Rendy Saputra, Mantan Mahasiswa ITB yang Dakwah lewat Bisnis

Bagaimana caranya dakwah harus bisa membiayai dirinya sendiri, kira-kira itulah visi seorang Rendy Saputra memulai bisnisnya. Bukan sekadar bisnis, namun menjadikan bisnisnya menjadi roda pemutar dakwah Islam yang dilakukannya.

Pria tiga puluh empat tahun ini juga merupakan sosok yang berhasil sukses walaupun harus mundur dari kampus. Ya, kendati harus mundur teratur dari studinya teknik perminyakan ITB, Rendy membuktikan dirinya bisa sukses dalam dunia bisnis dan edukasi bisnis. 

Kami ulas selengkapnya kisah tentang Rendy Saputra dan perjuangan dakwah lewat bisnisnya. Khususnya buat kamu yang mungkin sedang mandeg untuk terus menjalankan bisnis yang halal karena dampak covid-19. Semoga bisa menjadi penyemangat- ummiabi.

Dakwah adalah Dasar Bisnis

Rendy Saputra Al Banjari, pria Banjarmasin kelahiran 1 Juni 1986 ini kini hanya mengklaim dirinya sebagai guru ngaji. Namun sebelum itu, sudah banyak pengalaman bisnis dirasakannya, mulai dari menjadi CEO Keke Busana hingga beromzet lebih dari 24 Milyar Rupiah, menjalankan bisnis production house film Inspira Production, dan lain-lain.

Baginya justru dakwah harus menjadi dasar dari bisnis. Karena tidak mungkin umat muslim dapat membangkitkan ekonominya, tanpa meneguhkan iman, Islam, dan adabnya. Iman, Islam, dan adab ini lahir dari proses panjang dakwah dan tarbiyyah (mendidik) umat.

Rendy sering mengutip, tahap-tahap yang dicontohkan Rasulullah dalam membangun Daulah Islam dan membesarkan Islam menjadi kekuatan terbesar di dunia saat itu. 13 tahun pertama, Rosul sama sekali tidak membahas soal bisnis, ekonomi, pasar ataupun undang-undang. 13 tahun pertama dakwah Rasulullah adalah mendidik umat, membangun iman, dan mengokohkan jiwa-jiwa tauhid di seluruh umatnya.

Bagi Rendy, menyiapkan saudagar-saudagar Islam harus dimulai dengan memastikan sudah beres dulu pendidikan iman, Islam, dan adab dari orang-orang yang disiapkan. Mesti dibangun dulu komunitasnya, saudagar-saudagar Islam masa depan harus disiapkan untuk mampu bertempur melawan riba dengan usahanya. Yakni dengan melakukan perniagaan, dan sedekah. 

Oleh karena itu, Rendy selalu membawa prinsip-prinsip tersebut dalam setiap bisnis yang dia geluti. Beliau selalu menjadikan bisnisnya, alat untuk membawa nilai-nilai pendidikan iman, islam, dan adab kepada umat.

Menyiapkan saudagar masa depan

Bisnis bagi Rendy tidak bisa dipisahkan dari perjuangan kita menegakkan agama Islam. Mengutip dari kata-kata Sayyidina Umar bin Khattab, umat Islam saat ini lebih lemah kondisinya, tidak menguasai sumber daya, dan tidak mendominasi perekonomian. Satu-satunya yang membedakan umat Islam dengan mereka dalam berbisnis adalah ketakwaan pada Allah. 

Oleh karena itu, Rendy mewanti-wanti agar apapun bisnis yang kita bangun haruslah tetap menjaga koridor ketakwaan kepada Allah salah satunya lewat doa. Saudagar-saudagar muslim harus menguasai sektor produksi sehingga dan membuat marketplace yang diwakafkan untuk kepentingan pergerakan ekonomi umat.

Dan semua usaha-usaha itu haruslah tetap dalam koridor menjaga ketakwaan kepada Allah.