Fayza

Seperti Apa Hari Masuk Sekolah?

Kami berpikir kami mengetahui sama seperti apa sekolah itu. Sesudah semua, kami ke sekolah! Tetapi realitanya, pengalaman kami telah lama sekali. Masa lalu itu sudah diwarnai dan diganti dan di-edit. Mereka tidak begitu dapat dihandalkan. Dan beberapa hal sudah berbeda.
Bahkan juga guru, yang ada tiap hari dengan anak-anak tidak mempunyai pengetahuan yang tepat mengenai pengalaman pelajar mereka. Mereka menyaksikan semua dari bagian lain meja.

Baca juga: 10 Karakteristik Siswa yang Baik dan Benar

Guru sering benar-benar repot dan mereka melihat sekolah lewat kacamata seorang pengajar dan orang dewasa. Guru kerap jadi guru karena mereka menyukai sekolah. Mereka mengetahui jika tiap orang tidak mempunyai pengalaman yang serupa sama mereka, tapi susah untuk pahami pemikiran semua pelajar Anda.

Belakangan ini saya ikuti program desain thinking. Kami sedang menyaksikan pengajaran dan periode depannya. Konsentrasi riset kami ialah pengembangan dan bagaimana pengembangan bisa mengganti evaluasi. Untuk lakukan itu, penting untuk lebih dulu pahami pengalaman beberapa orang dalam mekanisme. Pusat untuk membuat pengajaran, ialah pelajar.

Salah satunya rekanan saya dalam project ini ialah Ali Barker. Ia ialah seorang guru bahasa Inggris sekolah menengah dalam suatu sekolah Katolik kombinasi. Ia semangat mengenai siswa-muridnya, sektor studinya dan pengajaran pada umumnya. Agar semakin pahami pengalaman pelajar dia dilawan untuk membuntuti pelajar sepanjang satu hari. Untuk pastikan pengetahuannya orisinal, ia jalani kegiatan rutin dan pengalaman yang sama persis sebagai pelajar Kelas 11. Ia bahkan juga kenakan seragam.

Ali masih terbilang muda dan betul-betul seperti terlihat seorang pelajar, jadi tidaklah heran bila anak-anak dan guru stop memerhatikannya bersamaan berjalannya hari. Wacananya semenjak hari itu menarik. Beberapa mengagetkan, beberapa kurang demikian.

Untuk maksud project kami, ia selalu fokus pada beberapa hal negatif dari hari sekolahnya. Kami mengaku jika ada beberapa faktor besar dari kehidupan sekolah setiap hari. Ada beberapa guru luar biasa, pelajaran luar biasa, dan pelajar yang turut serta. Tetapi, tidak ada kelirunya kita kadang-kadang diingatkan akan rintangan yang ditemui pelajar.

Sebagai orangtua dan guru, berapa empati kita? Sering kita berasa seakan-akan pengalaman sekian tahun lebih dari sekedar memperlengkapi kita untuk pahami remaja. Saya berpikir kemungkinan itu kekeliruan. Kami memerlukan pengecekan realita setiap waktu. Kita tidak paham bagaimana rasanya jadi remaja pada tahun 2017. Kita dapat menerka tetapi kita tidak paham.

Kemungkinan kita semuanya wajib melawan diri sendiri. Kita semestinya ajukan pertanyaan yang ke arah pada, “Bagaimana rasanya jadi diri kamu sendiri?’ Dan kemudian…diamlah. Dengar saja. Betul-betul dengarkan memiliki arti cuma itu; tidak memberikan saran, tidak pecahkan permasalahan. Dengar untuk pahami; tidak untuk menyikapi.


10 Karakteristik Siswa yang Baik dan Benar

Apa beberapa ciri pelajar yang bagus? Berikut 10 karakter dan rutinitas yang umumnya dipunyai oleh pelajar yang sukses. Berita baiknya ialah, mayoritas dari ini bisa diberikan.

Jadi pelajar yang bagus bukan hanya memiliki arti capai nilai tinggi dalam ujian. Ini memiliki arti mempunyai:

  • cinta belajar,
  • semangat cari pengetahuan
  • haus untuk tumbuh dan berkembang secara akademik.

Lantas apa saja karakter dan rutinitas yang membuat pelajar yang bagus? Berikut ini bukanlah daftar yang komplet, tetapi, ini ialah awalan yang baik sekali dan Anda dapat mengambil poster yang bermanfaat pada bagian bawah artikel.

Karakteristik Siswa yang Baik dan Benar

1. SISWA YANG BAIK MEMILIKI PIKIRAN PERTUMBUHAN

Sudut pandang berkembang ialah kepercayaan yang digenggam tegar jika seorang bisa belajar apa sama waktu dan usaha yang cukup. Carol Dweck ialah Profesor Psikologi di Kampus Stanford. Ia ialah pelajar yang paling dikenali di dunia dari karakter sudut pandang. Dalam khotbah Ted 2014, Dweck bicara mengenai pola pikir berkembang dalam soal, ‘Kekuatan dari yang belum’. Saat anak Anda berbicara, “Saya tidak dapat lakukan ini”, Anda perlu menambah, “Belum. Saya tidak dapat lakukan ini”. Riset Dweck memperlihatkan jika bahkan juga menerangkan ide ini ke seorang anak akan memengaruhi langkah mereka melihat evaluasi mereka. Ia memperlihatkan bukti yang menjelaskan, pengetahuan mengenai pola pikir berkembang mengganti lajur saraf yang memungkinkannya perkembangan yang semakin besar dalam evaluasi.

2. SISWA YANG BAIK ADALAH PEMBERANI

Anak-anak pemberani bisa menjadi beberapa orang yang ambil resiko dan kumpulkan pengalaman. Mereka bisa memakai pengalaman itu dengan kuat dalam evaluasi dan perkembangan mereka. Mereka secara cepat membuat apa yang mereka gemari dan tidak suka dan mereka memungkinkan untuk membuat kehidupan yang mereka sayangi. Mereka akan jadi pelajar yang ambil resiko belajar yang ke arah lateral, out of the box thinking. Dunia memerlukan pemikir semacam itu. Keberanian ialah mengenai hadapi rintangan yang mengerikan; berasa takut dan masih tetap melakukan. Keberanian bukan tiadanya perasaan takut. Terkadang saat kita bicara dengan anak-anak kita, kita berbicara, “Tidak boleh takut” atau “Tidak boleh konyol, itu akan baik saja”. Ini menunjukkan jika ketakutan ialah suatu hal yang malu-maluin. Tidak. Ketakutan ialah manusiawi dan diharap, tapi juga perlu ditangani. Itu tidak bisa terjadi demikian dengan sichir. Itu tiba dengan pemodelan, edukasi dan keterangan.

3. SISWA YANG BAIK TERORGANISASI

Seorang pelajar sekolah menengah bisa pelajari sekitar sembilan mata pelajaran yang lain dengan 9 guru yang lain dan sembilan serangkaian keinginan yang lain. Tidak mungkin untuk berkembang pada kondisi semacam itu terkecuali seorang anak benar-benar terorganisir. Untungnya, organisasi ialah suatu hal yang dapat kita sampaikan. Kami dapat memakai alat tolong seperti buku harian, perencana dan agenda belajar.

4. SISWA YANG BAIK ADALAH KONSISTEN DAN PERSISTEN

Belajar terjadi secara perlahan-lahan dan stabil. Mengambil contoh proses yang kita lewati saat kita belajar membaca. Ada beberapa langkah, dari menggenggam buku secara benar, mengenal huruf sampai fonetik, sekian tahun latihan, dan pada akhirnya kefasihan. Sebetulnya tidak susah untuk belajar membaca untuk anak-anak neurotipikal, tapi Anda harus meningkatkan block bangunan dan memiliki komitmen untuk latihan teratur. Ini ialah tekad untuk latihan yang memberi kontributor untuk sukses sebagai pelajar. Stabilitas jadi kurang umum pada remaja. Beberapa sektor yang paling dipengaruhi oleh minimnya stabilitas remaja ialah matematika, musik, dan bahasa. Di masing-masing sektor ini, memerlukan kepenguasaan beberapa ketrampilan dasar yang cuma dibarengi dengan latihan.

5. SISWA YANG BAIK MAMPU MENGATASI KEGAGALAN

Ketidakberhasilan adalah alat paling besar pada proses belajar. Sayang, terlampau beberapa orang yang cuma diliputi hati tidak berhasil dibanding sanggup berdiri kembali dan menyaksikan pelajaran yang bisa diberikannya ke kita. Mempunyai kegigihan untuk memandang ketidakberhasilan ialah ketrampilan yang hebat. Ajari anak-anak untuk menyaksikan ketidakberhasilan dengan analisis. Berapakah ukuran dan gravitasi ketidakberhasilan? Apa resikonya? Apa yang dapat didalami pengalaman dari?

6. SISWA YANG BAIK MENENTUKAN TUJUAN

Penentuan arah memusatkan perhatian pelajar pada sikap dan info tertentu dan jauh dari masalah. Riset memberitahu kita jika arah tambahan lebih efisien dibanding arah besar. Bila seorang pelajar sanggup merusak arah besar, seperti pecahkan permasalahan besar, bereksperimen atau capai nilai yang semakin tinggi, jadi beberapa bagian kecil, kemungkinan mereka akan sukses. Bila mereka bisa masukkan operan balik yang diterimanya pada tiap peluang, kemenangan kecil pada akhirannya ke arah pada perolehan besar.

7. SISWA YANG BAIK MAMPU MENGHUBUNGKAN BELAJAR DENGAN KEHIDUPAN

Seorang pelajar yang sukses sanggup menyaksikan study mereka dalam kerangka dunia yang bertambah luas. Bila seorang anak sudah membaca, memperhatikan dan membahas dunia, desas-desus dan beberapa ide dengan teratur, mereka segera dapat tempatkan evaluasi mereka dalam kerangka. Tanpa kerangka, gampang untuk pahami kenapa seorang anak akan berpikiran, “Apa fungsinya?” Terserah orangtua untuk pastikan anak-anak terserang banyak gagasan dan sumber daya yang kaya dan pengalaman ence. Terserah guru untuk pastikan jika apa yang terjadi di kelas berkaitan dengan apa yang telah ada di dunia yang bertambah luas. Rasa keterkaitan itu wajib untuk meningkatkan kesayangan belajar ke anak-anak. Ini memberi keterkaitan sekolah lebih dari sekedar lakukan pengetesan secara baik

8. SISWA YANG BAIK TAHU BAGAIMANA CARA MEMELIHARA KESEHATAN MENTAL MEREKA

Salah satunya kendala paling besar untuk kesuksesan akademik seorang anak ialah kesehatan moralnya. Kekhawatiran, terutamanya, ialah kekuatiran yang berkembang di beberapa sekolah Australia. Sebuah study jumlah besar tahun 2018, yang sudah dilakukan oleh Australian Council for Educational Research (ACER) mendapati jika “nyaris 1/2 dari pelajar Australia memberikan laporan berasa “benar-benar depresi”, naik dari 28% di tahun 2003 saat study diawali. Pelajar yang memberikan laporan berasa optimis saat kerjakan pekerjaan sekolah yang susah turun dari 76% jadi 59%.” Benar-benar susah untuk belajar saat pada kondisi depresi. Bila seorang anak belum diajari ketrampilan penataan emosi yang dibutuhkan untuk membuat ketenangan dan hati mengucur, benar-benar susah untuk capai keberhasilan.

9. SISWA YANG BAIK BERMITRA DENGAN GURU

Jalinan seorang anak dengan guru mereka ialah dasar kesuksesan mereka di sekolah. Pelajar yang efisien mengetahui jika guru mereka ialah sekutu mereka. Keutamaan jalinan ini ditunjukkan dalam riset inovasi Profesor John Hattie. Kita condong menyaksikan jalinan ini seutuhnya ada di tangan guru. Bukan itu permasalahannya. Pembelajar yang efisien berperan pada terbentuknya jalinan yang kuat ini. Mereka mengaku guru mereka untuk sumber daya bernilai yang mereka perlukan untuk bekerja bersama, dalam kerja sama. Pelajar-siswa ini gampang dikenal, mereka berperan serta di kelas, mereka masih tetap tinggal sesudah kelas dan ajukan pertanyaan tambahan, dan mereka membuat janji dengan guru mereka untuk memperoleh kontribusi bila mereka memerlukannya.

10. SISWA YANG BAIK MENGHARGAI PENDIDIKAN

Pada akhirnya, bila seorang anak ingin capai kesuksesan dalam pengajaran, mereka perlu menghargakan pengajaran. Dalam kehidupan, kita jarang bertahan atau usaha keras pada suatu usaha bila menurut kita itu tidak bernilai. Study memperlihatkan jika anak-anak memungkinkan untuk merengkuh pengajaran dan sukses di dalam rumah di mana pengajaran dipandang, di mana terdapat buku dan di mana orangtua turut serta dalam evaluasi.