Inovasi Sistem Kendali Proses Industri Melalui DCS Honeywell 300

BANDUNG, itb.ac.id – Mahasiswa Teknik Elektro ITB, kini bisa bereksplorasi lebih jauh dalam sistem kendali industri melalui DCS Honeywell 300. Melalui alat ini diharapkan mahasiwa dapat terus mengembangkan inovasi untuk menunjang dan menghadapi industri 4.0 dimana semua sistem akan terintegrasi dan dapat diakses real time dimana saja.

Alat DCS Honeywell 300 berada di Honeywell Control Laboratory, Labtek VIII-ITB yang diresmikan 2016 lalu. Alat sumbangan honeywell ini merupakan sebuah miniatur dari sistem pemisah campuran etanol dan air yang terdiri atas tangki penyimpanan bahan baku, boiler, dan packed column. Sistem ini terdapat di industri pemurnian minyak bumi. Seluruh unitnya dilengkapi dengan sistem kontrol sehingga proses dapat dijaga dalam kondisi optimalnya.

Saat ini DCS Honeywell 300 sudah mengalami banyak modifikasi. Misalnya saja untuk sensor level yang mahal di pasaran, sudah dapat digantikan dengan sensor sederhana yang dirakit mahasiswa menggunakan hidrometer dan sensor jarak. Bahkan dalam pengoperasiannya alat ini sudah dapat menggunakan software Experion PKS (Process Knowledge System) yang terus dikembangkan oleh mahasiswa. Akses untuk sistem kontrol pun sudah terus mengalami perkembangan.

“Dari komputer kita seolah-olah bisa langsung lihat tangki ini levelnya berapa, kondisinya bagaimana. Goal akhirnya sih supaya bisa dilihat oleh mahasiswa atau peneliti tidak hanya di control room tapi bisa dimana saja, lagi-lagi ke arah industri 4.0,” tutur Fabiola, asisten di Honeywell Control Laboratory atau yang lebih dikenal dengan Laboratorium Dasar 05.

Pengembangan sistem kontrol yang saat ini lebih berfokus ke jaringan juga dilatarbelakangi oleh terintegrasinya alat DCS Honeywell 300 yang ada di ITB dengan alat-alat pemberian Honeywell di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Alat yang terdapat di UI merupakan smart home, sedangkan UGM yang baru dibuka tanggal 28 November 2018 lalu tidak mendapatkan alat khusus tetapi mendapatkan jaringan istimewa.

“Kebetulan karena Honeywell selain ke ITB juga menyumbang ke UGM dan UI. Walaupun hanya punya satu alat, harapannya mahasiswa bisa merasakan experience alat yang berbeda di tempat lain. Kan di UGM tidak mendapatkan hardware, oleh karena itu dari UGM diberikan akses ke alat ini. Saat ini mereka sudah bisa mengakses datanya langsung dari sini,” ujar Fabiola.

Mengenai jaringan industri 4.0, salah satu mahasiswa S2 Teknik Elektro Wirenda dan rekan-rekannya melakukan penelitian mengenai jaringan tersebut. Aspek yang saat ini diteliti adalah mengenai metode mengkomputasikan PID dengan sistem machine learning, aspek keamanan data menggunakan cyber security, dan maintain supaya data terus dapat diakses secara real time. Sehingga kedepannya diharapkan sistem control dapat berjalan otomatis, belajar dari banyak kejadian sebelumnya dan menerapkan solusinya dengan machine learning. Data yang ada dari setiap industri pun dapat terjaga keamanannya, dan data dapat terus dilihat oleh pihak-pihak yang berkepentingan secara langsung dari mana saja.

“Masih banyak banget yang harus dieksplorasi dari alat ini. Kan selama ini masih tebatas cuma di tesis kami aja. Harapannya semoga ke depan banyak yang lebih di eksplorasi jadi kebermanfaatan alatnya bertambah,” tutur Wirenda.
Setiap mahasiswa S1 Teknik Elektro akan berkenalan dan merasakan pengalaman baru dalam sistem kendali menggunakan DCS Honeywell 300 pada modul praktikum di tingkat 3. Sementara untuk mahasiswa S2 yang tertarik untuk bereksplorasi lebih dalam bisa memilih topik yang terdapat dalam kelompok keahlian sistem kendali dan sistem cerdas. Kebermanfaatan alat ini juga tidak terbatas hanya untuk mahasiswa. Sebagai bentuk kerjasama ITB dan Honeywell, baru-baru ini telah diadakan pelatihan untuk Pertamina di ITB untuk mengenalkan software Honeywell.
Berita dipublikasi dalam: https://www.itb.ac.id/news/read/56912/home/inovasi-sistem-kendali-proses-industri-melalui-dcs-honeywell-300

ITB Gelar Diskusi Mengenal Filsafat dalam Arsitektur

BANDUNG, itb.ac.id – Staf pengajar dan peneliti di lingkungan Kelompok Keahlian (KK) Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur (STKA), Sekolah Arsitektur, Perencaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (SAPPK – ITB) menggelar diskusi terbuka mengenai filsafat dalam arsitektur.
Diskusi tersebut diselenggarakan sebagai tempat bagi masyarakat kampus untuk lebih berkenalan dengan kajian di bidang sejarah teori dan kritik arsitektur dalam “Diskusi Terbuka STKAday2” di Ruang Seminar Labtek IX-A Sugijanto Soegijoko, ITB. Acara yang diselenggarakan pada 8 September 2018 ini merupakan lanjutan dari “Diseminasi Hasil Program Penelitian, Pengabdian Masyarakan dan Inovasi (P3MI) STKAday1” pada 6 April 2018 lalu.
Pada STKAday1, delapan dosen yang tergabung dalam KK STKA memaparkan karya terbaik mereka yang telah dipublikasikan dalam riset dan pengabdian kepada masyarakat dalam dua tahun terakhir. Setelah melihat antusiasme masyarakat yang cukup besar, STKA kembali diselenggarakan dengan cakupan yang lebih luas yaitu untuk menjadi wahana bertemunya para peminat bidang kajian STKA.
Diskusi yang dihadiri peserta dari berbagai program studi dan dari berbagai universitas ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian arsitek terhadap filsafat. “Selama ini pendidikan kita terlalu rigid, acara ini diharapkan dapat memperluas wawasan, sehingga mahasiswa dapat mengembangkan minatnya,” papar Prof. Ir. Iwan Sudradjat M. SA., PhD., yang merupakan ketua dari KK STKA.
STKA sebagai salah satu dari sembilan KK yang ada di SAPPK-ITB mengundang empat pemrasaran untuk memaparkan gagasan empat filsuf yang memiliki persinggungan dengan isu-isu arsitektur kontemporer dan utopia/distopia arsitektur masa depan. Mereka adalah Martin Katoppo yang memaparkan gagasan Friedrich Wilhelm Nietzche, Achmad Deni Tardiyana memaparkan gagasan Deleuze & Guattari, Widya Suryadini memaparkan gagasan Luce Irigaray, dan Iwan Sudradjat memaparkan gagasan Michel Foucault.
Acara yang dipandu oleh dua orang moderator, Indah Widiastuti dan Mahatmanto serta dua orang pembahas Bambang Sugiharto dan Yuswadi Saliya ini menyadarkan kepada para peserta diskusi bahwa karya arsitektur seharusnya bukan hanya tentang perhitungan, tapi harus juga melibatkan wawasan dan perasaan.
Salah satu pemrasaran yang juga merupakan lulusan terbaik dari Arsitektur Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Magister Arsitektur ITB, Dr. Martin L. Katoppo S.T., M.T., memperkenalkan pemikiran dari salah satu filsuf yaitu Nietzche yang kecewa karena melihat gedung-gedung yang didirikan pada masa itu telah kehilangan “ruh”-nya. Menurutnya, seorang arsitek, semestinya dapat menghadirkan karya yang menampakkan kebanggaan dan keindahan, suatu karya yang mampu membuat manusia nyaman untuk tinggal disana.
“Karena arsitektur bukan fisik tapi aktivitas, dan karenanya arsitektur bukan membangun ruang, bahkan bukan juga membangun pengalaman meruang, melainkan membangun perasaan seseorang saat meruang,” tutur Martin, yang juga merupakan pendiri komunitas desain yang dinamai ‘Design as Generator’ ini.
Martin selanjutnya menyebutkan bahwa arsitektur sejatinya merupakan ilmu menata lingkungan binaan yang harus membebaskan dan memberdayakan. Menghadirkan karya arsitektur adalah menghadirkan ruang kreatif yang mampu memantik imajinasi personal, mampu memproduksi pengetahuan bersama dan mampu mendorong munculnya inovasi demi terjadinya perubahan sosial.
berita dipublikasi dalam: https://www.itb.ac.id/news/read/56790/home/itb-gelar-diskusi-mengenal-filsafat-dalam-arsitektur

Mengenalkan Epos Ramayana Melalui Busana Etnik Futuristik dalam Pameran Karya Tugas Akhir

Bandung, itb.ac.id – Berbagai karya kriya tekstil dan keramik yang indah buah hasil usaha dan totalitas mahasiswa Prodi Kriya menghiasi Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada hari ini, Rabu, 6/6/2018. Karya-karya tersebut merupakan tugas akhir yang menjadi prasyarat kelulusan untuk sekitar 30 mahasiswa Prodi Kriya. Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan hasil karyanya kepada pengunjung yang datang ke booth seluas 3×3 meter persegi milik mereka sendiri.

Karya yang mendominasi adalah produk fashion. Salah satu karya yang memikat mata pengunjung pameran ini adalah karya milik Elgana (17214027). Untuk tugas akhirnya yang berjudul “Pengembangan Kostum Karakter Epos Ramayana dengan Teknik Utama Reka Latar”, terdapat 4 buah kostum megah dan indah untuk menghidupkan 4 karakter yang paling kuat dan menonjol dalam Epos Ramayana.

Seluruh kostum menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh pewayangan dalam Epos Ramayana. Kostum milik Hanoman dibuat dengan warna putih untuk menggambarkan kesetiaan, kejujuran, dan keberanian. Berbeda dengan kostum milik Dewi Shinta yang menceritakan tekanan yang dialami Dewi Shinta melalui pemilihan warna merah keunguan. Sedangkan untuk kostum Rama, dipilih warna biru untuk memberikan kesan elegan, baik, jujur, dan pemimpin yang dingin. Kostum yang terakhir, yaitu kostum Rahwana sang antagonis, memancarkan rasa mistik, haus akan kekuasaan, dan kemegahan dalam balutan warna gelap seperti hitam, merah tua, dan jubah keemasan.

Dalam proses pembuatan keempat kostum ini Elgana banyak melakukan riset, penggalian ide, pembuatan corak, dan eksplorasi di sekitaran Kota Bandung selama 6 bulan lamanya. Kostum megah yang mengolaborasikan etnis dengan sentuhan futuristik ini tidak hanya indah dilihat, tetapi juga sangat memerhatikan kenyamanan penggunanya. Elgana mendesain keempat kostum ini dengan baik sehingga kostum-kostum tersebut sangat mudah digunakan dan menggunakan bahan inner seperti katun untuk menghindari ketidaknyamanan pemakainya. Bahkan dalam proses produksinya, kostum-kostum tersebut menggunakan teknik yang sangat mudah sehingga tahap produksi tidak memakan waktu lama, yaitu hanya sekitar 2 minggu.

Melalui karya ini Elgana berharap dapat mengubah visual ramayana yang terkesan kolot dan monoton dengan suasana yang baru sehingga meningkatkan minat anak muda terhadap budaya bangsa. Elgana percaya bahwa terdapat banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam kisah-kisah serupa Epos Ramayana untuk diterapkan pada hari ini dan di masa depan nanti.

Karya ini selanjutnya akan didaftarkan dalam lomba seperti karya lainnya dari Elgana yang pernah menjadi finalis 20 Besar pada Indonesia Fashion Week 2018. Adapun karya tersebut merupakan karya yang mengangkat tenun toraja yang terkesan kolot dan konvensional menjadi fashion item anak muda yang simple dan elegan.

Berlari Mengelilingi Kampus Sambil Mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke 59 untuk ITB

BANDUNG, itb.ac.id. Pagi yang dikelilingi awan mendung pada hari Minggu (4/04/18) ini nyatanya tidak dapat membendung semangat dari para peserta lomba lari marathon 5 km di ITB. Lomba lari marathon ini merupakan salah satu cabang lomba dalam acara “Olahraga Keakraban Keluarga Besar ITB dan Mitra” yang diadakan untuk memeringati Dies Natalis ITB ke-59. Acara olahraga keakraban ini diketuai langsung oleh ketua KK Olahraga ITB, Tommy Apriantono, Ph.D. Selain lomba lari, terdapat 5 cabang lomba lainnya yaitu: poco-poco, bulu tangkis, voli, dan sepak bola. Cabang lomba bulu tangkis, voli, sepak bola sudah berlangsung sejak dua minggu lalu dan akan melangsungkan finalnya bersamaan dengan lomba lari dan poco-poco pada acara puncak yang berpusat di Lapangan Futsal C Sasana Olahraga ITB.

Peserta lomba lari yang terdiri atas karyawan dan dosen ITB telah bersiap dan melewati garis start di Sasana Olahraga ITB sejak pukul 06.30 WIB. Setelah dari Sasana Olahraga ITB, peserta harus melewati rute lari yang berawal dari Sasana Olahraga ITB, tunnel(terowongan), lalu dilanjutkan dengan mengelilingi Kampus Ganesha ITB dan kembali lagi menuju Lapangan Atletik Sasana Olahraga ITB. Tiga pelari tercepat akan mendapatkan gelar juara, sedangkan peserta lainnya yang mampu melewati garis finish sebelum 1 jam akan mendapatkan medali.

Selain peserta lomba lari marathon, terdapat banyak peserta lomba poco-poco yang menggunakan riasan dan kostum yang menarik. Ketua lomba poco-poco, Ibu Dr. Nia Sri Ramania menyebutkan bahwa kostum dan daya tarik tim merupakan salah satu aspek yang dinilai dalam lomba poco-poco. Terdapat 26 tim yang berpartisipasi dalam lomba ini. Semua peserta lomba dengan antusias mengikuti sesi foto sebelum lomba dengan gayanya tak kalah meriah dengan riasan yang digunakan setiap tim. Riasan dan gaya peserta lomba mencerminkan semangat dan antusiasme peserta lomba poco-poco dalam menyambut Dies Natalis ITB ke – 59.

Dosen Desain Produk ITB Menjadi Ketua Bandung Creative Community Forum (BCCF)

BANDUNG-itb.ac.id, Kota Bandung, sebuah kota yang mendapat julukan “Kota Kembang” nyatanya sempat tidak seindah kembang yang bermekaran. Keadaan Kota Bandung khususnya pada tahun 2008 silam cukup memprihatinkan akibat kurang terawatnya infrastruktur kota. Jika hujan turun, sudah dapat dipastikan akan terjadi banjir di beberapat tempat. Jalanan tidak rata akibat banyaknya lubang di aspal. Taman-taman kota tidak terawat hingga tidak dapat dimasuki karena tidak kondusif. Padahal sejak dahulu kala, Bandung memiliki potensi besar untuk menjadi kota yang Indah dan nyaman ditinggali.

Keresahan akibat keadaan tersebut membuat 45 individu dan komunitas kreatif dari berbagai bidang berkumpul dan menyatakan keinginan untuk mengembalikan Bandung menjadi cantik kembali. Perkumpulan tersebut menamai dirinya “Bandung Creative City Forum” atau lebih dikenal dengan BCCF, karena organisasi yang pada awal berdirinya diketuai oleh Ridwan Kamil ini berperan sebagai simpul pemersatu banyak organisasi yang sama-sama memiliki tekad untuk menjadi aktivis dengan cita-cita membuat Bandung keren. BCCF berusaha memanfaatkan potensi kreatifitas untuk meningkatkan kesejahteraan warga dan komunitas.

Sejak Desember 2017, Ibu Tita Larasati, salah satu dosen Desain Produk ITB dipercaya untuk menjadi ketua dari BCCF. Dengan mengusung tema “Social Enterprise”, saat ini Ibu Tita sedang merumuskan program yang akan dilakukan BCCF selama masa kepengurusannya kelak. Tema ini diambil untuk melanjutkan program-program BCCF sebelumnya.

Ibu Tita mengatakan bahwa pada masa kepengurusan Ridwan Kamil, fokus dari BCCF adalah memperbaiki infrastruktur kota. Beberapa program yang dirumuskan oleh BCCF adalah aktivasi Kolong Pasopati, revitalisasi ruang terbuka kota, Babakan Siliwangi Forest Walk, purwarupa Bandung Culinary Night, dan Car Free Day. Program-program ini diadaptasi oleh Ridwan Kamil ketika terpilih menjadi Walikota Bandung menjadi kebijakan kota sehingga pada akhirnya banyak yang terwujud.

Namun infrastruktur yang sudah memadai ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga Bandung. “Ternyata setelah dikasih sarana fisik warganya yang belum siap, dikasih taman dipake buat piknik terus pada nyampah kemana-mana, dikasih trotoar dipake buat jualan PKL buat parkir motor. Terus dikasih tempat sampah bagus ya kalau ga dibakar, dibuang, rusak, dibawa pulang. Jadi oke berarti kita sekarang BCCF bisa mengolah kota dari warganya dulu” Ujar Bu Tita.

Maka pada masa kepengurusan setelahnya, BCCF yang diketuai oleh Tubagus Fiki Chikara Satari , dosen Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran yang saat ini menjadi ketua Indonesia Creative City Network, berfokus pada pengembangan Human Resource. Ibu Tita yang saat itu menjabat menjadi Sekertaris Jendral BCCF dan anggota BCCF lainnya mencoba untuk mencari potensi yang ada di daerah-daerah di Kota Bandung dan membuat kerjasama dengan komunitas yang sesuai. Salah satu daerah yang mendapat perhatian dari BCCF saat itu adalah Kampung Linggawastu, yang sudah memiliki bank sampah sendiri. Sayangnya bank sampah yang ada disana hanya menjual sampah ke pengepul tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Akhirnya Mahasiswa Desain Produk ITB dikirim untuk mengembangkan sampah tersebut agar bernilai jual lebih tinggi. Sampah yang tak bernilai kini diolah oleh warga sekitar salah satunya menjadi nampan yang sudah dijual ke pasaran. Begitu juga dengan Dago Pojok yang sudah bisa menjual batik fraktal sampai ke Norwegia, Cigondewa dengan koperasi Kawasan Wisata Sandangnya, dan masih banyak lagi.

Saat ini BCCF telah melahirkan lebih dari 250 program yang menjangkau Kota Bandung sampai ke Kawasan kampung kotanya. Dalam menjalankan programnya, BCCF telah bekerja sama dengan banyak organisasi nasional maupun internasional.

Tema social enterprise ini dipilih Ibu Tita dengan harapan BCCF bisa menjadi lebih mandiri. Ibu Tita bersama BCCF bertekad bisa mencari keuntungan tanpa kehilangan fokus untuk berdampak bagi lingkungan. Ibu Tita menjelaskan bahwa BCCF dalam aktivitasnya harus meninggalkan jejak untuk lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi yang tidak lain merupakan 3 pilar sustainability.

Selain menjadi ketua BCCF dan dosen ITB, Ibu Tita memiliki komunitas komik dan pernah menjadi tim ahli untuk mengembangkan ekonomi kreatif di 10 Provinsi Indonesia. Berbekal pengalaman dan pengetahuan yang Ibu Tita miliki, semoga BCCF bisa terus berdampak dan meninggalkan jejak yang indah untuk memperindah Kota Bandung.

Dokumen Foto : Penulis bersama anggota BCCF dan beberapa desainer muda dengan Ibu Tita Larasati (tengah). Foto didapatkan dari http://creativecitysouth.org/blog-1/2017/10/5/the-bandung-creative-city-experiment

Memoles Masa Depan Energi Indonesia bersama Prof. Dwiwahyu Sasongko dalam Orasi Ilmiahnya

Perkembangan teknologi yang semakin pesat menyebabkan kebutuhan energi di Asia Tenggara diperkirakan juga akan meningkat hingga 80% dari tahun 2013 ke 2035, dengan batubara sebagai pilihan bahan bakar utama. Untuk mengatasi hal tersebut, Prof. Dwiwahyu Sasongko, salah satu Guru Besar Institut Teknologi Bandung memberikan Orasi Ilmiah dengan judul “Tantangan Pengembangan Teknologi Pemrosesan Batubara Ramah Lingkungan (Clean Coal Technology) di Indonesia” dalam forum Guru Besar Sabtu (10/03/18) lalu. Orasi ilmiah yang diadakan di Aula Barat ITB ini merupakan suatu bentuk tanggung jawab akademik dan komitmen atas jabatan sebagai guru besar dalam bidang ilmu pemrosesan batubara dan biomassa.

Batubara merupakan salah satu bahan bakar fosil yang ditemukan dalam bentuk padat, bersifat rapuh (getas) dan dapat terbakar secara spontan di udara terbuka. Bahan bakar ini mulai populer dan dieksploitasi secara besar-besaran semenjak revolusi industri pada abad 18, dan saat ini menyumbang 28,6% dari total konsumsi energi dunia dan 40,8% dari total produksi listrik dunia. Indonesia memproduksi 7% diantaranya sehingga menempati urutan 5 besar produksi energi dari batubara di dunia. Saat ini Indonesia masih memiliki cadangan batubara terbanyak kesembilan dunia yaitu sebanyak 25.573 juta ton (2,2% dari seluruh cadangan barubara di dunia).

Produksi batubara dilanjutkan dengan pengolahan batubara menjadi produk primernya berupa gas, tar, dan char. Produk primer yang berupa tar dapat diolah kembali menjadi produk sekunder yang berupa gas, tar, dan char. Batubara bisa dimanfaatkan dengan cara langsung dibakar seperti pada pembangkit listrik. Batubara juga dapat mengalami pemrosesan lebih lanjut dengan dibuat menjadi arang batu bara melalui proses karbonasi, dikonversi menjadi gas melalui proses gasifikasi, atau dicairkan supaya lebih mudah disimpan dan ditransportasikan dengan metode likuifaksi.

Jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya, batubara bisa dikatakan lebih unggul karena dapat memasok listrik secara konstan selama 7 hari x 24 jam. Pemroresan batubara dalam pembangkit listrik juga hanya memerlukan biaya kapital pembangunan yang rendah. Harga dari batubara sendiri pun jauh lebih murah dibandingkan sumber energi lain dengan cadangan berlimpah yang diperkirakan baru akan habis 200 tahun mendatang. Akan tetapi pemanfaatan batubara ini cukup merusak lingkungan karena menghasilkan gas-gas berbahaya seperti COx dan SOx yang menyebabkan hujan asam dan bertanggung jawab atas fenomena efek rumah kaca.

Agar pemanfaatan batubara bisa menjadi lebih ramah lingkungan, terdapat beberapa usaha yang dapat dilakukan. Batubara dapat mengalami proses coal washing terlebih dahulu supaya mineral-mineral yang tidak diinginkan bisa terlarut dalam pelarut kimia/biologi. Gas berbahaya hasil dari pemrosesan dapat dikurangi dengan penambahan unit operasi lain Flue Gas Desulfurization (FGD) atau bisa juga dengan metode Fluidized Bed Combustion (FBC) untuk menangkap dengan padatan inert.

Penelitian yang dilakukan Prof. Dwiwahyu Sasongko selama ini cukup banyak membahas metode-metode pemrosesan batubara agar menjadi lebih ramah lingkungan. Salah satu metodenya yaitu biodesulfurisasi membuat batubara tidak akan menghasilkan banyak produk samping berupa gas SOx karena sulfur dalam batubara habis dimakan oleh mikroorganisme pemakan sulfur (Thiobacillus ferrooxidans). Metode lainnya yaitu biosolubilisasi, yaitu melakukan pencairan dengan menggunakan mikroorganisme untuk memutus rantai karbon batubara yang panjang menjadi lebih pendek sehingga berubah jadi cair. Pencairan batubara membuat batubara lebih mudah disimpan dan dipindahkan. Batubara juga bisa dimodifikasi menjadi batubara hibrida dengan mencampurkan biomassa didalamnya sehingga emisi COx yang dihasilkan lebih rendah dan bisa mengurangi limbah. Pengolahan batubara bisa dijadikan lebih mudah melalui torefaksi (pirolisis dingin) di suhu 200-300oC.

Penelitian-penelitian tersebut menjadi jawaban atas amanah pemerintah dalam PP79/2014 pasal 25 ayat (1) yang berbunyi “kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi energi diarahkan untuk mendukung industri energi nasional.” Atas seluruh keunggulan yang dimiliki batubara dan sudah ada upaya untuk mengatasi kekurangannya, Indonesia memiliki potensi untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan untuk pengolahan batubara.

Potensi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia sesuai dengan amanah PP79/2014 pasal 24 ayat (2) yang berbunyi “penguatan perkembangan industri energi juga mencakup pemberian kesempatan lebih besar kepada perusahaan nasional dalam pengelolaan minyak, gas bumi, dan batubara.”

Brawijaya Geophysical Festival 2015 sebagai Wujud Kontribusi ITB dalam Pengembangan Geothermal di Indonesia

BANDUNG, itb.ac.id – Peningkatan kebutuhan energi yang terus terjadi setiap tahunnya mengharuskan mahasiswa perguruan tinggi memiliki pemikiran kritis terkait potensi geothermal di Indonesia. Brawijaya Geophysical Festival 2015 merupakan salah satu wadah mahasiswa D3 dan S1 untuk mengasah dan mengembangkan keterampilan tersebut. Kompetisi yang diadakan pada hari Rabu (11/11/15) sampai dengan hari Sabtu (14/11/15) di Institut Teknologi Bandung ini mengangkat tema “Petroleum Geothermal: Sustainable Energy for Indonesia”.

Kompetisi yang diawali dengan kontes foto sebagai pra acara ini memiliki Seismic Interpretation Challenge & Essay competition sebagai acara inti. Dalam Seismic Interpretation Challenge, setiap peserta secara beregu akan diuji kemampuan interpretasi data eksplorasi seismiknya dengan menginterpretasi data yang diperoleh dari video yang ditayangkan panitia. Hanya 10 tim terbaik yang dapat melanjutkan perjuangan di babak final dengan melakukan pengolahan data lanjutan dan menginterpretasikannya langsung di depan dewan juri. Adapun tim yang beranggotakan Kadek Hendra Palgunadi, Atin Nur Aulia, dan Dias Pramukusuma (Teknik Geologi 2012) berhasil menjadi juara 1 lalu disusul oleh tim yang beranggotakan Irfan Aulia, Putri Rafika Dewi, dan Ridho Nanda Pratama (Teknik Geologi 2012) yang berhasil menjadi juara 2 dalam perlombaan ini.

Adapun dalam Essay Competition yang bertemakan “Geothermal of sustainable Energy for Indonesia” peserta diharuskan memaparkan pemikirannya mengenai potensi geothermal di Indonesia. Yuniar Aryadi bin Delmizar dan Extivonus Kiki Fransiskus, mahasiswa jurusan Teknik Geologi tahun 2012 yang juga mempelajari interpretasi data seismik pada mata kuliah tingkat 4 di jurusannya ini berhasil menjadi juara 1 dan 2 dalam perlombaan ini.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, peserta akan mengikuti seminar nasional dan fun trip lalu dilanjutkan dengan gala dinner dan malam penganugerahan. Dengan diadakannya acara ini, diharapkan pemikiran kritis mahasiswa akan terus berkembang sehingga kedepannya akan dapat menjawab tantangan terkait kebutuhan energi di Indonesia.