Dosen Desain Produk ITB Menjadi Ketua Bandung Creative Community Forum (BCCF)

BANDUNG-itb.ac.id, Kota Bandung, sebuah kota yang mendapat julukan “Kota Kembang” nyatanya sempat tidak seindah kembang yang bermekaran. Keadaan Kota Bandung khususnya pada tahun 2008 silam cukup memprihatinkan akibat kurang terawatnya infrastruktur kota. Jika hujan turun, sudah dapat dipastikan akan terjadi banjir di beberapat tempat. Jalanan tidak rata akibat banyaknya lubang di aspal. Taman-taman kota tidak terawat hingga tidak dapat dimasuki karena tidak kondusif. Padahal sejak dahulu kala, Bandung memiliki potensi besar untuk menjadi kota yang Indah dan nyaman ditinggali.

Keresahan akibat keadaan tersebut membuat 45 individu dan komunitas kreatif dari berbagai bidang berkumpul dan menyatakan keinginan untuk mengembalikan Bandung menjadi cantik kembali. Perkumpulan tersebut menamai dirinya “Bandung Creative City Forum” atau lebih dikenal dengan BCCF, karena organisasi yang pada awal berdirinya diketuai oleh Ridwan Kamil ini berperan sebagai simpul pemersatu banyak organisasi yang sama-sama memiliki tekad untuk menjadi aktivis dengan cita-cita membuat Bandung keren. BCCF berusaha memanfaatkan potensi kreatifitas untuk meningkatkan kesejahteraan warga dan komunitas.

Sejak Desember 2017, Ibu Tita Larasati, salah satu dosen Desain Produk ITB dipercaya untuk menjadi ketua dari BCCF. Dengan mengusung tema “Social Enterprise”, saat ini Ibu Tita sedang merumuskan program yang akan dilakukan BCCF selama masa kepengurusannya kelak. Tema ini diambil untuk melanjutkan program-program BCCF sebelumnya.

Ibu Tita mengatakan bahwa pada masa kepengurusan Ridwan Kamil, fokus dari BCCF adalah memperbaiki infrastruktur kota. Beberapa program yang dirumuskan oleh BCCF adalah aktivasi Kolong Pasopati, revitalisasi ruang terbuka kota, Babakan Siliwangi Forest Walk, purwarupa Bandung Culinary Night, dan Car Free Day. Program-program ini diadaptasi oleh Ridwan Kamil ketika terpilih menjadi Walikota Bandung menjadi kebijakan kota sehingga pada akhirnya banyak yang terwujud.

Namun infrastruktur yang sudah memadai ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga Bandung. “Ternyata setelah dikasih sarana fisik warganya yang belum siap, dikasih taman dipake buat piknik terus pada nyampah kemana-mana, dikasih trotoar dipake buat jualan PKL buat parkir motor. Terus dikasih tempat sampah bagus ya kalau ga dibakar, dibuang, rusak, dibawa pulang. Jadi oke berarti kita sekarang BCCF bisa mengolah kota dari warganya dulu” Ujar Bu Tita.

Maka pada masa kepengurusan setelahnya, BCCF yang diketuai oleh Tubagus Fiki Chikara Satari , dosen Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran yang saat ini menjadi ketua Indonesia Creative City Network, berfokus pada pengembangan Human Resource. Ibu Tita yang saat itu menjabat menjadi Sekertaris Jendral BCCF dan anggota BCCF lainnya mencoba untuk mencari potensi yang ada di daerah-daerah di Kota Bandung dan membuat kerjasama dengan komunitas yang sesuai. Salah satu daerah yang mendapat perhatian dari BCCF saat itu adalah Kampung Linggawastu, yang sudah memiliki bank sampah sendiri. Sayangnya bank sampah yang ada disana hanya menjual sampah ke pengepul tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Akhirnya Mahasiswa Desain Produk ITB dikirim untuk mengembangkan sampah tersebut agar bernilai jual lebih tinggi. Sampah yang tak bernilai kini diolah oleh warga sekitar salah satunya menjadi nampan yang sudah dijual ke pasaran. Begitu juga dengan Dago Pojok yang sudah bisa menjual batik fraktal sampai ke Norwegia, Cigondewa dengan koperasi Kawasan Wisata Sandangnya, dan masih banyak lagi.

Saat ini BCCF telah melahirkan lebih dari 250 program yang menjangkau Kota Bandung sampai ke Kawasan kampung kotanya. Dalam menjalankan programnya, BCCF telah bekerja sama dengan banyak organisasi nasional maupun internasional.

Tema social enterprise ini dipilih Ibu Tita dengan harapan BCCF bisa menjadi lebih mandiri. Ibu Tita bersama BCCF bertekad bisa mencari keuntungan tanpa kehilangan fokus untuk berdampak bagi lingkungan. Ibu Tita menjelaskan bahwa BCCF dalam aktivitasnya harus meninggalkan jejak untuk lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi yang tidak lain merupakan 3 pilar sustainability.

Selain menjadi ketua BCCF dan dosen ITB, Ibu Tita memiliki komunitas komik dan pernah menjadi tim ahli untuk mengembangkan ekonomi kreatif di 10 Provinsi Indonesia. Berbekal pengalaman dan pengetahuan yang Ibu Tita miliki, semoga BCCF bisa terus berdampak dan meninggalkan jejak yang indah untuk memperindah Kota Bandung.

Dokumen Foto : Penulis bersama anggota BCCF dan beberapa desainer muda dengan Ibu Tita Larasati (tengah). Foto didapatkan dari http://creativecitysouth.org/blog-1/2017/10/5/the-bandung-creative-city-experiment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *