Menyingkap Kaus

Tadi malam saya baru menyaksikan pertandingan sepakbola yang hasilnya sangat mengerikan bagi saya. Tapi saya tidak akan membahas jalannya pertandingan tersebut.

Dalam perayaannya golnya, si pencetak gol pertama pada pertandingan tersebut menyingkap seragamnya dan menampakkan tulisan yang tertera pada kaus yang ia pakai di balik seragamnya tadi.

Gambar 1. "WHY ALWAYS ME ?"; sepertinya kaus ini akan menjadi laku setidaknya di kota Manchester

Seperti yang telah diketahui bersama, tindakan  semacam ini akan mendapatkan peringatan berupa kartu kuning. Seingat saya, komentator pada kanal (channel) tempat saya menonton pertandingan ini berpendapat bahwa aturan ini konyol. Menurutnya, ada saja hal menarik yang ditampilkan para pesepakbola dalam perayaan golnya itu.

Awalnya, setahu saya peringatan ini diberlakukan untuk mencegah ditampilkannya pesan-pesan berbau politik pada saat perayaan gol, seperti oleh Siniša Mihajlović sebagai protes atas pengeboman Serbia dan Montenegro (sebelum berpisah menjadi dua negara) oleh NATO pada 1999, atau oleh Frédéric Kanouté dengan kaus bertuliskan kata “Palestine”dalam beberapa bahasa ketika agresi militer Israel terhadap Palestina sedang berlangsung pada 2009 (Kanouté akhirnya juga menerima denda atas aksinya ini).

Continue reading

Posted in Sepakbola | Leave a comment

Anak-Tiri-Perempuan-nya Anak-Kandung-Laki-laki

Saya pernah membaca sebuah tulisan Mark Twain yang cukup menarik. Judulnya “My Own Grandfather“.

MY OWN GRANDFATHER
by Mark Twain

After long years as a bachelor I was tired of being alone and married a widow with a grown daughter. My father fell in love with the daughter and took her as his wife. This made me my own son-in-law and my stepdaughter became my mother. After a year my wife gave birth to a son. Now, my son was my father’s brother-in-law and at the same time my uncle, since he was my stepmother’s brother. But my father’s wife also gave birth to a son. So this was my brother and also my grandson, since he was the son of my daughter. This meant I’d married my grandmother, since she was the mother of my mother. As my wife’s husband, I was also her grandson. And since the husband of a grandmother is always a grandfather, I am my own grandfather.

Kurang lebih, tulisan di atas dapat diterjemahkan menjadi seperti berikut.

Setahun yang lalu saya menikahi seorang janda dengan putri yang sudah dewasa. Ayah saya jatuh cinta kepada putri tiri saya, dan lalu menikahinya, sehingga ayah saya menjadi menantu lelaki saya, dan putri tiri saya menjadi ibu saya karena ia adalah istri dari ayah saya.
Beberapa bulan yang lalu istri saya melahirkan seorang putra, yang tentunya adalah saudara ipar ayah saya, dan juga paman saya, sebab ia adalah adik ibu tiri saya.
Sebulan kemudian istri ayah saya akan melahirkan seorang putra, yang tentunya adalah saudara saya, dan juga cucu saya karena ia adalah putra dari putri saya.
Oleh sebab itu, istri saya menjadi nenek saya karena ia adalah ibu dari ibu saya, dan saya menjadi suami sekaligus cucu istri saya. Oleh karena suami dari nenek adalah kakek, maka SAYA ADALAH KAKEK SAYA SENDIRI!

Bagaimanapun juga secara logis kondisi ini mungkin terjadi, dan ternyata menurut artikel ini hal tersebut memang pernah terjadi. Berikut adalah kutipannya.

Continue reading

Posted in Islam | 1 Comment

2 Oktober 2011

Sejak 2 tahun lalu, tanggal 2 Oktober ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai Hari Batik Nasional, setelah UNESCO “merestui” batik untuk masuk ke dalam “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity“. Ini seperti menjadi salah satu “kemenangan” Indonesia di tengah “perang klaim warisan kebudayaan” dengan negara tetangga kita yang sedang hangat-hangatnya saat itu.

Masyarakat Indonesia seperti disadarkan kembali dengan keberadaan batik yang pada dasarnya (atau setidaknya kita yakini) memang milik Indonesia. Hari batik dirayakan dengan himbauan untuk menggunakan batik selama bekerja di kantor atau kuliah, misalnya. Jika kita perhatikan, industri kreatif di Indonesia juga semakin banyak yang menjadikan batik sebagai tema yang diangkat, entah itu pakaian, tas, atau bahkan permainan (game).

Hal ini bukan berarti bahwa batik adalah hal yang asing sebelumnya. Batik adalah salah satu pilihan dresscode untuk suasana formal. Entah siapa yang pertama kali memulai “kebiasaan” ini. Yang jelas, saya memandang hal ini secara positif sebagai upaya menunjukkan kebudayaan Indonesia di acara-acara formal. Walaupun, di sisi lainnya saya juga merasa betapa “jawa”-nya Indonesia, sehingga siapa pun yang sedang berada di acara pernikahan mana pun akan menggunakan batik.

Betapa minimnya pemahaman saya tentang batik. Padahal juga ada corak batik dari daerah di luar Jawa, seperti Bali.

Continue reading

Posted in Lomba | Leave a comment

ASEAN Blogger Community

Saya sudah cukup lama mengetahui ASEAN, kira-kira sejak SD. Entah bagaimana dengan pembaca, tapi kalau saya dulu mendapat materi tentang ASEAN di mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Saya merasakan sulitnya menghafal kata-kata “Association of Southeast Asia Nations“, nama para menteri luar negeri yang memprakarsai terbentuknya ASEAN (sampai sekarang saya hanya benar-benar ingat salah satunya, yaitu Adam Malik, dan saya juga menganggap yang dari Singapura memiliki nama yang unik, hehe), dan data-data lainnya terkait ASEAN. Yah, kita sama-sama tahu bagaimana berorientasi-hafalan-nya pendidikan dasar kita (saya duduk di bangku SD pada sekitar pertengahan tahun 90-an).

Beranjak ke bangku SLTP/SMP (saya sempat memiliki rapor dengan label “SLTP”), kemudian SMA, lalu hingga sekarang ke bangku kuliah (saat ini sudah tingkat akhir, amin…), segala yang saya ketahui tentang ASEAN (melalui media massa, tentunya) rasanya barulah sebatas informasi-informasi mengenai diselenggarakannya kegiatan-kegiatan oleh ASEAN yang berbau KTT, Summit, dll.

Oh ya, saya pernah menghadiri acara yang diadakan oleh mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjajaran yang di dalamnya juga menyinggung ASEAN. Bahkan ASEAN Community by 2015 sebenarnya juga disinggung-singgung di dalamnya. Saya juga ingat bahwa animasi ini ditayangkan saat itu. Hanya saja, karena acara tersebut dibalut dengan pertunjukan musik, rasanya tema ASEAN Community by 2015 ini hampir sepenuhnya tertutupi. Selain karena lokasinya di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) yang bisa dibilang berada di “teritorial” kampus saya (hehe), saya lebih tertarik untuk menonton The S.I.G.I.T. yang menjadi salah yang tampil malam itu. Lagi-lagi, yang saya dapat mengenai ASEAN pada saat itu tak lebih dari sekedar informasi.

Sejauh ini (setidaknya hingga saya mencapai paragraf ini), saya baru benar-benar notice terhadap ASEAN ketika ada perhelatan SEA Games atau Piala AFF. Yah, ini pun lebih karena saya menyukai dan mengikuti perkembangan olahraga (terutama sepakbola), apalagi ada perwakilan Indonesia di dalamnya.

Sayang sekali bukan? Apalagi ternyata saat ini negara-negara ASEAN sedang membangun mimpi untuk membentuk sebuah komunitas dengan negara-negara ASEAN sebagai anggotanya.

Hingga akhirnya saya mengetahui “Lomba Penulisan Blog ASEAN Blogger Indonesia 2011” yang diadakan oleh ASEAN Blogger. Saya langsung berusaha mengingat data-data yang pernah saya dapatkan saat SD, informasi-informasi kegiatan ASEAN yang pernah saya dengar, dan menggali lebih jauh tentang ASEAN Community by 2015. Dapat dibilang bahwa paragraf-paragraf awal tulisan ini adalah gambaran dari apa yang saya alami. Akhirnya (lagi), saat ini tidak hanya sekedar data atau informasi, tapi juga pengetahuan yang bisa saya dapatkan mengenai ASEAN, walaupun sejujurnya masih sangat terbatas.

Continue reading

Posted in Lomba | 18 Comments

Menuju Kepada Kesempurnaan (Shaf) Shalat

Mengapa jama’ah tidak langsung berdiri ketika iqamah dikumandangkan? Mengapa mereka harus menunggu beberapa waktu terlebih dahulu sebelum berdiri, padahal waktu tersebut dapat digunakan untuk menyusun shaf yang lurus dan rapat? Bukankah sering terlihat bahwa bagaimanapun juga menyempurnakan shaf membutuhkan waktu?

Mengapa (kebanyakan) imam tidak memeriksa kerapian shaf jama’ah-nya terlebih dahulu sebelum takbiratul ihram? Bukankah Rasulullah Muhammad SAW bahkan naik ke mimbar untuk mengecek kondisi shaf di bagian belakang? Bukankah (konon) Umar bin Khaththab RA pernah sampai menggunakan pedang untuk mengatur shaf?

Mengapa jama’ah seperti sulit sekali untuk meluruskan dan merapatkan posisinya dengan orang di sebelahnya? Mengapa pemakaian sajadah (kain alas shalat) malah membuat shaf menjadi renggang? Yang seharusnya dalam kondisi rapat bukanlah (hanya) sajadah-nya, melainkan jama’ah-nya itu sendiri.

Mengapa kita sulit sekali untuk menuju kepada kesempurnaan shalat ber-jama’ah?

Update pada 18 Agustus 2011, 21:21 WIB

Terkait berdiri ketika iqamah, ternyata ada banyak pendapat mengenai kapan tepatnya jama’ah harus/diperbolehkan untuk berdiri (bersiap-siap shalat). Yang jelas, iqamah, yang akar katanya adalah qāma yang berarti berdiri, adalah tanda bahwa shalat berjama’ah akan dimulai. Penjelasannya dapat dibaca pada artikel “Beberapa Permasalahan Tentang Iqamah“.

Baca juga:

Posted in Islam, Renungan | Leave a comment

Narapidana

Sungguh besar hikmah yg didpt dgn kos d alpina no 5… Disini kita dilatih untuk sabar menunggu internet nyala… Dan juga dilatih ikhlas mengeluarkan uang internet untuk sebulan walau dlm sebulan cm nyala seminggu..selain itu jg dilatih berbaik sangka g ad yg main2 pke netcut…

Berikut adalah komentar Saya terhadap kata-kata dari seorang sahabat Saya di atas.

kok mirip ya puk?
kalo di kosan aku, ada hal-hal di depan mata yang jaraknya tidaklah sejauh itu, tapi tak pernah bisa kumiliki

Begitulah. Saya (dan sahabat Saya tadi) senang bercanda. Kadangkala candaan-candaan itu dikemas dalam kata-kata yang terkesan serius dan bijak.

Berikut adalah balasannya lebih lanjut.

@Haekal : gw pernah denger yg kyk gitu tuh Kal… Klo g salah dr narapidana yg divonis mati… Dia pengen kebebasan yg padahal cm beberapa meter doang jarakny…

Wah, sejujurnya ini cukup menarik (terlepas dari apakah ini candaan juga atau tidak), karena sebenarnya komentar Saya sebelumnya sama sekali tidak “terinsipirasi” dari cerita narapidana tadi.

Mari kita gunakan pengandaian tadi sedikit lebih jauh.

Continue reading

Posted in Renungan | Leave a comment

Hello world!

Welcome to Blogs ITB Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment