Pentingnya Akustik untuk Ruang Kelas Anak-anak

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi proses belajar mengajar pada anak-anak di dalam kelas adalah terjaminnya proses komunikasi yang baik antara guru dan murid (dan sebaliknya). Dua faktor utama yang mempengaruhi proses mendengar di dalam ruangan kelas adalah kondisi akustik ruang kelas dan kemampuan mendengar anak (murid). Kondisi Akustik ruang kelas yang harus diperhatikan terutama adalah tingkat kebisingan dan waktu dengung ruang, serta rasio suara terhadap bising  (SNR).

Tingkat  kebisingan suara yang terjadi di ruangan kelas disebabkan oleh sumber dari luar ruangan (misalnya kendaraan yang lewat di jalanan di sekitar sekolah, aktifitas di dalam dan di luar lingkungan sekolah) dan sumber di dalam ruangan kelas (misalnya suara murid-murid, suara AC). Suara-suara tersebut pada akhirnya akan berkompetisi dengan suara guru, sehingga mengganggu proses komunikasi antara guru-murid dan sebaliknya. Jika tingkat bising terlalu tinggi, suara guru akan tenggelam di dalam bising, sehingga guru harus meningkatkan tingkat energi suara yang dikeluarkan (akibatnya guru lebih mudah letih). Faktor utama yang bisa digunakan untuk mengendalikan kebocoran/intrusi bising dari luar ruang kelas adalah dengan memastikan semua bukaan yang ada di ruang kelas memiliki sistem insulasi suara yang baik, sedangkan untuk mengendalikan bising yang bersumber dari dalam ruang kelas itu sendiri adalah dengan mengendalikan tingkat bising sumber yang menghasilkan suara.

Waktu dengung ruangan kelas memegang peranan penting dalam menciptakan tingkat kejelasan suara ucap dalam ruang. Waktu dengung ruang pada dasarnya berkaitan dengan jumlah energi pantulan yang dihasilkan oleh permukaan dalam ruangan, yang pada akhirnya mempengaruhi seberapa lama suara bertahan di dalam ruangan tersebut. Jumlah energi pantulan yang berlebihan ini akan berinteraksi dengan suara langsung dari guru yang datang ke telinga murid. Jika suara pantulan lebih dominan dari suara langsung, maka tingkat kejelasan suara ucapan akan menurun. Untuk mengatasi suara pantulan yang berlebihan ini, atau dengan kata lain menurunkan waktu dengung ruang kelas, dapat digunakan material penyerap suara, tentunya yang terbuat dari bahan yang aman bagi kesehatan respirasi murid dan guru. Waktu dengung yang disarankan untuk ruangan kelas adalah 0.45 – 1 detik tergantung dari volume ruangannya.

Selain Waktu Dengung ruang, Rasio Suara terhadap bising (Signal to Noise Ratio, SNR) adalah faktor akustik yang sangat mempengaruhi tingkat kejelasan suara ucapan di dalam ruangan kelas. Faktor ini terkait dengan seberapa besar energi suara ucap yang harus dihasilkan seorang guru dibandingkan dengan tingkat bising yang ada di dalam kelas. Suara guru berperan sebagai singal dan bising latar belakang (dan waktu dengung) memberikan kontribusi pada Noise Level. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat energi suara yang dihasilkan guru disarankan 15 dB diatas tingkat bising di ruang kelas (Untuk dapat memahami percakapan secara komprehensif, anak-anak memerlukan guru berbicara  9 dB lebih keras dibandingkan orang dewasa). Apabila hal tersebut dapat dicapai, maka proses belajar mengajar akan berlangsung dengan komprehensif karena murid dapat memahami dengan baik apa yang disampaikan oleh guru mereka.

Hal lain yang perlu dicatat adalah, otak manusia baru berkembang sempurna pada saat usia mencapai 15 tahun. Hal ini juga mempengaruhi kemampuan mendengar manusia, karena sistem auditory nerve terkait dengan perkembangan otak. Oleh karena itu, kondisi lingkungan mendengar di ruangan belajar (ruang kelas) untuk  anak-anak ( < 15 tahun) menjadi lebih kritis dibandingkan dengan orang dewasa (>15 tahun). Sebagai konsekuensi logis dari kondisi ini, pertimbangan akustik pada perancangan ruang kelas untuk anak-anak (TK, SD dan SMP) menjadi lebih perlu diperhatikan dibandingkan dengan ruang kelas untuk remaja-dewasa (SMA dan Perguruan Tinggi).

Note: disarikan dari website http://www.classroomhearing.org/summary.html

Posted in Akustika Ruangan, Suara Ucapan

Soundscape di kota Bandung

Berikut ini adalah cuplikan beberapa persepsi para mahasiswa Topik Khusus A – Teknik Fisika ITB tentang Soundscape di beberapa lokasi di Kota Bandung:

“…. Saya melakukan perekaman suara pada jam makan siang, tepatnya antara pukul 12.33 sampai dengan pukul 12.38 WIB. Pada bagian awal rekaman, masih terdengar suara perbincangan orang-orang, walaupun tidak sekeras dan seintens yang saya ekspektasikan di awal. Suara sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring pun terdengar. Terkadang terdengar suara piring yang diletakkan diatas meja oleh pelayan, dan juga suara tangan yang dibantingkan pelan ke permukaan meja yang menyebabkan piring, sendok, dan garpu ikut berbunyi…. ” , at  6° 54′ 54.07″ S, 107° 35′ 48.03″ E

” … Hasil dari soundscaping, suasana di Taman Pengky sendiri cukup tenang, tidak ada sumber keriuhan. Namun berbeda dengan ekspektasi saya, ternyata disana jelas terdengar suara kendaraan yang lalu-lalang, menjadi sumber bising eksternal. Mengingat jalan Belitung sendiri termasuk jalur angkutan kota. Selain itu, saya juga hanya mendengar kicauan burung sesekali, padahal pohon-pohon di Taman Pengky cukup rindang. Hal yang sesuai dengan ekspektasi saya adalah adanya sekelompok pemuda yang sedang berkumpul disana… “, at -6.911942 LS dan 107.616123 BT

” … Ekspektasi saya datang di daerah ini yakni merasakan kesunyian karena tanahnya masih lapang walau ada proyek pembangungan apartemen tetapi hari masih pagi, jadi saya membayangkan belum ada pergerakan untuk memulai proyek itu. Dan
saya membayangkan hanya terdengar percakapan warga sekitar untuk memulai harinya serta suara pesawat dan kereta yang lokasinya memang tidak jauh dari daerah ini….”, at 6,89 Lintang Selatan dan 107,566 Bujur Timur

” …. Suara percakapan antara sesama pengunjung masih dapat terdengar walau tidak seramai biasanya. Suasananya cukup tenang walau masih padat pengunjung. Ketika masuk ke salah satu kios di lantai empat, suara dari luar bahkan hampir tidak terdengar karena memang pengunjung terkonsentrasi di lantai satu dan dua. Sedikit pengunjung yang berada di lantai empat. Sound system yang biasanya digunakan untuk memberikan pengumuman, saat ini juga difungsikan sebagai media hiburan dengan memperdengarkan lagu-lagu yang cukup terkenal di kalangan masyarakat…”, at 6°54’27.1″S 107°36’32.4″E

” … Suasana yang terasa adalah suasana tenang diselingi suara kendaraan dari jauh. Namun, suara selingan tidak hanya kendaraan. Namun juga suara serangga , suara terompet dari SESKOAD yang terletak di Jalan Martanegara, suara klakson mobil, serta suara pagar yang digeser. Diduga suara terompet tersebut dapat sampai ke Jalan Rancamanyar 4 No.4 akibat adanya pembiasan gelombang suara. Begitu pula suara kendaraan dari Jalan Turangga kemungkinan dapat terdengar akibat pembiasan gelombang suara. Dari apa yang saya dengar, dapat disimpulkan suasana di Jalan Rancamanyar 4 no.4 kenyataannya memang cukup tenang, dimana terasa suasana malam yang aktivitas penduduknya sudah jauh berkurang. Suasana tenang tersebut diselingi dengan suara lainnya yang menandakan masih ada aktivitas di radius beberapa kilometer dari tempat itu. Dapat disimpulkan juga, pada waktu dan tempat tersebut, gelombang suara memiliki waktu dengung yang cukup tinggi, yang semakin terasa karena sumber suara yang ada lebih sedikit daripada siang hari…”, at 6°56’01.1″S 107°38’14.0″E

” … Suara yang terdengar jelas justru adalah suara hewan (mungkin monyet) dari kebun binatang. Tidak ada suara mahasiswa yang terdengar, pun juga suara air dari kamar mandi. Seperti belum ada mahasiswa yang bangun. Karena itu suasana seperti jam enam pagi. Namun motor sesekali sudah terdengar berlalu lalang. Suara air sungai yang sedikit deras (karena setelah hujan) serta suara burung-burung membuat suasana pagi yang tenang dan cenderung dingin… “, at 6⁰53’31”LS, 107⁰36’23”BT

” … Suara koki yang sedang menyiapkan makanan, terutama ketika menggoreng atau membakar, dapat membangkitkan selera makan pengunjung. Di sisi lain, suara anak kecil yang berbicara kencang, percakapan para waiter dan suara lainnya, dalam tingkat tertentu, dapat membuat pengunjung merasa tidak nyaman. Kombinasi suara-suara ini dapat membuat suasana di restoran tersebut menjadi sangat tidak nyaman.
Suara musik yang diperdengarkan di restoran ini dimanfaatkan sebagai sound mask untuk meredam suara-suara yang dapat mengganggu kenyamanan pengunjung tersebut. Selain itu, lagu yang dipilih untuk diputar adalah musik yang temponya lambat dan mengalun. Kebanyakan lagu yang diputar adalah lagu-lagu instrumental dan lagu-lagu versi ‘akustik’. Lagu-lagu tersebut memberi kesan nyaman dan santai, sehingga pengunjung tidak terburu-buru ketika menikmati makanan yang disajikan dan betah berlama-lama di sana… “, at 6.903521o LS, 107.62339299999997o BT

“… Berdasarkan rekaman soundscape yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh pun tidak jauh dari ekspektasi awal. Hal yang sedikit berbeda adalah terdapatnya musik ber-genre bossanova yang dimainkan sebagai background music. Dalam soundscape ini, dapat terdengar mayoritas suara yang diperoleh adalah suara percakapan remaja. Melalui suara tersebut dapat kita simpulkan, J.Co merupakan lokasi berkumpul yang dipilih remaja untuk menghabiskan waktu luang di akhir pekan…”, at -6.92672 107.63579

Posted in Soundscape

Satu Hari Soundwalk di Kota Paris oleh Amanda Nitidara

Waktu : 2 Maret 2014
Lokasi : Paris

Photo credit: http://es.wikipedia.org/wiki/Paris: Panorámica de París desde lo alto de la Torre Montparnasse

Minggu pagi sekitar pukul 9, saya memulai perjalanan berkeliling kota Paris. Tujuan perjalanan hari itu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar kota Paris, terutama yang berada di sekitar Sungai Seine. Berjalan kaki dari penginapan menuju tempat-tempat tersebut, sambil menikmati pemandangan kota saya juga menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh alam, kota, dan penduduknya. Di beberapa saya juga menyempatkan untuk mengambil rekaman audio menggunakan HP.

Pagi hari di Paris, kota masih sepi dan belum sibuk dengan kegiatan. Tidak banyak suara dari kegiatan penduduk kota maupun dari lalu lintas di jalan-jalan utama, yang terdengar hanya suara langkah kaki dari beberapa pejalan kaki dan orang yang sedang lari pagi . Lokasi pertama yang saya kunjungi yaitu Taman Luxemburg. Tiba disana sekitar pukul 10 pagi, mulai terlihat aktivitas dari beberapa penduduk kota. Mulai terdengar suara-suara aktivitas di antaranya saya mendengar suara dari orang yang sedang lari pagi -suara sepatu menggesek tanah berpasir di bawahnya-, suara wisatawan yang berkunjung –percakapan, beberapa wisatawan rombongan sekolah bernyanyi sambil mengelilingi taman, dan suara dari shutter kamera, penduduk kota yang sedang menikmati libur akhir minggu –suara roda kereta bayi, sepeda, motor dari perahu mainan, anak-anak yang bermain-, dan juga suara alam –bebek di kolam di depan taman, suara rintik air dari air mancur di tengah kolam-.

Tujuan kedua yaitu Katedral Notre Dame. Berjalan dari Taman Luxemburg menuju Notre Dame, terdengar suara lalu lintas yang mulai padat di jalan-jalan yang saya lalui. Pejalan kaki juga mulai memenuhi kota, baik itu wisatawan maupun penduduk, menghasilkan suarapercakapan di sepanjang jalan yang saya lewati. Ketika melalui Sungai Seine dan melintas diatas salah satu jembatan, saya menyempatkan diri untuk mengambil gambar dan menikmati suasana di atas Sungai Seine, derak air sungai terdengar lirih ketika ada kapal yang melintastepat di bawah jembatan tempat saya berada. Tiba di Notre Dame dan memasuki katedral,terdengar suara riuh dari upacara keagamaan yang sedang berlangsung. Beberapa pendetadi tengah ruangan membacakan ayat-ayat dan juga suara jemaat yang turut bernyanyi. Di tengah-tengah upacara saat saya berjalan berkeliling katedral, terdengar suara dari pipe organ yang dimainkan. Suara pipe organ tersebut mengiringi suara nyanyian dari jemaat.
Suara di dalam katedral terdengar keras dan menggema. Ini tentunya disebabkan oleh bentuk dari katedral itu sendiri yang besar dan langit-langit tinggi serta material dinding yang keras dan reflektif. Di beberapa pilar saya juga menemukan loudspeaker terpasang yang membantu mendistribusikan suara ke seluruh aula katedral. Saya sempat merekamsekitar satu menit suara-suara tersebut sebagai dokumentasi soundscape dari lokasi yang saya kunjungi. Di atas tower Notre Dame, saya juga mendengar bunyi dari lonceng katedral tersebut menunjukkan pukul 12 siang, selain itu suara angin yang cukup kencang juga terdengar di atas tower.
Perjalanan dilanjutkan dari Notre Dame menuju Museum Louvre. Suara yang terdengar sebagian besar merupakan suara dari kendaraan dan juga pejalan kaki. Bangunan museum yang megah dan luar biasa besar, memukau seluruh wisatawan yang berkunjung. Suara riuh dari wisatawan yang mengantri memasuki museum bercampur dengan suara angin dan suara gemericik air dari air mancur besar yang berada di sekitar piramid kaca, pintu masuk museum. Di dalam museum sendiri yang ramai terdengar adalah suara pengunjung, pengunjung yang ramai dan suara yang agak bergema karena ruangan besar, penuh dengan material reflektif, dan langit-langit yang tinggi.
Menjelang sore hari, perjalanan dari Louvre dilanjutkan ke taman di sekitar Louvre dan kemudian berjalan menyusuri Sungai Seine. Di sekitar taman dan ruang terbuka di Paris, suara yang terdengar yaitu suara dari hewan –burung, anjing- dan suara air dan angin. Menyusuri Sungai Seine derak air sungai terdengar lebih jelas, karena saya berjalan di tepi sungai. Di sepanjang sungai juga terdapat taman-taman bermain kecil yang digunakan oleh keluarga-keluarga bermain dengan anaknya. Terdengar suara anak-anak bermain, suara bola yang dipukul, dan suara sepatu roda.

Perjalanan saya berlanjut hingga malam dan menyempatkan untuk mengikuti tur pesiar di Sungai Seine. Sepanjang tur sembari menikmati pemandangan saya juga terus mendengarkan suara dari rekaman audio yang menjelaskan mengenai lanskap di kota Paris yang sedang kami lalui. Kapal yang saya naiki berpapasan dengan kapal tur lainnya yang menyediakan tur dengan tema dansa. Ketika berpapasan, terdengar suara musik yang dimainkan dari kapal tersebut mengiringi orang-orang yang menari menikmati musik dan Paris.

Caption:

1. Paris di pagi hari, sepi dari kendaraan dan juga penduduk. Suasana tenang.
2. Burung-burung di taman menghasilkan kicau yang menyenangkan.
3. Taman Luxemburg. Suara gemericik air, burung, dan bebek di dalam kolam.
4. Aktivitas penduduk dan wisatawan di Taman Luxemburg
5. Pengunjung Katedral Notre Dame menambah riuh suara di dalam katedral bersamaan dengan nyanyian jemaat dan juga suara pipe organ.
6. Lalu lintas di jalan-jalan utama mulai padat di siang hari, terdengar suara-suara deru mesin dan klakson dari kendaraan.
7. Sungai Seine, derak air terdengar semakin kencang saat kapal melintas.
8. Museum Louvre. Ramai suara pengunjung, angin, dan juga gemericik dari air terjun di sekitar piramid.

Posted in Soundscape Tagged , ,

A Soundwalk Report by Wenda Nuridahissan

A. Kondisi Pengamatan

Pengamatan Soundscape dilakukan pada hari Kamis tanggal 6 Maret 2014 pada pukul 09.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB. Pengamatan dilakukan pada daerah tenggara kampus ITB Jalan Ganesha. Rute yang diambil pada pengamatan ini adalah Plaza Widya – selasar selatan Labtek VIII – Jalan sebelah utara Gedung TL – Jalan sebelah timur Gedung GD – Selasar GD – Amphiteathre Arsi – Belokan Gedung SR – Jalan sebelah timur Galeri Soemardja – Area Parkir SR – Lapangan Rumput SR – Selasar selatan Aula Timur – ATM Centre – Boulevard – Plaza Widya.

B. Hasil Pengamatan

1. Plaza Widya – Selasar selatan Labtek VIII

Pada area plaza widya terdengar suara dari air mancur yang mendominasi suara di area tersebut. Namun masih terdengar suara serangga tongeret dengan samar – samar. Saat berjalan di selasar selatan Labtek VIII, terdengar suara mesin pemotong rumput yang ujung pisaunya sesekali terkena aspal.
Ketika posisi pengamat menjauhi pekerja yang sedang memotong rumput, terdengar suara mesin pemotong rumput dari arah CC Timur. Suara tersebut merupakan pantulan dari suara pemotong rumput yang ada di dekat selasar Labtek VIII karena di dekat bangunan CC Timur tidak ada kegiatan memotong rumput. Selain itu, di selasar ini terdengar suara kain baliho yang tergesek-gesek karena sedang diperbaiki oleh pegawai ITB.

2. Jalan sebelah utara Gedung TL

Pada saat melewati jalan ini, pengamat masih mendengar suara pemotong rumput dari Labtek VIII. Namun, bising yang paling jelas mengganggu pendengaran adalah bising dari kendaraan bermotor yang melewati jalan ini. Setelah pengamat menjauhi posisi sumber bising, berulah terdengar suara burung yang sedang berkicau.
Ketika melewati jendela Lab TL yang terbuka, terdengar suatu bising yang mungkin berasal dari mesin lab yang sedang dinyalakan atau dari instrument lain di dalam lab. Bising tersebut mirip dengan suara kompresor atau motor listrik. Setelah itu, dari dalam gedung terdengar suara orang yang sedang mengobrol melalui telepon. Namun tiba-tiba, pendengaran kembali terganggu dengan adanya pesawat terbang yang melintas.

3. Jalan sebelah Timur Gedung GD – Selasar GD – Amphiteathre Arsi

Di area ini, terdengar suara tepuk tangan dan orang yang sedang mengobrol dari arah Sekre IMG. Lalu ketika berjalan menuju Selasar GD, terdengar suara burung yang berbeda dengan suara burung yang terdengar di dekat Gedung TL. Setelah itu, bising dari kendaraan bermotor yang melintas kembali terdengar. Di Amphiteathre Arsi , pengamat mendengar adanya suara troli yang sedang didorong dari arah Gedung Arsi. Selain itu, terdengar juga suara mirip pompa air di tempat tersebut.

4. Belokan Gedung SR – Jalan sebelah timur Galeri Soemardja

Pada area ini terdengar suara piring yang berasal dari dalam Gedung Arsi. Setelah itu terdengar suara sepeda dan ramp besi yang terlindas sepeda. Lalu terdengar suara berdecit dari dari arah Lapangan Merah Gedung SR. Saat berada di Jalan sebelah timur Galeri Soemardja, terdengar sayup – sayup suara kendaraan bermotor dari arah Jalan Ganeca. Terdengar pula suara burung yang berbeda dengan kedua suara burung yang terdengar sebelumnya.

5. Parkiran SR – Lapangan Rumput SR

Pada area parkiran SR, terdengar suara kendaraan bermotor di Jalan Ganeca. Selain itu, terdengar suara alarm mobil. Ketika memasuk lapangan rumput SR, terdengar suara dedaunan yang terkena angin dan beberapa suara burung dari arah atas. Suara tersebut masih terdengar meskipun terdapat bising dari jalan raya.

6. Selasar selatan Aula Timur

Di area ini terdengar suara orang yang sedang merapikan catering. Lalu, ketika pengamat berjalan menuju ATM Centre, terdengar suara dari pipa kondensor AC Aula Timur. Setelah itu terdengar suara batuk dari salah satu pengamat. Lalu, terdengar suara tanah yang dilemparkan ke atas rumput oleh petugas yang sedang merapikan rumput.

7. ATM Centre – Boulevard

Di ATM Centre, terdengar suara pintu ATM yang sedang dibuka. Bersamaan dengan hal tersebut, terdengar suara soundtrack ATM yang pintunya sedang dibuka. Namun, terdengar juga suara soundtrack ATM yang sedang tertutup meskipun tidak terlalu jelas terdengar. Lalu, dari dalam kantin KKP terdengar suara kulkas yang sedang dibuka. Pada saat berjalan kea rah Boulevard terdengar suara orang yang sedang mengobrol.
Di area Boulevard terdengar suara rantai besi yang bergoyang dan membentur tiang besi didekatnya. Lalu terdengar suara burung yang berbeda dengan keempat suara burung sebelumnya. Setelah itu, terdengar suara pantulan bola basket dari arah Lapangan Basket. Tak lama kemudian terdengar suara ring basket yang terkena bola basket. Ketika pengamat berjalan di Boulevard, terdengar suara paving block yang terinjak dan seperti terdapat genangan air di bawahnya.

8. Plaza Widya

Ketika kembali ke Plaza Widya, Terdengar suara pesawat terbang yang kembali melintas. Selain itu terdengar suara pompa air dari arah kolam air. Bersamaan dengan hal tersebut semakin terdengar suara air mancur yang pertama kali didengar di pengamatan ini.

Posted in Soundscape

Soundwalk di Kampus ITB

Kamis, 6 Maret 2014 Kuliah Topik Khusus Teknik Fisika ITB saya isi dengan aktifitas di luar kelas dengan topik Soundscape dan Akustika Ruang. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran nyata pada mahasiswa tentang materi ajar yang mereka dapatkan di dalam kelas. Ada keinginan sebelum masa perkuliahan dimulai untuk membawa mahasiswa ke luar kampus untuk mengunjungi bangunan-bangunan spesifik terkait dengan materi kuliah (akustik, lighting, thermal dan energi), akan tetapi setelah hari pertama kuliah dirasakan tidak memungkinkan karena peserta kuliah lebih dari 50 orang. Alhamdulillah di dalam kampus ITB cukup banyak lokasi dan bangunan yang bisa dijadikan studi kasus. Untuk kasus pertama aktifitas dipilih topik soundscape dengan cara Soundwalk, ditambah aktifitas tambahan tentang akustika ruangan di Aula Timur ITB.

Soundwalk adalah sebuah metode yang digunakan untuk mendapatkan persepsi sonic environment oleh manusia. Pada prinsipnya, manusia diminta untuk berjalan dengan silent (tidak sambil bercakap-cakap) dan menggunakan telinganya untuk mendengarkan dan menyimak suara-suara yang diterimanya sepanjang rute perjalanan. Di akhir perjalanan, manusia diminta untuk memberikan rangkuman pengalaman audial yang mereka peroleh. Dalam kegiatan kali ini, mahasiswa peserta kuliah saya bagi menjadi 4 kelompok, dan melakukan soundwalk ke 4 penjuru mata angin di ITB. Soundwalk dimulai dari Plaza Widya Nusantara dan berakhir kembali ditempat yang sama. Peralatan yang digunakan adalah alat tulis dan notes kecil, telinga masing-masing dan alat perekam sederhana (mobile phone) bilamana diperlukan. Saya sendiri mengambil rute perjalanan separuh kampus ITB bagian Timur.

Berikut ini adalah beberapa cuplikan resume pengalaman soundwalk yang dilakukan:

” …. Soundwalking membuat saya ‘mendengar’ banyak bunyi….” – Riska Susanti

“Pagi ini, langkah saya pada anak tangga sumber gaung disambut dengan bising yang tidak biasanya saya dengar. Semakin saya berjalan ke arah timur, bising semakin terdengar. Gedung Mekanika Tanah, disanalah sumber bising terletak. Saya jarang sekali melalui jalur ini. Pun saya melewati jalur ini untuk memenuhi asupan gizi di kantin yang terletak di kawasan ini, suara bising tidak pernah sekeras pagi ini. Namun, semakin saya bergerak ke arah timur dari kampus ini, saya menemukan satu hal yang membuat saya cukup terkejut. Kampus ini masih dihuni oleh banyak burung dengan berbagai jenis spesies serta variasi suara yang berbeda. Kumpulan suara burung ini mulai terdengar ketika saya melangkahkan kaki ke arah Kantin Bengkok. Yang unik adalah, suara burung dan serangga semakin terdengar ketika saya memasuki daerah Fakultas Teknologi Tambang dan Minyak. Mereka ada. Jika dianalogikan dengan komputer, suasanya pada kawasan ini telah berhasil menekan tombol F5 yang ada dalam pikiran saya. Suasana ini hilang ketika saya mendekati Gedung Perpustakaan pusat ITB. Suara kendaraan sudah mendominasi dan mengalahkan riuhnya kicauan burung. Begitu juga ketika saya dan teman-teman memutuskan mendengarkan Bandung dari lantai 8 Gedung PPAU. Saya tidak bisa lagi mendengar suara mereka yang nyaring dan saling bersahutan. Kali ini saya hanyalah mendengar runtutan suara knalpot kendaraan bermotor yang sesekali diselingi oleh suara klakson. Jika tadi pikiran saya sudah ter-refresh dengan suara-suara burung yang cerewet, suasana kali ini berhasil membuat kening saya bergaris. Ya, kampus ini indah dengan segala sudut-sudutnya yang memiliki suasana tersendiri.” – Arinda P. Rachman

“…meskipun sekali-dua cicit Estrildidae dan goyangan ranting dedaunan akibat lompatan Tupaia Javanica juga terdengar.” – Firman Gusti

” …. .. Dari semua hal yang kami temukan selama perjalanan tersebut, ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya, yaitu suara burung. Hampir di semua tempat yang kami lalui terdengar suara burung berkicau. Walaupun saya tidak dapat melihat burung-burung tersebut, saya dapat mengetahui bahwa jumlah burung di setiap tempat tidak sama. Di tempat yang tenang dan tidak banyak orang beraktivitas seperti di Gedung Labtek Pertambangan dan Metalurgi, kicauan burung terdengar lebih ramai daripada di tempat yang ramai. Dari hal tersebut saya menyimpulkan bahwa burung-burung lebih menyukai tempat-tempat yang tenang dimana tidak banyak orang beraktivitas. Tidak menutup kemungkinan fauna lain yang hidup di dalam lingkungan Kampus ITB Ganesha pun mengalami hal yang sama. Maka apabila ‘penghuni’ Kampus ITB Ganesha semakin ramai, mungkin saja tidak akan ada lagi hewan yang hidup di dalam lingkungan kampus.” – Iva Azzahra

“Pertama-tama kesan yang dirasakan adalah tenang dan nyaman, dengan suara burung yang berkicau dan beberapa orang yang lewat, sesekali juga terdengar suara dari petugas kebersihan yang sedang menyapu dedaunan. Namun ketika melewati lingkar luar barat ITB, mulai terdengar suara-suara bising yang berasal dari jalan raya. Suara-suara dari kendaraan bermotor dapat terdengar dengan jelas dari rute tersebut. Belum lagi ketika melewati gedung SBM, suara yang terdengar semakin bermacam-macam. Mulai dari suara kendaraan bermotor dari jalan raya, yang lalu lalang didalam kampus melewati gerbang SBM, suara satpam maupun peluitnya yang sedang mengatur lalu lintas, bahkan terdengar suara musik yang cukup keras yang sepertinya berasal dari pangkalan ojek yang terletak di depan gerbang. Yang menurut saya paling menarik adalah ketika saya dan teman-teman melewati sunken court, dimana ketika melewati nya langsung terasa bahwa sunken court ini adalah salah satu area di kampus ITB yang dari pagi hingga malam selalu ada saja aktifitas yang terjadi karena disinilah dimana orang-orang yang memiliki kegemaran yang sama, hobi yang sama, atau asal yang sama bertemu dan melakukan kegiatan yang mereka suka bersama-sama. Sehingga area ini terasa merupakan area yang paling “hidup” diantara yang lainnya.” – Rhea Aqmarina

“Sehubungan dengan kuliah Topik Khusus A tentang sound walk, saya memilih tempat di sekitar lapangan sipil dan sebelah aula barat ITB (pada hari kuliah sayaberhalangan hadir karena sakit). Ketika saya melakukan sound walk sekitar jam 11.00 siang, suara yang terdengar jelas adalah kicau burung dan kendaraan yang sesekali lewat dari arah Jalan Taman Sari dan Ganesha. Dari arah pepohonan di sekitar lapangan tersebut ada sekitar lebih dari 2
jenis suara burung yang berbeda, berselangseling. Sedangkan suara kendaraan lebih didominasi oleh suara mesin mobil (sepertinya suara angkutan kota) dan klakson kendaraan. Pada saat itu angin berhembus cukup kencang, suara gemerisik daun juga sesekali terdengar. Dari kejauhan, arah himpunan sipil, saya mendengar suara obrolan mahasiswa. Tidak terlalu jelas, namun cukup terdengar.Tidak terlalu banyak ragam suara yang terdengar pada saat itu, mugkin karena masih dalam jam kuliah dan sebagian besar mahasiswa masih berada dalam kelas. Suara kicau burung paling dominan pada jamjam
tersebut karena lingkungan kampus ITB cukup rindang berpohon.” – Cecilia Tities G

” …. Suasana yang menarik dan menenangkan hati kembali terasa ketika kami berbelok memasuki lorong terluar Program Studi Teknik Sipil. Suasana begitu hening dan sayup-sayup terdengar suara burung di antara pepohonan. Suara burung itu semakin terdengar ketika kami berjalan melewati Lapangan Sipil dan membuat saya pribadi terbuai dengan suara tersebut. Rasanya ingin sekali memejamkan mata sambil berbaring di antara rerumputan hijau ini.
Sekali lagi dan lagi, suasana tersebut rusak oleh suara bising kendaraan yang lewat. Lapangan Sipil ini memang dekat dengan Jalan Ganeca di bagian Selatan dan Jalan Taman Sari di bagian Barat. Terlebih Lapangan Sipil ini juga sangat dekat dengan pintu masuk motor dan tempat parkir. Kami sedikit melewati tempat parkir motor di sana, namun tidak terlalu bising. Hanya suara tiga atau empat pengendara yang sedang memarkirkan motornya…. ” – Yulia Rahmawati

“Luar Biasa. Pengalaman pertama saya ‘mengamati’ dengan cara mendengarkan secara seksama ini dilakukan pada sayap tenggara kampus ITB Ganesha. Rute yang dilalui adalah Plaza Widya Nusantara-sayap kiri Labtek VIII-selasar prodi Teknik Lingkungan-prodi Kriya-Prodi Geodesi-sayap kiri prodi Planologi-Arsitektur-jalur teduh Parkiran SR-jalan Ganesha depan Parkiran SR-Lapangan SR-sayap kiri Aula Timur-ATM Center (boulevard)-Campus Center-Monumen Soekarno-Air Mancur Indonesia Tenggelam-Plaza Widya Nusantara. Secara umum sisi tenggara kampus ITB relatif sepi dan rimbun. Disekitar labtek VIII, suara didominasi oleh pekerjaan perawatan kampus seperti alat pemotong rumput dan suara menyapu dedaunan. Di sekitar prodi Teknik Lingkungan, suara didominasi oleh kegiatan laboratorium ayng kebetulan bisa diintip dari luar. Saya baru sadar bahwa dentingan suara peralatan laboratorium sedemikian berdenting dan nyaring. Sensasi pendengaran menenangkan ditambah udara sejuk saya rasakan di sekitar Labtek Planologi dan Arsitektur. Tidak terdapat polusi suara yang tinggi pada area ini. Hal yang unik adalah sebagian besar suara latar di area Planologi dan Arsitektur bersumber dari outdoor unit AC yang dipasang relatif rendah disamping gedung. Pada selasar samping kompleks gedung SR, terdengar sayup-sayup percakapan yang tidak dapat dengan jelas ditangkap. Hal yang unik pada area ini adalah beberapa kali terdengar suara serangga. Hal ini kemungkinan terjadi karena masih banyaknya pepohonan di area ini. Berlanjut ke area Parkiran SR, suara yang mendominasi adalah kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Ketika pengamatan dilanjutkan ke area lapangan SR, kombinasi sengatan matahari pagi dan suara latar dengan level rendah membuat suasana di area ini sangat nyaman. Pada area dari Aula Timur sampai Campus Center, suara yang mendominasi adalah percakapan penduduk kampus dan lalu lalang kendaraan bermotor. Dari Campus Center ke Plaza Widya Nusantara, kembali suara didominasi oleh air mancur Indonesia Tenggelam. Dari pengalaman unik ini saya berkesimpulan bahwa suasana yang menyatu dengan alam, termasuk suara, memberi sensasi yang menenangkan. Kampus ITB Ganesha perlu memberi perhatian penuh pada penanaman kembali pohon untuk memberikan habitat yang baik tidak saja bagi manusia didalamnya namun bagi makhluk hidup lain seperti serangga dan burung. Selain itu pembatasan kendaraan bermotor juga sepertinya perlu diperhatikan untuk menjaga pencemaran ambang suara. Suara nyaman tentunya membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.” – Kumowarih

“… Hal kedua yang saya sadari adalah bahwa kesan nyaman yang ditimbulkan dari suara-suara natural yang ada di ITB tidak hanya berasal dari suara atau audio itu sendiri saja, akan tetapi juga didukung oleh kesan pemandangan visual yang baik, karena tidak bisa dipungkiri bahwa kampus ITB adalah salah satu dari sedikit kampus yang masih bernuansa hijau bila dibandingkan dengan kampus-kampus lainnya di luar sana. Bisa kita bayangkan bila suara-suara alam yang kita dengar dihadapkan dengan pemandangan yang tidak enak seperti gedung-gedung yang rusak dan kotor karena tidak terurus, atau tempat pemukiman yang sangat kotor, dan lain-lain. Pemandangan seperti itu akan merusak seluruh kesan nyaman dan menenangkan yang
ditimbulkan oleh suara-suara alam tersebut. Hal ini berlaku sebaliknya karena pemandangan seindah apa pun bila diganggu dengan suara yang tidak enak didengar seperti suara mesin berat dan sebagainya, dapat merusak pemandangan yang tengah kita nikmati. Maka dari itu kita pasti mengenal ruangan yang disebut dengan audiovisual, dan perjalanan soundscape ini menyadarkan saya bahwa aspek-aspek audio dan visual yang ada disekitar kita merupakan suatu perpaduan yang saling mendukung satu sama lain.” – Primadhya

“Perjalanan dimulai dari bagian tengah kampus, Plaza Widya. Terdengar suara air mancur dimana terdapat suara air yang bertabrakan dengan air, dan suara air yang bertabrakan dengan ubin. Keduanya menciptakan suara yang berlainan namun terdengar seirama dan kontinu. Di laboratorium sipil terdengar suara orang yang sedang menggunakan gergaji dan juga suara orang sedang mengangkut barang keatas mobil pickup, terdengar suara besi tipis yang penyok kemudian kembali ke keadaan semula. Tak jauh dari sana, kearah kantin bengkok, terdengar suara burung (tunggal), piring, sendok, dan garpu yang sedang dicuci. Sesekali terdengar suara kerupuk yang sedang digigit. Melewati daerah timur jauh, terdengar suara fan dari AC yang saling bertumpukan, suara puluhan burung pipit, dan juga suara seekor tonggeret. Di poolbus terdengar suara pekerja yang menggunakan las dan juga suara linggis yang ditumbukkan ke tanah, suara burung pipit mulai berkurang. Semakin ke selatan terdengar semakin banyak suara kendaraan baik dari arah kiri maupun kanan. Perjalanan dilanjutkan ke gedung PAU. Ketika memasuki gedung, banyak suara sepatu yang bertabrakan dengan ubin dan berdengung cukup lama. Menaiki lift terdengar suara mesin yang bising, mungkin suara ballast. Di lantai 8 PAU, terdengar suara kendaraan bermotor dari kejauhan, burung burung bersiul terdengar lebih keras, dan terdengar suara orang yang berteriak sambil bermain bola di saraga. Dalam perjalanan pulang, ketika kembali melewati sipil, terdengar suara seperti orang sedang menempa, dan juga suara benda berukuran besar seperti terbanting dengan keras.” – Astra Goldie

“Terdapat beberapa hal yang cukup menarik dari soundwalk ini. Ketika melakukan soundwalk, saya merasa sebuah hal yang berbeda karena pada saat itu saya lebih banyak menggunakan indra pendengaran saya, sehingga beberapa hal yang terkadang abai untuk didengar melalui soundwalk ini dapat terdengar dengan baik. Dari awal rute hingga akhir rute, suara yang banyak terdengar adalah suara kendaraan. Suara ini berasal baik dalam kampus maupun dari luar kampus (pada rute lingkar luar). Mungkin terdengar agak aneh, namun kampus yang seharusnya menjadi tempat yang minim gangguan suara justru terdapat gangguan suara berupa suara kendaraan, baik itu suara mobil, motor, pesawat terbang bahkan suara bising dari knalpot modifikasi. Pada beberapa bagian kampus terdengar juga suara pekerjaan dari pekerja berupa suara sapu serta suara garukan tanah. Uniknya saya baru menyadari tenayata pada beberapa titik masih terdengar suara burung-burung berkiacauan terutama pada daerah berpohon. Karena saya berjalan maka terdengar suara langkah kaki serta beberapa langkah kaki orang lain yang berjalan, suara dentingan antar handel-resleting pun dapat terdengar. Di lingkar luar, sempat terdengar suara yang berasal dari radio beraliran musik dangdut. Ketika saya melewati lingkar dalam tepatnya di sunken court yang merupakan tempat kegiatan mahasiswa, terdengar suara beragam, dari suara obrolan, tawa, sapaan hingga suara gitar. Ketika saya tidak sengaja menginjak ubin yang sudah agak terlepas, suara ubin tersebut terdengar dengan cukup jelas. Di daerah sekitar pusat gaung sebelum kembali ke daerah kolam Indonesia Tenggelam, terdengar suara roda yang berasal dari tempat sampah beroda yang dibawa oleh petugas kebersihan. Demikianlah suara-suara yang saya dengar serta pengalaman soundwalk saya ketika melakukan hal tersebut di daerah barat laut kampus ITB.” – William Anthony

“Soundwalking adalah kegiatan merasakan dan mendengar suasana yang ada di sekitar sepanjang rute perjalanan. Rute yang dipilih berada di area lingkungan kampus ITB, yaitu mulai dari gedung labtek VI sampai parkiran sipil. Kegiatan dimulai pada sore hari di hari Kamis sekitar pukul 16.00 WIB dan memakan waktu 15menit. Suasana pertama mulai dirasakan pada labtek VI dimana kondisinya tidak begitu ramai hanya terdengar beberapa mahasiswa berdiskusi di lantai 2. Sampai di lantai dasar suasana nya sepi tidak ada mahasiswa lalu lalang tetapi mulai terdengar suara petir. Perjalanan dilanjutkan menuju labtek V, saat melewati mushola IF terdengar suara mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menjalankan ibadah, mulai dari suara air mengalir, suara orang wudhu, suara orang sedang shalat berjamaah. Lewat sedikit dari mushola suara-suara yang terdengar berubah menjadi diskusi dan canda-tawa dari kumpulan mahasiswa IF yang sedang duduk-duduk di depan HMIF. Tetapi suara mereka tetap terkalahkan oleh suara petir yang kembali datang menggelegar. Sambil terus berjalan tak terasa sampai di area jalan antara area parkir labtek V dengan gedung fisika, terdengar suara motor yang sedang di-starter dan suara mesin mobil dari mobil yang melintas. Masih terus berjalan sampailah di area dekat HIMAFI, di area ini suara yang terdengar dapat dibilang beragam dan tidak berhubungan satu sama lain, menimbulkan kesan ramai bising gaduh; mulai dari suara gamelan, suara mobil, suara orang bermain pingpong, suara mahasiswa menyanyi dan sampai pada suara petir yang kembali terdengar. Tanpa berhenti berjalan sampailah di area dekat Aula Barat, berkebalikan dengan suasana ramai sebelumnya, suasana di area ini justru tenang dan tidak bising walaupun bisa dibilang jaraknya tidak jauh dari area HIMAFI, sesekali terdengar langkah kaki, suara mobil dan suara petir yang kembali menggelegar. Ingin rasanya duduk sebentar tetapi karena suara petir dan terlihat langit mulai mendung maka perjalanan dilanjutkan kembali menuju area parkir sipil. Sebelum mencapai area parkir, area yang harus dilewati adalah area lapangan sipil, pada area ini terdengar suara motor dan mobil serta dari kejauhan terdengar ada suara anjing menggonggong dan kembali suara petir datang. Perjalanan pun mencapai akhirnya yaitu area parkiran sipil, pada area ini terdengar suara klakson dari kejauhan dan suara motor yang sedang berbaris menuju keluar parkiran. Kegiatan ditutup dengan datangnya suara petir yang kembali menggelegar.” – Angelica

“Dari kuliah di luar kelas hari itu, saya menyadari bahwa di beberapa tempat di ITB masih ada suara kicau burung dan bunyi serangga yang terdengar. Beberapa tempat itu adalah di selasar arsitek dan taman dekat parkiran seni rupa. Sementara itu noise terbesar yang dijumpai selama pengamatan adalah suara knalpot motor dan mesin pemotong rumput, disamping suara obrolan para mahasiswa yang berpapasan dengan rombongan kami. Hal ini sangat menarik karena di tengah keadaan kampus yang dapat dibilang hiruk pikuk, ternyata masih ada kicau burung dan suara serangga, juga suara percik air di sekitar Indonesia tenggelam. Sangat menyenangkan sebenarnya, mengingat letak kampus ITB yang berada di tengah business area di Bandung, suara-suara alam ini memberi sedikit rasa tenang di tengah rush hour yang seakan selalu membuat semua orang tergesa-gesa. Semoga saja burung-burung dan serangga ini tidak menghilang setelah proyek-proyek pembangunan di ITB selesai.” – Ran Kurogane

“Kolam Indonesia Tenggelam menjadi titik start dari jalan‐jalan di pagi ini. Tempat yang pertama kali dilewati yaitu area Labtek V. Disini kondisinya cukup nyaman untuk kegiatan perkuliahan, hanya sesekali ada suara mobil yang hendak parkir. Begitu pula ketika melewati gedung Fisika. Suasananya hening tapi seringnya kendaraan yang lalu lalang di jalan sebelahnya cukup mengganggu. Kondisi yang sangat berlawanan terjadi di area Aula Barat. Suara burung‐burung yang berkeliaran disitu nyaris hilang sama sekali karena ditimpali oleh suara kendaraan bermotor, terutama sepeda motor, yang selalu melintas di daerah itu. Daerah selanjutnya yang dilintasi adalah jalan di dekat BSC A dan bekas gedung Pramuka. Daerah ini cukup tenang, walaupun di jalan Tamansari terdengar kendaraan yang lalu lalang dan juga bunyi klaksonnya. Daerah GKU Barat menutup perjalanan ini, suara dari kantin seperti yang dikatakan oleh Pak Joko sepertinya sangat signifikan dalam menyumbang derau terhadap ruangan kelas di GKU Barat. Hal lain yang hilang dari daerah ini adalah saat pertama kali kuliah di GKU Barat jam 7 pagi, masih sering terdengar suara binatang, entah dari tupai atau dari penghuni Kebun Binatang.” – Ahmad Ibrahim

Hanya satu yang terlintas dalam benak ketika memutuskan untuk menelusuri arah barat laut Institut Teknologi Bandung: saya ingin mendengar keheningan. Bagaimanapun, untuk sebuah kampus yang terletak di tengah kota dan dihuni oleh ribuan mahasiswa, keinginan itu tak lebih dari sebuah anganangan. Ketika melangkah di antara Labtek VI dan Labtek Biru, terdengar obrolan dari segala arah. Berbelok menuju gedung Teknik Mesin, suara pompa kolam mesin membuyarkan keheningan yang hampir saya dapatkan. Lingkar luar barat laut yang saya lewati pun riuh dengan gemuruh kendaraan dari Jalan Tamansari, lengkap dengan klakson yang berteriak mengusir para penyeberang jalan. Sampai di gedung SBM, sama saja, ditambah dengan banyaknya kendaraan yang keluar-masuk lewat gerbang SBM. Di Sunken, percakapan yang terlalu hidup di sekretariat unit pun semakin menjauhkan saya dari keheningan. Begitu pula di sepanjang jalan dari Gedung Oktagon menuju TVST, keributan di setiap selasar gedung begitu mengganggu. Sepertinya saya berharap terlalu banyak untuk bisa bersahabat dengan keheningan.” – Adinda Bunga Juwita

“Dari kejauhan arah gedung TVST, terdengar suara orang sedang menyapu dan burung yang sautan karena banyak pohon yang berada disekitar Labtek 6 dan taman sebelah TVST. Selain itu terdengar suara pesawat dan suara
bercengkrama dari dalam kelas. Banyak tempat di ITB yang sebenarnya menarik karena kombinasi warna dan salah satunya tempat yang saya lewati ini, pohon-pohon yang disinari matahari, jalanan bersih, suara burung yang berkicau saling menyaut namun sayang area ini jadi tempat parkir sebagian sepeda motor dan mobil, padahal area ini dirasa tepat untuk suasana kampus dengan karakter untuk pejalan kaki atau bersepeda karena terlalu bising jika disandingkan dengan ruang kelas. Kucing menjadi fenomena di ITB karena banyak ditemui pula di area ini. Sampai di ujung Labtek Biru dengan suasana yang hijau-nya, memasuki daerah Teknik Mesin dan bersebrangan dari Labtek Biru yang identik dengan suara burung, suara mesin sudah bergemuruh dari sebuah ruangan dan sepanjang Laboratorium Teknik Mesin terdengar mesin-mesin bersuara.Selain suara mesin, jalanan menuju Gedung Teknik Industri sangat bising karena daerah ini berdekatan dengan Jalan Tamansari yang memiliki variasi suara mulai
dari motor dengan berbagai kecepatan, mobil, bus maupun truk-truk yang melewati jalanan tersebut. Sama halnya jalanan sebelah Gedung Teknik Industri, daerah SBM juga memiliki tingkat kebisingan yang sama ditambah suara orang-orang berjualan dari gerbangnya.Dari Gedung SBM selain orang bercengkarama terdengar suara pintu otomatis. Kami terus berjalan melalui jalanan Gedung PAU yang sangat sejuk disuguhi sinar-sinar matahari yang masuk ke celah-celah pohon yang rindang namun jalan ini banyak dilalui mobil membuat pejalan kaki tidak nyaman karena jalanannya pun terbatas dan suara dari Jalan Tamansari. Kami menuruni jalanan Sanken dengan pemandangan yang tidak terlalu enak karena ini adalah pusat kegiatan seni mahasiswa, jadi daerah ini sedikit acak-acakan dan hanya satu bahu jalan yang bisa dipakai padahal ada dua sisi. Hampir sampai ke pusat ITB lagi, melewati daerah Gedung Oktagon, Comlabs, TVST dan Gedung PLN saya sangat suka karena perpaduan warna hijau
taman-taman dengan berbagai bunga-bunga serta warna kuning sinar matahari pagi saat itu yang begitu hangat. Tetapi ada yang lebih menarik dari pemandangan asri ini yakni suara gemericik air bagai memberi kesegaran dari dahaga, air mancur itu menjadi pusat bagai mata air di gunung dan semakin dengat suara air itu tidak hanya satu tetapi saling berirama dari jalur air yang dibuat.” –  Sri Indah

“Menyelusuri koridornya, saya dapat merasakan aliran angin dengan suara yang rendah yang lalu menyapu rumput-rumput di halamannya. Seolah, saya dapat kembali merasakan daerah dago delapan puluh tahun lalu yang menjadi tempat favorit bagi para petinggi petinggi penjajah kala itu. Bentuk bangunan yang tak banyak diubah membuat kesannya seolah masih terasa hingga kini. Jalanan di arah barat dari gedung ini pun menyimpan nilai tersendiri. Banyaknya pohon rindang membuat suara-suara burung dan beberapa serangga masih dapat dinikmati dengan baik ketika hening. Jalanan yang lega, rumput yang hijau, senada dengan rindangnya kebun binatang bandung yang ada disebrangnya. Sayang, jalan tamansari kini sudah terlalu ramai. Bila jalanan sedang ramai, kicauan burung akan seketika senyap tergantikan.” – Umar Hanif

“Pada hari Kamis, 6 Maret 2014 lalu, saya dan beberapa kawan saya berkeliling ITB khususnya di area tenggara (gedung SAPPK, FSRD, Teknik Lingkungan, Teknik Geodesi, sekretariat LFM, Aula Timur, dan sekitar area parkir ITB di dekat FSRD). Saya cukup terkesan dengan suasana akustik di sekitar sekretariat LFM. Di sana saya mendengarkan kombinasi bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh percakapan-percakapan orang di LFM dan suara kendaraan yang lewat dari Jalan Ganesha. Namun saya lebih terkesan pula dengan suara peluit tukang parkir atau petugas keamanan yang berasal dari depan gerbang utama ITB. Suara yang melengking keras tersebut menguatkan suasana bahwa daerah depan ITB merupakan daerah yang padat aktivitas manusia khususnya dalam kaitannya dengan pengendalian lalu lintas.” – A.K. Pamososuryo

“Untuk sound walk kali ini, saya menggunakan rute dari barat daya menuju barat dari Kampus ITB. Saya memulai perjalanan saya dari lapangan parkir sipil – gedung Program Studi Fisika – Labtek VI – GKU Barat – Campus Center Barat dan saya sempat beristirahat pada lantai dua gedung Labtek VI. Suara yang saya dengar pada saat di lapangan parkiran sipil adalah suara kendaraan bermotor yang menurut saya sangat menganggu kenyamanan. Pada saat saya
berjalan menuju labtek VI dan GKU Barat, suara kicauan burung dan deruan angin sangat terdengar terutama pada gedung labtek VI lantai 2. Menurut saya suara ini dapat memberikan perasaan tenang, sangat cocok untuk mengerjakan tugas dimana ketenangan dan keheningan sangat diperlukan. Setelah itu, saya berjalan ke arah Campus Center Barat, di tempat ini suara didominasi oleh suara percakapan dan suara alat musik yang dimainkan. Walaupun sangatramai, saya merasa nyaman di tempat ini, karena adanya alunan musik daerah yang dimainkan oleh unit kesenian mahasiswa.” – Andreas

“Pada soundwalk yang saya alami, saya dapat menyimpulkan bahwa kampus ITB di pagi hari dapat memberikan suasana yang nyaman dan tentram untuk beraktifitas. Saya mengawali soundwalk saya di Plaza Widya Nusantara, dimana suara kicauan burung berpadu dengan suara petugas kebersihan yang menyapu dedaunan, menimbulkan kesan sebuah taman kota yang asri dan tenang. Namun persepsi saya mulai berubah ketika saya mulai berjalan ke arah barat laut melewati lingkar luar barat kampus ITB. Kesan asri dan tenang tersebut dengan cepat berubah karena suara bising kendaraan bermotor yang melewati jalan Tamansari dengan mudahnya bercampur dengan suara lainnya, menimbulkan kesan bahwa saya sedang berjalan di samping jalan raya langsung. Kesan tersebut semakin didukung dengan suara peluit para satpam yang mengatur akses keluar masuk kendaraan ke dalam kampus ITB dan juga suara stereo tukang ojek yang cukup keras hingga dapat didengar dari dalam area kampus. Persepsi saya akan lingkungan sekitar kemudian berubah kembali ketika saya berjalan melewati sunken court, dimana suara aktifitas mahasiswa terdengar dengan jelas, menimbulkan kesan bahwa saya sedang berada dalam sebuah public space yang cukup ramai dan penuh kegiatan. Setiap daerah Kampus ITB memiliki karakternya masing-masing  yang memberikan persepsi yang berbeda-beda terhadap lingkungan sekitar.” – A.C. Nugroho

“Saya memilih mengitari ITB daerah barat laut. Dimulai dari depan Labtek 7, saya dan teman-teman memulai soundwalk. Selama melakukan soundwalk, saya mendengarkan lingkungan yang saya lewati, dimulai dari suara kicauan burung, sapu, gerobak sampah yang ditarik sampai kendaraan bermotor yang lalu lalang di dalam ITB. Di daerah sekitar Mesin, yang awalnya saya kira sepi ternyata banyak suara yang saya dengar di sana selain suara burung. Selain kendaraan bermotor di dalam ITB, suara kendaraan bermotor juga sangat terdengar jelas di daerah gerbang belakang SBM karena jaraknya yang sangat dekat dengan jalan raya. Setelah dari SBM, jalur yang diambil setelah melewati SBM adalah jalur Sunken, selama berjalan di Sunken, realitanya sama seperti yang saya bayangkan sebelumnya, dipenuhi oleh suara mahasiswa-mahasiswa di unit-unit yang ada di Sunken, dan suara alat musik seperti gitar, genderang yang dimainkan. Selain itu di beberapa tempat juga masih ada yang sepi, yang hanya terdengar suara burung di sana.” – Pramudhita

“Sebelumnya saya sudah cukup sering mendengarkan suara-suara di sekitar kampus ini, terutama pada pagi dan petang ketika pergi dan pulang setelah sembahyang di Masjid Salman dari depan kampus ITB ke daerah Sunken Court. Suara yang biasa saya dengar tidak banyak karena pada pagi hari kampus masih sangat sepi dan sesekali hanya terdengar suara daun bergesekan karena angin atau serangga-serangga malam. Soundwalk yang kami lakukan pada mata kuliah ini memberikan persepsi yang jauh berbeda daripada yang sering saya dapatkan pada pagi hari. Kampus yang begitu sepi pada pagi hari bisa menjadi sangat ramai pada siang hari. Kami memulai soundwalk dari air mancur Indonesia Tenggelam sehingga dari awal kami mendengarkan suara air mancur yang cukup terdengar dari selasar empat Labtek. Kemudian pada selasar Labtek V juga terdengar suara pompa air yang mungkin menggerakkan air pada air mancur, sesekali juga terdengar suara kegiatan perkuliahan di Labtek V. Di lingkungan ITB ini sering sekali ditemukan kawanan burung karena memang terdapat larangan mengganggu kawanan burung di daerah ini sehingga kami sering mendengar suara berbagai macam burung sepanjang perjalanan kami. Akan tetapi, begitu mendekati daerah lapangan sipil, suara kendaraan bermotor semakin banyak terdengar. Hal ini karena di daerah tersebut terdapat salah satu gerbang masuk ke dalam kampus dan bersebelahan dengan jalan Tamansari yang selalu ramai pada siang hari. Kami juga mendengar suara pemotong rumput dari petugas kebersihan di gedung Basic Science Center A dan masih sering kami dengar suara burung di daerah lingkar barat kampus yang masih penuh dengan pepohonan. Setelah itu kami kembali ke daerah air mancur untuk berkumpul dan menceritakan pengalaman kami ketika perjalanan.| – P.H. Purwoko

“Sebuah kampus yang asri adalah hal pertama kali saya pikirkan ketika pertama kali masuk ke kampus gajah ini. Lalu kemudian kamis 6 Maret 2014, saya dan kawan-kawan yang mengambil mata kuliah topik khusus A berkeliling kampus untuk ‘merasakan’ kampus dengan cara yang berbeda. Saya dan beberapa teman memilih untuk mengitari area barat laut. Dimulai dari gemericik air mancur indonesia tenggelam, suara aliran air dari plaza widya, kemudian mengambil ke arah kiri ke arah Prodi Mesin. Dijalanan tersebut terdengar bunyi kendaran-kendaraan yang berseliweran dan juga bunyi kompresor dari outdoor unit AC Split dari gedung Labtek 6. Selanjutnya kami mengambil arah ke kolam mesin menuju lingkar barat ITB. Di area tersebut terdengar suara pompa kolam dan juga suara berbagai mesin dari dalam bangunan-bangunan. Saat melewati area lingkar barat, suara didominansi oleh bising dari jalan tamansari, selanjutnya dari area pembangunan di wilayah Prodi Matematika, dan juga suara gemerincing minyak di kantin SBM. Di area gerbang SBM, suara peluit satpam, musik dangdut, dan riuh kendaraan bermotor menjadi satu. Selanjutnya area Sunken Court diramaikan oleh suara percakapan mahasiswa, juga ditemani oleh petikan gitar. Area TVSt dan Oktagon ditemani oleh kicauan burung, suara langkah kaki dan tong sampah yang dibawa oleh petugas kebersihan. Ternyata selain pemandangannya yang asri, kampus ini menyimpan banyak suara yang menarik.” – M.M. Akbar

“Rute yang saya lalui adalah Plaza Widya – Plaza tengah Campus Center – Gerbang depan ITB – Lapangan Aula Timur _ Selasar Arsitektur – Jalan dalam sisi Timur – Perpustakaan – Plaza Octagon/TVST – Plaza Widya. Di sepanjang rute perjalanan, sound source yang membuat nyaman adalah suara kicauan aneka burung dan suara tonggeret (atau garengpung dalam bahasa Yogya). Sayang sekali persepsi nyaman mendengar kicauan burung ini seringkali terganggu oleh suara bising yang dihasilkan oleh knalpot motor yang tanpa henti melintas di beberapa bagian rute perjalanan. Tampaknya perlu dipikirkan ulang kebijakan mengijinkan motor masuk kampus ITB. Secara umum, di poros tengah kampus ITB, dipersepsi berbagai aktifitas yang mempengaruhi fungsi audial, dengan komponen bising utama yang mengganggu adalah bising kendaraan bermotor. Kondisi sonic environment yang paling nyaman adalah di Plaza Widya Nusantara (suara air mancur dominan), dekat Aula Timur (suara kicauan burung dan tonggeret) dan di pojok gedung Arsitektur (kicauan burung), serta di sebelah timur perpustakaan (kicauan burung). Pada area-area tersebut level tranquility masih terasa cukup baik.” –  Joko Sarwono

“Untuk tugas ini, kami memilih jalur barat daya. Perjalanan kami dimulai dari kolam Indonesia Tenggelam, berbelok ke selasar Labtek 5, melewati TU FTI, lalu berbelok ke jalur teduh yang melewati secretariat HIMAFI, berbelok menyusuri lorong-lorong ruang kelas di bagian sipil hingga berhenti sesaat di jalan utama dekat parkiran sipil. Selanjutnya kami menyusuri jalan hingga dekat pertigaan yang mengarah ke GKU Barat, lalu berbelok ke GKU Barat, melewati lorong labtek 6 hingga kembali ke kolam Indonesia Tenggelam. Pada awal keberangkatan, suasana kampus masih sepi, maklum, pukul 9 bukanlah jam umum mahasiswa beristirahat. Suara dosen sayup-sayup terdengar dari balik pintu ketika kami melewati lorong ruang kelas. Lorong Fisika pun tidak berisik seperti biasanya, karena tidak ada yang berkumpul pada saat itu. Memasuki jalur dekat parkiran sipil, kebisingan mulai terdengar. Mulai dari suara mesin motor yang sedang diparkirkan, derum knalpot dan mesin mobil hingga klakson dari arah jalan tamansari. Menjauhi jalan tamansari, semakin kecil pula kebisingan yang terdengar. Tidak ada yang terlalu unik selama soundwalk kami, tidak pula banyak terdengar suara tonggeret, hanya kicau burung dan suara anak-anak kucing yang sedang bermain-main disekitar lorong fisika dan sipil.” – Avi Melati

“Apa yang saya pendengaran saya rasakan selama saya melakukan pengamatan sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa. Saat mengamati area sepanjang jalanan, saya mendengar suara orang menyapu, suara langkah kaki orang yang berjalan, suara burung-burung yang (mungkin) sedang bertengger di pohon, dan suara kendaraan bermotor. Saat melintasi laboratorium, saya mendengar suara-suara alat-alat laboratorium yang sedang dinyalakan. Saat melewati sunken court, suara orang-orang yang sedang bercakap sangat terdengar jelas.  Namun terdapat satu hal yang mungkin bisa saya sebut sebagai hal yang unik, yaitu “gradasi” soundscape-nya. Perubahan soundscape dari satu area ke area lainnya sangatlah drastis. Dari area yang menenangkan ke area yang relatif “berisik”, transisinya menurut saya hampir tidak ada. ” – Ega Risandy

“Daerah yang saya lewati pada soundwalking kali ini adalah daerah tenggara ITB, dengan rute Plaza Widya – Labtek VIII – Selasar Teknik Lingkungan – Himpunan IMG – Selasar Geodesi – Planologi – Parkir SR – Jalan Ganesha – Lapangan SR – Aula Timur – ATM Centre – Campus Centre – Plaza Widya. Secara umum saya menangkap suasana akustik yang cukup nyaman selama berjalan di daerah tenggara ITB. Pepohonan yang cukup rimbun di dekat parkiran SR nampaknya menjadi tempat hinggap burung dan serangga karena suara dari binatang-binatang tersebut cukup mendominasi dan memberi persepsi tenang. Sumber suara lain yang memberi persepsi nyaman adalah suara air mancur di Plaza Widya. Sayangnya masih ada sumber suara yang memberi suasana kurang nyaman, yaitu suara dari kendaraan bermotor yang melintas. Namun intensitasnya tidak terlalu tinggi karena daerah tenggara ITB cukup jarang dilalui kendaraan. Hal lain yang menarik adalah adanya perbedaan yang cukup mencolok antara suasana di Jalan Ganesha dengan jalan di dekat Aula Timur. Adanya lapangan rumput ternyata cukup mampu mereduksi kebisingan dari lalu lintas Jalan Ganesha.” – Sigit Yudanto

“Saya mengambil arah ke timur laut. Diawali dari Plaza Widya, berlanjut ke Labtek VII, kantin Bengkok, belakang kantin Bengkok dan melewati himpunan timur jauh, pool bus, parkir utara, gerbang belakang, masuk gedung PAU sampai lantai 8, depan Comlabs, berbelok ke lorong antara gedung Mekanika Tanah , dan diakhiri di Plaza Widya. Suara yang banyak terdengar di area tengah kampus (sekitar Plaza Widya, kantin Bengkok, Comlabs, dan antara Mekanika Tanah serta PLN) adalah suara kendaraan bermotor, unit AC outdoor, dan suara petugas kebersihan sedang menyapu. Di lingkar luar kampus (belakang kantin Bengkok, himpunan timur jauh, dan parkir utara) banyak terdengar suara burung. Setidaknya ada 5 suara burung berbeda yang dapat terdengar. Karena banyaknya suara burung yang dapat terdengar, daerah ini sedikit lebih menenangkan dibanding area tengah kampus yang banyak aktivitas manusia. Saya naik ke lantai 8 gedung PAU, di sana dapat terdengar jelas suara beberapa burung dan suara kendaraan bermotor yang melintasi gerbang belakang kampus. Keluar dari PAU, melintasi area Sunken Court yang suasananya sangat “mahasiswa”, ada suara mahasiswa bercakap-cakap dan musik-musik dari unit kesenian di sana.” – Felicia Shawny

Posted in Soundscape

Sinopsis Penelitian tahun 2014 : Akustika Ruang Kelas di Universitas

Ruang kelas yang ideal semestinya memiliki performansi akustik yang baik untuk berkomunikasi dimana aktifitas wicara (speech) merupakan aktifitas akustik utama yang terjadi. Kondisi akustik ruang kelas yang ideal sampai saat ini masih mengacu pada standard yang sudah lama dipakai yakni ANSI S12.60-2002 American National Standard Acoustical Performance Criteria, Design Requirements, and Guidelines for Schools.

 

Fokus dalam penelitian lanjutan yang diusulkan adalah melihat secara detail pengaruh pemasangan Absorber-Diffusor (Abfusor) pada akustika ruang kelas dan auditorium, terutama terkait dengan upaya menghasilkan kualitas pendengaran yang sama di seluruh posisi duduk dalam ruangan tersebut(tingkat difusivitas) sekaligusmengurangi kebisingan. Untuk memahami seberapa tingkat difusivitas yang dihasilkan maka, perlu dianalisa komponen refleksi awal dan refleksi akhir dari respon impulse ruang (RIR) yang diperoleh dari pengukuran di lapangan dan simulasi.

 

Dengan tingkat reverberasi tertentu, energi bunyi yang berhasil dipertahankan dan dihamburkan di komponen refleksi awal akan mengurangi efek comb-filtering pada sinyal uji, yakni mengurangi kemungkinan terjadi pantulan2 pendek (short echoes) dimana akan terdengar seperti suara gumaman yang berlebihan. Isi pembicaraan akan sulit dimengerti. Sementara itu, difusivitas yang terjadi pada komponen refleksi akhir akan menghasilkan sensasi pendengaran seolah-olah medan bunyi melingkupi pendengar dengan sempurna (envelopement sensation).

 

Eksperimen dilakukan di laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik, kelompok keahlian Teknik Fisika ITB dan di Laboratorium Akustik Teknik Fisika UGM.Untuk memahami pengaruh elemen arsitektural dalam ruang-ruang kelas diperlukan kemampuan simulasi komputer yang memodelkan beberapa variasi gubahan geometri ruang didasarkan pada kondisi eksisting dari studi kasus yang dipilih. Beberapa model ruang kelas dan auditorium dengan penerapan bahan absorpsi dan panel difusor telah dikembangkan pada penelitian sebelumnya. Kondisi eksisting hanya dapat diketahui dengan menggunakan pengukuran lapangan guna menjamin keakurasian simulasi komputer. Karakterisasi dari kualitas pendengaran di dalam ruang-ruang uji tersebut memerlukan evaluasi subyektif terutama untuk mengetahui perubahan tingkat intensitas bunyi (kekerasan bunyi), kejelasan percakapan dan persepsi tingkat reverberasi (dengung) sebelum dan setelah abfusor diterapkan.Dengan metode yang terintegrasi ini, diharapkan hasil penelitian ini bisa langsung digunakan sebagai tolok ukur evaluasi dan perbaikan rancangan akustik di ruang kelas dan auditorium di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.

Team Peneliti: Joko Sarwono, Sentagi S. Utami, Janivita Sudirham, Indra Sihar, plus Mahasiswa TF ITB dan TF UGM

Posted in Akustika Ruangan

Akustik Aula Timur ITB Pasca Restorasi

Telah dilakukan evaluasi akustik Aula Timur ITB pasca restorasi pada tanggal 18 Februari 2014. Perbedaan utama Aula ini dengan saudara kembarnya Aula Barat ITB adalah adanya dinding disisi utara, sehingga ruangan utama cenderung lebih kecil. Pengukuran dilakukan dengan metode Impulse Response untuk mendapatkan parameter objektif akustik monoaural (dengan sensor 1 microphone), yang mengacu pada ISO 3382-1. Pengukuran parameter binaural (dual microphones atau Dummy Head system) belum dilakukan.

at0

Hasil Pengukuran Akustik yang dilakukan tim Laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik Teknik Fisika ITB menunjukkan bahwa Noise Criteria (NC) Aula Timur berada pada level 33 (jauh lebih rendah daripada Aula Barat) dengan dominasi sumber noise berasal dari aktifitas di sekitar Aula Timur. Berbeda dengan kondisi di Aula Barat, di sekitar Aula Timur tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. Kondisi bising hasil pengukuran ini masih melebihi level yang disarankan yang seharusnya berada < 30 bila diinginkan kegiatan di dalam Aula recordable (direkam live atau broadcast), tetapi sudah masuk level yang disarankan (NC 30-35) yaitu apabila penggunaan Aula tidak melibatkan aktifitas recording.

at1

Secara umum, waktu dengung ruang Aula Timur pasca restorasi pada kondisi kosong adalah diantara 1,5 – 2 detik pada frekuensi 125 – 500 Hz, dan 2 – 2,5 detik pada daerah frekuensi antara 500 – 4000 Hz. Bila Aula terisi penuh, diharapkan akan turun di sekitar 1,5 detik. Lebih panjangnya dengung di frekuensi tinggi terutama disebabkan oleh adanya flutter echoe akibat dinding utara (lebih terasa dibandingkan dengan Aula Barat. Kondisi ini cukup baik bila digunakan untuk performansi musik orkestra atau musik kamar (quintet, quartet, recital piano, dsb), akan tetapi terlalu panjang apabila digunakan untuk aktifitas percakapan (kuliah umum, seminar, pidato, dsb). Apabila tidak bisa dihindari penggunaan Sound System, sebaiknya digunakan Loudspeaker dengan tipe terdistribusi dibandingkan dengan central cluster. Posisi Pemasangan Loudspeaker sebaiknya mengarah pada area audiens, dari posisi lebih tinggi dari kepala orang berdiri. Pemakaian subwoofer sebaiknya dihindari atau dibatasi.

at2

Kejernihan suara ucap yang diukur dengan besaran D50 menunjukkan, kondisi Aula pasca restorasi dalam keadaan kosong , juga lebih buruk dari Aula Barat, yaitu berada pada level rata-rata diantara 30-40% (yang disyaratkan adalah > 50%). Penyebab utama adalah dengung yang panjang di frekuensi tinggi dan adanya flutter echoes. Kondisi ini menyebabkan  Sistem Tata Suara HARUS digunakan apabila Aula digunakan untuk aktifitas Speech (Percakapan) (untuk menambahkan energi suara langsung yang dirasakan oleh pendengar dan pembicara), dengan sistem Tata Suara yang disarankan adalah type terdistribusi. (ukuran Loudspeaker Medium atau Kecil). Aiming dan posisi penempatan Loudspeaker menjadi faktor yang krusial.

at3

Kejernihan suara musik yang ditunjukkan oleh besaran C80 hasil pengukuran berada di range -4 – 2 dB (125-4000 Hz). Range harga C80 ini menunjukkan bahwa Aula Timur pasca Restorasi sangat baik digunakan untuk performance musik TANPA sound system. Disarankan pertunjukkan full orkestra atau recital (piano, kuartet string atau kuartet tiup) dilakukan tanpa sistem tata suara elektronik, dengan pengaturan panggung sebaiknya mengarah ke arah sisi lebar, BUKAN sisi panjang untuk menghindari problem flutter echoes. Penambahan reflektor tidak permanen (movable reflector system) pada bagian atas atau kanan kiri panggung sangat disarankan. Performansi musik traditional Indonesia seperti angklung, gamelan, kecapi suling perlu dicoba dilakukan di Aula ini, TANPA sound system.

at5

Sebagai sebuah bangunan cagar budaya, perbaikan kinerja akustik Aula Timur (dan juga Aula Barat) secara pasif (mengganti karakter permukaan interior) tidak dapat dilakukan dengan perlakuan yang umumnya diaplikasikan pada ruangan yang memiliki masalah akustik, misalnya menambahkan begitu saja bahan penyerap suara untuk menurunkan waktu dengung atau mengganti karakteristik permukaan dalam ruang dengan bahan lain atau mengubah bentuk geometri permukaan ruang. Perbaikan kinerja akustik harus dilakukan dengan tetap menjaga keaslian material secara keseluruhan. Beberapa peluang peningkatan kinerja yang mungkin dilakukan misalnya dengan melapisi beberapa permukaan sejajar dengan material penyerap suara dari bahan transparan atau Micro Perforated Panel transparan, atau bisa juga menggunakan bahan-bahan akustik yang diaplikasikan tidak permanen yang disesuaikan dengan kegiatan yang sedang dilakukan di dalam ruang Aula (movable partition system).

Posted in Akustika Ruangan, Sistem Tata Suara

Bahan Kedap Suara vs Bahan Penyerap Suara

Salah satu keywords yang sering digunakan oleh internet user dan membawa mereka mampir ke Blog saya adalah Bahan Penyerap Suara dan Bahan Kedap Suara.  Dalam bahasa sehari hari tampaknya kedua istilah tersebut mewakili istilah yang sama, yaitu material yang digunakan untuk membuat ruangan menjadi sunyi. Sedangkan dalam istilah akustik, kedua istilah menunjukkan fungsi yang berbeda.

Bahan kedap suara atau Sound Proofing Material secara fungsional digunakan untuk menghalangi energi suara keluar ruangan atau masuk ke ruangan. Bahan ini diperlukan untuk ruangan-ruangan yang fungsinya tidak boleh diganggu oleh bising dari luar ruangan (misalnya studio rekaman, studio TV, ruang konser, dsb) atau yang fungsinya menghasilkan suara dengan energi yang besar sehingga tidak diinginkan untuk mengganggu mereka yang berada di luar ruangan (ruang Home Theater, ruang Drum, dsb). Ciri utama bahan ini tentu saja tidak boleh menjadi penghantar energi suara (mekanik) yang baik atau dengan kata lain tidak mudah bergetar bila terpapar energi akustik (suara) atau mengubah energi suara tersebut menjadi energi bentuk lain saat melintasinya, atau dengan kata lain sesedikit mungkin meloloskan energi suara yang melewatinya. Kinerja bahan kedap suara ini akan dipengaruhi oleh frekuensi suara yang memaparinya, dalam artian sebuah bahan dengan ketebalan tertentu akan menjadi bahan kedap suara yang baik di frekuensi tinggi tetapi buruk pada frekuensi rendah, atau sebaliknya. Kalau dibayangkan sebagai sebuah ember, bahan kedap suara adalah ibarat dinding ember yang tidak memiliki kebocoran (air tetap tinggal di dalam ember). Penggunaan bahan ini adalah untuk kebutuhan orang yang berada dalam ruangan sekaligus yang berada di luar ruangan. Besaran akustik yang mewakili kinerja bahan ini adalah Rugi-rugi Transmisi atau Transmission Loss (TL, fungsi frekuensi) dan terkadang diwakili oleh besaran angka tunggal Sound Transmission Classs (STC), atau besaran lain yang sejenis misalnya Rw. Semakin tinggi STC, pada umumnya semakin baik bahan tersebut bekerja menahan energi suara (dengan catatan, spektrum TL nya perlu diperhatikan, karena STC hanya dihitung berdasarkan frekuensi 125 – 4000 Hz, sehingga tidak menunjukkan kinerja di luar range frekuensi tersebut).

Bahan penyerap suara atau Sound Absorbing Material berfungsi untuk mengambil energi suara yang berlebihan di dalam ruangan. Target utamanya adalah, energi pantulan dalam ruangan dikurangi sesuai dengan kebutuhan. Bahan ini digunakan apabila ruangan diinginkan untuk memiliki level waktu dengung sesuai dengan kebutuhan atau ruangan yang diinginkan untuk tidak memiliki energi pantulan yang besar (misalnya studio musik, ruang home theater, ruang bioskop, ruang kelas, ruang seminar, ruang rawat inap, kamar hotel, dsb). Ada berbagai tipe bahan ini, misalnya tipe bahan berpori (untuk suara dengan frekuensi menengah sampai tinggi), tipe panel (frekuensi menengah-rendah), tipe resonator (frekuensi rendah), tipe perforasi mikro (frekuensi tertentu). Penggunaan bahan ini semata untuk kebutuhan pengguna di dalam ruangan, agar mendapatkan medan suara sesuai dengan fungsi ruang (misalnya ruang biosk0p harus memiliki permukaan penyerap yang dominan karena diharapkan pengguna mendengarkan suara langsung saja dari loudspeaker terpasang, sedangkan ruang konser simphony memerlukan bahan penyerap sesedikit mungkin karena diharapkan energi suara dari panggung bertahan selama mungkin tanpa mengurangi intelligibilitynya).  Besaran yang digunakan untuk menunjukkan kinerja bahan ini adalah koefisien absorbsi (alpha), yang memiliki nilai 0- 1, 0 menunjukkan tidak ada energi suara yang diambil oleh bahan, sedangkan 1 menunjukkan seluruh energi suara yang datang ke permukaan bahan akan diambil seluruhnya dan tidak dikembalikan ke ruangan. Bahan yang ada di pasaran memiliki alpha antara 0 dan 1 (fungsi frekuensi tentu saja). Bahan penyerap suara tidak mungkin berdiri sendiri sebagai bahan kedap suara, tetapi bisa dikombinasikan dengan bahan kedap suara untuk meningkatkan kinerja kedap suara, yaitu dalam sistem material multi lapisan (sandwich panel), misalnya double gypsum-double gypsum bisa ditingkatkan kinerja kedapnya dengan menyisipkan rockwool diantara kedua lapisan sehingga menjadi double gypsum-rockwool-rongga udara-double gypsum.

Jadi, kedua jenis bahan akustik tersebut dalam tataran praktisnya digunakan secara bersama-sama, sesuai dengan fungsinya masing-masing, untuk membentuk ruang akustik dengan berbagai fungsinya. contoh: Untuk ruang studio diperlukan sejumlah besar permukaan penyerap suara, sekaligus selubung kedap suara, ruang konser memerlukan sedikit bahan penyerap suara tetapi memerlukan  selubung kedap suara yang sangat baik.

note: perlu diingat bahwa dalam sebuah ruangan, kinerja kedap tidak hanya dibebankan kepada salah satu komponen penyusun ruang saja, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh penyusun ruangan (dinding, langit-langit dan lantai) karena suara bisa merambat lewat seluruh komponen penyusun ruang tersebut. Suara bisa bocor lewat dinding, lantai maupun langit-langit. Ingat, sekecil apapun lubang pada ember, akan menyebabkan air keluar dari ember tersebut alias bocor.

Posted in Akustika Ruangan, Material Akustik

Akustik Aula Barat ITB Pasca Restorasi

Hasil Pengukuran Akustik yang dilakukan tim Laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik Teknik Fisika ITB menunjukkan bahwa Noise Criteria (NC) Aula Barat berada pada level 40-45 dengan dominasi sumber noise berasal dari kendaraan bermotor yang lewat di sekitar Aula Barat. Kondisi ini melebihi level yang disarankan yang seharusnya berada < 30 bila diinginkan kegiatan di dalam Aula recordable, dan NC 30-35 bila tidak melibatkan aktifitas recording. Pada pemakaian Aula, khususnya untuk acara yang melibatkan percakapan, sebaiknya area luar di sisi selatan dibebaskan dari aktifitas, khususnya pergerakan kendaraan bermotor.

SONY DSC

Secara umum, waktu dengung ruang Aula Barat pasca restorasi adalah flat (125-4000 Hz) di sekitar 2 detik pada kondisi kosong. Bila Aula terisi penuh, diharapkan akan turun di sekitar 1,4 detik. Kondisi ini cukup baik bila digunakan untuk performansi musik orkestra atau musik kamar (quintet, quartet, recital piano, dsb), akan tetapi terlalu panjang apabila digunakan untuk aktifitas percakapan (kuliah umum, seminar, pidato, dsb). Apabila penggunaan sistem Tata Suara tidak terhindarkan, tipe Loudspeaker sebaiknya menggunakan jenis terdistribusi dibandingkan dengan central cluster. Posisi Pemasangan Loudspeaker sebaiknya mengarah pada area audiens, dari posisi lebih tinggi dari kepala orang berdiri. Pemakaian subwoofer sebaiknya dihindari atau dibatasi.

SONY DSC

Kejernihan suara ucap yang diukur dengan besaran D50 menunjukkan, kondisi Aula pasca restorasi dalam keadaan kosong berada pada level rata-rata diantara 40-50% (yang disyaratkan adalah > 50%). Kondisi ini menyebabkan Sistem Tata Suara HARUS digunakan apabila Aula digunakan untuk aktifitas Speech (Percakapan), dengan sistem Tata Suara yang disarankan adalah type terdistribusi. (ukuran Loudspeaker Medium atau Kecil). Aiming dan penempatan Loudspeaker menjadi faktor yang krusial.

SONY DSC

Kejernihan suara musik yang ditunjukkan oleh besaran C80 hasil pengukuran berada di range -2 – 2 dB (125-4000 Hz). Harga ini menunjukkan bahwa Aula Barat pasca Restorasi sangat baik digunakan untuk performance musik TANPA sound system. Disarankan pertunjukkan full orkestra atau recital (piano, kuartet string atau kuartet tiup) dilakukan tanpa sistem tata suara elektronik, dengan pengaturan panggung mengarah ke arah sisi panjang atau sisi lebar. Penambahan reflektor non permanen pada bagian atas atau kanan kiri panggung sangat disarankan.

Posted in Akustika Ruangan

Upacara Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 2013 di Istana Merdeka, Jakarta

Upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke 68 akan dimulai 4 hari lagi. Istana Presiden RI di Jakarta sebagai tempat diselenggarakannya acara utama yang dipimpin langsung oleh Presiden RI sudah mulai bersolek. Salah satu komponen pendukung acara yang berperan untuk suksesnya acara sehari penuh itu adalah Sistem Tata Suara (Sound System), terutama untuk kegiatan Upacara Bendera, Aubade, dan acara kesenian. Pelaksana yang ditunjuk untuk melaksanakan penyediaan sistem tata suara ini, dipilih melalui sistem tender teknis yang diadakan paling lambat 1 bulan sebelum hari H.

Sejak 2004, kami diminta untuk membantu proses yang terkait dengan sistem tata suara tersebut, mulai dari menyiapkan dokumen tender dan SOP, memilih pelaksana, memonitor persiapan pelaksanaan, melakukan supervisi pelaksanaan dan melakukan evaluasi setelah pelaksanaan. Proses tender yang dilakukan tidak hanya didasarkan pada penawaran terendah dari peserta, tetapi lebih dititikberatkan pada kemampuan teknis yang dinilai melalui sistem “beauty contest”. Peserta tender yang dipilih untuk melaksanakan tugas penyediaan sistem tata suara ini akan mulai bekerja sejak H-10, meliputi persiapan, instalasi, gladi kotor, gladi bersih dan pelaksanaan, serta pembongkaran pada H+1.

Sistem tata suara yang disediakan meliputi 2 sistem independent utama, tetapi bisa saling berkomunikasi, dan 1 sistem tambahan. Sistem utama pertama digunakan untuk melayani kegiatan Upacara Detik-detik Proklamasi , sedangkan sistem utama kedua digunakan untuk melayani kegiatan Aubade yang dilakukan begitu upacara selesai. Untuk kedua jenis kegiatan utama tersebut, daerah pendengar (audience areas) yang harus dilayani terdiri dari Tenda Utama di bagian depan Istana Merdeka (tempat Presiden, para Mentri, Anggota Dewan dan Duta Besar negara sahabat berada), Halaman depan istana Merdeka (tempat pasukan ABRI dan POLRI berbaris, termasuk Paskibraka), tenda samping kiri-kanan halaman Istana Merdeka (tempat undangan), serta tenda Aubade di sisi luar pagar menghadap ke Istana Merdeka). Sistem tambahan adalah sistem tata suara kecil yang tersebar di panggung-panggung kesenian daerah untuk menyambut tamu undangan.

Sistem utama pertama digunakan 2 kali pada tanggal 17 Agustus, yaitu pada Upacara Detik-detik Proklamasi yang biasanya dimulai 10 menit sebelum jam 10 pagi sampai selesainya Aubade, dan pada Upacara penurunan bendera di sore hari. Sistem ini menggunakan 2 cluster Loudspeakers utama yang menghadap ke arah pasukan Upacara, serta Loudspeakers distribusi terdelay di area VIP, setiap tenda dan tempat berkumpul pasukan dan paskibraka. Microphones yang disediakan adalah mic untuk Master of Ceremony (MC), Komandan Upacara, Inspektur Upacara (Presiden RI), Pembaca Teks Proklamasi, Pembaca doa, dan Mics ambient untuk pasukan, korsig dan paskibraka. Pengendali utama sistem ini berada di sisi kiri tenda Utama di dalam koridor depan Istana Merdeka. Target disain utama adalah suara harus berwibawa, jelas (clarity dan intelligibility speech tinggi) dan bebas dari Feedback.

Sistem utama kedua, digunakan untuk melayani kegiatan Aubade yang dilaksanakan pada bagian akhir Upacara Detik-detik Proklamasi. Loudspeakers utama berupa sepasang Clusters Loudspeakers yang terpasang di kanan kiri panggung Aubade, menghadap ke Istana, dan Loudspeakers Distribusi terdelay yang sama dengan yang digunakan di sistem utama pertama. Perbedaan sistem Loudspeakers distribusi ini terletak pada sistem delay nya. Microphones yang digunakan lebih banyak, yaitu untuk melayani instrument orchestra, penyanyi solo, dan Paduan Suara. Pengendali utama sistem ini terletak di tenda Aubade, tetapi terkoneksi dengan pengendali sistem utama pertama. Target desain utama adalah suara harus seimbang (tonal balance), harmonis (spectrum frequency), jelas (clarity dan intelligibility musical tinggi), warm (komponen frekuensi rendah cukup), timbre yang sesuai, listening level dan strength yang cukup, dan tidak feedback. Hal yang unik dari sistem ini adalah sweet spot berada di area pasukan, tetapi harus bisa menciptakan sweet spot tambahan di area Tenda Utama (Tenda Presiden). Pengaturan delay yang tepat menjadi kunci utama suksesnya sistem ini.

Sejak tahun 2004, sudah 4 provider sistem tata suara di Indonesia yang ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Alhamdulillah sistem bisa bekerja dengan baik sesuai dengan target desain, semoga kegiatan tahun ini yang dimulai sejak 2 hari lalu dan dilaksanakan kembali oleh provider ke 4 juga akan memberikan hasil yang memuaskan. Dirgahayu ke 68 Republik Indonesia.

Posted in Sistem Tata Suara