pun selesai. Wasit memegang tangan kami. Tangan siapa yang akan diangkat oleh wasit, itulah yang menang. Aku menunduk sambil berdoa. Mudah-mudahan tidak ada yang tersakiti disini.

“Dan partai ini dimenangkan oleh sudut…”

Aku masih tetap menunduk sambil berdoa.

“Biru. Atas nama pesilat Eka.”

Alhamdulillah Ya Rabb. Engkau memberikanku kesempatan untuk maju ke semifinal. Para wasit juri mengangkat bendera biru sebanyak 2 dan bendera merah sebanyak 1. Meskipun tidak mencapai 3 bendera biru, tidak apa-apa. Ini pertandingan perdanaku. Mudah-mudahan lain kali bisa lebih baik.

Aku bersalaman dengan Ria dan memberi hormat pada juri dan wasit juri. Aku kembali ke sudut biru untuk keluar dari gelanggang.

“Nah gitu dong”

“Iya,kak. Tapi aku ga enak sama Ria.”

“Yaudah, dia udah pernah menang POPDA. Kasih kesempatan buat yang lain.”

Ya justru itu. Aku khawatir dia malu karena dia pernah memenangkan POPDA tapi kalah di penyisihan. Kami semua kembali ke camp bersama bang Aris.

“Eka, selamat ya. Besok latihan lagi ya. Masuk semifinal.”

Aku hanya tersenyum kecil.

– – –

Malam pun tiba. Kami semua boleh bermain asalkan sudah kembali ke camp dan tidur pada pukul 22.00. Aku pergi bersama temanku yang saat itu masih kelas 1 SMP. Kami berdua keluar camp hanya sekadar jajan. Kami pun kembali ke camp sebelum pukul 22.00. Di camp, aku bercerita dengan temanku itu. Disaat giliran dia bercerita sesekali aku melirik ke arah Ria. Ria terlihat begitu murung. Setelah sesi cerita selesai aku mendekati Ria sambil menawarkan biskuit yang aku beli.

“Mau ga,ri? Enak lho.”

Ria tersenyum dan mengambil satu biskuit.

Tidak lama kemudian, bang Aris datang membawa makanan dan pembalut wanita. Ya,pembalut wanita memang dibutuhkan saat pertandingan untuk setiap atlet (khususnya beladiri) wanita baik sedang haid maupun tidak. Tanpa pikir panjang kami semua langsung menyerbu makanan yang dibawa bang Aris. Tapi kali ini kami semua makan tidak dalam satu wadah.

“Inget ye. Yang semifinal jangan makan kebanyakan biar ga over.” kata bang Aris dengan logat betawinya.

Atlet yang ingin bertanding memang harus menjaga berat badannya. Jangan sampai kurang atau lebih dengan kelas berat yang dimainkannya. Kalo kurang atau lebih bisa didiskualifikasi.

Setelah selesai makan, aku langung mengambil buku fisika dari tasku dan belajar karena sebenarnya hari sabtu besok aku ada lomba fisika.

“Belajar mulu lo.” kata bang Aris.

Ah ketauan. Padahal aku tidak ingin bang Aris tau kalau aku tidak bisa mengikuti rangkaian acara pertandingan ini sampai selesai yaitu sampai hari minggu.

“Sabtu ada lomba fisika,bang.”

“Repot ye jadi orang pinter. Kalo lo masuk final gimana. Finalnya hari sabtu tuh.”

“Entahlah,bang.”

Gini nih jadinya. Bingung. Aku hanya melakukan yang terbaik. Latihan dan bertanding dengan baik, belajar dan lomba dengan baik. Waktu pun menunjukkan pukul 22.00.

“Tidur semua. Atlet maksimal tidur jam 10 malam.”

Kami semua pun tidur

– – –

Adzan subuh berkumandang. Kami semua yang muslim pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat kami semua latihan lagi, baik yang lolos semifinal maupun yang tidak. Tidak ada latihan sparing saat ini. Latihan hanya berupa teknik,kekuatan dan kelenturan.

“Yang masuk semifinal, timbang berat badan .”

Kami pun satu per satu menimbang berat badan kami. Alhamdulillah beratku masih sama seperti hari pertama bertanding. Hanya berbeda 0,2 kg. Temanku, Aji, ternyata berat badannya lebih.

“Ji,kenape berat lu over.” kata bang Aris.

“Ya kagak tau,bang.”

Aji pun berbisik kepadaku.

“Ka,lo kan jago fisika. Gimana caranya manipulasi berat di timbangan.”

“Ga bisa,ji. Kecuali ada bagian tubuh lo yang dipotong.”

“Udeh2. Aji,lu lari keliling yang banyak ya. Pake jaket yang banyak juga.” kata bang Aris

Cara menurunkan berat badan dengan cepat disaat seperti ini ya memang seperti itu. Sudah turun temurun layaknya obat jamu. Tapi memang benar, cara itu bisa membuat berat badan turun sebesar 3 kg.

Setelah timbang menimbang, kami pun kembali latihan.

Sudah empat hari kami berada disini. Sepertinya aku pun baru mandi sebanyak dua kali. Ya memang tidak ada persyaratan bahwa atlet harus mandi sebelum bertanding.

Pertandingan pun tiba. Aku mendapat giliran bertanding pada siang hari. Kulihat skema pertandingan aku bertanding melawan seseorang yang tidak kukenal dari perguruan pencak silat yang berbeda. Perguruan pencak silatku adalah KPSN (Keluarga Pencak Silat Nusantara).

kpsn

Sekarang giliranku. Coachku kali ini masih sama hanya saja Ria menggantikan temanku yang saat penyisihan menjadi coachku bersama kak Umam. Seperti biasa aku pun masuk gelanggang sesuai aturan. Pertandingan pun dimulai. Kali ini teknik yang aku gunakan sedikit lebih bagus dari penyisihan. Pada pertandingan ini aku berani  mengeluarkan teknik sapuanku untuk menjatuhkan lawan. Tapi sulit untuk menjatuhkannya. Lawanku itu seperti benda tegar yang bersifat statis. Sulit untuk memberikan momen agar dia terjatuh di matras. Malah aku yang selalu jatuh. Tapi cara dia menjatuhkanku cukup bagus. Kakiku yang berhasil ia tangkap dijulangkan ke atas sehingga aku menjadi tidak seimbang dan jatuh. Pertandingan ini berlangsung selama dua ronde dan dimenangkan oleh lawanku. Aku tidak kecewa.

“Banyak latihan lagi lo. Dia emang bagus banget mainnya.” kata kak Umam.

“Kak, jujur gue ketagihan buat tanding lagi.”

“Hahaha. Baru ngerasain kan gimana ‘candu’nya bertanding.”

Aku segera bertemu dengan bang Aris.

“Gapapa,ka. Kalo ada pertandingan lagi ikut lagi.” kata bang Aris.

“Siap,bang!!!”

“Lo kalo mau pulang sekarang,pulang aja. Sabtu mau lomba kan.”

“Serius,bang. Gapapa kalo saya pulang?”

“Gapapa. Lo belajar aja di rumah. Kalo lo menang lo kabarin pas latihan terus kite makan-makan.”

“Oke lah,bang. “

Aku pulang tidak sendirian. Teman-temanku yang kalah saat penyisihan atau semifinal pun ikut pulang. Bang Aris tidak bisa mengantar kami pulang. Tapi kami tau jalan pulang. Sore itu kami, para pejuang KPSN, pun pulang menggunakan angkutan umum. Tidak lupa berdoa untuk kesuksesan tiga orang temanku yang berhasil lolos ke final.

Mentoring 15 November 2013

Mentoring kali ini bertemakan wanita. Bahasan mengenai wanita memang tidak ada habisnya. Wanita diciptakan sebagai makhluk yang indah bagaikan perhiasan dunia. Sudah sepatutnya mereka dijaga kemurniannya. Bahasan pertama adalah mengenai tindak pemerkosaan terhadap wanita. Mengapa tindak pemerkosaan bisa terjadi? Apa hanya karena faktor pakaian minim yang mengundang syahwat? Ternyata tidak hanya itu. Coba perhatikan suatu kasus dimana seorang laki-laki yang sudah menikah pun bisa memperkosa atau melakukan seks bersama wanita lain. Ini diakibatkan istri dari laki-laki tersebut tidak melayani  salah satu kebutuhan laki-laki tersebut. Karena seks itu sudah merupakan tuntutan naluri. Oleh karena itu, menikah adalah jalan untuk menghindari perbuatan tercela itu dan seorang istri harus melayani kebutuhan suaminya.

Bahasan kedua adalah kedudukan seorang muslimah. Salah satu jurnalis dari Amerika mengirimkan surat kepada muslimah di Libanon. Sang jurnalis tersebut berkata bahwa ia iri dengan wanita-wanita muslimah. Islam benar-benar menjaga dan menghormati kedudukan wanita sebagaimana mestinya. Ia juga menceritakan bahwa Hollywood sebenarnya ingin menyesatkan wanita.

Bahasan ketiga adalah emansipasi wanita. Makna emansipasi wanita kini sudah bergeser. Seakan-akan wanita benar-benar sepenuhnya bisa disejajarkan dengan laki-laki. Padahal pelopor emansipasi wanita di Indonesia, R.A. Kartini, hanya ingin memperjuangkan wanita supaya bisa mengeyam pendidikan seperti laki-laki karena pada saat itu yang boleh bersekolah hanyalah kaum laki-laki. Bukan berarti wanita bisa berperan seperti laki-laki. Wanita cenderung melakukan sesuatu dengan kelembutan dan penuh perasaan sedangkanl aki-laki dengan akal dan kekuatan. Itu jelas berbeda. Dalam rumah tangga, wanita berperan untuk mengurus rumah tangga, mengurus suami, dan mengurus anak. Laki-laki berperan sebagai kepala keluarga yang mampu membimbing istrinya juga mencari dan memberikan nafkah (baik lahir maupun batin) kepada istrinya. Lalu, apakah wanita boleh bekerja/berkarir? Boleh saja asalkan sudah mendapat izin dari suaminya. Selain itu, pekerjaannya tidak memamerkan dan menjual kecantikannya karena kecantikan wanita hanya boleh dinikmati oleh suaminya. Jika bekerja,ia harus pulang ke rumah lebih awal daripada suaminya. Dalam hadits dsebutkan secaras pesifik pekerjaan wanita yang diperbolehkan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh tangan seperti membuat roti, menenun. Wallahua’lam…