Memoles Masa Depan Energi Indonesia bersama Prof. Dwiwahyu Sasongko dalam Orasi Ilmiahnya

Perkembangan teknologi yang semakin pesat menyebabkan kebutuhan energi di Asia Tenggara diperkirakan juga akan meningkat hingga 80% dari tahun 2013 ke 2035, dengan batubara sebagai pilihan bahan bakar utama. Untuk mengatasi hal tersebut, Prof. Dwiwahyu Sasongko, salah satu Guru Besar Institut Teknologi Bandung memberikan Orasi Ilmiah dengan judul “Tantangan Pengembangan Teknologi Pemrosesan Batubara Ramah Lingkungan (Clean Coal Technology) di Indonesia” dalam forum Guru Besar Sabtu (10/03/18) lalu. Orasi ilmiah yang diadakan di Aula Barat ITB ini merupakan suatu bentuk tanggung jawab akademik dan komitmen atas jabatan sebagai guru besar dalam bidang ilmu pemrosesan batubara dan biomassa.

Batubara merupakan salah satu bahan bakar fosil yang ditemukan dalam bentuk padat, bersifat rapuh (getas) dan dapat terbakar secara spontan di udara terbuka. Bahan bakar ini mulai populer dan dieksploitasi secara besar-besaran semenjak revolusi industri pada abad 18, dan saat ini menyumbang 28,6% dari total konsumsi energi dunia dan 40,8% dari total produksi listrik dunia. Indonesia memproduksi 7% diantaranya sehingga menempati urutan 5 besar produksi energi dari batubara di dunia. Saat ini Indonesia masih memiliki cadangan batubara terbanyak kesembilan dunia yaitu sebanyak 25.573 juta ton (2,2% dari seluruh cadangan barubara di dunia).

Produksi batubara dilanjutkan dengan pengolahan batubara menjadi produk primernya berupa gas, tar, dan char. Produk primer yang berupa tar dapat diolah kembali menjadi produk sekunder yang berupa gas, tar, dan char. Batubara bisa dimanfaatkan dengan cara langsung dibakar seperti pada pembangkit listrik. Batubara juga dapat mengalami pemrosesan lebih lanjut dengan dibuat menjadi arang batu bara melalui proses karbonasi, dikonversi menjadi gas melalui proses gasifikasi, atau dicairkan supaya lebih mudah disimpan dan ditransportasikan dengan metode likuifaksi.

Jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya, batubara bisa dikatakan lebih unggul karena dapat memasok listrik secara konstan selama 7 hari x 24 jam. Pemroresan batubara dalam pembangkit listrik juga hanya memerlukan biaya kapital pembangunan yang rendah. Harga dari batubara sendiri pun jauh lebih murah dibandingkan sumber energi lain dengan cadangan berlimpah yang diperkirakan baru akan habis 200 tahun mendatang. Akan tetapi pemanfaatan batubara ini cukup merusak lingkungan karena menghasilkan gas-gas berbahaya seperti COx dan SOx yang menyebabkan hujan asam dan bertanggung jawab atas fenomena efek rumah kaca.

Agar pemanfaatan batubara bisa menjadi lebih ramah lingkungan, terdapat beberapa usaha yang dapat dilakukan. Batubara dapat mengalami proses coal washing terlebih dahulu supaya mineral-mineral yang tidak diinginkan bisa terlarut dalam pelarut kimia/biologi. Gas berbahaya hasil dari pemrosesan dapat dikurangi dengan penambahan unit operasi lain Flue Gas Desulfurization (FGD) atau bisa juga dengan metode Fluidized Bed Combustion (FBC) untuk menangkap dengan padatan inert.

Penelitian yang dilakukan Prof. Dwiwahyu Sasongko selama ini cukup banyak membahas metode-metode pemrosesan batubara agar menjadi lebih ramah lingkungan. Salah satu metodenya yaitu biodesulfurisasi membuat batubara tidak akan menghasilkan banyak produk samping berupa gas SOx karena sulfur dalam batubara habis dimakan oleh mikroorganisme pemakan sulfur (Thiobacillus ferrooxidans). Metode lainnya yaitu biosolubilisasi, yaitu melakukan pencairan dengan menggunakan mikroorganisme untuk memutus rantai karbon batubara yang panjang menjadi lebih pendek sehingga berubah jadi cair. Pencairan batubara membuat batubara lebih mudah disimpan dan dipindahkan. Batubara juga bisa dimodifikasi menjadi batubara hibrida dengan mencampurkan biomassa didalamnya sehingga emisi COx yang dihasilkan lebih rendah dan bisa mengurangi limbah. Pengolahan batubara bisa dijadikan lebih mudah melalui torefaksi (pirolisis dingin) di suhu 200-300oC.

Penelitian-penelitian tersebut menjadi jawaban atas amanah pemerintah dalam PP79/2014 pasal 25 ayat (1) yang berbunyi “kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi energi diarahkan untuk mendukung industri energi nasional.” Atas seluruh keunggulan yang dimiliki batubara dan sudah ada upaya untuk mengatasi kekurangannya, Indonesia memiliki potensi untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan untuk pengolahan batubara.

Potensi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia sesuai dengan amanah PP79/2014 pasal 24 ayat (2) yang berbunyi “penguatan perkembangan industri energi juga mencakup pemberian kesempatan lebih besar kepada perusahaan nasional dalam pengelolaan minyak, gas bumi, dan batubara.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *